Ads 468x60px

Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT.

Instagram @hambaallah_official

HAKIKAT IKHLAS (Grup Nanda)

Kajian Online WA Hamba الله SWT

Selasa, 6 September 2016
Rekapan Grup Nanda
Syakhsiyah Islamiyah Pekan pertama September
By Tim Kurikulum Kajian Online Hamba Allah
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakaninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan sayaafaat beliau di hari akhir nananti. InsyaAllah aamiin.

HAKIKAT IKHLAS

Allah ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Rab semesta alam" (Al-An’am : 162)

Dari ayat tersebut kita bisa menggambarkan bahwa Ikhlas adalah menginginkan keridhaan Allah swt dengan melakukan amal dan membersihkan amal dari berbagi polutan duniawi. Karena itu, seseorang tidak mencemari amalnya dengan keinginan – keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan, kedudukan,harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghinari cercaan mereka, mengikuti hawa nafsu, atau penyakit – penyakit serta polutan – polutan lain yang dapat dipadukan dalam satu kalimat yaitu melakukan amal untuk selain Allah apapun bentuknya.

Ikhlas semacam itu merupakan salah satu buah dari kesempurnana tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah dari riya’ yang merupakan lawan dari ikhlas yang dianggap sebagai kesyirikan.

Bahkan Syadad bin aus berkata “ dimasa Rasulullah saw kami menganggap riya’ sebagai syirik kecil” (Mujma’uz Zuwaid, Kitabuz Zuhdi, bab Ja’ahur riya. 10/225)

Imam syahid Hasan Al-Banna mengatakan “ Yang saya maksud dengan ikhlas adalah seorang al-akh hendaknya mengorinetasikan perkataan,perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah sw ; mengharap keridhaan-Nya dan memperolah pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunia. (Syarah Risalah Ta’lim)

Dua Rukun diterimanya Amal
Setiap amal shalih tidak diterima oleh Allah swt kecuali jika terpenuhinya dua rukun yaitu :
1. Keikhlasan dan lurusnya niat
Terkait dengan rukun pertama ini Rasulullah saw bersabda
“ Sesungguhnya amal – amal itu dinilai dengan niatnya”
(Fat-hul Bari : 1/15, no.1).
Jika kita renungkan hadits ini merupakan tolok ukur suasana batin amalan manusia. Maka ketika manusia melakukan amal diawali dengan niat yang menisbatkan seluruh amalnya kepada keridhaan Allah swt serta membersihkannya dari segala bentuk polutan dan penyakit duniawi maka ia akan mencapai keshahihan batin.

2. Sejalan dengan sunnah
Rasulullah saw bersabda
“ barangsiapa yang melakukan sesuatu amalan bukan atas perintahku (sunnah rasul) maka ia tertolak”
( HR Muslim:3/1343, no 1718).
Hadits ini merupakan tolok ukur lahir amalan manusia. Maka ketika manusia melakukan segala amal dengan mengikuti sunnah Rasulullah saw maka ia akan mencapai keshahihan lahir.

Fudhail bin ‘iyadh berkata tentang firman Allah swt :
“ Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya…”
(Al-Mulk: 2)

Yang dimaksud dengan lafal “akhasanu amalan” (yang lebih baik amalnya) adalah yang paling ikhlas dan yang paling tepat. Ditanyakan kepada Fudhail bin iyadh : apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling tepat, wahai Abu Ali ?” ia menjawab : “sesungguhnya suatu amal itu bila dilakukan dengan ikhlas namun tidak tepat maka tidak diterima amalnya oleh Allah swt, dan bila amal itu dilakukan secara tepat tetapi tidak diiringi dengan keikhlasan maka amal itu tidak diterima. Amal tidak akan diterima sehingga dilakukan dengan ikhlas dan tepat. Yang dimaksud ikhlas disini adalah menjadikan amal untuk Allah swt sedangkan tepat adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah saw” kemudian Fudhail membaca firman Allah swt

“Barangsiapa mengharap perjumapaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya (Al-Kahf : 110)

Aktivis muslim harus memeriksa relung – relung hatinya dan meneliti hakikat tujuan serta motivasinya. Apabila di dalamnya terdapat bagian – bagian untuk dunia dan setan, maka ia harus segara bersungguh sungguh untuk membersihkan hatinya dari kotoran tersbut, berupaya mengikhlaskan niat hanya kepada Allah swt serta menazarkan dirinya hanya untuk Allah swt.

Sebagaimana yang telah diucapkan oleh istri Imran,
“ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ali Imran; 35)

Dalam ayat diatas dalam bahasa arabnya terdapat kata Muharraran yang diucapkan oleh istri Imran. Yang ternyata memberikan indikasi bahwa Allah swt tidak akan menerima suatu amal kecuali bila telah murni dari kesyirikan dan bebas dari penghambaan kepada selain-Nya.

Kehidupan tidak akan dipimpin oleh kebenaran, tertaburi kebaikan, terkuasai oleh keadilan dan bendera kemuliaan berkibar padanya selama aktivis dakwahnya tidak teguh pada keikhlasan beramal dan masih adanya orang – orang yang memperdagangkan prinsip. Yaitu orang – orang yang tidak beramal kecuali untuk mencari keuntungan dunia. Juga karena orang – orang yang mencari muka yaitu orang – orang yang tidak beramal kecuali untuk dilihat, didengar, dijadikan pembicaraan, dan ditokohkan oleh manusia. Kebenaran, kebajikan dan kemuliaan akan mendapatkan kemenangan ketika para pengusung dakwahnya serta adanya orang – orang yang senantiasa memegang prinsip, memperngaruhi bukan dipengaruhi, rela berkorban dan bukan pencari keuntungan serta siap memberi bukan siap menerima.

Penyakit hati yangmengotori keikhlasan serta merusak niat lebih parah dan membahyakan daripada penyakit fisik karena penyakit hati dapat merusak pahala dan menjauhkan pemiliknya dari jalan dakwah yang benar. Akan tetapi, kita dapat melawannya dengan keimanan dan ketaqwaan.

Wallahu a’lam bi showab

TANYA JAWAB

N105 by Ustadzah Pristia
Q : Assalamu'alaikum ustdzh, apa benar jika kita berbicara atau mengucapkan misal "saya ikhlas kok bantu kamu" apa tandanya kita itu tidak ikhlas ??
A : Ikhlas letaknya dari hati tak dapat di ucapkan

Q : Mau nanya dong cara ngebersihin hati yang udah teramat kotor karena sakit hati gimana?? Jujur dalam hati ga mau tapi terlalu sakit.
A : Manusia tak luput dari sakit hati. Tapi ... apakah sakit hati ini kita bawa sampai dipanggil Allah kelak. Jika kita umat rasulullah maka teladani  sifat beliau yang mudah memaafkan. Wallahualam

Q : Ummi,,, bagaimana sikap kita ketika teman ada yang salah paham, kita sudah minta maaf, tapi dia ngga mau maafin & saat ketemu disapa pun tidak mau,,,
A : Hargai sikapnya tersebut. Yang jelas kita sudah meminta maaf. Tak jadi masalah ia mau memaafkan atau tidak. Itu perlu waktu.


N106 by Ustadz Cipto
Q : Bagaimana melatih diri supaya ikhlas (sudah belajar sungguh-sungguh dan gak nyontek tapi dapat nilai B sedangkan temen yang nyontek dapat nilai A & jadi kebanggaan dosen). Susah amat ya jadi orang jujur
A : Klo yang ini qonaah dan jujur....ikhlas umumnya nempel dalam hati dalam sebuah proses ibadah terutama yang mahdoh...klo ikhlas dalam menerima sesuatu adalah dalam konteks qonaah....dan memang ikhlas adalah perbuatan hati yang sulit dilihat dan dinilai...hanya ybs dan Allah yang tahu....Tetapi kuncinya tetap harus dilakukan dengan kesabaran...

Q : Ustad, apakah :
1. "ngedumel" masuk kategori tidak ikhlas? Walau mungkin "dumelannya" dalam hati.
2. Jika kita membantu, tapi yang dibantuin, ibaratnya "dikasih hati minta jantung", pada akhirnya kita mengurangi atau mungkin menghentikan bantuan, bagaimana?
A : 1. Ngedumel tandanya masih ada sesuatu yang kurang pas...sedang ikhlas menempatkan sesuatu karena Allah bukan yang lain....
2. Nah ini ujiannya keikhlasan bisa begini....akan sejauhmana keikhlasan itu diuji....Oya dimensi ikhlas perlu diperhatikan Qobla/pra, atsna/saat dan Bada/pasca melakukan aktivitas tersebut...yang paling penting adalah qobla dimana ikhlas berkenaan dengan niat.... Syarat diterimanya amalan ada 2 yakni niat ikhlas karena Allah semata dan 'itiba atau mengikuti petunjuk Rasulullah SAW.

Q : Assalamu'alaikum ustdz... Kita sudah ikhlas mngenai sesuatu yang telah terjadi.. Kita sudah melupakannya dan ikhlas. Tapi pada saat bertmu dengan orang tu kitanya pengen pergi menjauh dan tak ingin bertemu. Di situasi lain kita harus bertamu karena satu tim. Saat bertemu tu kita memaksakan diri untuk bersikap biasa-biasa saja dalam artian bersalaman dan senyum ala kadarnya. Apa tu termsuk tidak ikhlas? Dan bagaimana cara mnghilangkan sikap yang tidak baik itu.
A : Waalaykumsalam....susah ye kalo suka baper....terutama buat para akhwat nih ladang amal ikhlasnya sangat banyak...karena kodratnya akhwat diciptakan kuat dengan perasaannya sedang ikhwan dengan logika....Latihan terus dan bersabar atasnya adalah bagian dari menjadikan diri ikhlas sejati....pelan-pelan aja....buat yang suka baper ilangin bapèrnya  ya....itu dulu deh kuncinya....

Q : Saya baru saja masuk kerja di RS dekat rumah karena paksaan orang tua. Katanya biar deket sama orang tua. Karena sebelumnya saya kerja di jogja dan terpaksa resign karena diterima di RS dekat rumah. Tapi setelah bekerja rasanya tidak merasa nyaman. Masih ada yang ganjel dan merasa terpaksa dalam bekerja. Karena memang bukan dari hati. Bagaimana ya ust biar bisa ikhlas dan legowo. Sedih rasanya masih kepikiran terus sama kerjaan dan teman-teman di jogja dulu
A : Bismilah mari luruskan niat ukh...minimal dalam rangka beribadah kepada Allah dalam bentuk berbakti kepada kedua orang tua. Klo kaitannya sama pekerjaan sebaiknya lakukan secara profesional semua aspek permintaan pekerjaan dilakukan seoptimal mungkin. Klo teman-teman tetep aja jaga hubungan dan komunikasi serta silaturahimnya tapi jangan juga jadi *Baper* insya Allah karena yang akan dicari adalah keberkahan moga karena niatnya untuk berbakti kepada orang tua lillahi taaala insya Allah hidup akan lebih bermakna.

Q : Yang dikatakan ikhlas tu seprti apa ya ustdz. Ikhlas yang bener-bener ikhlas lillahita'alla
A : Tentunya hadirnya hati dan kemantapan hati bahwa apa yang dilakukannya terutama berkenaan dengan ibadah yang dilakukannya hanya karena Allah sahaja.


N103 by Ustadzah Fina
Q : Assalamualaikum, afwan ana mau bertanya. Apabila melakukan pekerjaan yang baik namun diiringi dengan berkomentar (ngedumel), apakah tergolong dalam amalan yang tepat tetapi tidak diiringi dengan keiklasan? Lalu amalan itupun tidak diterima? Atau bisa dibilang sia-sia?
A : Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh...jika ngedumel adalah ekspresi dari ketidak ikhlasan dalam kita melakukan sebuah pekerjaan/amanah sekecil apapun itu maka betul seperti yang mba sampaikan bahwa amalan itu tepat tetapi tidak ikhlas. Jadi dua hal ini (ikhlas dan tepat/sesuai dengan syariat dan sunnah Rasul) adalah pasangan sehidup semati yang tak bisa dipisahkan sampai kapanpun baik oleh ruang maupun waktu mereka berdua selalu berdampingan..salah satu saja tidak terpenuhi maka sebagus apapun amalan kita tidak akan diterima oleh Allah bahkan ia laksana debu yang diterbangkan oleh angin ketika diiringi ketidak ikhlasan..begitu pula sebaliknya. Maka dari itu pula kita diminta untuk selalu meluruskan niatan kita dalam beramal...tidak hanya di awal namun juga di tengah dan di akhir...sebagai contoh udah nahan gak ngedumel saat melakukan amalan itu eeeh pas udah selang beberapa lama berlalu kitanya inget terus ngedumel..ilang deh pahalanya.
Q : Bagaimana caranya mensiasati atau mencegah pekerjaan/amalan yang tepat namun tidak ikhlas? Apakah setelah memohon ampunan, kita bisa memperoleh pahalanya? Dan apakah ada dukungan dalil nya?
A : Berusaha untuk ihsan dalam setiap amal.yakin bahwa Allah melihat segala amal yang kita lakukan termasuk kondisi hati..hanya Allah saja yang Tahu..sama dengan cerita 3 orang yang selama hidupnya di dunia melakukan kebajikan hingga mereka bertemu Rabbnya dan ternyata Allah lempar mereka ke dalam neraka. Mereka "protes" kenapa..Allah sampaikan bahwa kealiman, kedermawanan dan orang yang berjihad itu hanya ingin mendapat gelar alim,dermawan dan mujahid, sehingga mereka sama sekali tidak mendapatkan buah dari amalan mereka. Inti dari amalan itu ketika tujuan kita lurus karena Allah dan Allah tidak suka diduakan...orang yang riya',tdk ikhlas dst bisa jadi tanpa sengaja sudah "menduakan" Allah.
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya".(Al-Kahfi:10)
Maka ketidak ikhlasan disini dikaitkan dengan syirik/mempersekutukan Allah dengan yang lain..na'udzubillah.. Ketika kita senantiasa mohon ampun..memurnikan tauhid dan berusaha beramal sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan dengan menyertakan keikhlasan dalam hati maka tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk memaafkan kita
Q : Bagaimana cara menanamkan selalu rasa ikhlas kita kepada Allah dan apapun terhadap kekurangan yang kita rasakan?
A : Karena ikhlas identik dan dekat dengan riya' dimana riya adalah masuk dalam kategori syirik. Tidak akan mencium bau surga sedikitpun orang yang di dalam hatinya ada kesyirikan. Maka terus memurnikan ketaatan adalah jalan yang terbaik agar Allah berkenan untuk terima amalan kita

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



ETIKA TABAYYUN

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 5 September 2016
Rekapan Grup Bunda M15
Narasumber : Ustadz Hizbullah Ali
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakaninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah aamiin

ETIKA TABAYYUN

Ketika kita berinteraksi dengan banyak orang, kita akan mendapatkan beragam informasi mengenai beragam hal, ada informasi yang benar dan valid, ada informasi yang tidak jelas kebenarannya sehingga menjadi simpang-siur, bahkan menyesatkan dan setiap hal yang menyesatkan tentu akan ada malapetaka dalam bentuk dosa, bisa saja menjadi ghibah jika itu benar, namun juga bisa menjadi fitnah, jika penyebaran berita itu ternyata hanya isapan jempol belaka. Karenanya diperlukan tabayyun, untuk menyikapi berita-berita yang beredar di masyarakat

Berdasarkan hukumnya, as-Sa'di membagikan sumber berita kepada tiga klasifikasi (tabayyun),
1. Berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima.
2. Berita dari seorang pendusta yang harus ditolak.
3. Berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.

Poin pertama dan kedua sangat jelas, sehingga tidak perlu kita untuk membahasnya lebih lanjut. Namun, untuk poin yang ketiga ini yang agak sulit ... Kenapa yang ketiga bisa dikatakan agak sulit, hal tersebut pernah ada penjelasan dari Sahabat Rasulullah SAW yakni dari Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa. Ada tiga jenis manusia; dan salah satu diantaranya yang membuat aku khawatir. Manusia yang beriman dan kafir sudah jelas kedudukannya, aku tidak khawatir terhadapnya. Namun manusia fasik inilah yang kamu harus berhati-hati terhadapnya, jika berada dalam kalangan mukmin seolah-olah ia tampak beriman, namun ketika kembali ke golongannya, sesungguhnya ia menginkarinya.

Perkataan sahabat Rasul ini mengingatkan kita bahwa dalam menerima berita, harus ditanamkan sikap kehati-hatian. Tidak begitu saja menerima apa yang disampaikan oleh orang tersebut, apalagi kita tidak tahu bagaimana pribadi dan akhlaknya. Ada banyak dalam sejarah Islam, cerita mengenai perlunya membiasakan sikap tabayyun. Salah sebuah contoh cerita adalah fitnah yang terjadi kepada ibunda Aisyah, yang dijadikan cerita dalam QS. an-Nur : 11-20, yang mana cerita tersebut menjadi sebuah pelajaran bagi kita akan perlunya tabayyun, tidak asal mengambil kesimpulan yang akan merugikan orang yang sama sekali tidak bersalah.

Terakhir pesan ana, agar berhati-hati dalam menyampaikan informasi yang kita dapat dari orang lain, biasakan untuk tabayyun sebelumnya
_Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir_ (QS. Qaaf : 18)

TANYA JAWAB

Q : Ustad saya mau bertanya klo di dunia maya bagaimana kita mengetahui ciri-ciri orang fasik seperti yang ust sampaikan diatas bahwa  kita harus berhati-hati dengan manusia fasik dan bagaimanakah jika misalnya orang awam tidak berilmu tetapi  menyampaikan suatu kebenaran di dunia maya apakah harus kita cantumkan AlQuran dan Haditsnya sedangkan kita juga mendapatkan ilmu itu dari seseorang..?
A : Sebenarnya ini terkait dengan tabayyun. Harus diingat bahwa apa yang kita sampaikan harus dipertangung jawabkan, bisa saja bagi  awam  ketika mendapat artikel yang terkait ibadah, ia merasa bahwa artikel itu bermanfaat, lalu ia karena  awam nya ia sebarkan artikel tersebut, namun ia lupa, apalagi seringkali sebuah riwayat yang belum jelas kebenarannya atau jelas dhai'f/palsu namun kembali karena  awam  tadi ia tetap menshare, seakan apa yang ia sampaikan benar/sesuai syari'at. Padahal Rasulullah SAWpernah berkata, _Siapa yang berdusta atasku secara sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka_ (HR. Bukhari dan Muslim). Karenanya, carilah ilmu sebelum bertindak, karena tanpa ilmu kita bisa menyesatkan diri kita dan orang lain yang mengikuti langkah kita. Semoga Allah menaungi diri kita dalam rahmatnya. Sedikit tambahan, cari dan belajarlah pada para ulama yang faqih sesuai bidang keilmuan masing-masing agar ketika menemukan artikel yang menarik, apalagi terkait ibadah kita bisa bertanya tingkat keshahihannya. Baru kalau sudah pasti shahih di share, jika tidak shahih jangan dishare kembali
lanjut ya...

Q : Mau bertanya tentang tafsir surat Al- hujarat ayat 6 dan apa saja pelajaran yang bisa kita  ambil?
A : Ayat ini menerangkan tentang adab yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang berakal, apa hebatnya akal yang dimiliki oleh seorang manusia? Imam Ja'far as-Shiddq pernah menjelaskan, Allah memberikan akal tanpa syahwat kepada malaikat. Dan memberikan syahwat tanpa akal kepada binatang. Dan Dia memberi akal dan syahwat kepada manusia. Maka, siapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya maka ia lebih mulia daripada malaikat. Dan siapa yang syahwatnya mengelahkan akalnya maka ia lebih sesat dari bintang.
Terkait perihal tabayyun, ketika kita mendapat info berita dari orang yang fasik (siapa orang yang fasik, silahkan dibaca kembali materinya), maka wajib kita yang merasa memiliki akal untuk menelitinya. Tidak begitu saja secara langsung menerima berita tersebut. Cari dan temukan qarinah (tanda) pembuktian, jika ia memang benar maka benarkanlah, namun jika salah/sebuah dusta maka tunjukkanlah.

Q : Afwan .. ust.. bagaimana bila kita menghadapi seorang yang di kenal pedusta.. tiba-tiba dia berkata jujur? Dan sebaliknya.. dan seorang yang jujur, tiba-tiba dia berkata dusta? Apa yang mesti kita lkukan? Ketika tabayyun sulit di lakukan ,apakah kita harus memasrahkan diri,misalnya dengan tetapi tawakkal juga berhusnuzon dengann orang tersebut ? Apakah baik gitu tadz ? Atau gimana ?
A : Ketika kita mengetahui orang yang dikenal suka berdusta lalu menjadi jujur, dan orang yang dikenal jujur ternyata berdusta, maka itulah yang dinamakan proses tabayyun. Berkhusnudzon wajib dilakukan, karena kita dilarang untuk su'udzhon. Tabayyun bukan hanya dilakukan pada yang bersangkutan, bisa dilakukan ke orang lain, dengan syarat tidak menyebutkan siapa  mencari info layaknya detektif .. dan jika ternyata orang yang terkenal jujur tadi ternyata ia adalah pembohong pada kenyataannya (di belakang hari terbukti segala apa yang ia lakukan adalah kebohongan), maka ia termasuk orang yang fasik Semoga kita dilindungi dari sifat-sifat munafiq ...

Q : Pak ustad gimana kita di hadapan orang munafik? Di depan kita dia baik, dan ga tau nya di belakang kita di omongin...kadang saya emosi pa ustad..
A : Maafkan ia, redam emosi, minta pertolongan orang ketiga yang dikenal bijak, agar bisa diluruskan segala hal yang sudah terjadi, sehingga bisa diperbaiki. Ikhlaskan, karena berbahagialah setiap kita yang dibicarakan dibelakang, orang yang membicarakan kita adalah atm berjalan kelak di yaumil mahsyar 


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


TABAYYUN DAN URGENSINYA BAGI AKTIFIS DAKWAH

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 5 September 2016
Rekapan Grup Bunda
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakaninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah aamiin


TABAYYUN DAN URGENSINYA BAGI AKTIFIS DAKWAH

Pengertian Tabayun
Kata tabayun berasal akar kata bahasa Arab: tabayyana – yatabayyanu - tabayyunan, yang berarti at-tastabbut fil-amr wat-ta’annî fih (meneliti kebenaran sesuatu dan tidak tergesa-gesa di dalamnya). Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah.” (An-Nisâ: 94).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa tabayun berarti pemahaman atau penjelasan. Dengan demikian, tabayun adalah usaha untuk memastikan dan mencari kebenaran dari sebuah informasi sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan.

Syekh Muhammad Sayyid ath-Thantawi mengartikan tabayun sebagai ketidaktergesaan dan kesabaran dalam semua hal sehingga mengetahui kebenaran yang disampaikan oleh orang fasik.
Menurut al-Kafawi dalam al-Kuliyyât, tabayun merupakan salah satu tingkatan dalam penalaran. Ia menyatakan bahwa sebuah ilmu dapat mencapai otak (pemahaman) melalui beberapa tingkatan: asy-syu`ûr (rasa), al-idrâk (tahu), al-hifzh (hapal), at-tadzakkur (ingat), ar-ra’y (pendapat), at-tabayyun (tahu setelah ragu) dan al-istibshar (tahu setelah berfikir).

Tabayun dalam Nash-nash Syar`i
Kata tabayun dalam teks-teks syar`i –Alquran dan Sunnah—memiliki makna yang berdekatan dengan makna bahasa (etimologi): 
1. Tabayun dalam Alquran. Kata tabayun dan derivasinya disebutkan sebanyak kurang lebih 17 kali yang berkisar pada makna menjadi jelas dan carilah kejelasan. Hanya saja, bentuk kata yang disebutkan adalah berupa kata kerja (fi`il) bukan kata benda atau sifat. Contoh penyebutan kata tabayun dalam Alquran adalah firman Allah, “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata (tabayyana) bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109). 
Dan firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan (latubayyinunnahu) isi kitab itu kepada manusia.” (Âli Imrân: 187).

2. Tabayun dalam Sunnah. Tabayun dalam Sunnah memiliki makna yang sama seperti dalam Alquran. Misalnya sabda Rasulullah saw., “

إِذَا زَنَتْ الْأَمَةُ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَجْلِدْهَا
“Jika seorang budak perempuan berzina dan terbukti (menjadi jelas) perbuatannya itu, maka cambuklah dia.” (HR. Bukhari).

Urgensi dan Keutamaan Tabayun
Tabayun merupakan salah satu sikap yang sangat penting untuk selalu dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak pertikaian dan perselisihan baik dalam skala terkecil, seperti antar dua orang individu, hingga skala terbesar, seperti peperangan global, disebabkan oleh tuduhan-tuduhan tidak benar atau pemahaman keliru dalam membaca sikap pihak lain.

Di dalam Alquran, perintah melakukan tabayun secara eksplisit dinyatakan oleh Allah di dua tempat dalam Alquran, yaitu dalam surah an-Nisâ’ ayat 94 dan surah al-Hujurât ayat 6.
1. Perintah tabayun dalam surah an-Nisâ ayat 94. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 

Imam ath-Thabari dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah kepada kaum muslimin yang melakukan jihad di jalan Allah agar tidak tergesa-gesa dalam menyerang lawannya hingga benar-benar telah jelas dan terbukti bahwa mereka adalah orang kafir dan layak untuk diperangi. Bahkan, Allah melarang membunuh seseorang yang mengaku beriman hanya karena kaum muslimin meragukan pengakuannya tersebut. 

2. Perintah tabayun dalam surah al-Hujurât ayat 6. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” 
Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar seseorang tidak bersegera membenarkan berita yang dibawa oleh seorang fasik hingga ia benar-benar meneliti dan mengecek kebenarannya. 
Bagi seorang dai atau aktifis dakwah sifat tabayun mutlak diperlukan agar semua tindakannya tidak terjebak pada penilaian buta dan serampangan yang hanya akan menjerumuskan dia dalam kemaksiatan yang sangat besar kepada Allah dan Rasul-Nya. Itu tidak lain karena seluruh ucapan dan tindakannya akan menjadi contoh oleh masyarakat, sehingga jika penilaiannya yang buruk dan salah itu tersebar maka ia akan menanggung seluruh beban dosa akibat perbuatannya tersebut. 
Selain urgensitas di atas, tabayun juga memiliki beberapa keutamaan lain, diantaranya adalah:

1. Menjaga jiwa dan harta manusia.
2. Petanda kematangan akal dan cara berfikir.
3. Menjaga kehormatan dan ketentraman masyarakat dari keputusan yang tergesa-gesa dan tanpa didasarkan pada studi dan penelitian.
4. Menumbuhkan rasa percaya diri.
5. Menjauhkan keraguan serta bisikan dan tipu daya setan.
6. Mengokohkan bangunan sistem amal jama`i.

Penghalang Tabayun
Meskipun begitu penting nilai tabayun dalam diri seseorang tapi masih saja kita sering menemukan kebusukan yang tercium dari mulut yang tergesa-gesa dan tidak mencermati informasi yang datang dari sumber yang bersih dan valid. Di dalam Alquran, setelah menjelaskan pentingnya bertabayun dari berita yang diterima dari orang fasik, Allah `azza wa jalla lalu memperingatkan kaum muslimin dengan berbagai sifat buruk yang diakibatkan oleh informasi sampah itu. Sikap-sikap negatif tersebut dibagi menjadi dua: sifat tercela yang diungkapkan secara terang-terangan di hadapan orang yang dicela --yaitu as-sukhriyyah (mengolok-olok) dan at-tanâbuz bil-alqâb (memanggil dengan gelar yang buruk)—dan sifat tercela yang diungkapkan di belakang orang yang dicela –yaitu sû’uz-zhann (berprasangka buruk), at-tajassus (mencari-cari kesalahan) dan al-ghîbah (menggunjing)--. 

Banyak hal yang menyebabkan seseorang tidak melakukan tabayun dan klarifikasi, diantaranya adalah sikap egois dan merasa sudah memahami berita dengan benar, sombong dan merasa lebih tinggi dari sumber klarifikasi, malas untuk mencari kebenaran dan lain sebagainya. Namun, ada sifat lain yang kadang menghalangi seseorang yang aktif dalam dunia dakwah untuk melakukan tabayun, yaitu rasa `athifiyyah (emosionalitas) terhadap sesama aktifis dakwah.

Seorang aktifis dakwah sudah barang tentu akan memiliki rasa emosionalitas yang lebih terhadap saudaranya sesama aktifis dakwah dibandingkan dengan orang lain di luar dunia dakwahnya. Meskipun hal ini sangat penting dan perlu terus ditumbuhkan hanya saja jangan sampai hal itu membuatnya menjadi buta dan menerima begitu saja semua informasi yang diterima dari saudaranya tersebut. Sikap berlebihan inilah yang tidak jarang mengakibatkan sikap tabayun itu menjadi tersisihkan bahkan kadang hilang sama sekali, sehingga ia akan menerima apapun jenis informasi yang diterima dari sesama aktifis tanpa memfilter, mengkros-cek dan menimbang lebih dalam. Namun, ini tidak berarti kita tidak perlu membedakan antara informasi yang diterima dari sesama aktifis dan informasi yang diterima dari luar. Justru, kita tetap menilai bahwa informasi dari sesama aktifis dakwah tentu memiliki nilai kepercayaan lebih tinggi, tapi hal itu tidak boleh dijadikan sebagai harga mati dan kepercayaan buta sehingga menutup pintu untuk melakukan tabayun. 

Sebagai contoh, dalam perang Hunain (8 H), Rasulullah saw. memberikan para pembesar Quraisy ghanimah yang sangat banyak tapi tidak memberi sedikit pun untuk kaum Anshar. Karena cukup kecewa dengan pembagian itu, maka mereka meminta Sa`ad bin Ubadah untuk bertanya kepada beliau. Beliau lalu berkata kepadanya, “Bagaimana sikapmu, wahai Sa`ad?” Ia menjawab, “Aku bersama mereka, wahai Rasulullah.” Lalu beliau menyuruh Sa`ad untuk mengumpulkan seluruh kaumnya. Setelah itu beliau mendatangi mereka dan berkata, “Wahai Anshar, apakah kalian tidak rela membiarkan mereka pulang dengan seluruh ghanimah itu sementara kalian pulang dengan membawa Rasulullah?” Mendengar itu mereka menangis dan menjadi rela dengan semua keputusan beliau. Dalam kisah ini, terlihat bahwa Rasulullah saw. tetap mencari informasi ke sumbernya meskipun beliau telah mendapatkan sebagian informasi itu dari Sa`ad yang merupakan salah seorang sahabat terbaiknya serta merupakan pembesar kaum Anshar dan bagian dari pihak yang merasa kecewa. Di sini, Rasulullah saw. ingin memberikan pelajaran berharga agar kita tidak tergesa-gesa dalam memberikan keputusan demi menjaga keutuhan umat.

Tabayun dalam Kerangka Dakwah
Kehidupan berdakwah merupakan sebuah wilayah interaksi yang memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan kehidupan umum dalam masyarakat. Seorang aktifis akan diikat dengan nilai dan etika tambahan yang dituntut untuk dipatuhi berkaitan dalam kerangka hak dan kewajibannya dalam gerakan itu. Baik qaid maupun jundi memiliki jalinan kuat yang saling mengisi dan melengkapi. Di dalam surah al-Hujurât, Allah SWT secara gamblang menjelaskan hubungan-hubungan itu. 

Menurut as-syahid Sayyid Qutub, nidâ’ (seruan) pertama dalam surah al-Hujurât adalah perintah untuk menjadikan qiyadah sebagi sumber petunjuk dan perintah. Kemudian, seruan kedua dalam surah itu merupakan perintah untuk mengikuti adab dan tata cara berinteraksi dengan qiyadah. Sedangkan dalam seruan ketiga, Allah ingin mengajarkan bagaimana cara menerima dan mengambil sebuah informasi, yaitu dengan berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam penerimaan info tersebut. Karena tidak semua berita datang dari sumber yang valid.

Tabayun adalah salah satu instrumen dakwah terbaik dalam menjaga persatuan dan terlaksananya amal jam’i secara utuh demi tercapainya kemakmuran umat dalam naungan ridha Allah. Oleh karena itu, memiliki sifat ini adalah sebuah keniscayaan dan keharusan bagi seorang aktifis dakwah. Dengan tabayun, kita akan diajarkan bagaimana bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau menghukumi sebuah persoalan tertentu. Kita pun akan dididik untuk membiasakan meminta pendapat dan nasehat dari rekan atau qiyadah dalam kerangka menjaga keutuhan jamaah.

Selain itu, ada hal yang sangat penting yang dapat dipetik oleh aktifis dakwah jika benar-benar mempraktekkan nilai-nilai tabayun ini, yaitu ats-tsiqah bil-qiyâdah wal jamâ`ah (yakin dengan keputusan qiyadah dan jamaah) terutama dalam era keterbukaan saat ini. Informasi bisa datang dari berbagai sumber bahkan terlihat “berserakan” dimana-mana. Disinilah aktifis dakwah sejati dituntut menunjukkan kematangannya dalam tarbiyah. Seorang jundi tarbawi harus mampu mesterilisasi dan memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum keluar dari mulut dan hatinya yang bersih yang kemudian akan dikonsumsi oleh orang lain. Jika ia mendapati sebuah berita miring tentang jamaahnya maka sikap pertama yang harus dilakukan adalah husnuzzhan, lalu diikuti dengan tabayun kepada sumber dan kanal informasi yang bersih dan terpercaya.

Seorang aktifis dakwah harus berusaha untuk bersikap tabayun dalam berbagai hal apalagi jika informasi yang ia miliki tentang permasalahan tertentu masih sepotong-sepotong dan tidak lengkap. Ini untuk menjaga keutuhan jamaah dan menjaga perjalanan dakwah hingga mencapai tujuannya. Selain itu, sikap tabayun dapat menjaga keutuhan kaum muslimin secara umum dan menjauhkan mereka dari pertikaian serta perselisihan yang hanya akan membuat tubuh umat Islam semakin lemah. Sikap tabayun sangat diperlukan terutama di masa modern saat ini yang telah berkembang di dalamnya sarana telekomunikasi dan transportasi yang menyebabkan dunia berubah menjadi sebuah desa yang kecil dengan begitu cepatnya tersebarnya sebuah informasi ke seluruh elemen masyarakat. 

Dengan demikian, tabayun merupakan salah satu sifat dan karakter penting bagi aktifis dakwah dan tarbiyah. Ia harus mampu memindahkan nilai-nilai tabayun dari ranah verbal ke ranah amalan nyata. Amal jama’i yang kita bangun bersama tidak dapat berjalan mulus bahkan mungkin dapat hancur berkeping-keping jika seorang aktifis dakwah tidak berhati-hati dan melakukan tabayun dalam semua urusannya. Pengelolaan informasi yang baik akan menciptakan struktur jamaah yang kuat dan menghasilkan pribadi-pribadi dakwah yang bersih dan saleh. Hadânallahu wa iyyakum ajma`în.

TANYA JAWAB

M13 by Ustad Cipto
Q : Bagaimana hukumnya, kalau kita difitnah orang, kemudian ketika kita tabayun, ternyata orang tsb tidak mau mendengarkan kita, padahal jelas jelas fitnahnya salah
A
: Sabar dan perkuat kesabaran...QS 3:200. Fitnah timbul jika tabayun tidak dilakukan...adapun ketika tabayun ybs tidak terima harus ada pihak lain yg membantu...
QS 49:10 bahwa sesama muslim adalah saudara dan damaikanlah antara keduanya jika terjadi perselisihan....Komunikasi perlu dilakukan...

M2 by Ustdazah Tribuana
Q :Ustadzah...klo ada orang ngobrol ke kita dan membawa berita yang belum tentu benar bagaimana kita harus bersikap? Menyetop pembicaraan atau bagaimana?
A : Menyetop dan mengalihkan, kalau tidak berhenti kita diam saja tidak usah berkomentar.

M6 by Ustad Doli
Q : Bagaimana cara kita tabayyun terhadap berita-beria yang kadang kita sendiri tidak tau ini hoax atau real? Soalnya yang menyebarkan media terpercaya,,
A : Kalau tak yakin lebih baik tak usah di anggap ada, tak usah ikut menyebarkan.

Q : Kalau pesan berantai macam broadcast gitu ustd gimana ?
A : Sama saja, yang penting substansinya apakah valid atau tidak, bisa di cek ke sumber aslinya.. kalau tak yakin, ya tak usah di anggap.

Q : ustadz, saya bukan mau bertanya tp mau mengapresiasi hehe.. terima kasih sudah menyampaikan materi ini, jadi bisa saya bagi ke teman-teman atau keluarga. Suka pusing soalnya kalo ada broadcast yang isinya belum tentu benar tapi disebarkan.
A : Intinya adalah dua
1. isi atau konten
2. sumber berita
Kalau kita ragu salah satunya, tak usah di pedulikan. Apalagi kalau kita tau sumbernya tidak kredibel, misalnya bicara kesehatan yang rumit padahal bukan seorang dokter. Bicara masalah pengetahuan tertentu padahal bukan ahlinya. Dstnya.. wallahualam

M17 by Ustadzah Neneng
Q : Bagaimana menyikapi berita-berita yang mengatasnamakan agama/umat islam? Sebagai contoh...ada wa berantai..
Mesjid al aqsa saat ini diserang. Mari kita bacakan doa dan zikir...dst. Sebarkan.
Kita tidak tahu kebenarannya tapi klo tidak kita lakukan (menyebarkannya) ada rasa bersalah.
A : Jika sumber beritanya bisa dipercaya, bisa dipertanggungjawabkan, artinya kita punya hujjah saat di buka catatan amal jempol kita kelak.

N106 by Ustadzah lillah
Q : Klo baca posting ulasan Bunda di atas rasanya mudah bertabayun,  tapi memang kenyataannya yang Bunda sebutkan bahwa arus informasi&teknologi yang semakin cepat berkontribusi dalam hal informasi,.selain itu saya(kita) juga khawatir setelah membaca berita yang kita terima & berjaga-jaga/waspada terhadap keluarga kita & orang-orang terdekat kita yang akhirnya kita cepat memforward berita itu. Yang jadi masalah di sini adalah, ketika kita konfirmasi atas berita yang kita terima kebenarannya (bertabayun) pihak tsb lama memberikan konfirmasi sehingga berita yang sidah beredar di masyarakat mungkin bervariasi. Jadi semakin rumit&kompleks, yang ada bagi saya&keluarga orang terdekat saya lebih memilih tidak memforward berita-berita yang kami terima baik dr wa, line, email, sms dll karena kekhawatiran dan fitnah. Nah klo begitu bagaimana ya???
A : Saya termasuk yang tidak berani forward baca karena khawatir bagian dari penyebaran fitnah. Maka berhati-hati insyaallah sudah benar.



M5 by Ustadzah Yeni
Q : Tabayun itu sama dengan menahan hawa nafsu/kesabarankah bun?
A : Cek dan ricek berita mbaa.. agar tidak trjadi fitnah

Q : Gimana caranya ya bun cara cek ricek agar tidak membauat orang yang ditanyain tidak tersinggung?
Kadang saya juga begitu sih..Dalam hati berpikir ini orang kepo deh Tanya-tanya masalah pribadi saya, tapi saya suka klo ditanyain langsung bukan tanya belakang saya.
A : Ada seninya emank mbaa.. dan butuh proses. Kenali karakternya. Jika tipenya g bisa diajak ngomong langsung maka kita perlu bantuan orang lain yang bisa jaga rahasia. Nanya nya jng langsung to do point.. tp dajak canda dlu.. padakt dluu baru diajak komunikasi. Trhadap saudara seaqidah maka  kita hrus cari 1001 alasan untuk kita slalu baik sangka..

Q : Jika saya mendengar suatu berita/informsi tapi hanya saya dengar asmbail lalu/ tidak dianggap, dengan alasan tidak ingin terlibat dengan hal trsebut/menganggapnya tidak penting tanpa mengecek kebenarannya, bolehkan sprti itu ustadzah??
A : Sah-sa saja sih mba.. tapi jika itu untuk kemaslahatan bersama ada baiknya kita membaantu mencari kebenarannya

Q : Bedanya kapan bersikap ngalah dan kapan bersikap tegas bun??
 A : Lihat situasi dan kondisi... karena yang paham keadaan itu kita mba. Jadi ga tergesa... jika mengalah adalah pilihan terbaik untuk banyak mengundang kebaikan maka lakukanlah. Tapiiii... jika ternyata dengan mengalah akan tambaah masalah.. maka kudu ditegasin... Ada orang klo ga dikasi tau langsung ga tau klo kita lagi jengkel karena sikapnya, oleh karena itu komunikasikan baik-baik agar tidak terjadi ketersinggungan.

Q : Saya kalau cari informasi kebenaran sering terbawa emosi, gimana ya Ustadzah cara mengatasinya?
A : Kudu diademin dulu mba hatinya. Masalah dibawa dengan emosi hasilnya bakalan ga bagus. Pertama wudhu, kemudian sempatkan sholat sunnah, selanjutnya Do'a ama Allah minta dilembutkan hati, dimudahkan lisan... dan banyak istighfar, karena dengan istghfar akan dberi kemudahan. Terakhir tawakalkan pada Allah... Sooo... yang paham kudu bisa jaga suhu hati yaaa agar ga kebawa emosi. Karena emosi ga akan bisa nyelesaikan masalah, yang ada baper dan makin laper

Q : Hhhmmm....semuanya tergantung dari cara menahan emosi ya bun..
A : Yaaa mba... dan ituuuu perlu proses... apalagi mudah emosi adalah karakter yang udah tertanam dari kecil.. jadi kudu luasin hati... lapang dada...

Q : Looo....iyakah bunn??? Tertanam sejak kecil??? Gimana bisa bun?
A : Bisa mba... setiap kita terlahir fitrah... lembaut. Jika dalam rumah lingkungan sekitar menyelesaikan sesuatu dengan marah si anak akan terekam memorynya dan akan tertanam dalam dirinya.. hingga terpatri... ooh beginilah cara ibu bapakku mnyelesaikan masalah... hati-hati sikap anak adalah cerminan orang tuanya.

Q : Bagaimana klo mengmbil sikap diam saja bun...karena khawatir salah ucap dan sikap, Boleh ya bun begitu?

A : Yup.. diam adalah emas... tapi ga selamanya diam mampu mnyelesaikan masalah. Harus liat-liat lagi.  Ada kadang masalah bisa berlalu seiring waktu tapi ada pula yang harus diselesaikan... lagi-lagi kita yang pandai melihat situasi dan kondisinya dilapangan

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


TESTIMONI KELAS ONLINE BAHASA ARAB

1. Alhamdulillaah saya sangat bersyukur sekali dengan adanya kelas online bahasa Arab ini, karna sangat membantu saya yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena tak punya biaya. Terima kasih banyak ustadz Rama, ustdzah Sri yang sudah memberikan waktunya memberikan ilmu kepada saya, semoga Allah membalasnya dengan beribu kebaikan, mba Rita makasih banyak sudah sabar mengajari saya yang susah faham, yang selalu direpotkan dengan pertanyaan yang mungkin mudah dijawab, sangat sabar menjelaskan materinya dan mau meluangkan waktu untuk membimbing. Hanya Allah yang bisa membalasnya ya mba, buat mba Arsyafa dan musrifah yang lain terima kasih juga yang sudah direpotkan dengan mengirim screenshoot dll. Pokoknya makasih banyak buat semuanya, semoga ilmunya berkah ya ☺
(Fitri 2A)

2. Subhanallah pembelajaran B.Arab yang luar biasa benar-benar ana merasa terbimbing dan merasa diperhatikan oleh para musyrifah yang sangat teliti dalam mengoreksi latihan. Kelas pemula ini juga telah ana ajarkan di SDIT, agar ana tetap ingat.
(Suri 1C)

3. Assalaamu'alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh..
Bismillaah..
Alhamdulilah saya sangat bersyukur dapat berkumpul dalam majelis ilmu nahwu secara online, sangat memudahkan dalam mempelajari bahasa arab hanya lewat whatsapp di tengah kesibukan yang tidak memungkinkan buat memperdalam ilmu nahwu di suatu lembaga terkait. Pembimbingnya pun baik-baik selalu mengingatkan tugas, menjelaskan jika ada yang salah. Alhamdulillaah berkat bimbingan ustadzah, musyrifah dan semangat teman-teman di kelas BA 2A saya bisa menyelesaikan Kelas Nahwu Pemula ini hingga Lulus. Terimakasih saya ucapkan kepada seluruh admin BA Hamba Allah, ustadz, ustadzah dan musyrifah yang telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu kepada saya dan teman-teman semua, semoga ilmu yang telah dibagi menjadi bekal amal jariyah dan membawa berkah, aamiin. Semoga kegiatan Kelas Nahwu Pemula ini bisa berkelanjutan dan semakin sukses, aamiin..

��Terimakasih Lita ucapkan kepada:
❤Ustadzah Sri Mulyana
❤Mba Nur Hasanah
❤Seluruh Admin, Ustadz/Ustadzah, Musyrifah dan teman-teman semua di Grup BA 2A ini..
(Lita Aprilia, 2A 19th)

4. Sebelumnya ana tidak punya dasar belajar bahasa arab, jadi memang belajarnya seperti anak bayi yang belajar merangkak, tapi akan terus belajar. Alhamdulillah masih terus bisa mengikuti, walaupun ditengah-tengah kesibukan. Kelas BA ini sangat bermanfaat. Mungkin jika tidak melalui online/WA ini ana selamanya tidak pernah belajar bahasa arab. Belajar bahasa arab itu menyenangkan, walaupun kita merasa sulit. Intinya harus mencintai apa yang sedang kita pelajari dan tekad yang kuat untuk terus belajar. Tidak ada yang tidak bisa asalkan kita mau terus belajar dan melawan rasa malas. (Sari Khairani, 1B 29th)

5. Alhamdulilah saya sangat bersyukur bisa belajar bahasa arab disini. Karena metode belajarnya pelan, sesuai dengan usia saya yang gak memungkinkan belajar dengan cepat. Semoga untuk pembelajaran selanjutnya masih tetap sama metode belajarnya.