Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Jangan Bandingkan Ibrahim 'Alayhi salam dengan Diri Kita

Kajian Online WA Hamba Allah SWT

Jumat, 16 Mei 2014
Nara Sumber : Ustad Dodi Hidayat Sunaly
Notulen : Bunda Nofita






بسم الله الرحمن الرحيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Jujur, siapa orang yang paling kita cintai dalam hidup kita? Apakah dia pasangan hidup kita? Apakah dia mantan kekasih? Apakah dia selingkuhan kita? Orang tua kita? Tokoh idola kita? Atau siapa?
Terus, berapa kali kah dia kita sebut namanya sehari semalam? Sebanyak-banyaknya kita menyebut nama orang yang sangat kita cintai, tidak akan lebih dari 10 kali sehari semalam.
Lalu, adakah sosok manusia yang kita sebut namanya paling tidak 36 kali sehari semalam selain Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam?

Ada! Dia adalah Ibrahim 'alayhi salam. Figur manusia pilihan yang menjadi salah satu teladan utama dalam hidup kita. Figur yang seharusnya kita merasa dekat bahkan mencintainya. Namanya saja kita sebut lebih banyak dari siapapun manusia yang kita cintai dalam hidup kita selain Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam.

Namanya sering kita sebut dalam shalawat ibrahimiyyah ketika tasyahud dalam shalat. Tetapi apakah karena sering kita sebut namanya, lantas otomatis kita merasa dekat dan lalu mencintainya? Saya koq ragu dengan adagium itu.
jangan-jangan malah kita tidak kenal dengan sosok Ibrahim 'alayhi salam. Kalau pun kenal, paling hanya sepintas saja, itu pun karena kadang diulang sejarahnya saat musim qurban.
Tak kenal maka tak sayang. Tidak sayang maka tidak cinta. Tidak cinta maka bagaimana akan bisa kita meneladaninya?

Padahal dialah manusia yang paling banyak mendapatkan gelar istimewa dari siapa pun manusia yang pernah hidup di muka bumi ini dari dulu sampai hari akhir kelak.

1).  Beliau bergelar " ABUL ANBIYA'" , bapak dari para nabi-nabi.
Karena dari keturunan beliaulah lahir (paling tidak) 18 orang nabi ! Isma'iyl, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Dzulkifli, Syu'aib, Yunus, Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa, Dawud, Sulayman, Zakariyya, Yahya, 'Isya alayhimus salam dan terakhir Rasulullah Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam.
Bayangkan ! 18 orang keturunannya adalah nabi dan rasul. Padahal jumlah nabi dan rasul yang diungkap Al Qur'an cuma 25 orang.

2).  Beliau juga bergelar "'ULUL AZMI ', yang memiliki pribadi yang teguh dalam   menegakkan syari'at.
Dalam sejarah mereka yang bergelar Ulul Azmi cuma lima sosok saja, yakni Ibrahim, Nuh, Musa, 'Isya alayhimus salam dan terakhir Rasulullah Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam.

3).  Beliau juga bergelar " UMMAT" , padahal beliau seorang diri, bukan kelompok.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah “UMMATAN” yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan. (QS. An-Nahl/16 : 120)
Kenapa Ibrahim 'alayhi salam seorang diri digelari ummat tidak lain karena kualitas pribadinya yang begitu luar biasa setara dengan ratusan bahkan ribuan orang.

4).  Beliau bergelar " KHALILULLAH " , kekasih Allah.
Inilah gelar dari segala gelar yang langsung dianugerahkan Allahu Ta'ala kepada beliau. Tidak satu pun manusia yang mendapat gelar paling prestesius ini.

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi "khalil" kekasih-Nya. (An Nisa' /4 : 125).

Apalagi yang kurang dari sosok yang begitu paripurna seorang Ibrahim. Semua yang menyangkut pribadinya adalah keteladanan demi keteladanan. Keturunannya yang melahirkan 18 orang nabi dan rasul adalah bukti sejarah yang menjelasterangkan Ibrahim adalah bukan sembarang manusia, tapi dia adalah manusia shaleh sekaligus pendidik unggul. Gelarnya yang Khalilullah mempetakan betapa dekatnya Ibrahim dengan Khaliqnya yang tentu diraihnya dengan ketaatan dan kepatuhan, ketundukkan dan kepasrahan yang terus menerus dijalani dengan penuh istiqamah. Mana mungkin kita berani membandingkanlah sosok Ibrahim 'alayhi salam dengan kita !

Namun siapa sangka Ibrahim 'alayhi salam yang sosoknya begitu paripurna dan sangat mencolok bila dibandingkan dengan kita, ternyata pernah berdo'a miris,

وَلَا تُخۡزِنِىۡ يَوۡمَ يُبۡعَثُوۡنَۙ‏
يَوۡمَ لَا يَنۡفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوۡنَۙ‏
داِلَّا مَنۡ اَتَى اللّٰهَ بِقَلۡبٍ سَلِيۡمٍ

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
(Asy-Syu'araa/26 : 87-89)

Ada 3 hal yang sangat essensial dalam do'a yang dipanjatkan Ibarahim 'alayhi salam tersebut:

Pertama,
Manusia sekaliber Ibrahim yang tidak ada yang meragukan lagi keshalihannya serta kemulyaannya itu ternyata tetap saja menyimpan kekhawatiran kalau-kalau dia termasuk orang yang dihinakan di hari qiyamat nanti.
Ibrahim 'alayhi salam menyadari bahwa segala gelar kemulyaan di sunia ini tidak ada artinya lagi bila pada akhirnya nanti akan terhina di akhirat.
Pantaslah dia khawatir dan berdo'a

وَلَا تُخۡزِنِىۡ يَوۡمَ يُبۡعَثُوۡنَۙ‏

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari qiyamat,

Kedua,
Ketika hari di mana manusia dibangkitkan nanti maka akan terjadi devaluasi besar-besaran terhadap nilai kekayaan (harta) dan keturunan (termasuk pengikut) yang mana sebelumnya untuk ukuran dunia harta dan keturunan adalah variabel utama kesuksesan hidup dan kehidupan manusia.
Harta dan keturunan adalah sesuatu yang begitu kita bangga-banggakan, kita cari mati-matian siang dan malam. Tetapi ketika kita sampai di akhirat, keduanya menjadi tidak penting karena yang akan dinilai "amal" bukannya "maal"

يَوۡمَ لَا يَنۡفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوۡنَۙ‏

(yaitu) di hari harta dan anak-anak keturunan tidak lagi berguna

Ketiga,
Qalbun salim (hati yang bersih, bening, sehat) adalah modal utama keselamatan di akhirat. Dengan kata lain, jaminan keselamatan di akhirat kelak hanyalah diberikan kepada orang-orang yang datang memghadap Allahu Ta'ala dengan hati yang salim, bersih, bening, sehat.

داِلَّا مَنۡ اَتَى اللّٰهَ بِقَلۡبٍ سَلِيۡمٍ

Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

Selanjutnya,
Luar biasanya lagi hanya dua kali frase Qalbun Salim dimuat dalam Al Qur'an dan dua-duanya mengacu kepada sosok Ibrahim 'alayhi salam.

Apa dan bagaimana Qalbun Salim itu, akan sama kita bahas in sya ' Allah dalam pertemuan yang berikutnya.

Wallahu a'lam !

Sekali lagi...materi ini ketika disampaikan saat khutbah Jum'at membuat jamaah menangis. Saat diorasikan, penekanannya pada diri kita, sudahkah kita sejajar dengan sosok Ibarahim 'alayhi salam. Lantas Ibrahim saja yang kemulyaannya sudah seperti itu masih saja memohon jangan sampai dirinya dan anak keturunannya dihinakan di hari qiyamah. Bagaimana dengan diri kita?

Selamat merenungi

PERTANYAAN DAN JAWABAN:

■  1. Bagaimana cara nabi ibrahim mendidik anak dan istrinya shg anak, cucu dan keturunan2nya banyak yg menjadi nabi dan rasul..ini pastikan ada kiat2 dan cara2 yg bisa kita contoh dan terapkan untuk pendidikan anak kita.
2. Bagaimana jg nabi ibrahim membangun hubungan yg kuat dgn Allah krn tanpa hubungan yg kuat dgn Allah rasanya agak sulit juga mungkin utk menghasilkan anak,cucu dan keturunan2 berkualitas spt itu..

Jawab:
Bagaimana cara Ibrahim 'alayhi salam mendidik keluarganya?

Keluarga adalah kumpulan manusia yang biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang saling berhubungan secara emosi dan biologis. Mendidik keluarga berarti mendidik semua anggota keluarga, termasuk mendidik ayah dan ibu dan bukan melulu hanya mendidik anak saja. Dengan demikian dalam mendidik keluarga semua unsur terlibat. Ayahnya, ibunya, anaknya... mari kita simak kisahnya!

Kisah keluarga Nabi Ibrahim adalah kisah ketaatan kepada Allah. Kisah melakukan apa saja demi ketaatan pada Allah. Diawali dari perintah Allah bagi Nabi Ibrahim untuk meninggalkan keluarganya di lembah Mekkah nan tandus.

Hajar, bertanya pada Nabi Ibrahim, “Apakah engkau akan meninggalkan kami di tempat yang tandus dan kering ini?”

Nabi Ibrahim tidak menjawab. Hajar terus bertanya tanpa henti. Ibrahim diam saja.

Hajar mengganti pertanyaannya,”Apakah Allah yang menyuruhmu meninggalkan kami di sini?” Demikian tanya Hajar.

Ibrahim menjawab, “Ya.”

Kata Hajar, “Maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”

Inilah keyakinan Hajar yang tangguh. Ketika memang benar perintah Allah, tidak ada jawaban selain laksanakan. Inilah sikap Hajar, istri yang shalehah. Hajar menjadi model dan inspirasi bagi istri muslimah, yaitu mendukung suaminya melaksanakan perintah Allah.

Tapi adakah yang menarik perhatikan kita dari dari dialog Hajar dan Ibrahim?  Ada sesuatu yang menarik.

Dari dialog Hajar dan Nabi Ibrahim, kita bisa menangkap sesuatu yang mendorong Hajar tabah dan tegar. Perhatikan jawaban Hajar saat bertanya pada Ibrahim, “Apakah Allah memerintahkanmu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar menjawab, “Maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.” Dalam kata lain, “Kalau begitu Allah tdk meninggalkan kita.”

Ada keyakinan yang teguh di dada Hajar, hingga dia tabah menjalankan perintah. Ada iman yang kuat di dadanya. Iman yang ada di dada menjadi pondasi yang kuat bagi bangunan ketaatan. Tanpa ada iman, mustahil bisa taat. Iman inilah yang membuat manusia mau taat pada Allah. Mengenal Allah, lalu yakin dan percaya. Inilah iman.

Hajar yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang taat. Tidak meninggalkan orang yang taat pada perintahNya. Berangkat dari keyakinan itulah, Hajar mau melaksanakan perintah Allah, mau ditinggalkan di lembah tandus.

Sudahkah kita sadar bahwa ketaatan bukanlah sebuah kondisi kebetulan, tanpa ada ada iman? Ada keyakinan pada Allah di balik ketaatan. Ada iman. Maka bagaimana keyakinan kita kepada Allah?

Kisah ketaatan dimulai dengan membangun keyakinan pada Allah di dada. Keyakinan, bukan pengetahuan. Keyakinan bukanlah pengetahuan yang ada di kepala, bukan sekedar kognitif. Tapi lebih dari itu.

Iman pada Allah, itulah yang mendorong Nabi Ibrahim dan Ismail untuk patuh pada Allah saat ada perintah menyembelih. Nabi Ismail jadi Inspirasi bagi pemuda muslim, saat mengatakan, “Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan padamu. Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Begitu kata Nabi Ismail. Lihat QS As Shaaffat ayat 102.

Perintah Allah nampak berat untuk dilaksanakan. Tapi Iman pada Allah membuatnya ringan. Maka yang harus kita bangun adalah pondasi iman yang ada di dalam dada. Inilah yang harus kita prioritaskan. Ketika hati sudah beriman bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amalan, akan memberi pahala, maka jiwa akan tergerak.

Pertanyaan besar, bagaimana membangun iman di dada agar kokoh? Jawabnya ada pada doa Nabi Ibrahim pada QS Ibrahim 37, “Ya Allah, agar mereka mendirikan shalat.”

Ya, membangun iman di dada adalah dengan shalat. Begitulah yang dilakukan oleh para Nabi. Termasuk Nabi Muhammad, yang membina diri dan sahabatnya dengan shalat. Membangun iman di dada.
Shalat mengandung bacaan-bacaan yang membangkitkan iman. Inilah yang membuat iman bertambah. Shalat dilakukan setiap hari, bahkan ditambah dg shalat sunnah, karena memang jiwa perlu di-charge, sebagaimana HP.

Selanjutnya ternyata sebelum beliau mempunyai anak (pra nikah atau masih bujangan) beliau sudah membiasakan berdo'a, "Yaa Rabbi, anugerahkan kepadaku anak yang shalih"  (Ash Shaffat/37 : 100).
Doa tersebut terus dipanjatkannya sampai beliau menikah dan akhirnya memiliki anak, setelah bertahun-tahun tidak kunjung mendapatkannya. Peristiwa ini diabadikan Allahu Ta'ala dalam ayat berikutnya.
Jadi, membentuk anak yang shaleh seharusnya dimulai dari dini...dari masa jauh sebelum dikaruniai anak.
Wallahu a'lam!

PERBANDINGAN NABI IBRAHIM AS DAN MUHAMMAD SAW

■ Jika nabi ibrahim bergelar khaliullah dan tidak ada satupun manusia bergelar seperti ini, maka bagaimana dengan rasulullah SAW? Bukankah beliau juga ? Siapakah yang lebih tinggi kedudukannya di akhirat nanti di sisi Allah?

Jawab:
Perbandingan kemuliaan Nabi Ibrahim 'alayhi salam dengan Rasulullah Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam nanti di akhirat seperti apa?

Tidak sepantasnya kita membandingkan head to head antara beliau berdua. Keduanya diutus kepada ummatnya masing-masing yang berbeda, waktu, tempat dan sifatnya dan tentunya bukan untuk diperbandingkan, tetapi untuk ditauladani.

Berbicara nanti di akhirat, ada keistimewaan yang dimiliki Rasulullah Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam yang tidak dimiliki siapapun manusia selain beliau. Yaitu SYAFA'AT 'UZHMA (Syafa'at Agung).

Kata syafa’at telah disebutkan berulang kali dalam hadits Nabi saw baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Ibnul Atsir mengatakan, ”Yang dimaksud dengan Syafa’at adalah meminta untuk diampuni dosa dan kesalahan di antara mereka.”

Salaah satunya adalah syafa’at yang Rasulullah Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam simpan untuk umatnya di hari kiamat nanti. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda, “Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk berdo’a dengannya. Aku ingin menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at bagi umatku di akhirat nanti.”.

Sekarang mari kita ikuti kisah syafa’at Nabi shallallahu 'alayhi wasallam yang dikenal dengan Syafa’at al-‘Uzhma dalam hadits yang cukup panjang. Kisah ini terjadi ketika semua makhluk berkumpul di padang masyhar. Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik ra, sesungguhnya Rasulallah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda, bahwa pada hari kiamat Allah mengumpulkan seluruh makhluk di satu tempat yang luas. Manusia pada saat itu berada dalam kesusahan dan kesedihan. Mereka tidak kuasa menahan dan memikul beban pada saat itu.

Kemudian mereka mendatangi Nabi Adam as, lalu berkata, “Wahai Adam, berilah syafa’at untuk anak cucumu” Adam 'alayhi salam berkata, ”Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada IBRAHIM 'alayhi salam, sesungguhnya ia adalah kekasih Allah (Khalilullah)”. Kemudian mereka mendatangi Ibrahim 'alayhi salam. Lalu ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Musa, sesungguhnya Allah telah berbicara langsung kepadanya (Kalimullah)”. Kemudian mereka mendatangi Musa 'alayhi salam. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at pada kalian hari ini. Pergilah kalian kepada Isa, sesungguhnya ia adalah ruh Allah dan kalimat-Nya”. Kemudian mereka mendatangi Isa 'alayhi salam. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Muhammad!”

kemudian mereka mendatangiku. Lalu aku berkata, ”Aku memberi syafaat untuk kalian pada hari ini”. kemudian aku pergi meminta izin kepada Allah. Setelah diizinkan aku berdiri dihadapan-Nya. Kemudian Allah memberi ilham padaku dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya yang belum pernah Allah beritahukan kepada seorang pun sebelumku. Kemudian aku tersungkur bersujud dihadapan-Nya. Lalu Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku mengangkat kepalaku. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, Ummati, Ummati (umatku, umatku)”. Maka Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebesar biji gabah atau gandum dari keimanan”.

Kemudian aku pergi dan aku lakukan apa yang diperintahkan, lalu aku kembali lagi kepada Allah dan memuji-Nya dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku seperti dikatakan semula. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, ummati ummati (ummatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku, ”Pergilah, dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebiji sawi dari keimanan”. Kemudian aku lakukan sebagaimana aku lakukan pertama. Lalu aku kembali lagi kepada Allah dan aku lakukan sebagai mana yang telah aku lakukan semula. Kemudian dikatakan kepadaku ”Angkatlah kepalamu” sebagaimana dikatakan kepadaku pertama kali. Lalu aku katakan ”Ya Allah, ummati ummati (umatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku ”pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang dihatinya terdapat lebih kecil dari biji sawi dari keimanan”. Kemudian aku pergi dan melakukan apa yang diperintahkan. Lalu aku kembali kepada Allah untuk yang keempat kalinya. Lalu aku memuji-Nya dengan berbagai pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku katakan ”Ya Allah, izinkanlah aku agar bisa mengeluarkan umatku dari neraka bagi yang telah mengucapkan La Ilaha Ilallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Kemudian Allah berfirman, ”Ya Muhammad, sesungguhnya hal itu bukan bagimu atau hal itu bukan atasmu. Akan tetapi demi Kemulian-Ku, Keluhuran-Ku, Kesombongan-Ku, dan Kebesaran-Ku, Aku pasti akan keluarkan umatmu dari neraka siapa yang telah mengucapkan La Ilaha Illallah”.

An-Nawawi mengatakan, “Hadis ini juga menunjukkan keutamaan Nabi SAW di atas semua makhluk dari para rasul, anak Adam, dan malaikat. Sesungguhnya tidak ada yang mampu memberikan perkara besar ini – syafaat al-'uzhma (agung) –selain beliau.
Wallahu a'lam!

CARA SHALAT KHUSYU'

■ Bagaimana kiatnya agar shalat bisa khusyu'?

Jawab:
Bunda Lia, banyak orang berusaha mencari jawaban bagaimana agar shalat bisa khusyu'. Karena shalat yang khusyu' merupakan karunia yang tiada bandingannya.

“Sesungguhnya karunia pertama yang dicabut Allah dari para hamba-NYA ialah kekhusyu’an dalam shalat .” HR.Bukhari, HR.Thabrani, An-Nasa’I Dan lainnya.

Khusyu' itu sendiri adalah lafzhul mustarak, kata yang mempunyai aneka makna. Khusyu' bisa berarti tunduk, pasrah, tenang, merendah, serius, menghayati dan lain makna lagi.
Sedang Arti KHUSYU' itu sendiri mirip dengan kata KHUDHU', hanya saja jika kata KHUDHU' itu lebih sering digunakan untuk anggota badan, tapi kata KHUSYU' ini ialah untuk kondisi dan gerak-gerik hati.
Dan pantas saja hampir semua arti khusyu' di dalam Al Qur'an selalu mengacu kepada HARI QIYAMAH, BANGKIT DARI KUBUR, TAKUT, SAKARATUL MAUT.

Coba perhatikan Al Qamar 52: , Al Hasyr 59 :21, Al Qalam 68:43, Al Ghaasyiyah 88:2 artinya apa? Artinya mengindikasikan keseriusan, menghadirkan suasana bening, takut, tunduk dan tidak ada yang bisa dijadikan main-main.

Dari banyak teori darn premis tentang khusyu', paling tidak ada beberapa yang tidak bisa tidak harus dilakukan agar shalat kita bisa khusyu'. Ini minimalnya bagaimana cara aupaya bisa khuayu' di dalam shalat,

1). Mengarti sekaligus memahami apa yang dibaca.

Hai orang-orang yang beriman, JANGANLAH kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, SEHINGGA KAMU MENGERTI APA YANG KAMU UCAPKAN. An Nisaa'/4 : 43

Kepada siapa kita persembahkan shalat ini? Bukankah kepada Dzat yang menguasai hidup dan kehidupan kita?

Apabila seorang diantaramu sedang shalat, maka sesungguhnya dirinya sedang berbicara kepada Allah,,,, HR. Bukhari 531, HR.Muslim, An-Nasai.

2). Meyakini shalat yang tengah kita laksanakan adalah shalat untuk yang terakhir kalinya.

Dari Abi Ayyub ra bahwa Nabi saw bersabda: Apabila engkau mendirikan shalat maka maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah (mati)”. (Musnad Imam Ahmad: 5/412).

3). Tenang tidak grasa-grusu (tuma'ninah)
Ingat, tuma'ninah (tenang) adalah rukunnya shalat. Tidak syah shalat yang dilakukan dengan ketergesaan.

Sejahat-jahat pencuri ialah orang yang mencuri dari shalatnya.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab: “Ia Tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” HR. Ahmad, 5/310 dan Shahih Al-Jami’ No.997

Wallahu a'lam!

■ Menyambungkan dengan materi Bpk Dodi kmrn tentang anak hasil zina vs ortu yg selalu mendoakan calon anak dan keturunannya sholeh kelak. Inti pertanyaan saya, apakah faktor terbesar memiliki anak dan keturunan sholeh/sholehah itu adalah dr doa nenek moyang dan ortunya???

Jawab:
Bukankah salah satu tujuan memiliki keturunan, bukankah untuk investasi dan membawa safaat untuk kita kelak di akhirat nanti?
Smga yg blm menikah bs diberikan yang terbaik dlm jodohnya dan menjadi calon ibu yg selalu mendoakan anak cucu dan keturunannya kelak agr mjd khalifah yg baik dibumi kelak. Amin YRA.
Nah bagaimana yg sdh memiliki anak?
Sebaik-baiknya tdk ada yg terlambat dlm doa. Jadi ayo kita semangat meluangkan sedikit waktu setelah sholat.Untuk berdoa.

Semoga Allah ridha dengan kita semua, diberkahi hidup dan kehidupan kita, diberikan banyak kemudahan-kemudahan dalam semua urusan kita.
Aamiin Yaa Mujiibas Saa'iliin !


Doa Kafaratul Majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه