Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

KUSYU

 Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ SWT 

Senin, 16 Mei 2014 
Narasumber : Dian Alamanda

Allah berfirman tentang khusyu' ini,
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang
beriman, untuk khusyu' hati mereka mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?" (Al-
Hadid: 16).
Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu berkata, "Selang waktu
antara keislaman kami dan teguran Allah terhadap kami
hanya selama empat tahun." Ibnu Abbas berkata,
"Sesungguhnya Allah menganggap lamban hati orang-
orang Mukmin. Maka Allah menegur mereka pada
penghujung masa selama tiga belas tahun setelah
turunnya Al-Qur'an.


Lalu Allah befirman,
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya." (Al-
Mukminun: 1-2).
Khusyu' menurut pengertian bahasa berarti tunduk, rendah
dan tenang, seperti firman Allah, "Dan merendahlah semua
suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah". Bumi juga disifati khusyu',
yang artinya kering, tandus dan berupa dataran rendah, yang tidak bisa
diairi dan ditanami. Firman-Nya,
"Dan, sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya, bahwa
kalian melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami
turunkan air di atas-nya, niscaya ia bergerak dan subur." (Fushshilat: 39).

Khusyu' artinya keberadaan hati di hadapan Rabb, dalam
keadaan tunduk dan merendah, yang dilakukan secara bersamaan. Ada
yang berpendapat,
khusyu'artinya tunduk kepada kebenaran. Tapi ini bukan
defi-nisi khusyu', tapi merupakan keharusannya.
Di antara tanda-tanda khusyu' ialah jika seorang hamba
dihadapkan kepada kebenaran, maka dia menerimanya dan tunduk
patuh. Ada yang berpendapat, khusyu' artinya padamnya api syahwat dan
tenangnya asap dada serta bercahayanya sinar di hati. Al-Junaid berkata,
"Khusyu' artinya
ketundukan hati kepada Dzat Yang Maha Mengetahui yang gaib."

Para ulama sepakat bahwa khusyu' itu berada di dalam
hati dan hasilnya ada di anggota tubuh atau anggota tubuhlah yang
menampakkan khusyu' itu.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat seseorang yang mengacak-acak jenggotnya ketika shalat, kemudian beliau bersabda,
"Sekiranya hati orang ini khusyu', tentu anggota tubuhnya juga khusyu'."

Beliau juga pernah bersabda, "Takwa itu ada di sini",
sambil menunjuk ke dada. Beliau melakukannya tiga kali.
Seorang shahabat (Hudzaifah bin Al-Yaman) berkata,
"Jauhilah oleh kalian khusyu' kemunafikan."
Ada yang bertanya, "Apa artinya khusyu' kemunafikan itu?"
Dia menjawab, "Jika engkau melihat tubuh khusyu', tapi hati
tidak khusyu'."

Umar bin Al-Khaththab pernah melihat seseorang yang
melengkungkan lehernya tatkala shalat. Maka Umar berkata kepada orang
itu, "Hai pemilik leher, tegakkanlah lehermu, karena khusyu' itu
tidak terletak di leher, tapi di dalam hati."

Aisyah Radhiyallahu Anha pernah melihat sekumpulan
pemuda yang berjalan perlahan-lahan. Dia bertanya kepada orang
yang tahu tentang mereka, "Siapa mereka itu?"
Orang itu menjawab, "Mereka para ahli ibadah." Aisyah
berkata, "Umar bin Al-Khaththab adalah orang yang paling cepat
jalannya, jika dia berbicara aku dapat mendengarnya dari kejauhan, jika
memukul benarbenar menimbulkan rasa sakit dan jika memberi makanan, hingga
yang diberinya kenyang, dan dia adalah ahli ibadah yang
sebenarnya."

Al-Fudhail bin Iyadh paling benci melihat seseorang yang
menampakkan khusyu' lebih banyak daripada apa yang ada di dalam
hatinya.
Hudzaifah berkata, "Yang pertama kali hilang dari agama
kalian adalah khusyu' dan yang terakhir kali hilang dari agama kalian
adalah shalat.
Berapa banyak orang yang mendirikan shalat namun tidak
ada kebaikan di dalamnya. Begitu cepat mereka masuk masjid untuk
berjama'ah, namun engkau tidak melihat seorang pun diantara mereka yang
khusyu'."

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Khusyu' adalah
ketundukan jiwa dan kepatuhan tabiat kepada seseorang yang diagungkan
atau yang disegani."
Yang jelas, khusyu' merupakan pengertian yang sejalan
dengan pengagungan, cinta, kepatuhan dan ketundukan.

Menurutnya, ada tiga
derajat khusyu':
1. Tunduk kepada perintah, pasrah kepada hukum dan
merendah kare-na
melihat kebenaran.
Tunduk kepada perintah berarti menerima, melaksanakan
dan mengikuti
perintah, menyelaraskan zhahir dan batin, menampakkan
kelemahan,
memperlihatkan kebutuhan terhadap petunjuk pelaksanaan
perintah itu sebelum melaksanakannya, pertolongan saat
bisa juga diartikan pasrah kepada hukum takdir, dalam
pengertian ridha
terhadap takdir dan tidak marah karenanya. Makna yang
paling tepat
ialah hukum yang mengandung dua pengertian ini.
Merendah karena
melihat kebenaran, artinya hati dan anggota tubuh yang
merendahkan
diri karena melihat Allah, bahwa Allah melihat sekecil apa
pun yang
ada di dalam hati dan anggota tubuhnya. Ini merupakan
salah satu dari
dua penakwilan terhadap firman Allah,
"Dan, bagi orang yang takut akan saat menghadap
Rabbnya, ada dua surga."
(Ar-Rahman: 46).
"Dan, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran
Rabbnya dan
menahan diri dari keinginan hawa nafsunya." (An-Nazi'at:
40-41).
Ta'wil yang pertama ini merupakan pengetahuan tentang
hamba-Nya,
yang berkuasa atas dirinya. Ketakutan hamba terhadap
pengetahuan
Rabb-nya ini menimbulkan khusyu'-nya hati. Selagi
perasaan ini semakin
kuat, maka khusyu'-nya juga semakin kuat. Ta'wil yang
kedua ialah
saat hamba menghadap Rabb-nya, yaitu saat bersua
dengan-Nya.

2. Memperhatikan penghambat jiwa dan amal, melihat
kelebihan orang
lain atas dirimu, menghembuskan angin kefanaan.
Memperhatikan
penghambat jiwa dan amal artinya melihat kekurang-an
dan aib jiwa
serta amal, karena yang demikian ini bisa membuat
hati menjadi khusyu’, karena ia melihat kekurangan dan
aibnya, seperti
takabur, ujub, riya', tidak jujur, tidak yakin, niat yang
bercabang dan
aib-aib jiwa dan perusak amal lainnya.
Melihat kelebihan orang lain atas dirimu artinya
memperhatikan hakhak
orang lain atas dirimu lalu engkau harus memenuhinya dan
engkau
tidak melihat bahwa apa yang mereka lakukan merupakan
hak-mu
atas mereka dan engkau juga tidak menuntut kepada
mereka un-tuk
memenuhi hakmu, engkau mengakui kelebihan mereka dan
tidak
melupakan kelebihan dirimu sendiri.
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Orang yang arif
ialah yang
tidak melihat satu hak pun atas seseorang dan tidak
memperlihatkan
kelebihannya atas orang lain. Karena itu dia tidak boleh
mencela, tidak
menuntut dan tidak membanding-bandingkan."
Menghembuskan
angin kefanaan artinya menjadikan derajat ini seperti angin
sepoisepoi
menuju kefanaan, yang merupakan kesudahan hidup
manusia.
Disebut angin sepoi-sepoi karena kelembutan ruh yang
mengalir. Tidak
dapat diragukan bahwa khusyu’ 'merupakan sebab yang
menghantarkan
kepada kefanaan.

3. Menjaga kesucian saat mencapai tujuan, membersihkan
waktu dari
riya' di hadapan orang lain dan tidak melihat kemuliaan diri
sendiri.
Menjaga kesucian saat mencapai tujuan artinya tetap
menjaga jiwa
agar tunduk dan merendahkan diri saat mencapai tujuan.
Member
sihkan waktu dari riya' di hadapan orang lain artinya tidak
hanya
disibukkan oleh usahanya membersihkan waktu dari riya'.
Sebab orang
yang memiliki derajat ini lebih tinggi kedudukannya.
Dengan kata
lain, dia menyembunyikan keadaan dirinya di hadapan
orang lain,
seperti khusyu'-nya dan ketundukannya, agar orang lain
tidak
melihatnya lalu membuatnya merasa bangga.
Tidak melihat kelebihan diri sendiri kecuali kebaikan itu datang dari Allah.
Hanya Allah-lah
yang memberikan karunia tanpa ada sebab dari dirimu.
Tidak ada
pemberi syafaat yang memberinya syafaat dan tidak ada
yang menghantarkannya
kepada kebaikan kecuali Allah semata.
Jika ada yang bertanya, "Apa yang kalian katakan tentang
shalat yang
dilakukan seseorang tanpa khusyu’', apakah shalat itu
dianggap ada
ataukah tidak?"
Dapat dijawab sebagai berikut: Penilaian tentang shalat itu
diukur dari
pahala. Jelasnya tidak ada pahala yang diberikan kepada
pelakunva
kecuali menurut penghayatan, penelaahan dan khusyu'-nya
kepada
Allah.
Ibnu Abbas berkata, "Engkau tidak mendapat pahala dari
shalatmu
kecuali menurut apa yang engkau pahami dari bacaannya."
Di dalam Al-Musnad disebutkan secara marfu',
"Sesungguhnya hamba
itu benar-benar mendirikan shalat, dan tidak ditetapkan
pahala
baginya kecuali separohnya, atau sepertiganya, atau
seperempatnya,
hingga mencapai sepersepuluhnya."
Allah mengaitkan keberuntungan orang-orang yang shalat
dengan
khusyu'-nya shalat mereka. Ini menunjukkan bahwa orang
yang tidak
khusyu' tidak termasuk orang-orang yang beruntung. Jika
dengan shalat
itu ditetapkan pahala baginya, berarti dia termasuk orang-
orang yang
beruntung.
Kaitannya dengan hukum di dunia, jika khusyu'-nya itu
lebih ba-nyak,
maka shalatnya dianggap sah. Shalat-shalat sunat
sebelum dan sesudahnya
serta dzikir sesudahnya menyempurnakan kekurangannya.
################