Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

ADAB ISTERI TERHADAP SUAMI: DISKUSI

Kajian Online WA Hamba اللَّهِ SWT

Sabtu, 21 Juni 2104
Narasumber : Ustadzah Ainur

Rekapan Grup HA 3 & 4 (Dewi & Nunie)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Selamat pagi semoga Allah mencurahkan kasih sayangNya kepada kita semua. Pagi ini akan saya sampaikan materi mengenai "Adab istri terhadap suami".

Monggo, yang mau share pengalaman pribadi atau ada yang mau ditanyakan.


TANYA DAN JAWAB:



KONFLIK MERTUA DALAM RUMAH TANGGA



■ Ustadzahnya saya mau tanya, apa arti dari ungkapan istri milik suami dan suami milik ibu?

Jawab : 

Suami dibesarkan sepenuhnya oleh ibunya, memang tidak mudah sebagai istri menerima ungkapan ini. Ingatlah bahwa suami jadi pilihan kita insyaallah karena banyak kebaikan yg sudah diajarkan oleh ibundanya.



■ Tapi kalau ibunya dan keluarga besarnya selalu memberikan pengaruh buruk kepada suami bagaimana?

Jawab : 
Sebagai istri diibaratkan oleh rasulullah seandainya yang boleh disembah di dunia ini yaitu istri terhadap suami. Karena dengan ridho suami kita bisa menuju ridho Allah.
Istighfar mb, sabar insyaallah akan ada jalan.

■ Itu kasus yang dialami temen saya, hingga akhirnya dia membuka jilbabnya dan suaminya membiarkan begitu saja padahal suaminya paham agama. Setiap kali saya tanyakan selalu dia bilang "Stress aku mbak sama sikap suami yang lembek dan mertua yang suka memfitnah aku macam-macam". Di satu sisi saya hanya bisa istighfar tapi disisi lain saya kesal dengan kejadian itu karena temen saya sangat mengharapkan kebaikan dan keberkahan ketika menikah dengan yang sekarang menjadi suaminya, tapi Allah berkehendak lain ujiannya begitu menyiksa dia hingga akhirnya dia frustasi.

■ Saya punya tips nih ibu-ibu, saya ini orang Medan, suami orang Solo. Tadinya pernikahan tidak disetujui oleh keluarga Solo, karena takut sama orang Medan/seberang yang umumnya berkarakter galak. Akhirnya suami memaksa keluarganya dan berusaha meyakinkan saya tidak seperti itu. Sejak menikah mertua tinggal bersama saya, dan saya berlaku baik padanya, dan juga adik-adik ipar. Kebetulan suami penopang ekonomi keluarga karena sejak kecil ayahnya sudah meninggal. Saya menyadari kondisi itu, adiknya kita kuliahkan, ponakan kita sekolahkan, dan saya tidak pernah iri kalau suami beri bantuan kepada keluarga besarnya. Hasilnya? Keluarga besarnya sangat menghargai saya. Malah kalau untuk kebutuhan keluarga besar suami memberinya melalui saya, jadi tidak ada yang tersembunyi. Jadi keluarga besarpun tidak su'uzon terhadap saya. Dan kami adalah tempat mereka konsultasi jika menghadapi masalah. Sayangilah ibunya suami, insyaaalah suami akan semakin sayang pada kita.

■ Bunda, teman saya itu juga sama seperti bunda, apapun yang ibu mertua suami butuhkan selalu dipenuhi, adiknya mau sekolah kurang dana dikasih, pokoknya apapun kebutuhan ibu mertua serta adik-adiknya selalu dicukupi. Apalagi dengan penghasilan sang isteri yang lebih besar daripada suaminya, tapi kenyataannya ibu mertua dan keluarga suaminya tetap saja memperlakukan dia dengan tidak baik, bahkan ibu mertuanya pernah bilang sama saya "Nyesel saya mbak punya menantu kayak dia, kalau boleh diceraikan saja dia dari anak saya" Masya Allah, sampai segitunya.

■ Memang kita tidak akan pernah tahu cobaan apa yang akan diberikan oleh Allah kepada makhluknya.
Tips yang bunda sudah pernah dilakukan tapi nihil:
"Dekat tercium bau busuk. Jauh tercium bau wangi"

■ Bunda saya mau nanya, klo istri disuruh sama suami juga disuruh sama ibunya, mana yang harus didahulukan?
Jadi disuruh sama ibu mertua
Jawab: 
Tentunya dilihat dulu konteksnya, apakah yang disuruh istri lebih urgent tidak bisa ditunda? Atau tingkat ke-urgent-an sama dengan kata lain tingkat ketidak-urgent-nannya juga sama, maka suami mendahulukan permintaan ibunya. Bukan mendahulukan permintaan istri.

Tanggapan anggota lain: 
Maaf bunda, pertanyaannya itu bukannya ketika sang istri mendapat perintah dari suami dan ibu mertuanya ya? terus manakah yang harus didahulukan?

Sejak menikah ibu mertua saya tinggal bersama saya, tapi alhamdulillah selama hidup bersama beliau 20 tahun, hanya masalah-masalah kecil biasa yang terjadi.
Ya memang kehidupan itu berbeda-beda tidak semuanya sama. Ujian setiap rumah tangga berbeda-beda, karakter mertua juga beda-beda, jadi cara menyelesaikan masalah juga beda-beda.
Ya betul..betul sekali, memang hanya Allah yang bisa memberikan jalan keluar, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a.
Ya mungkin mertuanya bunda karakternya baik, tapikan diluar sana banyak mertua yang berkarakter kurang baik.
Ada suami dan mertua baik, masalah dari tetangga/anak dll. Semua pasti mendapatkan ujiannya masing-masing, sabar saja dan selalu bertawakal.
Ada mertua yang apa-apa selalu iri, menantunya pake ini, dia pengen juga. Hanya bisa beristighfar saja.
Iya bunda, ada juga mertua yang peliiit banget, ada juga yang sukanya ngomongin kejelekan kita, ada juga yang terlalu mengatur rumah tangga kita, dan lain-lain.
Ada juga mertua yang ucapannya sangat menyakitkan, ada yang berpura-pura baik didepan anak laki-lakinya, tapi ketika tidak ada menzholimi mantunya.
Banyak sekali sifat-sifat ibu mertua, tinggal bagaimana kita sebagai menantunya bisa mengambil hatinya.

■ Itu dari awal saya yang galak. Sejak baru nikah belum ada masalah saya buat perjanjian. Saya bilang; "Ibu saya ini gak suka di atur-atur orangnya kalau saya pulang kerja, saya capek saya tidak harus kerjakan ini dan itu, pokoknya sesempatnya saya saja. Ibu juga di rumah ini sesuka hati ibu saja mau dikerjai silahkan, tidak juga silahkan". 
Yang ke-2, kalau suatu saat saya ada masalah sama suami; "ibu jadi penonton saja tidak usah bela suami dan tidak usah salahkan saya, biar kami yg menyelesaikan masalah kami". 
Itulah kata-kata yang saya ucapkan pada beliau malam pertama kami serumah. Jadi dia tau apa maunya saya. Maklum orang Medan itu assertif, dia ungkapkan aja apa yang dia maui. Padahal itu tabu sekali diucapkan oleh orang Jawa Solo.

Saya ngobrol nih sama suami tentang obrolan kita .....jawaban beliau, kuncinya sayangi ibu mertua insyaAllah suami akan semakin sayang pada kita.

■ Mertua juga sering diajak ikut kajian agar pemahaman agamanya baik juga. Karena orang yang agamanya baik dia akan takut menzalimi orang lain. Mertua saya suruh ikut kajian di mesjid 3x seminggu dan 2x seminggu ikut qiraati. Juga ikut ODOJ (tapi dirumah berkomitmen), bukan ODOJ-nya nasional, sehingga waktunya habis untuk hal yang positif.

■ Suami juga jangan egois, jangan cuma maunya ibunya saja yang disayang sama isteri, tapi ibunya juga harus sayang sama mantunya, harus seimbang.

■ Iya bedanya dengan orang medan tidak bisa menyimpan perasaan, kalau tidak suka langsung diungkapkan, jadi tidak ada yang tersimpan di hati.
Tapi berani tidak begitu? Karena culture saya begitu saya berani saja.
Coba deh....kasih perhatian dikit sama mertua...kira-kira sekarang dia lagi pengen apa? Coba belikan. Resep ini sudah pernah saya berikan pada teman yang juga konflik sama mertuanya. Kalau datang berkunjung ke rumahnya bawa oleh-oleh, dan kalau menginap di rumahnya kita yang belanja. Insyaallah apa yang diinginkan mertua itu tidak banyak.

■ Sudah bunda, tapi kalau anak dan mantunya lagi ada masalah, mertua tidak peduli dan tidak mau tahu....tapi kalau mertua ada masalah selalu ngerongrong ke anak dan mantunya ya. Kembali lagi ke karakter masing-masing mertua saja, ada yang baik banget, baik, kurang baik, tidak baik. Yang penting tetap menjalin silaturahmi dengan baik antar menantu-mertua.

■ Semua ujian untuk membuat kita para mantu lebih bersabar dan mengenal karakter mertua masing-masing. 

■ Tapi kalau sudah sakit hati lebih memilih untuk menjauhhhh. Karena saya tipikal orang yang trauma, jadi kalo sudah disakiti lebih baik menghindar daripada harus teringat-ingat dengan perbuatannya dan kalaupun menjalin silaturahmi sudah tidak bisa seperti awal dimana sebelum ada gesekan-gesekan. Ya karena mantu juga manusia, punya rasa punya hati.

■ Kalau orangtua/mertua kita ridho terhadap kita, insyaallah Allah mudahkan jalan hidup kita, kalau kebetulan dapat mertua yang kurang baik, baiki terus, kasih terus, lama-lama dia akan baik pada kita. Itu berarti kita mempunyai namamya "mental block" yang ada dalam diri kita, yang harus kita hilangkan. Karena kalau tidak kita hilangkan dia dapat menjadi penyakit bagi kita baik penyskit fisik, maupun psychosomatis.

■ Itu saya juga akhirnya kena psicosomatis, diare 1 tahun tidak bisa diobati malah dicurigai HIV, alhamdulillah bukan, tapi sekarang sudah membaik juga.

■ Saya pernah berbincang dengan ibu mertua, katanya kalau yang punya anak lelaki, hati ibunya sangat sedih sekali pada saat anaknya menikah dengan orang lain. Karena khawatir anaknya tidak memperhatikannya lagi. Padahal dia sudah bercucuran keringat menyekolahkan anaknya tanpa suami, dan selalu bersama anaknya. Mungkin ibu-ibu yang punya anak laki-laki akan mengalami hal yang sama juga pada saat anak laki-lakinya menikah nanti. Jadi sebagai kompensasinya kita harus menghilangkan kekhawatirannya itu dengan memperhatikannya... terlalu teoritis? Tidak juga....bisa dicoba....

■  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ mertua saya baik. Malah saya adalah penghubung komunikasi antara suami dengan mertua, karena dua-duanya darah tinggi, kalau sudah salah paham pusiiiing...ngomel-ngomel. Jadi saya yang menjadi penengahnya, dan anak-anak sebagai peredam suasana panas. Karena mertua sangat sayang sama anak-anak.
Masalah yang timbul malah dari kakak ibu mertua, yang takut tersaingi masalah hal duniawi. Jadi sedikit-sedikit dibikin masalah, karena saya tipikal seperti bunda, jadi kalau tidak suka ya bilang, kalau salah ya salah. Padahal saya orang sunda.
Kalau saya menyikapi masalah dengan mertua, jika tidak sepaham, kalau sudah dengan keukeuhnya, biarlah, itu semua ujian, karena kita juga akan mengalami menjadi mertua, mungkin pemahamannya tidak samapai ke pemahaman kita.
Bunda, padahal jika ditelusuri juga, anak perempuan juga disekolahkan dengan keringat orang tuanya, terus dia menikah dengan seorang laki-laki yang mana tanggungjawabnya berpindah, dalam arti istri adalah milik suami, lepas dari orang tuanya. Harusnya mertua sang perempuan bertanggung jawab untuk lebih menyayangi seperti ke anak laki-lakinya karena anak laki-lakinya sudah menikahi anak perempuannya, yang sama-sama perjuangannya dalam membesarkan anaknya, misal dari segi pendidikan. Apalagi si suami tidak mengizinkan istrinya bekerja di luar rumah, harus mengurus anak, suami dan Rumah Tangga-nya.

■ Tapi faktanya begitu. Saya diskusi juga ke ibu-ibu yang lain. Katanya kalau punya anak perempuan senang kalau anaknya nikah apalagi dengan laki-laki yang mapan dan soleh, tapi kalau punya anak laki-laki biasanya sangat dekat dengan ibunya, spalagi anak laki-laki ini adalah penopang ekonomi keluarga, jadi ibunya sedih banget saat anaknya nikah. Takut anaknya tdk ingat lagi pada keluarga besarnya.

■ Tanggapan Ustadzah :
Orangtua yang bagus agamanya, insya allah dapat mendampingi tanpa mencampuri urusan 2 rumah tangga, mereka juga tahu apa yang menjadi hak menantu atas mertua, serta batas kewajiban seorang menantu. Terkadang mertua tidak mudah memaklumi proses adaptasi dari menantu. Hak menantu atas mertua antara lain 'pembelaan' ketika menghadapi konflik.
Sejauh yang saya tahu islam menggariskan bahwa mertua merupakan pembela bagi menantu, kenyataan yang terjadi sering terbalik. Orangtua suami merupakan pembela sekaligus sumber rasa aman bagi istri bukan sebaliknya menjadi sumber ketegangan dan perasaan tertekan karena adanya tuntutan kepada menantu.
Ketegangan dan konflik rentan muncul karena tuntutan sikap yang harus bisa menyesuaikan keadaan rumah suami, entah dengan mertua atau saudara perempuannya.

Masalah ini riskan terutama terdapat 2 hal, yaitu:
Pertama, tidak terbentuk komunikasi yang baik bagi suami dan istri.
Kedua, orangtua yg memiliki prasangka yang kurang baik tentang itikad menantunya.
Semoga dengan tabayyun bisa menemukan jalan tengah yg baik. Memang prosesnya kadang menyakitkan, tapi ini proses kematangan kita diuji, supaya kita kembali kepada Allah. Hanya Allah...
Dibiasakan tabayyun dan berusaha mengerti kekurangan dari mertua karena usia yang semakin tua, tubuh sering sakit kadang kesepian sehingga banyak hal yang dilakukan untuk mencari perhatian anaknya. Walaupun lewat konflik yang mengorbankan psikis dari menantu.
Mengapa kita disuruh menghormatinya karena kondisi fisik yang semakin tua dan usahakan untuk meraih hatinya walaupun awalnya sakit sekali dan sering ditolak, terus berusaha berbuat baik. Insya Allah akan ada keberkahan untuk keluarga kita.

Tanggapan anggota :
Betul, yang fahamlah yang harus mengalah, untuk meraih keberkahan. Ya, kalo kata bude: yang waras yang mengalah.

■ Sebagai menantu kita dituntut untuk selalu baik dan menghargai mertua, apapun kebutuhan meraka kita cukupi, tapi sebaliknya suami tidak mau peduli dengan urusan orang tua kita, adik kita itu bagaimana? Apa seorang suami tidak punya kewajiban untuk membantu dan menghargai keluarga isteri?
Jawab:
Karena pahala yang besar tidak didapat dengan ego yang besar. Yang bisa mengalahkan ego insha Allah menang. Jaminan surga...semangat ya bunda.

■ Apa seorang suami tidak punya kewajiban untuk menghormati dan menghargai serta membantu orang tua isteri dan keluarga besar isteri?
Jawab:
Tentu bertanggung jawab sepenuhnya terutama orangtua istri.
Tidak hanya fisik dan materi saja, perhatian dan kasih sayang ke orangtua istri sebenarnya diseimbangkan.

■ Ohh begitu, karena ketika sudah menikah orang tua kita jadi ada 2 ya, jadi harus sama dalam hal menyayangi atau apapun itu?
Jawab: 
Iya betul bunda. Semoga semua menjadi lebih baik setelah kita semua sama-sama mengetahui porsinya.

■ Mertua saya tipikal yang selalu ikut campur urusan RT anaknya bahkan keluarga besarnya juga selalu ikut campur, saya super jengkel kalau sudah begitu. Bukan memperbaik malah jadi memperkeruh.
Jawab:
Ya, betul. Supaya istri bisa melayani dan bertanggung jawab kepada keluarga suami dengan baik, sama suami pun juga sama. Kalau mau kasih barang lebih baik di diatasnamakan menantu, supaya bisa lebih saling menyayangi dan merasa bahwa mertua adalah orangtua kita juga.
Makanya disarankan untuk menyampaikan dengan halus dialog dari hati ke hati pas suasana rumah lagi tenang atau pas pergi berdua.
Kelemahan kita memang tidak mempelajari ilmu rumah tangga sebelum menikah. Tidak ada pendidikan formalnya. Banyak orang sukses berhasil diprofesi-nya tapi kehidupan rumah tangganya berantakan dan orangtua kedua belah pihak tidak mendampingi malah tambah menambah masalah.
Sudah biasa mb, percaya dan yakin bahwa kebenaran akan terbuka, harapan selalu ada.
Jangan pernah merasa sendiri karena kita memang di'pepet' supaya nempel keyakinan kepada Allah. Sangat bergantung kepada Allah pasti akan kasih jalan.
InsyaaAllah lulus di dunianya, kalau tidak sanggup ya taruh dulu. Kasih ke Allah pasrah dan yakin. Kalau sudah siap-siapkan kekuatan untuk berusaha dan berusaha lagi, supaya sempurna kelulusannya.

 Tanggapan anggota
Laki-laki itu bertanggung jawab terhadap orangtua dan adik perempuannya. Kalau mereka tidak mampu maka suamilah yang ambil alih. Makanya laki-laki mendapat waris 2x perempuan karena selain tanggung jawab kepada anak istri juga kepada orangtua dan adik perempuan. Kalau orangtua perempuan siapa yang bertanggung jawab? Saudara laki-laki kita. Andai kita bekerja dan kita dapat berbuat baik kepada orangtua kita dan adik serta kakak kita yang kurang mampu. Tapi mereka ini bukanlah tanggung jawab suami kita.
Jadi jangan bersedih kalau suami tidak mau bantu keluarga kita, karena itu bukanlah tanggung jawabnya. Tapi kalau suami berbuat baik dalam artian menafkahi ibu dan adik atau kakak kita, artinya suami sudah berbuat ihsan.

■ Oohhh, pantesan, bapakku mau ngurusin ibunya ibuku, di kala ibuku harus keluar rumah untuk urusan yang lain.

■ Saya menjadi salah satu menantu yang tertekan bathinnya juga pada saat berkumpul bareng ibu mertua. Serba salah. Malah ibu mertua suka mendoktrin anak saya dengan omongan mnjelek-jelekan saya didepan anak ustadzah bahkan beliau sanggup mendoktrin anak saya kalau saya tidak pernah mengurus anak-anak saya. Saya pernah menampar mulut anak saya karena anak saya bilang: mamah tidak pernah mengurus aku. Saya tampar mulutnya saya bentak dan saya tanya siapakah yang bilang begitu ke km?! Anak saya bilang: mbah putri. Terus disaat saya sudah normal kembali "rasa hati" (sedih/nangis/kecewa/marah/jengkel dlstnya). Saya berikan pengertian ke anak saya. Saya bilang, dari usia hamil 4 bulan, sampai dia berumur 5 1/2 tahun (TK kecil) saya yang mengurus dia. Kalau pun anak harus dititip ke mbah putri, bukan kemauan saya tapi ayahnya (karena tahun 2001 bapak saya meninggal terus suami membawa anak saya ke rumah orang tuanya. Dan sekolah madrasah klas 1 sedangkan saya lebih memilih tinggal dirumah mendiang bapak saya dan ketemu anak saya Sabtu/Minggu dikarenakan saya tidak bisa pernah dekat dengan ibu mertua yang terlalu tajam lidah nya" (اَشْتَغفِرُأللّهَ الغَظِيمِ ).

■ Terus kalau orang tua pihak perempuan menjadi tanggung jawab anak laki-laki dari saudara perempuan tersebut. Ya kalo adik-adiknya sudah pada kerja, kalau masih pada kecil-kecil, terus orangtua perempuan kekurangan, apa suami juga harus tetap menutup mata dan tidak peduli karena itu bukan tanggung jawabnya? Sadis banget ya kalau begitu? sementara anak perempuan setelah menikah hanya jadi ibu RT saja.
Berarti suaminya tidak punya hati bunda.
Jawab:
Bunda tidak semua keluarga memiliki anak laki-laki.
Yang wajib dari nafkah seorang suami adalah ibunya dan istrinya, tetapi jika mampu menolong jadi tanggung jawab suami.

■ Tanggapan anggota: 
Subhanalloh..
Bagi bunda yang sering dilanda masalah semoga Allah memberikan pahala atas kesabaran bunda. Dan bagi yang RTnya tentrem adem ayem plus mertua yang 'baik hati tidak sombong gemar menabung dan suka menolong' (itu bahasanya anak ABG)
semoga Allah juga memberikan pahala atas kesyukuran bunda. Alhamdulillah saya punya suami yg baik, sholeh plus sepaket sama mertua yang baik juga.

Artinya kalau keluarga dari pihak istri kekurangan, kita sebagai istri yang tidak bekerja tidak bisa memaksa suami artinya kita boleh membicarakan hal ini ke suami agar dia mau membantu. Kalau suami dalam kondisi mampu tentunya hal ini tidak menjadi masalah, tapi kalau kondisi suami paspasan juga kita tidak bisa memaksanya. Inilah nanti yang akan menimbulkan konflik dalam Rumah Tangga. Tapi andai dalam kondisi pas-pasan kita himbau suami untuk membantu keluarga kita dan dia mau alhamdulillah. Masalahnya...kan kalau dia tidak mau...kita harus memahami ini. Bagi yang tidak punya anak laki-laki, punya anak perempuan, lihat kondisi orangtua tidak mampu....pastilah anak perempuan kalau punya dia akan membantu orangtuanya, tapi jangan paksa suaminya....
Saya bersaudara 8 orang, 5 perempuan dan 3 laki-laki. Kebetulan semuanya bekerja. Sekarang orang tua sudah pensiun yang pensiunnya cuma mendapatkan 1,5 juta sebulan. Kita sepakat setiap orang share minimal 500.000 perbulan, tapi karena anak perempuan selain dari gajinya sendiri, dia juga dapat nafkah dari suami, maka anak perempuannya rata-rata kasih 1 juta, anak laki-laki cuma 500.000. Karena laki-laki uangnya bukan untuk dirinya sendiri tapi dia wajib menafkahi anak dan istri. Tapi istri yang bekerja uangnya untuk dia sendiri, andai dia membantu nafkah dalam rumah tangganya itu adalah sedekah baginya, tapi bukan kewajibannya.


KOMUNIKASI SUAMI ISTERI

■ Ummi Afwan, bagaimanakah seorang harus bilang kepada suami, bahwa yang ia lakukan selama ini salah? contohnya masih suka berkumpul dengan anak muda, jarang kumpul dengan keluarga, tidak membiasakan diri untuk berpamitan kalau keluar rumah? kadang perasaan istri tidak kuat ...
Jawab :
Permasalahan suami terhadap istri seringnya hambatannya pada komunikasi. Ada saatnya suami bisa mendengar apa yang menjadi ganjalan. Sebaiknya pada saat sama-sama, bicara berdua dengan tenang dan mengkomunikasikannya dengan baik.


■ Bolehkan isteri menasehati suami terkait ibadah? Apa yang harus di lakukan istri jika suaminya belum bisa menjadi pemimpin dan belum bisa membimbing istrinya menjadi lebih baik...? Bagaimana ustazah agar kita tetap istiqomah, tetap bisa mengingatkan, menasehati dan tidak terikut kebiasaan atau sikap suami jika suami malas-malasan dalam beribadah...?
Jawab:
Sudah seharusnya seorang istri menasehati dan mengajak suami untuk memperbaiki ibadah sehari-hari mendoakan terus, karena hidayah datangnya dari Allah. Seterusnya kasih contoh yang baik terus menerus. Ibadahnya lebih ditingkatkan, segala kebaikan pasti ada jalannya.

 Saya juga mengalami masalah serupa, suami saya sulit sekali diajak untuk beribadah, sampai dibangunkan malah tidur lagi?
Jawab:
Kalau suami ada yang bisa menasehati seperti keluarga dekat atau murobbi nya bisa minta bantuan untuk menasehati.
Terima kasih bunda tolong bantu doa ya bun supaya saya bisa lebih istiqomah dan bisa lebih baik lagi karena memang saya masih banyak kekurangan. Mohon bimbingan dari bunda-bunda.

SUAMI YANG SAYANG TERHADAP ORANG TUANYA, ADIKNYA SEPERTI KE ALMARHUM IBUNYA

 Assalamu'alaikum ustadzah, bagimana sikap suami terhadap adiknya, yang ana lihat afwan suami ana seolah-olah menganggap adiknya ibarat ibunya karena mertua perempuan sudah lama meninggal, mohon penjelasannya jazakillah atas waktunya? 
Adiknya sudah terlebih dahulu menikah ustadzah, sebelum menikah dengan ana hasil kerja suami suka dikasih sama adiknya, mohon solusi menurut hukum islam, bagimana ana harus bersikap? Suami suka membandingkan ana dengan adik perempuannya, sampai-sampai afwan si adik perempuan tersebut sudah di anggap orang tua (pengganti ibu) oleh suami ana, pada awal pernikahan ana tidak terbebani tapi lama kelamaan apa-apa yang akan suami lakukan bukan musyawarah dengan istrinya tapi dengan adiknya tersebut, bagimana solusinya ustadzah?
Kalau awal menikah belum berani tapi baru kemarin ana ungkapkan unek-unek ana, beliau hanya bilang "kan kalau ayah mninggal ibu dan anak-anak akan ayah titipkan sama beliau (adik ipar)". Padahal rizki, maut sudah diatur Allah dan bukan manusia yang atur.
Jawab:

Yang sabar ya bun, sebaiknya rumah tangga berjalan sendiri-sendiri. Kalau sekedar memberi tidak masalah, itupun sepengetahuan istri.

Jazakillah ana akan trus bersabar dan berdo'a sampai Allah memberikan hidayahnya aamiin.

 Bagaimana dengan aplikasi konsep taat pada suami itu jika kita berbeda pendapat dengan suami tentang suatu hal...
Apakah kita harus ikuti seluruh pendapatnya ..sedangkan kita merasa pendapat kita lebih baik
Apakah kalo kita sedikit 'memaksakan' pendapat kita dengan argumen-argumen yang masuk akal...itu terguling tidak taat?

 Ustazah...bagaimana sikap saya karena suami saya lebih perhatiannya kepada keluarganya terutama orangtuanya daripada orangtua saya...mohon bimbingannya

Jawab:
Sikap lapang dan toleransi serta meminta maaf dari istri atas hal yang ia perbuat merupakan obat manjur yang bisa menjamin kebahagiaan hidup, kemuliaan dan keharmonisan keluarga
Dengan sikap diatas dan sedikit mengalah ketimbang mengedepankan emosi bahwa suami meski dengan sikap yang dimiliki dan perasaan yang demikian ia akan berubah.
Rasulullah bersabda:
"Tidak halal bagi istri memasukkan seseorang kerumahnya sedang suaminya tidak menyukai nya, mentaati orang lain selain suami, membuat dada suami sesak, meninggalkan ranjang suami dan memukulnya meski suami lebih zalim darinya. Sehingga dengan itu ia memperoleh ridho suami, jika ia ridho kepada istri dan menerima segala perilakunya makanya itulah hal terbaik dan Allah akan menerima uzurnya istri bahkan hujjahnya di hadapan Allah semakin kuat, dan ia tidak berdosa. Namun apabila suami belum juga ridho atau menolak berarti ia telah memiliki uzur yang kuat untuk membela diri"
Hadist riwayat Al Hakim, At tabrani

 Mungkin pola asuh yang berbeda ustadzah "kalo ana dari kecil sudah mandiri dalam artian usia 4 tahun orang tua dan pisah (cerai) ana di asuh nenek dari bapak, sejak SD bekerja untuk uang jajan dan SPP ana jualan snack dan keredung ,kalo suami ana kluarga harmonis lengkap ayah ibu cuman pas ibunya meninggal beliau kayak "kehilangan gairah hidup" begitu yang dia ungkapkan ke ana.

BIDADARI DAN BIDADARA

 Dalam Al Qur'an seringkali disebutkan bidadari-bidadari jelita yang tidak pernah tersentuh dan dengan berbagai ciri lainnya...
Karena saya belum paham bahasa Arab...apakah yang dimaksudkan bidadari-bidadari ini adalah perempuan syurga yang akan dihadiahkan kepada lelaki sholeh semasa di dunia? (Kecuali kalau semasa di dunia sang lelaki telah menjalin akad dengan perempuan shalihah yang kemuliaannya melebihi bidadari syurga).
Adakah penghuni syurga yang akan dihadiahkan untuk perempuan-perempuan shalihah yang semasa di dunia tidak mendapatkan jodoh terbaiknya (baik yang sudah menikah ataupun yang meninggal dunia sebelum menikah). 
Jadi maksudnya apakah selain bidadari ada bidadara? Bingung membahasakan bidadara dengan bahasa lain...
Yang belum mendapatkan jodoh sampat meninggal dunia apakah akan dipertemukan dengan jodohnya (bidadari-bidadara) syurga itu mbak? Begitupun dengan perempuan dunia yang insyaa Allah beriman?
Ada penjelasannya kah mbak? Soalnya ndak pernah menemukan penjelasan mengenai bidadara...
Jawab:
Menurut keterangan ustad Arifin Ilham jodoh ada 2, jodoh di dunia dan jodoh di akhirat, jodoh di dunia adalah suami atau istri kita di dunia sampai meninggal, jodoh di akhirat adalah bidadari atau bbidadara yg Allah sdh tentukan, suami atau istri yg sholeh dan sholehah juga akan mid jodohnya di akhirat, makanya mencari jodoh yg sholeh atau sholehah adalah penting, beberapa hal yg harus dilakukan untuk mendapat jodoh yg sholeh adalah: berazam kuat, mensholehkan  diri, tidak berputus asa, tawakal dan bertaqwa.
Beberapa ada yang disandingkan dengan jodohnya di dunia tapi dia akhirat dipertemukan.

 Ataukah kalau Allah memang sayang pada seorang hamba...maka akan selalu diberi kesempatan olehNya untuk menggenapkan separuh agamanya terlebih dahulu di dunia?
Mengingat "separuh" itu adalah angka yang sangat besar

 Atau tidak ada hubungan berarti mengenai kedudukan seorang hamba di hadapan Allah ketika meninggal dalam keadaan sudah menikah dan meninggal dalam keadaan belum menikah? Karena yakin Allah Maha Adil.
Maka aku penasaran, adakah penjabaran keadilan Allah untuk hal ini mbak? Aku yakin hanya akunya yang belum tahu. Karena di sisi lain disebutkan dalam al hadits bahwa salah satu kehinaan bagi manusia (begitu bukan yah bahasanya?) adalah meninggal dalam keadaan lajang.
Jawab: 
Quran Surah Al Baqarah ayat 25 menyebutkan:


وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS: Al-Baqarah Ayat: 25).

Doa Kafaratul Majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Semoga Bermanfaat

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه