Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

RAMADHAN

Kajian Online WA Hamba اللَّهِ SWT
Jum'at 6 Juni 2014
Narasumber: Ustadz Dodo Sunaly
Notulen: Ibu Elviawati



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu shawm (berpuasa) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Al Baqarah/2 : 183).
Tiap kita merasakan bahwa waktu sangat cepat berlalu…baru kemarin kita merasa hari ahad, ehh...sekarang sudah hari rabu lagi, baru kemarin kita mulai puasa, kok ini sudah mau puasa lagi…
Coba saja…terutama bagi yang mengisi sepanjang tahun ini dengan ibadah, In sya' Allah waktu tidak akan terasa, malah kita akan merasa belum melakukan apa-apa kok ramadhan sudah datang lagi..
Kenapa kita merasa waktu itu sangat singkat? karena memang waktu di dunia itu sangat singkat. Allahu Ta'ala memberitahukan kita,
"Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal MELAINKAN SEBENTAR SAJA kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Al Mu'minuun/24 : 112-114).
Dalam bahasa jawa misalnya, orangtua kita sering menyampaikan jika waktu di dunia ini hanyalah mampir ngombe…. Numpang minum! Minumnya juga mungkin hanya seteguk dua teguk saja, sehingga bisa dibayangkan betapa sebentarnya waktu hidup kita di dunia ini.
Coba perhatikan sekali lagi ayat di atas ! Hampir semua kita hafal di luar kepala. Ayat ini sangat popular ketika menjelang dan selama sebulan kita puasa. Mari sekarang kita renungkan artinya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman”

Ayat ini dimulai dengan Lafazh An Nida' (seruan) "wahai orang-orang yang beriman" sebuah panggilan khusus yang ditujukan kepada hamba-Nya yang begitu dikasihi-Nya guna menarik perhatian mereka, bahwa akan ada hal penting yang akan dikabarkan.
Sama dengan kita yang juga akan memanggil nama lawan bicara kita untuk mencari perhatian agar yang bersangkutam benar-benar memperhatikan isi pembicaraan kita.
Menariknya kata "yaa" yang artinya hai itu sama dengan kata "ayyuha". Jadi ada dua kali kata seruan, tentu dengan maksud tidak lain agar yang diajak bicara memperhatikan apa yang tengah dibicarakan secara seksama.
Jadi khithab (sasaran) ini tertuju kepada siapa saja hamba yang telah tertanam iman di hatinya, bukan iman yang cuma tertulis di buku, di tembok dan di dinding.
Ibnu Mas’ud ra merumuskan sebuah kaidah dalam memahami ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’, “Jika kalian mendengar atau membaca ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘hai orang-orang yang beriman‘, maka perhatikanlah dengan seksama; karena setelah seruan itu tidak lain adalah sebuah kebaikan yang Allah perintahkan, atau sebuah keburukan yang Allah larang.”
 
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ


🍀Grup HA 7 Bunda🍀
💐🌷 Jum'at, 04 Juli 2014

👸Nara sumber :ustad Dodo
🙇 Admin : Pristia Wardanni
👮PJH Absen : Ika Yunita
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Rekapan kajian bersama ustad Dodo :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.

Salah satu kenapa Ramadhan begitu dinanti adalah karena dalam bulan Ramadhan begitu lebar pintu ampunan Allahu Ta’ala dibuka.
 Banyak aktifitas ibadah kita selama berlangsungnya festival Ramadhan yang berujung pada dihapuskannya dosa serta kesalahan kita. Paling tidak ada dua kemungkinan kenapa di bulan Ramadhan Allahu Ta’ala “mengobral” ampunan
Umur ummat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang jauh lebih pendek dari ummat-ummat nabi lainnya, Sehingga kesempatan memohon ampun jauh lebih sempit.
Bulan Ramadhan adalah bulan sabar. Selama sebulan penuh kita ditempa dan dilatih kesabaran. Sedangkan pahala bagi yang bersabar itu dicukupkan tanpa batas.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (az-Zumar/39 : 10)
Ampunan Allahu Ta’ala menurut pakar tafsir Al Ashfahani adalah anugerah Allahu Ta’ala yang tiada tara kepada ummat manusia.
Kenapa?
Karena tanpa ampunan-Nya setiap orang pasti akan merasakan siksa dan adzab-Nya. Karena tiap manusia, siapapun dia, tidak akan pernah lepas dari dosa dan kesalahan.
Tidak heran berkali-kali Allahu Ta’ala menyeru kita semua untuk senantiasa menggapai maghfirah Allahu Ta’ala bahkan diminta bergegas dan berlomba.
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun". (Nuh [71]:10)
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa' [4]: 110)
“Katakanlah, wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa terhadap rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh Dialah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Az Zumar [35] : 53).
“Bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman” (Ali ‘Imran/3 : 133).
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu” (Al Hadid/57 : 21)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pribadi yang maksum tetap saja beliau banyak beristighfar, “Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali” (Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah).
Para sahabat juga banyak diceritakan Al Qur’an mereka beristighfar ketika malam hari di waktu banyak orang teridur lelap.
“…dan yang memohon ampun di waktu sahur” (Ali ‘Imran/3 : 13).
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar” (Adz Dzariyat/51 : 17-18).
Lantas di manakah diri kita dalam Ramadhan kali ini? Sudahkah kita bergegas menggapai ampunan Allahu Ta’ala? Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mewanti-wanti kita :
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
"Celaka seorang yang didatangi oleh Ramadhan (lalu Ramadhan berlalu), namun (dia) tidak mendapatkan ampunan”
(Ibnu Khuzaimah, Ahmad, Baihaqiy dan dishahihkan oleh Albaniy).
Wallahu a’lam !


"Telah diwajibkan ke atas kamu shawm (berpuasa)"
Lihatlah ! Bentuk perintah puasa dalam ayat di atas merupakan bentuk perintah tidak langsung dengan redaksi yang pasif: ‘telah diwajibkan atas kalian berpuasa‘. Berbeda dengan perintah ibadah yang lainnya yang menggunakan perintah langsung, misalnya shalat dan zakat: ‘Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat‘. Demikian juga haji: ‘Dan sempurnakanlah haji dan umrah kalian karena Allah‘. Kenapa demikian? Tidak lain karena harapannya orang yang berpuasa itu berangkat karena kesadaran diri sendiri, atau karena panggilan jiwa. Redaksi demikian ini memang untuk menguji sensitifitas orang-orang yang beriman bahwa bentuk perintah apapun dan dengan redaksi bagaimanapun pada prinsipnya merupakan sebuah perintah yang harus dijalankan dengan penuh rasa ‘iman‘ tanpa ada bantahan sedikitpun, kecuali pada tataran teknis aplikasinya.
Selain itu, motivasi utama dalam menjalankan perintah beribadah dari Allah sesungguhnya adalah atas dasar iman -lihat yang kalimat ‘Hai orang-orang yang beriman‘– bukan karena besar dan banyaknya pahala yang disediakan. Sebab, pahala itu rahasia dan hak prerogatif Allah yang tentunya sesuai dengan tingkat kesukaran dan kepayahan ibadah tersebut sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda, “Pahala itu ditentukan oleh tingkat kesukaran dan kepayahan seseorang menjalankan ibadah.”
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
"Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu"
Puasa adalah ibadah paling purba yang dikenal manusia. Dan hampir tiap bangsa di dunia mengenal puasa, cuma motif dan caranya saja yang berbeda. Seperti puasa yang dilakukan oleh bangsa Mesir Kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno, Zoroaster, Majusi, Yahudi, Nasrani, Cina Kuno, Jepang Kuno, Buddha, Hindu, Manu, Konghucu, dan lainnya. Bahkan, nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Sallallahu 'alayhi wasallam juga sudah melaksanakan puasa.
Bangsa Phoenix di Mesir berpuasa untuk menghormati Dewi Isis. Bangsa Romawi kuno berpuasa selama setahun penuh dalam setiap lima tahun untuk menghormati Dewa Osiris, yakni dewa pelindung kematian sekaligus suami Dewi Isis. Bangsa Yunani mempelajari kelebihan puasa dari bangsa Mesir kuno.
Puasa, dalam kamus militer Yunani kuno, dianggap sebagai persiapan awal menghadapi peperangan. Bangsa Romawi pun meniru ritual puasa dari bangsa Yunani. Mereka percaya, puasa bisa menjadi benteng diri karena mengandung dua dimensi kekuatan, baik secara fisik maupun metafisik (ketahanan dan kesabaran). Sedangkan, dalam ajaran Cina kuno, puasa termasuk salah satu ajaran dalam rangka menyucikan diri.
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertaqwa”


Target utama shawm ramadhan adalah meningkatkan level dari beriman menjadi bertaqwa. Kenapa bertaqwa? Hampir tiap ibadah dalam Islam berujung pada ketaqwaan. Tiap kita membaca mushhaf Al Qur'an diawali kalimat pembuka, itulah kitab yang menjadi petunjuk orang yang bertaqwa (Al Baqarah/2 : 2). Tiap kali shalat Jum'at khatib akan selalu berwasiat agar hadirin bertaqwa.
Berarti taqwa itu perlu. Bukankah seorang suami butuh isteri yang bertaqwa, sementara isteri juga butuh suami yang bertaqwa. Pemimpin butuh rakyat yang bertaqwa, rakyat juga butuh pemimpin yang bertaqwa. Pedagang butuh pembeli yang bertaqwa, pembeli juga butuh pedagang yang bertaqwa dan begitu seterusnya.
Sudah berapa tahun kita berpuasa? Apakah sudah target tersebut kita capai?
Wallahu A'lam !
Silakan dibaca, direnungi...
Yang ingin berkomentar, menambahkan atau bertanya silakan diposting.
Saatnya nanti, in sya' Allah saya akan menjawabnya setelah saya pulang dari shalat Jum'at, sekitar jam 14.00.
Terimakasih !

Tanya Jawab

Tanya: Apa arti taqwa? Apakah taqwa itu sudah cukup terpenuhi dengan menjalankan kewajiban shalat lima waktu?

Jawab: Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Maksudnya memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk Allahu Ta'ala.
Umumnya orang membuat ta'rif taqwa adalah,
1- Melaksanakan segala perintah Allahu Ta'ala,
2- Menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allahu Ta'ala,
3- Ridho menerima dan ikhlas dengan hukum-hukum dan ketentuan Allahu Ta'ala.

Shalat lima waktu itu cuma satu dari sekian banyak ciri manusia bertaqwa. Coba perhatikan ayat berikut,
(1) الم
(2) ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
(3) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
(4) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
(5) أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
1. Alif Lām Mīm.
2. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan pa-danya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu (d), serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Wallahu a'lam !

Tanya: Bagaimana cara agar pahala kita tidak sia-sia apakah berkurang atau habis sama sekali selama kita berpuasa?

Jawab: Sederhananya kita harus menghindarilah perbuatan yang dapat menyebabkan hapusnya pahala puasa seperti,
Pertama, al-kadzbu yaitu berdusta atau bohong.
Kedua, al-ghibah yaitu membicarakan orang lain,
Ketiga, an-namimah yaitu mengadu domba,
Keempat berumpah palsu,
Kelima melihat aurat lain jenis dengan syahwat.
Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda, "Berapa banyak diantara manusia yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan hasil dari puasanya kecuali lapar dan haus saja” (Bukhari Muslim).
Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minumnya.’”
Wallahu a'lam!
 
Tanya: Bagaimana bila saat idul firhri bertepatan dengan datangnya haidh. Rasanya kurang afdhal bila kita tidak shalat ied. Apa yang harus saya lakukan?

Jawab: Untuk "mengobati" perasaan kurang afdhal bila kita tidak mengikuti shalat ied, kita masih diperbolehkan datang ke tempat pelaksanaan ied. Carilah tempat pelaksanaan shalat ied di lapangan. Jangan yang di masjid. Kita bisa mendengarkan dan menyimak khutbah, tetapi tentunya kita tidak boleh shalat.
Prof Abdul Karim Zaidan dalam bukunya yang berjudul al-Mufashhal fi Ahkam al-Mar’ati menjelaskan, para Muslimah dianjurkan untuk hadir ke masjid untuk meramaikan shalat Idul fitri.
Baik perempuan tersebut telah bersuami ataupun masih lajang. Tua muda, perawan, atau janda. Anjuran menghadiri masjid untuk meramaikan syiar shalat Idul Fitri ini ditujukan pula ke para Muslimah yang tengah menstruasi. Cukup mendatangi pelataran atau daerah sekitar masjid.
Sunah menghadiri masjid untuk menyemarakkan Idul Fitri itu tercatat secara jelas di hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang dinukilkan dari Ummu Athiyyah.
Shahabiyat (julukan untuk sahabat perempuan) yang dikenal sebagai perawi hadis itu mengisahkan bahwa Rasulullah menyerukan kalangan Muslimah agar keluar rumah dan menuju masjid untuk meramaikan Idul Fitri dan Idul Adha. Baik anak kecil, gadis, atau yang sedang mengalami menstruasi sekalipun.
Bagi mereka yang sedang haid maka tak perlu mengikuti shalat Idul Fitri. Cukup hadir di pelataran masjid. Ini agar mereka bisa turut menyaksikan dakwah dan kebajikan Idul Fitri. Dan hendaknya, tetap menutup aurat, seperti mengenakan jilbab, demikian sabda Rasul sesuai redaksi Imam Muslim.
Sedangkan di riwayat Bukhari, diuraikan lagi maksud dari anjuran bagi Muslimah yang tengah haid agar tetap hadir di masjid tempat shalat Idul Fitri atau Idul Adha berlangsung.
Bila tengah datang bulan, yang bersangkutan hendaknya berada di belakang barisan jamaah dan turut bertakbir, ikut berdoa, dan bersama-sama berharap keberkahan dan kesucian kedua hari raya tersebut.
Dalam kajian para ahli fikih, persoalan ini pun mengundang perhatian. Menurut Mazhab Hanbali dan Maliki, perempuan boleh ikut hadir di daerah sekitar masjid saat shalat Idul Fitri atau Adha berlangsung.
Wallahu a'lam !


4/7/2014