Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HAID, NIFAS & ISTIHADHAH

KAJIAN ONLINE HAMBA  اللَّهِ SWT (HA 01, 02 Ummi)

Hari / Tanggal : Senin, 18 Agustus 2014
Materi : Fiqih Islam tentang Haid
Narasumber : Ust.Lillah

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
صباح الخير
كيف حالكن اليوم؟

Pagi yang cerah, di awal pekan penuh gairah...semoga berkelimpahan berkah
Kita mulai kajian kita ya...

Pembahasan soal darah pada wanita yaitu haid, nifas, dan istihadhah adalah pembahasan yang paling sering dipertanyakan oleh kaum wanita. Dan pembahasan ini juga merupakan salah satu bahasan yang tersulit dalam masalah fiqih, sehingga banyak yang keliru  dalam memahaminya. Bahkan meski pembahasannya telah berulang-ulang kali disampaikan, masih banyak wanita Muslimah yang belum memahami kaidah dan perbedaan dari ketiga darah ini. Mungkin ini dikarenakan darah tersebut keluar dari jalur yang sama namun pada setiap wanita tentulah keadaannya tidak selalu sama, dan berbeda pula hukum dan penanganannya.

HAID
Haidh atau haid (dalam ejaan bahasa Indonesia) adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita pada waktu-waktu tertentu yang bukan karena disebabkan oleh suatu penyakit atau karena adanya proses persalinan, dimana keluarnya darah itu merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah kepada seorang wanita. Sifat darah ini berwarna merah kehitaman yang kental, keluar dalam jangka waktu tertentu, bersifat panas, dan memiliki bau yang khas atau tidak sedap.

Haid adalah sesuatu yang normal terjadi pada seorang wanita, dan pada setiap wanita kebiasaannya pun berbeda-beda. Ada yang ketika keluar haid ini disertai dengan rasa sakit pada bagian pinggul, namun ada yang tidak merasakan sakit. Ada yang lama haidnya 3 hari, ada pula yang lebih dari 10 hari. Ada yang ketika keluar didahului dengan lendir kuning kecoklatan, ada pula yang langsung berupa darah merah yang kental. Dan pada setiap kondisi inilah yang harus dikenali oleh setiap wanita, karena dengan mengenali masa dan karakteristik darah haid inilah akar dimana seorang wanita dapat membedakannya dengan darah-darah lain yang keluar kemudian.

Wanita yang haid tidak dibolehkan untuk shalat, puasa, thawaf, menyentuh mushaf, dan berhubungan intim dengan suami pada kemaluannya. Namun ia diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan tanpa menyentuh mushaf langsung (boleh dengan pembatas atau dengan menggunakan media elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya kecuali pada kemaluannya.
Allah Ta’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ

“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” QS. Al-Baqarah: 222

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” HR. Al-Bukhari No. 321 dan Muslim No. 335

Batasan Haid :

Menurut Ulama Syafi’iyyah batas minimal masa haid adalah sehari semalam, dan batas maksimalnya adalah 15 hari. Jika lebih dari 15 hari maka darah itu darah Istihadhah dan wajib bagi wanita tersebut untuk mandi dan shalat. 

Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa mengatakan bahwa tidak ada batasan yang pasti mengenai minimal dan maksimal masa haid itu. Dan pendapat inilah yang paling kuat dan paling masuk akal, dan disepakati oleh sebagian besar ulama, termasuk juga Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengambil pendapat ini. Dalil tidak adanya batasan minimal dan maksimal masa haid :
Firman Allah Ta’ala.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekatkan mereka, sebelum mereka suci…” QS. Al-Baqarah : 222

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan petunjuk tentang masa haid itu berakhir setelah suci, yakni setelah kering dan terhentinya darah tersebut. Bukan tergantung pada jumlah hari tertentu. Sehingga yang dijadikan dasar hukum atau patokannya adalah keberadaan darah haid itu sendiri. Jika ada darah dan sifatnya dalah darah haid, maka berlaku hukum haid. Namun jika tidak dijumpai darah, atau sifatnya bukanlah darah haid, maka tidak berlaku hukum haid padanya. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menambahkan bahwa sekiranya memang ada batasan hari tertentu dalam masa haid, tentulah ada nash syar’i dari Al-Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan tentang hal ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan : “Pada prinsipnya, setiap darah yang keluar dari rahim adalah haid. Kecuali jika ada bukti yang menunjukkan bahwa darah itu istihadhah.”

Berhentinya haid :

Indikator selesainya masa haid adalah dengan adanya gumpalan atau lendir putih (seperti keputihan) yang keluar dari jalan rahim. Namun, bila tidak menjumpai adanya lendir putih ini, maka bisa dengan mengeceknya menggunakan kapas putih yang dimasukkan ke dalam vagina. Jika kapas itu tidak terdapat bercak sedikit pun, dan benar-benar bersih, maka wajib mandi dan shalat.

Sebagaimana disebutkan bahwa dahulu para wanita mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan menunjukkan kapas yang terdapat cairan kuning, dan kemudian Aisyah mengatakan:

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ

“Janganlah kalian terburu-buru sampai kalian melihat gumpalan putih.”
(Atsar ini terdapat dalam Shahih Bukhari)

NIFAS

Nifas adalah darah yang keluar dari rahim wanita setelah seorang wanita melahirkan. Darah ini tentu saja paling mudah untuk dikenali, karena penyebabnya sudah pasti, yaitu karena adanya proses persalinan. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa darah nifas itu adalah darah yang keluar karena persalinan, baik itu bersamaan dengan proses persalinan ataupun sebelum dan sesudah persalinan tersebut yang umumnya disertai rasa sakit. Pendapat ini senada dengan pendapat Imam Ibnu Taimiyah yang mengemukakan bahwa darah yang keluar dengan rasa sakit dan disertai oleh proses persalinan adalah darah nifas, sedangkan bila tidak ada proses persalinan, maka itu bukan nifas.

Batasan nifas :

Tidak ada batas minimal masa nifas, jika kurang dari 40 hari darah tersebut berhenti maka seorang wanita wajib mandi dan bersuci, kemudian shalat dan dihalalkan atasnya apa-apa yang dihalalkan bagi wanita yang suci. Adapun batasan maksimalnya, para ulama berbeda pendapat tentangnya.

Ulama Syafi’iyyah mayoritas berpendapat bahwa umumnya masa nifas adalah 40 hari sesuai dengan kebiasaan wanita pada umumnya, namun batas maksimalnya adalah 60 hari. Mayoritas Sahabat seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Aisyah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhum dan para Ulama seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, At-Tirmizi, Ibnu Taimiyah rahimahumullah bersepakat bahwa batas maksimal keluarnya darah nifas adalah 40 hari, berdasarkan hadits Ummu Salamah dia berkata, “Para wanita yang nifas di zaman Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, mereka duduk (tidak shalat) setelah nifas mereka selama 40 hari atau 40 malam.” (HR. Abu Daud no. 307, At-Tirmizi no. 139 dan Ibnu Majah no. 648). Hadits ini diperselisihkan derajat kehasanannya. Namun, Syaikh Albani rahimahullah menilai hadits ini Hasan Shahih. Wallahu a’lam.

Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan maksimal masa nifas, bahkan jika lebih dari 50 atau 60 hari pun masih dihukumi nifas. Namun, pendapat ini tidak masyhur dan tidak didasari oleh dalil yang shahih dan jelas. Wanita yang nifas juga tidak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan oleh wanita haid, yaitu tidak boleh shalat, puasa, thawaf, menyentuh mushaf, dan berhubungan intim dengan suaminya pada kemaluannya. Namun ia juga diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan tanpa menyentuh mushaf langsung (boleh dengan pembatas atau dengan menggunakan media elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya kecuali pada kemaluannya.

Tidak banyak catatan yang membahas perbedaan sifat darah nifas dengan darah haid. Namun, berdasarkan pengalaman dan pengakuan beberapa responden, umumnya darah nifas ini lebih banyak dan lebih deras keluarnya daripada darah haid, warnanya tidak terlalu hitam, kekentalan hampir sama dengan darah haid, namun baunya lebih kuat daripada darah haid.

ISTIHADHAH

Istihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaan, yaitu tidak pada masa haid dan bukan pula karena melahirkan, dan umumnya darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering disebut sebagai darah penyakit. Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim mengatakan bahwa istihadhah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita yang bukan pada waktunya dan keluarnya dari urat.

Sifat darah istihadhah ini umumnya berwarna merah segar seperti darah pada umumnya, encer, dan tidak berbau. Darah ini tidak diketahui batasannya, dan ia hanya akan berhenti setelah keadaan normal atau darahnya mengering. Wanita yang mengalami istihadhah ini dihukumi sama seperti wanita suci, sehingga ia tetap harus shalat, puasa, dan boleh berhubungan intim dengan suami.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha :

جَاءَتَ فاَطِمَةُ بِنْتُ اَبِى حُبَيْشٍ اِلَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَلَتْ ياَرَسُوْلُ اللهِ اِنِّى امْرَاَةٌ اُسْتَحَاضُ فَلاَ اَطْهُرُ، اَفَاَدَعُ الصَّلاَةَ؟ فَقَالَ ياَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ، اِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَاِذَااَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِى الصَّلاَةَ، فَاِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا فاَغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى

Fatimah binti Abi Hubaisy telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wania yang mengalami istihadhah, sehingga aku tidak bisa suci. Haruskah aku meninggalkan shalat?” Maka jawab Rasulullah SAW: “Tidak, sesungguhnya itu (berasal dari) sebuah otot, dan bukan haid. Jadi, apabila haid itu datang, maka tinggalkanlah shalat. Lalu apabila ukuran waktunya telah habis, maka cucilah darah dari tubuhmu lalu shalatlah.”
Wallahu a’lam. 

Sumber / Maraji’ :
Fiqhus Sunnah lin Nisaa’ – Kamal bin As-Sayyid Salim
Fatawa Al-Mar’ah Muslimah
Majmu’ Fatawa Arkanil Islam – Syaikh Ibnu Utsaimin
Ahkamuth Thaharah ‘inda An-Nisaa’ ‘ala Madzhab Imam Asy-Syafi’i – Munir bin Husain


Pertanyaan ;

  1. Ustdzah, kalau haid 7 hari suci hari 8 kemudian hari ke 12 keluar darah lagi, termasuk haid atau istihadah?
  2. Ustadzah, yang sering saya alami, haid sudah bersih hari normal antara 6-7 hari tapi begitu berhubungan dengan suami ternyata masih ada darah haidh, pernah saya tunggu sampai 2 hari bersih dari darah haidh baru berhubungan tapi masih begitu juga tapi biasanya untuk hari berikutnya sudah tidak keluar darah lagi. In sya Allah penyakit yang berhubungan dengan kewanitaan tidak ada karena hasil papsmear alhamdulillah baik-baik saja, kalo seperti itu masihkah di anggap haidh? yang repot kalo ramadhan, sudah yakin bersih, sudah puasa 1 atau 2 hari tenyata setelah berhubungan masih ada sisa haidh berarti untuk puasa 1 atau 2 hari itu tidak sah ya ustadzah? jazakillah khair
  3. Saya juga sering seperti itu. Setelah keramas dan sholat ternyata darah haid keluar lagi, padahal untuk keramas saya nunggu 1 hari sampai darah tidak keluar. Eh, begitu keramas,sholat dan berhubungan ternyata keluar lagi meski hanya sedikit. Gimana ini ustadzah? Berdosakah saya?
  4. Ustadzah, jika kita sudah mandi haid hadats besar dan merasa sudah bersih maka pada malam harinya bercampur dengan suami tetapi ternyata setelah bercampur, ternyata mohon maaf.. (saat kita bersihkan ada darah haid yang keluar bercampur dengan sperma) bagaimana hukumnya? Sesuatu yang tidak disengaja..syukron
  5. Satu lagi bunda, saya bertanya apakah benar pada saat haid, kita tidak boleh potong kuku, potong rambut. jika saat haid kita memotong rambut dan potong kuku dan rambut kita ada yang jatuh maka dikumpulkan dan disucikan saat nanti kita mandi hadats besar selesai haid.. mohon penjelasan nya bunda.
  6. Ustadzah kalo flek yang keluar saat KB itu termasuk darah haid? Ada yang bilang darah istihadhah, tapi kalau liat dari spesifikasi bukan darah segar. Jazakillah penjelasannya ustadzah
  7. Ustadzah, apakah berdosa apabila menunda mandi bersih walaupun haid sudah berhenti karena menunggu kalau-kalau haidnya keluar lagi? Jadi misal sore sudah tidak keluar tapi baru bersuci esok paginya. Apakah itu termasuk menunda-nunda sholat?
Jawaban:

  1. Sebelum saya jawab, dalam pembahasan sudah disampaikan bahwa penting bagi setiap perempuan mengetahui kebiasaan haidlnya, berapa lama setiap haidl, siklus per berapa hari sekali dia datang, sifat darahnya dll. Ini penting dicatat sjk msh gadis, karena kebiasaan ini lah yang akan menjado patokan jika memiliki masalah haidl di kemudian hari. Apalagi setelah menikah dan memiliki anak, di jamaknya para perempuan mengunakan KB dan merasa lebih nyaman dengan KB hormonal, padahal dampaknya adalah pada haidl dan ibadahnya. Jika memang kebiasaannya hanya sepekan, maka yang muncul di hari ke 12 bukan darah haidl.
  2. Apakah darah yang keluar cukup banyak? Apakah teksturnya seperti darah haidl? Jika sudah yakin bersih saat bersuci, maka darah yang keluar selepas berhubungan, bukanlah darah haidl. Bisa jadi itu luka dari liang vagina.
  3. Tidak berdosa, karena sepengetahuan kita sudah bersih. Ada pendapat ulama yang mengatakan, setiap melihat darah haidl, maka tinggalkan sholat, jika bersih maka sholatlah, meskipun itu terjadi selang seling dalam beberapa hari. Maka penting bagi kita mengetahui sifat darah haidl kita
  4.  idem atas
  5. Tidak benar, tidak ada tuntunannya dalam nash
  6. Dilihat dulu waktunya, jika memang sudah masuk periode haidl, maka itu darah haidl. Itulah mengapa, penting bagi kita menghafal kebiasaan haidl kita sendiri.
  7. Ada yang disebut dengan masa hati-hati, waktnuya 1x24 jam.

TAMBAHAN PERTANYAAN DARI HA UMMI 02

  1. Ijin bertanya ustadzah, jika seorang wanita memiliki kista atau penyakit di rahim yang menyebabkan perdarahan dia saat haid itu lama atau sebaliknya haid sebentar namun beberapa hari kemudian sudah mengeluarkan haid lagi. Apakah itu terhitung haid atau bukan? Boleh kah shalat? Trima kasih
  2. Saat istikhadoh itu kita harus ganti pakaian dalam kah?
  3. Assalamualaikum ustadzah, kalau wanita haid atau nifas, boleh baca mushaf tapi ada yang memegangi dan membolak-balikan, satu lagi ustdz apakah buku majmu syarif dan buku yasin (biasanya ada surat-surat alquran, seperti arrahman, alwaqiah dll) boleh kita memegangnya?
  4. Assalamu'alaikum ustadzah....wanita haid apa boleh memegang al qur'an yang ada arti dan terjemahan nya ? 
  5. Ustadzah pada waktu kita istikhadoh kan wajib sholat. teruz pas sudah sholat tiba-tiba darah istikhadoh kita keluar. Apakah sholat kita batal & apa harus mengulangi lagi
  6. Ustadzah mau tanya. Waktu haid selesenya kan ditandai cairan kental putih tapi saya sering ketika cairan itu keluar masih di barengi bercak coklat .. sudah sucikah itu? Sering juga itu keluarnya dengan jeda waktu
  7. Kalo keguguran gimana ustadzah tetap shalat tidak?

Jawaban

  1. Dikembalikan kpd kebiasaan haidlnya dan dilihat pula sifat darah yang keluar. Namun ketentuan haidl sdh dijelaskan, minimal sehari semalam dan darah yang keluar min 30ml, kmd maksimal haidl adl 15 hari. Jika krg dr itu atau lbh dr itu, disebut dgn istihadloh
  2. Boleh
  3. Boleh
  4. Boleh
  5. Tidak batal, maka sebaiknya saat istihadloh, setap akan sholat, bersihkan kembali kemaluan dan gunakan pembalut baru.
  6. Belum boleh, tanda suci adl kembali bening tanpa ada kekeruhan apa pun
  7. Biasanya, janin di atas 80 hari kehamilan atau sekitar 12 pekan, itu sudah ada nifasnya. Dulu saya kurang lebih 2 pekan nifas

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”