Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Niat dan State


Kajian Online WA Hamba اللَّهِ SWT ( HA 15 UMMI)

Hari / Tanggal : Jum'at, 22 Agustus 2014
Narasumber : Ustzh. Ellya
Materi : Niat dan State
Admin : Farabella
Editor : Ana Trienta


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Terus Memperbaharui Niat
Setiap amal itu tergantung pada niatnya. Demikian hadist rosulullah SAW yang sangat populer kalangan orang awam. Namun demikian saya pun yakin bahwa makna aslinya banyak yang belum dipahami secara tepat.

Betapa tidak? Kalimat,”Yang penting kan niatnya baik” cukup sering saya dapati ketika seseorang berusaha menasihati orang lain, namun justru ditanggapi dengan kurang menyenangkan. Meski saya sepakat bahwa situasi seperti ini mungkin saja terjadi, seringkali saya pahami bahwa kesalahpaman ini terjadi lebih disebabkan oleh sang pemberi nasihat yang belum menggunakan cara yang tepat saja. Alhasil, bukannya bermanfaat, nasihat baik ini malah mubazir. Lalu, apa sebenarnya konteks yang tepat untuk menerapkan ajaran di atas?

Niat dan State
Bagaimana ceritanya nih? Begini. Mari kita cermati kejadian berikut ini.
Anda adalah seorang Kepala sekolah yang baru saja merekrut guru baru. Saat wawancara, Anda sudah menegaskan pertanyaan penting berikut ini, “Jadi, Anda betul-betul berniat untuk berkarir di bidang pendidikan?” Kontan, dengan senyum merekah, sang calon guru pun menjawab lugas, “Ya! Niat saya sudah bulat!” Maka rangkaian wawancara pun Anda tutup dengan syukur, berharap Anda sudah menjatuhkan pilihan pada orang yang tepat.

Hari berikutnya, sang guru baru pun menjalani hari pertamanya. Ia penuh gairah, belajar dengan semangat, bertanya kesana kemari dengan wajah antusias. Setiap tugas yang Anda berikan ia lahap seketika, meski tak jarang ia mengalami beberapa kesulitan. Maklum, guru baru.

Berlalu 3 hari. Anda agak merasa aneh, sebab sang guru ini menunjukkan gelagat yang berbeda. Ya, baru tiga hari, dan Anda mendapati gairahnya menurun. Ia mulai kesulitan menjalankan instruksi Anda. Wajah yang sebelumnya ceria kini banyak murung. Tak sampai seminggu untuk mendapatinya sulit dicari di ruangan. Bahkan di minggu kedua, ia sempat bolos sehari tanpa izin dan alasan yang jelas.

Minggu ketiga, juga masih aneh. Sehari semangat, sehari loyo. Begitu terus berlangsung, hingga Anda sudah tak tahan lagi. Nah, menghadapi kondisi seperti ini, apa kiranya yang Anda akan ucapkan tentang guru baru itu? Ah, jika Anda sama seperti beberapa orang yang saya temui di negeri ini, kalimat ini mungkin sama—mungkin juga tidak—dengan Anda, “Gimana sih anak ini? Niat kerja nggak sih?”

Nah, apa sebenarnya makna kata ‘niat’ pada kalimat di atas? Jelas bukan sesuatu yang diucapkan di depan saat wawancara, bukan? Ya! Niat memang bukan sesuatu yang diucapkan dengan lisan semata. Ia juga perbuatan hati. Kembali ke kata ‘niat’ yang diucapkan oleh Anda di atas, bukankah Anda sepakat bahwa ia lebih merupakan konsistensi daripada hanya sebuah kondisi hati yang sekali muncul sudah itu mati?

Aha! Maka jadi masuk akal jika agama  mengajarkan kita untuk selalu meluruskan niat. Kok meluruskan ya? Berarti niat bisa bengkok atau melenceng donk? Ya, memang demikian lah adanya. Niat adalah sebuah kondisi menyengaja dalam diri, yang sangat mungkin untuk berubah, dan karenanya harus senantiasa dipantau dan dikendalikan.

Maka menggunakan kerangka NLP, niat sejatinya adalah sebuah proses mengakses state alias kondisi pikiran-perasaan yang tepat untuk memunculkan perilaku yang diinginkan. Dan selayaknya sebuah state, ia jelas tidak statis, melainkan dinamis, keluar dari yang satu berganti menjadi yang lain.

Semisal, kita ingin bersedekah. Kita pun mengakses kondisi ikhlas, yakni kondisi dimana pikiran dan perasaan tertuju semata hanya mengharapkan ridha Allah. Jika terbersit sebuah keinginan untuk dilihat, baik itu dalam bentuk film dalam pikiran atau suara, kita pun segera mematikan atau menggantinya. Dengan demikian, perilaku sedekah kita pun menjadi bersih. Mengeluarkan uang terbaik yang kita miliki, lalu melakukannya dengan diam-diam.

Cukupkah? Jelas tidak. Sebab sudah berperilaku seperti itu pun, seringkali niat ini berubah. Misalnya, ketika seseorang tiba-tiba melihat dan memuji apa yang kita lakukan. Sebuah suara barangkali muncul, “Wah, hebat juga ya, aku bersedekah seperti itu.” Jika kita jeli, seketika kita pun awas, dan segera mematikan suara tersebut, mengubah senyum bangga menjadi wajah penuh harap agar Allah masih sudi menerima sedekah kita tadi.

Demikianlah, niat adalah sebuah state. Sebab ia state, maka ia menaungi rangkaian perilaku yang ada di dalamnya. State senang akan memunculkan perilaku senyum tulus dengan lebih mudah, dibanding state sedih. State percaya diri akan menghadirkan perilaku bicara meyakinkan dengan lebih cepat dibanding state ragu-ragu.

Ah, bukankah jadi lebih jelas mengapa agama ajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan meluruskan niat? Sebab tanpa niat yang lurus, perilaku tulus pun sulit untuk muncul. Alih-alih tulus, yang ada adalah perilaku hitung-hitungan. Tidak memberi jika pujian sedikit. Tidak mengajar jika honor kecil. Dan seterusnya.

Sementara niat yang tulus, menghadirkan segenap pikiran hanya untuk meraih ridha Allah, melahirkan segenap rasa yakin akan pembalasan Allah, akan menghadirkan perilaku yang murni, apapun respon yang didapat. Dicaci ketika menasihati, kita justru tersenyum, sebab yakin bahwa cacian kan berbuah pahala. Rugi ketika menerima kembali barang dagangan yang dikembalikan pembeli karena cacat, kita justru lega, sebab dihindarkan dari perhitungan di Hari Akhir kelak.

Manajemen Niat, Manajemen State

Maka manajemen niat, adalah manajemen state. Dan berbekal NLP (Neuro Linguistic Programing), ia adalah proses mengelola representasi internal alias film dalam pikiran, dan gerakan tubuh. Ingin mendapat ilmu yang berlimpah? Niatkan untuk belajar dengan penuh takzim pada seorang guru. Caranya? Selidiki apa yang sedang diputar dalam pikiran anda. Dan ganti gambarnya dengan gambaran positif tentang sang guru, ilmunya yang luas, manfaatnya yang banyak. Putar suara dalam pikiran tentang nasihat untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Kecilkan suara-suara sumbang yang mempertanyakan tentang sang guru. Buang rasa sombong terhadap ilmu dan guru. Dan rasakan diri ini begitu takzim, sehingga memudahkan ilmu baru masuk.

Takkan hadir ilmu, pada diri yang memelihara kesombongan. Ingin bekerja dan mendapat rezeki berlimpah nan halal? Niatkan untuk bekerja tanpa pamrih. Caranya? Selidiki film yang kita putar dalam pikiran. Jika muncul pikiran tentang mendapatkan keuntungan lewat cara yang tidak halal, ganti segera! Munculkan ingatan tentang orang-orang jujur yang sukses, dan betapa berkah hidup mereka. Jika muncul bisikan-bisikan untuk bekerja seadanya, malas-malasan, kecilkan suaranya! Munculkan suara penyemangat, nasihat pembangkit inspirasi, hingga terasa semangat menggelora untuk persembahkan yang terbaik.

Selalu ada hasil, pada tiap kesungguhan. Seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Ibnu Umar ra, pernah berujar, “Seandainya ada satu saja sujudku yang diterima, niscaya itu sudah cukup buatku.”

Wah, sahabat Nabi sekelas beliau saja tak yakin bahwa sujudnya yang buanyak itu diterima? Bagaimana dengan kita? Inilah bukti bahwa niat harus terus diluruskan, diperbaharui, dikelola. Ini pulalah sebab mengapa kita diajar untuk berdoa agar hati yang memang tabiatnya senang berbolak-balik ini senantiasa diteguhkan di jalan kebenaran dan ketaatan

Ya Muqollbal quluub tsabbit qolbi 'ala diinik wa 'ala thooaatik
Mari senantiasa memperbaharui niat. Anda akan selalu dalam kebaikan selama niat anda benar, tulus dan ikhlas. Semoga bermanfaat.

Tanya Jawab:

Tanya: 
Apa yang harus kita lakukan supaya hati kita teguh dan niat kita selalu baik? supaya niat kita selalu terjaga..
Jawab: 
Pertama: berdoa seperti doa tadi, ya muqollibal quluub...dst
Kedua : menyadari apa melintas di dalam hati kita, beri nama lalu arahkan agar sesuai dengan kehendak yang maha kuasa. Tingkatkan ilmu dan keterampilan tentang bagaimana menjadi manusia yang sadar atas apa yang dipikir, dirasa, dan dikerjakan

Tanya: 
Misal kita beramal kemudian diumumkan totalnya demi untuk mengundang yang lain agar beramal lebih dari kitaitu bagaimana ustadzah ?? Apakah bisa dikategorikan riya juga ??
Jawab: 
Bersedekah boleh di syiar kan, boleh di sembunyikan. Belum tentu yang disembunyikan tidak ria, dan belum tentu yang di syiarkan riya. Urusan niat, hanya dia ( ybs) dan Allah yang tahu. Dan pada dua kondisi tersebut : di syiarkan dan disembunyikan, tetap harus menjaga keikhlasan Sama. Biasakan memulai segala sesuatu dengan menyebut nama Allah. Bismillah

Tanya: 
Kalo untuk mengajarkan anak-anak untuk berniat baik, hanya karena Allah, sama juga kah caranya, Ustadzah?
Jawab: 
Kaol semakin besar ajarkan doa-doa. Awali dengan berdoa, itulah kenapa dalam setiap aktivitas ada doa nya. Even ke kamar mandi. subhanallah, itu cara untuk membingkai niat agar ikhlas. Coba sebutkan aktivitas apa yang tidak ada contoh doa-doanyanya. Makan? Tidur? Bepergian dll semua ada doanya. Tinggal di jalankan, betul? Kita saja yang kadang lalai

Tanya: 
Ummi saya itu suka lupa niat, misal nyantunin, kasih ke fakir/miskin. Jadi ngasih aja, apa ibadah tadi jadi sia-sia? Terus apa bisa niat itu di belakang sesudah ibadah diatas tadi. Syukron
Jawab: 
Lha, koq Esty bisa INGAT kalau lupa niat? Hehehe..becanda. Niat tidak harus di ucapkan.

Tanya: 
Ustdzah, saat kita membantu teman, ketika sikap kita dimanfaatkan, bagaimana menjaga niat tetap ikhlas, tidak marah dan mengeluh? Syukron.
Jawab: 
Kembali kepada niat. Niatnya membantu kan? temenmu / siapapun, memanfaatkan karena ada orang yang mau dimanfaatkan. Hehe.. Kalo Nur merasa di manfaatkan, artinya apa? Artinya..... (Isi sendiri ya Nur). Kalo sudah ketemu jawabannya di-sehingga- kan. Misal gini : saya niatnya menolong teman, kok oleh temanku, aku (merasa) dimanfaatkan. Artinya?.... Sehingga....
Oke Nur?

Tanya: 
Netty ga ngerti ustadzah. Karena memang banyak teman seperti itu.di saat kita senang dia dekat...kalo kita susah dia jauh. Itu yang .....
Jawab: 
Artinya?
Apa misalnya? Kita harus pandai memilih teman..
Sehingga? sehingga kita tahu, mana teman yang memang layak untuk ditolong, mana yang tidak? Itu versi saya. Kalau versi kamu gimana?

Tanya: 
Oh begitu maksud nya kalo aku menjauh salah ga? Daripada ga enak nanti dia minta tolong lagi aku ga mau? Gimana ya ustadzah
Jawab: 
Enggak salah. Ya sekedarnya saja. Nggak menjadikannya sebagai shohib...

Gara-gara uang yang sedikit bisa jadi masalah besar ya..
Jawab: 
Yup.. Sungguh indah, islam mengajarkan..bahwa segala sesuatu itu ada keseimbangan: tawazun, namanya. Maka ada hadist : "tolonglah saudaramu yang berbuat dzolim dan yang di Dzolimi" Kata sahabat, ya Rosul.. kalo yang di dzolimi saya sudah paham. Bagaimana menolong saudara yang berbuat dzolim? Kata Rosul: "cegahlah dia dari berbuat dzolim."
Begitulah cara menolongnya!

Tanya: 
Apakah ada doa, agar aktivitas yang kita kerjakan dulu-dulu yang awal niatnya ingin ikhlas, namun  kadang-kadang terselip ria, kemudian tersadar kembali, kadang diselipi ketidaksabaran diri. dapat diterima oleh Allah swt. Saya suka sedih seandainya aktivitas yang bertahuntahun saya lakukan sebenarnya baik, namun jika terselip ria, maka hilanglah amal tersebut.
Jawab: 
Ya, seperti perkataan ibnu Umar tadi..beliau saja, orang sekaliber sahabat sangat khawatir akan amal-amalnya, takut tidak diterima karena riya, dsb. Apalagi kita. Doanya ada : robbana taqobbal minna... (Apa amalnya : sholatana, waqiyamana, dst) bahasa indonesia juga boleh : ya Allah terimalah sholat kami, shoum kami dst.

Tanya: 
Baik ustadzah, jazakillah. Susahnya melindungi hati dari ria ya. Jangankan disaat ramai, saat sendiripun kita diganggu oleh riya
Jawab: 
Jagalah hati


Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga bermanfaat