Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Parenting - Sunah Harian yang Terlupakan Saat Mendidik Balita

Kajian Online WA Hamba اللَّهِ SWT (HA 06 UMMI)

Hari / Tanggal : Jum;at, 22 Agustus 2014
Narasumber : Ustadzah Nurhamida Syaini
Materi : Parenting
Notulen : Retno
Editor : Ana Trienta

بسم الله الر حمن الر حيم

Assalamualaikum wr. wb. Alhamdulillah dan salam salawat senantiasa kita panjatkan untuk Rasul saw. Apakabar Ukhtifillah, semoga pada pagi Jumat ini tetap semangat ..

Materi Parenting: 
SUNNAH HARIAN YANG TERLUPAKAN SAAT MENDIDIK BALITA

Hadits riwayat Bukhari Muslim: "Setiap anak terlahir fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Majusi, Yahudi, dan Nasrani"

Hadits ini mengingatkan kita para orang tua untuk berhati hati dalam mengasuh dan membesarkan anak. Orang tua harus memiliki ilmu dalam mendidik anak agar tidak salah bentuk karakter yang akan disiapkan.

Perumpamaan ketiga gol pemeluk agama atau bangsa dalam hadits tersebut merupakan kondisi ekstrim yang amat mungkin terjadi pada zaman ini. Zaman akhir yang penuh fitnah. Zaman yang telah menemukan tanda tanda kiamat yang Rasul pernah sabdakan 14 abad lampau. Oleh karena itu kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus membekali diri dengan ilmu dinnullah sebagai dasar pendidikan anak dan ilmu pendidikan sebagai yang telah dicontohkan Rasul saw.

Telah banyak masyarakat yang mengetahui dan membaca hadits-hadist dan sunnah sunnah yang Rasul saw sabda dan terangkan. Para pakar menulis banyak buku tentang hal ini. Namun pada kenyataannya, semakin hari generasi terkemudian ini semakin menunjukkan gejala tidak mengenali lagi perilaku sunnah dan akhlaqul karimah yang semestinya menjadi ciri setiap.muslim dan mukmin. Ada apakah gerangan?


Kita lihat dr hal paling sederhana....
Perilaku harian dalam beraktivitas kita telah jauh dari tuntunan Rasul saw. Contoh: Tidak menyadari bahwa dalam menggunakan sandal/sepatu/pakaian harus dimulai dengan bagian kanan dan melepas dengan bagian kiri, (apalah lagi dengan membaca doanya), Anak sejak dini belajar makan sambil berjalan jalan, membiasakan anak tidur terlalu malam sehingga enggan membangunkan di pagi hari saat shubuh karena merasa kasihan kurang tidur, menguap tanpa menutup mulut dan bertaawudz, makan tanpa basmalah dan hamdalah, tidak berdoa dalam setiap melakukan aktivitas, membiasakan dan memberi contoh shalat tidak tepat waktu, meniup makanan atau minuman yang panas agar cepat dingin, mencela makanan, berlebihan dalam makan (tidak membiasakan makan satu jenis sampai habis. Anak sering meminta makanan lain padahal makanan yang satu belum dihabiskan dan orang tua membiarkan hal ini), membiarkan anak terlalu larut dengan gadget sehingga lupa mengajarkan berzikir, memberi contoh bicara dan perilaku yang buruk tanpa sadar sehingga anak dapat leluasa merekamnya dengan indera penglihatan dan pendengaran. Dan banyak lagi.

Berkaitan dengan pola asuh, orang tua khususnya ibu perlu memahami Triune Brain. Dari 4 slide ini masa balita adalah masa yang terbaik dalam menanamkan sunnah harian. Karena pada masa ini, pada rentang 0-3 th anak menerima pendidikan dan pengajaran tanpa disadari oleh anak. Semua berjalan alamiah dan tanpa hambatan karena anak hanya menerima saja.

Usia selanjutnya anak mulai mengerti apa yang terjadi di sekelilingnya sehingga ia mulai banyak bertanya dan meniru perilaku di sekitarnya. Jika apa yang terjadi di sekitarnya hal hal baik maka apa yang terbentuk di otaknya adalah jalur jalur sinapsis yg membentuknya menjadi pribadi positif. Berkebalikan jika ia tumbuh dlm lingkungan negatif. TRIUNE BRAIN adalah istilah yang digunakan oleh Paul Mac lean yang mendalani perkembangan otak. Ia membagi otak secara garis besar dalam 3 bag: Reptilian (Survival Brain), Emotional Brain (Limbic) dan Neo Cortex (Thinking Brain).

Apabila anak sering melihat hal buruk dan dibesarkan dengan cara yang buruk maka reptilian brain yang dominan. Ia hanya sanggup bertahan hidup saja. Jika dia diganggu ia akan balas dengan mengganggu. Bagian otak ini lebih berhubungan dengan kebutuhan fisik manusia. Jika lapar maka anak merengek untuk makan, jika ia ingin mainan tapi tidak diberi ia akan pukul si pemilik mainan atau meraung raung minta dibelikan pada ibunya.

Bila anak tumbuh dalam lingkungan yang nyaman dan orang tua paham mendidik anak maka sistim limbiknya akan berkembang dan neo korteks akan bekerja optimal sehingga anak tumbuh kembang dengan wajar dengan perilaku yang santun.

Orang tua harus ingat bahwa cara anak menerima dan menyerap nilai nilai itu dengan 3 cara. Yaitu ada yang dominan visual, anak ini akan merekam kuat perilaku orang tua dan sekeliling sebagai sumber informasi. Anak yang dominan auditori atau pendengaran, maka dengan nasihat, bercerita, mendengar nyanyian atau sajak, informasi nilai dan tata krama akan lebih cepat dipahami.

Sementara anak yang dominan kinestetik..ia menerima informasi sambil bergerak. Ia tidak menyukai nasihat tanpa diselingi aktivitas yang menyenangkan. Karenanya menghadapi anak model ini para orang tua harus kreatif.

TANYA JAWAB

MEMBANGUNKAN ANAK DI PAGI HARI
Tanya : 
Bagaimana cara membangunkan anak di pagi hari, dan kapan waktu yang tepat?
Jawab : 
Bagaimana cara membangunkan anak pada pagi hari? Yang harus disiapkan Bunda adalah mengatur jadwal tidur. Anak usia 3-5 th waktu tidurnya 10 jam/hr. Kurang dari itu tubuhnya akan terganggu. Prinsipnya, jika ia tidur lebih awal maka ia dapat bangun lebih pagi. Jika tidur malamnya terlambat maka waktu bangun paginya juga akan terlambat karena tubuhnya memerlukan waktu istirahat sebanyak 10 jam tadi. Mulailah dari usia sangat dini agar tidak sulit bagi kita membiasakannya saat anak mulai besar. Tepiskan rasa kasihan di hati saat anak harus bangun waktu subuh untuk melakukan shalat. Karena yang kita lakukan saat ini sesungguhnya adalah bekal ia saat remaja hingga dewasa.

Kapan tepatnya? Setiap keluarga punya batasan usia masing masing. Karena kondisi keluarga akan sangat menentukan kesiapan phsikhis anak mandiri tidur dari orang tua. Tetapi anak dapat dipersiapkan untuk mulai berpisah tidurnya dari orang tua dengan cara memiliki kamar sendiri. Posisi kamar hendaknya tidak jauh dari orang tua, bagus jika ada connecting door. Bila sewaktu waktu tengah malam anak terbangun, ia akan mudah menemukan kamar ortunya dan menemukan rasa aman saat ia merasa takut terbangun malam hari.

Tanya : 
Jadi maksudnya kamar orang tua itu harus sebelahan sama kamar anak bunda?
Jawab : 
Sebaiknya begitu Bunda untuk anak usia di bawah 7 tahun

Tanya : 
Kalo sudah diatas 7thn gimana bunda?
Jawab : 
Bunda bisa mulai dengan mendampingi ananda menjelang tidur dengan membacakan cerita..lalu diakhiri dengan membacakan ayat kursi dan muawwidzatain ( Dua surat pendek pelindung dari gangguan setan dan manusia: Al Falaq dan An nas), sampai ia tertidur..lalu kita tinggalkan. Biasakan mematikan lampu saat tidur. Kebiasaan ini hendaknya sudah dibangun sejak usia 4 tahun sehingga secara psikologis anak tidak kaget.

Tanya : 
Jadi sebaiknya mulai usia dini ya bund anak bobo sendiri..kalo 2tahun kasihan ndak yah?
Jawab : 
Usia 2 - 5 thn masih dengan orang tua karena memang masih dalam usia pendampingan. Jadi pelaksanaannya tergantung sikon keluarga..

Tanya : 
Saya udah nyoba anak tidur sendiri dari usia 3th tapi kadang-kadang saya yang sering pindah kamar, kasian
Jawab : 
Tidak masalah..itu kan masih usia latihan. Anak benar benar mandiri tidur..tidak boleh ditemani lagi menjelang baligh ya. Yang terpenting semua dipersiapkan. Jangan mendadak. Efeknya anak malah tidak mau tidur sendirian

Tanya : 
Bunda mida, anak saya usia 5,6th laki-laki. Baru masuk TK. Beberapa hari yang lalu telat ke sekolah, kebetulan saya yang antar (biasanya diantar abi). Sampai sekolah alif ga mau masuk kelas, mungkin karena saya juga pake emosi, saya bilang ke alif kalo ga mau sekolah, pulang aja. Akhirnya saya ajak pulang, saya ajarin di rumah, dan hari itu ga boleh main diluar rumah. Apa saya salah ngomong ke alif "kalo alif ga mau sekolah, kita pulang, alif belajar di rumah sama mamak & alif ga boleh main diluar"
Jawab : 
Ananda Alif kemungkinan merasa malu masuk kelas karena datang terlambat. Ada beberapa anak didik saya yang seperti itu. Pada dasarnya setiap anak telah melewati masa peka terhadap keteraturan. Fitrahnya menginginkan segala sesuatu sesuai aturan dan pada tempatnya. Sehingga ketika ia menghadapi situasi yg tdk semestinya, fitrahnya yang lain berbunyi..rasa malu karena datang tidak sesuai pada waktu yang ditetapkan sekolah. Dalam menghadapi situasi ini, alangkah baiknya jika Bunda lebih bersabar dan berempati. Yaitu menanyai Ananda mengapa tidak mau masuk. Apakah karena telatnya atau karena tidak diantar Abi. Dari jawaban Nanda, Bunda baru dapat ambil langkah.  Apa yang sudah Bunda lakukan, dari perspektif pendidik, Bunda lebih mementingkan perspektif Bunda saja sehingga langkah yang diambil pun apa yang baik menurut Bunda...apalagi ditambah hukuman tidak boleh main di luar. Bagi seorang guru, anak datang terlambat sesungguhnya bukan salah anak melainkan kesalahan orang dewasa karena tidak mempersiapkan anak lebih awal.

Tanya : 
Iya bunda, Saya keduluan emosi. Setelah emosi reda baru ajak alif ngobrol tanya kenapa ga mau masuk kelas tadi dan alif bilang "alif malu karena alif telat"
Jawab : 
Iya...itulah kenapa menjadi istri dan ibu itu pahalanya sama dengan jihad berat ya mengendalikan emosi itu...terlebih pada anak sendiri. Hal di atas berlaku juga dengan kapan  membangunkan anak  waktu pagi. 

MENGAJARKAN ANAK KEMANDIRIAN
Tanya : 
Bagaimana cara mengajarkan anak kemandirian, seperti makan sendiri, pakai baju sendiri, dan aktifitas harian lainnya
Jawab : 
Mengajarkan anak mandiri dalam aktifitas "selfhelp" (menolong dirinya sendiri) menurut Montessori sudah bisa dilakukan sejak anak usia 2 tahun saat anak mulai bisa menggenggam.

Tanya : 
Kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan anak makan sendiri
Jawab : 
Usia 2 tahun anak sudah bisa duduk dan makan sendiri, caranya beri dia mangkok plastik dan kue khusus bayi. Biarkan ia menggigit gigit atau menghancurkan kue dengan caranya. Lakukan setiap jam makan. Pada fase ini anak sedang belajar makan dengan jadwal  teratur. Tidak masalah berapa banyak yang masuk ke mulutnya yang penting bunda pantau apakah dengan kue atau makanan yang masuk itu dapat mengenyangkannya. Kalau tidak..Bunda dapat membantunya dengan menyuapi pada waktu yang lain. Lakukan hal ini secara konsisten dan buatlah kegiatan makan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Lebih besar sedikit anak, buatlah seakan kita sedang berlomba, siapa yang paling dulu makanannya habis. Bukan paling cepat makan ya..Rasul saw tidak menyukai sesuatu yang tergesa gesa. Bunda perlu tahu anak paling senang makannya bersama bunda atau makan bareng keluarga. Rame rame. Kalau sendiri dia akan malas. Nafsu makannya separuh terbang.

Tanya : 
Anak saya 5th masih di suapi, karena dibiasakan sama mbahnya. Bagaimana cara mengatasinya?
Jawab : 
Wah...kalau bisa dihentikan itu Bun, kasihan nanti motorik halusnya lemah karena tidak terbiasa menggunakan sendok atau jari untuk menyuap.

Tanya : 
Motorik halus itu apa aja bunda?
Jawab : 
Keterampilan Motorik halus itu berkaitan dengan keterampilan tangan seperti kemampuan menggenggam (bila lemah..apa pun yang dipegang akan lepas atau jatuh tanpa sadar), memeras, mengupas, melipat, memilin, memegang benda, mejepit dengan jari, memulung, menempel, menggunting, melipat... dan masih banyak lagi.

Tanya : 
Iya bunda.. Pernah baca katanya kalo anak ga makan sendiri jadi lama bisa pegang alat tulis
Terbukti si alif sampai sekarang suusaaah kalo di suruh nulis
Jawab : 
Ya Mbak, menulis adalah keterampilan terakhir dari 4 keterampilan berbahasa. Tahapannya, anak harus dapat menyimak/mendengar jika tidak ada masalah dengan pendengaran maka ia akan lebih mudah mendapat keterampilan berbicara. Bila keterampilan berbicara sudah ok baru boleh masuk tahap keterampilan membaca. Jika yang ini ok baru kita dorong untuk menulis


DUNIA BERMAIN ANAK
Tanya : 
Nah bunda.kalo main pasir kan ngeri kalo kena mata..boleh diganti tepung terigu ndak?
Jawab : 
Sebaiknya keduanya diperkenalkan karena keduanya punya tekstur berbeda. Pasir itu kasar dan tepung itu halus. Ini penting untuk melatih kepekaan indera perabanya. Dalam metoda montessori ini masuk area sensorial. Ini tahapan yang paling penting untuk mengasah kepekaan anak. Tidak usah khawatir dengan pasir yang benar Bunda mengajarkan cara mainnya...mana yang boleh dan tidak boleh

Tanya : 
Bunda mida, Iansung menanyakan sampai sejauh mana batas-batas untuk mmbiarkan anak dalam berkreatifitas? Langsung contoh kasus ya bunda. Ada temen yang anaknya mnurut saya keluar dari batas kreatifitas (mohon dikoreksi). Sebut saja ibu nya I, anakny A. A memukul anak tetangganya dengan batu sampai benjol dan sedikit berdarah. Namun komentar I "namanya anak-anak ga rame kalo ga gitu", dan A tidak ditegur. Untung saja ibu dari yang benjol itu tidak emosi. Tapi jujur kalo anak saya yang benjol, dan melihat I tidak menegur A, atau setidaknya minta maaf, saya akan menegur A walaupun disitu ada I, dan jika I tidak terima A ditegur orang lain (biasanya seperti itu) mungkin akan ada adu mulut. Hehe. Kejadian seperti ini sering terulang, dan akhirnya daripada saya cape hati, saya membatasi anak saya bergaul dengan I. Karena A juga memiliki beberapa masalah dengan tetangga sekitar karena karakternya yang 'aneh'. Jadi saya lebih memilih untuk meminimalkan interaksi dengan mereka. Bagaimana pandangan bunda tentang kasus saya itu? Jazakillah khoir..
Jawab : 
Batasan kreatifitas: Kreatifitas bagi anak adalah  melakukan sesuatu yang diluar keumuman  yang bernilai positif sebagai hasil olah pikir anak sesuai tahap perkembangannya.  Misalnya anak yang suka menggambar akan memiliki kreatifitas dalam mencoret dan memilih warna. Kebiasaan khasnya memenuhi  bidang atau dinding dengan berbagai bentuk coretan khas anak. Bagi orang dewasa kegiatan ini "mengotori" dinding. Kreatifitas lain yang kinestetik: sering disebut tukang  "ngoprek". Apa saja yang menurutnya menarik dan ingin diketahui cara kerjanya, pasti ia akan bongkar. Orang dewasa sering ngomel dengan istilah terima bongkar ngga terima pasang. Banyak kreatifitas yang muncul dari anak anak. Tetapi kasus A tadi itu bukan soal kreatifitas. Ini soal perilaku. Apabila sikap ibu seperti tadi, membiarkan anak bahkan melabeli kalau ngga gitu ngga rame...perlu diperiksa masa kecil si ibu seperti apa atau ia tumbuh dalam keluarga macam apa. Karena ini nanti akan diturunkan terus ke anak cucu. Ibunda A perlu diingatkan terus menerus agar ia tidak menyesal kemudian. Saat A beranjak remaja, perilaku kasarnya hanya akan menjadi bumerang bagi orang tuanya. Sikap kita...tentu memisahkan anak, menasihati A agar tidak berlaku buruk pada temannya dan Bunda harus mendorong A untuk meminta maaf pada anak yang sudah disakitinya. Bila cara ini tidak berhasil, langkah Bunda sudah benar, membatasi anak bergaul dengan A. Dan kalau perlu beri tuntunan pada anak apabila ia diperlakukan kasar tanpa sebab boleh dilawan sehingga A mendapat pelajaran bahwa ia tidak dapat berlaku kasar pada semua orang. Bagi anak kita, ini adalah pelajaran pertama self defense...kemampuan pertahanan diri saat ada teman sebayanya yang menyakitinya.

Wassalaualaikum Wr. Wb