Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Saat Hati Beralaskan Kepedihan

Kajian Online WA Hamba الله SWT (HA 115 Nanda)

Hari / Tanggal : Sabtu, 23 Agustus 2013
Narasumber : Ustadz Umar
Materi : Saat Hati Beralaskan Kepedihan

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
Mari kita buka kajian ini dengan bacaan basmallah

Saat Hati Beralaskan Kepedihan
By Umar Hidayat, M.Ag

"Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki, sebagaimana seekor burung diberi rizki; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (Hr. Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Allah begitu sayang kepada hambaNya. Meskipun sering kita beranggapan ketika kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat musibah atau cobaan dari Allah. Jarang sekali kita mengatakan bahwa nikmat yang diberikan Allah itu sebenarnya juga merupakan ujian dari Allah. Ada diantara kita yang tidak sanggup menghadapi ujian itu dan ada pula yang tegar dan sabar menghadapinya. Begitu kenikmatan datang bersyukurlah.

Di jalan dawah membuat kita menyadari betul bahwa kepedihan, kesusahan, masa sulit, melelahkan adalah sifat-sifat dari ujian dan menjalaninya dengan berbekal teguh pendirian di atas landasan kebenaran dan kesabaran. Allah mencintai hamba-hambaNya dengan cara yang unik dan berbeda-beda. Semakin tinggi ketakwaan seorang hamba, semakin unik cara Dia mencintainya. Seorang nabi yang diuji Allah dengan harta, keluarga serta badannya. “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)

Nabi Ayub tetap ingat Allah dalam suka dan dukanya. Ketika dalam keadaan suka ia tetap mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikan Allah. Ketika dalam duka iapun tetap sabar, ikhlas dan keimanan beliau malah semakin bertambah. Kesabaran menjadi kuncinya. Dakwah ini tidak mungkin mengisolasi diri dari masyarakat. Mustahil. Tapi ketika bergabung dan berbaur dalam masyarakat bukan tanpa resiko. Bahwa setiap amal pasti ada resiko yang harus ditanggungnya. Bahkan dakwah selalu hadir dalam setting yang menjelaskan keberadaan dakwah itu sendiri. Selalu saja ada serangkaian alasan kenapa dakwah dihadirkan? Seperti diisyaratkan Ibnu Majah yang menceritakan Sabda Rasulullah, “Orang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar dari perbuatan buruk mereka, itu lebih baik daripada orang mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar dari perbuatan mereka.”   

Didalam QS Al Baqarah [2] ayat 153 Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Kata sabar ini didalam Al Qur’an lebih dari seratus kali disebutkan. Begitu pentingnya makna sabar. Ia merupakan poros, sekaligus inti dan asas segala macam kemuliaan akhlak. Sabar ini selalu menjadi asas atau landasaannya orang beriman.

Mungkin bisa kita memaknai kesabaran sebagai suatu kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Menahan diri dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk mencapai ridho Allah SWT. Biasanya orang yang sabar adalah orang yang mampu menempatkan diri dan bersikap optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputus-asaan tapi merupakan optimisme yang terukur.

‘Iffah, menjaga kesucian diri, sejatinya merupakan bentuk kesabaran dalam menahan diri dari memperturutkan syahwat. Sedang syukur sejatinya bentuk kesabaran untuk tidak mengingkari nikmat dari Allah SWT. Dalam Qana’ah, merasa cukup dengan apa yang ada, sejatinya sikap sabar dengan menahan diri dari angan-angan dan keserakahan. Dalam diri Hilm, sikap lemah lembut, ada kesabaran dalam mengendalikan amarah. Dalam diri yang pemaaf sejatinya sabar untuk tidak membalas dendam. Demikian pula keutamaan akhlak lainnya, semuanya bersumbu pada kesabaran. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Qs. Al Ahzab 35.

Ingatlah para shohabiyah yang tangguh di jalan dakwah. Dialah Sumayyah, istri Ammar bin Yasir. Perempuan mantan budak yang dengan gagah beraninya menentang Abu Jahal sedang ia terus dihujani cambuk yang tiada henti. Segala usaha pun dilakukan oleh Abu Jahal agar ia mau melepaskan keimananya. Sumayyah sahid dalam keadaan dadanya dihujani tombak oleh Abu Jahal.

Perempuan-prempuan tangguh juga turut berperang bersama Rasulullah. Diriwayatkan istri-istri Rasulullah dalam perang Uhud ikut berperang. Rasul menempatkan mereka di di benteng Hassan. Ketika pertempuran di mulai, mereka menyediakan air untuk para mujahid. Ummu Sulaim beserta beberapa perempuan Anshar bertugas menyediakan air dan mengobati mujahidin yang terluka. Perjuangan merebut al-Aqsha di Palestina juga melibatkan kaum perempuan seperti Wafa Idrisi, Darin Abu Aisyah, Ayat al-Akhros, Andaleb Khalel Teqatibah, dan Elham el Dasuqi. 

Apa yang tersisa dari keseluruhan perjuangan ini? Mengarungi samudra ujian, halangan, rintangan dan cobaan? Pahala. Di jalan dawah kita berbenah sejarah dengan kiprah, perjuangan dengan segala menembus prahara meraih pahala.  Maka bukan tak mungkin kita memberi kabar gembira bagi malam yang gelap. Semua masih mungkin kalau esok lusa akan ada fajar dari puncak gunung, menyusuri tebing dan celah-celah lembah. Kalau engkau yakin  berikanlah kabar gembira bagi mereka yang dalam keadaan gelisah, goncang, jika Allah akan datangkan kegembiraan. Ada kelembutan tersembunyi dibalik penderitaan itu. Ingatlah, setiap ada muara pasti ada hulunya atau sebaliknya. Ada ujung ada pangkalnya, ada kesulitan pasti setelah itu ada kemudahan.

Lihatlah betapa Rasulullah SAW diusir dari kampung kelahirannya, Mekkah. Beliau hijrah ke Medinah dan mencari penghidupan baru disana, berkarya, bekerja dan berdakwah, sehingga jadilah beliau maju dan dapat membangun Medinah menjadi manusia-manusia bertaqwa, setelah mapan beliau baru kembali membangun asal negerinya, Mekah. Beliau dikenal dan dikenang dalam sejarah turun temurun. Ia menjadi pahlawan yang menyejarah.

Sejarah membuktikan Imam Ahmad bin Hanbal dipenjarakan, dicambuk. Apa yang beliau lakukan setelah itu? Beliau jadi Imam ahli Sunnah. Imam Ibnu Tayyimiyah keluar dalam tahanannya penuh dengan ilmu yang berlimpah ruah. Mengarang 20 jilid buku fiqh. Ibnu Katsir Ibnu jauzi di Baghdad Dan Imam Malik bin raib di timpa musibah yang hampir mematikan beliau, dengan penderitaannya itu beliau telah menulis qasidah yang benar-benar membuat orang terpukau,sya’ir-sya’ir beliau yang membuat orang membacanya terperangah dapat mengalahkan penyair-penyair Abbasiyyah yang termasyhur.

Apabila seseorang menimpakan kepadamu kemudharatan, dan apabila kamu ditimpa musibah, maka lihatlah dari sisi lainnya. Bila kegelapan menghampirimu, carilah titik terangnya. Apabila seseorang memberikan serigala yang galak kepadamu, maka ambillah kulitnya yang berharga, tinggalkan yang tak berharga. Apabila kamu diserang dan digigit kalajengking, ambillah obat antibiotik dari kalajengking itu juga, karena yakinlah didalamnya ada racun yang dapat mematikan kuman.

Begitupun bila kamu benci akan sikap seseorang, jangan jauhi ia, ambil dan lihat sisi baik darinya. Yakinlah bahwa ”‘Asaa antakrahuu syaiaan, wahuwa khairullakum“. Bisa jadi sesuatu yang kamu benci itu, malah ada kebaikan untukmu. Begitupun sebaliknya,.” Bisa jadi suatu yang sangat kamu cintai, ia tak baik dan menjadi mudharat untukmu juga “.

Selalu ada jalan keluar, Kata Syaikh DR. Aidh Bin Abdullah Al Qarni. Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah sunnah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk menerima kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Betapa pun kesedihan menimpa kita, tapi permudahlah urusanmu dan lapangkanlah pikiranmu. Bukankah firman Allah SWT mengingatkan kita" Alam nasyrah laka sadrak...." (Bukankah kami lapangkan dadamu). Tidakah engkau perhatikan sesungguhnya dalam diri Yusuf AS terdapat obat yang menyembuhkan kebutaan dua mata Ya'kub AS. Bukankah api yang menghimpit Ibrahim Al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Dan lautan di hadapan Musa AS bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus Bin Matta AS, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allah Al Jaliil (Yang Maha Mulia). Rasulullah Al Mukhtar (yang Terpilih) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar Ash Shiddiq ra, "Sesungguhnya orang-orang kafir hanya berjarak beberapa jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran." Berkata Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, "Sesungguhnya Allah bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.”

Adalah Bilal pernah terkapar di atas tanah tandus, tapi dialah yang kemudian menaiki Ka'bah Baitullah untuk mengumandangkan seruan adzan. Dialah yang memperdengarkan bumi dengan suara langit. Adalah Yusuf AS pernah lama terpenjara di balik jeruji besi. Tapi kemudian ia bisa menjadi seorang Raja Mesir setelah Al-Aziz. Allah pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguh ada kemudahan akan Allah berikan setelah kesulitan? Disebutkan QS. An Nasyr: 5-6 ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman, “Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7). 

Nah, Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.” (Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/42, Mawqi’ At Tafasir dan Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/247, Mawqi’ At Tafasir.) Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.” (Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/154,) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersama kesulitan, ada kemudahan.” (HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini?

Selain itu Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya (QS. Ath Tholaq: 3).” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238) Inilah rahasia tawakkallah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.
Semoga bermanfaat.

Kajian on line. Yogyakarta, sabtu, 23 Agst 2014 jam 13.00 sd 15.00 (Disarikan dari Bk; Merindukan Jalan Dakwah, Pro-U media, by. Umar Hidayat)

PERTANYAAN

🎊 Ustadz saya mau bertanya jika hati disakiti lebih baik kita sabar dan mendo'akan orang tersebut atau kita membalasnya? Karena tidak ada larangan kan utk membalasnya asalkan membalasnya dengan setara seperti memukul kita balas dengan memukul dsb?
Jawab
bersabar dan mendoakannya pada orang yang menyakiti kita itu lebih utama / lebih mulia dari membalasnya. Itulah yang di contohkan Rasulullah. Saat Rasulullah selalu diburu dan disakiti abu lahab dkk. Termasuk dalam kisah masuknya Rasulullah ke thaif dengan di lempari batu kotoran dll bahkan saking ngenesnya malaikat menawarkan jasa tuk membalasnya, tapi Rasulullah tidak mengiyakan. Rasul memilih mendoakan dan berharap anak keturunan mereka semoga menjadi bariaan dakwah diin ini. Allah kabulkan doanya, salah satunya ikrimah bin abu jahal masuk islam. Membalas kebencian dengan kebencian hanya akan memperpanjang sakit di hati dan terpeliharanya kepedihan. Pada saat yang sama kita banyak kehilangan waktu tuk sesuatu yang negatif. Jadi tidak produktif.

Tips agar tetap tegar dalam kesabaran dan  kepedihan berlepas dari hati:
  1. Kesiapan kita menghadapi kenyataan. Dalam hidup ini kita harus siap menerima sesuatu kenyataan yang sesuai dengan harapan kita, serta kita juga harus siap menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Dalam kehidupan ini, kita memang diharuskan memiliki harapan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar. Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan. Ketahuilah kita punya rencana, Allah SWT pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah SWT.
  2. Kita harus Ridho atas apa yang terjadi. Yups..setelah siap menghadapi berbagai kenyataan yang terjadi baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan harapan. Maka selanjutnya kita harus Ridho dengan kenyataan yang terjadi itu. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan, kecewa berat tetap saja kenyataan sudah terjadi. Jadi ridho tidak ridho kejadian tetap sudah terjadi, maka lebih baik hati kita ridho. Ridho itu hanya amalan hati kita menerima kenyataan yang ada sesuai dengan apa yang Allah SWT berikan. Hati yang ridho ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal dan bermutu.
  3. Ketika ada yang mudah kenapa harus mempersulit diri. Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisir dan mempersulit diri, sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri, selain tidak pada tempatnya, juga pasti membuat masalah akan menjadi besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan aslinya dan tentu ujungnya akan terasa jauh lebih nelangsa, lebih repot dalam menyelesaikannya. Maka dalam menghadapi persoalan apapun, jangan hanyut dan tenggelam dalam pikiran yang salah, kita harus tenang, menguasai diri, renungkanlah janji dan jaminan pertolongan Allah SWT, dan bukanlah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata bisa lolos pada akhirnya, tidak segawat yang kita perkirakan sebelumnya.
  4. Kuatkan Muhasabah Diri. Ketahuilah hidup ini bagai gaung di pegunungan, apa yang kita bunyikan suara itu pulalah yang akan kembali pada kita, artinya segala apa yang terjadi pada diri kita adalah bisa jadi buah dari apa yang kita lakukan baik disadari maupun yang tidak disadari. Evaluasilah.
  5. Jadikanlah Hanya Allah-lah Satu-satunya Penolong. Andaikata kita sadar dan meyakini bahwa bekal yang sangat kokoh untuk mengarungi hidup ini sehingga kita tidak gentar menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita sebenarnya Allah SWT, berikut segala jalan keluar terbaik menurut pengetahuan-Nya. sandaran terkuat hanya mungkin kita lakukan hanya kepada yang Maha Perkasa, Allah Swt. Cobalah dengan sepenuh azzam dan kesabaran.......karena sesungguhnya rahmat allah itu sangat dekat dg orang-orang yg muhsin.

🎊 Ustad,,gimana caranya biar bisa ikhlas melepaskan orang yang sudah pergi?
Jawab
Melepas orang yang pernah berinteraksi dengan kita, apalagi ada orbit cinta di dada, bukan perkara mudah. Maka sebaik-baik cinta seorang hamba adalah cinta disandarkan pada yang Maha Cinta Allah Swt. Cintailah dan bencilah segala sesuatunya karena Allah. Karena kalo cinta sekedar disebabkan makhuk kecewa yang kita dapatkan. Karena boleh jadi sesuatu yang kita cintai ternyata Allah benci. Ia berpisah meninggalkan kita, boleh jadi itulah yang terbaik. Mungkin kalo tetap bersama mudharat itu semakin menjadi. Jadi ikhlaskanlah.

🎊 Bagaimana ya menghilangkan rasa sakit hati yang disebabkan orang yang telah berbuat dzolim terhadap kita, rasanya susah sekali menghilangkan perasaan sakit hati itu walaupun sebenarnya ingin memaafkan.
Jawab
Semua bisa dikelola

Tadi saya bilang sampe jam 15
Kita tutup dulu besok kita sambung lagi. Ini mau ngisi kajian offline
Wasslkm wr wb