Home » , » Tarbiyah dan Muwasofat Tarbiyah ke-1 (Salimul Aqidah)

Tarbiyah dan Muwasofat Tarbiyah ke-1 (Salimul Aqidah)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Saturday, September 6, 2014

KAJIAN ONLINE WA HAMBA  اللَّهِ SWT (HA 113 Nanda)

Hari / Tanggal : Sabtu, 16 Agustus 2014
Narasumber : Ustadzah Ira Wahyudiyanti, SE
Materi : Tarbiyah dan 10 Muwasofat Tarbiyah
Editor : Ana Trienta & Nofita

Apa itu Tarbiyah dan kepribadian muslim sejati? Hari ini kita akan  membahas tentang apa itu Tarbiyah dan kepribadian muslim sejati.

Pengertian Tarbiyah dan Muwasofat Tarbiyah ke-1 (Salimul Aqidah)
Secara umum, Tarbiyah dapat dikembalikan kepada 3 kata kerja yang berbeda, yakni :
  1. Rabaa-yarbuu yang bermakna namaa-yanmuu, artinya berkembang.
  2. Rabiya-yarbaa yang bermakna nasya-a, tara’ra-a, artinya tumbuh.
  3. Rabba-yarubbu yang bermakna aslahahu, tawallaa amrahu, sasa-ahuu, wa qaama ‘alaihi, wa ra’aahu, yang artinya masing memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga dan memeliharanya (atau mendidik).
Makna Tarbiyah adalah sebagai berikut: 
  1. Proses pengembangan dan bimbingan, meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir si anak didik tumbuh dewasa dan hidup mandiri di tengah masyarakat.
  2. Kegiatan yang disertai dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian, bijak, dan menyenangkan (tidak membosankan).
  3. Menyempurnakan fitrah kemanusiaan, memberi kesenangan dan kemuliaan tanpa batas sesuai syariat Allah SWT.
  4. Proses yang dilakukan dengan pengaturan yang bijak dan dilaksanakan secara bertahap dari yang mudah kepada yang sulit.
  5. Mendidik anak melalui penyampaian ilmu, menggunakan metode yang mudah diterima sehingga ia dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Kegiatan yang mencakup pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan.


Terdapat dua komponen dalam proses tarbiyah yaitu murabbiy/yah dan mutarabbiy/yah. Murabbiyah atau yang sering dikenal mentor merupakan orang yang memberikan pendidikan pembinaan kepada mutarabbiyah. Sedangkan mutarabbiyah merupakan peserta binaan.



Apakah itu Muwasafat Tarbiyah?


DEFINISI : Muwasafat Tarbiyah adalah kriteria yang perlu ditanamkan dalam diri untuk menjana keperibadian Muslim yang syumul (menyeluruh)


1) Aqidah yang selamat/lurus (Salimul Aqidah)


Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162).
Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid. Beberapa contoh dari penerapan Salimul Aqidah, yaitu:

1) Tidak mengkafirkan seorang muslim;
2) Tidak mengedepankan makhluq atas Khaliq;
3) Mengingkari orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah swt dan tidak bergabung dalam majlis/kelompok mereka;
4) Tidak menyekutukan Allah swt, dalam Asma-Nya, sifat-Nya dan Af’al-Nya;
5) Tidak meminta berkah dengan berdoa di kuburan
6) Berteman dengan orang-orang shalih dan meneladaninya
7) Merasakan adanya para malaikat mulia yang mencatat amalnya;
8) Tidak berhubungan dengan Jin dan Tidak meminta bantuan dari orang yang bergantung pada bantuan jin
9) Tidak mengundi nasib
10) Tidak bersumpah dengan selain Allah
11) Tidak mempercayai adanya sial
12) Menerima sepenuhnya ketentuan dari Allah dan Mengikhlaskan amal hanya karena Allah
13) Bersyukur kpd Allah SWT ketika menerima nikmat sekecil apapun
14) Tidak mempercayai ramalan bintang dan sejenisnya

Materinya memang terkesan tekstual tetapi sebenarnya kalau di hayati makna aqidah ini dalam sekali:
Kita harus menyembah Allah dengan memurnikan keesaanNya tidak tercampur oleh syirik sedikit pun.
Meminta pertolongan hanya pd Allah semata tidak dgn manusia.
Meyakini bahwa islam adalah agama yg paling benar dan paling lurus.
Bangga sebagai seorang muslim.
Menjaga pergaulan untuk menjaga aqidah dan agamanya (memilih teman yang baik) karena agama seseorang itu terlihat teman yang berada di sampingnya.

 PERTANYAAN DAN JAWABAN:

1. Aku mau tanya  apa yang dimaksud dengan istirja'?
Jawab :
Pentingnya Istirja’ ketika diuji musibah
Istirja’ adalah ucapan:
إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُونَ 
“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”
Rasulullah SAW bersabda, "Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Allahumma'jurni fi mushibati wa ahlif li khairan minha (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita dikembalikan. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini dan berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya) niscaya Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibahnya dan akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya." (HR Muslim).
Dengan mengucapkan kalimat istirja, berarti kita telah memperoleh salah satu ciri orang yang sabar. Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 155, ketika Allah SWT menyebutkan, "Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." Dan kita ketahui bersama bahwa innallaha ma'ashabirin (sesungguhnya Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar). Kalimat istirja ini, jika diucapkan, selain kita akan memperoleh ganjaran (pahala) karena telah mengikuti sunah Rasulullah SAW, kita juga akan memperoleh banyak manfaat darinya. Ucapan Inna lillahi (sesungguhnya kita milik Allah), mengandung pengertian bahwa diri kita, keluarga, dan harta benda yang kita miliki pada hakekatnya adalah milik Allah SWT. Adapun Allah SWT jadikan hal itu semua dimiliki oleh manusia sebagai suatu pinjaman (amanah). Sehingga, apabila semua yang kita miliki diambil oleh pemiliknya, maka kita harus ikhlas dan ridha. Kita tidak boleh berprasangka buruk.
Jadi kalimat istirja ini bisa menjadi hiburan buat kita maka kita tidak akan bersedih dengan kesedihan yang mendalam. Kalimat (istirja) inipun sekaligus sebagai peringatan agar kita memperkuat iman dan amal saleh. Sebab, hanya iman dan amal saleh yang akan kita bawa ke hadapan Allah SWT kelak.
2. Dosa yang tidak bisa diampuni itu syirik kan ustadzah, tapi yang mau saya tanyakan di sini apa dosa terhadap orang jika tidak mendapat maaf dari orang yang disalahi tidak mendapat ampunan dari Allah, padahal orang tersebut sudah minta maaf kepada orang yang disalahi dengan sungguh-sungguh.
Jawab :
Kewajiban kita yang bersalah adalah meminta maaf. Kalau kesalahan itu menyangkut barang atau hak milik, kita juga berkewajiban mengembalikan barang itu kepada orang yang bersangkutan. Kalau itu semua sudah kita lakukan semata-mata karena takut siksa Allah, kewajiban kita insyaAllah sudah lepas, walaupun yang bersangkutan tidak mau memaafkan. Tinggal kita memperbanyak berdoa untuk kebaikan orang tersebut. Bahkan kalau perlu kita terlebih dahulu memaafkan kesalahan orang tersebut kepada kita (jika ada).
   
3. Mau tanya kalau ada orang minta tolong kepada seseorang (kyai/orang pinter) tapi ia berkeyakinan bahwa Allah lah yang menolongnya/menyembuhkan, mereka hanya perantara. Bagaimana aqidahnya sebagai orang muslim? Syukron.
Jawab :
Pengobatan alternatif yang sering "menjebak" umat Islam adalah pengobatan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran dan dengan doa-doa berbahasa Arab.
"Dokter"-nya pun tak jarang yang menamakan diri sebagai kiai atau ustadz, padahal di dalamnya terdapat unsur-unsur syirik.
MUI sudah mengeluarkan fatwa pada Mei 2006 tentang pengobatan alternatif ini. Intinya, pengobatan alternatif dibolehkan, dengan syarat tidak mengandung syirik dan sihir. Artinya, jika mengandung syirik dan sihir seperti dengan bantuan jin maka diharamkan.
Beragam cara/modus dilakukan dalam pengobatan alternatif, misalnya dengan mentransfer atau "memindahkan" penyakit kepada bintang seperti kambing, menggunakan kekuatan do'a, jampi-jampi yang dilakukan oleh dukun/paranormal.
Praktek pengobatan semacam ini, menurut mayoritas ulama, bisa dipastikan menggunakan bantuan jin. Sebab, secara fithrah manusia tidak diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk memindahkan suatu penyakit kepada makhluk atau benda lain, tanpa menggunakan media yang normal.
Terakhir pesan saya : berhati-hati dengan paham-paham/aliran-aliran yang salah, pelajari agama lebih mendalam.
Jangan takut dengan manusia, takut hanya kepada Allah Katakan kebenaran sekalipun itu pahit untuk kita Berbahagialah para Ghuroba (orang yang tersisih karena mempertahankan agama dan sunnah Rasul) sekian dulu ya.

TAMBAHAN PERTANYAAN HA 102
TANGGAL 5 SEPTEMBER 2014

1. Kalo liqo itu sama kan seperti tarbiyah? Jawab
iya betul mba Hanny Liqoat (Halaqoh) sebagai sarana untuk melalukan kegiatan Tarbiyah (mendidik)
2. Apa ada pendidikan khusus untuk morobbiyah utadazah? Jawab
Jadi begini nanda Asih : Murrobi adalah seorang da’i yang membina mad’u dalam halaqah. Ia bertindak sebagai qiyadah ( pemimpin ), asatidz ( guru ), walid ( orang tua ), dan juga shohabah ( sahabat ) bagi mad’unya (binaannya). Setiap diri kita adalah dai “Nahnu Du’at qabla Kulli Syai in”. Kita adalah da’i sebelum menjadi apapun. Bahwa pada dasarnya, kita adalah seorang da’i sebelum kita menjabat suatu profesi apapun. Wasiat ustad Hassan Al-Banna di atas dapat menjadi cerminan, bahwa pada hakikatnya, seorang muslim adalah pendakwah. Ketika seseorang menuntut ilmu dan memiliki pengetahuan, saat itu pula ia memiliki kewajiban untuk menyebarluaskan ilmu yang dimilikinya tersebut sesuai kapasitas dan sakofah ilmu yang dimilikinya
3. Bagaima untuk menjaga agar aqidah kita selalu bersih (salimul aqidah)? Jawab : 

  • Dengan mentafakuri arti iman yang sebenarnya Mba, bukan iman sebatas kata atau perasaan saja. Muhasabah diri juga, jika ketika kita diberi ujian kita malah down itu tandanya iman kita masih lemah. Pembahasan ini cukup panjang nanti kita masih ada waktu coba saya jabarkan kembali
  • Menimba ilmu agama terus menerus hingga tidak terjebak dalam pemikiran yang keliru atau suatu tindakan dalam agama yang tidak ada landasan dalil/hujjahnya
4. Seperi apakah liqoat (halaqoh) itu? Apakah manfaatnya untuk kita? Siapa yang mengadakan liqoat(halaqoh) tersebut?
5. Ustadzah, apakah tarbiyah itu hanya dimaknai sebagai perkumpulan-perkumpulan seperti liqo (halaqoh) yang sifatnya mendalami islam ataukah pendidikan di sekolah formal juga bisa disebut tarbiyah? Jawab Untuk jawaban 4&5 saya gabung karena inti pertanyaannya sama. Liqo berasal dari kata Halaqah yang berarti lingkaran atau kumpulan, jadi sekelompok orang berkumpul bersama seorang murrobi dalam suatu majelis ilmu, kaitan Tarbiyah dan liqoat adalah, Tarbiyah merupakan Manhaj dakwah (metode dakwah) para nabi dalam menyampaikan risalah-risalah dan ilmu Allah, Tarbiyah sendiri berarti Pendidikan. sedangkan Liqo adalah sarana/wadah Tarbiyahnya
6. Sakofah itu apa ya ustadzah? Jawab
sakofah itu pengetahuan, ukhti

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadualla ilahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik.
Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih). 
Sekian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaykum wr.wb.

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!

Artikel Baru