Home » , , » HADIST MEMAHAMI TAKHRIJ

HADIST MEMAHAMI TAKHRIJ

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Saturday, September 27, 2014

KAJIAN ONLINE  HAMBA اَللّه TELEGRAM
Jumat, 26/09/2014
Narsum: Ustad Khalid Syamhudi Lc
Materi: Hadist Memahami Takhrij
Rekap: Nurza
Editor: Selli
Pengertian Takhrij
Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja ( خَرَجَ ) yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata al-ikhraj ( اْلِإخْرَج ) yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan al-makhraj ( المَخْرَج ) artinya artinya tempat keluar; dan akhrajal-hadits wa kharrajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.
Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan.
kita coba jelaskan hadits shahih dulu.
1. Definisi hadits shohih.
Hadits yang shohih adalah hadits yang bersambung sanadnya dari awal hingga akhir baik itu Nabi atau sahabat atau yang dibawahnya dengan syarat para perawinya adil dan memiliki kesempurnaan Dhabth tanpa adanya syadz dan ilat yang merusaknya.
Inilah definisi hadits shohih lidzatihi yang sudah disepakati para ulama hadits .
Dari definisi ini dapat dijelaskan bahwa keluar dari definisi ini :
- Shohih lighoirihi karena ia butuh penguat dari jalan lain (Mutaabi’) atau  penguat dari hadits lainnya (syaahid) yang manguatkanya dan menjadikannya shohih.
- Hadits-hadits yang tidak bersambung sanadnya, seperti munqathi’, mu’dhal, mursal, dan mu’allaq
- Hadits-hadits yang ada perawinya yang tidak adil, seperti matruk, maudhu’ dan mungkar –versi penulis manzhumah-.
- Hadits-hadits yang ada perawinya yang tidak sempurna Dhabthnya atau dicela karena kelemahan dalam hal ini, sepeti hadits hasan dan hadits dha’if
- Hadits-hadits yang menyelisihi yang lebih kuat dan rojih darinya, seperti hadits Syaadz dan hadits mungkar –versi mayorita ulama hadits dan dirojihkan ibnu Hajar.
- Hadits-hadits yang ada illat yang merusaknya, seperti hadits muallal dan mudallas apabila pelaku tadlisnya tidak menyampaikan kejelasan mendengarnya dengan lafazh jelas.
2. Syarat hadits Shohih.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hadits yang shohih memiliki 5 Syarat.
a. Sanadnya bersambung. Maksudnya setiap perawi mendengar langsung dari gurunya.
b. Al-‘Adalah (adil). Maksudnya disini para perawi memiliki kemampuan yang membuatnya dapat konsisten dalam ketakwaan dan menjauhi kefasikan dan perusak muru’ah (harga diri dan kehormatannya). Hal ini dapat dijabarkan dengan muslim, baligh dan berakal yang tidak melakukan perbuatan dosa besar dan tidak terus menerus berbuat dosa kecil serta tidak berbuat perbuatan yang merusak muru’ahnya.
c. Kesempurnaan Adh-Dhabth. Pengertiannya adalah kekuatan hafalan dan penjagaannya. Para ulama membagi sifat adh-Dhabth menjadi dua:
• Ad –Dhabt ash-Shadr yaitu kemampuan untuk menyampaikan hafalannya kapan saja dan dimana saja.
• Ad –Dhabt al-Kitaabah yaitu kemampuan untuk menjaga kitab dan tulisannya sejak mendengarnya hingga menyampaikannya.
d. Tidak ada syadznya.
e. Tidak ada illat yang merusaknya.
3. Contoh hadits shohih.
Contohnya adalah hadits yang berbunyi:
قَالَ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ الأَنْصَارِيْ قَالَ أَخْبَرَنِيْ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيْ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيْ يَقُوْلُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ :( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ )
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengetahui hadits shohih setelah mendapatkan sanad dan matannya adalah sebagai berikut:
a. Mengenal kedudukan dan pendapat para ulama tentang perawi yang ada dalam sanad satu persatu. Dalam hadits ini terdapat nama-nama perawi sebagi berikut
1Abu Bakar Abdullah bin az-Zubeir bin ‘Isaa al-Humaidi. Nasab beliau bertemu dengan Khodijah ummul mukminin pada Asad dan dengan Nabi pada Qushai. Seorang imam besar yang menemani Syafi’I dalam mencari ilmu dari Ibnu ‘Uyainah dan mengambil fikih dari beliau. Beliau seorang tsiqah hafizh dan faqih serta termasuk murid besar ibnu ‘Uyainah.  Beliau menemani imam asy-Syafi’I hingga ke Mesir dan baru pulang ke Makkah setelah asy-Syafi’I  wafat hingga meninggal tahun 219 H.
2Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imron al-Hilali al-Kufi kemudian al-Makki. Beliau kelahiran kufah dan menetap di Makkah. Beliau mendengar lebih dari 70 tabi’in. ibnu Hajar menyatakan: beliau seorang Tsiqat hafizh faqih imam hujjah namun berubah hafaمannya diakhir hayatnya dan melakukan tadlis namun hanya dari para perawi yang tsiqah. Beliau adalah orang yang paling bagus hafalannya dalam hadits Amru bin Dinaar. Beliau termasuk murid dari Yahya bin Saa’id al-Anshori. Meninggal pada bulan rajab tahun 178 H dalam usia 71 tahun
3Abu Sa’id Yahya bin Sa’id bin Qais bin ‘Amru al-Anshori al-Madani al-Qaadhi seorang tsiqah tsabat dan meninggal tahun 144 H
4Abu Abdillah Muhammad bin Ibrohim bin al-Haarits bin Kholid at-Taimi al-Madani seorang tsiqah meninggal tahun 120 H.
5Alqamah bin Waqqaash al-Laitsi al-Madani seorang tsiqah tsabat dan meninggal pada masa kekhilafahan Abdulmalik bin Marwan
.6Umar bin al-Khothob al-‘Adawi sahabat nabi dan kholifah rasyid yang kedua
b. Mengenal bersambung atau tidaknya sanad hadits yang sedang dicari hukumnya, dengan cara melihat kepada lafazh simaa’ nya. Didapatkan semua perawi menyampaikan dengan lafazh yang jelas gamblang mendengar dari perawi diatasnya, sehingga dapat dipastikan mereka mendengar langsung dari perawi siatasnya.
c. Mengumpulkan jalan periwayatan hadits yang ada baik dalam riwayat lainnya atau hadits dari sahabat lainnya untuk diketahui apakah ada yang menyelisihinya atau ada illah (penyakit) yang merusak kebasahan hadits tersebut.
d. Kemudian baru dapat menghukum hadits tersebut termasuk shohih atau tidak.
Ternyata bila kita terapkan syarat-syarat hadits shohih didapatkan semuanya ada pada hadits ini. Sehingga dihukumi sebagai hadits shohih
Contoh kedua
قَالَ مُسْلِمٌ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ طَلْحَةَ قَالَ حَدَّثَنِى أَبُو أَيُّوبَ أَنَّ أَعْرَابِيًّا عَرَضَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ فِى سَفَرٍ. فَأَخَذَ بِخِطَامِ نَاقَتِهِ أَوْ بِزِمَامِهَا ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ - أَوْ يَا مُحَمَّدُ - أَخْبِرْنِى بِمَا يُقَرِّبُنِى مِنَ الْجَنَّةِ وَمَا يُبَاعِدُنِى مِنَ النَّارِ. قَالَ فَكَفَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ نَظَرَ فِى أَصْحَابِهِ ثُمَّ قَالَ « لَقَدْ وُفِّقَ - أَوْ لَقَدْ هُدِىَ - قَالَ كَيْفَ قُلْتَ ». قَالَ فَأَعَادَ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ دَعِ النَّاقَةَ ».
(صَحِيْحُ مُسْلِمٍ - باب بَيَانِ الإِيمَانِ الَّذِى يُدْخَلُ بِهِ الْجَنَّةُ وَأَنَّ مَنْ تَمَسَّكَ بِمَا أُمِرَ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengetahui hadits shohih setelah mendapatkan sanad dan matannya adalah sebagai berikut:
a. Mengenal kedudukan dan pendapat para ulama tentang perawi yang ada dalam sanad satu persatu. Dalam hadits ini terdapat nama-nama perawi sebagi berikut:
1Abu Abdurrahman Muhammad bin Abdullah bin Numair al-Hamdani al-Kufi seorang tsiqah hafizh fadhil meninggal tahun 234 H.
2Abu Hisyam Abdullah bin Numair al-hamdani al-Kufi seorang tsiqah shohib al-Hadits dari ahli sunnah meninggal tahun 199 H dalam usia 84 tahun.
3Abu Sa’id Amru bin Utsman bin Muhib at-taimi Maulahum al-Kufi seorang tsiqah
4Abu Isa atau Abu Muhammad Musa bin Tholhah bin ‘Ubaidillah at-Taimi al-Madani seorang tsiqah yang mulia meninggal tahun 103 H
5Abu Ayyub sahabat Nabi yang mulia
b. Mengenal bersambung atau tidaknya sanad hadits yang sedang dicari hukumnya, dengan cara melihat kepada lafazh simaa’ nya. Didapatkan semua perawi menyampaikan dengan lafazh yang jelas gamblang mendengar dari perawi diatasnya, sehingga dapat
dipastikan mereka mendengar langsung dari perawi siatasnya
c. Mengumpulkan jalan periwayatan hadits yang ada baik dalam riwayat lainnya atau hadits dari sahabat lainnya untuk diketahui apakah ada yang menyelisihinya atau ada illah (penyakit) yang merusak kebasahan hadits tersebut
d. Kemudian baru dapat menghukum hadits tersebut termasuk shohih atau tidak
Ternyata bila kita terapkan syarat-syarat hadits shohih didapatkan semuanya ada pada hadits ini. Sehingga dihukumi sebagai hadits shohih
Bila kita terapkan syarat-syarat hadits shohih didapatkan semuanya ada pada hadits ini
sudah dulu, nanti kepanjangan

:: “Ά‎​kû mau cintai kekuranganmu”
LELAKI itu yg berani berkata dengan kalimat diatas.. bukan yang selalu menuntut kesempurnaan dan selalu melihat istrinya dengan sebelah mata lebih-lebih membandingkannya dengan kelebihan wanita lain.
Mungkin fisik dan perangainya ada kekurangan tapi pasti akan didapati kelebihan dari sisi lain.. “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika tidak menyukai salah satu sifatnya ia akan menyenangi sifat lainnya”. [HR. Muslim]
Persepsi lelaki dalam menilai apa saja yang dapat mendatangkan kecintaan kepada wanita yang disukainya memang relatif, tapi insyaallah hadits berikut cukup untuk menggambarkan..

“Ditanyakan kepada Nabi; “Apakah ciri wanita yang paling baik” Beliau menjawab; “Sebaik-baik wanita adalah yang membuatmu senang ketika memandangnya, yang mentaatimu ketika engkau perintah, yang tidak menentang suami pada dirinya dan tidak juga pada hartanya dengan melakukan sesuatu yang dibencinya”. [Shahihul Jami’ 3298 dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu]
  قال السندي: "تسره إذا نظر: أي لحسنها ظاهراً، أو لحسن أخلاقها باطناً، ودوام اشتغالها بطاعة الله والتقوى". ا. هـ 
Berkata Al Sindy tentang sabda Nabi; “yang membuatmu senang ketika memandangnya”, yaitu.. karena kecantikannya secara dzahir dan kemuliaan akhlaqnya secara bathin, dan senantiasa menyibukkan diri dalam ketaatan dan ketakwaan”. [Hasyiyah Al Sindy 6/68]
Suami shaleh itu senang ketika istrinya cantik luar dalam dan selalu berusaha mendekat dan taat kpd Allah.(Hafdjoyodikromo)
-------------------------------------------
TANYA JAWAB
a. Pertanyaan
1. Program Badal Haji, apakah boleh haji di badalkan dan difasilitasi pak ustad?
2. Mau tanya ustadz, saya punya teman dulu dia taat banget agamanya sampai dia mmpelajari ilmu sufi
Tapi beberapa bulan belakangn ini setelah dia bilang nggak kuat untuk meneruskan belajar ilmu sufinya kok agamanya bukannya makin bagus tapi menurun ya?  yang saya tanyakan apa benar kalau kita nggak kuat mempelajari ilmu sufi malah akan bikin kita stres & menurun ya ketaqwaan kita?
b. Jawaban
1. Maaf saya belum haji...ahsan ust Hilman yang jawab
Membadalkan haji orang yang sudah meninggal boleh (apalagi jika si wafat tersebuut punya keinginan pergi haji semasa hidup) tapi yang membadalkan harus sudah menunaikan haji terlebih dahulu sebagai kewajiban bagi dirinya sendiri, dan jika si wafat adalah bapak atau ibu akan lebih baik dibadalkan oleh anaknya....
Tapi boleh juga orang lain, terkadang para pembimbing haji dari KBIH, mereka suka membadalkan haji sekaligus membimbing haji, dan itu lebih murah biayanya, karna sipembimbing sesungguhnya sudah dapat biaya haji dari travel dan yang di bayar hanya jasanya....
Kalau sekarang ada khusus travel seperti di atas saya berasumsi yang dilakukan adalah seperti yang saya sebutkan tadi, apakah itu diperbolehkan secara syar'i atau tidak saya kurang faham...
Bahkan bisa kurang dari setengah biaya haji...
Buat saya pribadi jika ingin membadalkan jangan pakai fasilitas seperti itu, karna :
- Kita tidak faham atau kenal orang yang membadalkan haji
- Kekhawatiran akan amanah atau tidak
- Ibadah haji akan nikmat dan terasa jika kita lakukan sendiri
Jadi jika memang tidak ada yang bisa membadalkan dari anak, menantu, carilah orang yang dikenal dan bisa di percaya...
Mungkin mahal secara biaya tp kita yakin ibadah tersebut dilakukan dengan baik
Mungkin ada ustadz, ustadzah yangg lebih faham secara syar'i...
2. Saya tidak faham dengan sufi yang dimaksud...tapi biasanya kalau dikampung...ada ajaran ajaran yang tidak jelas asal usul nya....dan tidak bersumber dari quran hadits...sehingga ketika mempelajarinya malah jadi gila... naudzubillah
Maksudnya mungkin ingin semakin mendekatkan diri kepada Allah...tapi cara yang ditempuh tidak sesuai quran hadits...jadi nyasar dah
Ada tulisannya Ust Hartono Ahmad Jaiz yang membahas masalah sufi.
Intinya (mohon diluruskan) Allah itu ingin disembah oleh manusia...menurut cara yang Allah kehendaki....bukan semau mau manusia. Jadi...tidak boleh itu dzikir over dosis.... Atau puasa mutih, puasa niis...dsbnya. Ingat prinsip ibadah itu, niatnya karena Allah, caranya sesuai tuntunan Rosulullah saw. Ya...kadang manusia tertipu oleh hal-hal aneh demikian semoga Allah swt melindungi kita semua.
PENUTUP :
Doa Kafaratul Majelis :
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.                              ​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!

Artikel Baru