Home » » Kemuliaan dan Kebebasan Wanita Dalam Islam

Kemuliaan dan Kebebasan Wanita Dalam Islam

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, September 30, 2014

Rekap harian kajian
HAMBA ALLAH 16
Nara sumber.  :Ustadz Doli
Materi.            :Kebebasan Wanita Dalam islam

Assalamu’alaikum
Bismilahirohmanirohim

Allah SWT berfirman:
               "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keaduan beragama Islam." (Ali Imran: 102)
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahlm. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (an-Nisa': 1)
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (al-Ahzab: 70-71)
Pertama izinkan kami mengutip beberapa  bagian  BAB Pendahuluan dari satu buku yang ditulis oleh Ustadz Prof Dr Abdul Halim Abu Syuqqah yang terjemahan dalam bahasa Indonesianya diberi judul

KEBEBASAN WANITA

             Kondisi wanita muslimah pada masa kenabian memberikan gambaran yang jelas sekali tentang udara kebebasan yang dapat dihirup kaum wanita. Yang mendorong penulis mengerjakan proyek baru ini adalah bahaya besar yang pernah dan masih penulis rasakan, yaitu dominasi visi dan persepsi yang bertolak belakang dengan ajaran agama mengenai emansipasi wanita. Apalagi, sikap yang bertolak belakang dengan ajaran agama itu sudah sangat kental terdapat dalam jiwa beberapa kelompok umat Islam yang taat beragama dan antusias sekali menegakkan syariat Islam, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Mengatakan yang hak itu hak dalam soal wanita sama pentingnya dengan mengatakan yang hak itu adalah hak dalam aspek mana pun dari aspek-aspek syariat karena kedua-duanya sama-sama memperjuangkan agama Allah. 
 Namun demikian, masalah wanita memiliki urgensi tersendiri karena beberapa pertimbangan berikut:
  1. Bagi seorang muslim, wanita adalah ibu, saudara perempuan, istri, atau anak perempuan. Jika keempat status itu dihimpun oleh seorang wanita, maka manusia manakah yang lebih mulia daripadanya?
  2. Wanita muslimah paling sering dijadikan mangsa oleh dua jenis jahiliah: jahiliah abad keempat belas hijrah, yaitu jahiliah dalam sikap yang berlebihan, keras, dan taklid buta yang dimiliki oleh kaum bapak, dan jahiliah abad kedua puluh masehi, yaitu jahiliah yang memamerkan aurat, melakukan seks bebas, dan taklid buta terhadap Barat. Kedua jenis jahiliah tersebut tidak sesuai sama sekali dengan syariat Allah.
  3. Rasulullah saw. bersabda: "Wanita itu adalah saudara kandung pria." (HR Abu Daud)1 Menolong wanita muslimah berarti menolong insan muslim dengan kedua belah pihaknya, yaitu yang teraniaya dengan menyadarkan dan membersihkannya serta yang menganiaya dengan mengembalikannya ke jalan yang benar dan tidak berbuat aniaya lagi, sebagai pelaksanaan terhadap perintah Nabi saw. yang berbunyi: "Bantulah saudaramu yang menganiaya atau yang teraniaya." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, yang ini kami bantu karena dia teraniaya. Tetapi bagaimana kami membantunya kalau dia yang menganiaya?" Rasulullah saw. menjawab: "Kalian tahan tangannya." Dan menurut satu riwayat: "Kamu cegah dia dari berbuat aniaya, itulah pertolongan kepadanya.
  4. Wanita adalah setengah masyarakat. Jika kaum wanita tidak berfungsi berarti separuh kehidupan manusia tidak berfungsi dengan melahirkan generasi mukmin mujahid yang cemerlang atau tidak berfungsi dari berpartisipasi dalam membangun masyarakat, baik dalam bidang sosial maupun politik. Namun, hal itu tidak menafikan tidak berfungsinya "setengah yang lain" (kaum laki-laki) sampai ke tingkat yang cukup memprihatinkan. Dengan begitu, membebaskan wanita muslimah sama artinya dengan membebaskan setengah masyarakat muslim, dan wanita tidak dapat bebas kecuali bersamaan dengan bebasnya kaum laki-laki. Selanjutnya kedua kelompok tersebut tidak akan pernah bebas kecuali dengan mengikuti petunjuk Allah.
  5. Di balik semua itu, Allah telah memberikan perasaan yang halus kepada wanita sehingga mereka senang beragama asalkan saja mendapatkan pengarahan yang baik dan bijaksana. Hal ini mengingatkan penulis pada kata-kata dua orang ulama masa kini yang karyanya pernah penulis baca. Ulama pertama4 berkata: "Mereka (wanita) paling siap mempelajari agama, memiliki akhlak yang baik dan berbuat kebajikan. Mereka paling siap mendengar dan mengikuti asalkan saja mereka menemukan pembimbing, laki-laki maupun wanita, yang bijaksana dan saleh serta dapat menunjukkan kebenaran dan dengan kebenaran itu dia melakukan perubahanperubahan terhadap wanita." Sementara ulama kedua5 berkata: "Ketika saya bergelut dengan tugas memberikan fatwa melalui radio dan televisi selama bertahun-tahun, saya mendapatkan sejumlah catatan penting. Sekian ribu surat yang saya terima itu berasal dari berbagai negara dan dari berbagai kelompok manusia, yang masih remaja dan sudah tua atau dari kalangan laki-laki dan wanita. Surat-surat tersebut bersifat pribadi dan umum. Di antara catatan-catatan penting tersebut, yang pertama, adalah agama dalam masyarakat kita masih berada di garis terdepan dalam soal memberikan pengarahan dan pengaruh. Kedua, bahwa wanita secara umum lebih peduli terhadap agama dibandingkan dengan laki-laki. Tampaknya, apa yang dikaruniakan Allah kepada wanita berupa perasaan yang halus, sifat santun, dan rasa kasih sayang telah membuatnya lebih dekat kepada fitrah/naluri keagamaan dibandingkan dengan kaum laki-laki. Karena itu, tidak heran jika kepedulian wanita terhadap agama lebih besar dan rasa takutnya akan 'hisab' yang jelek lebih kuat. Masih banyak kita lihat wanita yang sebelumnya suka buka-bukaan, kemudian sadar atas kemauan sendiri dan kembali menutup aurat serta mengikuti etika Islam, meskipun berbagai upaya dan cara dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk merusak mereka, baik di dalam maupun di luar negeri. Juga tidak aneh jika kita melihat banyak gadis remaja dan kaum ibu yang memakai pakaian gaya Barat modern (yang bertentangan dengan tuntunan agama), tetapi mereka tetap rajin melakukan shalat, puasa, haji, umrah, dan rukun-rukun Islam lainnya. Artinya adalah bahwa benih-benih agama yang ada di dalam dada mereka belumlah mati. Rasa keterpautan dan perhatian pada agama, meskipun sedikit, masih hidup sehingga membuatnya tetap konsisten, tumbuh dan berkembang, kemudian berbuah dan menghasilkan dalam waktu dekat dengan izin Tuhannya. Dengan demikian, dia dapat bebas dari bayang-bayang kehancuran yang senantiasa menghantui hidupnya."
Pada kesempatan ini mari kita perhatikan dan fokus poin ke 2 dan ke 5,
Pada poin ke 2 dijelaskan bahwa saat wanita wanita muslimah berhadapan dengan tarikan ekstrim dua arah :
a) Ekstrim Jahiliyah Abad 14, itu adalah penamaan oleh ust Abu Syuqqah, namun secara substansi adalah dimana hampir tidak ada kebebasan, hak bagi kaum wanita, seakan akan Islam mengekang kaum wanita:
- Wanita dilarang keluar rumah sama sekali
- Wanita tidak menuntut ilmu baik agama maupun ilmu pengetahuan kemasyarakatan
- Wanita Tidak boleh bertemu sama sekali dengan kaum pria
- Melarang wanita dari masjid masjid tempat didirikan shalat kaum mukminin
- Wanita tidak boleh bersolek sama sekali
- Dll
Yang berbahaya adalah kadang kadang mereka melakukan ini dengan menggunakan dalil dalil agama
b) Ekstrim Jahiliyah Abad 21, sekali lagi adalah penamaan dari ust Abu Syuqqah, substansinya adalah mereka menggunakan segala cara ingin betul betul wanita bebas sebebas bebasnya dari aturan syariat Islam, baik berpakaian, bergaul, berpikir dst, lepas dari aturan yang dibuat Allah SWT
Kedua hal tersebut tentu tidaklah sesuai dengan apa yang telah diatur oleh Islam, kedua praktek tersebut bila dilaksanakan akan timbul kerusakan kerusakan baik bersifat pribadi atau dalam jangka panjang bahkan dapat merusak tatanan sosial kemasyarakatan secara menyeluruh.
Pada poin ke 5, kita lihat bahwa wanita muslimah sepanjang zaman memiliki kecenderungan yang lebih untuk kebaikan, ini adalah hal patut ibu2 syukuri dan menjadikan motivasi untuk terus aktif bersegera dalam kebaikan, menjadi pelopor dalam kebaikan…. Berikut kita sampaikan beberapa riwayat bagaimana wanita menjadi pelopor dalam kebaikan
Sebagai contoh adalah Aisyah r.a.. Dia senang dan mendambakan sekali agar dirinya boleh ikut berjihad, sehingga dia berkata: "Wahai Rasulullah, kami melihat jihad itu adalah amalan yang paling afdal, apakah kami boleh ikut berjihad?" (HR Bukhari)
Selain itu ada Ummu Haram yang ingin mati syahid bersama pasukan marinir. Dia berkata: "Wahai Rasulullah, tolonglah doakan semoga Allah menjadikanku bersama mereka." Lalu Rasulullah saw. mendoakannya." (HR Bukhari)
Lihat pula seorang wanita yang bekerja dengan tangannya sendiri, kemudian bersedekah dengan hasil usahanya itu. "Adalah Zainab binti Jahasy orang yang paling takwa kepada Allah, paling suka menyambung silaturrahim, paling banyak bersedekah, dan paling suka mengorbankan dirinya untuk melakukan pekerjaan yang dengan pekerjaan itu dia dapat bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT." (HR Muslim)
Ada pula sejumlah wanita yang meminta dan mengharapkan diberi kesempatan yang lebih luas lagi untuk menimba ilmu pengetahuan dari Nabi saw. Sejumlah wanita berkata kepada Nabi saw.: "Kami dikalahkan oleh kaum laki-laki dalam merebut kesempatanmu. Karena itu tolonglah engkau sediakan harimu untuk kami." (HR Bukhari dan Muslim)
Ada lagi sejumlah wanita yang bersedekah dan berkorban lebih banyak daripada kaum laki-laki. Rasulullah saw. bersabda:
"Bersedekahlah, bersedekahlah kalian (kaum laki-laki), sebab yang sudah banyak bersedekah adalah dari kalangan wanita." (HR Muslim)
Sebelum masuk Islam, wanita Quraisy adalah orang yang sangat lembut hatinya dan sangat senang mendengarkan Kalamullah. "Dari Aisyah r.a. dikatakan bahwa Abu Bakar membangun sebuah masjid di pekarangan rumahnya. Dia melaksanakan shalat dan membaca Al-Qur'an di masjid tersebut. Lalu datang berduyun-duyun ke tempat itu wanita-wanita Quraisy bersama anak-anak mereka karena mereka kagum dengan apa yang dibaca Abu Bakar dan mereka memperhatikan Abu Bakar. Kejadian itu membuat para pemuka Quraisy takut dan berkata: "Kami khawatir ia memperdaya istri dan anak-anak kami." (HR Bukhari)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Kejadian itu membuat para pemuka Quraisy takut. Artinya mereka mengkhawatirkan wanita karena mereka mengetahui kelembutan hati para istri dan pemuda-pemuda mereka akan cenderung pada agama Islam. "
Ke depan Insya Allah diberi kesehatan dan usia, kami ingin sekali pada ibu dan nanda sekalian yang dirahmati Allah SWT, mencoba untuk menyampaikan bagaimana kehidupan di zaman terbaik yaitu dimana Rasulullah SAW dan atau para sahabat ra utama masih hidup, bagaimana Islam memuliakan kaum wanita, bagaimana kehidupan wanita yang demikian bebas, merdeka, toleransi yang tinggi tidak dibatasi kecuali dengan apa apa yang memang diatur oleh syariat
Wallahu alam bishawab,
Wassalamualaikum

T : Pak apakah kewajiban mengurus rumah , dan anak anak sepenuhnya tugas istri. Apakah istri dosa kalo minta bantuan suami dalam mengerjakan pekerjaan rumah?
J : Tidak juga, suami harus membantu, menfasilitasi sang isteri agar tugas tugas Rumah tangga dan mendidik anak sukses. Kalau semua diserahkan isteri, kapan isteri tilawah? berdakwah? mengembangkan dirinya? dst. Padahal isteri nabi SAW! bunda Aisyah Ra, adalah seorang ahli fiqh dan periwayat hadits. Menikah, bukan berarti bagi bagi tugas ini itu, namun ada nilai taawun, saling kerjasama, saling membantu dst..
Kalau anak laki laki, memang siapa yang akan mengajarinya bahwa shalat harus di masjid?

T : Ustdzh ana mau tanya sejauh mana kebebasan wanita dalam islam di zaman sekarang dengan kondisi yang amat sangat berbeda dengan masa nabi?
j : suami yang pencemburu mirip dengan Umar Ra, yang memang dikenal sangat pencemburu dan ini tidaklah mengapa asalkan tidak menentang perintah atau arahan dari Nabi SAW
 khusus pertanyaan bunda desi... kami akan beri contoh...bagaimana Umar Ra, tidak bisa melarang isterinya pergi ke masjid bahkan waktu subuh dan isya...
Kedua. Lebih baik mana wanita yg bekerja dg tangannya sendiri atau berdiam diri di rumah hanya menunggu suami pulang?


T : Pertanyaan apakah wanita boleh bekerja atau berkarir di luar rumah?
J : Sebenarnya ke depan kita akan bahas dan jawab juga dalam materi materi ke depan, kami akan coba jawab global disertai hadits bagaimana wanita  bekerja di zaman terbaik.
1. Fardhu kifayah adalah kadar kecukupan dalam suatu masyarakat islam, yg bila kecukupan itu tak terpenuhi maka menjadi kewajiban kita utk memenuhinya
kami akan coba ambil contoh yg lekat dengan kehidupan sehari hari wanita, aurat wanita selain wajah dan tangan tak boleh dilihat oleh laki laki asing dan perempuan non muslim.....
maka kecukupan dokter, bidan, perawat, pengusaha salon muslimah harus terpenuhi.
tidak trpenuhinya kecukupan tenaga tenaga tersebut akan membuat aurat aurat muslimah terbuka....
2. kami akan tampilkan satu hadits shahih yg menjelaskan bahwa pada zaman sahabat ra, ada wanita muslimah yg berprofesi sebgai pertanian
Jabir bin Abdullah berkata," bibiku bercerai dan dia bermaksud hendak mengambil buah korma pada masa iddahnya, seorang laki laki menghardiknya agar jangan keluar rumah, lalu bibiku menemui Rasulullah SAW, Nabi SAW bersabda, " tidak mengapa, potonglah buah kurmamu, barangkali dengan begitu kamu bisa bersedekah atau melakukan suatu kebajikan.." (HR Muslim)
demikian jawaban umum tentang wanita bekerja, mdh2an pada saatnya nanti bisa lebih jelas dan rinci....wallahu'alam

T : nanda husna, sama saja... tidak ada perbedaan, kecuali kondisi darurat... maka sama bebasnya.... hanya saja sesuai sifat fiqh islam yang lentur.. tentu saja akan diperlukan fatwa fatwa baru... namun secara umum tentu sama...
Kemudian, baik mana wanita yg bekerja di banding yang diam di rumah... tentu saja kita tak dapat membandingkannya melainkan harus di bahas kasus per kasus...
kalaulah seorang isteri adalah seorang dokter kandungan, tentu amat sayang kalau hanya di rumah saja.. sedangkan kewajiban menjaga aurat sesama muslimah sangat mendesak....
kalaulah seorang isteri pandai berdagang, bukan halangan baginya utk membangun bisnis di rumah, atau ruko depan rumah dst... ini kan kasus per kasus...
Nanda Husna, kehidupan suami isteribukanlah main menang menangan.... melainkan harus menjadikan ladang dakwah, menyenangkan, penuh kasih sayang, saling kerja sama, tempat bersantai, tempat mengadu dst...
kalaulah suami masih melarang, cuma ada dua masalahnya
1. Belum tau hadits ibnu umar ra itu
2. Tau namun belum mau melaksanakan
yang pertama tinggal diberi tahu.. yang kedua berarti ada PR bagi sang isteri utk mendakwahinya...
karena hadits ketika hadits tsb maqbul maka ada 3 haknya :
1. Jika hadits berupa info, wajib kita imani
2. Jika berupa perintah, tidak menentangnya
3. Jika berupa larangan, tidak serta merta melanggarnya

T : Ukuran laki-laki shalih itu seperti apa ustadz? Kriterianya.
J : Keluarga 'Imran ('Āli `Imrān):114 - Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.

T :Pa ustadz , kalo seperti saya menjalan tugas diluar daerah selalu, sedangkan orgtua saya jauh , mereka sudah tua saya tinggal2 terus, jadi saya lebih utamakan mengurus orgtua atau jalani pekerjaan ini ?
J : Kalau secara ekonomi cukup, kami melihat ada beberapa options ya..
1. Kenapa gak coba buka kantor di rumah atau ruko dekat rumah?
2. Kalau ortu memang cocok, bisa juga keluar dan urus ortu....
yang jelas mengurus ortu memiliki keutamaan yg luar biasa  !!

T : Pak ustadz mau tanya..seorang lelaki yang sudah memiliki istri..apa masih harus tetap mengutamakan ibunya dibanding istriny?
J : nanda desi, sekali lagi,  pelaksanaan hak kepada ibunda, mertua istri atau suami, bukan sesuatu yang harus dibenturkan. keduanya, atau ketiganya harus diusahakan mulus...
bekerjasama dengan suami bagaimana kedua ortu, baik pihak istri atupun suami, bisa merasakan perhatian dan kasih sayang yang seimbang
kita sama sama tahu bahwa hak seorang ibu terhadap anaknya sangat besar, dibalik itu pahala Allah pun sangat luar biasa. tanpa terasa waktu akan berlalu cepat, anak anak cepat besar, usia ibunda ayahanda kita pun cepat tak terasa. masalah perhatian suami yg lebih thd ibunya, ya tak usah terlalu cemburu, usahakan juga perhatian terhadap ibunda nanda desi pun sama...
kita harapkan perhatian, pelayanan kita pada ibunda berdua menjadi jalan ke jannah Allah..
Masalah biaya, kalaulah hak terhadap isteri sudah ditunaikan,  tak mengapa kalau suami ingin infaq pada kerabatnya.. apalagi ibundanya... suami yang baik tentu juga akan memperhatikan ibu mertua dan ipar iparnya.
sebaliknya juga begitu, kalau isteri punya penghasilan, maka dia bebas mau di infaqkan kemana uangnya itu.
Ana belum nikah pak ustadz..
Itu kan misal
Contoh teman
Yang jelas si suami gak rela istrinya kerja
Dan untuk kebutuhan dasar keluarga dari si suami mencukupi.
(Orang tua si istri sdah renta)
apakah sudah bicara langsung pada suami? bahwa keuangan orang tua sedang sangat minim butuh bantuan?
kalau seandainya tak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, maka suami semestinya turut memikirkannya...
menasihati kadang tdk harus langsung, bisa melalui orang ketiga yang dihormati oleh suami, dan juga adil dalam artian tak akan mengumbar aib keluarga kemana mana.... orang tua suami mungkin?  wallahualam.
"Renungan malam ini..."
Oleh Cahyadi Takariawan
Setelah menikah, engkau tidak saja mendapatkan pasangan hidup, namun engkau mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan bisa didapatkan tanpa menikah.
Dimulai dari pernikahan sampai akhir hayat nanti,  pasangan hidupmu akan menjadi pendamping setia dan sabahat terbaik bagimu.
Dengan dia, engkau melewati kehidupan bersama,  berbagi suka dan duka, merenda impian dan harapan, menghadapi segala masalah dan rintangan.
Ketika engkau sakit, dia akan merawatmu dengan sabar. Ketika engkau sedih, dia akan menghiburmu dengan ikhlas. Ketika engkau lelah, dia akan menyemangatimu dengan penuh kasih sayang.
Saat engkau memerlukan pertolongan, dia akan mengupayakan semua yang bisa dilakukan untukmu. Saat engkau lemah, dia akan menguatkanmu. Saat engkau memerlukan nasehat, dia akan memberikan nasehat terbaik bagimu.
Saat berangkat tidur, dialah orang terakhir yang engkau lihat. Saat bangun tidur, dialah orang pertama yang engkau dekap. Saat engkau bepergian jauh, dia selalu ada di dalam hati dan pikiranmu.
Dia selalu memikirkan dirimu. Dia selalu berdoa untukmu. Dia selalu mengkhawatirkan keselamatanmu. Dia selalu merindukanmu.
Engkau telah menjadi dunianya dan dia telah menjadi duniamu.
Maka saat engkau bertengkar, ingatlah bahwa dia adalah kekasih hatimu, belahan jiwamu, lentera hidupmu. Jangan engkau lukai dengan perkataan, sikap dan perbuatanmu.
Segera peluk kekasihmu, jangan menyimpan dendam dan kemarahan kepadanya. Maafkan kekurangannya. Pahami relung jiwanya. Selami dasar hatinya.
Semoga kalian bahagia selamanya hingga ke surga.
Jogja, 2 Juli 2014
Naam, selamat bersahur, jangan lupa saat saat utama utk berdoa dan istighfar..semoga kajiannya berkah dan manfaat. mohin izin. wassalam..
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!

Artikel Baru