Home » , , , » Kitab-kitab Yang Ditulis Khusus Mengenai Ilmu Hadits

Kitab-kitab Yang Ditulis Khusus Mengenai Ilmu Hadits

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, September 22, 2014

Kajian Online Telegram Hamba  اللَّهِ  SWT

Hari / Tanggal : Jum'at, 19 September 2014
Narasumber : Ustadz Khalid Syamhudi Lc
Kajian : Hadist
Notulen : Nurza
Editor : Ana Trienta

Materi
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Dimulai materi kajian ilmu hadits hari ini.

Kitab-kitab Yang Ditulis Khusus Mengenai Ilmu Hadits
Diantara kitab-kitab pertama yang ditulis dengan khusus mengenai ilmu hadits adalah:
1. Berawal dari upaya kodefikasi dan penulisan beberapa jenis pembahasan dari ilmu hadits dan awal yang memulai nampaknya adalah imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’I (150-203 M) dalam kitabnya ar-Risaalah. Beliau dalam kitab tersebut menyampaikan beberapa masalah yang berhubungan dengan ilmu mushtholah hadits, seperti pembahasan syarat-syarat hadits yang dapat dijadikan hujjah, riwayat secara makna, pembahasan tentang penerimaan hadits mursal dan mudallah. Beliau juga menulis kitab Ikhtilaf al-Hadits yang merupakan bagian dari ilmu hadits. 

2. An-Nadhru bin Syumail (122-203 H) dan Abu Ubaid al-Qaasim bin Sallaam (157-224 H) keduanya menulis kitab dalam masalah Ghorib al-Hadits yang merupakan bagian dari ilmu hadits.

3. Kemudian muncullah imam Ali bin al-Madini (161-234 H) yang menulis sejumlah jenis ilmu hadits. Al-Haakim dalam kitab ma’rifat ulum al-Hadits menyampaikan 28 karya beliau dalam ukuran yang beragam

4. Demikian juga beberapa imam besar dimasa tersebut seperti Yahya bin Ma’in (158-233 H), Ahmad bin Hambal (164-241 H), al-Bukhori (194-256 H) dan Imam Muslim bin al-Hajaaj (204- 261H) dalam Muqaddimah shohihnya, kitab Tamyiz  dan ath-Thobaqaat 

5. Imam at-Tirmidzi ( 209-279 H) juga menulis kitab al-‘Ilal al-Kabir dan al-‘Ilal ash-Shoghir yang merupakan juga bagian pembahasan dari ilmu hadits.

6. Pada abad keempat banyak para ulama besar yang menulis tentang hal ini diantaranya Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Haatim ar-Raazi (240-327 H) dalam beberapa kitab seperti kitab al-‘Ilal, al-Marasil dan al-Jarhu wa at-ta’dil. 

7. Juga Abu Haatim Muhammad bin Hibaan (wafat tahun 354 H ). Al-Khothib al-Baghdadi menyampaikan dalam kitab al-Jaami’ (2/302) nama dari 44 kitab beliau semuanya pada jenis-jenis ilmu hadits.

8. Semua kaedah dan pembahasan tersebut masih berserakan dalam kitab-kitab yang bercampur dengan ilmu-ilmu lainnya atau hanya pada ukuran yang sangat kecil. Kemudian kebutuhan untuk mengumpulkan kaedah dan pembahasan tersebut dalam karya yang khusus untuk ilmu hadits mendesak  sehingga mulailah para ulama membukukannya dalam kitab terpisah dari ilmu-ilmu lainnya.

9. imam al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan bin Abdirrahman Ibnu Kholaad ar-Raamahurmuzi (265-360 H) berusaha mengumpulkannya dalam Kitab ‘al-Muhaddits al-Faashil Baina ar-Raawi wa al-Waa’I’ . Namun beliau belum memasukkan seluruh pembahasan ilmu hadits.   Hal itu karena beliau hanya menyampaikan pembahasan Adab al-Hadits dan al-Muhaddits, al-Isnad al-‘Aali dan an-Naazil, Rihlah (bepergian mencari hadits), Mengenal perawi (ruwaat), nasab, kunyah dan Musykil serta yang lainnya, penulisan hadits dan cara menerima hadits (Tahammul) dan Tash-hih, serta Adab imla dan Istimla’. Inilah mujmal isi kitab dan tersisa banyak materi pokok yang asasi dalam ilmu mushtholah hadits (belum disampaikan). Semua ini beliau riwayatkan dengan sanad baik syahid-syahidnya ataupun contoh-contoh untuk bab-bab pembahasannya dengan ketinggian sanadnya.  Syeikh al-Albani dalam komentar beliau terhadap kitab Nuzhaat an-Nazhor menyatakan: Beliau tidak menyampaikan ilmu mushtholah seluruhnya, karena ia termasuk orang pertama yang menulis dalam ilmu ini. Sedangkan yang pertama menulis dalm ilmu hadits, maka mayoritas ulama berpendapat ia adalah Ibnu Juraij dan ada yang menyatakan: Imam Maalik dan ada juga yang menyatakan: Rabi’ bin Shobieh.

10. Kemudian datang setelahnya al-Haakim  Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah an-Naisaaburi (wafat tahun 405 H) lalu menulis kitab ‘Ma’rifat Ulum al-Hadits’  sebagaimana juga beliau menulis kitab ‘al-Madkhol Ila al-Ikliel’ dan ‘al-Madkhol Ila ash-Shohih’. Kitab ‘Ma’rifa ulum al-hadits’ yang merupakan satu arahan menyeluruh dalam penulisan ilmu ini namun belum tertib dan belum  disusun baik. Bila melihat kitab tersebut jelaslah hal tersebut. Jenis-jenis hadits belum tersusun urut dan nampak sekali lebih banyak  pengumpulan  materi saja. Tapi juga berisi syahid-syahid dan contoh-contoh umum dalam  bab-bab pembahasannya dan beliau memiliki komentar terhadap teks-teks penukilannya dan isyarat terhadap kritik yang tajam dari penyampaian materi kitab.

11. Berikutnya datanglah Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah al-Ashbahani (wafat tahun 430 H) lalu menulis kitab Mustakhroj  atas kitab al-Hakim diatas yaitu kitab ‘Ma’rifat ‘Ulum al-hadits ‘Ala kitab al-Haakim’.  Namun juga masih menyisakan banyak pembahasan dalam ilmu mushtholah.

12. Hingga datanglah al-Khothib Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Baghdadi (336- 463 H) yang merupakan pembaharu dalam ilmu mushtholah hadits. Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu mushtholah ada yang menyeluruh dan ada yang sebagian besar saja. Diantara karya beliau adalah:
  • Al-Kifaayat Fi ‘Ilmi ar-Riwayaat  atau al-Kifayaat Fi Ma’rifati Ushul ilmi ar-Riwayat. Beliau khususkan tentang aturan-aturan berkenaan dengan riwayat tanpa menyampaikan tentang Adab-adab.
  • Al-Jaami’ Liadab asy-Syeikh Wa as-Saami’ atau al-Jaami’ Fi Adab ar-raawi wa as-Saami’ atau al-Jaami’ Fi Akhlak  ar-Raawi wa as-Saami’, beliau tulis mengenai adab al-Muhaddits dan penuntutnya. Kedua kitab ini (al-Kifayaat dan al-Jaami’ termasuk kitab mustholah yang paling menyeluruh dalam isi materi keduanya. 
Kemudian beliau tidak berhenti hanya dengan dua kitab ini saja, namun menulis juga dalam tema pembahasan yang special dalam ilmu mushtholah. Sehingga al-Haafizh ibnu Hajar menyatakan: “Hampir tidak ada satu bidang dalam ilmu hadits  kecuali beliau menuliskan pada satu kitab khusus” .

Diantara kitab-kitab tersebut adalah:
  • Al-Ijaazah Lil Ma’lum wa al-Ma’dum
  • Muwadhih Auhaam al-Jam’u wa at-Tafriq
  • As-Saabiq wa al-Laahiq
  • Tadzkirat al-Mu`tasi Fiman Haddatsa wa nasiya
  • Taqyiid al-‘Ilmi
  • Ar-Rhlah Fi Tholabi al-Hadits
  • Syaraf Ash-haab al-Hadits. Dll.
Hal ini menjadikan beliau imam yang dijadikan sandaran dalam ilmu hadits. Tidak aneh bila al-Haafizh Ibnu Nuqthoh (Wafat tahun 629 H) menyatakan: ‘Semua orang yang adil mengetahui bahwa Muhadditsin setelah al-Khothib kembali (bersandar) kepada kitab-kitab beliau’.

13. Usaha setelah al-Khothib tidak memberikan bentuk yang lebih menyeluruh dan komprehensip apalagi menambah. Hingga datang al-Qadhi ‘Iyaadh bin Musa al-Yahshubi(476- 544 H) dan menyusun kitab al-Ilma’ Fi Dhobthi ar-Riwayaat Wa Taqyiid as-Simaa’  dalam adab ar-Riwayat. Kitab ini termasuk terbaik dalam bab ini. Beliau menyampaikan semua yang berhubungan dengan dhobthu (ketentuan) riwayat dan ketentuan dalam Simaa’ (menerima hadits).  

Urgensi kitab ini dalam penyusunan satu materi khusus dalam satu kitab tersendiri dan mencukupkan dengan yang terpenting saja. Demikian juga orang yang mempelajari akan mendapatkan uangkapan-ungkapan ilmiyah yang berbobot dari al-Qaadhi ‘Iyaadh. Juga komentar khusus terhadap nash-nash dan mengambil istimbath darinya. Oleh karenanya beliau berkata dalam Muqadimahnya: 
‘Belum ada seorangpun yang memberikan perhatian yang seharusnya terhadap fasal (pembahasan) yang saya inginkan ini dan saya juga belum mendapatkan dalam hal ini karya tulis yang diharapkan sesuai kebutuhan orang yang menginginkannya, maka saya mengabulkan permintaan mu untuk menjelaskan yang kamu inginkan dari fasal-fasal pembahasannya dan saya susun faedah-faedah yang asing dari muqaddimah ilmu al-Atsar dan ushulnya’. 
14. Abu Hafsh al-Mayaanji (wafat tahun 581 H) menulis satu juz kecil dalam ilmu Mushtholah yang berisi definisi penting dalam ilmu ini.

15. Ilmu mustholah semakin lama semakin membutuhkan susunan dan kumpulan materi yang terintegralkan dengan adanya tambahan contoh dan pembagian jenis-jenis hadits yang lebih tersusun rapih dan mudah terfahami. Sebab kitab-kitab ulama terdahulu banyak menyampaikan nash-nash bersanad dalam setiap bab pembahasan yang kadang tidak jelas difahami orang-orang setelah mereka. Maka Allah membangkitkan ulama-ulama yang berkhidmat menyempurnakan ilmu ini. Diantara mereka adalah Taqiyuddin Abu Amru Utsman bin al-faqih Abu Muhammad Abdurrahman bin Utsman bin Musa al-Kurdi As-Syahrazuri asy-Syafi’I yang dikenal dengan ibnu ash-Sholaah ( 577-643 H). Beliau menulis kitab ulum al-Hadits yang dikenal dengan Muqaddimah Ibnu ash-Sholaah. Kitab ini mendapatkan perhatian besar dan pujian yang tinggi dari para ulama. Diantara bentuk perhatian para ulama terhadap kitab ini adalah mereka mengajarkannya kepada para murid mereka dan menulis ringkasan, syarah, nazhom dan komentar serta kritikan terhadap kitab ini.

Pagi ini kami berada dalam genggaman kekuasaan Allah,  puji syukur hanya milik Allah Sang Tuhan yang Tiada sekutu bagi-Nya, Allah lah yang Tiada tuhan selain diri-Nya kepada-Nya semua kita akan kembali .. :)

I. Ringkasan kitab Ulumul Hadits karya Ibnu Shalah
Diantaranya adalah:
  1. Al-Irsyad atau Irsyad al-Hadits atau al-Irsyad Lima’rifat Hadits Khoiri al-Bilaad karya imam Syarafuddin an-Nawawi (676 H), telah dicetak dalam bebrapa cetakan dan yang terbaik adalah tahqiq Syeikh Abdulbari fathullah al-Hindi 
  2. At-Taqrib wa at-Taisir Lima’rifat Sunan al-Basyir an-Nadzir karya an-Nawawi yang merupakan ringkasan dari al-Irsyad
  3. Al-Kaafi Fi ‘Uluum al-hadits karya Abu al-hasan ‘Ali bin Abdillah al-Ardabili at-tibrizi (677-746 H), telah dicetak dengan tahqiq Syeikh Masyhur Hasan alusalmaan, cetakan pertama tahun 1429 di ad-Daar al-Atsariyah.
  4. Al-manhaj as-Mubahhaj ‘Inda al-Istimaa’ Liman Raghiba fi Ulum al-Hadits ‘Ala al-Ittilaa’ karya Qathbuddin Abu Bakar Muhammad bin Ahmad al-Qustolani (wafat tahun 686 H).
  5. Al-Khulashoh Fi Ushul al-Hadts atau fi Ushul ‘Ilmi al-Hadits karya ‘Alauddin Ibnu an-Nafiis ath-Thabib al-Mishri (wafat tahun 689)
  6. Al-Iqtiraah Fi Bayaan al-Ishthilah karya Taqiyuddin ibnu Daqiq al-‘Ied (wafat tahun 702 H)
  7. Al-Mulakhosh ‘ulumu al-Hadits karya Ibrohim bin Muhammad ath-Thobari (636-722H) atau al-Muntakhob 
  8. Rusum at-tahdits karya Burhanuddin al-Ja’bari Ibrohim bin Umar (640-732 H) dicetak dengan tahqiq Ustadz Ibrohim bin Syariif al-Miili tahun 1421 di Daar ibni Hazm.
  9. Al-Minhal ar-Raawi Fi al-Hadits an-Nabawi karya Badruddin Muhmmad bin Ibrohim ibnu Juma’ah (wafat tahun 733 H), telah dicetak banyak dan terbaiknya adalah tahqiq Muhyiddin Abdurrahman Ramadhan, tahun 1395 H di Daar al-Fikr
  10. Ikhtishar Ulum al-Hadits karya Ibnu Katsir (wafat tahun 774 H). 
  11. Mukhtashor Ulum al-Hadits karya ‘Alauddin Ali bin ‘Utsmaan al-Maaridini ( 683-750 H)
  12. Ushul ilmi al-Hadits karya al-‘Alaa bin an-Nafis al-Mutathoyyib
  13. Misykat al-Anwar fi Anwa’ ‘Ulumu as-Sunan wa al-Atsar karya Abdurahman bin Umat al-Abhuri (730 H)
  14. Misykaat al-Anwaar karya Abu al-Qaasim Hibatullah bin Abdurrahim al-Baarizi al-Juhani al-Hamwi (wafat tahun 738 H).
  15. Al-Mauqizhoh karya al-Haafizh adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) 
  16. Mukhtashor ulum al-hadits karya Sholaahuddin Kholil bin Kaikaldial-‘Alaa`I (694-761 H).
  17. Mukhtashor ulum al-hadits karya Abu Abdillah al-Husein 
  18. Mukhtashor ulum al-hadits
  19. Mukhtashor imam Syihabuddin Ahmad bin Sa’id al-Andarsyi al-Andalusi 
  20. At-Tadzkirah karya Ibnu al-Mulaqqin (wafat tahun 804 H)
  21. Al-Muqni’ karya Ibnu al-Mulaqqin
  22. Al-`Iqnaa’ karya al-‘Iz ibnu Juma’ah (wafat tahun 767 H)
  23. Mukhtashor baha`uddin al-Andalusi
  24. Al-Mukhtashor al-Kaafiji (wafat tahun 879 H)
  25. Al-Hidayah Fi Ulum ar-Riwayat karya Ibnu al-Jauzi (Wafat tahun 833 H)
  26. Nukhbatu al-Fikar Fi Mushtholah al-Atsar karya Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H).
II. Manzhumahnya 
  1. Manzhumah ibnu Farh al-Isybili (wafat tahun 699 H) bernama Ghuraama Shohih. 
  2. Tanqih al-Anzhor karya Ibnu al-Wazir (Wafat tahun 840 H).
  3. Nazhmu ad-Durar Fi ilmi al-Atsar karya al-Haafizh al-Iraqi
  4. Alfiyah as-Suyuthi
  5. Manzhumah al-Khiraqi
  6. Manzhumah at-tajibi al-Qasim bin Yusuf (Wafat tahun 730 H)
  7. Manzhumah al-barasyti
  8. Aqsha al-Amal Wa as-Sul Fi Ulum Hadits ar-Rasul karya Muhammad bin Ahmad bin al-Kholil al-Khubi (Wafat tahun 693 H).
  9. Salku ad-Durar Fi Mushtholah ahli al-Atsar karya Radhiuddin Muhammad bin Muhammad al-Ghazi (Wafat tahun 935 H).
  10. Manzhumah Manshur Sibth an-Naashir ath-Thobalaawi (Wafat tahun 1013).
  11. Manzhumah al-Baiquniyah. (akan datang penjelasannya).
Manzhumah adalah karya tulis yang disusun berbentuk syair yang mudah dihafal dengan kaedah dan tata cara yang diatur dalam ilmu Arudh dan Qawafi. di Indonesia mungkin dinamakan prosa atau kayak pantun bersajak.

III. Syarahnya
Syarah Muqaddimah ibnu Sholah lebih banyak berbentuk syarah atas ringkasan atau manzhumahnya.

A. Syarah Mukhtashor (ringkasan Muqaddimah)
1. Syarah kitab At-Taqrib wa at-Taisir Lima’rifat Sunan al-Basyir an-Nadzir an-Nawawi.
  • Tadrib ar-Rawi Syarh at-Taqrib an-Nawawi karya as-Suyuthi
  • Al-Minhal ar-Rawi Syarhu Taqrib an-Nawawi karya Saalim bin Yahya al-Muqbili al-Ahdal.
2. Syarah Ikhtishar Ulum al-Hadits karya Ibnu Katsir
  • Al-Baa’is al-Hatsits Syarhu Ikhtishor ulum al-Hadits karya Ahmad bin Muhammad Syaakir.
3. Syarah Al-Minhal ar-Raawi Fi al-Hadits an-Nabawi karya Badruddin ibnu Juma’ah
  • Al-Manhaj as-Sawi Syarhu Al-Minhal ar-Raawi karya Izzuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Abdulaziz bin Badruddin ibnu Juma’ah (Wafat tahun 819).
4. Syarah At-Tadzkirah karya Ibnu al-Mulaqqin
  • At-Taudhih al-Abhar Litadzkirat ibni al-Mulaqqin Fi ilmi al-Atsar karya Abdurrahman bin Muhammad as-Sakhaawi (Wafat tahun 902 H).
5. Syarah kitab Nukhbatul Fikar. (akan datang penjelasannya).

B. Syarah Manzhumah
1. Manzhumah ibnu Farh al-Isybili
  • Zawaal al-Rarh Syarhu manzhumah ibni Farh karya Izuddin ibnu Juma’ah 
  • Syarah al-Qiraafi (wafat tahun 684 H)
  • Syarah Syihabuddin al-Maghribi
  • Syarah Syamsuddin ad-dalji (wafat tahun 950 H)
  • Syarah Muhammad bin Ibrohim bin Kholil at-Tataa`I al-Maliki (wafat tahun 924 H).
2. Syarah atas Tanqih al-Anzhor karya Ibnu al-Wazir (Wafat tahun 840 H).
  • Taudhih al-Afkar Syarh Tanqih al-Anzhor karya al-Amir ash-Shon’ani (Wafat tahun 1182 H).
3. Syarah alfiyah al-Iraqi (Nazhmu ad-Durar Fi ilmi al-Atsar).
  • Asy-Syarhu al-Kabir karya al-Iraqi
  • Syarh at-Tabshiroh wa at-tadzkirah karya al-Iraqi
  • Fathu al-Mughits Syarh alfiyah al-Hadits karya al-Iraqi
  • Syarhu Burhanuddin Ibrohim bin Muhammad bin Muhammad bin Kholil al-Halabi asy-Syafi’I yang dikenal dengan Sibthi ibni al-‘Ajmi (wafat tahun 841 H)
  • An-Nukat al-Wafiyah Syarhu alfiyah al-Iraqi karya Burhanuddin Ibrohim bin Umar bin Hasan ar-Ribaath al-Baqaa’I asy-Syafi’i (wafat tahun 855 H)
  • Syarh Imadudin Abu al-Fida’ Isma’il bin Ibrohim  bin Abdillah bin Juma’ah al-Kinaani  (wafat tahun 861 H)
  • Syarhu Zainuddin Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu bakar bin Muhammad al-‘Aini al-Hanafi (wafat tahun 893 H)
  • Shu’ud al-Maraqi Fi Syarhi alfiyah al-‘Iraqi karya Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bi Khaidhir az-Zubaidi ad-Fimasqi Qathbuddin al-Khaidhiri (wafat tahun 894 H)
  • An-Nukat ‘Ala al-Alfiyah karya Abdurrahman bin Muhammad as-Sakhaawi (Wafat tahun 902 H)
  • Fathu al-Mughits Bi Syarhi alfiyah al-Hadits  karya Abdurrahman bin Muhammad as-Sakhaawi (Wafat tahun 902 H).  Ini adalah syarah terbaik yang ada
  • Fathu al-Baaqi Syarhu alfiyah al-‘Iraqi karya Zakariya bin Muhammad bin Zakariya al-Anshori al-Mishri, asy-Syafi’I (wafat tahun 928 H). kitab ini diberi hasyiyah oleh: a) Syeikh Manshur bin Abdurrazaaq bin Sholih ath-Thukhi al-Mishri (wafat tahun 1090 H); b) Syeikh Ali bin Ahmad bin Mukaram ash-Shi’iedi al-‘Adawi al-Maliki (Wafat tahun 1189 H).
  • Qathru ad-Durar karya Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi
  • Syarh Baha’uddin al-Biqa’i
  • Syarh Syeikh Ibrohim bin Muhammad bin Ibrohim al-Halabi (wafat tahun 956 H).
  • Syarh Ali bin Muhammad bin Abdirrahman al-Ajhuri al-Mishri (wafat tahun 1066 H) dengan nama Fathu al-Baaqi.
  • Syarh Ibrohim bin Mar’I bin ‘Athiyah as-Sabarkhiti al-Maaliki wafat tahun 1106 H).
4. Syarah Alfiyah as-Suyuthi
  • Al-Bahru alladzi Zakhor Syarhu alfiyah al-Atsar karya as-Suyuthi
  • Manhaj Dzawi an-Nazhor Fi Syarhi Manzhumah al-Atsar karya at-Tarmasi
IV. Nukat (komentar dan kritiknya).
  1. An-Nukat ‘Ala Muqaddimah ibni ash-Sholaah karya Badruddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Bahaadir az-Zarkasyi (wafat tahun 794 H)
  2. At-Taqyid wa al-Idhah karya al-Iraaqi (wafat tahun 806 H)
  3. An-Nukat ‘Ala Muqaddimah ibni ash-Sholaah karya Ibnu Hajar al-`Asqalaani (wafat tahun 852 H).
Syarah adalah penjelasan. jadi buku syarah Muqaddimah ibnu Shalah misalnya, berarti buku yang ditulis untuk menjelaskan isi buku Muqaddimah tersebut dari awal hingga akhir. Jadi memang terkadang satu buku itu diringkas ulama lain lalu disyarah bukunya dan ringkasannya.

Tadi memang hanya sampaikan kitab-kitabnya dulu, biar pada melek kalo para ulama sudah memberikan perhatian yang besar dalam memilah milih hadits yang benar dan yang hanya disandarkan kepada Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam agar kita semua semakin menghormati ulama yang telah mengerahkan segala kemampuan untuk mempermudah kita belajar islam yang benar dan lurus.

Ini hanya sebagai pendahuluan saja dari kajian hadits nantinya jadi belum masuk kajian hadits sampai hari ini. Hadits yang seperti ini dengan redaksi:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا وخياركم خياركم لنسائهم رواه الترمذي

Dari Abu Hurairoh Radhiyallahu 'anhu berliau berkata: rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam pernah bersabda: Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap ISTRInya 
(HR at-Tirmidzi dan Shahih. Dinilai shahih oleh al-ALbani dalam SIlsilah ahadits Shahihah no. 284).

Ada juga : 
إن أقربكم مني مجلساً يوم القيامة أحسنكم أخلاقاً  

Sedekat-dekatnya kalian dari aku majlisnya di hari kiamat adalah yang terbaik dari kalian akhlaknya. Hadits Shahih riwayat at-Tirmidzi

Tambahan Kajian
Shalat Sunnah Subuh Berkali-Kali...?

Keutamaan shalat sunnah qabliyah subuh (disebut juga shalat sunnah fajr) sudah kita ketahui bersama.
A. Dunia Seisinya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Shalat dua rakaat sunnah fajar (subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya..."  
(HR. Muslim: 725)

B. Rutin Dikerjakan
Ibunda Kaum Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu 'anha bertutur,
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

"Tidaklah pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sesuatu pun shalat sunnah yang sangat rutin dilaksanakan melebihi dua rakaat (sebelum) subuh..."
(HR. Bukhari: 1169, Muslim: 724)

C. Cukup Dua Raka'at
Dengan keutamaan melimpah, bukan berarti shalat sunnah Subuh bisa dilakukan sesuka hati sebanyak-banyaknya. Tatkala Sa'id bin Musayyib melihat seorang lelaki menunaikan shalat setelah terbit fajar (sunnah subuh) melebih dua rakaat, dengan memanjangkan rukuk dan sujud. Sa'id bin Musayyib pun kemudian melarang perbuatan itu. Orang tersebut berkata:
"Wahai Abu Muhammad (kun-yah Sa'id), apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat yang kukerjakan...?"Beliau menjawab:"Tidak, namun Allah akan menyiksamu dengan sebab menyelisihi sunnah..."(Atsar Shahih, Sunan al-Kubra al-Baihaqi: 2/466, al-Mushannaf Abdurrazzaq: 4755, Irwa'ul Ghalil: 2/236 al-Albani)
Semangat beribadah itu harus, namun tetap sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
@sahabatilmu
Belum nyampe materinya semua ingin cepat-cepat dan instan susah dah. Kepanjangan yah lebih panjang mana dengan materi POLIGAMI kemarin? Masa iyah?

TANYA JAWAB
Tanya
Ustadz Kholid, perlu penjelasan lebih nih, asyik materinya. Itu yang ditulis pertama malah kitabnya imam syafii ya? kenapa tidak imam abu hanifa ataupun imaam maalik? Bagaimana dengan al muwathaa?
Jawab
Imam Abu Hanifah tidak dikenal menulis kitab adapun Musnad Abu Hanifah hanyalah buku yang dinisbatkan kepada beliau memang imam Abbu hanifah tidak terkenal dalam periwayatan hadits, bahkan sebagian haditsnya ada yang dilemahkan para ulama hadits. namun abu Hanifah terkenal dalam pengambilan hukum dengan qaedah-kaedah fikih sehingga para murid beliau dikenal dengan ahli Ra'yi bukan ahlu Hadits. Sedangkan imam Malik menulis kitab al-Muwatha' namun tidak menyampaikan kaedah-kaedah ilmu hadits yang mudah didapat dalam kitabnya tersebut. Muwatha' lebih bersifat buku hadits dan bukan buku ilmu hadits yang dikenal dengan Mushthalahulhadits. Kalo kita mau membuka kitab ar-Risalah akan didapatkan banyak kaedah mushthalah tentang menilai satu periwayatan dianggap sah dan benar atau tidak.


Tanya
Hebat Imam Syafii, berarti selain dikenal sebagai peletak dasar ushul fiqh (mohon koreksi), juga ternyata seorang peletak dasar ilmu hadits ya, ahli fiqh yang ahli hadits benar ya ustadz kholid?
Tanya
Bagi orang awam yg hanya bisa bermajelis di online (bukan nyantri secara khusus), tahapan ahsan-nya darimana tadz? Mungkin ada kitab yang kami orang awam bisa pegang sambil menyimak materi ustadz?
Tanya
Ada irisan pada zaman kehidupan imam ahmad, dan bukhari muslim, apakah BM pernah bersua dengan al imam ahmad langsung?
Tanya
Afwan ustadz, dalam film aimmatul huda yang menceritakan tentang ulama hadits, imam bukhori bertemu dengan imam ahmad, bahkan mereka saling berkirim surat, bahkan imam bukhori meminta kepada imam ahmad untuk menuliskan nama-nama perowi hadits yang harus beliau datangi dalam rangka mengumpulkan hadits-hadits shohihnya.. Ini bener ga ustadz?
Tanya
Termasuk juga imam muslim pernah mendatangi imam ahmad, sebelum mengumpulkan hadits-hadits shohihnya. Ustadz kholid memang top banget dalam bab ulumul hadits, baik diroyah maupun riwayah, hafizhakallh ya syeikh kholid ..  uhibbuka fillah


Jawab
Imam asy-Syafi'i pernah belajar dari imam Maalik bin Anas bin Malik al-Ash-bahi imam madzhab Maliki dan juga pernah belajar dari imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani murid utama imam Abu Hanifah rahimahullah. Sehingga berkumpul padanya ilmu dari ulama Hadits ternama dizamannya dan ilmu ulama ahli ra'yi ternama dizamannya.

Sehingga dikatakan imam AHmad bin Hambal yang menjadi murid imam Syafi'i: Seandainya tidak ada imam Syafi'i tentulah fikih tertutup tidak terbuka seperti ini. Imam Muslim adalah murid imam al-Bukhari dan imam al-Bukhori tidak berjumpa dengan imam AHmad apalagi imam as-Syafi'i.

Ahabbakallahu bima ahbatani bihi ahbabtani


PENUTUP :
Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.                             
 ​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!