Home » , , » Menghormati Hak Anak

Menghormati Hak Anak

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, September 2, 2014

UMMI 13-14
Nara sumber : Ustadz Rully
Materi : Menghormati Hak Anak

Bismillahirahmanirrahim
Menghormati Hak Anak
Rasulullah SAW sangat menekankan agar kita mencintai anak-anak tanpa syarat, menepati janji, tidak berbohong, dan adil terhadap mereka.
Bagaimana anak-anak kita mengimani Tuhannya, kelak, sangat dipengaruhi oleh cara kita memperlakukan mereka di waktu kecil.
Bagaimana sikap Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam (SAW) terhadap anak? Secara ringkas, saat bergurau sebagai teman, saat bertutur menjadi guru, dan terhadap hak anak, Rasulullah SAW menjadi pelindung dan penjaga. Melalui tindakan dan ucapannya, Rasulullah Muhammad mengajarkan kepada kita bagaimana menghormati hak anak. Barangkali inilah yang membuat anak-anak di masa Rasulullah SAW mudah menerima kebenaran, ringan mendengarkan nasihat dan ketika dewasa tidak sibuk mendahulukan hak. Mereka bersegera melaksanakan kewajiban kerana di masa kecil mereka selalu dijaga haknya.
Marilah kita ingat peristiwa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari Sahl bin Sa’ad RA, Rasulullah SAW pernah dihidangi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau ada seorang budak dan di sebelah kiri beliau duduk para orang tua. Beliau bertanya kepada si anak, “Apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka?” Si anak menjawab, “Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bahagianku darimu.” Rasulullah SAW meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut.
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari Hadits ini? “Rasulullah SAW memelihara hak si anak dengan menghidangkan minuman terlebih dahulu kepadanya kerana ia berada di samping kanan beliau,” kata Najib Khalid Al-‘Amr menuturkan dalam Min Asaalibir Rasul SAW Fit Tarbiyah.
“Ini adalah bentuk pendidikan yang menjadikan anak seakan berada dalam barisan para orangtua dari segi perolehan hak. Ketika anak telah merasa mengambil haknya, perasaan cintanya kepada Rasulullah SAW akan bertambah dan keimanan kepada risalah beliau akan semakin kukuh,” kata Najib Khalid Al-‘Amr seraya menambahkan, “dari sinilah potensi kreativitinya akan berkembang dalam naungan dakwah beliau.”
Cara bersikap seperti ini membuat anak merasa berharga. Ia memiliki peribadi diri yang baik. Tidak menganggap dirinya buruk, tidak pula memandang orang dewasa dan lingkungan pada umumnya sebagai sumber ketakutan. Selanjutnya, anak akan memiliki konsep diri yang positif sehingga mampu mengembangkan potensinya secara optimum. Rasa percaya diri yang sangat besar, seringkali ditentukan oleh seberapa baik anak memperoleh perlakuan dari orangtua. Bukan apa yang ia miliki untuk ditunjukkan kepada orang lain.
Mencintai Tanpa Syarat
Alfie Kohn, seorang psikologi sekaligus penulis buku Unconditional Parenting, menunjukkan bahwa cinta yang tulus lebih efektif untuk mengasuh, mengarahkan, mendidik, dan mendorong anak untuk lebih bertanggungjawab. Jika Anda ingin anak-anak lebih hormat kepada Anda beserta apa yang Anda katakan, tumbuhkanlah kepercayaan mereka kepada Anda. Caranya? Cintailah mereka sepenuh hati dengan tulus. Tanpa syarat.
Selain itu, anak-anak akan memperhatikan kata-kata Anda. Jika Anda berbohong kepadanya, anak tidak akan percaya kepada setiap perkataan Anda, sekalipun itu nasihat yang paling baik. Padahal tanpa kepercayaan, bagaimana mungkin anak-anak akan tergerak untuk melakukan apa yang kita inginkan?
Di sinilah kita bisa memahami mengapa Rasulullah SAW sangat menekankan agar kita mencintai anak-anak tanpa syarat, menepati janji, tidak berbohong, dan adil terhadap mereka. Bagaimana anak-anak kita mengimani Tuhannya kelak, sangat dipengaruhi oleh cara kita memperlakukan mereka di waktu kecil.
Ingatlah ketika Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Cintailah anak-anak dan kasih-sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui, hanya kamulah yang memberi mereka rezeki,” (Riwayat Bukhari).
Selain tentang seruan untuk melimpahkan cinta dan kasih-sayang kepada anak, ada dua hal yang perlu kita renungkan dari Hadits tersebut.
Pertama,
berkait dengan sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya yang mereka ketahui, hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” Ini mengingatkan saya pada teori psikologi agama yang menunjukkan bahwa keyakinan –bukan pengetahuan—kepada Tuhan sangat dipengaruhi oleh pengalaman anak berhubungan dengan orangtua. Mereka yang memiliki orangtua kedekut, tidak konsisten dan tidak memiliki prinsip dalam mengasuh anak, cenderung menjadi pribadi yang sulit membangunkan keyakinan sangat kuat terhadap sifat pemurah Allah Ta’ala meskipun pengetahuannya tentang hal tersebut sangat luas.Wallahu a’lam bishawab.
Kedua, menepati janji.
Ini merupakan bagian dari berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida). Inilah satu dari dua kunci mendidik anak yang ditunjukkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam al-Qur’an surah An-Nisaa’ ayat 9, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) berfirman,
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٩)

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Bagaimana kalau kita melakukan hal-hal yang kurang baik? Jika kita benar-benar berusaha untuk selalu berkata jujur kepada anak, sementara kita tidak ingin menjadi contoh yang buruk bagi mereka, maka insya Allah kejujuran akan membimbing kita untuk menguruskannya. Ada dorongan dari dalam diri kita untuk terus memperbaiki diri agar dapat menjadi contoh yang layak bagi mereka. Kalau tidak, kita akan berhadapan dengan dua kemungkinan.

Pertama, lidah kita kelu ketika berbicara kebaikan dan kebenaran kepada anak disebabkan dua hal tersebut tidak melekat pada diri kita.

Kedua, kita berbohong kepada mereka untuk menutupi keburukan, sehingga kita justru melanggar apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam surat An-Nisaa’ ayat 9. Padahal berkata yang jujur (qaulan sadiida) merupakan kunci untuk melahirkan generasi yang kuat dan tidak mengkhawatirkan. Wallahu a’lam bishawab.
Inilah di antara hikmah berbicara dengan perkataan yang benar kepada anak. Secara keseluruhan, berbicara yang benar akan membawa kita pada kebaikan. Allah ‘Azza Jalla akan membaguskan amal-amal kita dan mengampuni dosa kita.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٧٠)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (٧١)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab [33]: 70-71).

Jika berkait dengan tugas kita sebagai orangtua, kesungguhan untuk berkata yang benar akan mendorong kita terus berbenah, sehingga kapasiti peribadi kita sebagai orangtua akan lebih baik dari waktu ke waktu.
Selebihnya, saya hanya ingin outlinekan tentang betapa pentingnya anak-anak memperoleh pengalaman bagaimana hak-haknya dimuliakan, dijaga dan dipenuhi oleh orangtua. Ada amanah yang harus kita pertanggung-jawabkan kelak di yaumil-qiyamah, termasuk bagaimana menghormati hak yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya bagi anak-anak kita.
Wallahu a’lam bishawab
Sesi tanya-jawab :
T : Bagaimana ustad bila si anak dari kecil tdk dikenalkan kejujuran, tdk dikenalkan TuhanNYA (ukhrowi) dan hanya dikenalkan duniawi apakah setelah remaja masih bisa dibentuk/dirubah ? Syukron..
T : Ustadz ,bagaimana hukumnya klo misalkan anak kita tinggal dengan orang tua kita (neneknya) apa kah kita berdosa sebagai orang tuanya?
T :  Ustadz..bolehkah anak di hipnoterapi spy rajin belajar ?
Bagaimana cara menghadapi anak yg hiperaktif ?
T :Ustadz bgmn menangani anak yg ska marah ?
. T :Ustadz menurut teori psikologi barat seorang anak tdk blh diajarkan membaca kalau blm siap, bagaimana proses pengenalan membaca Al Quran yg paling baik utk anak2 Balita?
Ust Ruly: Jawaban bisa dengan cara pendekatan kepada sang anak seperti seorang teman saja...
Caranya dengan menanamkan aqidah yang kuat dan di kenalkan kepada ALLAH secara baik dan benar...
In shaa ALLAH bisa berubah
Ust Ruly: Lantaran situasi tertentu, pasangan suami dan istri terpaksa menitipkan pengasuhan anak-anak mereka pada kakek dan neneknya. Tak ada yang salah memang. Namun, hal ini tak jarang menimbulkan dilema bagi orang tua kandung. Lantaran biasanya para kakek dan nenek sangat menyayangi cucunya, timbul juga kekhawatiran bahwa si anak akan mendapatkan pola asuh yang berbeda. Lantas, bagaimana solusinya?
Elly Risman Musa, pakar parenting, menyebutkan, ada hal yang perlu diperhatikan ketika anak berada di bawah pengasuhan selain orangtua kandung. Ini lantaran anak-anak membutuhkan konsistensi perlakuan untuk membentuk tingkah laku mereka. Oleh karena itu harus ada batasan-batasan yang jelas yang ditetapkan untuk anak.
Maksudnya adalah agar anak belajar dasar-dasar perilaku yang baik pada awal kehidupannya. Untuk itu orangtua harus mensosialisasikan tujuan dan tahapan pendidikan yang mereka siapkan untuk anak. Kepada siapa sajakah sosialisasi itu diadakan? Kepada pengasuh dan orang-orang terdekat yang akan membantu pengasuhan anak selama ayah dan ibu bekerja. Hal ini akan berdampak baik bagi perkembangan jiwa dan akhlak anak.
Menurut Elly, orangtua harus menyadari bahwa anak adalah amanah dan cobaan bagi orangtua. Orangtua harus mengembalikan anak kepada pemberi amanah yaitu Allah SWT dalam kondisi yang sebaik-baiknya sebagaimana ia dititipkan oleh Allah SWT kepada kita.
Untuk mengasuh anak memang lebih baik jika kita mendidiknya di bawah pengawasan kita. Bila tidak memungkinkan, hal ini dapat disiasati dengan membicarakan kepada orangtua dengan baik-baik. Ungkapkanlah melalui prolog pentingnya konsistensi dan pembelajaran yang sebaiknya untuk anak.
Dengan demikian orangtua tidak merasa digurui. Orangtua kandung juga dapat membuat sejenis petunjuk pelaksanaan tentang apa-apa yang sebaiknya kakek-nenek sampaikan kepada cucu dan hal yang mereka harapkan kakek-nenek tidak melakukannya.
''Berikanlah alasan kepada bahwa anak penting mendapat pengalaman yang beragam di antaranya anak belajar kemandirian, tanggung jawab, belajar menunggu, belajar kecewa ketika permintaannya tidak dipenuhi,'' ujar Elly dalam satu konsultasi.
Jadi, kakek-nenek tidak perlu khawatir jika anak menangis pada saat permintaan tidak dipenuhi. Bapak juga perlu memberi rambu-rambu yang penting pada pengasuh. Mudah-mudahan ada konsistensi antara pengasuh, kakek-nenek, dan orangtua.
Ust Ruly: bisa mengunjungi situs ini
http://mengatasianakhiperaktif.com/
Ust Ruly: Bila ingin rajin belajar di hyno terapi gak papa kok..asalkan anak diajak bicara dulu dan dia berkenalan

الحمدُ لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصَحْبِه ومَن والاه، أمَّا بعدُ
Usia yang afdhal untuk mulai untuk mulai mengajarkan Al Qur’an kepada anak adalah sejak tiga tahun.
Karena ketika itu akalnya mulai berkembang, memorinya masih bersih murni, ia masih senang dengan kisah-kisah dan ia masih mudah menuruti apa yang diperintahkan.
Diantara metode yang bagus dalam mengajarkan hafalan Al Qur’an Al Karim adalah sebagai berikut:
Hendaknya yang mulai mengajarkan hafalan Qur’an adalah kedua orang tuanya.
Karena secara umum, pada seumur itu mereka belum bisa memiliki pelafalan yang stabil dan masih sulit memfokuskan diri untuk melafalkan bacaan dengan benar.
Hendaknya mendiktekan surat-surat pendek kepada anak, dan mengulang-ulang ayatnya. Jika ayatnya panjang, bisa dipotong-potong menjadi beberapa kalimat. Sampai mereka bisa mampu melatihnya dan mengulang-ulangnya sendiri tanpa didikte.
Menggunakan beberapa media rekaman murattal yang dapat membantu anak menghafal Qur’an. Misalnya rekaman murattal Al Hushari.
Menjelaskan makna-makna ayat dengan penjelasan yang menyenangkan. Misalnya dengan dibumbui candaan dan permisalan-permisalan. Hal ini memudahkan anak untuk menghafal karena jika mereka paham maksud ayat, akan lebih mudah menghafalnya.
Tidak terikat dengan jangka waktu tertentu pada usia-usia awal. Namun ajari mereka jika ada kesempatan dan ketika semangatnya sedang timbul.
Memasukkan mereka ke halaqah-halaqah yang mengajarkan Al Qur’an, yang sesuai dengan sunnah, jika ada.
Mengerahkan segala upaya terhadap anak yang dapat membuat ia lebih mencintai Al Qur’an dan membakar semangatnya untuk menghafal. Di antaranya dengan memberinya hadiah yang ia sukai setiap kali menghafal panjang ayat tertentu.
Selain itu juga tumbuhkan semangat perlombaan menghafal antara ia dengan saudaranya atau antara ia dengan teman-temannya.
Demikianlah caranya. Mengajarkan Al Qur’an kepada anak sejak kecil membuahkan banyak kebaikan dan pahala.
Hendaknya para orang tua bersemangat mengajarkan anak mereka sejak dari kecil, semoga dari itu semua mereka mendapatkan pahala yang besar insya Allah.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خيرُكم من تعلَّم القُرآن وعلَّمه
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya” (Muttafaqun ‘alaihi)
Wallahu’alam
T : Ustadz apakah menyekolahkan disekolah yg biasa saja termasuk tdak memenuhi hak anak,kemampuan orangtuany hnya bsa menyekolahkan ditempat biasa saja,sdangkan sianak mauny skolah dtempat favorite
Menyekolahkan anak di sekolah biasa sudah termasuk memenuhi hak anak...
Tetapi dgn perkembangan saat ini banyak sekolah yg terpadu,  boardind school, sekolah alam yg tentunya menuntut biaya yg cukup besar...
Orang tua yg tak mampu harus bisa mensiasati dgn pendidikan lanjutan di rumah yg di sesuaikan waktunya dgn jam istirahat anak.
Ini tentunya butuh pengetahuan lebih tentang Home Schooling.
Sekarang ini banyak buku2  yg bertebaran memaparkan tentang home schooling...
Jadi tinggal bagaimana kita mensiasati tantangan jaman saat ini..
Tidak sedikit anak2 yg sukses lahir dari orang tua yg tak mampu...
Tanamkan kepada jiwa sang anak bahwa yg terpenting dlm hidup adalah berguna untuk agama , keluarga dan masyarakat...
Sebenarnya ada dua perasaan dasar yang menyebabkan anak-anak memiliki sifat pemarah. yaitu:
Seorang anak memiliki kengintahuan dan kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu, tapi seringkali kemampuannya tidak sekuat keinginannya. Hal ini biasanya membuat ia kesal dan menuntunnya ke arah frustasi yang diungkapkan dengan marah-marah.
Kemauan dan keinginannya untuk cepat menjadi besar. Biasanya anak-anak akan merasakan hal ini jika orangtua sudah melarang-larangnya dengan kata “tidak”. Karena ia belum bisa menguasai emosinya secara logis, maka ia memilih mengekspresikannya ke luar melalui kemarahan.
Cara Mengatasi Anak Pemarah
Sifat anak yang pemarah bisa menjadi masalah bagi ibu dan anak. Karena itu orangtua perlu memaklumi sifat anaknya tersebut. Seperti dikutip dari The baby Book karangan William dan Martha Sears, Jumat (19/3/2010) ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredamkan amarah, yaitu:
1. Mempelajari hal yang menyebabkan anak marah. Ketahui dengan pasti hal apa yang dapat memicu kemarahannya, seperti lapar, bosan, suasana lingkungan yang tidak mendukung atau lainnya. Dengan mengetahui penyebabnya, maka orangtua dapat mencegah kemarahan anak.
2. Memberikan contoh sikap tenang padanya. Anak mempelajari sesuatu dari apa yang dilihat dan dengarnya, karena itu penting untuk mencontohkan sikap tenang didepannya. Jika lingkungan disekitarnya suka marah-marah, maka anak akan menganggap bahwa perilaku ini merupakan hal yang wajar.
3. Ketahui siapa yang sedang marah. Bila orangtua adalah orang yang mudah emosi, maka akan sangat mudah bagi anak untuk memancing kemarahan dan berakhir dengan lomba saling teriak tanpa ada penyelesaian. Karena itu perlu diketahui siapa yang marah agar kondisi tetap terkendali.
4. Usahakan untuk tetap tenang meskipun berada di tempat umum. Sebaiknya orangtua tidak menunjukkan kemarahannya pada anak di depan banyak orang, karena anak akan semakin menunjukkan rasa marahnya. Jadi cobalah untuk menggendong dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
5. Memeluk dan merangkulnya erat seperti pelukan gaya beruang. Sebagian besar anak yang kehilangan kontrol akan menjadi lebih tenang saat dipeluk. Pelukan ini tidak akan terlalu mengekangnya, namun tetap memberinya keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan saat sedang marah.
6. Menahan diri adalah terapi yang baik. Tunggulah sampai ia tenang sebelum memulai konseling atau mengatasi permasalahannya, karena jika ia masih marah-marah kemungkinan Anda akan terpancing untuk ikut marah.
Semoga dapat bermanfaat dalam mengatasi anak pemarah..
T: Bagaimana memperbaiki kesalahan komunikasi masa lalu dg anak ( terlalu otoriter) ?
J: Masa Lalu itu di jadikan pelajaran...bu, Minta maaf lah kepada anak ibu,
Bangun komunikasi yang baik kembali ..in shaa ALLAH pasti bisa
T: Bagaimana anak yang sudah berkeluarga kami masih suka mengingatkan utk sholat tepat waktu mohon pendapatnya ustadz
J: masalah mengingatkan shalat adalah kewajiban orang tua sampe usia baligh....setelah baligh maka itu dah tanggung jawabnya...
T: Kalau kita brada d syurga nanti apa kerjaan kita? Apkh kita hnya memandangi Allah yg duduk d singgasananya, bagaimna bentuk Allah d syurga nanti ? Ini pertanyaan anak saya yg msih SD dan membuat saya tdk bisa menjwabnnya. Bagaimn kalau kita berhdpn dg ank yg sangt kritis dan serba ingin tahu sedngkn kita kurng bisa mnjelasknnya? Apa jwbn dari pertanyaan ank saya tadi?
J: Di Al Qur'an di sebutkan
S U R A T   A L - A H Q A A F
46:14. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
46:16. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.
S U R A T   A R - R A H M A A N
55:56. Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.
55:74. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.
Kesenangan di syurga adalah mutlak...dan kita hanya bisa mengimani saja.
T: Pak ustadz. Bisa shared smua contoh2 dari Rasullullah tentang parenting slain contoh diatas?
J: Cara Rasulullah mendidik anak...
http://kemuslimahan-takaful.blogspot.com/2011/03/mendidik-anak-ala-rasul-islamic.html?m=1
T: Apa yg bisa dilakukan jika kebiasaan berbohong terbawa oleh anak hingga dewasa (mungkin saat dia msh kecil salah asuhan, wallahualam bisshawab)..apakah bisa diperbaiki saat dewasa?syukron
J: Bisa dengan metode pengenalan kepada ALLAH dgn baik dan benar...serta penanaman aqidah yg kuat...in shaa ALLAH bisa

Kita cukupkan dengan baca hamdalah dan do'a kafaratul Majlis
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astagfiruka wa atuubu ilaika

Semoga kajian kita kali ini bermanfaat.

dipostkan oleh : Ira Wahyudiyanti

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT