Home » , , , , » MUAMALAH BAB TENTANG MENIKAH (MUNAKAHAT)

MUAMALAH BAB TENTANG MENIKAH (MUNAKAHAT)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, September 15, 2014

Grup Nanda 106
بسم الله الرحمن الرحيم
Rekap kajian online Hamba Allah


Materi.         : Menikah (munakahat)
Narasumber : Ustadz Herman

TGL,04~09~2014

[10:50, 9/4/2014] Herman Budianto: Assalamu'alaykum akhwati fillah
[10:51, 9/4/2014] Herman Budianto: Perkenalkan nama saya herman. Hari ini mendapat jadwal utk sharing dan diskusi tentang bab menikah/munakahat di grup ini

Bab Menikah (Munakahat)

Kata nikah berasal dari bahasa arab yang berarti bertemu, berkumpul. Menurut  istilah  nikah ialah suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga melalui aqad yang dilakukan menurut hukum syariat  Islam.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :”Hai para pemuda, barang siapa diantara kamu telah sanggup menikah, maka nikahlah. Karena nikah itu dapat menundukkan mata dan memelihara faraj (kelamin) dan barang siapa tidak sanggup maka hendaklah berpuasa karena puasa itu dapat melemahkan syahwat”. (HR. Bukhori Muslim)


HUKUM NIKAH

Hukum menikah dibagi menjadi dua ;

Hukum Asal Dari Pernikahan

Adapun hukum asal dari pernikahan, para ulama berbeda pendapat :

Pendapat Pertama : bahwa hukum asal pernikahan adalah wajib.

 Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mempunyai kemampuan (secara fisik dan harta), hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat meredam (syahwat)  (HR Bukhori Muslim)

Rasulullah shalallahu a’alaihi wa sallam dalam hadist di atas memerintahkan para pemuda untuk menikah dengan sabdanya “falyatazawaj” (segeralah dia menikah),  kalimat tersebut mengandung perintah. Di dalam kaidah ushul fiqh disebutkan  bahwa : “al ashlu fi al amr  lil wujub “ (Pada dasarnya perintah itu mengandung arti kewajiban).

 “ Dari Anas bahwa sekelompok orang dari kalangan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada isteri-isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengenai amalan beliau yang tersembunyi. Maka sebagian dari mereka pun berkata, “Saya tidak akan menikah.” Kemudian sebagian lagi berkata, “Aku tidak akan makan daging.” Dan sebagian lain lagi berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasurku.” Mendengar ucapan-ucapan itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: “Ada apa dengan mereka? Mereka berkata begini dan begitu, padahal aku sendiri shalat dan juga tidur, berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka siapa yang saja yang membenci sunnahku, berarti bukan dari golonganku (HR Bukhori – Muslim)

 Pendapat Kedua :  bahwa hukum asal dari pernikahan adalah sunnah, bukan wajib. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Berkata Imam Nawawi : “Ini adalah madzhab kita (Syafi’iyah) dan madzhab seluruh ulama, bahwa perintah menikah di sini adalah anjuran, bukan kewajiban… dan tidak diketahui seseorang mewajibkan nikah kecuali Daud dan orang-orang yang setuju dengannya dari pengikut Ahlu Dhahir (Dhahiriyah), dan riwayat dari Imam Ahmad (Syarah Muslim)

Dalil-dalil mereka adalah :
 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An Nisa : 3)

Perintah yang terdapat dalam hadist Abdullah bin Mas’ud di atas bukan menunjukkan kewajiban, tetapi menunjukan “al-istihbab “(sesuatu yang dianjurkan).

Hukum Menikah Menurut Kondisi Pelakunya

Adapun hukum nikah jika dilihat dari kondisi orang yang melakukannya adalah sebagai berikut :

Pertama : Nikah hukumnya wajib, bagi orang yang mempunyai hasrat yang tinggi untuk menikah karena syahwatnya bergejolak sedangkan dia mempunyai kemampuan ekonomi yang cukup. Dia merasa terganggu dengan gejolak syahwatnya, sehingga dikawatirkan akan terjerumus di dalam perzinaan.

Begitu juga seorang mahasiswa  atau pelajar, jika dia merasa tidak bisa konsentrasi di dalam belajar, karena memikirkan pernikahan, atau seandainya dia terlihat sedang belajar atau membaca buku, tapi ternyata dia hanya pura-pura, pada hakekatnya dia sedang melamun tentang menikah dan selalu memandang foto-foto perempuan yang diselipkan di dalam bukunya, maka orang seperti ini wajib baginya untuk menikah jika memang dia mampu untuk itu secara materi dan fisik, serta bisa bertanggung jawab, atau menurut perkiraannya pernikahannya akan menambah semangat dan konsentrasi dalam belajar.

Kedua : Nikah hukumnya sunah  bagi orang yang mempunyai syahwat, dan mempunyai harta, tetapi tidak khawatir terjerumus dalam maksiat dan perzinaan.

 Ketiga : Nikah hukumnya mubah, bagi orang yang mempunyai syahwat, tetapi tidak mempunyai harta. Atau bagi orang yang mempunyai harta tetapi tidak mempunyai syahwat.

 Keempat : Nikah hukumnya makruh bagi orang yang tidak punya harta dan tidak ada keinginan untuk menikah (lemah syahwat).


TUJUAN NIKAH

1. Melaksanakan tuntunan para Rasul
 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar Ra’du: 38).
Ayat di atas menjelaskan bahwa para Rasul itu menikah dan memiliki keturunan. Rasulullah Saw bersabda, “Empat perkara yang termasuk sunnah para rasul, yaitu sifat malu, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

2. Menguatkan Ibadah
Nabi Saw bersabda, “Apabila seorang hamba menikah maka telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah SWT untuk separuh sisanya” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

3. Menjaga kebersihan dan kebaikan diri
Rasulullah Saw bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya” (Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, dan Baihaqi).
Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari dua keburukan maka ia akan masuk surga: sesuatu di antara dua bibir (lisan) dan sesuatu di antara dua kaki (kemaluan)” (HR. Tirmidzi dan Al Hakim. Albani mentashihkan dalam As Sahihah).

4. Mendapatkan ketenangan jiwa
 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang” (QS. Ar Rum: 21).

5. Mendapatkan keturunan
 “Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik” (QS. An-Nahl: 72).

6. Investasi akhirat
Rasulullah Saw bersabda, “Di hari kiamat nanti orang-orang disuruh masuk ke dalam surga, namun mereka berkata: wahai Tuhan kami, kami akan masuk setelah ayah dan ibu kami masuk lebih dahulu. Kemudian ayah dan ibu mereka datang. Maka Allah berfirman: Kenapa mereka masih belum masuk ke dalam surga, masuklah kamu semua ke dalam surga. Mereka menjawab: wahai Tuhan kami, bagaimana nasib ayah dan ibu kami? Kemudian Allah menjawab: masuklah kamu dan orang tuamu ke dalam surga” (HR. Imam Ahmad dalam musnadnya).

7. Menyalurkan fitrah
Di antara fitrah manusia adalah berpasangan, bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk menjadi pasangan agar saling melengkapi, saling mengisi, dan saling berbagi. Kesendirian merupakan persoalan yang membuat ketidakseimbangan dalam kehidupan. Semua orang ingin berbagi, ingin mendapatkan kasih sayang dan menyalurkan kasih sayang kepada pasangannya.
Manusia juga memiliki fitrah kebapakan serta keibuan. Laki-laki perlu menyalurkan fitrah kebapakan, perempuan perlu menyalurkan fitrah keibuan dengan jalan yang benar, yaitu menikah dan memiliki keturunan. Menikah adalah jalan yang terhormat dan tepat untuk menyalurkan berbagai fitrah kemanusiaan tersebut.

8. Membentuk peradaban
Menikah menyebabkan munculnya keteraturan hidup dalam masyarakat. Muncullah keluarga sebagai basis pendidikan dan penanaman nilai-nilai kebaikan. Lahirlah keluarga-keluarga sebagai pondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan menikah, terbentuklah tatanan kehidupan kemasyarakatan yang ideal. Semua orang akan terikat dengan keluarga, dan akan kembali kepada keluarga.
Perhatikanlah munculnya anak-anak jalanan yang tidak memiliki keluarga atau terbuang dari keluarga. Mereka menggantungkan kehidupan di tengah kerasnya kehidupan jalanan. Padahal harusnya mereka dibina dan dididik di tengah kelembutan serta kehangatan keluarga. Mereka mungkin saja korban dari kehancuran keluarga, dan tidak bisa dibayangkan peradaban yang akan diciptakan dari kehidupan jalanan ini.
Peradaban yang kuat akan lahir dari keluarga yang kuat. Maka menikahlah untuk membentuk keluarga yang kuat. Dengan demikian kita sudah berkontribusi menciptakan lahirnya peradaban yang kuat serta bermartabat.

Proses Menikah

1. Mengenal calon pasangan hidup (ta'aruf)

Sebelum memutuskan untuk menikahi seorang, tentunya ia harus mengenal terlebih dahulu siapa yang akan dinikahi. Tentunya proses kenal-mengenal ini tidak seperti yang dijalani orang-orang yang tidak paham agama, sehingga mereka menghalalkan pacaran atau pertunangan dalam rangka penjajakan calon pasangan hidup, kata mereka. Pacaran dan pertunangan haram hukumnya tanpa kita sangsikan.Adapun mengenali calon pasangan hidup di sini maksudnya adalah mengetahui siapa namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya dan informasi lain yang memang dibutuhkan. Ini bisa ditempuh dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari kerabat si lelaki atau si wanita ataupun dari orang lain yang mengenali si lelaki/si wanita.

2. Nazhar (Melihat calon pasangan hidup)

Disunahkan untuk melihat calon pasangannya ; “Lihatlah wanita tersebut, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu.” Yang beliau maksudkan adalah mata mereka kecil. (HR. Muslim)

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu meminang seorang wanita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah melihat wanita yang kau pinang tersebut?” “Belum,”jawab Al-Mughirah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk melanggengkan hubungan di antara kalian berdua (kelak).” (HR. An-Nasa`i no. 3235, At-Tirmidzi)

Haramnya berduaan dan bersepi-sepi tanpa mahram ketika nazhar (melihat calon)

Sebagai catatan yang harus menjadi perhatian bahwa ketika nazhar tidak boleh lelaki tersebut berduaan saja dan bersepi-sepi tanpa mahram (berkhalwat) dengan si wanita. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259)

Karenanya si wanita harus ditemani oleh salah seorang mahramnya, baik saudara laki-laki atau ayahnya. (Fiqhun Nisa` fil Khithbah waz Zawaj, hal. 28)

Bila sekiranya tidak memungkinkan baginya melihat wanita yang ingin dipinang, boleh ia mengutus seorang wanita yang tepercaya guna melihat/mengamati wanita yang ingin dipinang untuk kemudian disampaikan kepadanya. (An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar bi Hassatil Bashar, Ibnul Qaththan Al-Fasi hal. 394, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/280)

3. Khithbah (peminangan)Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita, hendaknya meminang wanita tersebut kepada walinya.

Setelah pinangan diterima tentunya ada kelanjutan pembicaraan, kapan akad nikad akan dilangsungkan. Namun tidak berarti setelah peminangan tersebut, si lelaki bebas berduaan dan berhubungan dengan si wanita. Karena selama belum akad keduanya tetap ajnabi, sehingga janganlah seorang muslim bermudah-mudahan dalam hal ini. (Fiqhun Nisa fil Khithbah waz Zawaj, hal. 28)

Beberapa hal yang penting dalam meminang :

1. “Apabila datang kepada kalian (para wali) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”(HR. At-Tirmidzi)

2. Meminta pendapat putrinya/wanita yang di bawah perwaliannya dan tidak boleh memaksanya.“Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana izinnya seorang gadis?” “Izinnya dengan ia diam,” jawab beliau. (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458)

4. Akad nikah

Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul.Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan ucapannya, misalnya: “Saya nikahkan anak saya yang bernama si A kepadamu dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.”Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya, misalnya: “Saya terima nikahnya anak Bapak yang bernama si A dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.”

5. Walimatul ‘urs

“Selenggarakanlah walimah walaupun dengan hanya menyembelih seekor kambing4.” (HR. Al-Bukhari  dan Muslim)

“Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelenggarakan walimah ketika menikahi istri-istrinya dengan sesuatu yang seperti beliau lakukan ketika walimah dengan Zainab. Beliau menyembelih kambing untuk acara walimahnya dengan Zainab.” (HR. Al-Bukhari no. 5168 dan Muslim no. 3489)

Walimah bisa dilakukan kapan saja. Bisa setelah dilangsungkannya akad nikah dan bisa pula ditunda beberapa waktu sampai berakhirnya hari-hari pengantin baru. Namun disenangi tiga hari setelah dukhul, karena demikian yang dinukilkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Shafiyyah radhiyallahu ‘anha dan beliau jadikan kemerdekaan Shafiyyah sebagai maharnya. Beliau mengadakan walimah tiga hari kemudian.”

Hendaklah yang diundang dalam acara walimah tersebut orang-orang yang shalih, tanpa memandang dia orang kaya atau orang miskin. Karena kalau yang dipentingkan hanya orang kaya sementara orang miskinnya tidak diundang, maka makanan walimah tersebut teranggap sejelek-jelek makanan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana yang diundang dalam walimah tersebut hanya orang-orang kaya sementara orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Al-Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 3507)

6. Setelah akad

Ketika mempelai lelaki telah resmi menjadi suami mempelai wanita, lalu ia ingin masuk menemui istrinya maka disenangi baginya untuk melakukan beberapa perkara berikut ini:

Pertama: Bersiwak/sikat gigi terlebih dahulu untuk membersihkan mulutnya karena dikhawatirkan tercium aroma yang tidak sedap dari mulutnya. Demikian pula si istri, hendaknya melakukan yang sama. Hal ini lebih mendorong kepada kelanggengan hubungan dan kedekatan di antara keduanya. Didapatkan dari perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersiwak bila hendak masuk rumah menemui istrinya, sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu ‘anha (HR. Muslim no. 590).

Kedua: Disenangi baginya untuk menyerahkan mahar bagi istrinya sebagaimana akan disebutkan dalam masalah mahar dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Ketiga: Berlaku lemah lembut kepada istrinya, dengan semisal memberinya segelas minuman ataupun yang semisalnya berdasarkan hadits Asma` bintu Yazid bin As-Sakan radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendandani Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk dipertemukan dengan suaminya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah selesai aku memanggil Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melihat Aisyah. Beliau pun datang dan duduk di samping Aisyah. Lalu didatangkan kepada beliau segelas susu. Beliau minum darinya kemudian memberikannya kepada Aisyah yang menunduk malu.” Asma` pun menegur Aisyah, “Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah pun mengambilnya dan meminum sedikit dari susu tersebut.” (HR. Ahmad)

Keempat: Meletakkan tangannya di atas bagian depan kepala istrinya (ubun-ubunnya) sembari mendoakannya, dengan dalil sabda

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:إِذَا تَزَوَّج

َْ اللّهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ“

Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendoakan keberkahan dan mengatakan: ‘Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya’.” (HR. Abu Dawud no. 2160, )

Kelima: Sholat sunah dua rakaat“Bila engkau masuk menemui istrimu, shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kebaikannya dan berlindunglah dari kejelekannya. Seterusnya, urusanmu dengan istrimu.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf)

Sesi Tanya jawab

Pak ustad mau tanya
Klo misal perempuan yg meminta mahar boleh gk ya pak
Misal maharnya minta rumah atau sejumplah uang begitu?

@ mb Eka : wanita boleh meminta mahar tetapi sebaik2 wanita adalah yg tdk menentukan tinggi maharnya

Ustadz..mau bertanya..
Jika seorang perempuan..dy msh kuliah..sudah ada niat ingin menikah..namun orang tuanya menginginkan anaknya lulus dlu..bagaimana solusinya ya pak?

@ mb Dedes : sebaiknya dibicarakan dan dirayu2 orang tuanya dg argumen yg baik dan rencana yg baik juga. Dulu waktu menikah saya masih kuliah tetapi disetujui.

Ustdz..waktu yg baik untuk ta'aruf itu brapa lama yaa? Smakin cepat lbih baik atau bgaimana?
Lalu misalnya sudah di khitbah tp untuk ke akad jeda waktunya lama jdi dari khitbah ke akad itu waktunya setahun..bagaimana hukumnya ustdz?

@ mb irfa : batasan waktu ta'aruf dan dari khitbah ke menikah memang tdk ada batas waktu yg pasti tetapi para ulama mensarankan tdk terlalu jauh krn akan banyak fitnah nantinya. Pengalaman saya dari ta'aruf sampai menikah hanya 3 minggu

Sering kali seseorang yg blm menginginkan menikah krna ada rasa blm siap ,bisa dri segi ekonomi, batin, dan hati,, tapi jika usia udah. Tepat buat nikah,, gmana solusinya agar kitanya bisa siap ustad?. Tpi bayang2 kita gmana kedepannya kalau sdh menikah, dan kitanya sering kAli memandang dri hal2 negatif dri sebuah pernikahan,,

@ mb Bika : Allah berfirman dalam surat nur 32 : dan nikahilah orang2 yg sendirian diantara kamu dan orang2 yg layak dan hamba2 sahayamu yg laki2 dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mrmampukam mereka dg karunianya.

Jangan menunggu kaya utk menikah, jangan menunggu punya rumah utk menikah.

Yakin dg Allah maka akan banyak pertolongan Allah

Tapi jika pihak lelaki menyetuju permintaan maharnya bagai mn ustadz

Kalau laki2 menyetujui boleh, asal jangan memberatkan shg harus hutang kesana sini

Jika sudah ada seorang ikhwan yg ingin mengajak ta'aruf bagaimana ustadz?
Contoh argumennya apa pak?

Contoh yg saya lakukan adalah bahwa saya sambil kuliah jg kerja shg ada penghasilan dan ingin nanti anak2 saya sudah selesai kuliah sebelum saya pensiun

Pak saya kn lg ta’ruf sama seseorang
Kbetulan posisi sya skrng msh di luar negri
Nah dia bilang dia serius sm saya
Saya bilang klo.mng serius km dateng ke ortu saya dn minta saya pd mereka,tapi dia bilng gmn aku minta km klo km aj masih ad di luar
Nnti lh tunggu km plng
Tu gmn ya pak,kira klo begitu bs di ktkn serius gk sih??

@ mb eka : dg kondisi tsb maka sebaiknya hubungan dg ikhwan tsb dibatasi ya, khawatir menjadi pacaran jarak jauh. Sebenarnya kalau ikhwan tsb sudah pernah melihat anti maka tdk ada alasan untuk datang ke rumah orang tua

Oohh gitu ya pak ustad, terus kalau kita menunda2 nikah krna hrus membiayai adik2 sekolah gmana ?, boleh gk pak ustad,,,

@ mb Bika : bila kondisi orang tua tdk mampu utk membiayai adik2 sekolah maka kewajiban kita adalah membantu orang tua agar adik2 bisa lebih baik pendidikannya, tetapi hal ini jangan membuat orang tua lepas tangan thd tanggung jawab ke anak2nya kecuali orang tua sakit shg tdk bisa bekerja atau meninggal.

Perlu juga dilatih kemandirian kpd adik2nya agar ikut berjuang jg dg sekolah atau kuliah sambil bekerja shg anti tdk harus menghabiskan usia muda utk hanya bekerja dan melupakan masa depan utk menikah

Ustadz mau tanya apa benar ada hadist yang menjelaskan tentang pernikahan nabi adam dulu n itu masih bisa di lakukan di zaman rosul ini?

@ mb kholifatul : pernikahan nabi Adam tentu sudah tdk bisa dipakai krn pernikahan beliau dalam kondisi tdk ada orang lain. Dlm usul fiqh syaru man qoblana yaitu aturan nabi terdahulu bisa dipakai bila belum dihapus atau disempurnakan oleh Islam. Dan utk nikah tsb sdh aturan sendiri dalam islam

Ustadz, dalam hadist kan pertimbangan calon suami itu baik agama dan akhlaknya. Konteks baik agama dan akhlak yang bagaimana ya ustadz? bisa di spesifikkan?

@ mb cindi : baik agama dan akhlaq ini adalah baik dalam ilmu dan aplikasinya. Misal lancar membaca al quran, sholat berjamaah dimasjid dll dan akhlaq adalah penerapannya. Bgm cara beliau mengaplikasikan dlm kehidupan. Misal rajin sholat mk rajin kerja, berkata yg baik, berbakti kpd orang tua, tdk kasar dll

Usul figh syaru man qoblana artinya apaa pak

Artinya syariat dari para nabi sebelumnya

Pak klo wanita yg di nikahi sirih itu
Apakah gk ada hak untuk menntut suami
Jika terjadi perisahan

@ mb eka : dalam islam nikah siri itu sama dengan nikah biasa hanya tanpa surat nikah yg tercatat di KUA. Hak dan kewajibannya sama dg nikah resmi. Sebaiknya nikah siri dihindari kalau tdk terpaksa dan sifatnya sementara lalu segera mengurus surat nikah resmi ke KUA

Jika melakukan ta'aruf itu hnya boleh ke satu orang atau bisa lebih ustdz? Kan kdang dari ta'aruf ada jg yg merasa tdak cocok

@ mb irfa : proses ta'aruf sebaiknya dilakukan satu satu saja, jangan sekaligus ke beberapa orang. Kalau satu tdk cocok maka boleh taaruf ke yg lain. Kalau ke beberapa orang nanti bahaya krn bisa dianggap playboy atau playgirl

Ustadz, benarkah tepung tawar, marhaban, dan genduri sblm resepsi itu tdk diperbolehkan ?

@ mb atmi : acara tabuh rebana dll baru ada pada waktu walimah, ketika lamaran tdk dianjurkan krn ketika lamaran masih memungkinkan utk jadi menikah yg akan menyebabkan seorang wanita malu. Jadi sunahnya ketika lamaran itu tdk diramaikan

Ustad,, aapa hukumnya nikah lari dan nikah kontrak ??

@ mb Putri : nikah kontrak itu diharamkan dlm islam, jadi spt zina krn dlm nikah tdk boleh ada batas waktu.

Nikah lari yg dimaksud adalah nikah tanpa persetujuan wali? Wali boleh menolak menikahkan bila calon suami dipandang tdk baik dlm masalah agama atau terlihat maksiat.

Tetapi kalau calon suami sdh baik dan orang tus tetap tidak menyetujui maka bisa mengajukan ke wali lain spt kakek, paman atau kakak/adik laki2. Kalau masih bermasalah maka mengajukan ke KUA agar bisa nikah dg wali hakim tetapi jangan nikah dengan tanpa ada wali krn itu haram

Oya klo nikah wali ayahnya sudah tdk ada bs d gantikan dgn om bs kan ustad?

Boleh mb putri

Td klo walinya ayah msh tetap hidup tp yg calon pngantiannya tdk tau tmpat tinggal dmn ayahnya tsb apa harus d tetap dicari? Apa klo hanya dgn wali pamannya bs tdk yh

Kalau ayah tdk diketahui keberadaannya maka bisa dg wali lain. Pertama kakek dulu, paman lalu kakak/adik laki2

Ustadz, kalau sudut pandang, prinsip, tidak sejalan, meski agama dan akhlak baik, bolehkah kita sebagai wanita menolak untuk taaruf/khitbah?

Wanita boleh menolak khitbah kalau memang dirasa tdk cocok. Jaman Rasulullah ada kisah sahabat salman al farisi diantar melamar oleh abu darda tetapi salman di tolak dan malah memilih abu darda yg mengantarkannya. Padahal kedua sahabat tsb mempunya kualitas agama yg sama mungkin hanya beda penampilannya saja

Baiklaah ustad..klo kk spupunya boleh jg tdk jd walinya?

Kakak sepupu tdk masuk srbagai wali nikah. Urutannya adalah ayah, kakek, kakak/adik laki2 dan paman

bolehkah kita sebagai wanita menolak lamaran

Wanita boleh menolak khitbah kalau memang dirasa tdk cocok. Jaman rosulullah ada kisah sahabat salman al farisi diantar melamar oleh abu darda tetapi salman di tolak dan malah memilih abu darda yg mengantarkannya. Padahal kedua sahabat tsb mempunya kualitas agama yg sama mungkin hanya beda penampilannya saja

Doa Kafaratul Majelis            سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك                                                                                                                                                           Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika                                                                                                                                                                     “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”


dipostkan oleh : Ira Wahyudiyanti

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!