Optimalisasi Potensi Diri

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, September 2, 2014

Bunda 08/09
Jumat 29,2014
Tema   : ( Parenting )
Optimalisasi Potensi Diri
Nara Sumber: U.Ellya

Bismillahirrohmaanirrohiim..
Siapa diantara anda yg merasa potensi nya sudah optimal
Sehingga nggak perlu lagi utk meningkatkan kualitas dirinya?
Enggak perlu improvement?

Baiklah, berarti kita semua sepakat bahwa masih perlu improvement ya! Itulah kenapa kita gabung di group ini..karena kita ingin belajar. Betul?
Apakah anda tiap akhir tahun membuat resolusi? Berapa persen yang kemudian anda benar-benar melakukan apa yang ada di resolusi tersebut? Kenapa kita tidak tergerak dan bersemangat untuk mencapainya? Bisa jadi karena resolusi tersebut tidak berkaitan dengan visi-misi hidup anda, sehingga hampa. Hanya sekedar keinginan yang tidak mendorong pada suatu tindakan..
Ringkas cerita, cukup sering saya dapati rekan-rekan yang menulis resolusi tahun baru, hanya untuk kemudian diulangi lagi di tahun depan, dengan isi yang sama persis. Dengan kata lain, tak satu pun janji itu tercapai, hingga akhirnya ‘terpaksa’ diulang kembali. Kondisi seperti ini, memiliki beberapa konsekuensi. Tapi salah satu yang paling ‘berbahaya’ adalah rasa tidak percaya diri yang hadir secara halus, disebabkan ‘kegagalan’ memenuhi deretan janji itu. Maka menulis resolusi, target tahunan, atau apapun namanya, sejatinya memerlukan ilmu agar ia mampu menjadi api bagi diri.
Bagaimana caranya?
Ada banyak  macam caranya. Saya senang menggunakan model Neuro-Logical Level yang digagas oleh Robert Dilts. Menurut beliau, ada level-level yang mendasari tindakan seseorang  yaitu :
1-Lingkungan
2-Perilaku
3-Kemampuan
4-Keyakinan (believe)
5-Identitas
6-Spiritual
Dengan NLL, kita diajak untuk mengenali Lingkungan tempat kita berada kini, Perilaku yang kita lakukan, Kemampuan yang kita miliki, Keyakinan yang kita pegang, Identitas diri yang kita pasang, hingga akhirnya kita bisa memahami untuk tujuan Spiritual apa kita diciptakan. Di titik Spiritual ini umumnya kita akan memahami peran yang diberikan pada diri, untuk kemudian kita gunakan sebagai jalan menyelaraskan kembali Identitas diri yang kita pasang, Keyakinan yang perlu kita pegang, Kemampuan yang perlu kita bangun, Perilaku yang perlu kita biasakan, dan bagaimana dampaknya pada Lingkungan. Proses ini disebut dengan Neuro Logical Level Alignment.
Nah, Para pembelajar NLP mengenal apa yang di sebut sebagai NLL (Neuro Logical Level). NLL  mengajarkan kita sebuah skema untuk mengenali sebuah kondisi, dan melakukan pemetaan untuk menentukan intervensi apa yang akan digunakan. Kaidah dasarnya, masalah di satu level, bisa diatasi dengan paling tidak mengintervensi minimal 1 level di atasnya. Maka permasalahan di level perilaku, perlu diatasi minimal di level kemampuan. Model aslinya berbentu hirarki. Namun kemudian saya modifikasi menjadi seperti di bawah ini, sebab menurut saya lebih pas. Karena tidak saja level yang di atas menaungi yang di bawah, namun juga melingkupi keseluruhan level yang di bawahnya.
Dulu, saya kerap menggunakan NLL sebagai alat untuk menyelaraskan kondisi diri. Ketika—misalnya—saya mengalami kecemasan akan selesai atau tidaknya tugas baru yang dibebankan kepada saya, saya akan melakukan analisa terhadap kondisi ini dengan NLL. Oh, ternyata saya merasa tidak yakin dengan kemampuan saya. Maka wajar kalau saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, sebab level kemampuan memang menaungi level perilaku. Belum lagi rasa tidak yakin yang muncul, menandakan kalau saya pun punya masalah di level keyakinan. Apa yang bisa saya lakukan? Cek di level identitas diri. Seperti apa kah saya melihat dan menilai diri saya, sehingga tidak yakin? Oh, rupanya saya melihat diri saya sebagai seorang yang tidak detil, global thinker. Jadilah saya stres kala menghadapi tugas yang memerlukan ketelitian tinggi.
Dalam kelas-kelas yang bertemakan Self Leadership , NLL saya ajarkan kepada peserta untuk mengajak mereka melakukan perjalanan ke lapisan pikiran di dalam, guna mengenali misi diri (NLL level spiritualitas). Saya mengajak peserta untuk memikirkan sebuah tangga imajiner, yang setiap anak tangganya mewakili satu level dalam NLL. Mereka kemudian dibimbing untuk melalui tiap anak tangga, sehingga mencapai sebuah state (Kondisi pikiran-perasaan) yang memungkinkan untuk mengenali misi diri sendiri.
Belakangan, saya baru menyadari fungsi lain dari NLL, yakni dalam hal perencanaan.
NLL sejatinya adalah alat bantu untuk memudahkan kita memiliki rencana-rencana yang realistik, namun juga penuh makna. Jika sebuah rencana sudah teramat detil, berarti ia telah berada di level perilaku atau bahkan lingkungan. Yang kita perlukan adalah mengecek apakah ia telah memiliki sambungan dengan level-level di atasnya sehingga menghadirkan makna yang mendalam. Sebaliknya, sebuah rencana yang masih global, kiranya berada di level atas. Kita perlu mendefinisikannya dengan lebih detil untuk menjadikannya lebih nyata.
Contoh,
Saya memiliki resolusi untuk bisa menghafal Alqur'an dalam waktu 4 tahun. Ini membuat saya perlu menghafal minimal setengah halaman setiap hari. Target ini adalah target yang berada di level PERILAKU : menghafal  Alqur'an selama 4 tahun dengan cara menghafal setengah halaman halaman setiap hari. Untuk meningkatkan kemungkinan target ini tercapai, kita perlu menjabarkan secara utuh desain NLL-nya.
Misalnya, karena saya sudah memiliki target di level perilaku, maka definisikan level yang diatasnya, yakni KEMAMPUAN, dengan bertanya, “Kemampuan baru apa yang saya perlukan untuk bisa memunculkan perilaku menghafal setengah halaman tiap hari?” Oh, rupanya saya perlu memiliki kemampuan untuk mengatur waktu dan disiplin dengan jadwal yang sudah dibuat
Lalu, naik lagi ke level di atasnya, KEYAKINAN, dengan bertanya, “Keyakinan apa yang saya perlu miliki untuk bisa menghafal setengah halaman tiap hari?” Oh, ada keyakinan bagus yang saya pelajari dari ustadz abdul aziz abdur rouf. ,  Beliau katakan, kalau menghafal itu pekerjaan mulut, bukan pikiran. Menghafal itu membaca yang diulang-ulang. Maka selama saya rajin mengulang-ulang, maka hafalan saya akan bertambah
Lanjutkan lagi ke level di atasnya, IDENTITAS DIRI, dengan bertanya, “Siapakah saya yang mampu meyakini dan melakukan ini?” Hmm… saya adalah hamba Allah, saya juga seorang ibu yang merangkap sebagai guru. Saya seorang daiyah.
Dan naik lagi ke level di atasnya, SPIRITUAL,  dengan bertanya, “Untuk siapa saya melakukan ini? Untuk apa saya melakukan ini? Apa sebenarnya peran yang saya jalankan di dunia ini, melalui hafalan ini? Apa makna hafalan saya ini bagi kehidupan?” Hmm.. Allah berikan karunia pada saya untuk menyederhanakan hal yang rumit. Menyebarkan ilmuNya yang berharga, dan saya mengikuti tradisi para sahabat nabi dan salafus sholeh juga para ulama. Saya menjadi keluarga Allah, yang bisa memberikan syafaat bagi keluarga saya tersebab saya hafal Al qur'an.
Sampai di sini, maka target untuk menghafal setengah halaman per hari sungguh tidak lagi remeh. Ia penuh dengan makna yang begitu mendalam. Ia adalah bagian dari tugas kehidupan yang mesti saya penuhi. Ia adalah amanah, dan salah satu alasan saya diciptakan. Maka apapun kesulitan dan halangan yang menghadang, ia tak terlalu mengganggu.
Dari sini, barulah saya detilkan rencana tadi dengan turun ke NLL yang paling bawah, yang belum kita bahas, yakni level LINGKUNGAN, atau konteks. “Kapan saya akan menghafal Alqur'an setiap hari? Dimana? Menggunakan apa?” Ya, saya akan menghafal di pagi hari, jam 03.00-05.00 Jika karena satu hal saya tak penuhi, maka saya akan menghafal 1halaman keesokan harinya.
Nah, lengkaplah sudah desain dari target yang ingin kita capai. Sebab ia bermakna, maka rencana detil dan konsekuensi tidak lah menjadi sesuatu yang memberatkan. Karena salah satu sebab tidak sungguh-sungguhnya diri menjalankan sebuah perilaku adalah kehilangan makna yang lebih dalam. Maka seolah ia menjadi kewajiban, dan rutinitas belaka, yang kering. Menggunakan NLL, kita memiliki sebuah desain yang utuh atas target yang kita tetapkan.
Jika Anda adalah seorang atasan atau bahkan Ibu Rumah Tangga pastikan Anda membantu tim Anda atau anak anda untuk memiliki desain serupa ini dalam tiap tugas yang Anda berikan pada mereka. Sehingga tugas-tugas itu tak hanya menjadi sebuah perintah yang hampa dan memberatkan, melainkan sebuah amanah yang penuh makna.
Tanya - Jawab :
pertanyaan 1.
Afwan ust. NLP itu apa ya?
jawabannya : NLP = Neuro Linguistic Programming
pertanyaan 2.
Jadi intinya kita hrs mempunyai planning yg tepat utk mencapai target ya ustdzah? Tapi kdg kala kita sudah ada target tetapi apa yg kita rencanakan ttd sesuai dg harapan bgm utk mengatasinya?
Contohnya: Target kita umrah...n da nabung n prepare sgalanya...tp terbentur krn kondisi kesehatan akhirnya gagal
jawabannya : tinggal letakkan level2 tadi di tangga imajiner..tentunya akan lebih terasa kl praktek-dilakukan..
Tergantung kamu memberi 'arti' apa dari sakitmu..kamu bisa mengartikan itu "Gagal" sebagaimana kamu juga bisa memberi arti lain yg lebih memberdayakan, misalnya : ini bukan gagal, cuma blm pas waktunya. itulah imajinasi. Jd jika waktu kita tdk bisa mendapatkannya n menyakinkan diri kita bahwa segala sesuatu adalah yg terbaik bagi Allah
Siapalah kita ini..hamba yg dhoif ini..masa' mau memaksakan kehendak kita pada Allah?
pertanyaan 3.
Ustdzh.. kalau anak kita kurang percaya diri gmn caranya untuk meyakinkan bhw dia bs.. misal krn dia pemalu padahal dia bs menjawab soal atau sdh menghafal materi tp dia urung untuk tunjuk tangan dan hanya menunggu guru memanggil
jawaban : Coba perhatikan pola asuhnya. Apakah dia sering di bully?
Sering di cela? Sering disalah-salahkan? "Ah gitu aja nggak bisa"..misalnya.
misal sdh terlanjur terjadi sprti itu ustdzh.. bgmn cr menghilangkn trauma nya?
Kalau ortu yg melakukan hal tersebut : sering2lah minta maaf sama si anak.
Kalau belum bisa juga, bawa ke terapist yg ahli
pertanyaan 4. Ustadzah aku mau tanya nih ada teman klu dia berhadapan dg bnyak orang n sy liat tangannya. slalu gemeteran , memang sih dia pernah tertekan dg madunya yg galaknya minta ampun dan dia orang pendiam , jd slalu dipendam , bagaimana caranya , spy gemetaran hilang  apakah ada obatnya?jawabannya : sepertinya butuh terapis

Doa Kafaratul Majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang aq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga bermanfaat

dipostkan oleh : Ira Wahyudiyanti

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT