Home » , , , » " Yang Penting Hatinya Baik" & Tanya Jawab tentang Sejarah Hadist

" Yang Penting Hatinya Baik" & Tanya Jawab tentang Sejarah Hadist

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Saturday, September 6, 2014



KAJIAN ONLINE TELEGRAM HAMBA  اللَّهِ SWT

Hari / Tanggal : Jum'at 05 September 2014 
Narasumber : Ustad Kholid
Materi : Sejarah Hadist
Notulen : Nurza
Editor : Ana Trienta
Ini salah satu jurus pamungkas yang sering disampaikan orang ketika dia terjepit.. Yang Penting Hatinya BAIK....

Secara tabiat, manusia tidak mau disalahkan. Sekalipun dia bersalah. Hingga pada gilirannya, ketika dia memang benar-benar salah, dan tidak ada ruang untuk menghindar, dia akan membela hatinya, ’yang penting-kan hatiku baik.’
Anda mungkin pernah mendengar ketika ada seorang wanita diingatkan agar pakai jilbab, jangan mengumbar aurat. Gak gak papa, yang penting hatiku baik. Jangan pacaran, itu mendekati zina. Gak papa, yang penting hatiku baik.
Sejuta kata ‘jangan’ bisa dimentahkan hanya dengan satu kata, ’yang penting hatiku baik.’

Jaga shalat, jangan sampai ditinggalkan. Gak shalat gak papa, yang penting hatiku baik.


Jangan percaya paranormal. Itu bisa syirik. Gak papa, yang penting hatiku baik.

Kalo begitu, sampaikan saja, Pak Ustad, Tuan Guru, gak usah ngajar, gak usah dakwah. Hati umat sudah baik. Jadi sebut saja, ini kalimat pembelaan.



Sebenarnya, semua orang sadar, bahwa hatilah yang menentukan baik dan buruknya anggota badan. Terlebih bagi mereka yang pernah mendengar hadis yang sangat terkenal.

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ


Ketahuilah bahwa dalam jasad ada segumpal darah. Jika segumpal darah ini baik, maka semua jasad jadi baik. Jika segumpal darah ini jelek, maka semua jasad jadi jelek. Itulah qolbu. (HR. Bukhari 52 & Muslim 1599)

Memahami prinsip ini, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

القلب ملك والأعضاء جنوده فإذا طاب الملك طابت جنوده وإذا خبث الملك خبثت جنوده


"Hati adalah raja, sementara anggota badan adalah pasukannya. Apabila rajanya baik, maka pasukannya juga baik. Jika rajanya jahat, pasukannya juga jahat." (HR. Baihaqi dalam Syuabul Iman 104 dan Abdurrazaq dalam al-Mushannaf 20375).
Sebagai Renungan
Dalam sebuah kerajaan, sang raja mengawasi dengan detail semua gerakan pasukannya. Dan diapun kuasa untuk mengendalikan seluruh pasukannya sesuai keinginannya. Mungkinkan dalam kerajaan itu, ada pasukan yang melakukan perbuatan secara terang-terangan, dan perbuatanya bertentangan dengan keinginan sang raja??.Saya yakin, semua sepakat menjawab, tidak ada.

Jika hati anda baik, mungkinkah anggota badan anda melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati anda?? Apa yang anda lakukan, yang diwakili oleh gerakan semua anggota badan, adalah indikator bahwa apa yang tersimpan dalam hati anda, tidak jauh berbeda dengan apa yang anda nampakkan. Kecuali jika anda sedang tidur, hilang akal, darurat terpaksa, atau lupa. Di saat itulah, sang raja tidak sadar.


Dusta ketika ada orang yang bergelimang maksiat, tidak shalat, tidak puasa, sementara ketika diingatkan dia mengaku hatinya baik.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

"Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46)
Allahu a’lam ✏By Team Nasehat. net
Bismillah,Resensi Buku Islam,Kemarin ketika Pentutupan di Masjid Istiqlal, Syaikh Abdurrozzaq Hafizhohullohu Ta'ala mengatakan akan membahas kitab Al-Kaba’ir Karya Imam Adz-Dzahabi.Maka kami Resensi Buku ini, Semoga bisa menjadi Rujukan.Judul : Al -Kaba'irPenulis : Imam Adz-DzahabiPensyarah : Syaikh Shalih Al-UtsaiminUkuran : 24,5 × 16 cmTebal : 497 hlmBerat : 850 grISBN : 978-979-3772-89-9Harga : Rp. 97.000 Diskon jadi Rp. 77.000Allah Jalla wa A’la berfirman :“ Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy-Syuura : 37)“ (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya” (QS. An-Najm : 32)Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Shalat wajib yang lima, dari Jum’at ke Jum’at (Jum’at berikutnya) merupakan kafarat (pengahapus) dosa-dosa yang ada di antara waktu-waktu tersebut selama tidak melakukan dosa-dosa besar”Oleh karena itu, kita wajib untuk mengetahui dosa-dosa besar agar seorang muslim bisa menjauhinya.Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Jauhilah oleh kalian 7 (tujuh) dosa-dosa besar yang mebinasakan . . . . “Mau lihat cover bisa lihat PP ana.Pemesanan:Toko Insani Moslem Store,Jln. Taman Cendana No. 16B, Taman Galaxi Indah, Bekasi Selatan.Tlp. 02182428762. WA 081318967449 dan 087878657779. Sms. 085780917440,Pin BB. 22914358 atau 29E6F6FC
TANYA JAWAB

Tanya
Ustad, macam-macam hadits, apa saja ya ustadz? Bagaimana cara mengetahui hadits tersebut palsu?
Jawab
Pelajaran ilmu hadits. Sungguh mempelajari ilmu hadits adalah perbuatan ibadah yang agung apabila diiringi dengan niyat yang ikhlas dan ilmu penting yang harus mendapat perhatian karena berisi penjelasan mengenai ajaran nabi terbaik dan sayyid para rasul dan termasuk wahyu Allah, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى





"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)" (QS. An-Najm 53:3-4)


Disamping itu, Rasululloh juga memerintahkan umatnya untuk menghafal dan menyampaikan hadits-haditsnya, sebagaimana dijelaskan Ibnu Mas’ud yang mendengar langsung sabda beliau:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ 





"Semoga Allah menverikan kecemerlangan pada seorang yang mendengar perkataanku lalu memahami, menghafal dan menyampaikannya. Kadang pembawa fikih kepada orang yang lebih faham darinya." (HR at-Tirmidzi).




Maka para ulama hadits menunaikan tugas kewajiban ini dan usaha mereka dalam menjaga sunnah sudah jelas dan diketahui para ulama. Mereka menghafal hadits Nabi dan menjaganya dari semua yang merusaknya walaupun dengan memikul beban sangat berat sekali.
Tanya
Hadist ada yg sahih ada yang ndak.. apa yg membuatnya berbeda? Lalu kalau yang tidak sahih itu lebih baik di jauhkan. Kenapa masih ada yang publish hal itu?? afwan ustadz
Jawab
Manshur bin ‘Amaar as-Sulami al-Khurasani seorang ulama yang hidup ditahun 200an menyatakan:
Allah menugaskan penjagaan atsar yang menafsirkan Al-Qur`ân dan sunnah-sunnah yang kokoh bangunannya sekelompok orang-orang pilihan. Allah l memberikan mereka taufik untuk mencarinya dan menuliskannya, dan memberikan kekuatan kepada mereka dalam memelihara dan menjaganya. Juga memberikan kepada mereka kecintaan membaca dan mempelajarinya, dan menghilangkan dari mereka perasaan lelah dan bosan, duduk dan bepergian, mengorbankan jiwa dan harta dengan menyeberangi hal-hal yang menakutkan. Mereka bepergian dari satu negeri ke negeri lainnya untuk menuntut ilmu di setiap tempat dalam keadaan rambut yang kusut, pakaian compang camping, perut lapar, mulut kering, wajah pucat karena kelelahan dan kelaparan, dan badan yang kurus. Mereka memiliki satu tekad kuat dan ridha kepada ilmu sebagai petunjuk dan pemimpinnya. Rasa lapar dan haus tidak memutus mereka dari hal itu. Juga musim panas dan dingin, tidak membuat mereka bosan dalam memilah-milah yang shahih dari yang bermasalah, dan yang kuat dari yang lemah (dari sunnah-sunnah) dengan pemahaman yang kuat, pandangan yang luas, dan hati yang sangat mengerti kebenaran. Sehingga dapat menjaga dari kesesatan orang yang suka menduga-duga, perbuatan bid'ah orang-orang mulhid, dan kedustaan para pendusta.

Seandainya engkau melihat mereka, pada malam hari telah menghidupkannya dengan menulis semua yang telah mereka dengar, mengoreksi semua yang telah mereka kumpulkan dalam keadaan menjauhi kasur empuk dan pembaringan yang menggiurkan. Rasa kantuk pun telah menguasai mereka sehingga menidurkannya dan lepaslah pena-pena dari telapak tangan mereka; namun seketika itu juga mereka tersadar dalam keadaan terkejut.

Kelelahan telah memberikan rasa sakit pada punggung mereka, dan keletihan berjaga waktu malam telah melelahkan akal pikiran mereka, sehingga mereka berusaha menghilangkannya. Untuk mengistirahatkan badan, mereka berusaha berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Untuk menghilangkan rasa kantuk dan tidurnya, mereka memijat-mijat mata dengan tangan mereka, kemudian kembali menulis karena semangat yang tinggi dan antusias mereka kepada ilmu. Hal ini, tentu membuat engkau mengerti, bahwa mereka adalah penjaga Islam dan penjaga gudang ilmu Allah . Apabila mereka telah selesai menunaikan sebagian yang mereka tuntut dari keinginan-keinginannya tersebut, maka mereka pulang menuju negerinya, lalu duduk menetap di masjid-masjid dan memakmurkannya dengan menggunakan pakaian tawadhu` (kerendahan hati), pasrah dan menyerah. Mereka berjalan dengan rendah hati, tidak mengganggu tetangga dan tidak melakukan perbuatan buruk, hingga apabila ada penyimpangan atau orang yang keluar dari agama, maka mereka keluar sebagaimana keluarnya singa dari kandangnya untuk mempertahankan syiar-syiar Islam."

Ulama muhadditsin telah mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatannya dalam menjaga Sunnah Rasulullah dari penambahan dan pengurangan, sehingga bila ditambah satu huruf pada matan hadits, maka akan mereka jelaskan. Untuk melengkapi hal tersebut mereka melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari hadits dan para ulama besar didunia. Mereka mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengumpulkan hadits dan sanad-sanadnya hingga bepergian yang menempuh jarak sangat jauh dengan tingkat kesulitan sedemikian besar. Rihlah ini sudah menjadi tradisi mereka dalam menuntut ilmu dan memiliki pangaruh sangat besar dalam penyebaran hadits Nabi n dan memperbanyak jalur periwayatannya. Demikian juga memiliki pengaruh baik dalam mengenal para perawi secara sangat detail dan mendalam, sebab seorang muhaddits yang pergi ke suatu negeri lalu mengenal ulama di negeri itu, ia akan berbicara dan bertanya kepadanya.

Demikian juga, rihlah telah dapat membongkar pemalsu hadits dan menghilangkan banyak hadits palsu yang ada pada umat, sehingga umat terlepas dari musibah dan penyimpangan agama. Maka sangat pantas bila Ibrâhîm bin A'dham menyatakan, Allah telah menghilangkan musibah dari umat ini dengan rihlahnya ash-hâbul-hadits. Dari sinilah kemudian ditulis kaedah dan ketentuan penerimaan dan penolakan riwayat hadits yang dikenal dengan ilmu mushtholah dan al Jarh wa ta’dil. Para ulama menulis dan menyusun ilmu-ilmu ini untuk memerangi bid'ah, dan untuk menjaga agama Islam ini dari para pendusta, serta dari penyimpangan dan penakwilan orang-orang jahil.

Imam al-Haakim di muqaddimah kitab Ma'rifat 'Ulûmul-Hadits, ia menyatakan: "Sungguh, aku melihat bid'ah pada zaman kita ini telah banyak; dan pengetahuan manusia terhadap ushul sunnah sangat sedikit dengan tenggelamnya mereka dalam penulisan Hadits dan banyak mengumpulkannya dengan lalai dan tidak perhatian. Hal ini mendorongku untuk menulis kitab ringan yang mencakup bagian dan jenis ilmu Hadits yang dibutuhkan para penuntut hadits yang terus menerus menulis hadits-hadits…."

Demikian juga para sahabat telah meletakkan manhaj (metodologi) untuk mengetahui kejujuran perawi dari kedustaannya dan diikuti para tabi'in. Para ulama semakin memperluas metodologi ini, setiap kali menjauh dari zaman generasi terbaik umat ini. Belum habis abad ketiga hijriyah, ilmu ini telah tersebar dan dikenal. Ilmu ini dinamakan ilmu "al-Jarh wa Ta'dil".

Kaidah-kaidah ilmu hadits ini mempelajari seluruh sisi hadits secara sempurna dan dalam, sehingga dapat untuk memilah-milah di antara hadits-hadits yang shahih, yang lemah dan yang palsu. Ini semua merupakan wujud penjagaan Allah terhadap Sunnah. Hadits shahih ada kreterianya dan hadits lemah nggak dipakai karena diragukan sekali

Tanya
Nah kalau lemah. Kenapa suka masih ada di publik ustadz? Kadang yang membuatnya beda saja untk saya sndiri suka bingung. Apa hanya hadist dari ahmad dan muslim saja yang shahih? Karena sering di pakai?
Tanya Seperti di hadits bulughul maram juga diberikan keterangan. Ini shahih, hasan, lemah, dan untuk perawi yang belum pernah bertemu rasulullah, dan meriwayatkan dari para shahabat, thabi'in....dan sebagainya itu ada runutannya ya tadz? Tanya 1. Apakah semua ulama sepakat bahwa hadits lemah tidak boleh digunakan? 2. Apakah semua ulama hadits selalu sepakat dengan status suatu hadits? Bagaimana menyikapinya? Jawab Perkembangan Ilmu Hadits  


Sahabat dahulu adalah orang pertama yang berhati-hati dalam menjaga Sunnah dan memeliharanya dari noda yang mengotorinya atau kesalahan dan kekurangan yang menimpanya. Mereka membuat manhaj dalam meriwayatkan hadits dari Nabi dan yang menjamin tidak akan ada kekeliruan baik melalui kesengajaan ataupun lupa. Diantara manhaj ini adalah:
  • Menyedikitkan periwayatan dari Rasululloh karena khawatir terjerumus dalam kesalahan dan lupa yang mengantar kepada syubhat dusta atas Rasululloh tanpa disadari. Dahulu Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud , az-Zubeir bin al-‘Awaam dan sahabat-sahabat lainnya menyedikitkan riwayat dan memperingatkan manusia dari memperbanyak meriwayatkan hadits.
  • Tatsabut dalam riwayat ketika menerima dan menyampaikannya. Adz-Dzahabi dalam biografi Abu Bakar menyatakan: ‘Beliau adalah orang pertama yang berhati-hati dalam menerima berita (hadits). Ibnu Syihaab meriwayatkan dari Qabishoh bin Dzu`aib bahwa seorang nenek mendatangi Abu bakar menuntut warisan, maka beliau berkata:

مَا أَجِدُ لَكِ فِيْ كِتَابِ اللهِ شَيْئًا ثُمَّ سَأَل النَّاسَ فَقَامَ الْمُغِيْرَةُ بْنُ شُعْبَةَ فَقَالَ: حَضَرْتُ رَسُوْلُ اللهِ يُعْطِيْهَا السُّدُسَ. فَقَالَ : هَلْ مَعَكَ أَحَدٌ , فَشَهَدَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ بِمِثْلِ ذَلِكَ فَأَنْفَذَهُ لَهَا أَبُوْ بَكْرٍ

Aku tidak dapati untukmu dalam al-Qur`an sesuatu! Kemudian beliau Tanya kepada orang-orang, lalu al-Mughiroh bin Syu’bah seraya berkata: Aku telah Rasululloh memberikan nenek bagian seperenam. Maka Abu Bakar bertanya: Apakah ada orang lain bersama kamu (dalam hal ini). Lalu Muhammad bin Maslamah bersaksi seperti itu maka Abu Bakarpun menerapkannya. (lihat Tadzkiratu al-Hufaazh hal. 2). Dengan demikian perkembangan ilmu hadits ini sudah dimulai sejak zaman sahabat dan terus berkembang dan semakin luas lingkaran pembahasannya di pikiran ulama ilmu ini.

c. Kemudian datanglah masa kodifikasi (Tadwien) sehinga mulailah berjalan penulisan ilmu hadits sedikit demi sedikit walaupun masih dalam lingkup kecil dan terpencar-pencar dimana-mana belum disusun dalam satu kitab khusus. Syeikh Muhammad Abdurrazaq Hamzah menyatakan: Inilah, para ulama telah menulis tulisan-tulisan indah dari ilmu hadits sejak zaman tadwien hingga sekarang ini. Kamu dapati hal ini diantara pembahasan-pemahasan dalam kitab ‘Ar-Risalah’ karya imam asy-Syafi’I dan ditengah-tengah kitab ‘Al-Umm’. Juga kamu dapati pada penukilan para murid imam Ahmad dalam su`alaat (kumpulan pertanyaan) mereka kepada imam Ahmad dan diskusi beliau bersama mereka. Juga pada tulisan imam Muslim bin al-Hajaaj dalam Muqaddimah Shohih Muslim dan pada Risalah Abu Daud as-Sajistaani kepada Ahli Makkah dalam menjelaskan metodologi beliau pada Sunannya yang masyhur serta pada tulisan al-Haafizh Abu ‘Isaa at-Tirmidzi dalam kitab beliau ‘Al-‘Ilal al-Mufradah’ di akhir kitab Jaami’ beliau dan yang tersebar dalam pembicaraan terhadap hadits-hadits dalam lembaran kitab berupa tash-hih (menghukum keabsahan hadits), Tadh’ief (menghukum lemahnya satu hadits), Taqwiyah (penguatan hadits) dan Ta’liel (alas an pelemahan hadits). Imam al-Bukhori memiliki 3 kitab tariekh dan ulama ilmu jarh wa Ta’dil lainnya yang sezaman dengan beliau dan setelahnya memiliki penjelasan-penjelasan yang cukup terhadap kaedah-kaedah dalam bidang keilmuan ini yang ada tersebar dalam pernyataan-pernyataan mereka hingga ada orang setelah mereka yang mengkhususkan kaedah-kaedah ini dalam kitab tersendiri dan beberapa karya tulis .
PENUTUP : Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.  
​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!