Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

AAFFATULLISAN (PENYAKIT LISAN)

Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ  SWT 
(All Grup Ummi)

Hari/ Tanggal : Rabu, 15 Oktober 2014

Narasumber : Ustadz Abdullah Haidir Lc
Notulen : Ana Trienta

Assalamualaikum para bunda....shobaahul khair....
Para bunda yang dirahmati Allah, kita sedikit mengkaji tentang salah satu perkara penting yang harus kita atasi, yaitu آفات اللسان.

آفات adalah bentuk jamak dari آفة. Artinya cela atau cacat, dapat juga diartikan musibah atau penyakit. Sejatinya lisan adalah nikmat yang sangat besar. Betapa banyak kebaikan yang dapat kita raih dengan lisan kita, baik dunia dan akhirat. Namun saat yang sama, lisan juga dapat menjadi kuburan bagi kita, menggugurkan amal, bahkan menimbunnya dengan dosa-dosa.
Dalam sebuah hadits, terdapat dalam kumpulan arbain Nawawi, ketika Rasulullah saw menjelaskan sejumlah jalan-jalan kebaikan, beliau kasih satu jalan pintas untuk meraihnya.... "Tahan ini...." sambil beliau menunjuk lidahnya. Lalu beliau katakan, "Betapa banyak orang yang terjungkal di neraka, tak lain karena buah dari lisannya"

Masalahnya adalah lisan ini yang paling mudah kita lakukan, dan sering terucap tanpa sadar. Seseorang boleh jadi melakukan kesalahan mencuri, memukul, apalagi membunuh, sehingga tampak sekali kesalahan itu dalam pikirannya, tapi dengan lisannya, ada orang yang tersakiti, dapat merugikan orang lain atau bahkan menyebabkan nyawa orang lain melayang, tanpa dia sadari. Apa saja Aafaatullisan? Coba kita perhatikan beberapa di antaranya:

1. Syirik dan Kekufuran
Kadang masalah ini luput dari perhatian. Padahal dari lisan kita dapat lahir syirik dan kekufuran. Bukankah di antara syarat iman menyatakan dengan ucapan, maka ucapan pun dapat merusak keimanan. Karena itu dalam Islam kita dilatih untuk mengucapkan yang baik-baik, dan berusaha selalu mengaitkannya dengan Allah Taala. Saat sedih, gembira, sakit, berhasil, gagal, dll selalu ada ajarannya dalam Islam apa yang harus kita ucapkan. Jangan sekali-kali mengucapkan kalimat-kalimat syirik dan kufur atau yang dapat mengarah ke hal tersebut, walau tidak diyakininya, para sahabat pernah mengatakan, "Atas kehendak Allah dan engkau Ya Rasulullah.." lalu Rasulullah saw menyatakan, "Apakah engkau akan jadikan aku sekutu Allah?"
Ini masalah yang dapat diuraikan panjang lebar, lain waktu in sya Allah.

2. Berkata Tentang Agama Tanpa Ilmu
Ini juga salah satu penyakit yang sering terjadi. Sekarang ini di abad informasi, siapa saja dapat berbicara atas nama agama. Ini bukan berarti siapa saja tidak boleh berbicara tentang agama. Yang problem adalah, dia tidak melandasinya dengan ilmu. Bukan maksud saya menakut-nakuti disini, tapi agar kita hati-hati. Untuk masalah yang sudah jelas, bolehlah kita ikut suarakan. Tapi masalah-masalah detail dan butuh kajian lebih dalam, jangan mudah kita memberikan kesimpulan. Menyatakan tidak tahu lebih baik dan lebih mulia ketimbang kita pura-pura tahu, padahal belum mendalami ilmunya.

3. Ghibah, Namimah, Dusta
Ketiga hal ini sering berdekatan dan berdampingan, gak jauh-jauh. Biasanya kalau ada ghibah, di sana ada namimah, juga ada kazib dusta. Padahal mereka berdiri sendiri saja sudah besar sekali dosanya. Yang lebih parah, hal ini sekarang dibantu media massa dan komunikasi, sehingga radiusnya lebih luas. Acara-acara tv yang bersifat infotainment kerap menyajikan hal ini.  Jejaring sosial juga lahan subur untuk ini.

4. Marah, Cacimaki, Ejekan
Inipun biasanya sering bersandingan, marah biasanya berlanjut dengan caci maki dan ejekan, atau sebaliknya, saling mengejek dan caci maki akan memicu kemarahan. Betapa banyak keburukan-keburukan yang lahir akibat hal-hal seperti itu. Wajarlah kalau Rasulullah saw katakan, "Jangan marah dan bagimu surga"

Masih banyak lagi aafaatullisaan yang dapat kita bahas. Dan bagian dari hal itu juga adalah tulisan-tulisan kita di beranda-beranda kita, sms, di blog-blog dll karena tulisan mewakili lisan. Bahkan dalam banyak hal, tulisan lebih kuat kedudukannya dari ucapan. Jadi aaffatullisan ini juga dapat diartikan dengan aafaatulqolam (penyakit pena) atau aafaatulkitaabah (penyakit tulisan).

Bagaimana mengatasi masalah ini?
1. Perbaiki hati kita
Karena lisan tak lain cerminan hati. Sering dikatakan, teko hanya mengeluarkan apa yang terdapat di dalamnya. Memang demikianlah kenyataannya. Yang penting memang bukan menahan lisan, tapi mengendalikan hati.

2. Sibukkan lisan pada hal yang bermanfaat 
Cara terbaik mengatasi keburukan adalah menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Hal tersebut berlaku untuk apa saja, termasuk dalam masalah lisan.

3. Pandai-pandai mengunyah informasi yang masuk 
Karena hal itu akan berpengaruh dengan komentar kita. Ada yang mengatakan bahwa informasi bagaikan makanan, sebelum kita telan dikunyah dulu, kalau dirasa tidak bermasalah dan baik, silakan telan, tapi jika ada duri atau lainnya yang tak baik, segera keluarkan...
Catatan:
Kita cenderung membenarkan setiap informasi yang menyenangkan kita dan langsung merespon dan menyebarluaskannya, padahal bisa jadi hal itu dusta. Sebaliknya, kita cenderung tidak percaya dengan berita yang tidak menyenangkan kita,  lalu merespon negatif padahal boleh jadi hal itu benar.

4. Jauhi orang-orang yang tidak dapat menjaga lisannya, atau majelis-majelis yang di dalamnya penuh aafaatullisan termasuk dalam hal ini grup-grup atau milist, apabila di dalamnya terdapat aafaatullisan.

5. Resapi keutamaan dan bahaya lisan di dunia dan akhirat jika dipakai untuk kebaikan dan keburukan. Kita sudah dapat melihat contoh-contoh yang nyata di sekeliling kita atau bahkan dapat merasakan langsung dampak dari penggunaan lisan.

6. Menyadari bahwa lisan bukan cuma sekedar lambang kepribadian, tapi juga lambang keimanan. Bukankah Rasulullah saw katakan, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam..." (Muttafaq alai)

Semoga Allah ampuni dosa-dosa lisan kita dan menjadikan kita pandai menjaganya. aamiin....walhamdulillahi rabbil aalamiin..
Sudah yaa kalau ada tanya jawab, saya ada waktu sampai jam 12. Mohon maaf kalau materinya tidak sesuai harapan. Maklum, ban serep, gantiin ustaz aslinya yang berhalangan :D

TANYA JAWAB
Pertanyaan HA 01
1. Assalamu alaikum. Afwan pertanyaan saya, bagaimana jika misalnya kita ada masalah dengan seseorang, lalu karena merasa berat pengen curhat ma seorang sahabat misalnya karena ingin mengurangi beban atau mencari solusi. Tapi kan jadinya menceritakan sifat atau sikap si dia yang bermasalah dengan kita.. Apa itu termasuk ghibah juga atau gimana? Terus sebenarnya arti ghibah, namimah dan kazib? Syukron atas jawabannya.
Jawab
Ini jawabannya sebagian sudah ada di atas ya. Tentang minta fatwa, termasuk jika ingin konsultasi hanya saja jangan kepada sembarang orang curhatnya tapi yang benar-benar amanah dan dapat memberikan solusi.
Ghibah: Menceritakan keburukan orang lain yang tidak dia suka apabila dia mendengarnya, walaupun itu benar, jika dusta lebih parah lagi, masuk kazib.
Namimah: Memindahkan omongan seseorang kepada orang lain sehingga menimbulkan sengketa, atau adu domba.

2. Ustadz mau tanya, apa benar yaa kalau istri lagi hamil sang suami menzalimi orang lain dengan lisannya seperti mencaci maki, membentak dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan orang tersebut dan orang yang tersakiti tidak terima maka anaknya yang lagi dikandungan yang menerima akibatnya seperti lahir tidak seperti anak lainnya ada kekurangan, syukron....
Jawab
Tidak benar itu. Khawatir hal itu masuk dalam bab tathayyur yang dilarang dalam Islam. Yaitu perasaan bernasib sial akibat sebuah peristiwa, seperti halnya keyakinan sebagian orang apabila  menabrak kucing, hanya saja, marah, mencacimaki, membentak, tetap perbuatan tidak baik, baik istri sedang hamil atau tidak. Dalam keadaan istri sedang hamil harusnya suami membantu menciptakan suasana tenang bagi istrinya.


3. Ustadz seringkali orang terzhalimi karena ucapan sehingga menimbulkan sakit hati bahkan dendam, tidak jarang orang-orang yang tersakiti tersebut tidak mau memaafkan bahkan sampai meninggalnya & menuntut keadilan Allah di hari pembalasan, pada kondisi seperti ini apa ybs (justru) berdosa karena tidak mau mema'afkn hingga akhir hayatnya? jazakallah khoir atas penjelasannya.
Jawab
Jika orang yang berbuat salah telah meminta maaf, atau minimal telah bertaubat, semestinya memang dia memberi maaf. Sebab jika tidak dia beri maaf, tidak akan berpengaruh kepada orang tersebut yang minta maaf. Kecuali jika ada hak harta atau fisik yang belum dikembalikan. Apakah dia berdosa karena tidak mau memaafkan? wallahu a'lam, saya tidak tahu, semoga tidak...

Pertanyaan HA 02
1. Mau tanya ustadz, emang betul kita harus jaga lisan kalau kebohongan untuk kebaikan gmn?
Jawab
Bohong untuk kebaikan contohnya apa? Yang dibolehkan dalam hadits adalah, bohong untuk melindungi orang yang dizalimi, bohong untuk mendamaikan dua orang yang bersengketa, bohong untuk merukunkan diantara suami istri yang bertengkar. wallahu a'lam...


2. Ustadz Afwan, gimana caranya minta ampun atas segala khilaf ? Entah ghibah, marah sama anak? Ngga niat pastinya. Apa ngebathin termasuk ghibah?
Jawab
Ghibah masuk keumuman maksiat yang terkait dengan hak manusia. Yang paling utama taubat. Lalu minta maaf kepada orang yang digibah. Jika sulit, doakan dia kebaikan dan ampuna serta sebutkan kebaikan-kebaikannya. Kalau marah sama anak, baiknya minta maaf memang sambil jelaskan alasan kenapa marah. Ngebatin tidak termasuk ghibah, tapi dapat berpotensi ghibah kalau tidak dikendalikan.


Pertanyaan HA 03
1. Ustadz saya mau bertanya, saya pernah baca sebuah tulisan yang kurang lebih isinya bahwa kita diperbolehkan berghibah dalam hal tertentu, apakah itu benar? Dan ghibah seperti apa yang dianjurkan/diperbolehkan itu?
Jawab
Para ulama menyebutkan beberapa kondisi dibolehkan ghibah:
  1. Dizalimi: Boleh mengadukan kezaliman seseorang kpd org atau pihak berwenang.
  2. Minta fatwa: Jika harus menyebutkan keadaan seseorang untuk mendapatkan fatwa yang jelas
  3. Memberikan peringatan kepada orang lain agar tidak mengalami keburukan yang ada pada seseorang termasuk dalam hal ini jika seseorang minta info tentang calon istri atau suami. Hal tersebut pernah dilakukan Rasulullah saw yang menjelaskan keadaan sahabat kepada calon istrinya.
  4. Jika perbuatan buruk seseorang sudah bersifat terang-terangan bahkan mengajak orang lain.
  5. Jika sebatas untuk mengenali atau mencirikan, tanpa bermaksud merendahkan. Misal ada dua orang yang namanya sama, namun yang satu hitam, maka boleh kita katakan si fulan yang hitam.
Namun ini semua hendaknya dilakukan dengan sangat terbatas dan hati-hati serta menjaga hati dari penyakit...


Pertanyaan HA 04
1. Saya mau nanya.. Yang namanya mulut itu kan susaaaah sekali di kontrol nya, gimana ya caranya supaya bebas dari ngegosip sama teman-teman? Apa sebaiknya kita berdiam diri di ruangan tempat kita bekerja dan nggak ngumpul-ngumpul dengan teman 1 kantor?
Jawab
Mengindari pembicaraan negatif dalam obrolan sehari-hari dapat langsung kita arahkan pembicaraan ke arah yang positif, atau kita koreksi langsung atau menghentikannya, atau dapat kita kurangi berikutnya keberadaan kita dalam obrolan-obrolan seperti itu. Kita lihat situasi masing-masing mana yang paling mungkin.


2. Gimana ya caranya menghindari nenek rese tapi dia tetanggaku sekaligus kaka ibu mertuaku, sering kali marah ga puguh, apalagi kalo saya lagi ngobrol share tentang anak dengan tetangga lain.
Jawab
Pertanyaan seperti ini sebaiknya bersifat pribadi, tidak untuk konsumsi umum kecuali person-personnya atau cirinya tidak disebutkan. Kepada orang tua, minimal kita pahami kedudukannya dan kita hormati kadang dianatara mereka memang banyak bicara tapi faktor usia hendaknya kita maklumi selebihnya lebih baik kita banyak menghindar dan mengalah.

3. Apakah kita termasuk ghibah dan dosa juga bila melihat acara tv tentang gosip artis?
Jawab
Melihat acara gosip, dikhawatirkn masuk ghibah. Semakin banyak penonton akan semakin membuat acara tersebut naik ratingnya minimal kita dianggap ridha dengan acara tersebut

4. Gimana ya ngendaliin emosi saat marah? biasanya kalo marah kata-kata pun gak bsa terkontrol.
Jawab
Tuntunan nabi saat marah:
  • Ucapkan a'uuzu billahiminasyaitanirrajiim.
  • Jika berdiri, hendaknya duduk, jika duduk, hendaknya berbaring.
  • Berwudhu
  • Tinggalkan tempat tsb.
Pertanyaan HA 07
1. Assalamualaikum ustad, saya mau tanya kalo kita dihadapkan pada situasi dimana  harus bicara tapi kalo kita bicara jujur, situasinya akan menyebabkan keributan jadi apa boleh kita bicara dusta untuk menghindari keributan besar? jazakallah ustad
Jawab
Jika tujuannya untuk mendamaikan anatara saudara, in sya Allah dibolehkan. Tapi masalah ini tidak dapat digeneralisir, perlu dilihat kasusnya masing-masing. Adapula cara yang cukup dikenal yaitu tauriah, mengucapkan sesuatu dengan maksud yang lain selain yang dipahami pendengar itupun dapat dicoba, tapi memang butuh kecerdikan. Abu Bakar pernah ditanya tentang siapa disampingnya saat hijrah di tengah jalan, kalau dia bilang Rasulullah, akan ketahuan, maka dia bilang 'dia penunjuk jalan saya'.

Pertanyaan HA 11
1. Ustadz, betulkah lisan itu cerminan akhlak seseorang? Karena terkadang banyak orang lisannya santun, ternyata akhlaknya tidak sesantun lisannya?
Jawab
Naam, lisan termasuk salah satu cermin akhlak seseorang, meski tidak keseluruhannya, namun besar pengaruhnya. Meskipun ada orang seperti yang bunda gambarkan, namun itu tetap harus diluruskan

Pertanyaan HA 12
1. Tanya ustadz : kan ada istilah "ucapanmu adalah doa", namun jika secara tidak sengaja atau lagi emosi/marah biasanya terucap kata yang tidak patut. Bagaimana agar kata-kata tersebut tidak menjadi musibah/mudharot bagi yang mengucapkannya? Apakah dengan beristighfar dan sholat taubat saja sudah cukup untuk menyesali kesalahan berucap tadi? Syukron
Jawab
Ya, bagus, beristighfar dan bertaubat, jika ditambah dengan shalat taubat lebih bagus lagi yang penting berikutnya emosi dikontrol. Jika ada kata-kata menyakitkan sebisanya minta maaf kepada yang disakiti.


Pertanyaan HA 13
1. Assalamualaikum ustad, mau tanya bagaimanakah cara kita menghadapi orang yang telah mendzalimi kita lewat lisan.padahal kita sudah berusaha memaafkanya namun lisannya tidak pernah berhenti mendzholimi kita akibatnya kita terbawa emosi dan mendiamkanya selama berbulan-bulan. Apakah kita berdosa ustad? Afwan terlalu panjang pertanyaannya
Jawab
Mendiamkan saudara tidak boleh lebih dr 3 hari, kecuali jika hal tersebut dilakukan karena kemaksiatannya. Apa yang dia lakukan tergolong maksiat yang besar, dapat dibolehkan. Namun lebih baik kalau kita klarifikasi baik-baik dan coba memperlakukannya sebaik mungkin dengan penuh kesabaran, hal itu dapat menjadi celah baginya untuk berubah lebih baik kepada kita.


Pertanyaan HA 14
1. Asslalamualaikum ustazd. Ketika saya sedang mendapatkan musibah, ada tetangga saya yang membesar-besarkan masalah saya dan bisa di bilang sudah fitnah. Saya dan suami pada saat saya tau kalau yang memfitnah itu tetangga deket saya,  rasanya sakiiit banget. Bagaimana caranya supaya rasa sakit itu hilang dan saya ikhlas memaafkannya
Jawab
Ya Allah saya juga ikut sakit mendengar kabar seperti itu. Tak ada kata lain kecuali sabar. Jika mungkin klarifikasi, cukup bagus. Lebih bagus lagi jika kita tetap bersikap baik kepadanya. Tolong admin bukakan surat fushilat ayat 24.. Eh ayat 34....disitu ada pesan, kalau keburukan dibalas dengan kebaikan, dapat merubah musuh menjadi orang yang dekat setia. Agar sakit hilang, selalu mohon pahala dari musibah yang dialami kita yakini bahwa jika sabar melewati hal ini, minimal dapat menjadi kaffaratuzzunuub (penghapus dosa)
(Fuşşilat):34 - Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Pertanyaan HA 15
1. Assalamu'alaikum Ustadz, bagaimana cara menanamkan anak agar selalu menjaga lisannya. Kadang banyak pengaruh dari luar keluarga sehingga mereka kadang bicaranya kurang baik?
Jawab
Bangun komunikasi sebaik dan seakrab mungkin dengan anak-anak, tanpa  harus selalu menggurui. Apa yang jadi kebiasaan omongan diluar, akan terlontar di rumah sekali biasanya. Masalahnya adalah kuatan mana pengaruh komunikasi di luar rumah dengan di dalam rumah.

Pertanyaan HA 17 
1. Bagaimanakah dengan marah untuk menegakkan kebenaran? Misal ada orang yang dzolim terhadap diri kita atau orang lain kita marah terhadap si dzolim, apakah kita berdosa? Atau jadi impas karena sama-sama telah menyakiti satu sama lain? Apabila ada orang yg pernah tersakiti oleh lidah kita di masa lalu perlu kah kita mencarinya untuk meminta maaf? Atau cukup berdoa agar Allah membukakan hatinya untuk memaafkan kita?
Jawab
Marah untuk menegakkan kebenaran, tentu harus dilihat kasusnya masing-masing kalau tidak butuh marah, ya tidak semestinya dia marah. Tapi kalau momentnya tepat, dia tidak masalah asal proporsional.


2. Bagaimana sebaiknya sikap kita terhadap orang yang lisannya buruk, tapi umurnya lebih tua dari kita? Apakah sopan bila kita berkata "sudahlah bi, tidak baik berkata buruk tentang orang lain.." Apakah itu tidak menjadikannya sakit hati oleh lisan kita?
Jawab
Tergantung kedekatan kita dengannya, jika lumayan akrab, teguran seperti itu cukup bagus. Jika agak jauh, cukup kita alihkan pembicaraan sebisanya.

Pertanyaan HA 18
1. Assalamu'alaikum wr.wb. 
Ustadz, apa yang harus kita lakukan bila ada orang yang menyakiti hati kita dengan lisannya, misalnya menuduh kita melakukan hal yang sama sekali tidak kita lakukan. Apakah sebaiknya kita diam atau membalas ucapannya untuk membela diri namun kata-kata yang keluar adakalanya juga bisa balas menyakitkan hatinya?
Jawab
Intinya kesalahan lisan kita harus banyak diringi dengan taubat, dan menggantinya dengan amal saleh via lisan. Sebaiknya memang klarifikasi jika kita mendengar ada suara-suara tidak baik tentang kita, boleh jadi sumbernya miskomunikasi. Tapi, cukup sampai disitu, apakah dia terima atau tidak, tak perlu berlanjut dengan membalasnya dengan kata-kata kasar yang menyakitkan. Sebab kalau begitu apa beda kita dengan dia.

2. Assalammualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Ustadz saya mau bertanya beda antara ghibah dengan fakta jika kita ingin membicarakan sesuatu dengan orang lain. Misalnya saya mau curhat di forum tentang seorang teman yg zalim. Apakah itu termasuk ghibah?
Jawab
Masalah kezaliman seseorang, jika dampaknya memang jelas massif, hal itu tidak termasuk ghibah selama tujuannya mengingatkan masyarakat dari bahayanya. Alquran berbicara tentang keburukan firaun, qarun dll namun tetap juga harus hati-hati dalam hal ini, jangan menggampangkan.

3. "Dengan lisan sirnalah pahala" Bagaimana cari kita menyikapi perbuatan kita agar lisan ini tetap terjaga, apalagi kalau sudah menyangkut amalan ustadz? Kadang kita tidak sadar, di dalam hati sudah berjanji tidak akan mengucapkan hal tersebut tapi terkadang sikap ujub / sombong timbul secara manusiawi. Jazakallahu atas jawabannya
Jawab
Masalah ujub adalah masalah hati, menyampaikan amal yang telah kita lakukan tidak mesti ujub, apalagi jika ada alasannya. Namun tidak menyatakannya memang lebih selamat dari ujub. Penting memang selalu berdoa dari sifat ujub dan melatih diri untuk menjauhinya, dia memang kerap datang dalam hati...


Pertanyaan HA 19
1. Assalamu'alaikum ustadz, saya juga sedang memperbaiki diri saya saat ini. Bismillah, ustad saya itu sering dijadikan curhat saudara saya. Saudara saya itu sering banyak bercerita tentang semuanya baik orang tuanya maupun keluarganya ada hal yang harus saya nasehati dari saudara saya itu tingkah laku kurang baik dan tidak baik kepada kedua orang tuanya kemudian saya bercerita kepada kedua orang tuanya mengenai tingkah laku kurang baik ini sama orang tuanya supaya diperhatikan maksud saya orang tuanya itu terhadap saudara sayaa ini karena beliau seorang akhwat jadi perlu perhatian lebih dan harus dijaga segala sesuatunya...dan saya termasuk orang yang sangat sayang pada keluarga saudara saya itu sama kedua orang tuanya juga. Saya beritahu orang tuanya itu saudara saya marah dan saya dituduh ga bisa jaga rahasia. Apakah  yang saya lakukan ini salah ustad? apakah saya tidak bisa menjaga lisan saya mengenai kebenaran terhadap keluarga saudara saya itu? Mohon jawabannya ustad kalau saya salah mungkin saya harus banyak memperbaiki diri saya dan lisan saya..
Jawab
Secara substansi apa yang ibu lakukan tidak salah in sya Allah, karena tujuannya untuk perbaikan. Hanya saja kedepan memang mesti hati-hati, apakah omongan kita akan keluar atau tidak, perlu kenali orang-orang. Siapa yang pandai memilah-milah mana pembicaraan yang harus disimpan dan mana yang tidak.


2. Assalamu'alaykum wr wb ustadz. Bagaimana sikap saya seharusnya ustadz jika teman-teman di kantor saya banyak yang suka melakukan ghibah.  Yang saya alami sekarang saya hanya bisa diam dan tersenyum saja. Apakah saya ikut berdosa ustadz karna telah mendengarkan ghibah, meskipun tidak ikut membicarakan orang tersebut?
Jawab
Kondisi semcam ini menuntut kematangan pribadi, tidak kaku sehingga jauh dari teman-teman, namun juga tidak cair ikut apa saja lingkungan pergaulannya. Sambil tetap berusaha akrab, upayakan dalam setiap perbincangan menjauhi ghibah atau menghentikan ghibah jika terjadi. Jika tak mampu, kurangi berada di dalamnya tapi jangan total menjauhinya

Pertanyaan HA 21
1. Assalamualaikum ustadz. Apakah kita harus menjauhi kerabat atau saudara yang tidak bisa menjaga lisannya? Apa yang harus dilakukan apabila ada kerabat atau saudara yang berlaku demikian. Syukron katsiira.
Jawab
Kurang lebih sama dengan diatas, jangan dijauhi total, sebab mudharatnya cukup besar, bangun hubungan sesekali, sambil berupaya dengan berbagai cara agar lisannya terjaga umumnya, jika pribadi kita kuat dan tampak olehnya bahwa kita tidak suka berlisan buruk, sedikit banyak hal itu akan mempengaruhi bicaranya agar tidak sembarangan

2. Ustadz, gimana caranya memberi tahu kalo ada keluarga kita yang sering meyakiti orang lain dengan kata katanya? Dan bagaimana menyikapi orang yang lisannya selalu menyakitkan ketika saya nasehati  orang tersebut merasa selalu paling benar?
Jawab
Sekali lagi masalah ini dapat berbeda-beda pendekatannya, tergantung bobot kekeliruan lisannya, tergantung pula kedekatan kita kepadanya, dan kemudian redaksi yang kita pakai masing-masing dapat menimbang-nimbang. Bisa langsung to the point, bisa langsung kita alihkan pembicaraan, atau kita dominasi pembicaraan dengan topik menarik dan positif banyak cara in sya Allah selebihnya kita berusaha, jika belum ada perubahan, itu masuk wilayah hidayah nasehat kita tidak sia-sia in sya Allah..

3. Ustad mau tanya, bagaimana kalau dalam 1 majelis ilmu berhadapan dengan orang yang susah menjaga lisannya? Kadang teman-teman yang lain memaklumi saja dan menyimpan ketidaksukaannya dalam hati karena takut ada konflik. Dan  gimana sikap kita bila melihat suatu kebohongan pengin bicara jujur tapi menyakitkan pihak  laen sedang kita tahu semua
Jawab
Boleh dibisiki ustaznya untuk sering-sering berbicara tentang bahaya lisan. Jujur tidak harus menyakiti dapat dicari alternatif lain, seperti berbicara 4 mata, isyarat, dll.

Pertanyaan HA 22
1. Dalam berghibah tedapat namimah dan kazib itu hal yang seperti apa ya? apa sama artinya seperti dusta.
Jawab
Ini jawabannya sebagian sudah ada di atas ya tetang minta fatwa, termasuk jika ingin konsultasi hanya saja jangan kepada sembarang orang curhatnya tapi yang benar-benar amanah dan dapat memberikan solusi...
Ghibah: Menceritakan keburukan org lain yang tidak dia suka apabila dia mendengarnya, walaupun itu benar, jika dusta lebih parah lagi, masuk kazib.
Namimah: Memindahkan omongan seseorang kepada orang lain sehingga menimbulkan sengketa, atau adu domba.

Pertanyaan HA 23 
1. Bagaimana cara menghapus kesalahan lisan kita yang telah kita katakan yang menyakiti hati orang lain?
Jawab
Jika kita minta maaf langsung dengan orang yang tersakiti lidah kita itu lebih baik. Tapi jika sulit atau diperkirakan akan menimbulkan mudharat lebih besar, mohon ampun kepada Allah, doakn dia agar dapat ampunan dan sebut-sebut kebaikannya di majelis tempat kita pernah menyebut-nyebut keburukannya....

2. Bagaimana jika ucapan kita benar atau haq tetapi masih juga orang lain merasa tersakiti? Apakah kita berdosa?
Jawab
Ucapan paling pertama memang harus memenuhi standar benar atau haq. Tapi itu tidak cukup, jika masih ada pilihan untuk menyampaikannya dengan cara dan bahasa yang tidak menyakiti, hal itu harus diambil. Misalnya seseorang melakukan kesalahan, kita kritik langsung di muka umum, itu benar, tapi jika masih mungkin kita sms, atau kita ajak bicara  4 mata, itu lebih baik. Masing-masing ada kasusnya makanya Rasulullah saw pesannya adalah "berkata yang baik" sebab, boleh jadi perkataan benar belum tentu baik jika disampaikan dengan cara dan bahasa yang tidak tepat. Masalah berdosa atau tidak, semoga tidak, jika tidak bermaksud menyakiti, namun setiap orang harus pandai belajar menata ucapannya.

Sudah ya. sudah zuhur di Riyadh. Saya permisi
Jazaakumullahu khairan atas perhatiannya

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamualaikum wr wb