Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

AKHLAK KEPADA اللهِ SWT

KAJIAN ONLINE HAMBA  اللهِ
Group: ummi 11
Tanggal:  30 oktober 2014
Materi:  SI
Narasumber: ummi imas
Admin: isty
Editor: Selli

AKHLAK KEPADA ALLAH SWT
1 PENGERTIAN AKHLAK KEPADA ALLAH SWT 
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Dan sebagai titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkaunya.
2 ALASAN BERAKHLAK KEPADA ALLAH SWT
Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu beakhlak kepada Allah :
- Pertama, karena Allah-lah yang menciptakan manusia. Dia yang menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari tulang punggung dan tulang rusuk hal ini sebagai mana di firmankan oleh Allah dalam surat at-Thariq ayat 5-7. sebagai berikut Artinya :(5) "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?,(6). Dia tercipta dari air yang terpancar,(7). yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada. (at-Tariq:5-7)
- Kedua, karena Allah-lah yang telah memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Firman Allah dalam surat, an-Nahl ayat, 78  Artinya:"Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. ( Q.S an-Nahal : 78)
- Ketiga, karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya. Firman Allah dalam surat al-Jatsiyah ayat 12-13. Artinya:(12) "Allah-lah yang menundukkan lautan untuk kamu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.(13), "Dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang berpikir.(Q.S al-Jatsiyah :12-13 ).
- Keempat, Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan, daratan dan lautan. Firman Allah dalam surat Al-Israa' ayat, 70. Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam, Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami beri mereka dari rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S al-Israa : 70)
3. MACAM-MACAM AKHLAK KEPADA ALLAH SWT DAN PELAKSANAANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
a. Cinta dan ridha kepada Allah SWT.
Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa, dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada yang dicintainya dengan penuh semangat dan kasih saying. Bagi seorang mukmin sejati cinta pertama dan utama adalah cinta kepada Allah swt. Allah lebih dicintai dari segalanya.
b. Ridha adalah menerima dengan sepenuh hati tanpa penolakan sedikitpun segala sesuatu yang dating dari Allah swt, baik berupa perintah, larangan, ataupun petunjuk-petunjuk-Nya dengan senang hati.Dengan cinta kita mendapatkan ridhaNya dan dengan bersikap ridha terhadap apa yang Allah swt berikan/tentukan kita mengharapkan cintaNya.b.  Berbaik sangka kepada Allah SWT.
c.  Rela terhadap qadar dan qada (takdir baik dan buruk) dari Allah SWT.
d.  Bersyukur atas nikmat Allah SWT.
e.  Bertawakal/ berserah diri kepada Allah SWT.
f.  Senantiasa mengingat Allah SWT.
g.  Memikirkan keindahan ciptaan Allah SWT.
h.  Melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah SWT
i. Taubat kepada Allah swt
Salah satu perilaku atau tindakan yang mendasari akhlak kepada Pencipta adalah Taubat.Taubat secara bahasa berarti kembali pada kebenaran. Secara istilah adalah meninggalkan sifat dan kelakuan yang tidak baik,salah atau dosa dengan penuh penyesalan dan berniat serta berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa. Dengan kata lain,taubat mengandung arti kembali kepada sikap, perbuatan atau pendirian yang baik dan benar serta menyesali perbuatan dosa yang sudah terlanjur dikerjakan.
Pengertian taubat menurut para ahli:# Menurut Ibnu Katsir, Taubat adalah menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan menyesali atas dosa yang pernah dilakukan pada masa lalu serta yakin tidak akan melakukan kesalahan yang sama pada masa mendatang. Ulama lain menyebutkan Tobat adalah kembali pada Allah dengan melepaskan segala keterikatan hati dari perbuatan dosa dan melaksanakan segala kewajiban kepada Tuhan.# Menurut HamkaTobat adalah kembali ke jalan yang benar setelah menempuh jalan yang sangat sesat dan tidak tentu ujungnya
j. Beribadah kepada Allah
Yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah
k. Berzikir kepada AllahYaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati
l. Berdo’a kepada Allah
Yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. Kekuatan do’a dalam ajaran Islam sangat luar biasa, karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu berusaha dan berdo’a merupakan dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara utuh dalam aktifitas hidup setiap muslim. Orang yang tidak pernah berdo’a adalah orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena itu dipandang sebagai orang yang sombong ; suatu perilaku yang tidak disukai Allah.
m.Tawakal kepada Allah
Yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.
n.Tawadlu kepada Allah
Yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.
o. Taqwa kepada Allah swt   
 Taqwa, yaitu memelihara diri dari siksaan Allah swt dengan cara melaksanakan perintah-perintah Allah swt dan menjauhi larangan-laranganNya dalam keadaan sepi maupun ramai. Sedangkan definisi lain dari taqwa adalah memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat mengandung murka Allah swt dan mendatangkan mudharat bagi dirinya dan orang lain.       Allah swt memerintahkan kepada orang yang beriman agar bertaqwa kepada Allah swt secara maksimal dengan mengerahkan semua potensi hingga finis kehidupan. Dan apabila kita mampu memaksimalkan taqwa maka hal tersebut akan menentukan derajat kemulyaan kita disisi Allah swt.
Uraian di atas memang hal yang normatif, namun dalam tataran aplikatif nya kita kadang banyak godaan, halangan,  rintangan,  alasan, kemalasan,  dan berpuluh-puluhan yang lainnya
Maka dibutuhkan jiddiyah atau kesungguhan dari kita untuk melakukannya,  betul hidup itu adalah pilihan, sebagaimana juga Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-syams 8-10, yang artinya "maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan, sungguh beruntung lah orang yang menyucikan (jiwanya), dan sungguh rugi orang yang mengotori nya"
Selain kesungguhan juga dibutuhkan lingkungan (bi'ah) yang kondusif dalam memelihara kesolehan pribadi, inilah hikmahnya mengapa Rasulullah SAW menyuruh laki-laki/wanita ketika akan memilih pasangan hidup, berdasarkan agamanya harus didahulukn, atau wasiat Umar ra, ketika ada seorang yang bertanya padanya tentang kewajiban seorang ayah kepada anaknya , beliau menyebutkan : memberinya ibu yang sholihah bagi anaknya.  Lingkungan terdekat kita adalah keluarga ; suami-istri dan anak-anak jika ada, jika ini sudah berjalan dengan baik maka akan lebih mudah kita dalam ber jiddiyah, lingkungan menunjang keberagamaan kita menjadi kuat.
Kesungguhan ada dengan niat/azzam, lingkungan mendukung,  maka faktor yang ketiga adalah kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
Sabar dibutuhkan bukan hanya ketika mendapat musibah saja, tapi juga dalam ketaatan.  Bayangkan saja kita tiap hari baca qur'an, rasanya gitu-gitu saja, tiap hari dilakukan... lama-lama bosen juga denger suara tilawah sndiri yang masih belum benar bacaannya,  tajwidnya,  makhrojnya, nadanya juga dataaaar... sendiri saja bosen apalagi orang lain yang dengar nya, terus shalat juga tiap hari dengan gerakan yang sama terus menerus ada titik jenuh, bosan, ini akan menurunkan ketaatan kita pada Allah SWT, maka kesabaran sangat dibutuhkan.
Contoh kesungguhan,  kesabaran dan dukungan lingkungan dalam tilawah qur'an supaya bisa khatam dalam 1 bulan : istilah orang sunda.... Allahuma paksakeun.... harus dipaksa jiwa, fikiran sampai ada amalnya ini untuk tilawah, mungkin waktunya bisa sebentar bisa juga lama bagi setiap orang berbeda untuk membentuk kebiasaan tilawah dari yang tadinya dipaksa, lama-lama biasa, dari kebiasaan yang terus menerus akan mempengaruhi jiwa jika sehari tiadk tilawah dirasakn ada yang kurang,  ini sudah membentuk menjadi kebutuhan.... subhanallah jika semua ibadah (mahdloh) bisa menjadi kebutuhan kita,  insyaAllah akhlak kita kepada Allah SWT sudah baik, sesuai dengan yang diharapkan Allah SWT dalam penciptaan jin dan manusia yaitu supaya beribadah kepadaNya (QS. Adz-Dzariyat 56).
Wallahu'alam, ini saja yang dapat saya sampaikan mudah-mudahann bermanfaat,  mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.
-----------------------------------------
Tanyaa Jawab

1. Tanya
Kalau diuji dengan musibah biasanya masih ingat dan ibadahnya  kenceng ustadzah.. Tapi kalau lagi diuji dengan nikmat kadang-kadang jadi menurun malah imannya.. #curcol..
Jawab:
Ujian kenikmatan memang kadang tidak terasa lagi diuji sebenarnya, tetap kita masih berada pada rel yang benar ketika kenikmatan itu kita syukuri kemudian menggunakan kenikmatan tersebut sesuai dengan keinginan Allah SWT, diberi sehat, maka makin banyak ibadah mahdloh dan melangkah ke komunitas/ tempat-tempat kebaikan,  dan seterusnya
2. Tanya
ustadzah... saya pernah mengalami sakaratul maut... mati suri.. Saya juga sudah diperlihatkan nisan saya, juga saya diperlihatkan siksa kubur... Mengapa itu semua saya alami ya ustadzah.. apa maksud Allah pada saya?
Jawab:
 ﻻ حول ولا قوة الا بالله. Bunda, disayangi Allah SWT, silahkan membaca kehidupan ulama salafushaleh Malik bin Dinar, dari yang tadinya selalu tidak mengindahkan syariat kemudian Allah SWT berikan mimpi melihat siksa kubur dalam tidurnya, setelah terbangun beliau bahkan melihat bekas luka pada tangannya yang terkena api, alhamdulillah sejak saat itu beliau menjadi ahli ibadah dan ahli ilmu, dan menjadi seorang ulama yang zuhud padahal tadinya sangat menuhankan harta sampai-sampai namanya pun menggunakan dinar
Tanya
Betul ustadzah, dan terkadang justru ketika kita sedang dalam keimanan yang tinggi atau baik, justru ujian yang dihadapi semakin berat dan sulit, hingga mampu membuat kita sedikit goyah... bagaimana caranya supaya kita bisa tetap istiqomah dan kuat menghadapi ujian itu...
Jawab:
Sekali lagi sunnatullah berlaku, coba kita sering-sering baca kisah para nabi dan rasul atau para sahabat atau para ulama salaf, bagaimana mereka menghadapi ujian dari Allah SWT. Ketika kita ditimpa sakit, kehilangan harta, atau meninggalnya anak, maka merasa paling menderita sedunia, padahal dibandingkan ujian pada nabi Ayyub a.s yang luar biasa, sakit yang tidak kunjung sembuh-sembuh dalam waktu yang lama.. harta habis tak bersisa, anak-anak meninggal dunia,  subhanallah kita tidak gitu-gitu amat yah, masih harus bersyukur,  alhamdulillah...
Mudah-mudahan bisa lebih menguatkn kita dalam menghadapinya disamping memotivasi untuk semakin mendekatkan diri pada Allah memohon pertolongan dikuatkan, kita diajarkan untuk menghafal do'a di QS. Al-Baqarah 286,
Butik nan sholihah.... saya kasih PR yaaaah.... hafalkan doa ini
Dari kalimat : rabbanaa laa tu akhidznaa innasiinaa au akhtha'naa.... dan seterusnya sampai selesai
3. Tanya
Ustadzh sholat taubat itu ada tidak ya??
Jawab:
Pengertian
A. Taubat
1. Pengertian
Taubat dalam bahasa Arab bermakna arruju’ (الرجوع) yaitu kembali. Maksudnya kembali dari dosa-dosa.Dan secara istilah di dalam kitab Kifayah At-Thalib Ar-Rabbani dan juga kitab Lisanul Arab, taubah itu didefinisikan sebagai :الرُّجُوعُ مِنْ أَفْعَالٍ مَذْمُومَةٍ إِلَى أَفْعَالٍ مَحْمُودَةٍ شَرْعًاKembali dari berbagai perbuatan yang tercela kepada perbuatan yang terpuji secara syariah.
2. Shalat Taubat
Adapun shalat taubah adalah shalat yang disyariatkan untuk dikerjakan oleh seorang hamba dalam rangka bertaubat kepada Allah SWT dan kembali dari dosa-dosa dan maksiat. Dan shalat Taubat tidak disyariatkan kecuali seseorang sedang bertaubat kepada Allah SAW.
B. Masyru'iyah
Shalat taubat adalah shalat yang oleh jumhur ulama dikatakan sebagai shalat yang masyru’ dan telah ditetapkan pensyariatannya lewat nash-nash syariah.عن أبي بَكْرٍ الصديق رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يَقُولُ : مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ . ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ : وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu berkata,”Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah ada seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa, kemudian dia berwudhu’ dengan baik, mendirikan shalat dua rakaat, lalu minta ampun kepada Allah, kecuali pastilah Allah SWT ampuni”. Kemudian beliau membaca ayat berikut : Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (HR. Abu Daud)Dalil masyru'iyah dari shalat Taubah ini juga terdapat dalam hadits yang lain :عن أَبي الدَّرْدَاءِ  قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يَقُولُ : مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا (شك أحد الرواة) يُحْسِنُ فِيهِمَا الذِّكْرَ وَالْخُشُوعَ ثُمَّ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَفَرَ لَهُDari Abi Ad-Darda’ radhiyallahuanhu berkata,”Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang berwudhu’ dan membaguskan wudhu’nya itu, kemudian berdiri dan melakukan shalat dua rakaat atau empat rakaat (perawi hadits ini agak ragu), membaguskan dzikir dan khusyu’nya, kemudian meminta ampun kepada Allah azza wa jalla, pastilah Allah ampuni. (HR. Ahmad)
C. Hukum
Seluruh ulama sepakat bahwa bertaubat itu hukumnya wajib. Sebab taubat itu akan menghapus semua dosa yang pernah dilakukan. Namun hukum shalat taubat berbeda dari hukum taubat itu sendiri. Umumnya para ulama tidak mewajibkan shalat taubat. Mereka hanya mengatakan hukumnya sunnah, sebagai pelengkap dari taubat yang dilakukan.Selain itu shalat taubat juga tidak disyariatkan kecuali seseorang sedang dalam proses bertaubat. Artinya, shalat taubat hanya dilakukan sesekali, tidak dilakukan tiap hari sebagaimana umumnya shalat-shalat sunnah rawatib.Kalau pun tiap hari kita berdzikir dan dalam dzikir itu kita melafadzkan ucapan taubat dan sejenisnya, namun yang dimaksud tentu bukan taubat yang besar. Sehingga tidak disyariatkan untuk shalat taubat untuk sesutu yang sifatnya rutin.
D. Tata Cara Shalat Taubat
Ada beberapa ketentuan dalam mengerjakan Shalat Taubat, antara lain :
1. Dua atau Empat Rakaat
Shalat Taubat dikerjakan dengan dua rakaat sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abu Bakar radhiyallahuanhu.ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِMendirikan shalat dua rakaat. (HR. Abu Daud)Namun di dalam hadits lainnya juga disebutkan dengan empat rakaat, karena perawinya agar ragu dalam menyebutkan jumlah rakaatnya.قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا (شك أحد الرواةKemudian berdiri dan melakukan shalat dua rakaat atau empat rakaat (perawi hadits ini agak ragu) (HR. Ahmad)
2. Sendirian Tidak Berjamaah
Shalat Taubat lebih utama dikerjakan dengan sendirian, karena tidak termasuk jenis shalat yang disunnahkan untuk dikerjakan dengan cara berjamaah. Dan bertaubat itu juga bukan sesuatu yang harus dipamerkan, karena terkait dengan aib dan dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang.
3. Banyak Beristighfar Seusainya
Dianjurkan seusai Shalat Taubat dilakukan untuk memperbanyak istighfar dan permohonan ampunan dari Allah SWT. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT :وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَىDan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. Thaha : 82)
4. Tidak Ada Ayat Tertentu
Umumnya para ulama mengatakan bahwa tidak ada ayat atau surat tertentu yang dianjurkan untuk dibaca dalam Shalat Taubat ini. Sehingga pada dasarnya surat dan ayat apa saja boleh dibaca dan sama nilainya di sisi Allah.
5. Memperbanyak Sedekah
Selain memperbanyak istighfar, dianjurkan apabila Shalat Taubat telah ditunaikan, untuk memperbanyak sedekah.Allah SWT berfirman :إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْJika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 271)Ketika Ka'ab bin Malik radhiyallahuanhu telah bertaubat dari kesalahannya karena tidak ikut dalam perang, beliau berkata kepada Rasulullah SAW :يَا رَسُولَ الله إِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ أَنَخْلع مِنْ مَاليِ صَدَقَةً إِلىَ اللهِ وَإِلَى رَسُولهِ. قَالَ رَسُولُ اللهِ: أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ: فَإِنِيّ أُمْسِكُ سَهْمِي الَّذِي بِخَيْبَرَ . متفق عليهYa Rasulullah, sebagai tanda taubatku, aku lepaskan hak milikku dari hartaku untuk sedekah di jalan Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda,"Tahanlah sebagian dari hartamu, karena akan berguna bagimu". Kaab berkata,"Aku masih punya bagian hartaku dari harta rampasan perang Khaibar. (HR. Bukhari Muslim)
6. Sah Dikerjakan Kapan Saja
Adapun kapan waktu untuk mengerjakan shalat Taubat ini, secara prinsipnya shalat Taubat sah dan boleh dilakukan kapan saja, baik siang atau pun malam. Karena shalat Taubat ini tidak terikat dengan waktu tertentu sebagaimana umumnya shalat Fardhu yang lima, atau beberapa jenis shalat sunnah yang lainnya.Bahkan para ulama berpendapat bahwa tidak ada larangan apabila shalat Taubat mau dikerjakan pada waktu-waktu yang terlarang untuk shalat sunnah mutlak sekali pun. Karena pada prinsipnya shalat Taubah itu adalah shalat yang ada sebabnya secara syar'i.
4. Tanya
Ustadzah, Mohon dijelaskan tentang waktu-waktu yang dilarang untuk shalat sunah, hadist dan waktunya kira-kira jam berapa?
Jawab:
Diantarara dalil-dalil tentang waktu-waktu yang dilarang shalat adalah :Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abi Sa’id bahwa Nabi saw bersabda,”Tidak ada shalat setelah shalat ashar hingga terbenam matahari dan tidak ada shalat setelah shalat fajar hingga terbit matahari.”Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ahmad dari ‘Amr bin Abasah yang berkata : “Saya bertanya,’Wahai Nabi Allah ceritakanlah kepadaku tentang shalat.’ Lalu Nabi saw bersabda,’Lakukanlah shalat shubuh kemudian tahanlah untuk melakukan shalat hingga terbit matahari dan terangkat naik karena ia terbit diantanra dua tanduk setan dan pada saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya. Kemudian kerjakanlah shalat karena shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat sampai engkau melakukan shalat ashar hingga terbenam matahari karena ia terbenam diantara dua tanduk setan dan pada saat itu orang-orang kafir sujud kepadanya.”Imam Nawawi didalam syarhnya memberikan penjelasan tentang dua tanduk setan dengan menyebutkan beberapa pendapat, diantaranya ada yang mengatakan bahwa ia adalah kelompok dan pengikutnya, ada yang mengatakan bahwa ia adalah kekuatan, kemenangan dan tersebar luasnya kerusakan dan ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah dua tanduk yang ada diujung kepala (lahiriyahnya) dan pendapat inilah yang kuat. Mereka mengatakan bahwa setan mendekatkan kepalanya ke matahari pada waktu-waktu ini agar tampak bahwa orang-orang kafir yang sujud kepada matahari seolah-olah sujud kepadanya (setan).Pada waktu seperti ini setan dan para pengikutnya tampak menguasai dan mendominasi untuk bisa mengacaukan shalat orang-orang yang melakukannya, Maka dimakruhkan melaksanakan shalat pada saat-saat seperti itu demi menjaga shalatnya sebagaimana dimakruhkannya melaksanakan shalat di tempat-tempat yang mejadi tempatnya setan. Riwayat lainnya oleh Jama’ah kecuali Bukhori dari Uqbah bin Amir berkata,”Ada tiga waktu yang Nabi saw melarang kami untuk melakukan shalat dan menguburkan mayat pada saat itu. Pertama, ketika matahari terbit hingga terangkat naik. Kedua, ketika tepat berada di tengah langit. Ketiga, ketika ia condong hendak terbenam.”Dari ketiga hadits diatas didapat bahwa ada lima waktu yang dilarang melakukan shalat didalamnya, yaitu : setelah shalat shubuh hingga terbit matahari, ketika matahari terbit sampai terangkat naik kira-kira sepenggelah, ketika matahari tepat berada di tengah-tengah langit, setelah shalat shubuh hingga terbenam matahari dan saat terbenam matahari.
Kemudian jumhur ulama berpendapat bahwa shalat-shalat yang dilarang pada waktu-waktu tersebut adalah shalat-shalat sunnah, sementara Imam Syafi’i mengatakan bahwa ia adalah shalat-shalat sunnah yang tidak memiliki sebab, bebeda dengan para ulama Hanafi yang melarang melakukan semua macam shalat bahkan shalat fardhu sekali pun kecuali shalat ashar hari itu dan shalat jenazah.Sedangkan ukuran yang yang dipakai didalam penentuan waktu-waktu yang dilarang shalat adalah dengan melihat keadaan dan kondisi matahari baik ketika ia terbit, naik, berada di tengah-tengah atau tenggelam dan hal ini lebih universal untuk bisa diterima oleh seluruh kaum muslimin di daerah dan negeri mana pun mereka berada. Lain halnya apabila penentuan itu dengan menggunakan jam—seperti petanyaan anda diatas—maka ini sangatlah relatif dan pasti terjadi perbedaan antara satu negeri dengan negeri lainnya, antara daerah Indonesia bagian barat dengan bagian timur, atau antara bulan ini dengan dua bulan berikutnya.Adapun tentang apakah shalat dhuha yang anda lakukan antara jam 07.15 – 07.30 sudah masuk waktu shalat dhuha ataukah ia masih termasuk dalam waktu-waktu yang dilarang shalat ?Sesungguhnya waktu shalat dhuha dimulai dari matahari yang mulai terangkat naik kira-kira sepenggelah dan berakhir hingga waktu matahari tergelincir, meskipun disunnahkan agar dilakukan ketika matahari agak tinggi dan panas agak terik, sebagaimana diriwayatkan Muslim, Tirmidzi dan Ahmad dari Zaid bin Arqam berkata,”Nabi saw keluar menuju penduduk Quba’ dan ketika itu mereka sedang melaksanakan shalat dhuha. Beliau bersabda,’Inilah waktu shalat al-awwabin (shalat dhuha), yaitu sewaktu anak-anak unta telah bangkit karena kepanasan cahaya matahari pagi.”Ada yang mengatakan bahwa akhir waktu shalat dhuha kira-kira seperempat jam atau lebih sedikit sebelum masuk waktu zhuhur.Dengan demikian apabila anda melakukan shalat dhuha pada pukul 07.15 maka ia sudah masuk kedalam waktu dhuha karena waktu dhuha berawal dari berakhirnya waktu yang dilarang atau pada saat matahari naik sepenggalah dan para ulama kontemporer mengatakan bahwa waktunya adalah kira-kira 15 menit setelah terbit matahari.Dan pada umumnya waktu terbit matahari berkisar antara jam enam kurang atau lebih sedikit. Jadi apabila ditambah dengan 15 menit yang menjadi awal waktu shalat dhuha maka ia masih berada pada kisaran jam enaman.Agar anda lebih tenang dalam melaksanakan shalat dhuha pada masa-masa selanjutnya maka anda bisa melihat daftar waktu shalat yang biasanya disana dicantumkan waktu syuruq (terbit matahari) maka akhir waktu yang dilarang adalah kira-kira 15 menit setelahnya.Wallahu A’lam
5. Tanya
Bagaimana menurut ustadzah apabila seorang hamba diberikan ujian tiada hentinya... bertahun-tahun... bagaimana  cara kita menghadapai ujian seperti itu... biar selalu tetap sabar...
Jawab:
Laahawla walaa quwwata illa billah,  betapa berat ujian nya, maka yang harus dikokohkn adalah aqidahnya, keyakinannya Allahush-shomad,  Allah tempat bergantung,  ini tidak semudah membalikkan tangan, biasanya ujian seperti ini diberikan pada orang-orang yang memiliki keutamaan saja, orang-orang sholeh.... tapi kalau kemudian kita melihat ternyata ujian ini ada pada orang biasa yang kita tau shalat tidak pernah jamaah di masjid bahkan suka ditinggalkan, kelakuan buruk tapi miskin hidupnya.... naaah ini bukan ujian boleh jadi teguran dari Allah
6. Tanya
Bagaimana menghadapi orang tua yang menyimpang dari aturan agama?
Jawab:
Tetap harus dipergauli dengan baik, birrul walidain tetap menjadi kewajiban anaknya, sambil berupaya mendakwahinya sedikit-sedikit, pelan-pelan, dengan halus tidak frontal
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
: سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.                              ​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
~~~~~~~~~~~~~
Semoga ilmu hari ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin