Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » AMALAN SUNNAH BULAN MUHARRAM

AMALAN SUNNAH BULAN MUHARRAM

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, October 28, 2014

KAJIAN ONLINE HAMBA اللَّهِ UMI 03
 Senin, 3 muharram 1436 H ( 27 Okt 2014)
Narasumber : ustadz Suhendi
Materi : Kajian Islam (Amalan Sunnah bulan Muharram)
Admin: Ani
PJH: Dewi Wuri
Editor: Selli

Ummahat fiilah.. semoga semua dalam keberkahan dan kasih sayang Allah, yang sakit Allah berikan kesembuhan dan kesehatan, yang sehat semoga tambah semangat dalam menebar kebaikan, tambah sayang denga keluarga.. mari kita awali tahun baru ini dengan semangat berubah menjadi lebih baik..
Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.. Karena ia adalah wasilah/sebagai sarana yang akan membwa kita semua ke JANNAH nya Allah SWT. Jadi semangat selalu dimana pun, kapan pun untuk bertolabul ilm..
Sebelum taklim ayoo sama-sama baca doa dulu agar ilmunya.. Barokah manfaat..
Allahumma innii as aluka ilman naafi'an,
Wa rizqon thoyyiban,
Wa 'amalan mutaqobbalan.
Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.
Di hafal yaa para ummahaatul muslimah, doanya.. Sambil masak, atau antar anak juga bisa.. Cara nya tidak usah pusing-pusing, baca berulang-ulang اِنْشَآءَاللّهُ lancar.. 

Panduan Amalan Di Bulan Muharram
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan pertama Hijriyah. Dari bulan inilah kaum Muslimin pertama terjadi perubahan secara fundamental. Mereka menyambut kehadirannya dengan antusiasme yang tinggi ditandai dengan memuliakannya diisi amal shalih.
Berikut adalah beberapa amalan sunnah di bulan Muharram.
a. Memperbanyak puasa selama bulan Muharram
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ الله الْمُحَرَّمِ
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.”       (HR. Muslim),
Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan :                                                
اَلْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُوْرَاء وَهَذَا الشَّهْرُ – يَعْنِى شَهْرُ رَمَضَانَ – مَارَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ اللهُ عَلَى غَيْرِهِ اِلاَّ هَذَا.
“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Puasa Asyura’ (puasa tanggal 10 Muharram)
Dari Abu Musa Al Asy’ari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
كَانَ يَوْمُ شُعَرَاءَ تُعِدُّهُ الْيَهُودُ عِيْدًا قَالَ النَبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَصُوْمُوْهُ أَنتُمْ.
Dulu hari Asyura’ dijadikan orang Yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian.” (HR. Al Bukhari)
Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan :
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ: كَفَّارَةُ سَنَةً
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَالْيَهُوْدُ تَصُوْمُ عَاشُوْرَاءَ فَقَالُوْا هَذَا يَوْمٌ ضَهَرَ فِيْهُ مُوْسَى عَلَى فِرعَوْنَ فَقَالَ النَّبِيِّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَانِهِ: أَنْتُمْ أَحَقُّ مُوْسَى مِنْهُمْ فَصُوْمُوْا.
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang Yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat:  “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang Yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Al Bukhari).
Puasa Asyura’ merupakan kewajiban puasa pertama dalam Islam, sebelum Ramadlan. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliallahu ‘anha, beliau mengatakan:
أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاة عَاشُوْرَاءَ اِلَى قُرَى الْأَ لْضَارِ مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ قَالَتْ فَكُنَّا نَصُوْمُهُ بَعْدَ وَنَصُوْمُ صِبْيَاتُنَا وَنَجْعَلُ لَهُم اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ فَأِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامَ أَعْطَيْنَاهُ ذَلِكَ حَتَّى يَكُوْنَ عِنْدَ الْاِفْطَانِ
Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, puasa Asyura’ menjadi puasa sunnah. A’isyah radliallahu ‘anha mengatakan:
كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ تَصُوْمُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَهِلِيَّةِ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّ فَرَضَ رَمَضَانَ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.
“Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah.
Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, puasa Asyura’ menjadi puasa sunnah. A’isyah radliallahu ‘anha mengatakan:
كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ تَصُوْمُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَهِلِيَّةِ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّ فَرَضَ رَمَضَانَ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.
“Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Puasa Tasu’a  (puasa tanggal 9 Muharram)
Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:
حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ الله أَنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَنَّصَارَى فَقَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اِنْ شَاءَ اللهُ صُمنَا الْيَوْمو التَّاسِعَ قَالَ: فَلَمْ يَأَتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang Yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah diwafatkan.” (HR. Al Bukhari)
Tingkatan Puasa Asyura
Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:
1. Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.
2. Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadits.
3. Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja. (Zadul Ma’ad, 2/72).*
Ummahat fillah diantara kita sudah Allah tetapkan apakah ia menjadi penghuni syurga atau penguni nerakaNya.. Tugas kita hanya menjalankan saja, ikhtiar dengan mujahadah "mas tatho'naa).. Terus bersungguh-sungguh.. Bersyukurlah kita bagi yang dimudahkan dalam melakukan setiap kebaikan, dan banyak istigfarlah/mohon ampun bagi kita yang masih malas, sulit, banyak alasan dalam fastabiqul khoiroot/berkompetisi meraih kebaikan-kebaikan... Amalam kita tidak bisa dikerjakan oleh siapapun, kecuali kita sendiri yang berusaha merubahnya, melakukannya.. Dengan Ihsan dan secara benar sesuai syariah-NYA..
--------------------------------------
" TANYA JAWAB "
1. TANYA
Soal muharram ustadz... tidak sedikit ummat muslim mengkhususkan tidak melakukan acara pesta seperti pernikahan di bulan muharram... apa itu di benarkan?
Yang saya bingung hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia ustad tetapi di tempat saya skarang (India) yang notabene muslimnya keturunan arab. Melarang melaksanakan pernikahan di bulan Muharam
JAWAB:
Ya benar sekali bunda.. Kondisi ummat pada realitanya demikian.. ada pandangan muharram adalah bulan sial, istilah Jawa nya bulan suro, bulan keramat bahkan tidak ada yang berani melakukan perjalanan jauh juga tidak berani melakukan pernikahan pada bulan tersebut.. Sebagaimana yang bunda tanyakan.. padahal semua itu hanyalah mitos, atau budaya nenek moyang yang harus diluruskan.. Karena bisa masuk kepada ranah aqidah, ini bahaya sekali.. Merasa sial karena sesuatu hari, bulan tanggal dan lainnya selain dari Allah. Padahal hanya Allah lah yang mamapu memeberikan manfaat dan mudhorot.. Memegang dalam bulan tersebut kita dilarang berperang berbuat keji dan lain-lain. Sebagaimana banyak hadits dan dalil Al quran..
Dalam Islam, antara bulan satu dan bulan lainnya mempunyai kekhususan tertentu. Apa saja keutamaan bulan Muharram?
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw dan sahabatnya dari Makkah dan Madinah.
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman yamg artimya: “Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram,” (QS. At Taubah: 36)
Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang, bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai rasa syukur atas pertolongan Allah
Justru itulah bundaa.. Pemahaman kebanyakan orang karena  kepercayaan yang turun temurun yang lama kelamaan sudah mengakar sehingga menjadi budaya.. Tugas kita semua saling mengingatkan, dengan hikmah dan sabar tentunya.. Kita semua harus memutus mata rantai tersebut karena merupakn pemahaman yang salah..
Juga bukan arabnya yang jadi patokan bunda.. karena waktu saya kuliah pernah juga di imami orang Arab tapi kurang fasih dalam Al qurannya..
2. TANYA
Kebanyakan orang menyantuni anak yatim di bulan Muharam.. bagaimana dengan ini?
JAWAB:
Oo ini budaya bagus bunda.. lanjutkan.. Karena kita disunnahkan banyak menebar kebaikan pada bulan ini, selama masih baik lakukan. Asalkan tidak  berkeyakinan wajib bahwa muharram harus santuni anak yatim maka ini yang kurang tepat.. Intinya silahkan banyak berbuat baik, dengan shaum, shodaoqh atau lainnya dan jangan coba-coba maksiat karena dosanya amat besar dilipat gandakan jika melakukannya pada bulan ini.. Tentunya kita selalu berdoa agar Allah juga menjaga kita semua jangan sampai melakukan dosa pada bulan-bulan lainnya..

Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya
“Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yg empat itu,” maksudnya: Dalam bulan-bulan yang terhormat ini. Karena dosanya lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Sebagaimana dosa maksiat di negeri al haram juga dilipatgandakan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25)
Maka demikian pula dalam bulan-bulan haram, dosa2 di dalamnya dilipatgandakan.”
Lalu beliau membawakan atsar Ibnu Abbas dan Qatadah yg menguatkan ucapan beliau.
Ibnu Abbas berkata, “Allah menjadikan dosa di dalam bulan-bulan haram itu lebih besar serta menjadikan amalan saleh dan pahala juga lebih besar.”
Qatadah berkata, “Kezhaliman di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya dibandingkan kezhaliman pada bulan-bulan lainnya.”
Wallahu a’lam

3. TANYA
Ustadz, jika berbuat dosa maka dosanya menjadi berlipat, apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertaubat?
JAWAB:
in syaa Allah.. Allah maha pengampun....
عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : (( قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً )).
Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].
TAKHRIJ HADITS
Hadits shahih diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3540) dan ini lafazhnya. Tirmidzi rahimahullah berkata, "Hadits ini hasan gharib."
Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, "Hadits ini hasan sebagaimana yang dikatakan oleh at-Tirmidzi. Hadits ini mempunyai syawâhid (penguat) dari hadits Abu Dzar Radhiyallahu anhu . Diriwayatkan oleh ad-Dârimi rahimahullah (II/322) dan Ahmad (V/167, 172), padanya ada rawi yang lemah. Akan tetapi hadits ini karena memiliki banyak syawahid, maka dihasankan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 127). Bahkan dalam kitab Hidâyatur Ruwât (no. 2276) ketika mengomentari hadits ini, beliau rahimahullah berkata, "Hadits ini hasan, sebagaimana dikatakan oleh at-Tirmidzi rahimahullah , dengan syahid-nya yang sudah disebutkan, bahkan hadits ini shahih, karena mempunyai dua syahid (penguat) yang lainnya. Saya sudah takhrîj di Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 128, 903, dan 195). [Lihat Hidâyatur Ruwât ila Takhrîji Ahâdîtsil Mashâbîh wal Misykât (II/447-448].
4. TANYA
afwan ustadz, bagaimana dengan puasa diakhir tahun dan awal tahun (1 muharam) ?
JAWAB:
Sepengetahuan saya, perihal puasa awal dan akhir tahun tidak ada contoh riwayat shohih dari Rasullah saw dan sahabatnya yang melakukan hal tersebut.. Wallaua'lamu wbishowaab..
5. TANYA
puasanya tanggal 9, 10, 11 itu tadi ya ustadz? Kalau selain tanggal tersebut bagaimana?
Niatnya bagaimana ustadz? Puasa sunnah bulan muharram begitukah?
JAWAB:
Boleh shaum selain itu.. Karena memang ada nash yang menjelaskannya..
6. TANYA
Assalamu'alaikum Ustadz tadi ustadz menyampaikan hadist bahwa janganlah kita menganiaya dan mendzolimi diri pada 4 bulan haram itu.
Nah seandainya orang yang tidak tilawah apakah termasuk mendzolimi diri?
JAWAB:
Yang dimaksud mendzolimi diri ialah banyak menggunjing, mengadu domba..mengisi waktu sia-sia.. Sholat tidak tepat waktu. Bisa jadi tidak tilawah termasuk kalau, lebih asyiiiik NONTON TV..
7. TANYA
Kalau hari ini puasa senin dan kamis nanti boleh kan ustadz?
JAWAB:
Shaoum senin kamis tidak apa-apa bunda karena ada nash nya juga 
8. TANYA
Di Turki mempunyai kebiasaan yang relatif disakralkan yaitu membuat bubur asyura.. Kemudian mereka membagikan ke tetangga bubur itu. Kita barangkali sudah tahu bahwa mensakralkan seperti itu tidak ada landasannya ya ustadz..
Ketika saya bertanya kepada mereka katanya meneruskan budaya nabi Nuh yang mengambil biji bijian ketika sebelum badai
Kira-kira apa benar pada saat asyuro memang terjdi peristiwa nabi Nuh itu ya? Jadi penasaran kebenaran ceritanya :)
JAWAB:
Untuk bubur sayur wallaua'lam.. Juga perlu dijelaskan bahwa Islam datang untuk menyempurnakan syariat Ad dien yang sebelumnya. Yakni Dien kita sudah sempurna tidak ada satu syariat pun yang terlupa dan terlewat didalamnya. Hatta termasuk jika adab muslim didalam wc, cara bermuamalah baik dengan muslim dan non.. Semua sudah diatur.. Termasuk bubur tersebut jika memang benar maka Rasul akan meriwayatkannya atau setidaknya ada sahabat yang melaukannya..
9.TANYA
Assalamu'alaikum... ustadz.. kenapa hanya 4 bulan itu saja yang termasuk bulan yang diharamkan.... apakah ada dasar nash nya ustadz?
JAWAB:
Ya hanya 4 tersebut.. Itu syariah kita imani saja. Pasti ada hikmah dan ibroh  didalamnya.. Nash sudah ada diatas tafadhol dibaca kembali..
Analoginya: kenapa babi itu haram, ada yang menjawab karena ada cacaing pita, kuman dll. Pertanyaanya? Nah bagaimana kalau babi itu tidak mengandung cacing pita atau kuman. Apakah tetap HALAL ?? tentunya tidak. Artinya semua syariah harus kita imani terlebih dahulu. Jika mau dikaji atau diadakan research untuk menguatkan tafadhol/silakan...

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaahaillaantan astagfiruka Wa atuubu ilaiiik..

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post