Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

BERPALING DARI DUNIA

KAJIAN ON LINE HAMBA اللهِ NANDA 115
Hari, tgl: Rabu, 29 Oktober 2014
Pemateri: Ustadz Dian Alamanda
Materi: Berpaling dari Dunia
Admin: Nurza
Editor: Nofita

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه و من اتبع الهدى، و بعد

Tema kita kali ini masih dari kitab tanbihul ghofilin yaitu tentang "berpaling dari dunia" 

Diriwayatkan dari zaid ibn tsabit ra, Rasulullah bersabda: "barang siapa yg niatnya untuk akhirat maka Allah akan menghimpun baginya semuanya. Allah menjadikan kekayaan pada hatinya dan dunia akan datang kepadanya dengan sendirinya, dan barang siapa yang niatnya untuk dunia, maka Allah akan menceraiberaikan urusannya. Allah menjadikan kefakiran di depan kedua matanya dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali apa yang telah ditentukan untuknya."


Rasulullah pernah ditawarkan apakah hendak menjadi rasul sekaligus seorang raja, atau menjadi rasul sekaligus hamba. Dua pilihan yang sama baiknya, namun Rasulullah memilih berpaling dari gemerlap dunia dan memilih menjadi seorang rasul sekaligus hamba.
Umar ra datang kepada Nabi SAW ketika beliau beada diatas tikar dan kedua pinggang beliau membekas, lalu Umar menangis... 
Rasulullah bertanya, "apa yg menyebabkan engkau menangis wahai umar?
Umar berkata, "saya teringat kisra dan kaisar dengan segala kemewahan dunianya, sedangkan engkau yg utusan Allah, pinggangmu berbekas garis tikar."
Nabi menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang kesenangannya dipercepat di dunia ini, sedangkan kami adalah orang-orang yang kesenangannya ditangguhkan nanti di akhirat"
Imam Ali ra pernah berkata, sesungguhnya yang saya khawatirkan atas kamu ada dua, panjang angan-angan dan menuruti hawa nafsu, sebab dunia sudah berjalan ke belakang sedangkan akhirat akan kita hadapi.

Dunia dan akhirat mempunyai anak, maka jadilah anak-anak akhirat jangan menjadi anak-anak dunia. Sebab hari-hari di dunia adalah saat beramal tak ada hisab, sedangkan akhirat saatnya dihisab dan tidak ada amal.

Diriwayatkan Rasulullah dalam khutbah jumatnya pernah bersabda: "wahai manusia, sesungguhnya bagi kamu telah ada rambu-rambu, maka berhentilah pada rambu-rambu itu. Sesungguhnya bagimu ada batas, maka berhentilah pada batas itu, seorang yang beriman berada diantara dua ketakutan, yaitu antara masa lalu, dimana ia tidak mengetahui bagaimana Allah akan berbuat kepadanya, dan masa yang akan datang, dimana ia juga tak mengetahui apa yang akan Allah tetapkan,
oleh karena itu, seorang hamba hendaknya mempunyai bekal untuk kepentingannya sendiri, dari masa hidupnya untuk matinya, dari masa mudanya untuk masa tuanya, dan dari dunianya untuk akhiratnya,
sesungguhnya dunia diciptakan untuk kamu, sedangkan kamu diciptakan untuk akhirat. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sesudah dunia tidak ada tempat kecuali surga atau neraka. Aku ucapkan kata-kata ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu. "Barangsiapa yang berakal sehat, maka ia rela dengan hidup sederhana di dunia, tidak sibuk mengumpulkan dunia, tetapi sibuk mengerjakan amalan-amalan akhirat, karena akhirat adalah tempat yang kekal dan tempat segala kenikmatan, sedangkan dunia ini akan rusak, tempatnya tipuan dan fitnah.


Abu Dzar RA meriwayatkan, “Saya pernah berjalan bersama Rasulullah SAW di Madinah, lalu kami sampai di hadapan gunung Uhud. Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Dzar, aku tak suka bila emas sebesar gunung Uhud ini menjadi milikku dan bermalam di rumahku hingga tiga malam. Kecuali satu dinar yang akan kugunakan untuk membayar hutang. Atau aku berikan semua emas itu kepada orang-orang sembari berkata begini, begini, dan begini’, (maksudnya berinfak dan sedekah), sembari menggenggamkan kedua tangannya ke kanan, kiri dan belakangnya.”
Kemudian Rasulullah meneruskan perjalanan dan bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya orang-orang yang berbanyak-banyak (mengumpulkan harta) akan menjadi sedikit (melarat) pada hari kiamat nanti, kecuali orang yang berkata seperti ini, seperti ini, dan seperti ini begini,’ (maksudnya berinfak dan sedekah), sembari Rasulullah SAW menggenggam tangannya ke kanan, kiri dan belakangnya. Lalu bersabda, “Tetapi sedikit sekali orang yang suka melakukan hal demikian tadi.” (HR. Bukhari)

Akhirat adalah tempat yang abadi, sebagian berada di surga, sebagian berada di neraka
sedangkan surga adalah pengganti dunia bagi orang-orang yang meninggalkannya, dan neraka adalah pengganti dunia bagi orang yang mengejar-mengejarnya.


Ada  tiga hal yang menyebabkan Nabi Ibrahim terpilih sebagai khalilullah:
1. Jika diberikan dua pilihan, ia selalu mengambil satu pilihan karena Allah.
2. Ia tidak pernah risau kepada dunia yang telah dijamin oleh Allah. Sedangkan kita risau kepada dunia yang sudah dijamin, dan lalai dari akhirat yang kita belum terjamin keselamatannya.
3. Ia tidak pernah makan pagi atau makan sore melainkan bersama tamu.

Seorang pandai berkata, hidupnya hati ini dengan empat perkara, ilmu, ridha, qona'ah dan zuhud. Ilmu membawa kepada ridha, ridha mengantarkan kepada qona'ah, dan qona'ah menjadi jalan menuju zuhud.

Tiga macam zuhud:
1. Mengenal dunia kemudian meninggalkannya.
2. Beribadah kepada Allah.
3. Rindu kepada akhirat kemudian berusaha mengejarnya.


Orang-orang yang sempurna akalnya adalah yang mengerjakan tiga hal:
1. Meninggalkan dunia sebelum ia benar-benar meninggalkannya.
2. Membangun kubur sebelum ia dimasukkan kedalamnya.
3. Merasa senang dengan Allah sebelum ia berjumpa denganNya.


Ja'far ash-shadiq meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa rasulullah bersabda: "Wahai Ali, empat hal termasuk tanda celaka, yaitu: keringnya airmata, kerasnya hati, cinta dunia, dan panjang angan-angan".
Seandainya dunia disisi Allah sebanding dengan satu sayap nyamuk, maka Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk. Lalu mengapa kita mengejar-ngejarnya lalu melupakan akhirat?
Dunia adalah penjara bagi orang beriman, kuburan merupakan bentengnya, dan surga merupakan tempat tinggalnya. Dunia adalah surga bagi orang kafir, kuburan merupakan penjaranya, dan neraka tempat tinggalnya.
seorang beriman yang paling kaya sekalipun, ketika ia menghadapi sakaratul maut, ketika surga diperlihatkan kepadanya, maka seolah-olah ia berada di penjara.

Orang yang berakal sehat hendaknya memperhatikan perumpamaan dunia ini yang telah diberikan Allah melalui firmanNya, oleh Rasulullah melalui sabdanya.
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. (Yunus:24)


Barang siapa yang hatinya telah meresap untuk mencintai dunia, maka hatinya terikat kepada tiga hal:
1. Sibuk yang tidak mengenal lelah,
2. Bekerja tiada habis-habisnya, dan
3. Rakus yang tiada ujungnya.


Dunia dan akhirat saling mencari, maka siapa yang mencari akhirat, ia dicari oleh dunia sehingga ia memperoleh rizki yang cukup, dan barang siapa mencari dunia, ia dicari oleh akhirat sampai maut datang kepadanya dan merenggut nyawanya secara tiba-tiba.
suatu hari Sa'ad ibn Abu Waqqas masuk ke tempat Salman alFarisi untuk menjenguknya karena ia sakit, lalu Salman menangis,
Sa'ad lantas bertanya, "kenapa kamu menangis wahai Abu Abdillah, sedangkan waktu Rasulullah wafat, beliau ridha kepadamu?".
Salman menjawab, "Aku menangis bukan karena takut mati atau rakus kepada dunia, akan tetapi Rasulullah berpesan kepada kami, bahwa bekal duniamu hendaknya hanya seperti bekal orang yang bepergian, sedangkan di sekelilingku ada macam-macam" (padahal hanya ada bejana, ember, panci dan tempat wudhu disekelilingnya).
Sa'ad lalu berkata, "Wahai abu Abdillah, berpesanlah kepadaku, sehingga kami dapat mengamalkannya setelah kepergianmu." Lalu Salman berkata,"Wahai Sa'ad, ingatlah kepada Allah ketika kamu hendak melakukan suatu pekerjaan, ketika kamu hendak memutuskan suatu hukum, atau ketika kamu melaksanakan apa yg telah kamu putuskan."
Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang berada pada waktu pagi, sementara dunia merupakan cita-citanya yang paling utama, maka Allah ta'ala akan menetapkan dalam hatinya tiga perkara: kerisauan yang tak terputus, kesibukan tanpa waktu luang, rasa kekurangan yg tiada akhirnya."


Tidak seorangpun pada setiap pagi, melainkan ia sebagai tamu dan hartanya sebagai pinjaman. Tamu akan berpulang dan pinjaman akan dikembalikan. Dalam satu hadits qudsi Allah berfirman: "HambaKu yg beriman merasa gembira bila Aku lapangkan sedikit dunia untuknya, padahal yang demikian itu menjauhkan dia dariKu. Dia akan merasa sedih jika Aku sempitkan dunia atasnya, padahal yang demikian itu mendekatkan dia kepadaKu".
“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” Al Mu`minuun : 55-56


Semoga nasehat ini bermanfaat bagi kita semua, dan mari saling mendoakan agar Allah ta'ala memberikan hidayahNya kepada kita agar kita tidak terjatuh kepada mencintai dunia dan meninggalkan akhirat.

Wallahua'lam, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Silahkan jika ada yang ingin berdiskusi.


TANYA DAN JAWAB:
Tanya:
Bolehkah bertanya tentang mengejar akhirat.
Setiap dari kita diberikan talenta oleh Alloh SWT yang bisa kita gunakan sebagai lahan mencari rezeki. Dan tentu jika kita ingin mengejar akhirat berarti mencarj rezeki sesuai dengan ketentuan agama islam. Saya menyoroti profesi photograper. Bagaimana pandangan ustad pribadi melihat profesi itu?
Dengan menyesuaikan wacana di atas, photograper yang ingin mengejar akhirat.
Terima kasih, saya seorang photograper dan camera women.

Jawab:
Dalam hal fotografi para ulama berbeda pendapat, sebagian ulama mengharamkan secara mutlak dan sebagian ulama berpendapat mubah, yang menjadikan haram adalah obyeknya, semisal gambar berhala, pornografi dsb. Fotografer yang niat pekerjaannya untuk mencari nafkah untuk beribadah insya Allah baik, apalagi digunakan keahliannya untuk di jalan dakwah.
Saya cenderung mengambil pendapat yang membolehkan selama objeknya halal.
Wallahua'lam.

Komentar:
Ust. Saya sangat tahu dunia hanyalah sebentar dan akhirat kekal, tapi kenapa diri ini seakan hilang akal sampai begitu terlena akan dunia. Ustd dan yang lainnya, doakan saya bisa mengendalikan hawa nafsu saya dan terbebas dari panjang angan-angan.

Tanya: 
Bagaimana caranya supaya membatasi pikiran yang berlebihan akan keinginan duniawi yang menopang akhirat? Misalnya kita butuh tempat tinggal untuk beribadah (ujung-ujungnya bisa hutang KPR) dan butuh uang/materi lain untuk bertahan hidup, serta keinginan lainnya seperti ingin bisa berkurban, ingin naik haji, ingin punya pesantren, dsb.

Jawab:
Zuhud tidak berbanding lurus dengan kemiskinan antara hasan al-bashri dengan umar ibn abdul aziz para ulama kesulitan melihat mana yang lebih zuhud antara nabi Sulaiman as dengan nabi Isa as?
Obat cinta dunia bisa dengan perbanyak mengikuti majelis zikir seperti ini.

Kisah hanzalah bisa dijadikan ibrah
“Hanzalah telah munafik! Hanzalah telah munafik!” lantun Hanzalah pada dirinya. Kakinya mengerah cepat ke Masjid. Nabi pasti ada disana fikirnya. Riak ketakutan dan secebis penyesalan terlukis diwajahnya.

“Hanzalah telah munafik! Hanzalah telah munafik!” Diulangnya beberapa kali. Sedang dalam perjalanan, Hanzalah berselisih dengan Saidina Abu Bakar As Siddiq. Saidina Abu Bakar terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Hanzalah tersebut.
“Apakah yang telah kau katakan ini wahai Hanzalah?” Tanya Abu Bakar.
“Wahai Abu Bakar, ketahuilah Hanzalah telah menjadi munafik. Aku ketika bersama Rasulullah aku merasakan seolah-olah syurga dan neraka itu sangat hampir padaku. Aku menangis kerana takutkan neraka.”
“Namun. Dirumah aku ketawa riang bersama anak-anak dan isteriku . Hilang tangis aku bersama Rasulullah.”
“Aku telah menjadi munafik!”  Ujar Hanzalah sambil teresak-esak bimbangkan akan dirinya.
Saidina Abu Bakar terkejut.
“Kalau begitu aku pun munafik. Aku pun sama denganmu wahai Hanzalah.”
Lantas, kedua-dua sahabat ini bersama-sama menemui Rasulullah. Tangisan tidak berhenti. Mereka benar-benar ketakutan. Takut pada Allah. Takut azab neraka yang sedia menunggu para munafik.
Hati mereka gementar.
Sesampainya di hadapan Rasulullah, Hanzalah bersuara.

“Wahai Rasulullah, Hanzalah telah munafik.”
Rasulullah bertanya. “Kenapa?”
“Ketika aku bersamamu ya Rasulullah, aku merasakan seolah-olah syurga dan neraka itu sangat hampir. Lantas air mataku mengalir. Tapi, dirumah aku bergurau senda keriangan bersama anak-anak dan isteriku . Tidakkah aku ini seorang munafik ya Rasulullah”
Rasulullah tersenyum.
Lantas baginda bersabda,
“Demi yang jiwaku di tanganNya andai kalian tetap seperti kalian di sisiku dan terus berzikir nescaya para malaikat akan berjabat tangan kalian, sedang kalian berada di atas tempat tidur dan di jalan raya, akan tetapi wahai Hanzalah, ada waktumu (untuk beribadah) dan ada waktumu (untuk duniamu)”. – HR. Muslim

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaykum wr wb.