Ketik Materi yang anda cari !!

CINTAI ANAK TANPA SYARAT

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, October 17, 2014

Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ  SWT (HA 15 & 16 UMMI)

Hari / Tanggal : Kamis, 16 Oktober 2014
Materi: Tarbiyatul Aulad Part 3
Narasumber : Ustadzah Pipit
Admin: Farabella l Nury
Notulen : Ajeng l Ayu 
Editor : Ana Trienta

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْ مَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته.  سبحان الله وبحمده ولا اله الا الله والله أكبر

Alhamdulillahirabbil'alamin, alhamdulillahilladzi arsala rasuulahu bilhuda wadiinilhaq liyudzhirahu 'aladdiinikullihi walaukarihal musyrikin...

Kaifa haalukunna Bunda-bunda shalihat? Pagi jelang siang yang sejuk ini (Alhamdulillah di Depok sudah mulai hujan niy) semoga kita selalu penuh syukur menjalani kehidupan. Bunda-bunda Shalihat dan SMART masih ingatkan kajian kita sebelumnya tentang formula: CINTAI ANAK TANPA SYARAT
Nah, di majelis kita hari ini kita lanjutkan yuuuk Tarbiyatul Aulad Part 3 : Bagaimanakah cara Mencintai Anak Tanpa Syarat?

1). DOAKAN SEGALA KEBAIKAN.
Ini adalah hal yang paling pokok, karena salah satu doa yang paling ijabah adalah doanya orangtua (terutama Bunda untuk anak-anaknya). Doa awalannya adalah minta agar dapat mencintai dengan tulus. Doakan anak secara rahasia dan terang-terangan (agar sinyal kita sampai ke hatinya). Doakan anak saat nakal dan nurut, karena dalam proses kedewasaannya akan banyak perubahan & pergolakan. Doakan juga agar bisa berkumpul dengannya dalam kebaikan di dunia&akhirat. (Masih ingat kan doa Ta'liful Qulub nya?)

2). SAYANG TANPA MINTA IMBALAN
Cintai anak-anak seperti matahari menyinari bumi. Utuh dan always tanpa henti, bahkan saat anak-anak belum mampu berikan kebanggaan & kebahagiaan untuk kita. Cintai dan beri dukungan yang adil untuk si kakak yang pintar di sekolah dan si adik yang kurang, untuk si sulung yang jago olahraga dan si bungsu yang manja.

3). TUNJUKKAN EKSPRESI CINTA
Biasakanlah untuk memeluk-mencium-memuji kebaikan. Karena saat anak tahu dan merasa dicintai dengan cara yg tepat dia akan percaya diri untuk tampilkan semua potensinya.

4). BERIKAN SEGALA YANG HALAL
Kehalalan semua hal yang kita berikan pada anak-anak menjamin keberkahan dan masa depan ananda tercinta. Sebaliknya, memberi sesuatu yang haram/syubhat akan memberatkan masa depan anak-anak kita.

5). HARAPAN BUKANLAH UNTUK MEMBEBANI
Kalau kita ingin anak kita seperti yang kita harapkan, janganlah membuatnya seperti terbebani. Daripada kita bilang "Kalau tidak mau belajar nanti ga naik kelas" lebih baik katakan "Kalau Abang rajin belajarnya, Bunda doakan nanti jadi astronot yang bisa jalan-jalan ke bulan"

6). BERI LABEL YANG MEMBANGUN
Kalau tidak benar-benar perlu usahakan tidak memberi label karena umumnya kita melabelkan secara spontan seperti "Anak mama jagoan nih" atau "Kakak Juara Segalanya" Tanpa kita sadari dampaknya di masa depan yang mungkin memicu sisi anarkis anak. Usahakanlah memberi label yang proporsional dan membangun seperti "Anak Sholeh Bunda"  "Abang pinter yang jujur" dll

7). PRINSIP 4:1
Sebagai manusia biasa tentu adakalanya kita khilaf-lelah dan membuat prnyataan negatif ttg anak. Tapi imbangilah dengan membuat minimal 4 pernyataan positif untuk me-replace memori buruknya tentang statemen negatif kita. Hal ini bisa meminimalisir kerusakan pada korteks frontalnya. 

Sedikit sharing ini mudah-mudahn bermanfaat dan memudahkan kita mengaplikasikan CINTA TANPA SYARAT

Tanya Jawab
UMMI 15

1. Tanya: 
Ustadzah pipit, boleh minta dicontohkan point no. 7, prinsip 4:1 gimana aplikasi nya?
Jawab:
Misalnya pagi ini kita BT karena ananda susah disuruh mandi dan reflek kita bilang, Bunda: "Dedek kok nakal sih mandinya susah?!"
Bunda: "Anak Bunda yang sehat, kalo mandi bersih pasti cakep deh"
Bunda: "Anak yang cakep kan banyak temennya"
Bunda: "Mandi kan seru lho bisa bikin busa"
Bunda: "Oke anak sehat-sholeh-cerdas-ceria, mandi yuuuk sama Bunda"

Sebetulnya itu cuma terobosan cara dalam membangun mental anak. Idenya diambil dari buku "The True Power Of Water" Prof.Masaru Emoto bahwa air yang mendapat perlakuan positif (doa-kata cinta-senyuman) akan tampil optimal membentuk kristal hexagonal yang berkemampuan membantu proses penyembuhan. Kreatifitas kata-kata positif bisa disesuaikan dengan tahap perkembangan dan usia anak ya.

2. Tanya: 
Assalamualaikum ustadzah Pipit, Ustadzah gimana ya meminimalisir kata kata negatif dari orang sekitar  (kalo saya dan suami in sha alloh sudah).
Jawab:
Wa'alaikumussalam. Bunda Santi, usia 3-7thn adalah masanya anak menjadi the great immitator (peniru yang hebat). Kita harus sangat selektif memilihkan lingkungan yang baik utknya. Maka pintar-pintarlah kita memenej lingkungan sekitarnya. Usahakan dia tumbuh bersama anak-anak sebaya yang berperilaku baik dan di bawah pengawasan mutlak orangtua. Menurut saya belum saatnya di usia ini mereka dibiarkan beradaptasi dengan lingkungan tanpa pengawasan orangtua, maka pilihannya kalau tidak bisa menemukan lingkungan yang kondusif dengan tumbuh kembangnya, lebih baik menjaganya di rumah dengan memodifikasi suasana rumah jadi sarana bermain sekaligus edukasi yang menyenangkan buatnya...

3. Tanya: 
Saya mau tanya mirip sama pertanyaan Mbak Santi mungkin, tapi lebih ke lisan anak yang bersangkutan. Gimana menanamkan anak agar selalu menjaga lisannya. Kadang banyak pengaruh dari luar keluarga sehingga mereka kadang bicaranya kurang baik?
Jawab:
Menurut saya sedari kecil anak perlu penanaman norma kesopanan, karena norma agama baru akan tercerna dengan baik setelah ia bisa memahami hal yang baik dan buruk (usia 7thn an). Tapi norma kesopanan seperti makan dengan tangan kanan, duduk itu di kursi bukan di meja, minta dan memberi dengan tangan kanan, bersuci dengan tangan kiri adalah mutlak dibiasakan bahkan sejak usia memasuki 2 thn. Termasuk di dalamnya adalah pemilihan kata-kata. Biasakanlah untuk langsung menegur saat dia bicara yang tidak sopan, agar lama-lama terbiasa dari alam bawah sadarnya (tentu dengan cara yang sopan juga). Karena jika kita biarkan sampai usia 4-5thn an sisi ego dan bantahannya akan mulai bereaksi dan menyulitkan kita dalam menasehatinya.

4. Tanya
Ustadzah Pipit sampai usia berapakah tanggung jawab pendidikan anak? pendidikan remaja bolehkan Ustadzah? anak saya sudah remaja 2 orang laki-laki, dari kecil berusaha memberi pengetahuan islam kepada mereka malahan sekolah dipesantren juga, tapi pengaruh lingkungan sangat besar terasa, jadwal pulang dari pesantren seharian main internet saja entah main game atau browsing, jika dinasehati berdalih cuma bisa main kalau di rumah saja, mungkin ini kesalahan kami juga sebagai orang tua. Ustadzah bagaimana cara kami menasehatinya, karena kalau saya bicara dia mengalihkan pembicaraan? Jazakillah Ustadzah
Jawab:
Bu Rahmi, berarti anak-anak sudah MTS ya sekarang? Kalau dilihat kalimat-kalimat pembelaan sang anak bahwa hanya bisa bermain saat di rumah, apakah mungkin saat usia bermain (3-10 thn) kita kurang memberikan hak mereka karena sudah masuk pesantren? Walaupun anak-anak di atas usia itu juga butuh momen bersantai/bersosialisasi dll. Jika memang iya, sampaikn permintaan maaf padanya, kini ajak dia untuk pikirkan masa depannya. Bermain di usia pendidikan adalah aktivitas untuk rehat sejenak dari tuntutan pembelajaran, jadi bermain yang benar itu tidak sampai ganggu aktivitas & hasil belajar. Pilihan jenis permainan juga harus diperhatikan. Daripada bermain game online seharian saat libur, lebih baik Bunda ajak mereka hang out 'Tour D City' ke Kota Tua, museum, atau safari masjid besar. Biasanya anak-anak juga suka aktivitas backpacker atau fotografi. Jika budget terbatas disiasati sebulan sekali dengan variasi:
* Pekan 1: tour d city
* Pekan 2: family day (masak-beres-beres rumah sama-sama dll)
* Pekan 3: kunjungan keluarga ke sanak familly
* Pekan 4: hari bebas anak (silakan main game tapi ingat waktu sholat/makan/istirahat)
Yang harus sama-sama disadari adalah bagaimanapun bonding/ikatan keluarga yang erat akan memberi dukungan terbaik untuk anak-anak

Untuk seorang muslim Pendidikan itu sifatnya Madal Hayah (sepanjang hidup) namun untuk Tarbiyatul Aulad menurut saya tetap harus dilakukan hingga anak-anak memiliki kemampuan untuk jadi individu mandiri (bekerja).

5. Tanya:
Saya mau menanyakan tentang anak-anak yang aktif (sekarang kalo saya perhatikan kebanyakan anak-anak usia 3-5 thn cenderung aktif) nah biasanya mereka ini sulit untuk diberitahu secara pelan-pelan biasanya mereka tidak mau mendengarkan dan kalau diberitahunya melalui teguran agak keras baru mau didengarkan,mohon petunjuknya agar tidak salah dalam mendidik anak? jazakillah
Jawab:
Bunda Sri, faktor stimulus yang masuk ke otak mempengaruhi respon sensorik otaknya bahkan sampai mempengaruhi motoriknya. Lihatlah anak-anak balita jaman sekarang lebih banyak disuguhi tontonan TV, video atau gadget tablet for kids. Jenis stimulus sperti itu tidak memancing respon positif (berpikir cepat, merasakan empati dan bertindak) tapi cenderung respon pasif (cenderung malas/cenderung hiperaktif) Maka kalo boleh saya sarankan alangkah baiknya anak-anak diarahkan untuk beraktifitas fisik ceria (bermain) dari pada nonton TV atau kenal gadget.
Faktor berikutnya adalah asupan gizi. Saat anak-anak kita lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat simpleks, gula sukrosa dan zat aditif (pengawet, penguat rasa/warna dll) menurunkan kemampuan kreatif (yang didapat dari protein hewani air) dan daya tahan tubuh (yang didapat dari sayur-buah). Alangkah malangnya jika kita meninggalkan generasi yang lemah dibelakang kita karena pergeseran pola asuh. Wallahu alam bishowab

6. Tanya: 
Maaf ustadzah saya terusin pertanyaan nya masalah kita bicara keras dengan anak gimana abis klo ngomong sekali ga denger harus keras baru dia denger...gimana Ustazah?
Jawab:
Mungkin terapi fisiologis pribadi. Coba saat bicara posisi mata kita sejajar matanya agar stimulus kata-kata kita lebih cepat tertangkap olehnya. Bicara lambat, tegas, jangan lupa dengan senyum karena sensor di limbik seseorang hanya akan terbuka saat ada rangsangan afeksi dan emosi. Mudah-mudahan tidak ada potensi Autis, hanya sedikit hiper. Coba kurangi konsumsi tepung dan gula karena dia mengikat koagulen dalam darah sehingga perlu pelampiasan aktivitas fisik (aktif terus). Ganti dengan manisnya buah.

UMMI 16
1. Tanya
Ust mau tanya,s aya punya anak umur 3th 9bln, bagaimana menyiasati anak-anak yang tidak bisa terkontrol tingkah lakunya saat dirumah neneknya, karena sangat dimanja sekali mohon maaf saya sudah ngomong baik-baik dengan neneknya tapi malah tersindir. trimakasih usdz ...
Jawab
Wah, berarti seumur dengan Abang Faiz ya? Sama, abang juga dititip ke neneknya kalau Ayah Bunda kerja. Dan memang jadi dilema karena biasanya kasih sayang kakek-nenek itu dimensinya hanya CINTA bukan tanggungjawab PENDIDIKAN seperti orangtua. Kalau sudah mencoba bicara dan malah tersindir ya kita coba perbaiki cara bicara kita, kan ini untuk kebaikan anak ke depannya. Atau buatlah pembiasaan-pembiansa yang baik saat anak-anak bersama kita di rumah (meskipun sebentar). Misalnya: biasakan jalan tenang, tidak lari-lari di dalam rumah. Rapikan mainan sendiri. Minta apapun dengan cara merajuk sopan "Bundaku chayyang, kakak minta susy dong..." Karena kalo nangis malah tidak akan diberi. Mudah-mudahan pelan-pelan pembiasaan positif ini terbawa juga ke rumah kakek/nenek. Jangan lupa beritahu kakek nenek kalo sekarang si kakak sudah pinter lho bisa ini/itu, tolong kakek nenek bantu ya biar tambah pinter 

2. Tanya
Ustadz kalau mendoakan saat anak nakal dan nurut? untuk doa ta'liful qulub nya belum tahu ustadz?
Jawab
Iya Mba Nury, kadang orangtua lupa mendoakan anaknya yang sudah baik-baik dan cenderung lebih sering doakan anaknya yang belum baik. Padahal doa Ibu itu ibarat payung pelindung yang bermanfaat baik saat hujan/panas.

Do'a Ta'liful quluub atau pengikat hati
Bismillahirrahmaanirrahiim. Allahumma innaka ta'lamu anna haadzihil quluub. Qadijtama'at 'ala mahabbatik waltaqath 'ala tha'atik. Watawahhadat 'ala dakwatik. Wata'ahadat 'ala nusyrati syariiatik. Fawatsiqillahumma raabithataha, wa adhim wuddaha, wahdiha subuulaha, wamla'ha binuurikalladzi laa yahbu. Wasyrah suduuroha bifaydhil iimaanibik. Wajamilittawakkuli 'alaik, wa ahyiha bima'rifatik. Wa amitha 'ala syahaadati fii sabiilik. Innaka ni'mal maula wa ni'mannashiir. Allahumma aamin.  
"Duhai Rabb-ku... Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu berhimpun dalam naungan cintaMu bertemu dalam ketaatan bersatu dalam perjuangan menegakkan syariat dalam kehidupan. Kuatkanlah ikatannya kekalkanlah cintanya tunjukilah jalan-jalannya terangilah dengan cahayamu yang tiada pernah padam. Ya Rabbi bimbinglah kami. Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu hidupkan dengan ma’rifatMu matikan dalam syahid di jalan Mu Engkaulah pelindung dan pembela"
3. Tanya
Syukron Ustadzah Pipit betul-betul indah & mengharukan kajian hari ini. Saya mau bertanya Ustadzah...saya belum mengerti kalimat pada bahasan akhir yaitu "kerusakan pada korteks frontalnya"...kerusakan seperti apakah itu? mohon penjelasannya Ustadzah...terima kasih sblmnya 
Jawab
Bunda Dian yang Smart, berhubung kuliah saya dulu ekonomi dan ilmu parenting saya dalami sebagai minat saja, ijinkan saya menjelaskan semampu saya. Menurut sumber yang saya baca, Korteks adalah lapisan terbesar dari otak manusia, korteks frontal biasanya merekam pengalaman terkait dengan penalaran, perencanaan, bagian bicara, gerakan, emosi, dan pemecahan masalah. Itulah sebabnya jika kita memberikan stimulus/rangsangan yg salah pada anak dengan pengabaian/perasaan tdk disayang, maka korteks frontal akan 'cacat' bukan secara fisik tapi secara fungsi maknawiyah sehingga gagal merespon dan mengolah cara menalar-merencanakan-memecahkan masalah dan mngendalikan emosi.

4. Tanya
Ustadz Pipit saya mau tanya. Saat ini saya belum memiliki anak, tetapi saya sangat dekat dengan keponakan-keponakan saya. Terkadang untuk menyemangati mereka saya seringkali memberikan janji akan membelikan maenan atau mengajak jalan-jalan. Apakah yang saya lakukan bisa berdampak buruk pada sikap keponakan saya? Mohon sarannya
Jawab:
Mba Lestari yang Penyayang ga apa kok, sesekali kita boleh melakukan mekanisme reward and punishment dalam pendidikan anak. Rewards nya yang menyenangkan tapi tetap sesuai target mendidik, punishmentnya yang memotivasi untuk perbaikan. Cuma saran saya agar tidak terlalu sering menjanjikan karena saat kita lupa/gagal tepati janji, kita telah memberi contoh nyata pada anak untuk ingkar janji juga...

Baiklah Bunda-bunda shalihat udah pada capek kan? Kita sudahi sampai sini dulu ya kajiannya. Berarti sudah sampai disini dulu ya kajian kita. In sya ALLAAH lain waktu disambung lagi. Semoga majelis ini dirahmati..

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)
Wassalamualaikum wr wb

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post