Home » , » EFISIENSI WAKTU - MANAJEMEN WAKTU DALAM ISLAM

EFISIENSI WAKTU - MANAJEMEN WAKTU DALAM ISLAM

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, October 21, 2014

Kajian Online HA 15 Ummi

Senin, 21 Oktober 2014
Materi         : Efisiensi Waktu
Narasumber: Ustadz Tri Satya Hadi
Editor          : Ira Wahyudiyanti, SE

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

EFESIENSI WAKTU-KONSEP ISLAM
“Ada dua nikmat, dimana banyak manusia tertipu didalamnya: Kesehatan dan Kesempatan.”(HR.Bukhari)

Umar bin Khaththab - semoga Allah ridha kepadanya - berkata, "Sesungguhnya aku benci jika melihat salah seorang di antara kalian berpangku tangan, tanpa amal, baik amal dunia maupun akhirat."
Setidaknya ada tujuh aktivitas dalam buku Efesiensi Waktu yang ditulis oleh Jasiem M. Badr Al-Muthawi.
Ketujuh aktivitas ini adalah kegiatan yang dapat mengisi ruang-ruang kosong yang muncul dalam diri setiap hamba: Kekosongan akal (QS. Al-Anfal:22), Kekosongan Hati (QS. An-nur:50), Kekosongan Jiwa (QS. Asy-Syam:9-10).

Pertama: Pergerakan Terarah
Inilah cara awal untuk memanfaatkan (menguasai) waktu, dimana seseorang menggunakan waktunya untuk pergerakan (Harakah). Harakah adalah suatu gerakan tertentu dan memiliki keistimewaan tersendiri daripada yang lainnya. Lebih dari itu, harakah adalah gerak terarah atas dasar ikhlas di jalan Allah swt., dan berjalan sesuai manhaj-Nya. Karenanya, manusia akan rnemperoleh keuntungan sesuai yang ia harapan. Seorang hamba yang ingin mengefesienkan waktu seharusnya bisa memposisikan sebagai “AIR” yang ketika ia mengalir bergerak ia akan menjadi kekuatan yang bermanfaat, sebaliknya ketia ia diam tergenang akan menjadi sumber “penyakit”. Inilah lahan subur bagi siapa pun yang hendak menguasai waktunya, dimana ia selalu berjalan (haroki) dengan senantiasa berbekal kalimatullah ke mana pun ia pergi, baik di rumah, seko­lah, tempat ia mengajar, di tempat kerjanya (kantor) atau di tem pat-tempat lainnya. Apabila seseorang telah mencapai tingkatan ini, maka jiwanya tidak lagi kosong (hampa).

Kedua: Bergaul dengan Masyarakat
Manusia secara instinktif adalah makhluk sosial, dimana ia tidak akan dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Karenanya, ia membutuhkan, saudara, teman, tetangga, serta masyarakat untuk berinteraksi dan bergaul, baik pergaulan bersifat batin ataupun lahiriah sesuai yang dibutuhkan. Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan, "Pergaulilah orang mukmin dengan hatimu dan pergaulilah orang yang rusak (fasik:) dengan perangaimu." (Imam al-Qurthubi, Bahjatul Majlis.
Thalhah al­ Qurasyi berkata, "Sesungguhnya aib terkecil yang menimpa seseorang ialah apabila ia hanya duduk saja di rumah." (Thabaqat, Ibnu Sa'ad)

Ketiga: Suka Membantu Orang Lain
"Manakala nilai hidup hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi kita bahwa kehidupan ini kecil dan singkat. Yang dimulai sejak kita memahami arti hidup dan berakhir hingga batas umur kita. Tetapi apabila kita hidup juga untuk orang lain, maka jadilah hidup ini bermakna panjang dan dalam.
"Sesungguhnya, jika sekiranya salah seorang di antara kalian berjalan bersama saudaranya untuk membantu menunaikan keperluannya lalu (sekadar) ia memberi petunjuk dengan dua jarinya, itu lebih utama daripada ia beri'tikaf di masjidku ini (Masjid Nabawi) dua bulan lamanya." (H.r. ath­ Thabrani dan al-Hakim, Al-Hakim berkata bahwa sanadnya shahih).
"Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi orang mukmin, maka Allah pasti melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat." (H.r. Muslim).

Keempat: Lima Perkara yang Disukai Para Sahabat
Ada lima perkara yang senantiasa diperhatikan para sahabat N abi saw. Perhatian mereka terhadap lima perkara tersebut meru­ pakan bukti bagaimana mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan menjaga setiap detik dari umur mereka agar tidak sia-sia, Lima perkara tersebut - sebagaimana dinukil oleh Imam Au­ za'i - (Imam al-Qurthubi, Bahjatul Majalis, Jilid III, hlm. 140) ialah:
(1) Senantiasa bersama jamaah;
"Barangsiapa menginginkan keleluasaan surga, maka senantiasalah bersama kelompok (jamaah), karena setan itu bersama (menyertai) orang yang sendirian, dan ia akan menjauhi mereka yang lebih dari seorang. " (H.r. at-Tirmidzi
(2) Mengikuti Sunnah Nabi saw;
Abu Bakar r.a. berkata, "Aku tidak pernah meninggal­ kan sesuatu yang pernah diamalkan oleh Rasulullah saw. Sebab aku khawatir jika meninggalkan perintah beliau, maka aku akan menyeleweng (dari kebenaran)."
(3) Memakmurkan masjid;
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah, maka merekalan orang yg diharapkan termasuk golongan orang yg mendapat petunjuk (QS.At-taubah:18)
(4) Tilawatil Qur'an;
Sebaik-baik kesibukan adalah menyibukkan diri dengan al­ Qur'an, baik dengan membacanya, menghafal atau menafsirkannya. Khalifah Utsman bin Affan r.a. berkata, "Tiada perbuatan yang paling kusukai, baik di waktu siang atau malam, selain berpi­ kir tentang Allah, yakni dengan mengkaji al-Qur'an." (Ibnu Hanbal, az-Zuhud)
(5) Jihad fisabilillah.
Jihad di jalan Allah adalah titik puncak agama Islam. Konon para sahabat dan salafus saleh berjihad dijalan Allah, dan untuk itu mereka tidak takut akan cacian siapa pun.Apabila sebagian dari kita tidak berkesempatan berjihad melalui pintu perjuangan (berperang) di jalan Allah, namun pintu-pintu jihad yang lain bagi kita tetap terbuka lebar. Seperti pintu dakwah, jihad dengan pemikiran dan harakah di jalan Allah swt.

Kelima: Membaca
Membaca adalah salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan waktu. Di sini Allah memerintahkan kepada hamba- Nya agar terlebih dahulu menuntut ilmu, kemudian beramal dengan ilmu yang ia dapatkan. Karenanya, ia akan melakukan pergerakan atau dakwah atas dasar pengetahuan yang benar (bashirah) dan di atas jalan yang jelas, sehingga tidak bimbang dan tersesat di dalam suramnya kebodohan. Karena itu dikatakan, "Ilmu tanpa amal, laksana pohon tak berbuah." (Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa,Jilid)
“Maka ketahuilah (berilmulah), bahwa tiada Tuhan yang hak disembah, melainkan Allah dan mohonlah. ampunan bagi dosamu” (Q.s. Muhammad: 19).
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di aniara hamba­hamba-Nya, hanyalah orang-orang berilmu.”(Q.s. Fathir: 28).

Keenam: Berdiskusi dan Bertamasya (Rihlah)
Bertamasya adalah salah satu sarana penghibur hati, yang biasa dilakukan pada hari libur di akhir pekan. Amat baik bagi seorang hamba ataupun aktivis jika bertamasya apakah bersama keluarga atau Saudara, tetangga, teman pengajian, untuk memanfaatkan waktu luangnya tersebut dengan kegiatan-kegiatan tertentu dan terarah. Agar tidak mem bosankan, acara tamasya ini hendaknya tidak hanya mengambil satu pola tertentu, tetapi harus ada penyegaran dan mencari ben­ tuk lain yang sekiranya mengesankan.
Adapun ten tang diskusi atau seminar, maka kita katakan pula sebagai salah satu forum atau lahan untuk memanfaatkan waktu secara efektif. Disamping itu berdiskusi dapat menjadikannya sebagai ahli berargumen. Sehingga bagi seorang aktivis, berdiskusi harus dijadikan rujukan dalam metode berpikir secara aktif, yang selanjutnya ia dapat membedakan antara yang baik dan buruk dari ideologi-ideologi luar yang merusak. Dan hal inilah yang pernah dilakukan oleh salafus saleh - semoga Allah merahmatl mereka _ guna mengisi waktu-waktu mereka, sebagaimana di antara mereka mengatakan, "Bertukar pikiran satu jam lebih balk daripada mengulang sebulan." (Al-Kannani, Tadzkiratus Sami' walMutakllim)

Ketujuh: Berolah Raga
Berolah raga adalah salah satu cara mengisi waktu secara efektif. Di satu pihak olah raga dimaksudkan untuk mengembangkan potensi seorang muslim dan di lain pihak untuk menggerakkan tubuh agar membuatnya aktif dan dinamis. Tetapi dengan catatan, bahwa olah raga yang ditekuni tidak sampai meninggalkan kewajiban yang menyia-nyiakan hak yang seharusnya dipenuhi. Dan jangan menjadikan olah raga sebagai tujuan. Minimal, dengan berolah raga dapat: "Melancarkan peredaran darah, menambah keaktifan paru-paru dan menguatkan jantung."
Sesungguhnya Imam Bukhari - semoga Allah merahmatinya juga berolah raga. Beliau spesialis dalam olah raga panahan dan selalu menern­ pati urutan teratas. Sehingga Imam Muhammad bin Abi Hatim berkomentar, "Selama aku bersahabat dengan Imam Bukhari, tidak pernah kulihat bidikannya meleset sedikit pun dari sasaran, kecuali dua kali. Imam Bukhari dalam olah raga panahan belum pemah terkalahkan." (As-Subki, Thabaqat asy-Syaifi'iyah) sesungguhnya tubuh mempunyai hak atas kamu."(H.r. Muttafaq 'Alaih).
Wallahu ‘alam.

Sesi Tanya Jawab

1. Ustadz, Maaf saya kurang Jelas dengan 'pergaulilah orang yang rusak (fasik) dengan perangaimu'. Boleh di jelaskan lebih lanjut?

jawab:
perangaimu=akhlakulkarimah/akhlak yg baik dg harapan yg rusak lambat laun menjadi dekat dan akhirnya akan terwarnai.

2. Assalamu'alaikum.. Afwan Ustadz.. Saya mau tanya klo cth Jihad Fisabilillah jaman skrng ini bgmn yaa Ustadz? Syukron..

jawab:
klo yg dimaksud jihad berperang fisik cth jihad di palestine atau jihad membela dari yg nyata2 penindasan kaum kufar

3. ustad mau tanya, blm lama ini ada penggalangan dana dikantor suami untuk anak2 yatim piatu. setelah dicari tau ternyata yg mengelola itu dari yayasan gereja. ini bagaimana ya ustad? tetap ikut/ga usah? kalau diniatkan tetap untuk membantu sesama dengan mengharap ridho Allah, bgmn? bolehkah?

jawab:
boleh2 saja sepanjang kita yakin benar utk anak yatim kristen. yg dilarang klo ternyata utk kristenisasi atau dananya utk memerangi umat islam.

4. Assalamualaikum ustadz
Seringkali kalau kita berteman dengan orang yang fasik,malah kita yang terwarnai,bagaimana cara agar kita tidak terwarnai mereka?

jawab:
ibaratkan kita akan menyebrangi sungai yg deras. Agar tidak hanyut kita harus mmpersiapkan diri mis kedalaman sungai..adakh tempat berpijak...tali tambang dsn. begitu pula ketika kita bergaul dg org fasik..tentunya keimanan hrs kuat punya ilmu yg cukup sdh tentu kita harus lebih byk berteman dg org sholih sbg pengingat kita jika kita mulai terwarnai.

Pertanyaan:

1.Bunda Nury
ust ada trik utk dilakukan saat kita lagi futur ?

2.Bunda Lestari
Semua manusia memiliki jumlah waktu yang sama dalam satu hari yaitu 24 Jam. Kenapa ya Pak Ust, masih saja kita merasa kurang dengan waktu yang ada? Kita merasa jam ke jam hari ke hari berjalan begitu cepat yang seringkali tidak Kita sadari. Mohon sarannya Pak Ust, bagaimana pembagian waktu yang ideal sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW?

Jawab:
1. ust ada trik utk dilakukan saat kita lagi futur ?
jawab:
afwan...ukhtifillah ada materi yg gamblang membahas ini bisa buka di
http://www.dakwatuna.com/2009/04/29/2378/agar-futur-tidak-menghantui/#axzz3Gg4olcCk

2. Pertanyaan:

1.Bunda Nury
ust ada trik utk dilakukan saat kita lagi futur ?

2.Bunda Lestari
Semua manusia memiliki jumlah waktu yang sama dalam satu hari yaitu 24 Jam. Kenapa ya Pak Ust, masih saja kita merasa kurang dengan waktu yang ada? Kita merasa jam ke jam hari ke hari berjalan begitu cepat yang seringkali tidak Kita sadari. Mohon sarannya Pak Ust, bagaimana pembagian waktu yang ideal sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW?
jawab:
betul ukhtifillah pentingnya waktu akan terasa ketika kesempatan waktu luang tdk ada atau sdh berlalu krn kesibukan atau kelalain kita..dan sunatullahnya syaithon juga bermain di ranah ini.
sehingga petingnya kita selalu mengawali aktivitas kita dg basmallah. Jujur saya sendiri malu krn byk mensiasiakan waktu.  Rasulullah subhanallah manusia yg sempurna dan paripurna dlm hal waktu. Inshaa Allah kpn ada waktu kita akan bahas dimateri trsendiri ttg kiat manajemen waktu ala Rasul. Tapi intinya rasulullah itu sedikit makan dan sedikit tidur tp efektif. bedanya sama kita sedikit juga.....sedikit sedikit makan, sedikit sedikit tidur.


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!