Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HADIST TENTANG TETANGGA

Kajian Online Telegram Hamba  اللَّهِ  SWT

Hari / Tanggal : Jum'at, 17 Oktober 2014
Narasumber : Ustad Kholid Syamhudi Lc 
Notulen : Nurza
Editor : Ana Trienta

Saya percepat nih materinya dimulai sekarang sambil nunggu jadwal keberangkatan pesawat.

Agama Islam agama fitrah yang memperhatikan hak-hak yang berhubungan dengan asasi seseorang atau masyarakat. Agama yang mengatur hubungan hamba dengan Rabbnya dan hubungan antar hamba dengan keserasian dan keselarasan yang sempurna. Diantara hubungan antar hamba yang diatur dan diperhatikan Islam adalah hubungan bertetangga, karena hubungan bertetangga termasuk hubungan kemasyarakatan yang penting yang dapat menghasilkan rasa saling cinta, kasih sayang dan persaudaraan antar mereka. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sangat memperhatikan hal tersebut sebagaimana dalam hadits dibawah ini. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :
“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku dengan tetangga sehingga aku menyangka tetangga tersebut akan mewarisinya.”
Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan dari dua sahabat yaitu Aisyah dan Ibnu Umar. Adapun jalan periwayatan Aisyah radhiallahu ‘anha dikeluarkan oleh:
  • Al Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al Adab, Bab Al Washiyah Bil Jaar No. 6014.
  • Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Adab, Bab Al Washiyah Bil Jaar Wal Ihsan Ilaihi, No. 6628, lihat Syarah Nawawi 16/392.
  • Abu Daud dalam Sunannya, kitab Al Adab, Bab Fi Haqil Jiwaar, No. 5151
  • Attirmidziy dalam Jami’nya, kitab Al Bir Wash Shilah, Bab Ma Ja’a Fi Haqil Jiwaar No. 1942
  • Ibnu Majah dalam Sunannya, kitab Al Adab, Bab Haqul Jiwaar No. 3673.
Sedangkan jalan periwayatan Ibnu Umar dikeluarkan oleh:
  • Al Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al Adab, Bab Al Washiyah Bil Jaar No. 6015.
  • Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Adab, Bab Al Washiyah Bil Jaar Wal Ihsan Ilaihi, No. 6630, lihat Syarah Nawawi 16/392.
Faedah Hadits
Hadits yang agung ini menunjukkan urgensi dan kedudukan tetangga dalam Islam. Tetangga memiliki kedudukan yang penting dan hak-hak yang harus diperhatikan setiap muslim. Sehingga dengan demikian konsep Islam sebagai rahmat untuk alam semesta dapat direalisasikan dan dirasakan oleh setiap manusia.

a. Definisi, Batasan dan Hakikat Tetangga
Kata Al Jaar (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu. Ibnu Mandzur berkata: “ al jaar bermakna orang yang bersebelahan denganmu. Sedang secara istilah syar’i bermakna orang yang bersebelahan secara syar’i baik dia seorang muslim atau kafir, baik atau jahat, teman atau musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan.

Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya, bertambah dan berkurang sesuai dengan kedekatan dan kejauhannya, kekerabatan, agama dan ketakwaannya serta yang sejenisnya. Sehingga diberikan hak tetangga tersebut sesuai dengan keadaan dan hak mereka. Adapun batasannya masih diperselisihkan para ulama, diantara pendapat mereka adalah:
  • Batasan tetangga yang mu’tabar adalah empat puluh rumah dari semua arah. Hal ini disampaikan oleh Aisyah Radhiallahu ‘anha, Az Zuhri dan Al Auzaa’i.
  • Sepuluh rumah dari semua arah. Orang yang mendengar adzan adalah tetangga. Hal ini disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Tholib Radhiallahu ‘anhu. Tetangga adalah yang  menempel dan bersebelahan saja. Batasannya adalah mereka yang disatukan oleh satu masjid.
  • Yang rajih insya Allah, batasannya kembali kepada adat yang berlaku. Apa yang menurut adat tetangga adalah tetangga. Wallahu A’lam.
Dengan demikian jelaslah tetangga rumah adalah bentuk yang paling jelas dari hakikat tetangga, akan tetapi pengertian tetangga tidak hanya terbatas pada hal itu saja bahkan lebih luas lagi. Karena dianggap tetangga juga tetangga di pertokoan, pasar, lahan pertanian, tempat belajar dan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ketetanggaan. Demikian juga teman perjalanan karena mereka saling bertetanggaan baik tempat atau badan dan setiap mereka memiliki kewajiban menunaikan hak tetangganya.

Wasiat Islam terhadap Tetangga
Islam telah berwasiat untuk memuliakan tetangga dan menjaga hak-haknya, bahkan Allah menyambung hak tetangga dengan ibadah dan tauhidNya serta berbuat bakti kepada kedua orang tua, anak yatim dan kerabat, sebagaimana firmanNya:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (Annisaa’:36)

Imam Al Qurthubiy menyampaikan tafsir ayat ini dalam pernyataan beliau: 
“Sungguh Allah telah memerintahkan kita menjaga tetangga dan menunaikan haknya. Mewasiatkan untuk menjaganya dalam Al Quran dan melalui lisan Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم. bukankah kamu lihat Allah menegaskannya setelah hak kedua orang tua dan kerabat dalam firmanNya: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى yaitu kerabat, dan وَالْجَارِ الْجُنُبِ yaitu orang asing (bukan kerabat). Ini adalah pendapat Ibnu Abbas”
Hal ini menunjukkan wasiat dengan tetangga tersebut meliputi penjagaan, berbuat baik kepadanya, tidak berbuat jahat dan mengganggunya, selalu bertanya tentang keadaannya dan memberikan kemakrufan kepadanya. Ini semua adalah bentuk perhatian dan motivasi syariat dalam menjaga dan menunaikan hak-hak mereka. Bahkan Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم menetapkan pelanggaran kehormatan tetangga sebagai salah satu dosa terbesar dalam sabdanya ketika ditanya:

أَيُّ الذَّنْبِ عِنْدَ اللَّهِ أَكْبَرُ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ

Dosa apa yang terbesar disisi Allah, Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم menjawab: ”Menjadikan sekutu tandingan Allah, padahal Allah yang menciptakanmu”. Saya (Ibnu Mas’ud) bertanya: “Kemudian apa?” beliau menjawab: “kemudian membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersamamu” lalu saya bertanya lagi: “kemudian apa?” beliau menjawab: “Berzina dengan istri tetanggamu”.

Tidak cukup hanya disitu, Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم pun memerintahkan Abu Dzar untuk memperbanyak kuah masakannya agar dapat dibagi dan dirasakan tetangga, seperti dalam hadits :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَانِي إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ

Dari Abu Dzar beliau berkata: “kekasihku telah berwasiat kepadaku, jika kamu memasak kuah daging maka perbanyak kuahnya kemudian lihat keluarga teatnggamu dan berikanlah sebagian kepada mereka dengan baik”.

Demikian besarnya hak dan kedudukan tetangga dalam islam. Selainnya dari peraturan akhlak dan undang-undang manusia tidak mengenal hal tersebut. Bahkan undang-undang dan peraturan manusia sangat meremehkan kesucian dan harakat tetangga. Sedangkan Islam telah memupuk akhlak kemanusian ini kepada kita, ketika membeberkan sekian banyak nash-nash yang suci dalam penjagaan hak-hak tetangga. Demikian juga para ulama umat ini tidak pernah melupakan prihal tersebut, sehingga AlHasan bin Isa An Naisabuuriy bertanya kepada Abdullah bin Mubaarak : “Seseorang mendatangiku untuk mengadukan budakku yang melakukaan perbuatan jelek kepadanya, lalu budakku tersebut mengingkari laporan tersebut. Sehinggasaya tidak ingin memukulnya, karena mungkin dia tidak bersalah dan tidak juga membiarkannya, lalu tetanggaku itu membenciku. Maka apa yang harus aku perbuat?.
Beliau menjawab: “Budakmu mungkin melakukan perbuatan yang perlu diberi pelajaran. Maka jagalah dia. Jika tetanggamu mengadukannya kepadamu maka berilah pelajaran kepadanya atas perbuatan tersebut. Dengan demikian kamu telah membuat ridho tetanggamu dan mendidiknya atas perbuatan tersebut”

Demikian besarnya perhatian mereka terhadap tetangga ini, tentunya kitapun perlu mencontoh mereka dalam hal ini dengan mengenal hak-hak mereka dan mencoba semampunya untuk menerapkan dan menunaikannya.

Hak-hak Tetangga
Telah jelas tetangga memiliki hak yang besar dan kedudukan yang tinggi dalam islam. Hak-hak mereka kalau dirinci akan sangat banyak sekali, akan tetapi semuanya dapat dikembalikan kepada empat hak yaitu:

I. Berbuat baik (ihsan) kepada mereka
Berbuat baik dalam segala sesuatu adalah karektaristik islam, demikian juga pada tetangga. Imam Al marwaziy meriwayatkan dari Al Hasan Al Bashriy pernyataan beliau: “tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya”. Sehingga Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda:

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

Sebaik-baiknya sahabat disisi Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya.

Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم menjelaskan akan keutamaan berbuat baik terhadap tetangga dan tetangga yang baik dalam sabda beliau:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Wahai Abu Hurairoh jadilah engkau orang yang wara’ maka engkau menjadi orang yang paling beribaddah dan jadilah orang yang qanaah (menerima) maka engkau menjadi orang yang paling bersyukur. Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu maka kamu menjadi mukmin, berbuat baiklah kepada tetanggamu maka kamu menjadi muslim dan sedikitkan tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.

Demikian juga sabda beliau:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ والْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الهَنِئُ و أَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ َالْجَارُ السُوءُُ وَالْمَرْأَةُ السُوءُُ والْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُوءُُ

Empat termasuk kebahagian: wanita yang sholihah, Rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang menyenangkan. Dan empat termasuk kesengsaraan: tetangga yang jelek, Wanita yang jelek, Rumah yang sempit dan kendaraan yang menyusahkan.

Diantara ihsan (berbuat baik) kepada tetangga adalah:
a. Memuliakannya
Sikap ini menjadi salah satu tanda kesempurnaan iman seorang muslim sebagaimana dinyatakan Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم dalam hadits yang shohih yang berbunyi:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah mengganggu tetatangganya

Dan dalam lafadz yang lain:
فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Maka hendaklah memuliakan tetangganya

b. Berwasiat menjaga dan berbuat baik kepada tetangga
Hal ini diisyaratkan dalam hadits yang berbunyi:

مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril senantiasa berwasiat kepadaku dengan tetangga sehingga aku menyangka tetangga tersebut akan mewarisinya (Mutafaqun Alaihi).

c. Ta’ziyah ketika mereka mendapat musibah, mengucapkan selamat ketika mendapat kebahagiaan, menjenguknya ketika sakit, memulai salam dan bermuka manis ketika bertemu dengannya dan membantu membimbingnya kepada hal-hal yang bermanfaat dunia akherat serta memberi mereka hadiyah. Aisyah bertanya kepada Nabi صلى ا لله عليه وسلم :

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

Wahai Rasululloh صلى ا لله عليه وسلم saya memiliki dua tetangga lalu kepada siapa dari keduanya aku memberi hadiyah? Beliau menjawab: kepada yang pintunya paling dekat kepadamu

d. Tidak kenyang dalam keadaan tetangga kelaparan
Ini banyak sekali dilalaikan kaum muslimin dewasa ini, sehingga didapatkan seorang membuang makanannya atau berlebih-lebihan, sedang tetangganya kekurangan bahkan hampir kelaparan dan tidak mendapatkan makanan pokok hari tersebut. Sungguh sangat disayangkan ini dapat terjadi dalam masyarakat muslim. Padahal Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم menyatakan dalam hadits Abdullah bin Musaawir, beliau mendengar Ibnu Abbas meminta Ibnu Zubair dan beliau menolaknya. Lalu Ibnu Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Tidak termasuk mukmin orang yang kenyang padahal tetangga sampingnya kelaparan

Syeikh Al Albaniy berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang tegas tentang keharoman seorang kaya membiarkan tetangganya kelaparan. Maka wajib baginya untuk memberikan apa saja yang dapat menolak kelaparan tersebut. Demikian juga wajib memberikan pakaian jika mereka telanjang tidak memiliki pakaian dan yang sejenisnya dari kebutuhan primer”

e. Mencintai mereka.
Ini satu kewajiban jika tetangga itu seorang muslim, sebagaimana dalam sabda beliau:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ أَوْ قَالَ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, tidak beriman seorang hamba sampai mencintai tetangganya, atau mengatakan saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya.

f. Berwasiat kepada kaum wanita untuk tidak meremehkan hadiah kepada tetangga.
Hal ini diperintahkan Rasululloh dalam hadits yang berbunyi:

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Wahai kaum wanita muslimah janganlah seorang tetangga menganggap remeh hadiyah kepada tetangganya walaupun hanya kuku kambing

g. Bershodaqoh kepada tetangga.
Orang kaya tidak boleh menerima shodaqoh, akan tetapi bila dia diberi shodaqoh dari tetangganya maka diperbolehkan untuk menerimanya. Demikianlah itu merupakan salah satu hak tetangga. Sebagaimana sabda Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم:

لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلَّا لِخَمْسَةٍ لِغَازٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا أَوْ لِغَارِمٍ أَوْ لِرَجُلٍ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ أَوْ لِرَجُلٍ كَانَ لَهُ جَارٌ مِسْكِينٌ فَتُصُدِّقَ عَلَى الْمِسْكِينِ فَأَهْدَاهَا الْمِسْكِينُ لِلْغَنِيِّ

Tidak halal shodaqoh bagi orang kaya kecuali untuk lima orang: 1. orang yang berperang dijalan Allah, 2. pegawai zakat (amil shodaqoh), 3. orang yang berhutang (ghorim), 4. seseorang yang membeli dirinya dengan hartanya dan 5. seseorang yang memiliki tetangga miskin lalu ia memberika shodaqoh kepadanya, lalu ia (simiskin) menghadiyahkannya kepada orang kaya tersebut.

h. Tolong menolong diantara tetangga.
Hal ini juga dicontohkan dan diajarkan Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ فَقُلْتُ يَا خَالَةُ مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ قَالَتِ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ فَيَسْقِينَا

Dari Aisyah beliau berkata kepada Urwah anak saudara perempuannya: Sesungghunya kami melihat hilal kemudian hilal kemudian hilal, tiga hilal dalam dua bulan. Kami tidak menyalakan api dirumah-rumah Rasululloh, lalu aku bertanya: Wahai bibiku apa yang kalian makan untuk hidup? Beliau menjawab: Aswadain yaitu Kurma dan Air kecuali pemberian tetangga Rasululloh dari kalangan Anshor. Mereka memiliki kambing yang diperas susunya lalu mereka mengirm susunya kepada Rasululloh dan beliau memberi kami minum darinya.

II. Sabar menghadapi gangguan tetangga
Ini adalah hak kedua untuk tetangga yang berhubungan erat dengan yang pertama dan menjadi penyempurnanya. Hal ini dilakukan dengan memaafkan kesalahan dan perbuatan jelek mereka, khususnya kesalahan yang tidak disengaja atau sudah dia sesali kejadiannya. Hasan Al Bashriy berkata: “tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya”.

Sebagian ulama berkata: “Kesempurnaan berbuat baik kepada tetangga ada pada empat hal:
a. Senang dan bahagia dengan apa yang dimilikinya
b. Tidak tamak untuk memiliki apa yang dimilikinya.
c. Mencegah gangguan darinya.
d. Bersabar dari gangguannya .

Oleh sebab itu Rasulullah bersabda dalam hadits Abu Dzar:

ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ رَجُلٌ غَزَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَقِيَ الْعَدُوَّ مُجَاهِدًا مُحْتَسِبًا فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ وَرَجُلٌ لَهُ جَارٌ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ بِمَوْتٍ وَرَجُلٌ يَكُونُ مَعَ قَوْمٍ فَيَسِيرُونَ حَتَّى يَشُقَّ عَلَيْهِمُ الْكَرَى أَوِ النُّعَاسُ فَيَنْزِلُونَ فِي آخِرِ اللَّيْلِ فَيَقُومُ إِلَى وُضُوئِهِ وَصَلَاتِهِ

Tiga orang yang Allah cintai, seorang yang berjumpa musuhnya dalam keadaan berjihad dan mengharap pahala Allah, lalu berperang sampai terbunuh dan seseorang memiliki tetangga yang mengganggunya lalu ia sabar atas gangguan tersebut dan mengharap pahala Allah sampai Allah cukupkan dia dengan meninggal dunia serta seseorang bersama satu kaum lalu berjalan sampai rasa capai atau kantuk menyusahkan mereka, kemudian mereka berhenti diakhir malam, lalu dia bangkit berwudhu dan sholat

III. Tidak mengganggu tetangga
Telah dijelaskan diatas akan kedudukan tetangga yang tinggi dan hak-haknya terjaga dalam islam. Oleh karena itu Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم memperingatkan dengan keras upaya mengganggu tetangga, sebagaimana dalam penjelasan beliau صلى ا لله عليه وسلم yang telah menjadikannya:
1.Bagian dari keimanan dan salah satu penyebab masuk syurga.
Sebagaimana sabda beliau:

لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ قَالُوا وَمَنْ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ جَارٌ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم beliau menjawab: orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.

Dalam riwayat lain:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak masuk syurga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya

Demikian juga dalam hadits yang lain beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah mengganggu tetatangganya.

2. Perkara yang terlarangan walaupun sedikit, sebagaimana sabda beliau:

لاَ قَلِيْلَ مِنْ أَذَى الْجَارِ

Tidak boleh sedikitpun mengganggu tetangga

3.Salah satu penyebab seseorang masuk neraka, sebagaimana sabda beliau:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairoh beliau berkata seseorang telah bertanya kepada Rasululloh: fulanah diceritakan memiliki sholat, puasa dan shodaqoh yang banyak, tetapi dia mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab: dia dineraka. Lalau bertanya lagi: wahai Rasululloh sifulanah diceritakan memiliki puasa dan shodaqoh serta sholat sedikit. Dia bershodaqoh sedikit dari tepung gandum dan tidak mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab dia disyurga.

4.Sebagai perbuatan yang berlipat ganda dosanya, sebagaimana dalam hadits Al Miqdaad:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَا قَالُوا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ قَالَ فَقَالَ مَا تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ قَالُوا حَرَّمَهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهِيَ حَرَامٌ قَالَ لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

Rasulullah  صلى ا لله عليه وسلمberkata kepada para sahabatnya: apa pendapat kalian tentang zina, mereka menjawab Allah dan RasulNya telah mengharomkannya maka dia harom sampai hari kiamat. Berkata Rasululloh kepada para sahabatnya: sungguh seorang menzinahi sepuluh wanita lebih baik dari menzinahi istri tetangga. Lalu beliau bertanya lagi: apa pendapat kalian tentang pencurian? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya telah mengharomkannya maka dia harom. Beliau berkata: sungguh mencuri sepuluh rumah lebih ringan dari mencuri rumah tetangganya.

Berhati-hatilah dari perbuatan mengganggu tetangga yang telah diharomkan dengan demikian tegasnya.

Bagaimana Bergaul Dengan Tetangga
Tetangga kita tidak lepas keadaannya dari keadaaan berikut ini:
1. Muslim, Ahlussunnah dan Taat
Bila tetangga anda seperti ini maka wajib bagi anda menunaikan hak-hak diatas seluruhnya.

2. Muslim, Ahlussunnah dan pelaku dosa besar.
Bila tetangga anda seorang pelaku dosa besar, maka tidak lepas dia lakukan dengan sembunyi-sembunyi dan menutup pintu rumahnya. Maka biarkanlah dan kalau mampu menegur dan menasehatinya empat mata, maka itu sangat baik. Bila dia terang-terangan melakukan kefasikannya seperti pelaku pungli (pungutan liar) atau pemakan riba, maka hijrohilah dengan baik-baik. Demikian juga bila ia seorang peninggal sholat pada kebanyakan waktunya, maka hendaklah lakukan amar makruf nahi mungkar terus-menerus. Bila tidak menerima maka tinggalkanlah karena Allah. Mudah-mudahan dia sadar dan dapat mengambil faedah dengan hijroh tersebut tanpa memutus percakapan, salam dan hadiah. Jika kamu melihat ia menolak, membandel lagi jauh dari kebaikan, maka berpalinglah darinya dan berusahalah sekuat tenaga untuk pindah dari tetangga tersebut.

Bila tetangga tersebut dayuts atau rendah rasa cemburunya atau istrinya menyimpang dari jalan yang lurus (akhlaknya tidak baik), maka pindahlah atau berusahalah sekuat tenaga agar mereka tidak mengganggu istrimu, karena banyak merusak. Takutlah akan dirimu yang lemah dan jangan istri tetangga (yang rusak akhlaknya tersebut) masuk rumahmu dan putuskan hubungan sedapat mungkin. Jika kamu tidak menerima nasehatku ini, mungkin akan kamu dapati hawa dan kerakusan. Lalu kamu dikalahkannya dalam menjaga dirimu atau anakmu atau pembantumu atau saudara perempuanmu. Jika kamu harus pindah maka pindahlah dengan baik-baik dan nasehat kepadanya.

3. Ahlil Bid’ah dan Rafidhoh Syiah.
Jika tetangga kamu seorang rofidiy (syiah) atau ahli bidah yang besar, maka jika kamu mampu mengajarinya dan mendakwahinya maka bersungguhlah untuk itu, dan jika kamu tidak mampu, maka tinggalkanlah dan jangan ada kecintaan dan bersalaman. Janganlah kamu berteman dan bergaul erat dan berpindah lebih baik.

4. Yahudi dan Nashroni atau non muslim.
Jika tetanggamu seorang yahudi atau nasroni, baik dalam perkampungan atau pasar atau kebun, maka bertetanggalah dengan baik dan jangan mengganggunya. Adapun orang yang selalu menerima ajakan mereka, bergaul erat dan memudahkan mereka , maka iman orang ini lemah. Allah telah berfirman:

لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلاَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. 58:22).

Jika bergabung dalam tetangga kekerabatan atau keluarga dekat maka haknya lebih besar lagi. Demikian jika salah seorang orang tuamu ahli dzimiy, maka kedua orang tua dan keluarga dekat memiliki hak diatas hak tetangga, maka berilah hak pada tempatnya. Demikian juga menjawab salam (pada orang yahudi dan nashroni), jangan memulai salam kepada mereka, tapi bila mereka mendahului salam maka jawablah dengan mengatakan Wa ‘Alaikum.

Penutup
Demikianlah besar hak tetangga yang terkadang kurang kita perhatikan, padahal demikian besar dan pentingnya bagi kehidupan seorang muslim dalam bermasyarakat. Oleh karena itu marilah kita perbaiki kehidupan kita dengan lebih memperhatikan lagi syariat islam, sehingga kita dapat hidup diatas takwa dan iman. Kemudian dengan hal itu kita berharap dapat mencapai kemulian dan kebahagian didunia dan akherat.

TANYA JAWAB
1. Tadz, bagaimana menghadapi tetangga yang full music, termasuk magrib, malam. Pohon menjulur sampa dengan menutupi cahaya atap. Pak RT pernah tegur, jawabnya siapa suruh rumahnya ga pakai kedap suara.

Jawab
Hadapi mereka dengan dakwah. Ajak mereka belajar islam. Coba perbanyak memberi hadiah yang bernilai pendidikan dan dakwah. Jaga S3 sopan, sapa dan senyum. Berikan padanya opini indahnya belajar islam dan tau syariat. Tentu saja doa jangan dilupakan

2. Ustadz, apakah boleh memberi maaf tanpa berjabatan tangan. Kalau misal kita ada masalah dengan tetangga, tapi masi ga sreg untuk bertatap muka, tapi sudah memaafkan kata temen-teman gitu,mba. Makanya nanya, soalnya lagi bermasalah sama tetangga sebelah rumah...hehehehe

Jawab
Boleh karena memaafkan itu munyangkut hati bukan jabat tangan. Tapi bagusnya kalo memaafkan yah ikhlas dan legowo dan legowi jangan masih mempertahankan dongkolnya.

3. Kalau terpaksa nyuekin tetangga yang "Aneh" dosa kah ustadz, Uda maunya menang sendiri, kita senyum ga di bales, dsb nya. Malah lebih welcome tetangga yang non muslim ketimbang dia. Hadeh  #tepokjidat
Jawab
ikutin dan tunaikan hak-hak yang telah dijelaskan. Sudah ada di materi tadi. ucapkan a'laikum seperti pendapat as-Syaukani  atau dibolehkan juga ngucapkan wa'alaikumusssalam seperti pendapat ibnu Utsaimin.

Izin dulu mau maghrib lalu kajian di daerah Perawang, Riau jarak dari Pekan Baru sekitar 1.30 sampai 2 jam an pake mobil. jadi paling bisa buka telegram setelah jam 21 malam.

PENUTUP :
Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.