Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HUKUM RIBA

Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ  SWT (HA 20 UMMI)



Hari / Tanggal : Jumat 24 Oktober 2014
Narasumber : Ustadz Asyari
Admin : Rahmi
Notulen : Nana
Editor : Ana Trienta

Assalamualaikum apa kabar bunda sholihah
alhamdulillah washolatu ala rasuliilllah ama badu. 
Semoga kita dalam lindungan Allah dalam memulai tahun baru hijriah? Semoga mengawali tahun baru ini kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. in sya Allah lebih baik dari tahun lalu amiin.

Mari kita jadikan sebagai momen hijrah yang lebih baik, hijrah ke ekonomi syariah semoga hidupkita lebih berkah dari yang akan kita bahas yaitu bagian dari ekonomi syariah yaitu apa sih hukumnya riba

HUKUM BUNGA / RIBA

Riba merupakan segala bentuk tambahan atau kelebihan yang diperoleh atau didapatkan melalui transaksi yang tidak dibenarkan secara syariah. Bisa melalui “bunga” dalam hutang piutang, tukar menukar barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama, dan sebagainya. Dan riba dapat tejadi dalam semua jenis transaksi maliyah


KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTEREST/FAIDAH)

Pertama : Pengertian Bunga (Interest) dan Riba Bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di perhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut, berdasarkan tempo waktu, diperhitungkan secara pasti di muka, dan pada umumnya berdasarkan persentase. Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penagguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah.

Kedua : Hukum Bunga (interest) Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW, yakni Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya. Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram, baik di lakukan oleh Bank, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.

Ketiga : Bermu’amalah dengan lembaga keuangan konvensional Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan lembaga keuangan syari’ah dan mudah dijangkau, tidak dibolehkan melakukan transaksi yang didasarkan perhitungan bunga. Untuk wilayah yang belum ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah, diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip dharurat/hajat

Buruknya Muamalah Ribawiyah
Terlalu banyak sesungguhnya dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunnah, yang menggambarkan tentang buruknya riba, berikut adalah ringkasan dari beberapa dalil mengenai riba :

  1. Orang yang memakan riba, diibaratkan seperti orang yang tidak bisa berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan, lantaran (penyakit gila). (QS. 2 : 275). 
  2. Pemakan riba, akan kekal berada di dalam neraka. (QS. 2 : 275). 
  3. Orang yang “kekeh” dalam bermuamalah dengan riba, akan diperangi oleh Allah dan rasul-Nya. (QS. 2 : 278 – 279). 
  4. Seluruh pemain riba; kreditur, debitur, pencatat, saksi, notaris dan semua yang terlibat, akan mendapatkan laknat dari Allah dan rasul-Nya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, yang memberikannya, pencatatnya dan saksi-saksinya.” Kemudian beliau berkata, “ Mereka semua sama!”. (HR. Muslim)
  5. Suatu kaum yang dengan jelas “menampakkan” (baca ; menggunakan) sistem ribawi, akan mendapatkan azab dari Allah SWT. Dalam sebuah hadtis diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum menampakkan (melakukan dan menggunakan dengan terang-terangan) riba dan zina, melainkan mereka menghalalkan bagi diri mereka sendiri azab dari Allah.” (HR. Ibnu Majah)
  6. Dosa memakan riba (dan ia tahu bahwa riba itu dosa) adalah lebih berat daripada tiga puluh enam kali perzinaan. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Handzalah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang dan ia mengetahuinya, maka hal itu lebih berat dari pada tiga puluh enam kali perzinaan.” (HR. Ahmad, Daruqutni dan Thabrani).
  7. Bahwa tingkatan riba yang paling kecil adalah seperti seoarng lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu tujuh puluh tiga pintu, dan pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR. Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).
Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil
BUNGA

  • Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung. Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.
  • Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.
  • Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang ‘booming’
  • Eksistensi bunga diragukan --bahkan dilarang-- oleh semua agama termasuk Islam.
BAGI HASIL
  • Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi.
  • Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh. Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan.
  • Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil. ُ
TANYA JAWAB
1. Kalo bank alhamdulillah saya sudah pakai yang syariah. Bagaimana kalau kemarin waktu saya kerja kan wajib ikut jamsostek ada namanya jaminan hari tua yang iurannya dari karyawan dan perusahaan. Nah disitu ada namanya pengembangan, apakah itu termasuk riba? Apakah kalo semua perusahaan adanya kerjasama dengan jamsostek karena belum ada yang syariah itu bagaimana hukumnya ust?
Jawab
Menurut imam yusuf qaradhawi membolehkan. Memang sebaiknya yang riba di  pisah tapi sulit karna jadi  satu rek, sebagian besar ulama di indonesia  mengealikan untuk produk umum seperti  jamsostek, askes termasuk dana pensiun

2. Bagaimana dengan arisan berantai ustadz, kita setor sejumlah uang kepada  rekening seseorang kemudian orang yang berikut setor kepada kita, kita tidak perlu setor lagi cukup menunggu setoran dari orang dibawah kita?
Jawab
Arisan seperti ini hukumnya haram karena tidak jelas aqad kepemilikannya

3. Kalau saham bagaimana ustadz? sekarang banyak yang menyarankan untuk investasi beli saham
Jawab
Saham syariah sudah cukup banyak

4. Apakah yang ada label syariahnya boleh ustadz? Seperti pegadaian syariah, asuransi syariah, dimana perbedaannya?
Jawab
Pegadaian syariah boleh bedanya di aqadnya titipan dan dapat ujroj, untuk asuransi syariah saya akan bahas khusus selain saya praktisi juga dosen

Marilah kajian hari ini kita tutup  dengan bersama-sama membaca doa Penutup Majelis Bissmillahirrahmanir rahim...

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”