Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Jadi Member Kajian sudah cukup lama, Tapi kenapa Akhlak Semakin Rusak ya?

Kajian Online Telegram Hamba  اللَّهِ  SWT

Hari / Tanggal : Sabtu, 26 Oktober 2014
Narasumber : Ustad Dodi Kristono
Rekap :Nurza
Notulen : Ana Trienta

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabarnya Bunda dan Nanda semua...? Mau bahas apa kita malam ini. Lama tak suaaa yaaa. Salam kenal juga Pak Kholid. Memanng TOP nih HA. Jam segini masih ON dan banyak yang antusias. Ust. Kholid... Mohon bimbingannya, saya masih fakir ilmu dan tetap berusaha untuk tolabul ilm setiap saat.

Sama-sama pak dodi. Status ustadz tidak jamin masuk syurga. Kita sama2 fakir ilmu dan fakir ampunan Allah dan sama2 "HAMBA  الله ".
آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ

Kita mulai yuuukkk
بسم الله الرحمن الرحيم

Saya senang pak dodi panggil pak kholid biar sama-sama cari ampunan Ilahi. Saya banyak ambil manfaat dari member-member disini.

Setan sering menggoda orang orang yang menuntut ilmu seperti kajian darat dan kajian online seperti kita kita disini melalui apa?
Monggo dijawab
1. Nafsu
2. Malas
3. Hati
4. Ngantuk
5. Game
6. Sinyal
7. Bosan
8. Unfocus
9. Laper
10. Pikiran
11. Tidak nyaman

Pokoke 10 aja yaaa, bener atau ngganya urusan belakang 
Saya kerucutkan menjadi 2 pilihan yaaa. Setan menggoda orang orang yang senang kajian seperti kita ini diwilayah :
1. Aqidah atau
2. Akhlak....?


Sementara akhlak memimpin, dan Aqidah sedang mempersiapkan untuk mengejaar. Kalau pilih dua-duanya, kita rubah topik niiiiihh. Kita ganti topik POLIGAMI. Makanya... Hayoo pilih salah satu, bukan salah dua, nanti nilainya delapan soalnya
Saya posting... Dan silahkan disimak, saya otw ke rumah yaaa

Jadi Member Kajian sudah cukup lama,  Tapi kenapa Akhlak Semakin Rusak ya?
Para Member Group yang sangat saya Hormati, perlu diketahui bahwa Tingginya ilmu bukan tolak ukur iman dan tauhid. Karena ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama kita. Oleh karena itu اللّهُ ﷻ  berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-Waqi’ah: 24]

Dan اللّهُ  TIDAK berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يعَلمُونَ

“Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui.”

Dan cukuplah peringatan langsung dalam Al-Qur’an bagi mereka yang berilmu tanpa mengamalkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَْ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian اللّهُ  bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaff : 3)

Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji” . Ada yang telah ngaji 5 tahun atau 7 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.

Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah radhiallahu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rasulullah ﷺ  yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh ﷺ  bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rasulullah ﷺ  menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada اللّهُ  di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini, “Barangsiapa bertakwa kepada اللّهُ  , merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak اللّهُ  dan Hamba-Nya.[Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]
Demikian pula sabda beliau ﷺ,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada اللّهُ  dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Ahlak yang mulia juga termasuk dalam masalah aqidah. Nabi ﷺ  , “Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka“. Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (Ahlus sunnah wal jama’ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintahkan untuk berakhlak yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”. [lihat Matan 'Aqiidah al-Waashithiyyah]

Bagi yang sudah “member kajian” Syaitan lebih mengincar akhlak bukan aqidah. Bagi yang sudah “ngaji”, yang notabenenya in sha اللّهُ  sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya. Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah اللّهُ ﷻ  menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَْ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)

Jadi Member Kajian sudah cukup lama,  Tapi kenapa Akhlak Semakin Rusak ya....?
Memang memperbaiki Akhlak adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlak. Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullahu :

طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم

“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”.

Dan kita tetap terus menuntut ilmu untuk memperbaiki akhlak kita karena ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk. Imam Al Ghazali rahimahullahu berkata,
“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena اللّهُ  ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena اللّهُ  ta’ala.”
Jadi hanya ada kemungkinan ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ilmu agama maka in sha اللّهُ  ilmu tersebut akan memperbaiki akhlak kita dan pribadi kita. Jangan lupa berdoa agar akhlak kita menjadi baik. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ  dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:

,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّاأَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَ الَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ

“Ya اللّهُ , tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya اللّهُ , jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” (HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)

Dan doa dijauhkan dari akhlak yang buruk,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Ya اللّهُ  aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. Tirmidzi no. 3591, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Dzolalul Jannah: 13)
والله أعلم بالصواب

Coba lihat sekitar kita. Banyak sekali orang orang yang seperti kita berkumpul dikajian dan akhlaknya tidak mendukung. Baik... Kita urai satu persatu yaaaa.
1. Dimana اللّهُ  Ta’ala berfirman: 
“Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4).
Dan اللّهُ  Ta’ala juga menegaskan: 
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yakni) bagi orang yang mengharap (rahmat) اللّهُ  dan (datangnya) hari kiamat, dan dia banyak menyebut اللّهُ.  (Al-Ahzab: 21)
Artinya  →  Contohlah yakni bagaimana beliau beradab dihadapan Rabbnya, kelurganya, sahabatnya dan terhadap orang-orang non muslim.

2. Salah satu cara untuk mempelajari itu semua adalah sering bergaul dengan orang-orang yang bertakwa. Sebab seseorang itu akan terpengaruh dengan teman duduknya. Nabi ﷺ  bersabda: 
“Seseorang itu dilihat dari agama teman dekatnya. Karena itu lihatlah siapa teman dekatnya.”(HR Tirmidzi)
3. Tidak usah kita mengukur orang lain, yang kita perbaiki adalah akhlak diri kita sendiri yang utama. Karena jika kita menilai itu hanya tampak luar saja yang belum tentu menggambarakan tampak dalamnya. والله أعلم بالصواب

Ketika kita sudah merasa "berilmu"... Maka setan akan menganggu akhlak kita dengan membisikkan  →  "anak ingusan aja didengar, kamu kan lebih hebat dari dia" dan akhirnya didepan ybs akhlak kita meremehkan orang yang berada dihadapan kita.

TANYA JAWAB
1. Iya  pak, untuk  itu  setan kadang  menang  mengoda  untuk  merusak  Ahklak kita  bagaimana  cara menepis nya?  Dan  apakah ini  tanda  lemah  nya  iman  kita  pak?
Jawab
Begitu kita digoda dengan setan, artinya kita masih ada keimanan didalam hati kita. Ngapai setan capek capek menggoda manusia yang perilakunya seperti kesetanan? Buang buang energi bagi dia. Wong dibiarin aja akan terlena mereka.
Taglinenya  →  Sesama setan dilarang saling mendahului.
Kenali Allah dan RasulNya

2. Tadz, apakah betul kalo ada orang merasa bisa mlihat setan/jin berarti dalam drinya ada jinnya?
Jawab 
Banyak dalil dalil Al Quran bahwa manusia tidak bisa melihat Jin. Dan saya imani itu, karena merupakan dalil tertinggi. Lain hal kalau bisa merasakan tanpa melihat yaaa

3. Di QS. Fathir 28, yang takut kepada Allah hanya orang-orang yang berilmu, khauf itu bagian dari aqidah, kalo orang berilmu tapi dia tidak takut pada Allah (contoh:dia maksiat ---> akhlak buruk) berarti aqidahnya yang kena, bagaimana ini ustadz?
Jawab
Itu udah dijawab sendiri... Bahwa gara gara akhlak buruk (maksiat), akhirnya Aqidahnya kena, karena seolah olah ybs "menantang" اللّهُ Ta'ala. 

4. Oo  semkin  kuat  iman  kita setan  semakin  berlomba  utuk  mengalh  kan  kita  ya  pak??
Jawab 
Setujuuuu Bunda... Dan godaannya berbeda beda sesuai dengan besar kecilnya keimanan

5. Nah kalo yang bisa dilihat orang-orang tertentu itu berarti apa tadz?
Jawab
Kan cuma dia yang katanya melihat, kita yang nonton ngga tau kan. Saya yakinnya bukan melihat tetapi merasakan frekwensi yang berbeda. Antara Jin dan Manusia mempunyai frekwensi dan uraian sel yang tidak sama. Jika setan mempunyai kesamaan dengan manusia, maka bisa dipastikana tubuhnya akan hancur jika dia terbang, atau mau mencuri curi kabar dari langit. والله أعلم بالصواب

6. Kaya yang dipemburu hantu itu msuknya apa, tadz?
Jawab
Jawabannya sama dengan yang sebelumnya Bunda. Kalau toh berkomunikasi, kan pasti membutuhkan media tubuh manusia bukan...? 

7. Oh ya, saya denger katanya orang yang diminta rukiyah bakal masuk neraka?
Jawab
Nanti kita akan masuk masalah Ruqyah yaaa. Intinya jika memang bisa kita meruqyah diri sendiri lebih disukai dibandingkan meminta dari orang lain. Karena kita juga belum memiliki akhlak yang sempurna dan pasti melakukan dosanya setiap hari. 

8. Kan ndak di ciptakan jin dan manusia selain untuk ibadah.. jadi jin dihisab juga ndak? Jin bisa mati juga tak atau jin itu sejenis setan juga
Jawab
Nanti kita bahas antara iblis, Jin dan Setan. Singkatnya Jin juga akan dihisab dan juga ada yang Muslim

9. Pak dody, salah ndak sikap seperti itu.meskipun kita tau manusia itu lebih sempurna dari setan. Tapi mungkin karena dari kecil suka di takutin jadi jatuhnya pengecut
Jawab
Pada dasarnya manusia itu memang tempatnya rasa TAKUT, Takut akan binatang buas,  takut ketinggian dll.Sebisa mungkin dilatih untuk mengurangi rasa takutnya ya Teh

10. Pak  dody,,setan  paling  suka  goda  kita  di  saat  sholat, bagaimana  caranya  agar  kita  dapat  lebih  khusuk  ..agar tidak  tergoda..
Jawab 
Tips aja yaaa... Saya sambil membaca dan membayangkan tulisan arabnya. Dicoba deh Bunda Lia, pasti kita akan focus sholatnya

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat