Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Kandungan Dua Kalimat Syahadat

Kajian Online Hamba  اللَّهِ  SWT (Grup HA 18 Ummi)

Narasumber : Ustadz Doli 
Notulen : Ana Trienta

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, Alhamdulillah, bunda sekalian, semoga sehat dan semangat terus, dalam serap dan sharing ilmu khasanah keislaman. Semoga kita semua diberi kemudahan dalam memahami, mengamalkan islam, dan semoga Allah memudahkan jalan kita ke syurga disebabkan karuniaNya pada orang orang yang cinta pada kajian kajian islam.

Bunda sekalian, dalam kajian kali ini kita akan membahas satu materi tentang syahadatain, yaitu kandungan syahadatain. Mungkin agak panjang, tapi tidak mengapa, silakan saja di baca, gunakan waktu sebanyak yang bunda perlukan. Ketika ada yg ingin ditanyakan, silakan saja tdk usah ragu.

Muqodimah
Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat, bahkan mereka siap dan tidak takut terhadap segala ancaman kafir. Sahabat nabi, misalnya Habib berani menghadapi siksaan dari Musailamah yang memotong tubuhnya satu persatu, Bilal bin Rabah tahan menerima himpitan batu besar di tengah hari dan sederet nama lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain.

Muncullah pertanyaan kenapa mereka bersedia dan berani mempertahankan kalimah syahadat? Ini disebabkan karena kalimah syahadat mengandung makna yang sangat mendalam bagi mereka. Syahadat bagi mereka mempunyai arti yang sebenarnya mencakup pengertian ikrar, sumpah dan janji. Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat sebagai ikrar saja. Apabila mereka tahu bahwa syahadat juga mengandung arti sumpah dan janji, serta tahu bahwa akibat janji dan sumpah, maka mereka akan benar-benar mengamalkan Islam dan beriman. Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahadat yang betul. Iman secara lisan oleh mulut, juga diyakini oleh hati dan diamalkan dalam perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman. Apabila kita mengamalkan syahadat dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan optimis menjalani kehidupan. Kemudian Allah Swt memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat.

Kandungan Kalimat Syahadat :
Pernyataan (al-Iqraaru), yaitu suatu pernyataan seorang muslim mengenai keyakinannya. Pernyataan ini sangat kuat karena didukung oleh Allah, Malaikat dan orang-orang yang berilmu (para nabi dan orang yang beriman). Hasil dari ikrar ini adalah kewajiban kita untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang diikrarkan.

Sumpah (al-Qasamu), yaitu pernyataan kesediaan menerima akibat dan resiko apapun dalam mengamalkan syahadat. Muslim yang mengucapkan syahadat berarti siap dan bertanggung-jawab dalam tegaknya Islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini adalah kemunafikan dan tempat orang munafik adalah neraka jahanam.

Beberapa ciri orang yang melanggar sumpah adalah dengan memberikan wala’ kepada orang-orang kafir, memperolok ayat-ayat Allah, malas dalam sholat dan tidak punya pendirian. Perjanjian yang teguh (al-Miitsasqu), yaitu janji setia untuk mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah yang terkandung dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasul.

Syahadat adalah mitsaq yang harus diterima dengan sikap sam’an wa tho’atan dan didasari dengan iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Nya, Rasul-Nya, hari akhir dan qadar baik maupun buruk. Dalil: 

  • Q.3: 18, syahadat yang berarti ikrar dari Allah, Malaikat dan orang-orang yang berilmu tentang Laa ilaha illa Allah. 
  • Q.7: 172, ikrar tentang Rububiyatullah manusia merupakan alasan bagi ikrar tentang keesaan Allah. 
  • Q.3: 81, ikrar para nabi mengakui kerasulan Muhammad Saw meskipun mereka hidup sebelum kedatangan Rasulullah Saw.
  • Q.63: 1-2, syahadat berarti sumpah. Orang-orang munafiq berlebihan dalam pernyataan syahadatnya, padahal mereka tidak lebih sebagai pendusta. 
  • Q.4: 138-145, beberapa ciri orang yang melanggar sumpahnya yaitu memberikan wala kepada orang-orang kafir, memperolok-olok ayat Allah, mencari kesempatan dalam kesempitan kaum muslimin, menunggu-nunggu kesalahan kaum muslimin, malas dalam sholat dan tidak punya pendirian. Orang-orang mukmin yang sumpahnya teguh tidak akan bersifat seperti tersebut.
  • Q.5: 7, 2: 285, syahadat adalah mitsaq yang harus diterima dengan sikap sam’an wa tha’atan didasari dengan iman yang sebenarnya terhadap Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir dan Qadar baik maupun buruk. 
  • Q.2: 93, pelanggaran terhadap mitsaq ini berakibat laknat Allah seperti yang pernah terjadi pada orang-orang Yahudi.
Jadi seseorang yang bersyahadat harus didasari dengan :
Iman
Syahadah yang dinyatakan seorang muslim penuh kesadaran sebagai sumpah dan janji setia ini merupakan ruh iman, yaitu:

  • Ucapan (al-Qaulu) yang senantiasa sesuai dengan isi hatinya yang suci. Perkataan maupun kalimat yang keluar dari lidahnya yang baik serta mengandung hikmah. Syahadah diucapkan dengan penuh kebanggaan iman (isti’la-ul iman) berangkat dari semangat isyhadu biannaa muslimin.
  • Membenarkan (at-Tashdiiqu) dengan hati tanpa keraguan. Yaitu sikap keyakinan dan penerimaan dengan tanpa rasa keberatan atau pilihan lain terhadap apa yang didatangkan Allah.
  • Perbuatan (al-’Amalu) yang termotivasi dari hati yang ikhlas dan kefahaman terhadap maksud-maksud aturan Allah. Amal merupakan cerminan dari kesucian hati dan upaya untuk mencari ridha Ilahi. Amal yang menunjukkan sikap mental dan moral Islami yang dapat dijadikan teladan.
Ketiga perkara diatas tidak terpisahkan sama sekali. Seorang muslim yang tidak membenarkan ajaran Allah dalam hatinya bahkan membencinya, meskipun kelihatan mengamalkan sebagian ajaran Islam adalah munafiq I’tiqadi yang terlaknat. Muslim yang meyakini kebenaran ajaran Islam dan menyatakan syahadatnya dengan lisan tetapi tidak mengamalkan dalam kehidupan adalah munafiq amali. Sifat nifaq dapat terjadi sementara terhadap seorang muslim oleh karena berdusta, menyalahi janji atau berkhianat. Dalil:

  • Q.49: 15, 4: 65, 33: 36, Iman adalah keyakinan tanpa keraguan, penerimaan menyeluruh tanpa rasa keberatan, kepercayaan tanpa pilihan lain terhadap semua keputusan Allah. 
  • Q.3: 64, sikap hidup yang merupakan cermin identitas Islam.
  • Q.4: 123-125, Iman bukanlah hanya angan-angan, tetapi sesuatu yang tertanam di dalam hati dan harus diamalkan dalam bentuk praktikal. Amal yang dikerjakan harus merupakan amal sholeh yang dilakukan dengan ihsan dan penyerahan yang sempurna kepada kehendak Allah. Dalam melakukan amal tersebut, seorang mukmin merasa dikawal oleh Allah Swt.
  • Q.2: 80, diantara kekeliruan ummat Islam adalah mencontoh sikap Yahudi. Misalnya merasa bahwa neraka merupakan siksaan yang sebentar sehingga tidak apa memasukinya. Atau mereka merasa akan masuk surga semata-mata karena imannya sehingga tidak perlu beramal sholeh lagi.
  • Q.2: 8, 63: 1-2, 48: 11, Ucapan lisan tanpa membenarkan dengan hati adalah sikap nifaq I’tiqadi. Berbicara dengan mulutnya sesuatu yang tidak ada dalam hatinya.
Hadits
Tanda-tanda munafiq ada tiga. Jika salah satu ada pada seseorang, maka ia merupakan munafiq sebahagian. Bila keseluruhannya ada, maka ia munafiq yang sesungguhnya yaitu: bila berbicara ia berdusta, bila berjanji mengingkari, dan bila diberi amanah ia berkhianat. Ketiga tanda ini termasuk jenis munafiq amali.

Imam Hasan Basri berkata, “Iman bukanlah angan-angan, bukan pula sekedar hiasan, tetapi keyakinan yang hidup di dalam hati dan dibuktikan dalam amal perbuatan”.

Konsisten (al-Istiqaamah)
Keimanan seorang muslim yang mencakup tiga unsur di atas mesti selalu dipelihara dan dijaga dengan sikap istiqamah. Istiqamah adalah konsisten, tetap dan teguh. Tetap pada pendirian, tidak berubah dan tahan uji. Sikap istiqamah akan melahirkan tiga hal yang merupakan ciri orang-orang beriman sempurna, yaitu:

  • Syajaah (keberanian), muncul karena keyakinan sebagai hamba Allah yang selalu dibela dan didukung Allah. Tidak takut menghadapi tantangan hidup, siap berjuang untuk tegaknya yang haq (benar). Keberanian juga bersumber kepada keyakinan terhadap qadha dan qadar Allah yang pasti. Tidak takut pada kematian karena kematian di jalan Allah merupakan anugerah yang selalu dirindukannya.
  • Itmi’nan (ketenangan) berasal dari keyakinan terhadap perlindungan Allah yang memelihara orang-orang mukmin secara lahir dan batin. Dengan senantiasa ingat pada Allah dan selalu berpanduan kepada petunjukNya (kitabullah dan sunnah), maka ketenangan akan selalu hidup di dalam hatinya.
  • Tafaul (optimis), meyakini bahwa masa depan adalah milik orang-orang yang beriman. Kemenangan ummat Islam dan kehancuran kaum kufar sudah pasti. Mukmin menyadari bahwa amal perbuatan yang dilakukannya tidak akan sia-sia, melainkan pasti dibalas Allah dengan pembalasan yang sempurna.
Dalil:

  • Q.11: 112-113, istiqamah artinya tidak menyimpang atau cenderung pada kekufuran.
  • Q.17: 73-74, istiqamah tetap teguh, tahan dan kuat dalam menghadapi dan melaksanakan perintah Allah. 
  • Q.42: 15, terus berjuang menyampaikan ajaran Allah dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Hadits: Abi Amr atau Abi Amrah Sofyan bin Abdillah, ia berkata: “aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku tentang suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seseorang kecuali kepadamu’. Bersabdalah Rasulullah, katakanlah: aku telah beriman kepada Allah, kemudian berlaku istiqamahlah kamu”. (HR. Muslim).
  • Q.41: 30-32, orang yang istiqamah akan didukung oleh Malaikat yang akan menjadikannya berani, tenang dan optimis. 
  • Q.9: 52, sumber keyakinan tentang qadha dan qadar yang menimbulkan keberanian, kecelakaan atau kemudharatan hanyalah ketentuan Allah belaka. 
  • Q.3: 157-158, kemuliaan merupakan anugerah Allah bagi orang-orang mukmin sehingga mereka tidak takut menyampaikan risalah kebenaran, lihat Q.33: 39.
  • Q.13: 28, ketenangan dapat diperoleh dengan mengingat Allah
TANYA JAWAB
 Ummi mel
Ada sekelompok pengajian yang meminta kita mengucapkan syahadat di saksikan oleh mereka semacam di bai'at gitu ya ustad kalo tidak islam kita tidak sah karena islam kita ini islam warisan dari orang tua, apa hukumnya dan bagaimana menyikapinya ustadz?
Jawab
Pertanyaannya tidak sederhana nih masalah syahadat dan baiat untuk itu akan kami cuplikan penjelasan dari ust ahmad sarwat lc, semoga cukup jelas.

Berbai’at dan bersyahadat adalah dua hal yang berbeda. Bahkan anak kecil yang masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah pun mudah membedakannya. Syahadat merupakan salah satu rukun Islam, sedangkan bai’at tidak termasuk rukun Islam. Namun ada segelintir orang yang ikut dalam aliran sesat telah berupaya menyelewengkan pengertian keduanya sehingga seolah-olah bai’at itu syahadat dan syahadat itu bai’at. Tentu saja pengertian salah seperti ini jelas punya tujuan tendensius dan merupakan bentuk kesesatan yang serius.Padahal dari segi lafadznya saja sudah berbeda. Syahadat itu berbunyi asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah, sedangkan bai’at itu berbunyi ubayi’ukum ‘alas sam’i wath-tha’ah fi tha’atillai wa rasulihi. 

Syahadat itu adalah ikrar tentang masalah tuhan dan kenabian, di mana seorang muslim menyatakan tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah, sekaligus ikrar bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Sedangkan ba’iat adalah ikrar untuk mengangkat seseorang menjadi pemimpin dan pernyataan siap untuk mentaatinya. Sehingga jelaslah bahwa syahadat itu bukan bai’at dan bai’at itu bukan syahadat. Syahadat itu sebagai ikrar dari seorang non muslim untuk masuk Islam, sedangkan bai’at itu adalah sumpah atau pengangkatan seseorang untuk dijadikan pemimpin. Orang kafir yang tidak mengucapkan syahadat berarti dia belum masuk Islam. Statusnya adalah kafir karena memang aslinya adalah orang non muslim. Adapun orang muslim, selain secara nyata dia sudah menunjukkan dirinya sebagai muslim, secara lafadz pun sudah pasti dia melakukan syahadat berkali-kali dalam sehari. Dan pengakuan sejak awal bahwa dia adalah seorang muslim sudah cukup untuk dikatakan bahwa dia memang muslim, sehingga seorang muslim sama sekali tidak memerlukan syahadat ulang. Dia adalah muslim karena sejak awal pun memang sudah muslim. Maka sungguh salah dan sesat kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa seorang yang sudah muslim harus bersyahadat ulang, kalau tidak maka dia adalah orang non muslim. 

Pendapat seperti ini tidak akan lahir dari mulut seorang yang mengerti hukum aqidah, kecuali dari kelompok sesat yang berpaham takfir. Yaitu aliran sesat yang mudah mengkafirkan orang lain. Bahkan fatalnya paham sesat ini adalah berangkat dari asumsi bahwa semua orang di dunia ini pada dasarnya kafir, kecuali yang mau setia taqlid buta pada kelompok sesat itu. Padahal dalam ilmu aqidah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, setiap orang itu lahir dalam keadaan muslim. Barulah kemudian kedua orang tuanya yang akan mengajaknya kepada kekafiran. Mungkin dijadikan yahudi, nasrani atau majusi. Kalau mereka suatu saat mau masuk Islam, haruslah membuat pernyataan/ ikrar yang disebut dengan syahadat. Namun bila seorang bayi lahir dari kedua orang tua yang muslim dan tumbuh dalam pendidikan Islam, sudah secara otomatis dia menjadi muslim. Dan sama sekali tidak perlu bersyahadat ulang. Dan kafirnya seorang muslim itu harus melewati sebuah proses yang bernama murtad . 

Namun selama seorang muslim tidak melakukan hal-hal yang termasuk dalam kategori kemurtadan yang disahkan oleh pengadilan syariah, maka dia adalah muslim 100%.Para shahabat Nabi SAW dahulu awalnya pun masih kafir. Lalu mereka masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Sejak awal mula turunnya wahyu, sudah banyak shahabat yang masuk Islam. Hingga menjelang hijrah ke Madinah baru ada bai’at. Ini menunjukkan bahwa syahadat itu bukan bai’at dan bai’at itu bukan syahadat. Di dalam sirah nabawiyah, keduanya dipisahkan oleh jarak waktu hampir 10 tahun. Dan para shahabat nabi SAW yang masuk Islam di awal mula turun wahyu tetap dianggap muslim, meski mereka tidak ikut berba’ait.Perlu diketahui bahwa bai’at di dalam sirah nabawiyah ada beberapa kali. 

Yang awal pertama terjadi adalah bai’at Aqabah I dan bai’at Aqabah II. Dua-duanya hanya untuk para anshar dari Yatsrib . Adapun para shahabat yang lainnya tidak ikut berbai’at. Kalau dikatakan bahwa yang tidak bai’at itu kafir, seharusnya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali itu kafir, lantaran tidak ikut bai’at.Jadi pemahaman seperti yang Anda kemukakan itu jelas sekali salahnya, bahkan bertentangan dengan realita sejarah di masa Nabi SAW, juga bertentangan dengan manhaj salafushalih, serta bertentangan dengan ilmu aqidah dan syariah. Tidaklah ada orang yang mau dicocok hidungnya dengan doktrin sesat seperti ini kecuali orang-orang yang lemah iman, kurang ilmu dan jahil terhadap agamanya sendiri.

 Betti
Ustadz syajaah (keberanian) yang dimaksud diatas apakah hanya dalam hal melaksakan perintah dalam agama islam atau termasuk keberanian untuk wilayah lain seperti : keberanian untuk memulai usaha/bisnis yang masih belum ada, apakah itu termasuk orang yang bersyahadat tapi belum istiqomah?
Jawab
Ya betul, dengan iman yang benar, maka TAWAKAL adalah menjadi salah satu buah keimanannya.

  1. Mempersiapkan bisnisnya secara baik, hitungan ekonomi, marketing, perizinan dlsbnya terhitung dengan baik
  2. Dia berdoa kemudian dia menyerahkan urusannya pada Allah SWT. Tidak takut rugi, tidak takut ditipu semua sia siapkan sebaiknya, bismillah dan sia menyerahkan urusan pada Allah SWT
 Ummi Hanik
Assalamu'alaikum wrwb, ustadz saya mau bertanya, apakah bersumpah/berikrar dengan mengucapkan dua kalimah sahadah itu sama dengan bersumpah akan melakukan sesuatu tapi juga menyebut nama Allah dan apakah sumpah seperti itu bila dilangar dosanya tidak terampuni ustadz ada titipan pertanyaan dari teman apakah islam itu? terimakasih sebelumnya stadz.
Jawab
Berbeda batalnya syahadat dengan batalnya nazar atau sumpah, yang pertama bisa mengeluarkan seseorang dari agamanya yang kedua ada yang namanya kafarah melanggar nazar atau sumpah berdosa namun tidak sampai membatalkan keislaman. Salah satu yang jelas membatalkan syahadat adalah murtad, menyembah berhala secara jelas. salah satu yang jelas membatalkan syahadat adalah murtad, menyembah berhala secara jelas.

 Sari
Assalamu'alaikum ustadz. Dulu waktu masih tinggal di sumatera saya punya tetangga keturunan Cina dan non muslim. Karena ia sering bergaul dengan orang-orang muslim (ia seorang pedagang barang-barang harian), dan barangkali sering juga mendengar ucapan assalamu' alaikum, bismillah, Allahu Akbar, bahkan ucapan dua kalimah syahadat, maka ia pun fasih mengucapkan semua lafaz tsb. Sebagai muslim, apa yang harus kita lakukan bila mendengar ia mengucapkan syahadat (khususnya) meskipun ia tidak bermaksud serius dengan ucapannya?
Jawab
Dakwahi saja oleh orang orang trdekat, agar benar benar masuk islam. Tanya saja langsung memang kamu sudah masuk islam ya? kalau dia sudah menyatakan dia masuk islam, melaksanakan ibadah asasi setidaknya shalat.

 ummi yuli
Ustadz, saya sering melihat muslim membela Islam/Allah/Rasul yang dicemooh di sosial media yang ujungnya adalah perdebatan masalah ketauhidan. Padahal setau saya debat itu sebaiknya ditinggalkan. Untuk masalah ketauhid-an ini, manakah yang sebaiknya didahulukan? Meninggalkan debat, atau membela agama sesuai dengan ikrar syahadatain kita?
Jawab
Cemoohan, hinaan, sinis, ejekan, fitnahan bahkan sampai pembunuhan dialami bukan saja saat ini, sudah sejak zaman nabi nabi sampai ke nabi muhammad saw, mengalaminya dalam ayat ayat quran dan hadits, bertebaran informasi tentang hal tsb, masalah debat. Salah satu perdebatan fenomenal yang pernah terjadi adalah di zaman khalifah Ali Ra, beliau mengutus Ibnu Abbas Ra untuk berargumen/berdebat dengan kaum yang menyimpang yaitu khawarij dalam rangka membongkar kesesatan pemahaman mereka, sehingga banyak sekali  yang bertaubat dan ummat banyak tercerahkan karenanya. Namun kita lihat bahwa untuk berdebat Ali Ra mengutus Ibnu Abbas Ra yg merupakan salah satu ulama dikalangan sahabat Ra, ilmu tafsirnya luar biasa, kecerdasannya luar biasa akhlaknya luar biasa, dan merupakan salah satu sahabat yang sangat dihormati karena kedekatannya dengan Nabi SAW yang terjadi sekarang, banyak dari kita berdebat namun sesungguhnya tidak menguasai permasalahan secara matang, sehingga alih alih memberi pencerahan, kadang malah terbalik.

 Ummi Hanik
Oya ustadz kalau melanggar nazar bagaimana cara membayar kafarahnya?
Jawab
Ada di al maidah ayat 80an... 89 ya..
memberi makan 10 orang miskin, atau kalo gak mampu puasa 3 hari, tolong di cek terkadang bila kita memberi penjelasan dengan dalil yang kuat, malah diterima dengan berbeda kita dianggap sok pinter / sok suci dlsbnya, kadang iman kita goyah dan akhirnya memicu pertengkaran yang tak berujung. Pertanyanya, bagaimana menyikapi hal tersebut ust? Andai tidak di jelaskan, mereka akan semakin mencemooh kita tapi kalau di jelaskan, mereka ga mau nerima karena merasa ilmu yang mereka dapatkan itu sudah bagus..

 Ummi Ittin
Terkadang bila kita memberi penjelsaan dengan dalil yang kuat, malah diterima dengan berbeda kita anggap sok pinter / sok suci dlsbnya, kadang iman kita goyah dan akhirnya memicu pertengkaran yang tak berujung. Pertanyanya bagaimana menyikapi hal tersebut ust? Andai tidak dijelaskan, mereka akan semakin mencemooh kita tapi kalau di jelaskan, mereka ga mau nerima karena merasa ilmu yang mereka dapatkan itu sudah bagus..
Jawab
Kondisi tertentu, untuk masalah pokok aqidah, tsawabit silakan kemukakan dalil, nasihati dengan hujjah yang kuat, setelah itu boleh tunjukan juga kelemahan argumen lawan diskusi. Cukup..kalau sudah tdk terima, ya doakan saja dapat hidayah. Nah, untuk masalah fiqh, khilafiyah boleh kita sampaikan pendapat ulama yang kita yakini lengkap dengan argumen dalil dan hujjah. cukup. Tidak boleh kita mencela, menyalahkan, membenci pendapat lawan diskusi yg tentunya juga memiliki rujukan ulama ulama yang dipercaya umat.

 Ummi Ittin
Mengenai munafik, bagaimana cara menyikapi sifat munafik tesebut andai hal itu kita sendiri yang melakukannya dengan atau tanpa sengaja, terkadang sifat munafik itu kita lakukan karena ingin menutupi kelemahan kita? mohon pencerahannya. 
Jawab
Kita memang harus berupaya sekuat tenaga dan pikiran agar sifat sifat munafiq dapat kita bersihkan dari akhlaq, amal kita.

  • Kalau kami laki laki, sekuat tenaga kita shalat 5 waktu di masjid karena salah satu keutamaannya adalah menghilangkan sifat munafik
  • Pikir pikir jika akan berjanji, jangan janji yg tdk bisa ditepati
  • Selalu jujur apapun resikonya, ingat selalu bahwa dusta itu dosa besar juga menyebabkan pelakunya terhina
  • Selalu coba ikhlas dalam bergaul dengan manusia, shg mudah menerima kebenaran dari siapapun

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)
Wassalamualaikum wr wb