Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Membina keluarga samara

Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ  SWT (HA 03 UMMI)

Hari / Tanggal : Selasa, 21 Oktober 2014
Narasumber : ust. Cahyadi
Materi : Membina keluarga samara
Admin : Ani
Notulen : Fransiska
Editor : Ana Trienta

Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Tema kajian kita pada sore hari ini di seputar keluarga harmonis. Atau dalam bahasa Qur'an kita sebut sakinah mawaddah wa rahmah. Keluarga harmonis adalah dambaan semua orang. Siapapun yang menikah dan membentuk bahtera rumah tangga, berharap akan bisa memiliki keluarga yang harmonis. Namun banyak orang memahami makna harmonis secara berlebihan, sehingga seakan-akan tidak mentolerir adanya perbedaan, pertengkaran, dan konflik antara suami isteri sama sekali. Keluarga harmonis dipahami sebagai keluarga yang tanpa perbedaan dan tanpa pertengkaran. Ini pemahaman yang tidak tepat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata harmonis memiliki makna pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian. Dalam konteks keluarga, kata harmonis dekat dengan makna keselarasan dan keserasian antara suami, isteri dan seluruh anggota keluarga. Selaras dan serasi, menunjukkan suatu kesamaan tujuan dan cita-cita, walaupun kondisinya tidak selalu sama. Mungkin saja ada hal yang berbeda, namun perbedaan terbingkai dalam keselarasan dan keserasian.
Kapan kita mengatakan pakaian  yang dikenakan seseorang sebagai serasi? Apakah karena warnanya sama? Seorang lelaki muda mengenakan sepatu, celana panjang, hem, dasi, jas dan topi dengan warna yang sama. Warna hitam semua, atau merah semua, atau putih semua, itukah serasi? Bahkan anda akan sulit menilai penampilan lelaki muda tersebut, apabila semua yang dikenakan memiliki warna yang sama .Justru penampilan dikatakan serasi apabila ada perbedaan, namun beda yang serasi. Misalnya ia mengenakan sepatu berwarna hitam, kaus kaki abu-abu, celana panjang hitam, kemeja warna putih, jas hitam, dasi merah tua, dan peci berwarna hitam.

Ada banyak warna yang dikenakan, namun justru itu yang membentuk makna serasi. Karena salah satu makna keharmonisan adalah keserasian, maka perbedaan justru menjadi salah satu unsur terpenting di dalamnya. Jangan berharap suami dan isteri akan sama dalam semua hal, karena sejak dari awalnya memang tidak sama. Kesamaan mereka terjadi dalam hal yang prinsip, seperti kesamaan visi keluarga, kesamaan tujuan berkeluarga, dan kesamaan keyakinan hidup. Namun dalam berbagai sisi praktis, suami dan isteri tidak perlu sama. Karena suami dan istri memang dua jenis yang tidak sama.

Dalam konferensi tahunan British Psychological Society 2012, di antara tema yang menjadi pembahasan adalah perbedaan fisiologis dan biologis laki-laki dan perempuan. Para ahli mengupas beberapa perbedaan dalam kemampuan kognitif, misalnya, laki-laki memiliki keterampilan kesadaran spasial lebih baik. Sementara perempuan memiliki daya ingat yang lebih kuat untuk benda-benda, serta kefasihan dalam lisan. Beberapa perbedaan utama antara laki-laki dan perempuan yang diyakini adalah sesuatu yang bersifat alami atau natural. Laki-laki yang dianggap memiliki kemampuan kuat untuk memikirkan obyek dalam bentuk 3D yang membantu mereka menavigasi.

Perbedaan ini telah terlihat dalam hasil studi yang melibatkan bayi berusia tiga bulan. Perempuan ‘lebih baik dalam mengingat letak benda-benda’ dan lebih bisa menavigasi melalui landmark dibanding sifat umum navigasi laki-laki yang berupa arah. Ada pula pertanyaan menggelitik, “Mengapa 90% dari manajer perusahaan adalah laki-laki, dan 90% dari sekretaris yang ada di perusahaan adalah perempuan?”

Ini dianggap sebagai perbedaan umum antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa segi kemampuan yang spesifik. Justru dengan adanya berbagai perbedaan kemampuan tersebut, laki-laki dan perempuan bisa saling melengkapi, saling mengisi, saling memberi dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.

Tidak ada superioritas, bahwa lelaki lebih baik dan lebih unggul dari perempuan, atau perempuan lebih baik dan lebih unggul dari lelaki. Yang terjadi adalah, lelaki dan perempuan memiliki sisi-sisi kelebihan dan keunggulan, namun pada saat yang sama memiliki sisi kelemahan dan kekurangan. Untuk itulah, dalam sebuah keluarga mereka bisa saling menguatkan sisi kekurangan, dan bisa saling berbagi pada sisi kelebihan. Itulah makna serasi, sebuah perbedaan yang menimbulkan harmonis, saling memerlukan, saling mengisi dan melengkapi antara suami dan isteri. Yang menjadi tuntutan dalam kehidupan keluarga adalah saling memahami adanya hal yang berbeda tersebut.

Suami dan isteri harus membuka ruang penerimaan, pemahaman dan toleransi yang tinggi dalam jiwa mereka, akan hadirnya realitas perbedaan umum yang tidak bisa dihindarkan. Isteri yang sangat suka ungkapan verbal, dan suami yang kurang suka ungkapan verbal. Isteri yang banyak menggunakan potensi perasaan dalam memandang suatu kejadian, sementara suami lebih banyak  menggunakan potensi akal. Jika perbedaan tersebut dipahami dan diapresiasi secara tepat, tidak akan memunculkan konflik atau pertengkaran yang tidak perlu.

Pertengkaran terjadi antara suami dan isteri, karena ada banyak hal berbeda yang ada dalam diri mereka. Jika masing-masing tidak mampu memahami realitas perbedaan ini, yang terjadi adalah peruncingan konflik yang mengarah kepada disharmoni. Boleh saja sesekali waktu bertengkar dan ada konflik, namun harus segera diredam dan diatasi dengan saling pengertian dan saling memahami antara suami dan isteri. Maka, rasakanlah keharmonisan, justru karena suami dan isteri memiliki banyak perbedaan. Jika semua hal sama, lalu dimana letak kenikmatan hidup berkeluarga?

Demikian kajian singkat sore hari ini tentang keluarga harmonis.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Tanya jawab
 Bunda Sumeera
Kebanyakan pasangan suami istri yang bercerai dengan alasan hampir sama tidak ada nya kecocokkan di liat dr penjelasan ustd pada dasarnya antara wanita dan pria itu berbeda jadi harus adanya pengertian dan saling menyesuaikan diri, tapi dalam hal ini kebanyakan wanitalah yang harus mengalah apalagi demi anak akhirnya cinta pun mulai luntur karena mempertahankan rumah tangga semata untuk anak, gimana solusi nya?
Jawab
Kami menjadi konselor pernikahan dan keluarga sejak tahun 2000. Pengalaman 14 tahun menjadi konselor, banyak memberikan perspektif 'masalah' kepada kami. Kami melihat, suami dan istri itu bagai cermin. Satu dengan yg lain seperti melihat cermin. Banyak kami jumpai di ruang konseling suami dan istri yang nerasa "hanya dirinya yang mengalah". Mereka menganggap "pasangannya tidak mau mengalah". Itulah cermin. Jika keduanya berperspektif menuntut, maka tidak akan ada yang mengalah. Namun jika keduanya bersikap proaktif untuk memulai kebaikan, makamudaha problem akan mudah disekesaikan.

Di buku Wonderful Husband saya tulis : ketika suami dan istri konflik, siapa yang harus mengalah? Para suami, andalah yang harus mengalah. Mengapa? Karena anda suami teladan. Nanti di buku Wonderful Wife saya juga tuliskan : ketika suami dan istri konflik, siapa yang harus mengalah? Para istri, andalah yang harus mengalah. Mengapa? Karena anda istri teladan.

 Bunda Nunung
Akhir-akhir ini sepertinya banyak polemik tentang ibu-ibu/istri yang bekerja di luar rumah sebagai karyawati/bekerja pada orang lain.. Tidak sedikit juga yang sepertinya agak mengganggu kehidupan rumah tangga, entah kewajiban terhadap suami maupun anak-anak yang pada akhirnya berpengaruh juga terhadap keharmonisan keluarga. Yang ingin saya tanyakan, sebenarnya bagaimana hukum islam dalam hal ini, khususnya wanita yang bekerja dimana suaminya sudah mampu memenuhi/mencukupi nafkah terhadap keluarga. Jzkallah khoyr atas jwbannya
Jawab
Itu bukan polemik akhir akhir ini... itu sudah lamaaaaa banget 😀
Dari dulu sudah ada polemik seperti itu. Kita dudukkan saja dulu persoalannya.
1. Kewajiban nafkah keluarga adanya pada suami
2. Istri boleh bekerja membantu mencari nafkah dengan sepersetujuan suami
3. Pilih pekerjaan yang tidak menyebabkan merusak keseimbangan peran di dalam dan di luar rumah
4. Diperlukan kerjasama yang baik dari suami dan istri untuk memenuhi semua kepentingan keluarga
5. Diperlukan pembagian peran berkeadilan dalam keluarga agar tidak ada pihak yg terzalimi

 Bunda Attien
Ustadz bisa kasih contoh praktis dalam keseharian dalam menyikapi dan menerima perbedaan antara kebiasaan/sifat suami dan istri? Bagaimana jika suami sampai tidak mau mengalah atau menurutkan egonya dikarenakan dia merasa sebagai pemimpin dalam rumah tangganya?
Jawab
Ada suami istri yang datang konsultasi kepada kami. Mereka sudah 20 tahun menikah. Karena konflik berkepanjangan mereka berpikir untuk bercerai saja. Saya tanya kepada mereka: Karena banyak ketidakcocokan di antara kami berdua.
Jawab saya : Hah? Sudah 20 tahun hidup bersama dan baru sekarang mengerti kalau banyak perbedaan? Kalian terlambat 20 tahun untuk memahami dan mengerti ada banyak ketidakcocokan di antara kalian. Harusnya sejak 20 tahun lalu sebelum menikah kalian sudah mengerti bahwa kalian itu dua makhluk yang banyak ketidakcocokannya. Ingatlah menikah itu adalah "manajemen ketidakcocokan". Hidup berumah tangga itu mengelola berbagai ketidakcocokan dengan 3 cara :
  1. Carilah sebanyak mungkin kecocokan antara suami dan istri.
  2. Jika bertemu hal-hal yang tidak cocok, carilah titik temu yang bisa disepakati oleh suami dan istri
  3. Jika tidak berhasil mendapatkan titik temu, maka berlakulah prindip TERIMALAH APA ADANYA.
Jika tiga cara itu sudah berhasil dilakukan, maka tidak perlu ada perceraian. Bunda semuanya.

 Bunda Yulianti
Ustad benarkah sikap seorang isteri yang selalu nurut apa kata suami (meskipun tidak sesuai kata hati) hanya untuk menghindari pertengkaran dan karena takut laknat Allah jika membangkang?
Jawab
Ketika sudah menikah, kita tidak bisa lagi menjadi diri kita sendiri. Tidak boleh kita bersikukuh tidak mau berubah dengan alasan ingin menjadi diri sendiri. Menikah itu meleburnya KAU dan AKU menjadi KITA. Maka kita tidak bisa mempertahankan ego, dengan siksp tidak mau berubah. Suami dan istri harus mau berubah saling menyesuaikan dengan harapan pasangan.

 Bunda Nunung
Istri lebih suka ungkapan verbal. Suami lebih diam. Nah maslah pribadi yg muncul. Suami sering ogah dengar istrinya. Gimana tuch, ustadz?? Padahal yang di ungkapkan untuk finansial anak-anak?
Jawab
Cobalah berkomunikasi  dengan berbagai macam cara. Jika secara verbal tidak bisa, bisa dengan tulisan surat, lewat sms, whatsApp, dan lain sebagainya. Mengapa suami ogah mendengar? Ada banyak kemungkinan. Pertama, cara mengajak ngobrol yang tidak tepat. Ada kalimat yang harus diihindari demi kelancaran komunikasi. Hindari awalan kalimat seperti ini, "Kita harus bicara. Ada yang penting". Suami akan merasa sebagai 'tertuduh' jika awalannya seperti itu, sehingga ia merasa tidsk nyaman dan cenderung menghindar. Awali dengan cerita ringan dan lucu seputar anak atau kejadian menarik di sekitar. Setelah suasana terbentuk, baru mulai pembicaraan inti. Kedua, waktu dan suasana yang tidak tepat. Jika suami masih lelah sepulang kerja, berikan kesempatan untuk mandi dan rehat srkitar 30 menit. Setelah itu baru diajak ngobrol dalam suasana santai dan rileks.

Bunda semua, terimakasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas hal yang tidak berkenan. Saya undur diri. Ada tugas dakwah lain sudah menanti.

Doa Kafaratul Majelis 

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.