Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , » MENUMBUHKAN KECINTAAN PADA SANG MAHA PEMILIK CINTA

MENUMBUHKAN KECINTAAN PADA SANG MAHA PEMILIK CINTA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, October 9, 2014

Kajian Online Telegram  Hamba  اللَّهِ  SWT

Hari / Tanggal : Rabu, 08 Oktober 2014
Narasumber : Dian Alamanda
Materi : Kajian Umum
Notulen : Nurza
Editor : Ana Trienta

Assalamu'alaikuuuum
Apa kabar sahabat HA rohimakumullah? Udah bisa dimulai nih? udah pada duduk manis?hari ini temanya tentang cinta. Siapa disini, sahabat HA yang mencintai Allah? Mbak Mae, kira-kira apa tandanya kita mencintai Allah? Adakah bukti cinta kita kepada Allah? saya kasih contoh ya..

Kalau kita punya kekasih yang sangat kita cintai, ngefans berat, gimana rasanya kalo mau ketemu? deg-degan nggak tuh? Oke, sekarang coba ingat-ingat masing-masing, bagaimana rasa dan suasana hati kita saat azan akan berkumandang lima menit lagi?Adakah kita deg-degan, senang, penuh semangat menanti panggilan dari yang kita akui bahwa kita mencintaiNya? Adakah rasa itu mengalahkan segala urusan dunia yang lainnya? mereka yang mecintai adalah mereka yang memenuhi panggilan hayya 'alash sholah dengan penuh suka cita dan kerinduan. Adakah terbersit perasaan seperti itu dalam hati kita? jika tidak, mana bukti kecintaan kita kepadaNya?


Karena banyak orang yang mengaku memiliki cinta, maka mereka dituntut untuk menyodorkan bukti pengakuan itu. Andaikan merekadiberi kesempatan untuk menyampaikan pengakuannya, maka kesaksian mereka akan beragam. Lalu dikatakan, "Pengakuan ini tidak bisa diterima kecuali ada buktinya."
"Katakanlah, jika kalian (bcnar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah meugasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian'." (Ali Imran: 31)
Saya sendiri sungguh risau karena seringkali bukti cinta itu absen dalam keseharian, namun kita bisa belajar untuk menumbuhkannya. Ada beberapa sebab yang bisa menghadirkan kecintaan kepada Allah. Beberapa sebab ini bisa dibaca dalam kitab madarijus salikin karangan imam Ibnu Qoyyim. Berikut beberapa sebab yang bisa mendatangkan mahabbah kepada Allah:

  1. Membaca Al-Qur'an dengan mendalami dan memahami makna-maknanya, seperti yang dikehendaki, tak berbeda dengan menelaah buku yang harus dihapalkan seseorang, agar dia dapat memahami maksud pengarangnya.
  2. Taqarrub kepada Allah dengan mengerjakan shalat-shalat nafilah setelah shalat fardhu, karena yang demikian ini bisa menghantarkan seorang hamba ke derajat orang yang dicintai setelah dia memiliki cinta.
  3. Senantiasa mengingat dan menyebut asma-Nya dalam keadaan bagaimana pun, baik dengan lisan dan hati, saat beramal dan di setiap keadaan. Cinta yang didapatkannya tergantung dari dzikirnya ini.
  4. Lebih mementingkan cinta kepada-Nya daripada cintamu pada saat engkau dikalahkan bisikan hawa nafsu.
  5. Mengarahkan perhatian hati kepada asma' dan sifat-sifat Allah, mempersaksikan dan mengetahuinya. Siapa yang mengetahui Allah melalui sifat, asma' dan perbuatan-Nya, tentu dia akan mencintai-Nya. Karena itu orang-orang semacam Fir'aun dan golongan Jahmiyah menjadi perintang jalan antara hati dan Allah.
  6. Mempersaksikan kebaikan, kemurahan, karunia dan nikmat Allah yang zhahir maupun yang batin, karena yang demikian ini bisa memupuk cinta kepada-Nya.
  7. Kepasrahan hati secara total di hadapan Allah.
  8. Bersama Allah pada saat Dia turun ke langit dunia, bermunajat kepada-Nya, membaca kalam-Nya, menghadap dengan segenap hati, memperhatikan adab-adab ubudiyah di hadapan-Nya, kemudian menutup dengan istighfar dan taubat.
  9. Berkumpul bersama orang-orang yang juga mencintai-Nya secaratulus, memetikbuah-buah yang segar dari perkataan mereka, sebagaimana memetik buah yang segar dari pohon, tidak berkata kecuali jika merasa yakin perkataannya mendatangkan maslahat, menambah baik keadaanmu dan memberi manfaat bagi orang lain.
  10. Menyingkirkan segala sebab yang dapat membuka jarak antara hati dan Allah.
Dalam al-Maidah ayat 54 ada empat tanda cinta tersebut:
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela." (Al-Maidah:54).
Di dalam ayat ini Allah menyebutkan empat tanda:

  1. Mereka adalah orang-orang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang Mukmin. Menurut Atha', sikap ini seperti sikap orang tua terhadap anaknya.
  2. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Sikap mereka terhadap orang-orang kafir ini seperti singa yang menghadapi mangsanya.
  3. Berjihad dengan jiwa, tangan, lisan dan harta. Ini merupakan perwujudan pengakuan cinta.
  4. Tidak peduli terhadap celaan orang yang suka mencela karena urusan Allah. Ini merupakan tanda cinta yang sebenarnya. Sebab setiap orang yang mencintai tentu tidak lepas dari celaan orang lain karena cinta-nya terhadap sang kekasih.
Allah juga befirman,
"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (Al-Isra': 57).
Di dalam ayat ini Allah menyebutkan tiga kedudukan:

  • Cinta yang merupakan cara untuk taqarrub kepada Allah.
  • Bertawassul kepada Allah dengan amal-amal shalih.
  • Mengharap dan takut. Artinya mengharapkan rahmat dan takut adzab.
Orang-orang yang berbuat kebaikan, mendekatkan diri dan mencintai Allah adalah mereka yang menghendaki Wajah-Nya. Menghendaki wajah Allah ini menimbulkan kenikmatan memandang Wajah-Nya pada hari akhirat, sebagaimana yang disebutkan dalam Mustadrak Al-Hakim dan dalam Shahih Ibnu Hibban di dalam hadits marfu' dari NabiShallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau biasa membaca doa, 
"Ya Allah, dengan pengetahuan-Mu tentang yang gaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selagi hidup ini baik bagiku, dan matikan-lah aku selagi mati baik bagiku. Aku memohon ketakutan kepada-Mu saat sepi dan ramai. Aku memohon kepada-Mu kalimat yang benar saat marah dan ridha. Aku memohon kepada-Mu kesederhanaan saat fakir dan kaya. Aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak habis. Aku memohon kepada-Mu kesenangan hati yang tidak terputus. Aku memohon kepada-Mu ridha setelah qadha' dan hidup yang dingin setelah kema-tian. Aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang Wajah-Mu. Aku memohon kepada-Mu kerinduan berjumpa dengan-Mu, tanpa ada kesem-pitan dan mudharat, tanpa ada cobaan yang menyesatkan. Ya Allah, hiasi-lah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami pemberi petunjuk orang-orang yang mengikuti petunjuk."
Di dalam hadits yang mulia ini terkandung penetapan kenikmatan memandang Wajah Allah dan kerinduan berjumpa dengan-Nya. Inilah rahasia di balik kerelaan sikap Ibrahim Al-Khalil yang diperintahkan menyembelih putranya dan belahan hatinya. Sebab ketika Kekasih meminta putra beliau, maka beliau langsung menyerahkannya. Kekasih akan cemburu terhadap kekasihnya jika di dalam hatinya ada tempat bagi selain dirinya. Maka Allah memerintahkan Ibrahim untuk membunuh putranya yang tercinta, agar di dalam hati beliau tidak ada cinta yang lain.

Ketika manusia telah menjadikan Allah swt sebagai Tuhannya, maka salah satu yang harus ditunjukkannya adalah mencintai-Nya melebihi kecintaan kepada apapun dan siapapun juga. Karena itu, kecintaan yang sama antara cinta kepada Allah dengan selain Allah tidak bisa dibenarkan dalam pandangan iman, Allah swt berfirman:
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS 2:165).
"Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah, Rasul-Nya dan (dari) berjijhad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS 9:24).
Ada banyak tanda yang harus kita tunjukkan sebagai bukti bahwa kita cinta kepada Allah SWT

1. BANYAK BERDZIKIR.
Secara harfiyah, dzikir artinya mengingat, menyebut, menuturkan, menjaga, mengerti dan perbuatan baik. Orang yang berdzikir kepada Allah Swt berarti orang yang ingat kepada Allah Swt yang membuatnya tidak akan menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Nya. Ini berarti dzikir itu bukan sekedar menyebut nama Allah, tapi juga menghadirkannya ke dalam jiwa sehingga selalu bersama-Nya yang membuat kita menjadi terikat kepada ketentuan-ketentuan-Nya.

Bagi seorang muslim, berdzikir merupakan hal yang amat penting, karenanya satu-satunya perintah Allah Swt yang menggunakan kata katsira (banyak) adalah perintah dzikir kepada-Nya sebagaimana firman Allah Swt: 
"Hai orang yang beriman, berdzikirlah kamu kepada Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya"  (QS 33:41).
Untuk menggambarkan betapa penting dzikir bagi seorang muslim, Rasulullah Saw sampai mengumpamakannya antara orang yang hidup dengan orang yang mati, ini berarti dzikir itu akan menghidupkan jiwa seorang muslim, Rasulullah Saw bersabda:

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَيَذْكُرُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati (HR. Bukhari).

2. MENGAGUMI
Orang yang cinta kepada Allah swt akan kagum terhadap kebesaran dan kekuasaan-Nya, karenanya ia akan selalu memuji-Nya dalam berbagai kersempatan sebagaimana yang tercermin pada firman Allah swt: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (QS 1:2). Kekagumannya kepada Allah swt tidak akan membuat kekagumannya kepada selain-Nya melebihi kekagumannya kepada Allah swt meskipun mereka mencapai kelebihan dan kekuasaan yang besar karena semua itu memang tidak akan bisa menccapai kebesaran dan kekuasaan Allah, bahkan semua itu sangat kecil dimata Allah swt.

3. RIDHA
Orang yang cinta berarti ridha dengan yang dicintainya, karena itu bila seseorang cinta kepada Allah swt, maka iapun ridha kepada segala ketentuan-ketentuan-Nya sehingga bila ia diatur dengan ketentuan Allah swt, maka ia tidak akan mencari aturan lain, karena hal itu hanya membuat ia menjadi tidak pantas menjadi seorang mukmin sebagaimana firman-Nya: 
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata" (QS 33:36).
4. BERKORBAN
Tiada cinta tanpa pengorbanan, begitu pula halnya dengan cinta kepada Allah swt yang harus ditunjukkan dengan pengorbanan di jalan-Nya. Dalam hal apapun, manusia harus berkorban dengan segala yang dimilikinya. Orang yang bercinta pasti dituntut berkorban dengan apa yang dimilikinya. Orang yang memiliki hobi atau kegemaran harus berkorban untuk bisa menyalurkan apa yang menjadi kegemarannya itu. Orang yang berjuang di jalan yang bathilpun berkorban dengan harta bahkan jiwanya. Abu Jahal, Abu Lahab dan tokoh-tokoh kafir lainnya berkorban dengan harta dan jiwa mereka. Orang-orang munafik untuk maksud kemunafikannya juga berkorban dengan apa yang mereka miliki, meskipun pengorbanan mereka hanya akan menimbulkan penyesalan bagi mereka, Allah Swt berfirman: 
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkah harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan" (QS 8:36).
Bila mereka yang berjuang di jalan yang bathil saja mau berkorban, apalagi dalam perjuangan di jalan yang haq. Karena itu sifat pejuang sejati adalah mau berkorban dengan harta dan jiwanya, dan cinta kepada Allah swt berarti harus berkorban di jalan-Nya, ini merupakan kunci untuk mendapatkan surga-Nya, Allah Swt berfirman: 
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar (QS 9:111).
5. TAKUT
Salah satu sikap yang harus kita miliki sebagai tanda cinta kepada Allah swt adalah rasa takut kepada-Nya. Takut kepada Allah bukanlah seperti kita takut kepada binatang buas yang menyebabkan kita harus menjauhinya, tapi takut kepada Allah Swt adalah takut kepada murka, siksa dan azab-Nya sehingga hal-hal yang bisa mendatangkan murka, siksa dan azab Allah Swt harus kita jauhi. Sedangkan Allah Swt sendiri harus kita dekati, inilah yang disebut dengan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Ada banyak ayat yang membicarakan tentang takut kepada Allah dan perintah Allah kepada kita untuk memiliki sifat tersebut, satu diantara ayat itu adalah firman Allah Swt: 
"Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seseorangpun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan" (QS. 33:39).
Adanya rasa takut kepada Allah Swt, membuat kita tidak berani melanggar segala ketentuan-Nya. Yang diperintah kita kerjakan dan yang dilarang kita tinggalkan. Sementara kalau seseorang telah melakukan kesalahan dan ada jenis hukuman dalam kesalahan itu, maka orang yang takut kepada Allah tidak perlu ditangkap dan diperiksa, tapi dia akan membeberkan sendiri kesalahannya itu lalu minta dihukum di dunia ini, sebab dia merasa lebih baik dihukum di dunia daripada di akhirat nanti yang lebih dahsyat. Takut kepada Allah memang membuat seseorang akan memperbanyak amal sholeh dalam hidup di dunia ini, Allah Swt berfirman: 
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberikan makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (dihari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan (QS. 76:8-10).
Salah satu indikator takut atas dasar cinta kita kepada Allah, adalah seberapa kita merasa dalam pengawasanNya saat sendirian

6. RAJA’ (BERHARAP)
Cinta kepada Allah swt juga membuat seseorang selalu berharap kepada-Nya, yakni berharap mendapatkan rahmat, cinta, ridha dan perjumpaan dengan-Nya yang membuat ia akan selalu meneladani Rasulullah saw dalam kehidupannya di dunia ini, Allah swt berfirman: 
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS 33:21).
Khauf dan raja' ini harus ada dan saling menyeimbangkan, karena khauf saja tanpa raja' membuat kita berputus asa, dan raja' tanpa khauf membuat kita lalai

7. TAAT.
Ketaatan kepada Allah merupakan sesuatu yang bersifat mutlak, karenanya manusia tidak bisa mencapai kemuliaan tanpa ketaatan, untuk itu jangan sampai manusia mendahului ketentuan Allah Swt atau mengabaikan-Nya, Allah berfirman: 
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS 49:1).
Kunci kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya, karena itu dengan sebab para sahabat ingin menjaga citra kemuliaanya, maka mereka contohkan kepada kita ketaatan yang luar biasa kepada apa yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Rasul sama kedudukannya dengan taat kepada Allah, karena itu bila manusia tidak mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Rasulullah tidak akan pernah memberikan jaminan pemeliharaan dari azab dan siksa Allah Swt, di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman: 
"Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka" (QS 4:80).
Manakala seorang muslim telah mencintai Allah swt, maka ia akan memperoleh kecintaan dari-Nya, ini akan membuatnya bisa menjalani kehidupan dengan baik.
wallahua'lam

PENUTUP :
Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.                            
  ​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post