Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Muamalah - Kaya dan Sedekah

Kajian Online WA Hamba الله  Ayah 301
Kamis, 29 Oktober 2014
Nara sumber :Ustadz Syaikhul Muqorobbin
Admin : Sugeng
Tema   : Muamalah - Kaya dan Sedekah


 Asalaamualaykum warahmatullahi wabarakatuh
 Ahlan bikum ikhwatil karim
Bismillah walhamdulillah wash sholatu wassalamu 'ala rasulillah

“Kaya dan Sedekah”

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Ambillah ghanimah (harta berharga) dari lima perkara sebelum lima perkara;
Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
Hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Yang dimaksud "kaya" dalam Islam adalah berlebihnya harta untuk memenuhi kebutuhan dasar hari ini. Jika kebutuhan dasar hari ini hanya 100ribu, sedangkan kita punya lebih banyak, maka kita sedang kaya hari ini.

Karena itu kewajiban zakat fitri diberlakukan kepada semua orang yang memiliki kelebihan bahan makanan untuk hari raya, meskipun ia mungkin tidak punya makanan untuk hari keduanya, ketiganya, atau seterusnya!

Karena itu para ulama yang zuhud seperti Imam Nawawi tidak pernah menimbun makanan untuk hari esok, dan hari-harinya sibuk dalam mengajar ilmu atau menulis ilmu.

Karena itu, Ummul Mukminin yang terhormat bercerita bahwa keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah kenyang walaupun hanya dengan roti gandum selama 2 hari berturut-turut (Syamailul Muhammadiyyah, Imam Tirmidzi).

Kita tidak sedang membicarakan tentang hidup sederhana, tapi sedang membicarakan bahwa sebagian besar kita, bahkan seluruhnya insyaAllah, adalah orang-orang kaya. Karena apa yang kita miliki hari ini, jauh lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hari ini!

Konsekuensi kayanya kita adalah bersyukur. Maka bersyukurlah.

Konsekuensi syukur dalam harta adalah berinfaq fi sabilillah.
Maka berinfaqlah.

Allah Ta’ala berfirman,
وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ
Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka infaqkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” (QS. Al Baqarah: 219). Al ‘afwu dalam ayat di atas bermakna sedekah itu di luar kebutuhan pokok (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Bukan, bukan infaq yang kecil, karena Allah tidak sedang memiskinkan kita. Dan besar kecilnya infaq tidak ditentukan oleh jumlah, tapi oleh pengorbanan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham“. Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An Nasai dan Ahmad).

Maka ambillah manfaat (ghanimah) yang besar sebelum tiba datangnya waktu miskin, sebelum tiba waktu tak berdayanya kita memenuhi kebutuhan sendiri di hari itu. Karena tubuh yang kaku, tak bergerak, terselimut kain putih.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"
(QS. 63: 10)

Wallahul musta'an

         Tanya Jawab

1.) ana mau tanya kalau untuk pegawai yang gajiannya setiap bulan sekali, apakah menghitung kebutuhannya selama satu hari atau satu bulan, berhubung penghasilannya tidak harian tapi bulanan..?
2.) apa perbedaan infaq dan sedekah ?
3)ane mau tanya, bagaimana cara berinfak/ sodaqoh orang yang tidak  jelas penghasilannya ?

Jawaban:
 1. Pada dasarnya rezeki itu bukan terbatas pada gaji, dan walaupun mendapat gaji sebulan, belum tentu kita akan hidup sampai akhir bulan.
di satu sisi, adalah baik untuk mengatur sedekah, agar kita bisa bersedekah setiap subuh, seperti dalam hadis

“Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)” (HR Bukhary 5/270)
 2. infaq merujuk pada pemberian harta (nafkah) baik yang bersifat sunnah (kepada fakir miskin misalnya) atau wajib (kepada anak istri)

sedekah dalam hal harta mempunyai makna yang serupa dengan infaq, namun sedekah juga memiliki makna amal soleh scara umum, karena itu dalam hadis sahih dikatakan tasbih itu sedekah, tahmid itu sedekah, menyingkirkan duri dari jalan itu sedekah, bahkan senyum pun sedekah
 3. Nabi dan para sahabatnya juga tidak jelas penghasilannya, tapi mereka tetap bersedekah sebaik-baiknya

Ana juga bukan pegawai yang tetap penghasilan, tapi walhamdulillah, rizki telah ditulis di Lauhul Mahfuz dan tidak akan tertukar. Bahkan sedekah akan melancarkan rizki
 Allah berfirman dalam Al Hadid:10

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض

"Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? ..."

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa makna ayat di atas adalah anjuran untuk berinfaq fi sabilillah, dan jangan takut fakir/miskin karena berinfaq, karena Allah yang kita berinfaq di jalanNya adalah Pemilik langit dan bumi, maka ia Maha Kuasa membalas infaq kita
4)Apakah  berinfaq sebaiknya terang-terangan atau sembunyi-sembunyi?
Jawaban:
 sebaiknya sembunyi-sembunyi,  sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih tentang orang-orang  yang dinaungi di akhirat, salah satunya adalah mreka yang bersedekah dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri tidak tahu.namun bukan berarti sedekah yang terang-terangan itu jelek,telah masyhur kisah para sahabat yang mengumumkan sedekahnya di hadapan Nabi saw.

jadi dua-duanya baik, hanya saja lebih utama sembunyi-sembunyi.
mari kita cukupkan kajian hari ini dengan membaca doa,
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

 subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaa ha illa anta astaghfiruka wa atubu ilayk
wal 'afwu minkum

wassalamualaykum