Ketik Materi yang anda cari !!

PARENTING - MENDIDIK ANAK

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, October 20, 2014

REKAP MATERI KAJIAN ONLINE UMMI HA08


Narasumber : Ustazah Annisa Pertiwi
Materi : Psikologi - Parenting
Editor : Ira Wahyudiyanti, SE

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamu'alaikum wr wb. Bunda yang dirahmati Alloh.

Alhamdulillaah kajian  kali ini temanya Mendidik Anak

Kehadiran anak merupakan rezeki dan amanah jangan sampai menjadi beban bahkan menjadi ancaman serta bumerang bagi orang tua. Oleh karena itu, sangat penting peran serta orang tua dalam memberikan perhatian kasih  dan sayang serta pendidikan kepada anak. Ibu adalah guru pertama dan rumah adalah madrasah pertama (in formal) sebelum anak mengenal guru dan sekolah formal.
Banyak anak banyak rezeki, namun sebagian yang lain menyatakan cukup 2 anak. Janganlah hanya membicarakan jumlah namun bagaimana kita mendidik anak menjadi berkualitas. Karena rasulullah pernah bersabda yang intinya: “Aku tidak suka dengan ummatku  Berikut contoh cara mendidik anak :
1. Mendidik diri kita sendiri terlebih dahulu
Jika kita menginginkan anak yang baik, soleh, solehah maka jadikan dulu diri kita sebagai orang tua yang baik, soleh dan solehah. Didik diri kita terlebih dahulu sehingga dapat menjadi teladan bagi anak. Berdo'alah kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang soleh dan solehah.
2. Meyakinkan diri bahwa anak adalah sumber belajar bagi orang tua
Jangan sampai kita mempunyai kenangan buruk dimasa lalu dengan anak-anak kita. Buatlah kenangan yang bahagia bersama anak-anak. Walaupun mereka ber-ulah, bertingkah polah, namun itulah namanya juga anak-anak. Sesungguhnya mereka (anak kita) sedang menguji kita sebagai orang tua, kehadiran anak selain anugerah dan amanah serta sebagai ujian bagi orang tua. Bagaimana mengantarkan keluarga ini diharamkan dari api neraka.
: 3. Jangan biasakan mengatur semua urusan anak
Seorang anak yang tidak dibiasakan untuk berfikir/menganalisa dan mencoba memilih akan membuat IQ anak tidak berkembang dengan baik, sehingga anak tidak berkembang dan tidak kreatif, selalu diarahkan orang tua dan anak tidak bisa memilih sendiri, anak ini kepribadiannya tidak ada gejolak, just flat. Hal ini tidak sekali-kali membuat anak akan lebih baik.
Anak merasa sedih, kecewa, marah tidak mengapa, karena itu bagian untuk mencerdaskan otak dan melatih rasa. Bangunlah dialog atau komunikasi dengan anak untuk mengajarkan anak membuat pilihan. Misalnya: “pakai baju ini nak, makan ini saying, dlsb”, semua komunikasi hanya sepihak dan mendikte. Cobalah bangun diskusi sehingga anak berfikir dan mencoba untuk memilih. Jangan mematikan kesempatannya berbicara. Contoh ketika sedang dipantai bersama anak-anak, kemudian anak meminta izin:
“Ummi bolehkan dedek main pasir?” Ummi berkata: “Jangan sayang nanti dedek kotor”.
“Ummi dedek boleh main air kan?” Ummi berkata lagi: “Jangan manis nanti dedek basah”.
“Boleh main dengan teman-teman ya ummi?” “Jangan nak, nanti kamu hilang, ditengah keramaian orang-orang, nanti ummi sulit nyariin dedek”, kata Ummi lagi.
“Boleh makan es krim, ummi?” “Jangan kamu nanti flu, sakit perut”.
Demikianlah cuplikan singkat yang sangat sederhana dan kelihatan sepele yang sering kita temui sehari-hari. Pola pendidikan seperti apa yang sedang dibangun? Jangan heran ketika anak tumbuh menjadi dewasa anak tidak akan berani untuk mengeluarkan kreatifitas serta ide-ide cemerlangnya baik di lingkungan keluarga, teman sepergaulan bahkan di sekolah apatah lagi dalam kehidupan bermasyarakat. Karena anak selalu di suruh ini itu, atau dilarang ini itu. Sebaiknya jangan sekedar menyuruh dan melarang, namun berikanlah edukasi dan alasan kenapa sih ini harus dilakukan dan itu tidak boleh.  Sehingga anak dilatih untuk berargumen dan logika berfikir serta perasaannya terlatih secara simultan. Pada akhirnya anak berani memilih namun tau batasan dan konsekuensi atas semua pilihan-pilihan hidup.
4. Jangan mencela anak, pujilah
Tanpa disadari orang tua terutama ibu sering mencela anak. Misalnya “anak saya kok ndak bisa diatur, anak saya kok nakal banget ya, saya antar jemput dari SD sampe SMA kelas 2, anaknya gak PDan, banyak alasan untuk berangkat sendiri, kelus seorang ibu, anak saya kok bla,,,bla,,,bla”.  Anak malah dicela didepan teman-teman kita bahkan di depan anak kita sendiri, akibatnya menjadikan adak tidak PD/Percaya Diri.
‬: 5. Menyekolahkan
Sekolah adalah tempat kedua setelah lingkungan keluarga untuk tempat anak berkembang. Maka usahalah untuk memilih sekolah yang baik dan mengutamakan nilai nilai agama.

6. Jangan terlalu berlebihan menyalahkan anak ketika anak berbuat ulah
Seringkali kita melihat dan mendengar orangtua sering kali menyalahkan anak. Misal, sang anak tidak sengaja memecahkan piring/gelas. Lantas orangtua langsung berkata, "tuh kan, ibu bilang juga apa. Jangan ambil sendiri. Pecah deh". Hal itu akan membuat anak merasa tidak mampu melakukan sesuatu. Bisa berdampak pada kehidupannya di masa mendatang.
Sekian sharing dari saya. Silahkan kalau bunda bunda ingin bertukar pendapat

 PERTANYAAN DAN JAWABAN 

Belasan bahkan puluhan thn lalu ktk punya anak 1 ilmu msh sdkt skl, seiring bertambah anak ilmu sdkt bertambah , bgm mengatasi , mengobati, memperbaiki, kesalahan yg sdh terlanjur tjd pd anak2 yg lbh dllahir

Buat saya proses menjadi orangtua adalah proses pembelajaran seumur hidup. Sebanyak apapun ilmu yang dimiliki, pasti ada kesalahan yang kita lakukan sebagai manusia dalam mendidik anak. Ketika kita melakukan kesalahan, lihat ke anak, apakah ada tingkah laku atau sifatnya yg kurang berkenan akibat kesalahan didikan kita. Jika ada, beritahulah baik baik kepada anak. Dampingi anak untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Serta berdo'a kpd Allah agar menjadikan anak kita sebagai anak yg qurrota a'yun

ustadzah gimana mengurangi rasa cemas yang berlebihan terhadap anak.
Karena saat ini kriminalitas  semakin meningkat. Berbagai kejahatan terhadap anak semakin merajalela. Akhirnya kita cemas kalau mau melepaskan anak2 pergi....


Kecemasan itu penting untuk dirasakan bunda. Namun jangan berlebihan. Jika cemas berlebihan kepada anak, kita bisa mendampingi anak kita saat berpergian. Atau bisa mengawasi jika anak ingin bermain. Kalau sudah waktunya anak harus mandiri, maka bunda bisa mangatur komunikasi dengan anak. Misal : Meminta anak mengabarkan bunda dalam waktu yg ditentukan. Dan pasrahkan semuanya pada Allah.

Ustdzah.. ana sering baca ketika mendidik anak,, kurangi menggunakan kata jangan atau tidak kepada anak jika ingin melarang mereka melakukan hal yang tidak baik dan tidak benar.. belakangan ada lg mendengar.. justru yg begitu tdk sesuai dgn pedoman hidup kita dlm Al qur'an,, justru dlm Al Qur'an,, Lukmanul Hakim memperbanyak kata "jangan"demi kebaikan aqidah anak2 nya.. bagaimana yg benar ustadzah.. jazakillah



Memang sebaiknya gunakan kata "jangan" seperlunya, jika memang itu terkait prinsip dan harus melakukan pelarangan terhadap anak. Kata-kata positif lebih mudah dicerna dengan baik oleh anak. Terkait ketidaksesuaian dalam al-Qur'an, bukankah al-Qur'an juga mengajarkan perintah yg positif? Misal : Berpuasalah, dirikanlah solat, bersabar, dan masih banyak lagi. Wallahualam.

Alhamdulillaah byk yg sedang mengandung..

Boleh share tips agar mendapat anak yg sholeh/ah n pintar dunia-akhirat?..

Jzklh kk ustadzah..



Kalau ditanya tips, tentu masing masing kita punya cara tersendiri bagaimana mendidik anak. Namun yang terpernting adalah menjaga hubungan kita sebagai orangtua kepada Allah. Kemudian didik anak untuk mengutamakan akhirat. Sebab orang orang yg mengejar akhirat, insya Allah akan mendapatkan dunia. Bagaimana mengejar akhirat? Banyak banyaklah beribadah kepada Allah. Wallahualam.

Ustadzah. ...
Apakah benar pola asuh kita di waktu kecil dulu akan terbawa ketika kita sdh menjadi orang tua? Sbrp besar pengaruhnya?
Jk pd waktu kecil, seseorang di besarkan dg byk kekerasan fisik dan verbal, bagaimana cara mencegah dirinya utk tdk berbuat hal yg sama thd anak2nya? Krn katanya, jk sdg emosi, otak reptil yg bekerja, alam bawah sadar kita yg mungkin byk negatif yg menguasai.
Terima kasih ustadzah.


Memang dalam teori mengatakan bahwa seseorang yg tumbuh dengan kekerasan biasanya cenderung akan melakukan kekerasan juga. Namun itu dilakukan dengan sadar. Jika dialam tidak sadar, itu tanda tanda ada sakit kejiwaan bunda.

Seseorang yg beruntung adalah orang yg belajar dari pengalaman. Jika dia tidak suka dengan cara pengasuhan orangtuanya terdahulu, maka dia akan berusaha untuk mengasuh anaknya dengan baik.
(lanjutan)

Memang terkadang akan ada hal hal yg kita bawa dari pengasuhan orangtua kita. Namun selama kita sadar, insya Allah kita bisa mengontrol. Disini peran pasangan sangat membantu untuk mengawasi kita kita yg mungkin suka terbawa emosi
Subhanalloh... Pertanyaan bunda ade mengingatkan pd peristiwa pembunuhan 3 org anak oleh ibu kandungnya

Afwan ustadzah mau menambahkan dr pertanyaan bunda ade bgm cara kita menghilangkan memori buruk yg pernah kita alami tersebut?

Memori yang berkesan (baik buruk maupun bahagia) sulit dilupakan ummi. Kecuali kalau amnesia. Hehe.. Satu satunya hal yang harus  dilakukan adalah menerima memori buruk tersebut. Berteman baik dengan hal hal buruk yang terjadi. Ketika sudah berada pada titik terendah dalam hidup, jalan satu satunya adalah bangkit keatas. Bukan menghilang tanpa bekas.
Syukuri apa yang sudah didapat. Bangun hubungan yg baik dengan Allah dan orang orang yg menyayangi kita. Ciptakan memori memori lain yg membahagiakan.

Baiklah kita tutup dng Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.

                          ​السَّلاَمُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post