Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , » RITUAL TAHLILAN SELAMATAN KEMATIAN, 7 BULANAN,TABUR BUNGA

RITUAL TAHLILAN SELAMATAN KEMATIAN, 7 BULANAN,TABUR BUNGA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, October 23, 2014


Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ  SWT (NANDA 109)

Hari / Tanggal : Rabu, 22 Oktober 2014
Narasumber : Ustadz W.A.R Dani
Materi : Ritual Tahlilan
Admin : Fifit
Ketua : Nursiah
Notulen : Lastri

1. Dalil pengkhususan waktu selamatan kematian (1 hari, 3 hari, 40 hari dan seterusnya).
“Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu" (Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193).
Perintah penyembelihan hewan persembahan pada hari tersebut diatas:
“Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara korban persembahan selamatan, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.” (Isi Kitab agama Hindu "Panca Yadnya" hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39).
Perkataan Ulama Hindu:
“Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian (sumbernya dri orang Jawa) pada hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran dri agama kami agama Hindu” (Demikian kata Ida Bedande Adi Suripto ulama Hindu) --> semoga mereka dapat hidayah dan masuk Islam, lihat kitab “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa”).
2. Dalil selamatan (kenduri/kenduren) kirim doa:
“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyad aduweni narah”. “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui” yaitu para dewa. Yang gunanya untuk menjauhkan kesialan" (Kitab sama weda hal. 373 no.10).
a. Dewa Yatnya, yaitu acara selamatan kenduri korban persembahan suci yang secara tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.

b. Pitra Yatnya Yaitu selamatan kenduri persembahan korban suci yang ditujukan kepada leluhur (sebagai pengeling- eling/perungatan) dengan kirim doa dan memuji yang ada di akhirat supaya memberi pertolongan kepada yang masih hidup.

c. Manusia Yatnya Yaitu selamatan persembahan korban yang diperuntukan kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai dan tentram.

d. Resi Yatnya Yaitu selamatan persembahan korban suci yang diperuntukan kepada guru, para alim ulama atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan).

e. Buta Yatnya Yaitu selamatan persembahan korban suci yang diperuntukan kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak (ghoib), untuk kemulyaan dunia ini. (kitab Siwa Sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’ dan pada Upadesa hal. 34).

Apa Dasar yang Lain dalam Hindhu???
Rukun Iman Hindhu (PANCA SRADA) yang harus diyakini umat hindu, yaitu:
1. Percaya adanya sang hyang widhi.
2. Percaya adanya roh leluhur.
3. Percaya adanya karmapala.
4. Percaya adanya smakra manitis.
5. Percaya adanya moksa.

PANCA SRADA juga punya rukun, yaitu:
1. PANCA YAJNA (artinya 5 macam selamatan)
  • Selamatan DEWA YAJNA (selamatan persembahan yang ditujukan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau biasa dikenal orang dalam istilah dengan,” memetri bapa kuasa ibu pertiwi “).
  • Selamatan PRITRA YAJNA (selamatan persembahan yang ditujukan kepada arwah para Leluhur).
  • Selamatan RSI YAJNA (selamatan persembahan yang ditujukan pada guru, para alim ulama atau kirim do’a yang ditujukan kpada arwah para Guru, biasanya di punden/ndanyangan/kuburannya). Kalau di kota di namakan dengan nama lain yaitu “Selametan Khaul” memperingati kiyainya/gurunya & semisalnya, yang tlah meninggal dunia.
  • Selamatan MANUSIA YAJNA (selamatan persembahan yang ditujukan pada hari kelahiran atau dikota disebut “Ulang Tahun” ).
  • Selamatan BUTA YAJNA (selamatan persembahan yang ditujukan pada hari hari baik), misalnya kita ambil contoh biasanya pada beberapa masyarakat islam (jawa) melakukan selamatan hari kebaikan pada awal bulan ramadhan yang disebut “selamatan Megengan”.
Ancaman Akibat yang tidak di Selameti dalam Keyakinan Hindhu, yaitu: Buka dalilnya Di Kitab Suci Umat Hindhu di dalam Kitab SIWASASANA HALAMAN 46-47 CETAKAN TAHUN 1979.

Bagi yang tidak mau lakukan selamatan, arwah mereka yg di peralihan hidup kembali (balik) ke dalam dunia bisa berwujud menjadi hewan atau bersemayam di dalam pohon. Makanya kalau anda ke Bali banyak pohon yang dikasih kain-kain dan sajen-sajen itu, karena mereka meyakini roh leluhurnya yg balik ke dunia ada dalam pohon itu, dan bersemayam dalam benda-benda bertuah misal keris dan jimat dll, akibat keluarganya tidak melakukan selametan.

Di hari sukra umanis (jum’at legi) keris atau jimat-jimat tersebut harus diberi bunga & sajen-sajen. Dewa Asura akan marah besar jika orang atau keluarga orang tersebut tidak mau melakukan selamatan, maka dewa asura akan mendatangkan bala/bencana & membunuhi manusia yang ada di dunia dengan musibah musibah.

Dewa Asura atau dikenal dalam masyarakat Jawa dengan nama Bathara Kala. Makanya dalam kepercayaan hindu, anak ontang anting (tunggal) harus diruwat (dengan ritual doa doa selamatan dan dengan sesajen) karena takut batharakala murka. Anak sendhang kapit pancuran (anak wanita diantara kedua saudara kandung anak laki-laki) harus diruwat karena takut batharakala marah dan ganggubsang gadis, rabi ngalor ngulon merga rawani karo betharakala (nikah tidak boleh melamar dengan orang yang arah rumahnya ke utara dan barat, karena takut celaka dan tidak diridhoi bathara kalaq) dan masih banyak lagi ritual kepercayaan hindu jawa yang dalam pelaksanaannya setelah berislam  diisi dengan tahlilan, dIkir, doa dan sholawatan.

Lalu dijelaskan dalam ajaran Hindu akibat yang di Selameti dalam Keyakinan Hindhu, yaitu:
Dalam keyakinan hindu bagi keluarga yang taat mau melaksanakan ajaran britual selamatan, maka mereka langsung punya tiket ke surga.

2. Ajaran dengan simbol Nasi Tumpeng
Konsep dalam agama hindu: dalam kitab Manawa Dharma Sasra Wedha Smrti, Bagi Orang yang Berkasta Sudra (Kasta yang Rendah) yang Tidak Bisa Membaca Kalimat Persaksian:
Hom Suwastiasu Hom Awi Knamastu Ekam Eva Adityam Brahman, Bagi yang Tidak Bisa Mengucapkan Kalimat dalam Bahasa Sansekerta di atas Sebagai Penggantinya Mereka Cukup Membuat  Tumpeng, Bentuknya adalah Segitiga kerucut. Tumpeng Segitiga kerucut dimaksud adalah simbul mempersembahkan sesajen kepada Trimurti (Shiwa, Vishnu, Brahma = Brahman) Artinya Tiga Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Umat Hindgu Mengatakan Barang siapa yang Membuat Tumpeng maka Dia Sudah bersaksi sebagai orang yang Beragama Hindhu. Nah umat islam yang tidak tahu suka ikut ikutan, selamatan dengan membuat tumpeng atau potong tumpeng.

Dikitab BAGHAWAGHITA di jelaskan bahwa dengan selamatan nasi tumpeng tersebut TUHAN nya orang hindu akan datang dan minum sesembahan (biasanya;ditaruh 3 gelas di sekitar tumpeng, ada teh manis, kopi dan susu) dan ditengahnya ada tumpeng tersebut lengkap dengan sayur mayur dan lauk pauknya, dan di depan dewa brahma ada sajen-sajen lainya sebagai hiasan tumpeng.

3. Selamatan dan upacara Ketika ada yang Meninggal
Pemberangkatan mayat diwajibkan dipamitkan di depan rumah lalu beberapa sanak keluarga akan lewat di bawah tandu mayat (tradisi brobosan), karena umat hindu meyakini brobosan sebagai wujud bakti pada orang tua dan salam pada dewa. Dalam hindu mayat di tandu lalu diatasnya diberi payung, pemberangkatan mayat menggunakan sebar/sawur bunga, uang logam, beras kuning, dll, lalu bunga di ronce (dirangkai dengan benang) lalu di taruh/dikalungkan di atas keranda mayat. Hindu meyakini bahwa bunga tersebut ada kekuatannya:
a. Bunga warna putih mempunyai kekuatan dewa brahma.
b. Bunga warna merah mempunyai kekuatan dewa wisnu.
c. Bunga warna kuning mempunyai kekuatan dewa siwa.

Umat hindu berkeyakinan bunga bunga itu berfungsi sebagai kekuatan pendorong do’abagar dewadewa diatas mengabulkan. (muspha/trisandya) dan pewangi.

4. Ketupat lebaran
Di dalam keyakinan hindu roh anak yang telah meninggal, setiap menjelang hari raya akan pulang ke rumah, nah sebagai penghormatan orang tua kepada anak. Maka tradiri agama hindu saat tiba hari raya membuat dan pasang kupat diatas pintu berikut opor ayam dan di bagi-bagikan kepada tetangga yang datang. Dengan penjelasan diatas maka teranglah bahwa ritual-ritual itu bukanlah sesuatu yang baru (bid'ah) dalam agama hindu.

Akan tetapi menjadi bid'ah bahkan menjurus kepada kemusyrikan, apabila itu dikerjakan oleh umat islam dan dianggap sbg bagian dari ajaran islam. Seperti yang kita ketahui agama islam lahir ribuan tahun setelah adanya agama hindu tersebut. Hanya saja beberapa "Orang islam yang masih cinta kepada syariat agama Hindu" itu menggunakan kalimat TAHLIL (Laa ilaha illallah) atau membaca surat YASIN pada saat melaksanakan ritual-ritual tersebut. Alasannya, untuk mempertahankan tradisi ajaran walisongo. Inilah alasan dusta hasil rekayasa pembuat bid'ah, agar umat islam mau menerima dan terus melestarikannya.

Jadilah serupa tapi tak sama dengan ajaran islam. Islam tidaklah mengenal ritual-ritual tersebut, dan tidak ditemukan dalilnya baik didalam Alqur'an Al hadits maupun ijma' para sahabat. meminjam istilah fiqih "laukana khairan Lasabaquunaa ilaihi" (kalaulah seandainya perbuatan/amal itu baik, tentulah para sahabat mendahului kita mengerjakannya). Nah dalil syariat tersebut memang ada, tapi dari syariat agama hindu.

Islam adalah agama yang sempurna, tidak perlu lagi ditambah-tambahi dengan syari'at baru, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita agar menjauhi bid'ah dalam sabdanya:
“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”. (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya).
“Sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk muhammad sholullah alaihi wasalam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR Abu dawud , an-Nasa’i, Ahmad).
Kita tentu tak mau agama kita yang mulia ini mengalami nasib serupa seperti agama-agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen) dimana alasan adat budaya telah mengambil alih dalil-dalil utama kitab suci sendiri. Karena alasan menghormati leluhur dan budaya lokal. Allah azza wajalla telah memperingati kita dalam firmanNya:
”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Qs. Al-Baqarah:170).
Allah juga berfirman:
“Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya” (Qs. Al-Baqarah:42).
Allah menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah? Selanjutnya Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (Qs. Al-Baqarah:208).
Allah menyuruh kita dalam berislam secara kaffah (menyeluruh) tidak setengah-setengah. Setengah Islam setengah Hindu...!!

Jadi kalo sudah nyatakan sebagai muslim, jangan amalkan tradisi yang tidak bersumber dari ajaran islam. Meskipun di dalam ritualnya diganti bacaan bacaannya dengan dzikir dan doa yang islami. Wallahu a'lam. 
Demikian. Silahkan di sharing dalam grup. Wassalam.
Willyuddin Abdul Rasyid Dhani

Tambahan ayat untuk penutup.
Golongan-Golongan yang bersekutu (Al-'Aĥzāb):36 -Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaykum wr wb.

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post