Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

SABAR PART 1


Kajian Online Telegram Akhwat Hamba  اللَّهِ  SWT

Hari / Tanggal : Jum'at, 31 Oktober 2014
Narasumber : Ustad kholid Syamhudi Lc
Notulen : Nurza
Editor : Ana Trienta

Wa'alaikumussalam... shabahul Khoir. Sebelumnya mohon maaf langsung ana kasih materi, mumpung longggar.

Sabar Tanpa Batas
Sabar merupakan perkara penting dalam menghadapi gelombang kehidupan ini baik perkara yang menimpa seseorang sehingga terpaksa tabah menghadapinya dan ada yang tidak dipaksa alias ikhtiyari. Allah senantiasa menguji hambaNya dengan rintangan dan cobaan untuk menjelaskan mana yang benar-benar jujur dan yang dusta. Lihatlah firman Allah:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ () وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabut 29:2-3)


Nah untuk menghadapi cobaan dan rintangan itu membutuhkan kesabaran. Lihat aja kehidupan kita selalu saja tidak lepas dari kata “CAPEK” atau lelah. Sabar merupakan hal yang vital dan dibutuhkan dalam kehidupan anak manusia didunia ini. Oleh karena itu Allah sebutkan kata “SABAR” dalam al-Qur`an lebih dari 90 kali. Sebagaimana dijelaskan dalam pernyataan ibnu Taimiyah: Allah telah menyebut SABAR dalam al-Qur`an lebih dari sembilan puluh ayat. Allah menyebutnya bersama dengan shalat dalam firmanNya:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS al-Baqarah/2 : 45).

Allah berfirman:
اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Qs al-Baqarah/2 : 153).

Allah berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ () وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. dan bersabarlah, karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Hud/ : 114-115).

Allah berfirman:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. (QS Thaha/20 : 130)

Dan Allah berfirman:
فَاصْبِرْ إنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu.(Qs Ghaafir/40: 55)

Allah juga menjadikan imamah dalam agama sebagai hasil dari sabar dan yakin dengan firmanNya:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

"dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami." (Qs-Sajdah/32 : 24)

Karena agama seluruhnya adalah ilmu tentang kebenaran dan beramal dengannya. Beramal dengan ilmu yang benar harus membutuhkan kesabaran, bahkan mencari ilmunya butuh kepada sabar, sebagaimana disampaiakan Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu :
Wajib atas kalian berilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah, mengenalnya adalah rasa takut, membahas tentang ilmu adalah jihad dan mengajarinya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah serta mengingat ilmu adalah tasbih. Dengan ilmu Allah dikenal, diibadahi dan diagungkan serta ditauhidkan. Allah mengangkat dengan ilmu beberapa kaum dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan imam yang menjadi petunjuk bagi mereka dan mereka melaksanakan pendapatnya.
Sehingga jadilah membahas masalah ilmu termasuk jihad dan jihad mesti membutuhkan kesabaran, oleh karena itu Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ إنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Qs al-Ashr/103 : 1-3)

Allah juga berfirman:
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (Qs shaad/38 :45)

Ilmu yang manfaat adalah sumber petunjuk dan mengamalkan kebenaran adalah Rasyaad. Lawan yang pertama adalah dhalal (kesesatan) dam lawan kedua adalah al-Ghai (penyimpangan). Sehingga kesesatan adalah beramal tanpa ilmu dan penyimpangan adalah mengikuti hawa nafsu. Allah berfirman:

وَالنَّجْمِ إذَا هَوَى مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى

Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. (Qs an-najm/ : 1-2).

Petunjuk hanya didapatkan dengan ilmu dan rasyaad (benar) hanya didapat dengan kesabaran. Oleh karena itu Ali berkata: 
Ketahuilah sesungguhnya kesabaran pada iman seperti kedudukan kepala dari badan. Apabila terputus kepalanya maka tubuh terpisah kemudian beliau meninggikan suaranya seraya berkata: Ketahuilah tidak ada iman pada orang yang tidak memiliki kesabaran. (At-Tuhfah al-Iraaqiyah fi A’maal al-Qulub 1/17 dan Majmu’ al-Fatawa 10./39).
Demikianlah ungkapan beliau dalam menjelaskan urgensi sabar dalam kehidupan seorang muslim. Sehingga kalau boleh dikatakan hidup tanpa sabar bagaikan berjalan dikegelapan tanpa pelita cahaya. Pantaslah bila Rasululloh SAW menyatakan:
الصَّبْرُ ضِيَاءٌ

Sabar adalah sinar cahaya (HR Muslim).

Rasululloh menggunakan kata (ضِيَاءٌ) yang berarti sinar cahaya yang memiliki unsur panas dan membakar. Demikian juga sinar cahaya matahari dinamakan juga ضِيَاءٌ  karena memiliki sifat panas dan membakar, seperti dalam firman Allah: 
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya (QS. 10:5)
Manakala sabar menjadi perkara sulit bagi kita, karena membutuhkan perlawanan kepada hawa nafsu dan pengekangan keinginan jiwa maka jadilah sabar itu sinar (ضِيَاءٌ).

Hakekat Sabar
Bila kita ingin mengetahui hakekat sabar yang benar maka harus dikembalikan kepada asal pengertian bahasanya. Sabar dari bahasa Arab yang tersusun dari huruf (ص), (ب) dan (ر). Yang memiliki pengertian menahan (al-Habsu).  Inilah pengertian dari firman Allah:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; (Qs al-Kahfi/18 : 28).

Sedangkan dalam istilah para ulama, diungkapkan dengan berbagai ungkapan, diantaranya:
  • Ar-raaghib berkata: Menahan diri sesuai tuntutan akal dan syariat atau dari yang dituntut keduanya untuk menahannya.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Dengan demikian jelaslah sabar tidak mesti ngalah tapi menahan diri untuk berbuat yang tidak baik. Bila harus marah, maka dia bersabar dengan menahan diri agar marahnya tidak berakibat buruk tapi berakibat baik bagi yang dimarahi dan juga bagi dirinya dan orang lain.

Jenis Sabar
Berbicara tentang sabar, para ulama menyatakan bahwa sabar yang terpuji ada tiga jenis:
1. Sabar melaksanakan ketaatan 
Hal ini diperintahkan Allah, seperti dalam firmanNya:
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat(yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. (QS. 20:132)
Ketaatan ini perlu kerja keras, karena harus melawan hawa nafsu agar dapat melaksanakan satu ketaatan. Coba saja jujur dalam mengakui kesalahan atau kelebihan orang lain, wah berat apalagi bila berisiko kerugian moriil atau material.

2. Sabar menghindari kemaksiatan dengan pengertian sabar menahan dirinya dari berbuat maksiat. Lihat saja untuk tidak berbohong dalam satu perkara butuh kesabaran.

3. Sabar menghadapi takdir Allah dengan ridho dan menerima ujian, cobaan dan musibah yang Allah timpakan kepada kita. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. 2:155)
Ibnu al-Qayyim berkata:
Sabar ditinjau kepada jenis yang disabari ada tiga jenis: Sabar dalam melaksanakan perintah dan ketaatan sehingga menunaikannya, sabar dari kemaksiatan dan menyelisihi syariat hingga tidak terjerumus padanya dan sabar atas takdir dan qadha hingga tidak marah dengannya. Inilah tiga jenis sabar yang disampaikan syeikh Abdulqadir al-Jaelani dalam kitab Futuh al-Ghaib: seorang hamba mesti meghadapi perintah yang dilaksanakannya, larangan yang dijauhinya dan takdir yang disabarinya. (Iddatush-shabirin ).
Lihat penjelasan pernyataan Syeikh Abdulqadir al-jaelani
Pernyataan Syeikh Abdulqadir Al Jailani ini memiliki dua sisi; sisi pertama dari Allah dan sisi yang lainnya dari hamba. Allah Ta'ala memiliki dua hukum atas hambaNya yaitu hukum syar'i dan hukum kauniyah. Hukum syar'I berhubungan dengan perintah Allah dan hukum kauniyah berhubungan dengan penciptaanNya, sebab Allahlah yang memiliki penciptaan dan perintah, sebagaimana firmanNya:

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS. Al A'rof  7:54)

Hukum syar'I yang menjadi hak Allah itu ditinjau dari yang dituntut ada dua; pertama yang dituntut itu dicintai Allah, maka harus dikerjakan ada kalanya hukumnya wajib atau Sunnah dan ini tidak bisa dilakukan secara sempurna tanpa kesabaran. Apabila hal itu dibenci Allah maka yang harus dilakukan adalah meninggalkannya, baik hukumnya haram atau makruh. Ini juga harus dengan kesabaran. Adapun hukum kauniyahnya inilah yang dinamakan ketetapan dan takdir Allah. Inipun butuh kesabaran. Sehingga agama ini kembali kepada tiga hal ini yaitu melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan sabar menghadapi takdir Allah.

Ini dari sisi Allah. Sedangkan dari sisi hamba sendiri, mereka tidak akan lepas dari tiga perkara ini selama masih menjadi mukallaf. Tidak akan lepas dari tiga perkara diatas sampai hilang darinya beban taklief (tidak jadi mukallaf lagi). Padahal ketiga perkara diatas tidak akan dapat dihadapi seorang hamba kecuali dengan kesabaran, sehingga seorang hamba harus memiliki tiga kesabaran; sabar diatas ketaatan dan perintah Allah hingga menunaikannya, sabar dari maksiat dan larangan Allah sampai tidak terjerumus padanya dan sabar menghadapi takdir dan ketetapan Allah hingga tidak murka dengannya.
Ketiga hal inilah yang diwasiatkan Luqman kepada anaknya dalam firman Allah:

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَآأَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman 31:17)

Demikian juga Allah sampaikan tiga perkara ini dalam firmanNya:

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ {} الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ وَلاَيَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ {} وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآأَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ {} وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ {}

Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. Ar Ra'd 13:19-22)

Ibnul Qayim dalam kitab Idatush Shobirin menyatakan: "Yang dimaksud bahwa ayat-ayat ini mencakup seluruh kedudukan (Maqam) islam dan iman. Ayat-ayat ini mencakup pelaksanaan perintah dan meninggalkan larangan dan sabar menghadapi takdir Allah. Allah juga sampaikan tiga perkara ini dalam firmanNya:
وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا

Jika kamu bersabar dan bertaqwa (QS. Alimron 3:186)

Dan:
مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ

Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, (QS. Yusuf 12:90)

Serta:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. Alimron 3:200)

Maka seluruh ayat yang digabungkan ketakwaan dengan sabar mencakup tiga perkara ini, karena hakekat takwa adalah melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan".

Sabar dalam ketaatan
Yang dimaksud dengan sabar dalam ketaatan adalah sabar dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan yang Allah wajibkan kepada hambaNya; karena jiwa secara tabiat tidak ingin beribadah dan inginnya diberi karunia dan nikmat. Hal itu karena beratnya pelaksanaan ibadah apalagi dengan godaan syitan dan hawa nafsu yang mengusiainya serta keinginan untuk rehat dan nganggur serta malas. Kebutuhan seorang muslim pada kesabaran dalam ketaatan ini sangat mendesak sekali. Allah berfirman

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (Qs Maryam/19 : 65)

Dalam ayat ini Allah menggunakan kata () karena mengandung makna kesabaran yang lebih, karena jalan kepada ketaatan penuh dengan rintangan dari dalam dan luar dirinya. Imam Abul Hasan al-Mawardi berkata: 
Sabar dalam melaksanakan perintah Allah dan berhenti dari larangan Allah menjadikan ketaatan bersih. Dengan bersihnya ketaatan maka sahnya agama dan tertunaikan kewajiban dan berhak mendapatkan pahala. Tidaklah orang yang sedikit sabarnya dalam ketaatan mendapatkan bagian dari kebaikan dan juga bagian dari keshalihan. Siapa yang tidak melihat dirinya sabar mendapatkan pahala dan menolak siksaan maka bersama jeleknya ikhtiyaar jadi jauh dari rasyaad dan pantas menjadi sesat. Jenis kesabaran ini hanya ada karena keputus asan yang tinggi dan sangat takut. Karena orang yang takut kepada Allah maka akan bersabar dalam ketaatannya dan yang putus asa dari (selamat) siksaaannya maka akan melaksanakan perintahnya. (Adabud Dunya wad Din hlm 277).
Karena urgennya kesabaran dalam ketaatan ini, nash-nash syariat menjelaskan perintah pada lebih dari beberapa ibadah dan ketaatan, diantaranya:

1. Perintah sabar dalam melaksanakan sholat seperti firman Allah:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Qs Thahaa/20 : 132).

2. Perintah sabar dalam jihad dijalan Allah, seperti firman Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ () وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ()

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya[620] agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Qs al-Anfaal/8 :45-46).

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

يا أيها الناس لا تتمنوا لقاء العدو ، واسألوا الله العافية ، فإذا لقيتموهم فاصبروا

Wahai manusia. Janganlah berangan-angan berjumpa musuh dan mohonlah kepada Allah afiyah. Apabila kalian berjumpa mereka maka bersabarlah (HR Abu Dawud dan dishahihkan al-Albani dalam shohih Sunan Abi Dawud ).

3. Perintah bersabar dalam melaksanakan perintah dakwah kepada Allah, seperti firman Allah menceritakan wasiat Luqman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Qs Luqman/31 : 17).

4. Perintah bersabar untuk kokoh diatas agama dan berpegang teguh dengannya. Sebagaimana dalam kisah ancaman Fir’aun kepada bani israil dengan membunuh anak-anak lelaki dan membiarkan hidup wanita dan Nabi Musa ‘Alaihi salam tetap menyatakan kepada mereka:

اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

"Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Qs al-A’rof/ 7 : 128)

Seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam ketaatan ini dalam tiga keadaan:
  1. Sebelum memulai ketaatan, hal itu dengan meluruskan niyat dan ikhlas.
  2. Ketika melaksanakan ketaatan. Hal itu dengan senantiasa sabar atas kekurangan yang ana dan menjaga niyatnya serta menghadirkan hatinya kehadapan Allah.
  3. Setelah selesai melaksakan ketaatan. Hal itu dengan sabar melaksanakan yang telah dituntut dan sabar dari pandangan orang-orang serta sikap ujub.
Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, 
“Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya. Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
Jadi digroup ini nggak usah ribut dan tegang semua disabari dan dibuat santai. Yang salah minta maaf dan yang benar segera banyak bersyukur dan mengembalikan keutamaannya kepada Allah semata.

Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, 
“Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka. Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Demikian sekarang keadaan kita yang ingin berpegang teguh dan komitmen dengan ajaran Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam banyak mendapatkan cobaan. Apalagi ingin menjadi "HAMBA ALLAH"...

Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, 
“Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang. Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka. Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)
Ini semua masuk dalam ketegori pertama yaitu sabar dalam ketaatan. Jadi kalo sedang berdakwah harus sabar. Kadang audiens inginnya semua ditunaikan segera dan segera mendapatkan kebutuhan ilmunya tanpa pandang keadaan juru dakwah. Telpon berdering ditengah malam hanya untuk menyapa " Bagaimana kabarnya pak Ustadz?". Semua harus dihadapi dengan sabar dan ridha serta berharap pahala dari Allah Ta'ala.

Sabar dari kemaksiatan
Yang dimaksud sabar dari kemaksiatan adalah sabar dari larangan Allah berupa kemaksiatan dan perkara haram dan menahan syahwat serta memerangi hawa nafsu dan mengekangnya sehingga tidak terjerumus dalam kehinaan dan kerendahan. Allah menjelaskan tentang akibat baik sabar dari maksiat dalam firmanNya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (Qs an-naazi’at/72 : 39-40).

Ibnu Taimiyah berkata mengomentari ayat ini:
Seorang muslim butuh takut kepada Allah dan menahan jiwa dari hawa nafsunya. Apabila jiwanya menginginkan hawa dan dia melarang jiwa tersebut, maka larangannya itu adalah ibadah dan amalan shalih. Nabi pernah bersabda:

المجاهد من جـاهد نفسه في ذات الله

Mujahid adalah orang yang memerangi jiwanya pada dzat Allah.

Diperintahkan memerangi jiwa sebagaimana diperintahkan memerangi orang yang memrintahkan bermaksiat dan mengajak kepadanya. Muslim lebih butuh kepada memerangi jiwanya, karena ini adalah fardhu ‘ain dan itu adalah fardhu kifayah. Bersabar dalam hal ini termasuk amalan yang paling utama, karena jihad ini adalah hakikat jihat yang itu. Siapa yang sabar atas hal ini berarti sabar juga atas jihat yang itu, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

والمهاجر من هجر السيئات

Muhajir adalah yang berhijrah dari kejelekan. ( Majmu’ fatawa 10/635-636).

Alangkah butuhnya seorang hamba kepada sabar dari kemaksiatan. Allah telah menyatukan semua jenisnya dalam firman Allah. Jenis sabar meninggalkan maksiatan yang paling berat adalah sabar dari kemaksiatan yang sudah menjadi kebiasaan. Apabila kebiasaan bergabung kepada syahwat maka muncullah dua tentara dari tentara-tentara syeitan mencoba mengalahkan tentara Allah dan benteng agama tidak kuat untuk menghancurkannya kecuali dengan kesabaran, kemudian apabila perbuatan tersebut termasuk yang mudah melakukannya maka sabarnya lebih berat atas jiwa, (lihat Ihya ulumuddin 4/65-66).

Alangkah besarnya kesabaran para sahabat dalam bersegeranya mereka meninggalkan khamr ketika terjadi pengharamannya dalam firman Allah :
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Qs al-Maaidah/5 : 90-91).
Ibnu al-Qayyim berkata: 
Beratnya kesabaran sesuai dengan kuatnya faktor pendorong berbuat dan kemudahannya pada seorang hamba. Apabila bersatu dalam satu perbuatan dua hal ini, maka kesabaran darinya lebih berat atas orang yang bersabar. (Idatush Shabirin hlm 74).
Materi-materi lainnya bisa dilanjutkan jum'at depan insya Allah, diantaranya:
1. Mengapa ketaatan butuh kesabaran?.
2. Sabar dalam ketaatan lebih utama dari sabar dari Kemaksiatan
3. Sabar Menghadapi Cobaan.
4. Kapan dikatakan sabar dari Takdir Allah.
5. Kiat agar dapat sabar.

PENUTUP
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat