Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

TARBIYAH QURAN - DUA BULAN KHATAM AL QURA'AN

Kajian Online Hamba اَللّٰه SWT

Selasa, 21 Oktober 2014

Narasumber : Ustadz Zaki
Materi : Tarbiyah Quran
Grup : 109 Nanda
Admin : Fifit
Ketua : Nursiah
Notulen : Lastri

Sudahkah kita membaca Al-Qur’an hari ini? Berapa lembar yang sudah kita baca? Kapan terakhir kita khatam membacanya?

Ikhwah fillah, barangkali banyak di antara kita sering—atau paling tidak, pernah—mendengar anjuran untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, baik dalam kajian-kajian maupun dari tulisan-tulisan yang pernah kita baca. Namun, karena aktivitas dan kesibukan masing-masing: pekerjaan kantor, mengurus usaha, mengurus rumah tangga, atau berbagai kesibukan lainnya membuat kita terhalang untuk melakukannya, bahkan cenderung mengabaikannya. Sehingga tak jarang hari-hari kita banyak terlewati dari membaca Al-Qur’an, walaupun hanya sekedar duduk untuk membaca beberapa lembar saja. Padahal membaca Al-Qur’an adalah salah satu amalan yang disukai oleh Allah, yang keutamaannya banyak disebutkan di dalam ayat maupun hadits. Di antaranya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat, dan mendermakan sebagian harta yang Kami karuniakan kepada mereka secara diam-diam ataupun terang-terangan, mereka mengharapkan amal shalih mereka tidak sia-sia, laksana pedagang yang tak ingin rugi.” (QS. Faathir 35: 29)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang membaca satu huruf Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak (pernah) mengatakan “Alif laam miim” satu huruf, akan tetapi ‘alif’ adalah satu huruf, ‘laam’ satu huruf dan ‘miim’ satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, 2910)

Seorang pekerja kantor, guru, mahasiswa, pelajar, wiraswasta, ibu-ibu rumah tangga, buruh, dsb. walau sedang di tengah kesibukan semestinya mampu meluangkan sedikit saja waktunya untuk membaca Al-Qur’an, seandainya tidak memiliki banyak waktu. Jika membaca koran saja seseorang mampu bermenit-menit untuk menyelesaikannya, membaca dan browsing di internet berjam-jam lamanya, rela menghabiskan malam demi menonton aksi heroik club bola idolanya, membaca berbagai majalah, dan puluhan buku dalam seminggu, mengapa justeru membaca Al-Qur’an kita tidak punya waktu untuk melakukannya? Bahkan bisa khatam membacanya, apalagi sampai mampu menghafalnya?

Membaca Al-Qur’an adalah obat bagi hati yang gersang, musim semi bagi jiwa yang kering, dan pelipur lara bagi hati yang gundah (galau). Malik bin Dinar berkata, "Sesungguhnya Al-Qur’an adalah musim semi bagi seorang mukmin, sebagaimana musim hujan menjadi musim semi bagi bumi.” Ibrahim Al-Khawash juga berkata, “Obat hati itu ada lima perkara—di antaranya beliau menyebutkan—adalah membaca Al-Qur’an disertai tadabbur (penghayatan).”

Dan Wuhaib rahimahullah juga berkata, “Kami telah memperhatikan di dalam hadits-hadits dan nasehat ini, maka kami tidak mendapati ada sesuatu yang paling melembutkan hati dan mendatangkan kesedihan dibandingkan bacaan Al-Qur’an, memahami dan mentadabburinya.” Maka sebagai seorang Muslim, membaca Al-Qur’an sejatinya menjadi rutinitas harian yang tak boleh pisah dari hidup kita. Karena bagaimanapun bukan hanya fisik saja yang butuh dengan obat, jiwa kita pun sangat memerlukannya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang ma’sum dan para sahabat yang diridhai oleh Allah pun selalu membaca Al-Qur’an dan menjaga bacaannya, bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepada malaikat Jibril setiap kali datang bulan Ramadhan. Demikian pula para sahabat, semangat dan giat bahkan mereka memiliki jadwal rutin untuk membacanya. Nabi Muhammad sendiri menggambarkan bagaimana keadaan mereka:

“Sesunggunya aku benar-benar mengetahui suara kelompok dari keturunan Asy’ary dengan bacaan Al-Qur’an, jika mereka memasuki waktu malam aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara mereka membaca Al-Qur’an, meskipun sebenarnya aku tidak tahu di mana tempat tinggal mereka pada siang hari.” (HR. Muslim)

Mereka juga memiliki perhatian khusus terhadap Al-Qur’an. Khabbab radhiyallahu’anhu berkata, “Beribadahlah kepada Allah semampumu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya.” Dan Abdullah bin Mas’ud Ra. juga berkata, “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al-Qur’an maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Syu’aib Al-Imam, karya Al-Baihaqi)

Generasi salaf sebelum kita begitu antusias terhadap Al-Qur’an sehingga membuat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mengkhatamkannya satu kali dalam sehari pada bulan Ramadhan. Demikian pula Imam Syafi’i khatam membacanya sampai 60 kali dalam sebulan. Imam Qatadah khatam sekali dalam seminggu di hari-hari biasa, pada bulan Ramadhan setiap tiga hari sekali, dan pada sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya setiap malam. Begitulah contoh para salaf dalam membaca Al-Qur’an.

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk selalu membaca Al-Qur’an, sebab di akhirat nanti Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi para pembacanya ketika di dunia. Beliau bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang memberi syafaat bagi ahlinya—pembacanya.” (HR. Muslim, 1910)

Khatam membaca Al-Qur’an dalam dua bulan

Ikhwah fillah, sesibuk apapun kita pasti memiliki waktu luang untuk sekedar beristirahat atau berhenti dari kesibukan lainnya, saat jeda waktu shalat misalnya. Sempatkan diri untuk membaca Al-Qur’an, walau hanya beberapa lembar saja dalam sehari, tidak banyak tidak mengapa yang penting rutin dilakukan. Ibunda ‘A’isyah berkata, “Amalan yang paling disukai oleh Allah adalah amalan yang sedikit, namun rutin dilakukan.”

Jika tidak memiliki cukup banyak waktu untuk membaca Al-Qur’an, cobalah sempatkan diri untuk membacanya minimal beberapa lembar dalam sehari, atau setidaknya punya target agar bisa khatam sekali dalam beberapa bulan. Misalnya dalam sehari kita hanya mampu membaca lima lembar—walaupun membaca lebih dari itu lebih utama. Bila lima lembar itu tidak bisa diselasaikan membacanya dalam satu waktu, kita bisa bagi ke dalam 5 waktu. Yaitu, satu lembar dalam setiap waktu shalat, bisa dibaca sebelum atau sesudah shalat. InsyaAllah tidak berat untuk dilakukan. Membaca satu lembar hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari sepuluh menit, bahkan hanya lima menit. Bandingkan dengan keutamaan dan keutamaan yang akan kita terima.

Jika membaca lima lembar rutin dalam sehari dilakukan, berarti dalam sebulan kita bisa membaca 15 juz, dan untuk menghatamkan membaca Al-Qur’an 30 juz kita hanya butuh waktu dua bulan. Subhanallah!

Ya Allah, terangilah pandangan kami dengan Al-Qur’an dan lapangkan dada kami dengannya, gerakkan tubuh kami dengannya, pelihara lisan kami dengannya, kuatkan jiwa kami dengannya, luaskan pemahaman kami dengannya, kuatkan tekad kami dengan keuatan-Mu. Sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas kehendak-Mu, duhai yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!

Wallahua’lam

Tirpas, 22 September 2014
Zaky Imaduddin Rabbany
-------------------------------------------
TANYA JAWAB
1. TANYA
Ustadz bagaimana memperlakukan Al Quran itu sendiri ? Ada yang bilang tadi boleh diletakkan ditempat yang lebih rendah dari mata kaki. Saya sering lihat Al quran tergeletak begitu saja di lantai masjid. Itu bagaimana? Lalu apa pendapat ustadz mengenai orang yang senang mengoleksi berbagai Al quran tapi yang dibaca hanya 1 Al quran itu saja?
JAWAB:
Hak-hak Al-Quran bagi pembanya:
a. Membacanya dengan tartil dal benar. (QS. Al-Muzammil: 4)
b. Memperindah suara ketika membacanya. Rasulullah bersabda:
زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ اْلقُرْآنَ حَسَنًا
“Hiasilah Al-Qur`an dengan suara-suara kalian, karena suara yang indah akan memperindah Al-Qur`an. (HR. Hakim dll. Lihat Shahih al-Jami’: 3581)
Dan suara bacaan al-Qur`an terindah adalah ketika dibaca satu ayat satu ayat dengan penuh.
إِنَّ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ الَّذِيْ إِذَا سَمِعْتُمُوْهُ يَقْرَأُ حَسِبْتُمُوْهُ يَخْشَى اللَّهَ
Sesungguhnya termasuk suara manusia terindah terhadap Al-Qur`an adalah tatkala engkau mendengarnya, engkau anggap pembacanya khusyu’ kepada Allah. (HR. Ibnu Majah dll, lihat Shahih Ibnu Majah: 1101
c. Mentadabburi makna dan memahaminya pada saat membaca atau mendengarkannya. (QS. al-Ahqaf: 29-30, dan QS. Muhammad: 24).
d. Berpegang teguh dengan Al-Qur`an, mengamalkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. (QS. Az-Zukhruf: 43-44).
e. Di antara hak Al-Qur`an pula adalah agar setiap muslim beradab dan berakhlak dengannya.
A`isyah ditanya tentang akhlak Nabi, maka beliau mengatakan kepada sang penanya, “Belumkah engkau membaca Al-Qur`an?” Orang tersebut menjawab, “Iya sudah.” Kemudian A`isyah ra mengatakan:
إِنَّ خُلُقَهُ كَانَ اْلقُرْآنَ
Sesungguhnya akhlak beliau adalah Al-Qur`an. (HR. Muslim 746). Artinya bahwa al-Qur’an diamalkan oleh beliau dalam kehidupan sehari- hari.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ahli al-Qur`an hendaklah memiliki keistimewaan dengan menjalankan shalat malam dikala manusia sedang tidur, puasa di waktu siang dikala manusia berbuka (makan), sedih, menangis dan khusyu’ di saat manusia bersendagurau dan berbuat curang, serta berperangai lembut, tidak kasar, tidak lalai dan tidak pula keras.” (HR. Ibnu Abi Syaibah: 7/231, dll)

Adab membaca Al-Qur'an
1. Membaca Al-Qur'an dalam kondisi suci dari hadats.
2. Menghadap kiblat.
3. Duduk dengan tenang dan khusuk.
4. Membaca ta'awuz sebelum memulai membaca Al-Qur'an.
5. Membaca dengan tartil sambil mentadaburinya.
6.  Membaca Al-Qur'an dengan suara indah.
7. Tidak beralih dengan yang lain saat membaca Al-Qur'an.
8. Jika membaca ayat yang berisi tentang rahmat, maka hendaklah berdoa agar di karuniakan kepadanya (rahmat). Jika membaca ayat yang berisi tentang adzab, hendaklah membaca isti'adzah.
9. Meletakkan Al-Qur'an di tempat yang tinggi, misalnya di atas tumpukan buku, dan jangan meletakkannya da atas lantai atau sejajar dengan kaki.

Salah satu adab terhadap Al-Qur'an adalah tidak melatakkannya di lantai, dan diletakkan di posisi paling tinggi. Jika menemukan satu mushaf ada dilantai, atau melihat lembaran mushaf berserakan di lantai, sebaiknya dipindah dan letakkan di tempat tinggi. Atau kalau lembaran mushaf ingin lebih aman, bisa juga di bakar. Para ulama membolehkannya, lebih baik daripada berceceran sehingga diinjak, dsb.
Wallahua'lam...

2. TANYA
Apakah membaca Al-Qur'an harus dalam keadaan suci (berwudhu dahulu)?? Ada yang berpendapat boleh tidak didahului wudhu.
Karena saya kalau misal kita lagi di jalan/tempat umum/angkot.. memanfaatkan waktu membaca Al-Qur'an tidak berwudhu terlebih dahulu karena agak susah cari toilet.
JAWAB:
Suci atau dalam keadaan berwudhu ketika membaca Al-Qur'an adalah bagian adab terhadapnya, dan lebih utama untuk dilakukan. Rasulullah enggan menyebut nama Allah saat kondisi tidak suci. Ada ulama yang mengatakan makruh membaca Al-Qur'an saat sedang tidak punya wudhu. Berbeda ketika kondisinya darurat, ada rukhshah (kemudahan). Wallahua'lam...

3. TANYA
Assalamualaikum.. Ustadz, menyambung pertanyaan mbk diatas, terkait membawa Al-qur'an, kan biasanya Al-qur'an kita bawa kemana-mana, di masukan di dalam tas, berharap jika ada waktu luang kita bisa membacanya. Misal kita bawa saat kita mau ke kampus, nah pas sampai di kelas itu kan tas kita letakan di bawah samping kursi kita duduk, dimana di dalam tas itu ada Al-qur'an nya. Apakah itu salah atau tidak?
JAWAB:
Waalaikum salam. Lebih ahsan (baik) mushaf diletakkan di tempat yang lebih tinggi. Jika mushaf ada di dalam tas misalnya, kalau bisa cari tempat yang aman untuk meletakkannya di tempat tinggi, di atas tatakan kursi misalnya, atau di atas rak dalam kelas, dsb. Wallahua'lam

REKAP PERTANYAAN TARBIYAH QURAN
4. TANYA
Asalamualaikum ustad bagaimana agar perilaku kita dapat sesuai dengan ajaran Al qur'an...sudah membaca sudah paham tapi seringkali bibir dan sikap tidak sinkron...terimakasih ustadz
JAWAB:
Agar perilaku sesuai dengan Al-Quran, pahami kandungannya, dan amalkan isi, hukum, di dalamnya. Untuk menanaminya isinya, sering-sering mendatangi majelis ta'lim, baca kitab atau buku-buku islami, dsb. Wallahua'lam. Akhlak (perilaku) Rasulullah adalah Al-Qur'an. Karena dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah mengamalkan Al-Quran. Jika kita ingin mengamalkan Al-Qur'an dengan benar, maka lihatlah Rasulullah.

5. TANYA
Ustadz boleh tidak baca Al quran lewat handphone? terus hukumnya bagaimana?
JAWAB:
Boleh membaca Al-Quran dengan aplikasi yang ada di handphone. Aplikasi mushaf dalam Al-Qur'an berbeda dengan mushaf yang biasa kita baca. Saat kondisi haid bagi wanita, tidak mengapa membaca mushaf dengan aplikasi yang ada di handphone atau laptop, dan tidak boleh membaca dengan mushaf biasa. Beberapa ulama berpendaat demikian. Wallahua'lam

6. TANYA
Sampaikanlah walau satu ayat. Bagaimana ketika menyampaikan tetapi sedikit  dengan ayat Qur'an yang disampaikan tersebut?
JAWAB:
Sampaikanlah walau satu ayat, adalah penggalan hadits Rasulullah. Maknanya, jika kita memiliki ilmu, walaupun sedikit, tidak seberapa, kita harus menyampaikannya kepada yang belum mengetahui atau mendengarnya. Atau mengingatkan orang sudah tahu ilmunya, namun lalai. Allah berfirman, "Berilah peringatan, karena peringatan bermanfaat bagi orang-orang mukmin"

7. TANYA
orang mencium Mushaf setelah tilawah. Adakah pahalanya? Mencium Mushaf dengan tujuan mensucikan atau mengagungkan Mushaf....
JAWAB:
Rasulullah maupun para sahabat tidak pernah mencontohkan mencium mushaf setiap kali selesai membacanya. Tidak ditemukan ayat maupun hadits yang menyebut pahala bagi orang yang menciumnya. Namun jika itu dilakukan untuk memuliakan Al-Qur'an tidak ada salahnya mencium, tidak berlebihan, dan tidak menganggap mendapat pahala ketika melakukannya. Namun, kita mendapat pahala ketika memuliakannya. Wallahua'lam

1. Sebaik-baik membaca Al-Qur’an adalah dengan tadabbur, membacanya dengan penuh penghayatan dan perenungan. Membaca Al-Qur’an seharusnya bukan sekedar dibaca. Yang terpenting adalah direnungkan dan diamalkan isi kandungannya. Banyak membaca dibanding dengan membacanya dengan penuh perenungan (tadabbur) jauh lebih utama (afdhal).
Menurut Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, membaca Al-Qur’an dengan tartil dan penuh tadabbur (perenungan) itu lebih utama daripada membaca Al-Qur’an dengan cepat meskipun dihasilkan banyak bacaan. Karena memang maksud membaca Al-Qur’an adalah memahami dan merenungkan isinya, juga ditambah dengan bisa mengamalkan kandungannya. Sedangkan membaca dan menghafal Al Qur’an adalah jalan untuk bisa memahami maknanya.

2. Sebagai umat Islam kita seharusnya mampu berbahasa Arab, karena ilmu tentang Islam semuanya berbahasa Arab, seperti Al-Qur’an, hadits Rasulullah, kitab-kitab yang disusun oleh para ulama, dsb.
Allah berfirman:
“Al-Qur’an adalah kitab suci berbahasa Arab. Isi Al-Qur’an tidak ada yang keliru sedikit pun, agar manusia tidak ragu-ragu mengikuti Al-Qur’an.” (QS. Az-Zumar: 28)
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
أَحْرِصُوْا عَليَ تَعَلُّمِ الُّلغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَإِنَّهَا جُزْءٌ مِنْ دِيْنِكُمْ
“Tamaklah kalian dalam mempelajari bahasa Arab karena, bahasa Arab itu merupakan bahagian dari agamamu.”
Abdul Alim Ibrahim berkata:
اَلُّلغَةُ الْعَرَبِيَّةُ هِيَ لُغَةُ الْعَرُوْبَةِ وَ اْلإِسْلاَمِ
“Bahasa Arab merupakan bahasa orang Arab dan sekaligus juga merupakan bahasa agama Islam.”
Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Manusia menjadi buta agama, bodoh dan selalu berselisih paham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konnsep Aristoteles. (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lamin Nubala)
Begitupun dengan tadabbur Al-Qur’an, untuk bisa melakukannya harus mengerti bahasa Arab. Walaupun membaca terjemahnya cukup bisa membantu.

3. Tulisan dalam artikel berjudul “Khatam membaca Al-Qur’an dalam dua bulan” yang dishare kemarin sejatinya hanya anjuran untuk kita agar selalu membaca Al-Qur’an. Karena bagaimanapun Al-Qur’an adalah panduan hidup yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sebagai seorang muslim, sehingga membacanya dengan rutin seharusnya menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.
Arti rutin dalam membaca Al-Qur’an tidak terpaku dan harus membacanya dalam waktu tertentu saja, seperti membaca selembar setiap waktu shalat. Kita bisa baca kapan saja, pagi, siang, sore, malam, atau kapan saja dan di mana saja. Tentang membacanya harus rutin setiap kali waktu shalat pada tulisan kemarin hanya membantu, dan bisa membaca lebih dari itu (5 lembar dalam sehari) lebih baik. Seperti yang dilakukan Imam Qatadah misalnya, yang khatam sekali dalam seminggu di hari-hari biasa, pada bulan Ramadhan setiap tiga hari sekali, dan pada sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya setiap malam.

Kita tidak membaca Al-Qur’an di waktu luang, tapi luangkanlah waktu untuk membaca Al-Qur’an.
Agar istiqamah dalam tilawah Al-Qur’an:
a. Mengikhlaskan niat karena Allah ta’ala.
b. Berdoa’a kepada Allah agar diberi keistiqamahan dalam beribadah.
c. Bergaul dengan orang yang shalih dan istiqamah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.“ (Siyar A’lam An-Nubala). Maksudnya, dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya.
d. Membayangkan keutamaan membaca Al-Qur’an setiap kali akan membacanya.
e. Menyadari pentingnya waktu. Kesempatan, waktu dan kesehatan kita tidak lama dan banyak. Setiap manusia mempunyai kesempatan dan waktu yang terbatas, bayangkan jika kesempatan itu tidak lama lagi ada pada kita. Misalnya, karana penglihatan berkurang jadi tidak bisa membaca, dsb.
f. Meninggalkan maksiat dan perbanyak istighfar. Imam Al-Waqi’ berkata, “Ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang bermasiat.”
g. Mencontoh dan membaca kisah-kisah orang shalih, sehingga bisa dijadikan uswah dalam istiqamah
Basyr bin Al Harits Al Hafi mengatakan:
أَنَّ أَقْوَامًا مَوْتَى تَحْيَا القُلُوْبَ بِذِكْرِهِمْ وَأَنَّ أَقْوَامًا أَحْيَاءَ تَعْمَى الأَبْصَارَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِمْ
“Betapa banyak manusia yang telah mati (orang-orang shalih) membuat hati menjadi hidup karena mengingat mereka. Namun sebaliknya, ada manusia yang masih hidup (orang fasik) membuat hati ini mati karena melihat mereka.“ (Shifatu Shafwah, Ibnu Jauzy). Itulah orang-orang shalih yang jika dipelajari jalan hidupnya akan membuat hati semakin hidup, walaupun mereka sudah tidak ada lagi di tengah-tengah kita.
h. Berhati-hati dengan hal-hal yang bisa membuat kita malas dan tidak produktif, seperti kebanyakan nonton TV karena bisa membuat otak dan pikiran kita ‘diam’ dan malas, berteman dengan orang-orang yang kurang menghargai waktunya dan lainnya.
4. Dalam sebuah pepatah Arab mengatakan, “Su’ul khulqi yu’di (akhlaq buruk itu (cepat) menular).” Begitupun rasa kurang semangat, bisa menular kepada kawan atau komunitas kita sendiri. Jawaban untuk pertanyaan yang terakhir hamper mirip dengan yang sebelumnya.
Doa agar terhidndar dari sifat malas:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas, dari rasa takut, tua, dan bakhil. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan fitnah hidup dan kematian.” (HR. Muslim)
Semangat adalah mengerahkan segala usaha untuk meraih apa yang bermanfaat dari perkara dunia atau akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Semangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu lemah.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hendaknya seseorang meninggalkan rasa malas, santai, bahkan hendaknya dia melawan rasa malas. Karena sesungguhnya rasa malas adalah hasil dari sifat penyesalan dan penipuan. Dan sifat sungguh-sungguh akan berbuah manis, baik di dunia maupun di akhirat atau salah satu dari keduanya. Maka orang yang paling berbahagia adalah orang yang paling capek, dan orang yang paling capek adalah orang yang paling bahagia. Menjadi pemimpin adalah di dunia, dan kebahagiaan adalah di akhirat. Tidak akan tercapai kecuali melalui jembatan kelelahan. Yahya bin Abi Katsir mengatakan, ‘Ilmu tidak diraih dengan badan yang santai.”
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah berlalu sebuah hari bagi seorang anak Adam kecuali hari itu akan berkata kepadanya, ‘Hai anak Adam, aku adalah harimu yang baru, dan apa yang engkau kerjakan untukku akan menjadi saksi. Apabila aku telah pergi, aku tak akan kembali lagi, kerjakanlah sesukamu dengan segera dan engkau akan menjumpainya di hadapanmu, dan akhirkanlah sesukamu maka dia tidak akan kembali kepadamu.” (Syarah Muslim, Imam na-Nawawi)
Wallahua'lam...

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaykum wr wb.