Home » , , , » Teruslah Perbaharui Iman

Teruslah Perbaharui Iman

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, October 31, 2014

Kajian Online Hamba الله SWT

Jumat, 31 Oktober 2014/ 7 Muharram 1436
Narasumber : Ustadz Umar Hidayat, M.Ag
Rekapan Grup Nanda 121-122
Tema: Iman
Editor :Rini Ismayanti

Teruslah Perbaharui Imanmu

"Biasanya kita lebih bisa mengoreksi orang lain dibanding diri kita sendiri. 
Namun, Islam mengajarkan bahwa kita harus bisa mengintropeksi diri.”

Dalam merindukan jalan dakwah ada banyak cara untuk menyadarkan posisi diri kita. Untuk menasehati dan mengingatkan keberadaan kita. Ibnu Rawahah pernah berpesan pada sahabatnya, “Akhi, ta’aal nu’minu saa’ah”, Saudaraku, mari sejenak kita beriman.” Kata singkat tapi penuh makna ini dilontarkan Ibnu Rawahah sambil menarik tangannya Abu Darda. Ibnu Rawahah menginginkan saudaranya, Abu Darda, untuk sejenak berhenti dari hiruk pikuknya dunia, dan sejenak untuk memasuki majlis Iman. Sebuah majlis yang dapat mengasah dan senantiasa memperbaharui keimanan. Inilah juga yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang meminta seorang ulama Bakr bin Amr bin Hazm untuk duduk memberi ta’lim bagi diri dan rakyatnya. Umar bin Khattab sangat menghargai kenikmatan majelis ini dengan mengatakan: “Tidak ada nikmat kebaikan yang Allah berikan setelah Islam, selain saudara yang shalih. Maka jika salah seorang kalian merasakan kecintaan dari saudaranya, peganglah kuat-kuat persaudaraan dengannya.” 

Majlis iman inilah yang diperlukan untuk melembuntukan hati kita, mengasah jiwa kita agar senantiasa beredar dalam orbit kebaikan dan melatih kita untuk senantiasa sensitive pada keburukan hingga kita bisa menjauhinya. Untuk mengasah alergi kita terhadap kemaksiatan dan kemungkaran. Majelis iman ini dilaksanakan dalam tingkatan individu dan juga kolektif. 
Pada tingkatan individu tradisi ini dilakukan melalui muhasabah maknawiyah, dan pembiayaan untuk melakukan perenungan hingga melahirkan ide-ide baru yang kreatif dan produktif. Pada tingkatan kolektif tradisi ini dilakukan untuk menjaga soliditas tim, menjaga dan memperbaharui semangat kolektif, menindaklanjuti ide-ide individu menjadi ide kolektif dan menjadikan kelompok lebih produktif. Keduanya tentu tetap dalam rangka menjaga asholah dakwah yang sedang diemban.

Sesungguhnya majelis iman kita perlukan setidaknya untuk dua kepentingan; pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Pada tahapan ini kita dapat melakukan evaluasi : langkah-langkah kita, orientasi, kapasitas, peluang internal dan eksternal kita, serta target-target yang telah ditetapkan. Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energy baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Langkah kedua ini dilakukan untuk memperbaharui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT.

Salah satu tujuan aktifitas yang ingin dicapai dengan majelis iman ini adalah muhasabah. Mengetahui posisi kita di mana sekarang? Dan akan kemana?  Lantaran seringkali kita tidak sadar dengan kesalahan sendiri. Pada saat bersamaan justru kita paham betul dengan kesalahan orang lain. Seperti, gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.

Kesibukan kita mengoreksi kesalahan orang lain akan senantiasa mendorong kita untuk memperbincangkan orang lain. Padahal boleh jadi dia lebih mulia di sisi Allah. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW pernah bertanya, "Tahukah kamu, apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya.” (HR Muslim)
 
Lebih dari sekedar cerita Abdullah Nashih Ulwan mengisyaratkan pentingnya ruhiah bagi seorang da’i, ia mengatakan: “Ketika jiwa seorang dai telah sepenuhnya bertaqwa kepada Allah, merasakan muraqabah dan keagungan-Nya dalam hati, rutin membaca al-qur’an dengan tadabur dan penuh kekhusyu’an, menyertai Nabi dengan berqudwah kepadanya, menyertai orang-orang yang sholeh yang berma’rifah kepada Allah dengan menimba berbagai hikmah dan kebaikan  dari mereka, berdzikir kepada Allah secara kontinyu untuk menambah keteguhan dan ketenangan, selalu melakukan ibadah nafilah untuk mendekatkan diri dan menambah kekhusyu’an…. Apabila seorang telah memiliki itu semua, maka ketika berbicara atau berkhutbah atau mengajak ke jalan Allah, niscaya akan anda temukan keimanan memancar dari kedua bola matanya, keikhlasan nampak jelas menghiasi raut mukanya, dan kejujuran terus mengalir bersama kelembutan suaranya, ketenangan iramanya, serta isyarat-isyarat tangannya.
 
Bahkan perkataannya akan meresap ke dalam hati dan melenyapkan kegelapan jiwa. Seperti air sejuk yang meresap di kerongkongan orang yang kehausan, bak nur cahaya yang memusnahkan kegelapan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan petunjuk mereka orang-orang pun memperoleh petunjuk, dakwh mereka akan mendapatkan sambutan yang luas. Dengan nasehat mereka hati bergetar dan mata menangis. Dengan peringatan mereka ahli maksiyat bertaubat dan orang-orang sesat sadar serta kembali ke jalan yang lurus.”
 
Subhanallah, sedemikian pentingnya kualitas ruhiyah sang pelaku dakwah sehingga ia harus menjadi prioritas utama dan pertama. Lebih-lebih ketika pengembangan dan perputaran dakwah semakin cepat. Siapapun ia yang tidak memiliki model dan modal dasar tersebut di atas, tidak mustahil ia akan tergilas oleh percepatan dakwah yang ada. Adapun modal tersebut hanya akan kita dapatkan tatkala kita bisa berhubungan baik dengan Allah swt. Karena apa yang kita lakukan, sekeras dan sekuat apaun yang kita lakukan akan menjadi sia-sia bahkan tak kan mendapatkan hasil tanpa bantuan dan pertolongan Allah.
 
Belum lagi ketika menghadapi tantangan, halangan dan tribulasi dakwah yang senantiasa muncul di persimpangan jalan dakwah. Ruhiah seorang da’i menjadi garis awal dan stasiun pemberhentian sementara bagi sang pelaku dakwah. Kekayaan ruhiah yang akan senantiasa membersamai dan mengantarkan kesuksesan sang pelaku dakwah. Ia yang akan mengantarkan sang pelaku dakwah pada suatu kondisi ruh yang selalu terjaga dan meningkatnya kecepatan daya responnya.  
 
Bila sang pelaku dakwah itu beragam orangnya, sudah barang tentu kualitas ruhiyahnya juga berbeda, lalu apa yang menjadi standar minimal ruhiah agar seseorang layak bisa menjadi pelaku dakwah ini. Persoalan berikutnya adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kondisi ruhiyah sang palaku dakwah dan bagaimana caranya sang pelaku dakwah dapat memperoleh pengkayaan ruhiyah tersebut.
 
Aktifis dakwah yang akan dapat menjalankan dakwahnya dengan baik ia senantiasa memiliki ketajaman ruhiyah, kebeningan dan kejernihan jiwa sebagai kekuatan maknawiyahnya. Ciri-ciri lain yang dapat diukur dari kekuatan kualitas ruhiyah Aktifis dakwah dakwah adalah:
 
Pertama, Terjaganya nurani dan perasaannya agar senantiasa memiliki kepekaan dan kecenderungan terhadap yang al-haq. Kita bisa lihat dalam kapasitas sejarah risalah Islam. Seperti, sikap Nabi Ibrahim a.s. yang dengan keberaniannya dan daya respon yang tinggi terhadap yang haq menanyakan penyembahan berhala kaumnya, bahkan terhadap ayahnya sendiri yang membuat patung-patung itu, dan menyimpulkannya sebagai perbuatan yang sesat. Sebagaimana disebuntukan dalam firman Allah Qs. Al-An’am, 6 :74.
 
Atau sebagaimana kisah Nabi Musa yang dengan spontan memberi bantuan kepada kaumnya yang sedang berkelahi tengah hari, di waktu penduduk sedang istirahat, meskipun ia harus menanggung akibat atas perbuatannya. Dan Musa menyesal atas kematian orang itu disebabkan pukulannya, Karena dia bukanlah bermaksud untuk membunuhnya, Hanya semata-mata membela kaumnya. Demikian Allah mengisahkan dalam firman Allah Qs. Al Qashash, 28 :15.
 
Kedua, senantiasa berpihak dan komitmen pada ketinggian nilai, dan muncul perasaan resah dengan kehinaan dan kemunduran yang terjadi pada umat Islam. Inilah sikap yang muncul sebagai keteguhan keimanan dan ketinggian ruhiyahnya. Ia selalu memiliki daya respon yang kuat dalam membela Islam dan atas prilaku musuh-musuh Islam yang senantiasa mengintainya. Berbeda dengan kaum munafiqun yang ketika ada panggilan untuk berjihad, termasuk jihad dalam pengertian yang luas, mereka menyambutnya dengan kemalasan. Sebagaimana Allah pernah menegur sebagian kaum muslimin yang malas berangkat berjihad dalam perang Tabuk. Allah menegur dengan firmannya  dalam firman Allah Qs. At Taubat, 9:38.
 
Ketiga, kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan mulia dalam hidup. “Hidup Mulia atau Mati Syahid”. Itu adalah salah satu contoh slogan yang menunjukkan semangat juang para mujahid dan mujahidah yang sejati. Motivasi yang kuat yang muncul dari dalam diri menjadi penggerak utama dakwah yang akan senantiasa maju dan berprestasi tidak hanya di mata manusia tetapi lebih dari itu di mata Allah. Oleh karena itu jangan sekali-kali kita pernah melakukan sesuatu karena kepentingan pribadi semata, terlebih lagi ada unsur-unsur politis yang bertujuan untuk kesenangan dan kemenangan dunia semata. Bahkan keberhasilan didunia ia dapatkan dengan cara yang tidak diridloi oleh Allah Swt.
 
Seperti halnya kisah Nabi Musa, betapa tidak seorang Musa yang telah melarikan diri dari sarang Fir’aun untuk mempertahankan keimanannya, kemudian juga telah membunuh salah satu pendukung Fir’aun, ia tanpa perasaan takut sedikitpun kembali ke Fir’aun seraya mengajaknya untuk menyembah Allah SWT.  Secara manusia kemungkinan Fir’aun untuk mengikuti Musa sangat kecil, lalu apa yang dituju Musa? Kemuliaan, ya kemuliaan dimata Allah, bahkan mungkin baru semacam ‘ada peluang kemuliaan’ saja, yang telah membuatnya kuat dan yang membuat rasa takut menjadi hilang.
 
Keempat, senantiasa semangat dalam beribadah, rindu akan keridloan Allah dan tumbuh keinginan untuk menjadi mujahid dan syahid di JalanNya. Dakwah seberapa pun hebat orangnya, jika tidak diiringi dengan kekuatan ruhiah, ibadah yang akan terjadi hanyalah tumbang di tengah jalan.
 
Motivasi lain setelah seorang Aktifis dakwah memiliki kekuatan ruhiah adalah keinginan yang kuat untuk menjadi mujahidah dan syahid di jalanNya. Inilah sesungguhnya yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam ketika umat Islam telah dibakar semangat syahid. Bagi musuh-musuh Islam kematin itu ditakuti, tetapi bagi umat Islam, ketika keinginan syahid telah membara kematian justru dicarinya. Dua sisi yang bertolak belakang. Seperti dalam kisah Umar bin Khatab yang beliau ingin merasakan berulang-ulang kematiannya karena  betapa indahnya mati dalam syahid dijalan-Nya.
 
Bagaimana cara memperoleh pengkayaan ruhiah? Ada lima cara yang harus ditempuh seorang Aktifis dakwah untuk tercapainya:
 
Jalan Pertama, mengingat perjanjian, artinya perjanjian seorang muslim dengan Rabbnya. Janji tersebut adalah “Hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.” Inilah perjanjian awal seorang muslim dengan Rabbnya. Cukuplah Allah sebagai saksinya. Kita berikrar untuk tetap berada di jalanNya. Inilah jalan yang harus ditempuh seorang Aktifis dakwah untuk mendapatkan ketaqwaan kepadaNya.
 
Jalan Kedua, merasakan kesertaan Allah dengan dirinya, yakni merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan serta merasakan bersamaNya di kala sepi ataupun ramai. Allah berfirman “Dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (Qs. Asy Syu’ara, 26 : 218-219)
 
Cara muraqabah adalah dengan cara sebelum melakukan sesuatu kita mengevaluasi diri apakah apa yang dilakukan sudah benar-benar karena Allah dan semata-mata hanya mencari ridlo Allah, meskipun hawa nafsunya tidak menyetujuinya.
 
Jalan Ketiga, Muhasabah, introspeksi diri, setiap kita harus bisa mengevaluasi diri kita sendiri. Bisaanya kita lebih bisa mengoreksi orang lain dibandingkan diri sendiri. Namun Islam mengajarkan bahwa kita harus bisa introspeksi diri. Hal itu adalah salah satu cara supaya ketika kita melangkah mempunyai daya kontrol yang baik. Dengan muhasabah ini insyaallah kita akan selalu memperbaiki semua yang telah kita lakukan juga niatnya.
 
Jalan Keempat, Mu’aqabah, pemberian sanksi. Sanksi diberikan kepada seorang muslim tatkala ia melakukan kesalahan. Ketika kita menemukan kesalahan kemudian membiarkannya, ia akan mempermudah terlanggarnya dan terulanginya kesalahan-kesalahan yang lain, bahkan ia akan semakin sulit untuk meninggalkannya. Di sinilah pentingnya sanksi yang membuat seseorang jera untuk tidak melakukan kembali. Jika sanksi telah dijatuhkan ketika melakukan kesalahan maka sesungguhnya ia telah menempuh jalan taqwa dan telah menjalani kertinggian ruhani.
      
Jalan Kelima, Mujahadah, optimalisasi, sungguh-sungguh. Sebuah kesungguhan seorang muslim dalam menjalankan semua amaliyah yang telah disyariatkan oleh Allah dan dicontohkan oleh rasul-Nya yang mulia. Mujahadah disini lebih tepatnya berarti sebuah pemaksaan terhadap diri sendiri apabila kemalasan, ogah-ogahan ketika kualitas maupun kuantitas mulai menurun, tidak hanya amalan wajib sunahpun juga harus dijaga keistiqomahannya. Dalam kondisi seperti ini harus ada motivasi yang sangat kuat yang lahir dari hati nurani kita sediri untuk memperbaikinya. Terlebih ketika kita menyadari adanya sebuah tanggung jawab yang besar yakni kita ini ada dimuka bumi sebagai khalifah. Juga tanggung jawab kita sebagai seseorang muslim yang diwajibkan untuk berdakwah, meneruskan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah maka kita harus bergegas dan bersegera menyambut seruan dan selalu melakukan Ishlah.
 
Oya. Ada satu lagi tokoh yang mencerminkan Aktifis dakwah sejati. Kuat dan lurusnya niat sebagaimana digambarkan Hisyam bin Abdul Malik, dalam sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam, 30/29, “Aku tak pernah mendapati Umar melangkah, satu langkah sekalipun, kecuali Umar telah meneguhkan niatnya.”  Dan tekad itu dibulatkan oleh Umar ketika diangkat sebagai khalifah menggantikan khalifah sebelumnya Sulaiman bin Abdul Malik dengan mengatakan; “Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikitpun tempat untuk setan.”  Itulah kebersihan hati, kemilaunya jiwa.  Perbaharuilah imanmu agar kalian tidak futur dari jalan dakwah ini….
 
(disarikan dari Bk Umar Hidayat, Merindukan Jalan Dakwah, Pro U Media, 2011)

TANYA JAWAB
Tanya
1. Berqudwah itu apa ustadz? Ibadah nafilah? Muraqabah?
2. Ustd. Bolehkah kita berdakwah ketika sedang dalam penyempurnaan ruhiah & ilmu?
3. Mu'aqabah itu jadii bisa memberikan sanksi kepada diri sendiri ketika sadar telah melakukan kesalahan? Contohnya ustadz?
4. Ustadz... kan ada ya 'mengapa kamu menyeru apa yang tidak kamu kerjakan' jadi disini ketika kita berdakwah, mengajak org lain berbuat amal sholeh yang seharusnya kita sendiri telah melaksanakannya...Namun bolehkah kita menyampaikan walau kita sendiri belum bisa mengamalkannya, karena kan jika kita mengajak orang lain kepada kebaikan lalu dia melaksanaknnya maka kita juga dapat pahalanya.. ?
5. Ustad, saya dan bbrp akhwat membuat grup yang isinya saling mengingatkan untuk ibadah. Bagaimana menurut ustad?  Apakah termasuk riya?
6. Ustd. Ketika berdakwah untuk orang lain rasanya mudah, namun kalau ke yang terdekat sulitnya, subhanallah. Apalagi terhadap orang yang lebih tua. Bagaimana menurut ustd cara terbaiknya?
7. Bid'ah itu kan segala sesuatu yang diada-adakan dlm perkara "ibadah"...Kalau begitu, dakwah yang terbaik untuk orang terdekat, yang tidak terima dengan nasihat omongan, dan lebih tua itu dakwah bil qudwah yaa Ustd?
8. Ustadz, apakah semua keperluan untuk dakwah harus diutamakan?misal ada acara bentrok pada hari yang sama, yang satu untuk dakwah, yang satu untuk bisnis, namun untuk bisnis ini sudah dirancang dari jauh-jauh hari,,apabila ternyata kita memilih untuk ke acara bisnis,apakah itu termasuk ciri kelemahan iman pada diri y ustadz?

Jawab
1. Berqudwah = meneladani. Ibadah nafilah itu ibadah sunah seperti sholat sunah rowatib, puasa sunah, tahajud, duha dll. Muraqabah: mendekatkan diri pada Allah
2. Boleh, klo nunggu qt mjadi manusia yang sempurna. Sampai kapan? Boleh jadi ada irg yang smp mati blm jg sempurna ruhiah n ilmunya.
3. Mu'aqobah; itu cara menghukum diri agar tidak mengulangi lg kesalahan yang pernah dilakukan. Contohnya: umar bin khaththab pernah satu kali ketinggalan jamaah sholat shg ia tidak berjamah. Mlm itu umar menghukum diri dg semalam suntuk mhn ampun pada Allah dan melakjkan ibadah2 di mlm hr hingga menjelang subuh.
Contoh lain; karena tidak kholas 1 juz tilawahnya hr ini, lalu menghukum diri, misalnya besok jam 07 pg harus sdh kholas bagaimana pun caranya
4. Boleh. Saya malah menganjurkan.
5.  Mantapppp. bagus itu. Tinggal menjaga niat agar tetap karena Allah. Jika karena Allah insya Allah akan abadi
6.  Cara yang baik untuk semua usia adalah keteladanan. Berdakwah itu proses. Dan tugas kita nenyampaikan; ybs mau atau tidak, ada perubahan atau tidak ada sangkutannya dengan hidayah Allah. Dan itu hak Allah. Termasuk kpada mereka yang belum kenal islam. Bahkan memusuhinya. Maka jadilah muslim yang baik dan membaikan yang lain.
7. Soal bid'ah semua yang tidak ada di zaman rasulullah bisa jadi bid'ah. Motor, hp, sepeda itu bisa jadi bid'ah. Yang tidak bid'ah karena ada di jaman Rasul  itu kuda dan unta. Nanda mau pake kuda ke kampus, k mol, dll. Jadi tentang bid'ah kita harus hati-hati. Jangan asal. Semua ada ilmunya. Bid'ah itu ada yang baik ada yang buruk. Jika semua sarana ini halal dan dapat mendekatkan diri kita pada Allah why not???
Untuk memahami bagaimana pengertian yang tepat mengenai bid’ah (sayyi’ah), maka berikut adalah kriterianya. Jika memenuhi tiga kriteria ini, maka suatu amalan dapat digolongkan sebagai bid’ah:
1. Amalan tersebut baru, diada-adakan atau dibuat-buat.
2. Amalan tersebut disandarkan sebagai bagian dari ajaran agama.
3. Amalan tersebut tidak memiliki landasan dalil baik dari dalil yang sifatnya khusus atau umum. (Qowa’id Ma’rifatil Bida’, Muhammad bin Husain Al Jizaniy, hal. 18)
Dari kriteria pertama di atas, maka amalan yang ada tuntunan dan memiliki dasar dalam Islam tidak disebut bid’ah semisal shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Dilihat dari kriteria kedua, maka tidak termasuk di dalamnya hal baru atau dibuat-buat berkaitan dengan urusan dunia, semisal perkembangan atau inovasi pada smartphone dan laptop, ini bukanlah bid’ah yang dicela. Dan jika menilik kriteria ketiga, maka amalan yang ada landasan dalil khusus seperti shalat tarawih yang dilakukan secara berjama’ah di masa ‘Umar hingga saat ini, tidaklah disebut bid’ah (Lihat Qowa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 18-21).
Semakin menguatkan penjelasan di atas yaitu definisi Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i rahimahullah berikut ini. Beliau berkata,
والمراد بقوله كل بدعة ضلالة ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام
“Yang dimaksud setiap bid’ah adalah sesat yaitu setiap amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus atau umum” (Fathul Bari, 13: 254). Juga ada perkataan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah,
فكلُّ من أحدث شيئاً ، ونسبه إلى الدِّين ، ولم يكن له أصلٌ من الدِّين يرجع إليه ، فهو ضلالةٌ ، والدِّينُ بريءٌ منه ، وسواءٌ في ذلك مسائلُ الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال الظاهرة والباطنة .
“Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128). Ringkasnya yang dimaksud bid’ah adalah setiap yang dibuat-buat dalam masalah agama tanpa ada dalil.

8. Ya klo menurut saya ada prioritas. Anda lebih tahu mana yang harus di dahulukan, dibersamakan dan di pisah. Ambil yang terbaik atau yang paling sedikit mudharatnya

Doa Kafaratul Majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa
atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada
sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu
dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT