Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , » BENARKAH ISLAM MELARANG MENCABUT UBAN?

BENARKAH ISLAM MELARANG MENCABUT UBAN?

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, November 27, 2014

Rekap Kajian Online Hamba اللهِ (Ayah 305)

Hari / Tanggal:  Rabu, 26 November 2014
Narasumber : Ustadz Dodi Kristono
Admin : Fuad AN
Editor : Ana Trienta

Benarkah Islam melarang mencabut uban? Kenapa? Apakah bisa dibuktikan secara ilmiah?
Jangan dicabut nak, itu peringatan agar kalian mulai meninggalkan dunia hitam baik banyak maupun sedkit.

Ternyata  dalam syariat ada larangan mencabut uban dan dari sisi medis dianjurkan agara mencabut uban jangan menjadi kebiasaan karena berpengaruh terhadap kesehatan. Telah disebutkan juga dalam Al-Quran bahwa uban adalah fase kehidupan yang akan dilewati oleh manusia. Dan bisa jadi uban adalah salah satu bentuk peringatan bahwa usianya sudah tidak muda lagi dan sebentar lagi akan menghadap Allah, agar segera berbenah menyiapkan bekal akhirat. Dimana اللّهُ  Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Hal ini berlaku baik orang tua maupun yang masih muda karena keumuman berbagai dalil. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan larangan mencabut uban. Baik sudah tua maupun masih muda. Di antaranya: Rasulullah ﷺ  bersabda,

لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة

“Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat. Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam (dia muslim), maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.”

Nabi ﷺ  bersabda,

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَتْ نُورًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدَ ذَلِكَ فَإِنَّ رِجَالًا يَنْتِفُونَ الشَّيْبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَنْتِفْ نُورَهُ

“Barangsiapa memiliki sehelai uban di jalan اللّهُ  (dia muslim), maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah ﷺ  lantas bersabda, “Siapa saja yang mau, silahkan dia hilangkan cahayanya (baginya di hari kiamat).”

Secara medis, uban tidak bisa diobati, karena banyak yang mengambil jalan pintas agar mencabutnya. Kebiasaan mencabut uban bisa berdampak negatif bagi kesehatan. Yaitu bisa membuat kerusakan pada folikel rambut dan saraf sekitar rambut, dapat juga menyebabkan infeksi pada bekas cabutan. Apalagi uban yang dicabut dalam jumlah yang cukup banyak dan sering.

Selain itu seringnya mencabut uban akan menggangu pertumbuhan rambut. Dari jumlah rambut akan berkurang sedikit demi sedikit. Kebiasaan mencabut juga akan mengganggu sinyal saraf yangmemproduksi warna rambut sehingga pertumbuhan dan warna rambut akanterganggu. Karena jumlah rambut terus berkurang dan uban bisa jadi tetap jumlahnya.

Hukum mencabut uban di rambut adalah makruh sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi rahimahullah,

” يُكْرَهُ نَتْفُ الشَّيْبِ ، لِحَدِيثِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ بِأَسَانِيدَ

“Dimakruhkan mencabut uban, sebagaimana dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi ﷺ  bersabda, “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat.”

Akan tetapi perlu dirinci hukumnya, karena uban yang dilarang dicabut yaitu uban yang ada di wajah juga meliputi jenggot, jambang dan kumis. Nabi ﷺ  bersabda,

لعن الله الربا و آكله و موكله و كاتبه و شاهده و هم يعلمون و الواصلة و المستوصلة و الواشمة و المستوشمة و النامصة و المتنمصة

“Allah melaknat riba, pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkannya (nasabah), orang yang mencatatnya (sekretaris) dan yang menjadi saksi dalam keadaan mereka mengetahui (bahwa itu riba). Allah juga melaknat orang yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambut, orang yang mentato dan yang meminta ditato, begitu pula orang yang mencabut rambut pada wajah dan yang meminta dicabut.”

Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

نهى عن نتف الشيب : أي الشعر الأبيض من اللحية أو الرأس

“Larangan memcabut uban yaitu rambut putih pada jenggot (jambang) dan rambut kepala.”

Haram mencabut uban pada jenggot
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya:

: ما حكم نتف الشيب من الرأس واللحية ؟

Apa Hukum mencabut uban pada rambut kepala dan jenggot? Beliau menjawab:

فأجاب: أما من اللحية أو شعر الوجه فإنه حرام؛ لأن هذا من النمص، فإن النمص نتف شعر الوجه واللحية منه ، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لعن النامصة والمتنمصة…أما إذا كان النتف من شعر الرأس فلا يصل إلى درجة التحريم لأنه ليس من النمص” انتهى

“Adapun pada jenggot atau rambut pada wajah, maka hukumnya haram karena termasuk dalam “Namsh” (mencabut yang dilarang). Karena terdapat hadits bahwa Nabi ﷺ  melaknat orang yang mencabut rambut wajah dan meminta dicabutkan.

Adapun mencabut uban pada rambut kepala maka tidak sampai pada derajat haram karena tidak termasuk Namsh. والله أعلم بالصواب

Pertanyaan dan diskusi
1. Ustadz, kalau uban di bagian bulu hidung gimana?
Jawab 
Rincian detailnya Mas Abdiel  →   Rambut Di Tangan, Di Hidung, Di Kaki, Di Betis Dan Di Dada. Ini boleh dicukur atau dihilangkan. Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri berkata, ”Seorang laki-laki boleh menghilangkan bulu di badannya, seperti bulu di punggungnya, dadanya, betisnya dan pahanya bila tidak memudharatkan dirinya dan tidak bermaksud untuk tasyabbuh (menyerupai) wanita.”

Namun sebaiknya rambut atau bulu di tempat-tempat tersebut dibiarkan saja karena اللّهُ  tidak menjadikannya sia-sia, tetapi memiliki hikmah dan manfaat yang terkadang kita tidak mengetahuinya. والله أعلم بالصواب

2. Kalau masalah menyemir rambut ustadz?
Jawab
Masalah menyemir memang disunnahkan yang berwarna orange. Kalau belum siap mental, silahkan warna apa saja asalkan jangan warna HITAM ya Mas.

3. Oke siap ustadz, tapi kenapa tidak boleh warna hitam tadz?
Jawab
Berikut salah satu dalilnya :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِى آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لاَ يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ».

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah ﷺ  bersabda, “Di akhir zaman nanti akan ada sekelompok orang yang menyemir rambutnya dengan warna hitam bagaikan tembolok burung dara. Mereka tidak akan mencium bau surga” (HR Abu Daud no 4212, dinilai shahih oleh al Albani).

4. Ustadz, kalo emang di bolehkan nyemir rambut selain warna hitam, nyemir yang di bolehkan itu memakai apa?
Jawab
Ingat konsep dasar dalam Beribadah :
Pada awalnya setiap IBADAH itu adalah TERLARANG, sampai dengan ada yang MEMERINTAHKAN nya. 
Berbeda dengan konsep Makanan : Pada awalnya setiap MAKANAN itu adalah HALAL, sampai ada perintah MELARANG nya. Iyaaa. Bisa dengan inai (daun pacar) atau dengan yang lainnya, asalkan tidak ada zat yang terlarang

Pertanyaan di luar topik
1. Maaf ustdz Dodi, sedikit menyimpang dari kajian hari ini. Ana mau tanya. Arti kata irsyadul ibad itu apa dan apakah boleh kalau dipakai nama?
Jawab
Salam... Kalau nda salah itu adalah nama Kitab. Yang dilarang adalah nama nama buruk dan memakai nama nama اللّهُ

2. Afwan melenceng dari tema stad. Mengenai hukum jalallah. Ada temuan kotoran ayam diproses dengan diopen lalu difermentasi dengan mikroba bisa digunakan pakan sapi... Kotoran ayam yang sudah mengalami proses apakah masih menyebabkan hewan yang memakan nya menjadi jalallah?
Jawab
Dalil mengenai Hewan Jalalah :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا.

“Rasulullah ﷺ  melarang dari mengkonsumsi hewan jalalah dan susu yang dihasilkan darinya.” (HR. Abu Daud no. 3785 dan At Tirmidzi no. 1824. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hewan al jalalah bisa dikonsumsi lagi apabila bau-bau najisnya hilang setelah diberi konsumsi makanan yang bersih, inilah pendapat yang shahih. Ada riwayat dari para salaf, di antara mereka memberikan rentan waktu hewan al jalalah tadi diberi makan yang bersih-bersih sehingga bisa halal dimakan kembali. Ada riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu ‘Umar,

أَنَّهُ كَانَ يَحْبِس الدَّجَاجَة الْجَلَّالَة ثَلَاثًا

“Ibnu ‘Umar mengkarantina (memberi makan yang bersih-bersih) pada ayam jalalah selama tiga hari.” 

Dikeluarkan pula oleh All Baihaqi dengan sanad yang bermasalah dari ‘Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (dari Nabi ﷺ ) yang menyatakan bahwa hewan al jalalah tidaklah dikonsumsi sampai hewan tersebut diberi makan yang bersih selama 40 hari.

3. Permasalahannya, apakah kotoran ayam itu najis? Apakah ada kotoran hewan yang tidak najis?
Kalau kita bisa menjawab pertanyaan terakhir saya, maka pertanyaan Kang Asep nan Kasep pasti terjawab. Kalo dalam sebuah keterangan unta yang makan kotoran nya sendiri kerena kemarau itu masuk jalallah... Susu nya ga boleh tapi bila beras difermantasi berubah dari pati menjadi gula- jadi alkhohol- jadi cuka. Proses fermentasi kotoran ayam juga seperti itu, tapi akhir proses terbentuk nya  asam amino

Dari Abu Hurairah Rasulullah ﷺ  bersabda, “Shalatlah di kandang kambing.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Izin Nabi ﷺ  untuk shalat di kandang kambing yang tidak lepas dari kotorannya menunjukkan bahwa tempat tersebut suci.

4. Hewan apa aja yang kotoranya najis dan tidak? 
Jawab
Dan untuk masalah Jalalah, maka memang ada perbedaan ulama dalam hal ini :
Pendapat 1  →  Malikiyah mengatakan bahwa hukumnya boleh (halal).
Pendapat 2  →   Hanbaliyah mengatakan hukumya haram.
Pendapat 3  →   Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat hukumnya hanya makruh.

Ketentuan (hukum-hukum) tersebut berlaku jika bangkai atau najis yang dimakan sekiranya sampai mempengaruhi pertumbuhan hewan tersebut, sehingga diperkirakan dagingnya berubah rasa, warna, atau baunya. Hasil kotoran yang sudah difermentasi tersebut sudah merubah unsur zat dasarnya yang memang sudah hilang warna, rasa dan baunya.

Tidak juga selalu pakan ini saja yang diberikan kepada sapi bukan? Ada kalanya juga diberikan rumput-rumputan guna pertumbuhan sapi tersebut. Dalam hal ini seperti tumbuhan jika dikasih langsung kotoran hewan, maka akan mati tumbuhan tersebut, tapi jika dikompos maka akan membuat tumbuhan tersebut mendapatkan energi dari kompos tersebut. Pakan sapi yang diataspun demikina, pastilah dengan fermentasi adalah salah satu cara proses pengkomposannya. Hewan yang dagingnya bisa kita makan dan halal, maka itu pipisnya ataupun kotorannya tidak najis.والله أعلم بالصواب. 

5. Air mani bukan najis berarti ya. Kalo pakai pakaian ada maninya ...kita percikkan air saja boleh ga ustadz? Kalo utk sholat bolehkah?
Jawab
Boleehh. In sha اللّهُ bisa dikerik atau dibasuh basahkan yaaa

6 .Oya satu lagi ust. Dasar hukumnya apa ya yg binatang yang halal dimakan kotoranya sucii?
Jawab
Dari Abu Hurairah Rasulullah ﷺ  bersabda, “Shalatlah di kandang kambing.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Izin Nabi ﷺ  untuk shalat di kandang kambing yang tidak lepas dari kotorannya menunjukkan bahwa tempat tersebut suci. Bukankah dikandang kambing berserakan pipis dan kotoran kambing?Ya iyalllaaah, masa kotoran kita yaa

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(Semoga Bermanfaat)

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment