Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERLU DIHINDARI DALAM MENDIDIK ANAK

KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERLU DIHINDARI DALAM MENDIDIK ANAK

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, November 20, 2014

Kajian Online WA Hamba اللَّهِ SWT Kamis, 20 November 2014 Nara Sumber : Ustadzah Pipit Indrawati Rekapan Grup HA 15 dan 16 oleh: Farabella Dan Nury Materi: Tarbiyatul Aulad (Parenting) السلام عليكم ورحمة الله و بركاته بسم الله الرحمن الرحي سبحان الله وبحمده ولا اله الا الله Ba'da tahmid wa shalawatu Rasuulillah, semoga kita sen anti dijaga untuk jadi insan2 yg istiqomah berpegang pada Qur'an dan hingga di yaumil akhir nanti beroleh Syafa'ah Hari ini kita masuki detik2 terakhir materi Tarbiyatul Aulad ya Bunda. Pekan ini tentang Kesalahan2 yg Umum Terjadi saat Mendidik Anak. Mari kita mulai KESALAHAN-KESALAHAN YANG PERLU DIHINDARI DALAM MENDIDIK ANAK 1. TIDAK TANAMKAN KEIMANAN SEJAK DINI. Keimanan adalah urusan yang terpenting bagi eksistensi seorang manusia sebagai hamba Allah. Menanamkan keimanan dan aqidah yang benar pada diri anak semenjak kecil adalah tuntutan syariat Islam bagi kedua orang tua. Orang tua hendaknya menyadari betul bahwa fitrah seorang anak mengakui akan keesaan Allah bahkan mengakui sabagai satu-satunya sesembahan yang Haq. Dengan demikian mempertahankan kondisi tersebut adalah sebuah kelaziman yang harus dilakukan bagi keduanya. Rasulullah bersabda, “Ajarkan kalimat Laa Ilaaha Illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama, dan tuntunlah mereka mengucapkan kalimat tersebut ketika menjelang mati.” Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah pernah berkata, “Di awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah mendiktekan kepada merekakalimat Laa Ilaaha Illallah dan Muhammad Rasulullah . Hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah Laa Ilaaha Illallah dan mentauhidkan-Nya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam diatas Arsy, Dia senantiasa melihat dan mendengar perkataan mereka dimanapun mereka berada.” Penanaman aqidah yang shahih hendaknya ditekankan semenjak anak kecil, agar ia bisa tumbuh diatas aqidah tersebut. 2. MENDIDIK BICARA SPONTAN TANPA DIPIKIR MASAK" AGAR ANAK JADI BERANI. Lisan adalah sumber dari berbagai fitnah. Dengan lisan seseorang dapat menyampaikan kebenaran maupun kesalahan. Ucapan lisan yang baik akan membawa seseorang kepada Jannah, sebalinya ucapan yang jelek akan menyeret pelakunya ke dalam Neraka. Rasulullah pernah mengingatkan kepada Mu’adz bin Jabal, “Peliharah olehmu benda ini (seraya beliau memagang lidahnya),” Muadz bertanya, “Benarkah kita akan disiksa karena pembicaraan kita,?” Beliau menjawab, “Celaka ibumu Muadz, bukankah manusia itu akan diseret ke Neraka pada wajah-wajah mereka disebabkan oleh buah Perkataan mereka.” (HR. At-Turmudzi: 7/142 dan al-Hakim: 4/324) Maksud dari buah perkataan adalah balasan atas perkataan yang haram dan berbagai akibatnya. Dengan berbicara dan beramal seseorang berarti telah tanamkan kebaikan atau keburukan, di hari Kiamat kelak ia akan menuai semua apa yang telah diucapkan. Barangsiapa yang menanam kebaikan, maka ia akan menuai karamah. Sebaliknya, siapa yang menanam keburukan ia akan menuai penyesalan. [Kitab Tazkiyatunnafs hl.36] Hendaknya orang tua bertanggung jawab kepada semua anak-anaknya untuk benar-benar menjaga lisannya, dipikir terlebih dahulu sebelum mengucapkan sesuatu. Sudah semestinya menyadari bahwa apa yang diucapkan senantiasa tercatat oleh Malaikat. Allah telah berfirman, “ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS.Qaaf:18] Demikian pula kita meyakini bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawabannya, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” [QS.Al-Israa:36] Oleh karena itu, jika kita tidak mampu untuk berkata yang baik hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk menutup lisan kita, agar terjaga ucapan kita. Rasulullah mengingatkan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” [ HR. Al-Bukhari: 11/308 dan Muslim: 2/18] 3. MENDIDIK ANAK DENGAN ROYAL DAN MANJA. Anak yang dididik dengan manja, maka di kala dewasa kelak ia tidak akan menjadi orang yang mampu untuk hidup mandiri. Membiasakan anak hidup secara boros dan royal, maka di waktunya ia besar tak akan mampu hidup sederhana. Membiasakan anak hidup tanpa aturan, akan menjadikan ia sebagai orang yang tdk taat aturan di kala besar. Berlebihan dalam makan hingga kekenyangan akan banyak memicu munculnya berbagai macam penyakit, baik bersifat jasmani maupun rohani merasa lemah, lesu dan mual-mual dsb. Lalu tidak akan dapat memanfaatkan waktunya dengan baik, ia akan malas untuk bekerja, ingin istirahat terus dsb. Adapun penyakit rohani, ia akan banyak mengakibatkan hal yang buruk. Ia akan menggerakkan badan untuk melakukan brbagai macam kemaksiatan serta menjadikannya malas dan berat untuk berbuat ketaatan kepada Allah maupun malas dalam beribadah. Berapa banyak kemaksiatan yang bermula dari keadaan kenyang dan berlebihan dalam makan. Mengenai urusan perut, jauh hari Rasulullah telah mengingatkan kita untuk mengaturnya. Dalam sebuah haditsnya, beliau menasehatkan, “Tiada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka 1/3 dari perutnya hendaknya diisi untuk makannya, 1/3 untuk minumnya dan 1/3 untuk nafasnya.” [HR.Ahmad] Makan dengan teratur dapat melembutkan hati, menguatkan daya pikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat suka marah. Barangsiapa bisa menjaga keburukan perutnya berarti ia telah manjaga diri dari keburukan yang besar. Hendaknya membiasakan mereka untuk hidup sederhana dengan bersungguh2, serius dan menjauhkan dari sifat malas, menganggur dan santai-santai. 4. MEMBERIKAN SEMUA YG DIMINTA ANAK. Membelikan gadget/kendaraan kepada anak adalah contoh riel yang acap kali terjadi di masyarakat kita, padahal mereka masih kecil dan tidak tahu akan kegunaannya. Dengan benda tersebut seorang anak hanyak merasakan kenikmatannya saja, tidak mengetahui bagaimana perawatan bahkan dampak negatifnya. Sikap yang ditempuh oleh orang tua seperti hal diatas akan membuka pintu syetan dan menimbulkan banyak kemubadziran. mubadzir adalah perkara yang dilarang oleh Allah dan sangat disukai syetan. Allah berfirman, “dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros2 itu adalah saudara2 syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” [QS.Al Israa:27] Maka oranmg tua yang baik, akan memberi uang jajan kepada anak sesuai dengan apa yang dibutuhkannya dan memberinya uang tetap (pada usia tertentu). 5. TERLALU BERSIKAP KERAS DAN KASAR. Terlalu bersikap keras dalam mendidik anak, akan menjadikan ia sebagai anak yang berwatak penakut dan kecil hati. Anak akan selalu rendah diri, tidak berani bergaul dengan orang lain dan akan sering mengurung diri demi tidak terlihatnya oleh orang laing. Kalaupun si anak tidak gentar, maka ia akan menjadi pemuda yang kurang ajar dan tidak ada yang ia segani maupun ditakutinya. Hati seorang anak akan menjadi keras, hingga pada akhirnya tak seorangpun yang mau ditaatinya. Oleh karena itu, hendaknya orang tua mendidik anaknya sewajarnya saja, tidak terlalu keras maupun lembut. Orang tua hendaknya mperhatikan tahapan2 dalam mendidik anak-anak-nya. Manakala dibutuhkan kekerasan ketika mengingatkan, hendaknya dilakukan. Namun ketika tidak dibutuhkankekerasan, maka jangan sampai mendidiknya dengan kekerasan. Diantara tahapan tersebut adalah memberikan penjelasan. Anak dikenalkan kepada keyakinan dan amalan yang harus dikerjakan seorang muslim, juga apa yang harus ia tinggalkan dan ia jauhi. Kedua, melakukan larangan dengan tegas. Metode ini dilakukan saat diperlukan saja, ini berdasarkan sikap Rasulullah kepada al-Hasan yang makan kurma dari sedekah. Ketiga, merubah dengan tangan. Keempat, melakukan pukulan. Kelima, pengucilan. [Dr.Fadhl Ilaihi, buku Mendakwahi Anak] Menghindari hukuman fisik atau ancaman sebagai sarana untuk meluruskan kesalahan tetap saja sebagai tindakan yang lebih baik. Orang tua hendaknya juga tidak melupakan untuk memperhatikan seti 10:28 malam 20 Nov - HA mb Farabella: ap pelaksanaan perintah. Dengan mengetahui tahapan dalam mendidik anak seperti diatas, diharapkan orang tua benar2 dapat mengamalkannya dengan sebaik mungkin. Tafadhal... silakan dibaca ya Bunda Sesi Tanya Jawab: 1. Tanya: Ustadzah Pipit.. Anak sulung sy dr kecil sm abinya dimanja minta apapun dipenuhi akibatnya skrg lum bs ngatur uang gmn solusinya Jawab: Bunda, belum terlambat utk ajarkan si sulung mulai mengatur keuangan.Tapi dipandu/dikontrol sama bunda ya... Berapa usianya?Klo masih di bawah usia SMA insya4WI belum terlalu kuat ego keuangannya. Dan utk si Abi, ayahnya anak2 tentu harus sayang ke anak dng cara yg tepat dan tdk bahayakan kemampuan anak survive di masa depan. Cukup memanjakannya ya Abi... Kalau perlu libatkan Abi jga utk bantu arahkan si kakak jadi mandiri demi capai karakter Qadirun 'alal kasbi 2. Tanya: Ustadzah Pipit....saya merasa mmg agak keras sm anak2 saya...klo pelan2 dia ga bs ngerti smp2 umi teriak klo dia ga ngerti jg...umi salah ya ustadzah...umi mesti gimna ya biar anak umi ngerti. ..trus knp anak2 klo ortu bua lg ngomong pasti dia cari perhatian. .kita dah bilangin pelan2 to ank2 malah sengaja...mohon penjelasannya Jawab: Umi sayang, ini studi kasus yg sama dengan Mamah saya di rumah. Makin beliau 'cerewet' (yg klo ga diturutin jadi ngomel2) makin anak2 ngga nurut 😁 Secara natural, telinga kita memang menerima semua rangsangan tapi saat sampai ke otak depan (alam sadar) akan diolah, hal yg ingin kita dengar krn baik2/menyenangkan akan diproses, hal2 yg tdk menyenangkan akan cenderung dibuang (pura2 ga dengar). Jadi kita sbagai Ibu emang perlu memilah2 kata agar sedikit tapi bernas dan membekas, daripada banyak tapi dianggap angin lalu 3. Tanya: Pada dasarnya sifat/karakter sy tegas,tdk tbiasa lmh lembut pd anak,sewajarnya tp dgn hati,terbukti anak2 tk dulu pada nempel drpada pd guru yg lemah lembut, apakah sy hrs merubah karakter sy thdp anak ? Jawab: Bunda, sifat tegas yg baik/proporsional akab buat kita bertindak sesuatu pada tempatnya. Sebetulnya Bunda penyayang tapi tdak menyadarinya, itulah yg bikin anak2 TK nyaman. Kalau memang tdk ada hambatan komunikasi dng anak2 di rumah dan siswa2 di skul insya4WI tdak ada masalah yg perlu Bunda risaukan ya 4. Tanya: ustadzah, sbnrnya sifat galak itu menurun gak y? terkadang saya kalau lagi keras ke anak teringat ibu saya yg juga keras, namun imbang dengan ayah yg tenang. tp selalu kalau saya abis keras/galak ke anak trus nyeselbgt , tp trus kadang terpancing lagi . gimana cara ngontrolnya ya ustdzh supaya bisa lebih tenang dan sabar? Jawab: Bunda, saya jadi ingat prtanyaan beberapa sesi lalu ttg sifat galak. Mari kita seleksi sifat galaknya itu pada tempatnya atau tdak, sifat galaknya hanya pada kasus2 trtentu atau setiap saat? Kalau masih pada tempatnya berarti itu hanya salah satu bentuk ketegasan. Cara agar lebih tenang adlh dng banyak brdzikir, memahami hakikat hidup yg hanya sementara jadi tak perlulah galak berlebihan. Oya cara laib adlh dng banyak baca qur'an dng khusyu' agar bisa melembutkan hati. Wallahualam 5. Tanya: Tanya ustadzah klo saya lihat2 permasalahan ibu2 tuh rata2 sama y, yaitu susah banget ngomong sama anak2 ( waktu ngasih tau).apalagi klo dah terbentur waktu ( misalnya pagi2 suruh mandi susah,sarapan susah,dll padahal Klo pagi dah mau sekolah) mungkin ustadzah punya tips jitu nih buat para ibu wabilkhusus saya,jazakillah ustadzah,afwan pertanyaannya panjang x lebar Jawab: Hahaha! Bunda... saya jadi malu sendiri. Betul klo sudah dalam kondisi hectic/mepet gitu kadang kita Ibu2 mengalami disorientasi kata2. Saking banyaknya yg mau diucapkn jadinya belepotan dan malah esmosi. Kalau saya lihat para ummahat yg lbh senior dan taktis itu biasanya mereka sdah ga pakai lisan ya tapi maudzah hasanah (dng keteladanan tindakan) ortu yg akhirnya membuat anak2 ikuti ritme taktis disiplin ini. Saya pikir bisa kita siasati dng komitmen bersama tanpa banyak bicara misal bikin schedule harian tiap anggota rumah. Tempel di tempat2 yg mudah terlihat agar saling mengingatkan. Butuh waktu memang, yg namanya membentuk values (nilai2 di keluarga) tdak bisa instan. Akhirnya ya kita nikmati, syukuri dan sabarlah dlm kondisi2 ini. Kelak saat anak2 kita telah mandiri brkeluarga sendiri2 kita akan merindukan saat 'kekacauan kecil di pagi hari' Afwan jawabannya terlalu meLUAS, ini karena pertanyaannya Bunda PANJANG X LEBAR 7. Tanya: Assalamualaikum ustdz Pertanyaan saya adalah apakah membelikan mainan anak spt ipad untuk menyenangkan anak termasuk kesalahan dlm mendidik anak (termasuk di poin4) syukron ustdz Jawab: Wa'alaikumussalam. Iya Bunda Ida, tapi jangan digeneralisir. klo ipadnya yg banyak konten pelajarannya seperti dasar2 CaLisTung, bacaan huruf hijaiyah, mengenal benda2 di alam semesta bahkan kisah para Nabi dan Rasul tentu bisa jadi perangkat belajar anak yg menyenangkan karena jga berisi konten hiburan gambar interaktif. Maka selektiflah pilih isi gadget yg bisa dipakai anak agar cita2 hasilkan anak shalih - cerdas - tangguh tidak tercemar Ini Bunda2 HA 16 ngambek ya jadi pada ngumpet? Berarti sudah sampai disini dulu ya kajian kita. InsyaALLAAH lain waktu disambung lagi. Semoga majelis ini dirahmati... Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa'atubu ilaika “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih).

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terbaru