KESEHATAN FINANSIAL

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, December 11, 2014

Kajian Online WA Hamba ﺍﻟﻠَّﻪِ SWT 
(Ayah 304, Ibnu 202, Ummi 19+20 & Ayah 301)

Hari / Tanggal : Rabu, 12 & 13 November 2014
                          Rabu, 10 Desember 2014
Narasumber : K. Bagus Wardhianto
Tema : Ekonomi
Admin: M. Rifa'i, Reza, Rahmi, Sugeng 
Editor : Ana Trienta

Bismillahirrahmanirrahim
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk share tentang "Kesehatan Finansial"
Sebagaimana manusia, maka dalam bisnis terutama keuangan juga perlu diketahui kesehatannya. Jangan kita hanya capek fisik & ternyata tidak ada keuntungannya sama sekali. Ingat kita akan berbisnis, bukan bakti sosial, walau dalam bisnis juga ada nilai-nilai religius & sosial yang harus kita terapkan.

Dalam menjalankan bisnis, baik yang baru mulai merintis bisnis maupun yang sudah menjalankannya, faktor ide bisnis merupakan faktor yang sangat menentukan. Baru setelah itu kita memikirkan bisnis ini akan didanai dari mana. Bahkan ketika kita melakukan analisis bisnis, maka analisis keuangan juga ditempatkan di bagian paling akhir.

Hal ini menunjukkan bahwa dlm bisnis kita siapkan konsep bisnisnya secara matang, baru kemudian kita lihat dari segi keuangan kira-kira menguntungkan atau tidak bisnis kita. Sehingga pembahasan kita kali ini jangan sampai membuat kita yang akan atau sudah berbisnis jadi enggan berbisnis, karena kok kayaknya ribet banget.

Dalam kesempatan akan kita bahas model bisnis yang moderat, artinya tidak sederhana & juga tidak kompleks, sekedar memberikan contoh saja. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam keuangan bisnis
  1. Semua transaksi keuangan keluar maupun masuk harus tercatat dengan rapi.
  2. Harus dipisahkan mana uang untuk bisnis & mana uang untuk pribadi (minimal pencatatannya yang dibedakan).
Dalam menjalankan bisnis semua kita pasti mengeluarkan dana starting up atau modal awal. Dalam istilah keuangan dana starting up bisnis ini dikenal dengan istilah "initial investment" atau "initial outlay". Artinya disini semua dana yang kita gunakan untuk starting up bisnis harus tercatat.

Misal kita akan membuka bisnis warnet, maka semua kebutuhan dana untuk starting up bisnis harus kita catat. Beli 5 perangkat komputer, sewa tempat/ruko, renovasi & setting tempat, meja & kursi komputer dsb menghabiskan dana sekitar 75 juta. Maka initial investment / initial outlay kita sebesar 75 juta.

Kedua, yang perlu diperhatikan juga adalah tingkat keuntungan yang kita harapkan. Dalam istilah keuangan biasanya dikenal dengan istilah "discount rate" atau disingkat "rate" saja. Rate ini dinotasikan dengan persentase, yang artinya kita mengharapkan tingkat keuntungan berapa persen dari bisnis yang akan atau sudah kita jalankan. Apabila modal yang kita gunakan untuk bisnis ada juga dana pinjaman atau saham dari orang lain, maka rate yang kita hitung adalah penjumlahan dari semua tingkat keuntungan yang kita janjikan utk pemodal. Kalau dana pinjaman ya berarti bunga atau tingkat bagi hasilnya. Misalkan total rate yang kita harapkan dari bisnis warnet kita adalah 15%.

Terakhir, yang perlu diperhatikan adalah tingkat keuntungan bersihnya berapa. Secara sederhana keuntungan didapatkan dari total penerimaan / pendapatan / penjualan dikurangi dengan total biaya-biaya. Misalnya dalam bisnis warnet dalam menghitung pendapatan variabelnya adalah harga sewa warnet tiap jamnya dikali berapa jam dalam sehari, dikali berapa komputer, terakhir dikali 365 hari (dalam 1 tahun). Kemudian komponen biaya listrik, bayar ke telkom (kalau pakai speedy), keamanan & kebersihan, dsb. Misal dalam bisnis warnet ini diestimasikan dapat keuntungan bersih 15 juta setahun. Dan kita memprediksikan ada pertumbuhan keuntungan bersih sekitar 20% setiap tahunnya. Secara grafis dapat dilihat digambar






Penjelasan
> Dan kita memprediksikan ada pertumbuhan keuntungan bersih sekitar 20% setiap tahunnya

> Formula =c1 + npv (c7, c2:c6) adalah untuk menghitung npv. Dari hasil perhitungan diatas maka bisnis warnet tidak layak karena npv-nya negatif & irr-nya lebih kecil dari rate hasil npv-nya

> Kedua, kalau bisnisnya bisa balik modal kurang dari setahun cara menghitungnya rate-nya dibagi sesuai waktu yang kita kehendaki. Misal setahun jadi rate kita bagi 12, dst
> Formula =irr (c1:c6) utk menghitung irr
> Untuk npv bisnis akan dikatakan baik jika hasilnya positif. Sedang untuk irr akan dikatakan baik jika hasilnya lebih besar daripada rate
Setelah kita tahu angka-angka diatas berikutnya kita juga perlu tahu apakah bisnis kita secara finansial menguntungkan? Karena ada beberapa perusahaan yang tahun-tahun pertamanya siap untuk rugi, misal perusahaan perkebunan.

Untuk itu kita perlu menghitung "net present value" (npv) & "internal rate of return" (irr) dari bisnis kita. Untuk sederhananya saya tidak menyampaikan rumusnya, tetapi saya beri contoh menggunakan microsoft excel saja. Atau aplikasi office di smartphone juga bisa digunakan. Kasus di atas pingin menunjukkan bahwa tidak selalu bisnis yang untung terus itu layak, sebaliknya bisnis ya rugi diawal-awal belum tentu tidak layak. Solusinya bagaimana? Ya perlu kita lihat proyeksi arus kas kita. Jangan-jangan modal yang dibutuhkan terlalu besar atau laba kita terlalu kecil

Selamat mencoba, selamat berbisnis, semoga sukses selalu semuanya. Aamiin.
Silahkan menghitung npv & irr dicoba-coba sendiri. Di hp juga bisa. Tadi contoh yang saya kirim dari hp juga. Kalau ada yang bingung bisa japri ke saya langsung.
Afwan mau sholat dulu

Catatan tambahan:
Mengapa contohnya 5 tahun, karena suatu bisnis lazimnya sudah menghasilkan arus kas bersih di tahun ke-5. Kalau belum berarti bisnis itu kurang menguntungkan, kecuali bisnis-bisnis tertentu misal perkebunan, pertambangan dsb. Kedua, kalau bisnisnya diperkirakan bisa balik modal kurang dari setahun cara menghitungnya rate-nya dibagi sesuai waktu yang kita kehendaki. Misal setahun jadi rate kita bagi 12, dst. Kalau ada yg mau didiskusikan tafadlo, jangan lupa disimulasikan perhitungannya

Tanya dan Jawab

AYAH 304
1. Apakah ada batasan rate  ustad? Pernah saya awalnya menawarkan paket cctv 4ch dengan harga jadi 4.2 juta.. Modal barang ambil suplier dulu bayar belakangan. Rp.2.800.000 dan alat tambahan 250.000. Berarti belum dihitung jasa tenaga / keuntungan 1.150.000 . tapi rupanya sama teman ditawarkan harga jual 6.2 dan yang 2 juta dia ambil. Apakah ini dibenarkan dalam bisnis ? Mengingat dia hanya bantu jual?
Jawab:
Sebenarnya masalah harga tidak ada batasan. Yang penting kedua belah pihak sepakat. Yang perlu ditelusuri adalah apakah temannya itu menawarkan pembeli ketika barangnya sudah dibawa atau belum. Karana kita tidak boleh menjual barang yang tidak kita miliki. Prinsip keterbukaan, kejujuran, serta tidak ada yang dirugikan itu yang harus di praktekkan

2.Ana kan pedagang ustdz.. Mungkin karena ana masih pake cara konvensional yang tidak di manage keuangan input and outputnya. Langkah awal agar tidak makin banyak kerugian bagaimana ya ustdz?
Jawab:
Kita identifikasi dulu:
  1. Uang tunai yang ada untuk bisnis.
  2. Utang maupun piutang yang terjadi selama ini.
  3. Semua persediaan yang ada setiap item produk, baik di gudang maupun toko. Persediaan yang ada ini kita anggap sebagai persediaan awal.
Untuk perencanaan ke depan:
a. Manajemen persediaan, mana yang stocknya masih, mana yang sudah habis, mana yang harus segera beli lagi,mana yang harus dibuang/diperbaiki karena rusak, dsb. Untuk pencatatannya bisa menggunakan metode first in first out (fifo). Artinya barang yang masuk dulu kita jual lebih dulu. Atau sebaliknya last in first out (lifo) tergantung produk yang kita jual.
b. Manajemen kas yang penting adalah kita bisa jalan bisnisnya. Harus dibedakan mana uang untuk bisnis & untuk non bisnis. Kalau terpaksa kita ambil uang bisnis, maka harus kita ganti. Kalau ambil barang toko untuk pribadi harus dibayar. 

Terus kita dapat apa dong? Kita bisa memodelkan gaji tetap tiap bulan (jadi kita menggaji diri kita sendiri dari bisnis kita sendiri), atau dengan model bagi hasil (artinya jangan semua laba kita ambil untuk konsumsi, sisakan sebagiannya selain untuk ZIS juga untuk pengembangan bisnis). Dari gaji atau bagi hasil untuk kita inilah kita bisa membuat target penjualan tiap periodenya. Misal kita mengharapkan mendapatkan 5jt atau 1% dari total modal tiap bulan dari bisnis ini, maka target penjualan yang harus dikejar harus di atas itu.

3. Ustadz, apa kira-kira bisnis yang cocok untuk seorang murobbi dan guru yang berkecimpung di dunia pendidikan pesantren?
Jawab:
Salah satu bisnis apa yang cocok untuk kita adalah yang kita suka. Sesuai dengan hobi kita. Ada seorang ustadz punya pondok juga, tapi beliau senang komputer maka beliau bisnis jual beli komputer. Selain sesuai hobi, bisnis juga bisa kita lakukan berdasar mana yang ada peluangnya besar. Sangat kondisional sesuai dengan kondisi kita. Saya & istri sama-sama lagi S3 kita jalankan bisnis yang bisa jalan di rumah. Misal jual buku-buku islam, jilbab, kaos anak. Serta saya kadang trading saham (karena sesuai dengan bidang yang diajarkan & disertasi)


IBNU 202
1. Ana mau tanya tadz. Jika kita bekerja sama dengan investor apakah akan selamanya kita bagi hasil dengan beliau atau sampai dengan modal nya kembali?

Jawab :
Tergantung perjanjian kita. Kalau perjanjiannya sebagai saham, yang artinya sebagai pemilik maka akan seterusnya bagi hasil & kita tidak perlu mengembalikan modal yang disetor. Karena status kita disini memutar dana investor. Tapi kalau perjanjian kita seperti mudharabah atau musyarakah, maka bagi hasil kita berikan sampai dengan modal yang kita gunakan dikembalikan semua


2. Secara logika lebih baik menggunakan yang opsi kedua ya. Namun, agar dapat terus menjalin silaturahmi, ana pakai yang pertama aja. Namun, pembagian presentase kepada investor bagaimana menghitungnya ya?
Jawab :
Semua tergantung perjanjian. Misal setelah lunas investor mendapat 10% dari laba bersih, bisa kurang atau lebih. Namun lazimnya investor ingin sebagai pemilik saham, karena bisa mengintervensi pengelola termasuk menggantinya. Sedang bagi pengelola lazimnya lebih menyenangi yang kedua karena ingin ada kemandirian & bisa menikmati hasil usahanya

3. Jadi gimana dengan pedagang di indonesia yang biasa tidak mencatat pengluarannya dan keuntngannya ustad?
Jawab
Memang harus dibiasakan mencatat. Minimal pemasukan & pengeluarannya saja


4. Bingung ya akhi materinya itu intinya jual beli dan bagi keuntungannya?
Jawab :
Memang membingungkan. Makanya silahkan disimulasikan. Materi ini bagi yang ingin bisnisnya bankable. Serta ingin memberi gambaran bahwa bisnis yang untung, bahkan untungnya naik tiap tahun belum tentu sehat secara finansial. Serta bisnis yang kelihatannya rugi terus belum tentu tidak baik juga secara finansial

5. Kalo investasi dalam islam kan konsepnya bagi hasil, dan usahanya bisa untung dan bisa rugi. Apakah dalam konsep bagi hasil ada bagi untung dan bagi rugi? Kan beda dengan konsep ribawi yang investornya maunya untung terus (misal bank).
Jawab :
Semua tergantung perjanjian. Kalau mudharabah & musyarakah bisa jadi kerugianpun akan dibagi. Namun jika dalam perjanjian disebutkan jika ada kerugian akan ditanggung pengelola sepenuhnya juga gpp



TAMBAHAN PERTANYAAN UMMI 20 & 19
Kamis, 13 November 2014 
Notulen :  Rahmi

UMMI 20
1. Masih bingung ustadz, c Itu nilai apa ustadz?
Jawab:
Bunda Rahmi c dalam formula di atas itu nomor cell (kotak-kotak) dalam excel bund kita klik pointernya dia akan menunjuk ke cell berapa gitu.


2. boleh minta saran gak ustadz, kalau untuk ibu RT apa bisnis yang cocok, resikonya kecil, tidak menyita waktu dan menguntungkan? 
Jawab:
Untuk bisnis yang cocok untuk ibu RT, salah satunya ya seperti bunda fatimah bisnis online. Bisa pakai wa, telegram, instagram, fb, tokobagus.com dll.

3. Ustadz saya dulu pernah punya toko buku islam tapi akhirnya tutup dan modal macet karena buku banyak tersisa tidak terjual sekarang sudah setahun sejak saya bekerja nyambi bisnis online di grup dan alhamdulillah cukup menguntungkan karena tidak perlu modal banyak dan perputarannya cukup bagus. tapi saya tidak pernah hitung irr dan npv nya. Sekarang saya tidak bekerja dan ingin fokus berbisnis..asa rencana buka toko tapi saya ragu dengan initial invesment yang nantinya tidak semua barang laku.. bagaimana cara menghitung irr dan npv bisnis ini layak tidaknya sebab penjualan kan kita belum tahu seberapa banyak dan bagaimana cara promosi jika kita berada di tempat baru belum banyak teman yang kita kenal. Mohon arahannya ust agar saya mantap dan semangat memulai bisnis ini di kota yang banyak saingan bisnisnya.. afwan kalo terlalu panjang.syukron
Jawab:
Kalau bisnis online tidak menghitung irr & npv gpp karena bisa dianggap tidak bermodal, kecuali kita mau buat kayak tokobagus.com

4. Ustadz.. saya punya bisnis yang keuntungannya lumayan, selama ini saya hanya mencatat mutasi keuangan dan diakhir bulan saya buat lap keuanganya (laba rugi.neraca.arus kas.) . Kas saya jumlahnya selalu tidak besar meski lap. laba ruginya menunjukkan angka yang besar. Hal ini karena uangnya saya pakai untuk mengembangkan usaha lagi. Bisnis dengan pendapatan besar tapi Kas kecil apakah sehat ustadz? Sampai batas mana kita bisa memakai rent tersebut sebagai tambahan modal? 
Jawab:
Untuk bunda titis gpp, yang penting kas hasil laba usaha itu perlu kita bagi untuk kita sendiri, pengembangan usaha, operasional bisnis, persiapan pengeluaran tidak terduga. Kalau bisnis kita sudah jalan, biasanya mudah untuk memprediksi pembagian kas tersebut

5. Bagaimana dengan trading saham ustadz, apakah ini sesuai dengan syariah islam? 
Jawab:
MUI sudah memfatwakan trading saham, sistemnya ada yang diperbolehkan & ada juga yang dilarang. Secara umum yang diperbolehkan itu kita beli saham terus kita jual. Jadi model opsi, future tidak boleh. Saham-saham yang dijualbelikan juga masuk dalam indeks saham syariah.

UMMI 19
1. Ana buka toko pakaian.. uztad baju campur aduk semua ada dari baju baby, baju anak baju sekolah, tas. Modal awal 15 jt yang ana belanjakan untuk barang dagangan  dan keperluan lainnya. Ana ambil untung pertama buka antara 30-50 persen dari modal kotor artinya belum tambah biaya lain-lain awalnya tahun1 dan 2 ana rajin mencatat, ada pembukuan khusus. Termasuk mencatat untung rugi dalam setahun. Tapi udah 2 tahun ini ana udah ngga hitung satu persatu barang uztad, pakai perkiraan aja. Hitung uang zakat maal tahunan juga perkiraan. Tapi ana lebihkan dari tahun kemarin karna barang dagangan ana campur-campur, ribet banget ngitung satu-satu uztad. Gimana cara praktisnya ya? Syukron uztad .. ditunggu jawabnya
Jawab
Untuk pencatatan memang baiknya kita lakukan dengan rapi. Kita tidak pernah tau bisnis kita nanti bisa sebesar ramayana, matahari dsb. Biasanya untuk memudahkan catatannya bisa per jenis produk. Sisanya berapa, kita beli lagi berapa, terjual berapa & sisa berapa. Untuk lebih memudahkan biasanya ada yang jual software untuk pencatatan ini, harganya juga murah. Tapi afwan saya gak jual & gak nyimpen nomor penjualnya

7. Assalamu'alaikum ustad, afwan mau bertanya kalau kita berbisnis bagi hasil bagusnya perbadingannya berapa persen yah antara kita dengan karyawan? bisnis kita diserahi semuanya itu kekaryawan kita tinggal membawa hasil keuntungannya aja tiap bulannya ustad, itu gimana yah.
Jawab
Kalau untuk bagi hasil sebenarnya tergantung kesepakatan. Karyawan itu sebagai apa? Kalau sebagai manajemennya juga tentu bagi hasilnya juga besar. Tapi kalau hanya karyawan biasa, sebagai penjaga toko tentu tidak terlalu besar. Bagi perusahaan-perusahaan besar manajer itu juga karyawan bagi pemilik perusahaan. Dan manajer bukan pemilik perusahaan.  Intinya bagi hasil itu kita tawarkan ke mereka dengan acuan besarnya tidak jauh dari gaji penjaga toko (kalau fungsinya hanya penjaga toko). Kalau sekaligus sebagai manajemen bisa antara 30%-70%. Semua tergantung kesepakatan

AYAH 301
Tanya:
Bisnis untung belum tentu sehat, maksudnya apa ustadz?
Jawab:
Secara umum bisa jadi keuntungan yang dihasilkan masih di bawah keuntungan minimal yang kita syaratkan. Atau keuntungan yang dihasilkan masih di bawah deposito, misalkan, baik yang syariah atau konvensional. Secara detail bisa dilihat lagi pembahasan kita yang terdahulu tentang kesehatan finansial

Tanya:
ustadz, Bagaimana menetapkan keuntungan minimal yang kita syaratkan, sehingga menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam bisnis tersebut. Mungkin bisa diberikan ilustrasi atau point-point untuk penetapan tersebut. Terima kasih
Jawab:
Biasanya yang dijadikan patokan minimal adalah bunga atau syukuk dari obligasi/deposito.
Selebihnya sesuai dengan kondisi kita & bisnis kita. Artinya ada bisnis yang bisa menghasilkan return tinggi tapi ada juga yang tidak. Misal bisnis nasi goreng atau makanan bisa dapat 10% lebih semalam, tapi bisnis yang lain mungkin 10% dalam setahun, dsb

Tanya:
Batasan maksimumnya berapa persen ustad?
Jawab:
Batasan keuntungan tidak ada. Yang penting sama-sama sepakat & jujur dalam berbisnis

Terima kasih ustadz atas ilmu dan waktunya

Semoga keberkahan selalu melimpahimu 

Aaamiiin

Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 


Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.        
                   
 ​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT