Ketik Materi yang anda cari !!

MAKNA KANDUNGAN SYAHADATAIN

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Saturday, November 22, 2014

KAJIAN ONLINE WA HAMBA ﺍﻟﻠﻪ SWT (HA 104 Nanda)

Hari / Tanggal: Jumat, 21 November 2014
Narasumber: Ustadzah Prasetiya
Notulen: sabrina
Editor : Ana Trienta

Tentang kandungan syahadatain ya
Sudah siap kah mengawali kajian hari ini
Marilah kita mulai dengan mengucap basmalah

Assalamu'alaikum. Nanda semua
Syahaadatain begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat, Nabi SAW bahkan mereka siap dan tidak takut terhadap segala ancaman orang kafir. Sahabat nabi misalnya Habib berani rnenghadapi siksaan yang dipotong tubuhnya satu-satu oleh Musailamah, Bilal bin Rabah tahan menerima himpitan batu besar di siang hari yang panas dan beberapa deretan nama sahabat lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain. Muncullah pertanyaan kenapa mereka bersedia dan berani mempertahankan‑kalimat syahaadah? Ini disebabkan karena kalimat syahaadah mengandung makna. yang sangat mendalam bagi mereka. Syahaadah bagi mereka dipahami dengan arti yang sebenarnya yang melingkupi Pengertian ikrar, sumpah dan janji.


Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat sebagai ikrar Saja, apabila mereka tahu bahwa
syahaadah juga mengandung arti sumpah dan janji, serta tahu bahwa akibat janji dan sumpah maka mereka akan benar‑benar mengamalkan Islam dan beriman. Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahaadah yang betul. Iman merupakan pemyataan yang keluar dari mulut, juga diyakini oleh hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman. Apabila kita mengamalkan syahaadah dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan optimis menjalani kehidupan. Kemudian Allah SWT memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat.

> Madluul Asy‑Syahaadah (Kandungan Kalimat Syahadat)
Syahadah adalah prinsip dasar yang dianut setiap mukmin. Ia merupakan kombinasi antara
keyakinan dan pemahaman. Keyakinan saja yang tidak didasari oleh pemahaman masih akan dapat diguncang. Sementara pemahaman tanpa keyakinan, juga akan menyebabkan syahadah menjadi mandul dan tidak memiliki daya dorong yang kuat. Harus dipahami bahwa Syahadah yang benar mengandung unsur-unsur yang tanpanya syahadah tidak akan dapat tegak.

Adapun unsur dimaksud adalah :
A. AI‑Iqraar (Pernyataan)
Iqrar yaitu suatu pernyataan seorang muslim mengenai apa yang diyakininya. Pernyataan ini sangat kuat karena didukung oleh Allah SWT, Malaikat dan orang‑orang yang berilmu (Para nabi dan orang yang beriman). Jika saja seorang mukmin mengatakan “La Ilaaha Illallah”, maka pertama-tama adalah bahwa pernyataan itu harus diucapkan dengan segenap keyakinan dan kesadaran bahwa yang penting dari pernyataan itu adalah pembuktian. 

Hasil dari ikrar ini adalah kewajiban kita untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang diikrarkan. Oleh karena yang menjadi saksi bagi pernyataan itu adalah Allah sendiri. Allah lebih tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yang oleh karena itu Allah akan menuntut bukti agar hambanya yang mengucapkan pernyataan itu dapat membuktikan bahwa ia meng-Ilahkan Allah dalam setiap sisi kehidupannya. Tidak ada tempat dan waktu yang kosong dari pembuktian bahwa dirinya memang betul memperhamba dirinya kepada Allah. Allah adalah Tuhannya dalam keadaan sedih maupun senang, sendiri ataupun di tengah keramaian, diam atau bicara. Ia sadar dan yakin bahwa Allah adalah Murabbi baginya. Karena Allah adalah rabbul ‘alamin. 

Persaksian kebenaran syahadat langsung oleh Allah, malaikat dan orang-orang mukmin. Malaikat adalah makhluk yang langsung menyaksikan kebesaran Allah. Dan oleh karenanya mereka tidak sedikitpun membangkang kepada Allah. Sementara orang mu’min adalah mereka yang hatinya (Qs. 49:14) merasakan ketundukan kepada Allah. Dalam surat Ali Imran,3:18. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang‑orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha perkasa lagi Maha Bijaksana. 

Ikrar Syahadah merupakan pernyataan keyakinan seorang hamba mukmin terhadap pemeliharaan Allah terhadap dirinya. Nyaris seluruh sistem dalam tubuhnya langsung dikendalikan oleh kekuatan Rabbul ‘alamin. Sistem peredaran darahnya, debaran jantungnya, pencernaannya dan banyak lainnya langsung tunduk pada sistem rabbaniyah. Itulah kenapa manusia tidak dapat menolak rasa ketuhanan (God Conciousness ) yang muncul dalam dirinya. Bahkan itu sudah menjadi fitrah dirinya (Qs. 7:172) yang berbunyi “ 
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari Para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadarnu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh‑sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: Apakah karnu mengakui dan menerima perjanjianKu terhadap yang dernikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". AlIah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai Para nabi) dan Aku menjadi saksi (Pula) bersama. kamu".
B. AI‑Qasam (Sumpah)
Sumpah yaitu pernyataan kesediaan menerima akibat dan resiko apapun dalam mengamalkan syahaadah. Muslim yang menyebut asyhadu berarti siap dan bertanggungjawab dalam tegaknya Islam dan penegakan ajaran Islam.Sebenarnya kesiapan menerima resiko bermula dari keyakinan dan kepahaman mereka terhadap syahadah yang mereka ucapkan. 

Syahadah adalah agreement antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dengan perjanjian itu, Alllah menjanjikan kepada mereka ridho dan syurga-Nya (Qs. 61:10). Namun untuk mendapatkan janji Allah itu mereka harus menyerahkan diri dan hartanya di jalan Allah (Qs.9:111). Penyerahan itu ditandai dengan kesiapan total untuk menjadikan Islam sebagai minhaj al-hayah (Qs. 2:208). Di titik inilah seorang mukmin harus menyadari bahwa akan selalu ada mereka yang tidak rela jika mukmin melakukan ketundukan total kepada Allah. Mereka tidak hanya tidak suka, tapi juga mengumumkan peperangan terhadap Hizb Allah ini. Sunnatullah sudah menunjukkan dimana dalam sejarah pelaku dakwah selalu saja
bertemu dengan mereka yang terus menerus menyakiti para da’i fillah. 

Dalam 13 tahun pertama dakwah Rasulullah Saw dan para sahabat ra di Makkah, tidak ada satu haripun yang menyenangkan. Tapi betapa mencengangkan bahwa ternyata tidak ada berita yang sampai kekita bahwa ada di antara mereka yang murtad karena tidak tahan penyiksaan kaum kuffar. Ada berita Ammar ibn Yasir sempat mengucapkan kalimat kafir karena beratnya penyiksaan yang dilakukan kepada mereka. Namun itu sangat disesali olehnya, sampai akhirnya turun ayat yang memaafkan yang berlaku pada Ammar ibn Yasir itu. Satu hal yang patut ditanya adalah, “kenapa para sahabat ra demikian teguhnya memegang keyakinan mereka itu?” Tentu saja, karena mereka sadar bahwa konsekuensi dari syahadah yang mereka ucapkan adalah kebencian dan permusuhan kaum kuffar terhadap mereka. Dan itu tetap saja mereka tahankan dengan sabar dan tegar ( Tsabat ) oleh karena mereka tetap berharap janji Allah atas mereka.

C. Al‑Mitsaaq (Perjanjian yang Teguh)
Mitsaq yaitu janji setia untuk mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap semua
perintah Allah SWT yang terkandung dalam. Kitabullah maupun Sunnah Rasul. Taat dalam
keadaan susah ataupun senang, suka atau tidak suka. Syahaadah adalah mitsaq yang harus diterima. dengan sikap sam'an wa thaatan sebagaimana dinyatakan dalam Q. 5:7.
Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjianNya yang telah diikatNya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu). 

Di antara ciri ketaatan adalah :
  • Taat dalam giat atau malas, di saat susah atau senang dan mudah, baik disukai atau tidak.
  • Sur’atul Istijabah (segera menyambut dan melaksanakan perintah).
  • Tidak lamban, tidak merasa berat, tidak enggan dan ragu.
  • Taharrid diqqah (melaksanakan perintah sesuai dengan arahan syari’ah dan bukan mengikuti pendapat dan keinginan sendiri).
  • Tidak meninggalkan tugas tanpa izin (jika konteksnya dalam jama’ah) kecuali dalam keadaan sangat darurat. Itupun harus tetap dibarengi dengan istighfar dan menyesal karena tidak dapat mengikuti perintah.
Demikian materi kajian hari ini. Pertanyaannya silahkan

1. Assalamu'alaikum ustdzh. Terkait dengan tidak melaksanakan tugas tanpa ijin. Ada yang ingin saya tanyakan, jarak antara rumah dengan kantor saya lumayan jauh, pagi masuk jam 7 & pulang jam 2 siang, tapi saya sering telat datang biasa nyampe kantor jam setengah 8 pagi, dan pulang lebih sering melewati jam 2. Kadang jam 3 atau 4 sore & hal ini sudah di maklumi oleh atasan. Afwan maksud pertanyaan saya point 1. Bagaimana hukumnya hal tersebut?
Jawab
Nanda Rahmah seorang pekerja atau pegawai yang menuntut agar mendapatkan gaji yang
utuh, namun datang dan perginya sangat tidak tepat waktu juga termasuk muthaffif yang Allah tegur dengan teguran keras dalam ayat di .atas

ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻐِﻴﺮَﺓِ ﺑْﻦِ ﺷُﻌْﺒَﺔَ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﺮَّﻡَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋُﻘُﻮْﻕَ ﺍﻷُﻣَّﻬَﺎﺕِ،ﻭَﻭَﺃْﺩَ ﺍﻟْﺒَﻨَﺎﺕِ، ﻭَﻣَﻨَﻊَ ﻭَﻫَﺎﺕِ

Dari al-Mughirah bin Syu’bah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan mendurhakai ibu, membunuh anak perempuan, dan mana’a wahat.” (HR. Bukhari no. 2408, dan Muslim no 4580)

Yang dimaksud “ mana’a wahat ” adalah tidak mau melaksanakan kewajiban, atau meminta hal yang bukan haknya. Seorang pegawai yang tidak menunaikan kewajibannya dengan baik, semisal dalam hal disiplin waktu, namun menuntut kompensasi yang lebih tinggi daripada pekerjaan yang dilakukan, dikhawatirkan termasuk dalam hadits di atas.

Syekh Abdul Muhsin al-Abbad, pakar hadits dari kota Madinah saat ini, mengatakan, “Setiap pegawai dan pekerja wajib menggunakan jam kerjanya hanya untuk mengerjakan pekerjaan yang menjadi kewajibannya. Tidak diperbolehkan menggunakan jam kerja untuk urusan lain selain pekerjaan yang menjadi kewajibannya. Tidak boleh memanfaatkan seluruh jam kerja atau sebagian jam kerja untuk kepentingan pribadi atau kepentingan orang lain, jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Sesungguhnya, jam kerja tidak lagi menjadi milik pegawai atau pekerja tersebut, namun milik pekerjaan dengan kompensasi gaji yang didapatkan dari pekerjaan tersebut.” (Kaifa Yu`addi al-Muwazhzhaf al-Amanah, hal. 4) 

Al Mu`ammar bin Ali bin al Mu`ammar al-Baghdadi pernah menasihati Nizhamul Mulk, seorang menteri di masanya di Mesjid Jami’ al-Mahdi. Di antara nasihat beliau, “Telah dimaklumi bersama, wahai pemuka Islam, bahwa setiap orang memiliki pilihan tentang apa yang diinginkan dan apa yang akan dilakukan. Jika mau maka dilanjutkan, dan jika tidak mau maka berhenti di tengah jalan. Adapun orang, dia memiliki jabatan tertentu, sehingga dia tidak memiliki hak pilihan dalam keinginan dan tindakan yang akan dilakukannya, karena orang yang memiliki jabatan di pemerintahan itu, pada hakikatnya adalah buruh yang telah menjual waktunya dengan kompensasi gaji yang diterima.

Oleh karena itu, waktu siang hari (jam kerja) tidak bisa dipergunakan seenaknya sendiri. Dia tidak boleh melakukan shalat sunnah dan beri’tikaf sunnah (pada waktu jam kerja, pent) sehingga dia tidak memikirkan dan mengatur hal-hal yang menjadi kewajibannya. Hal itu dikarenakan, amal-amal tersebut bernilai sunnah sedangkan pekerjaan adalah kewajiban yang harus dikerjakan.

Engkau, wahai pemuka Islam, meski engkau berstatus sebagai menteri namun hakikatnya engkau adalah pelayan masyarakat. Negara telah menggajimu dengan gaji yang besar supaya engkau menggantikan tugas negara di dunia dan di akhirat. Di dunia untuk mewujudkan kebaikan bagi kaum muslimin, sedangkan di akhirat untuk menjawab pertanyaan Allah. Engkau akan berdiri di hadapan Allah, lalu Allah akan berkata kepadamu, “Telah kuberikan kekuasaan kepadamu untuk mengatur negeri dan rakyat, lalu apa saja yang telah kau lakukan untuk mewujudkan kesejahteraan dan menegakkan keadilan?” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, karya Ibnu Rajab:, 1/43)

Sungguh sangat menyedihkan, banyak kaum muslimin yang melalaikan kewajiban ini. Seorang pegawai atau pekerja dengan santainya seakan tidak merasa berdosa pulang sebelum jam kerja berakhir dan terlambat tiba di tempat kerja, tanpa alasan yang jelas. Demikian pula, seorang guru namun jarang masuk kelas untuk menunaikan kewajibannya sebagai pengajar.

2. Kalau semisal kita mengalami gejala-gejala yang aneh semisal d sihir oleh org lain. Dan ada seseorang yang kita curigai Bolehkah kita waspada dengan orang tersebut? Bagaimana membedakan ada kewaspadaan diri dengan rasa suudzon terhadap orang tersebut? Teman saya pernah mengalami hal ini dan dia jadi menjauhi orang tersebut. Karna katanya dia pernah bermimpi hal aneh tentang orang tersebut. Bagaimana pula kaitannya dengan memurnikan syahadah kita, menyakini bahwa segala pristiwa/ kejadian yg mnimpa kita adl semua tjd atas ijinNya?
Jawab
Hendaklah qt umat islam menjauhi su'udzon dan sirik. Yang sebenarnya terjadi was was adalah tipu daya syetan. Mohon di baca. Surat An - Naas ayat 1- 6. Perbnyak berdzikir pusatkan hanya pada Allah semata in syaa Allah berkah

3. Ustad mw tanya soal adat ruwatan dalam daerah, da yang bilang kalo punya anak 1/2/3 dan sebagainya tapi ada nama jawanya seperti anak 2 kedana kedini terus katanya harus di ruwat biar keluarganya terhindar dari marabaya / berbagai penyakit, seperti orang pintar/paranormal ada yang menyuruh memotong rambut dan sebagainya. Kalo kita masih mengikuti adat sperti itu apa hukumnya ustadah?
Jawab
Ruwatan adalah tradisi untuk menolak bala. Kadang pun dilakukan setelah bala itu terjadi agar tidak terulang lagi. Di desa kami, pernah ada musibah seseorang yang gantung diri karena kesusahan ekonomi. Lalu dibuatlah acara ruwatan yang diadakan untuk satu dusun. Di dalamnya berisi beberapa ritual yang dipimpin oleh seorang dalang. Ada ritual baca do’a, sedekahan, tanam kelapa di pojok desa, yang semua ritual tersebut kalaulah tidak termasuk amalan tanpa tuntunan (alias: bid’ah), maka termasuk dalam perbuatan yang dimurkai Allah, yaitu syirik. Bersabda,

ﻭَﺗَﻌْﻠَﻢَ ﺃَﻥَّ ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْﻟِﻴُﺨْﻄِﺌَﻚَ ﻭَﺃَﻥَّ ﻣَﺎ ﺃَﺧْﻄَﺄَﻙَ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْﻟِﻴُﺼِﻴﺒَﻚَ

“Patut engkau tahu bahwa apa yang ditakdirkan akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang ditakdirkan luput darimutidak akan menimpamu. ” (HR. Abu Daud no. 4699 dan Ahmad 5:185, shahih kata Syaikh Al Albani).

Namun yang dipersoalkan adalah ritual yang dilakukan sebelumnya. Kenapa mesti ritual seperti ini yang diadakan? Seorang muslim diajarkan untuk mengadukan segala hal dan kesusahannya pada Allah, dengan meminta dan berdo’a pada-Nya. Jika ada kesulitan ataupun ingin menolak bala’, maka kita diperintahkan meminta pada Allah. Sebagaimana kita dapat renungkan dalam ayat,

ﻭَﻣَﺎ ﺑِﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﻧِﻌْﻤَﺔٍ ﻓَﻤِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺛُﻢَّﺇِﺫَﺍ ﻣَﺴَّﻜُﻢُ ﺍﻟﻀُّﺮُّ ﻓَﺈِﻟَﻴْﻪِ ﺗَﺠْﺄَﺭُﻭﻥَ ‏(53 ‏)ﺛُﻢَّ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺸَﻒَ ﺍﻟﻀُّﺮَّ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﻓَﺮِﻳﻖٌﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺑِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ  54‏

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu
ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan . Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Allah dengan (yang lain) ” (QS. An Nahl: 53-54). 

Itulah keadaan manusia saat ini, ada sebagian yang berdo’a hanya pada Allah. Namun sebagian kalangan, ada yang mengadukan kesusahannya kepada selain Allah, kepada jin,
mayit dalam kubur, dll. Yang dilakukan dalam acara ruwatan, bukanlah minta pada Allah. Namun jin dijadikan tempat meminta pertolongan. Jin atau setan itu dipanggil oleh dukun sehingga saat uji emisi, ada yang membantu. Padahal meminta tolong pada jin untuk menolak bala telah disebutkan dalam Al Qur’an Al Karim,

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲِ ﻳَﻌُﻮﺫُﻭﻥَﺑِﺮِﺟَﺎﻝٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻓَﺰَﺍﺩُﻭﻫُﻢْ ﺭَﻫَﻘًﺎ

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan ” (QS. Al Jin: 6). 

Dari Al ‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Setan malah menambah dosa pada manusia”. Tak tahunya, jin pun tidak bisa menolak kehendak Allah. Kalau Allah takdirkan gagal, yah gagal walau dengan bantuan 1000 jin sekali pun. Kalau ritual ruwatan berisi do’a
tulus pada Allah, mengapa harus pakai kembang bunga saat ruwat dari mana tuntunannya ataukah itu wasiat dari jin? Mengapa harus datangkan dukun, kenapa tidak meminta atau berdo’a pada Allah langsung? Dukun juga biasanya kagak shalat (itu yang umum ditemukan), mana mungkin ia meminta pada Allah dengan tulus? Kenapa kita tidak cukup berdo’a pada Allah saja? Di antara do’a yang bisa kita panjatkan,

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺯَﻭَﺍﻝِﻧِﻌْﻤَﺘِﻚَ ﻭَﺗَﺤَﻮُّﻝِ ﻋَﺎﻓِﻴَﺘِﻚَ ﻭَﻓُﺠَﺎﺀَﺓِﻧِﻘْﻤَﺘِﻚَ ﻭَﺟَﻤِﻴﻊِ ﺳَﺨَﻄِﻚَ

“Alloohumma innii a’uudzu bika min zawaali ni’matik, wa tahawwuli ‘aafiyatik, wa fujaa’ati niqmatik, wa jamii’i sakhothik” 
[Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu] (HR.Muslim no. 2739). 

Do’a ini berisi permintaan, di antaranya agar nikmat itu tetap ada. Begitu juga yang diajarkan ketika kita melewati tempat angker yang sebelumnya belum pernah dilewati dan ditakutkan kena celaka, kita bisa juga membaca do’a sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

ﻣَﻦْ ﻧَﺰَﻝَ ﻣَﻨْﺰِﻻً ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺘَّﺎﻣَّﺎﺕِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻣَﺎ .َﻖَﻠَﺧ ﻟَﻢْﻳَﻀُﺮُّﻩُ ﺷَﻰْﺀٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﺤِﻞَ ﻣِﻦْ ﻣَﻨْﺰِﻟِﻪِﺫَﻟِﻚَ

“Barangsiapa yang singgah di suatu tempat lantas ia mengucapkan “ a’udzu bikalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq” 
(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang
diciptakanNya)”. Maka tidak ada sama sekali yang dapat memudhorotkannya sampai ia berpindah dari tempat tersebut” (HR. Muslim no. 2708)

PENUTUP :
Doa Kafaratul Majelis :


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa'atubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” 
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment