Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » NAFI’UN LI GHAIRIHI (BERMANFAAT BAGI SESAMA)

NAFI’UN LI GHAIRIHI (BERMANFAAT BAGI SESAMA)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, November 21, 2014

Kajian Online Hamba الله SWT

Jum’at, 21 November 2014
Narasumber : Ustadzah Ira Wahyudianti
Rekapan Grup Nanda 119-120
Tema: Muwashofat Tarbiyah
Editor :Rini Ismayanti


NAFI’UN LI GHAIRIHI (BERMANFAAT BAGI SESAMA)
 
Ukhti shalihat yang dirahmati Allah,
Kali ini saya ingin sharing kisah dalam suatu hadist Nabi
Suatu hari, sepeninggal Rasulullah SAW, Abu Hurairah r.a. beri’tikaf di masjid Nabawi. Ia tertarik ketika mengetahui ada seseorang di masjid yang sama, duduk bersedih di pojok masjid. Abu Hurairah pun menghampirinya. Menanyakan ada apa gerangan hingga ia tampak bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan.
”Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu,” ajak Abu Hurairah.
"Apakah kau akan meninggalkan i'tikaf demi menolongku?" tanya orang tersebut terkejut.
”Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Sungguh berjalannya seseorang diantara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i'tikaf di masjidku ini selama sebulan’”
Sabda Rasulullah SAW itu diriwayatkan oleh Thabrani & Ibnu Asakir. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah.
Ukhti shalihat yang dirahmati Allah,
Sebagaimana Abu Hurairah, seorang Muslim seharusnya juga memiliki keterpanggilan untuk menolong saudaranya, memiliki jiwa dan semangat memberi manfaat kepada sesama, memiliki karakter Nafi’un li ghairihi.
Kebaikan seseorang, salah satu indikatornya adalah kemanfaatannya bagi orang lain. Keterpanggilan nuraninya untuk berkontribusi menyelesaikan problem orang lain. Bahkan manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Rasulullah SAW bersabda :
خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)
Seorang Muslim, setelah ia membingkai kehidupannya dengan misi ibadah kepada Allah semata, sebagaimana petunjuk Allah dalam surat Adz Dzariyat ayat 56, maka orientasi hidupnya adalah memberikan manfaat kepada orang lain, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama, nafi’un li ghairihi. Karenanya, Hasan Al Banna memasukkan nafi’un li ghairihi ini sebagai salah satu karakter, sifat, muwashafat, yang harus ada pada diri seorang Muslim.
Siapapun Muslim itu, di manapun ia berada, apapun profesinya, ia memiliki orientasi untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Seorang Muslim bukanlah manusia egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia juga peduli dengan orang lain dan selalu berusaha memberikan manfaat kepada orang lain.
Dalam sebuah hadits disebuntukan bahwa seharusnya setiap persendian manusia mengeluarkan sedekah setiap harinya. Dan ternyata yang dimaksud dengan sedekah itu adalah kebaikan, utamanya kebaikan dan kemanfaatan kepada sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ ، يَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ ، فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ ، وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Berbuat adil antara dua orang adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik adalah sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah. (HR. Bukhari)
Demikianlah Muslim. Demikianlah Mukmin. Ia senantiasa terpanggil untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, nafi'un li ghairihi. Seorang Muslim yang menjadi pedagang atau pebisnis, orientasinya bukanlah sekedar meraup untung sebesar-besarnya, tetapi orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat kepada orang lain, membantu mereka memperoleh apa yang mereka butuhkan. Dengan demikian, pedagang dan pebisnis Muslim pantang menipu customernya, ia bahkan memberikan yang terbaik kepada mereka, dan pada saat dibutuhkan menjadi konsultan serta memberikan pilihan-pilihan yang lebih baik.
Seorang Muslim yang menjadi guru, orientasinya bukanlah sekedar mengajar lalu setiap bulan mendapatkan gaji, tetapi orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat terbaik kepada peserta didiknya, ia mengasihi mereka seperti mengasihi putranya sendiri, dan ia selalu memikirkan bagaimana cara terbaik dalam melakukan pewarisan ilmu sehingg peserta didiknya lebih cerdas, lebih kompeten dan berkarakter.
Seorang Muslim yang menjadi dokter, orientasinya adalah bagaimana ia memberikan pelayanan terbaik kepada pasiennya, ia sangat berharap kesembuhan dan kesehatan mereka, melakukan yang terbaik bagi kesembuhan dan kesehatan mereka.
Kelihatannya, memberikan manfaat kepada orang lain, membantu dan menolong sesama itu membuat waktu kita tersita, harta kita berkurang, tenaga dan pikiran kita terporsir. Namun sesungguhnya, saat kita memberikan manfaat kepada orang lain, pada hakikatnya kita sedang menanam kebaikan untuk diri kita sendiri. Jika kita menolong orang lain, Allah akan menolong kita.
Allah SWT berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS. 17:7)
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ
Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya.(Muttafaq 'alaih)
Jika kita menolong dan membantu sesama, pertolongan dari Allah bukan sekedar di dunia, tetapi juga di akhirat. Jika kita memberikan manfaat kepada orang lain, Allah memudahkan kita bukan hanya dalam urusan dunia, tetapi juga pada hari kiamat kelak.
Rasulullah SAW bersabda: 
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan2 dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat (HR. Muslim)

TANYA JAWAB

Q : Di dalam pekerjaan saya kan selalu ditekankan "kita bekerja dari awal diniatkan untuk ibadah" sm pimpinan dimana saya bekerja, tetapi kenyataan banyak buanget liku-liku dan tantangannya, bagaimana agar kita bisa tetap survive didalam bekerja? Detailnya : ga ikhlas dengan penilaian yang diberi (penilaian mempengaruhi gaji), jadi ga obyektif, siapa yang bisa cari muka maka nilai baik otomatis gaji baik dan pasti naik jabatan
A : MasyaAllah ya ujiannya ukhti, pertama ukhti harus bersabar karena lingkungan kerjanya agak sulit juga ya, yang penting jugan terbawa arus lingkungan yang buruk ya..., rejeki itu kan yang penting berkah, bukan dari banyak atau sedikitnya, mereka yang melakukan kecurangan dalam pekerjaannya uangnya banyak tapi ga berkah, Allah juga kan ndak pernah tidur perbuatan curang sekecil apapun dibls, beberapa kejadian orang yang curang atau korupsi, diberikan ujian yang berat (ada saja kejadiannya, misal sakit aneh) dari uang yang dia dapatkan jadi akhirnya uangnya habis juga malah melebihi uang yang dia korup

Q : Semua aktifitas kita kepengennya kan selalu bisa memberi manfaat u diri sendiri, kelurga dan dimanapun kita berada tapi kadang ada juga keraguan dalam diri itu bagaimana? detailnya ragu karna lingkungan ga kondusif.                         
A : Jawaban saya sama dengann no 1 ya untuk lingkungan buruk, kalau untuk keluarga itu tanggung jawab kita sepenuhnya, malah kewajiban dakwah pertama kita adalah kepada keluarga dulu, berdakwah sedikit demi sedikit dengann cara yang lembut. Berdakwah jugan ragu ya ukhti, nahnu duat qobla kulli sya'i (kita adalah dai sebelum apapun!)

Q : Ustadzah. Kadang-kadang temen itu kalau terlalu sering ditolong malah jadi kebiasaan, apa-apa minta tolong dikit-dikit minta tolong, giliran ga bisa ditolong dia ngomel-ngomel. Itu juga kan jadi merusak keikhlasan kita yang sudah menolongnya. Nah, biar keikhlasan nya ga kabur dan niat menolongnya karena Allah, tips dan trik nya gmana ya Ustadzah? Syukron Ustadzah
A : Harus mnta d tambahkan sabar sm Allah ya ukhti, karakter orang kan ga sama, sebenernya kalau udah agak kelewatan bisa kita kasi masukan sedikit juga ke dia pas timingnya tepat
seorang muslim kan ga boleh menjadi beban/menyusahkan buat muslim yang lain, ya kita nya aja yang sedikit memilah mana yang memang harus d bantu mana yang sebenernya karenaa manja ya untuk sedikit mentreatment yang manja harus pelan-pelan supaya pertemanan tetep baik.

Q : Ustdh mhn maaf: niat di awal kita membantu teman dengan ikhlas,namun saat terjadi masalah,dia menumpahkn masalah dan tanggung jawab kepada kita? Secara tidak langsung keikhlasan itu pudar secara perlahan. Bgaimana menyikapi hal tsbt ust.dan adakah pahalanya?
A :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فٌوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةً وَ مُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةً – مسلم
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,”Tidaklah dari seorang Muslim yang tertusuk duri hingga apa-apa yang lebih berat darinya, kecuali dicatat baginya derajat dan dihapus darinya dengan hal itu kesalahan (Riwayat Muslim).
Perasaan sedih kita sudah bantu tapi malah d salahkan itu juga yang d maksud dalam hadist itu ukh, jadi jugan terlalu sedih atau sakit hati dengann perlakuan yang tidak semestinya dari orang lain ya, sama juga seperti ucapan terimakasih jugan pernah d harapkan, pabila ia lupa atau sengaja tidak berterimakasih malah jauh menambah pahala kita insyaAllah, jugan kita rusak pahala kebaikan kita dengann mengharapkan balasan apapun walau hanya sekedar mengharapkan ucapan terimakasih... Tapi kebalikannya jika kita d bantu orang wujud bersyukurnya adalah mengucapkan terimakasih dan mendoakan kebaikan bagi orang tersebut sesuai sunah nabi

Q : Kadang-kadang temen itu kalau terlalu sering ditolong malah jadi kebiasaan, apa-apa minta tolong dikit-dikit minta tolong, bedanya nih teman klo gak  ditolong lagi selaluu nyumpahin orang, marahin kita didpan orang banyak, trus update status di sosmed..  Jadinya kita geram lihat ulahnya... Gimana yah ustdzh caranya menghadapi teman yang kyak gini?
A :  Jawaban untuk ukhti sama dengan di atas ya

Q : Liqo itu apa ya?
A : Didalam Liqo / Halaqah berlangsung proses Tarbiyah yang artinya Mendidik, di dalamnya mencakup pengembangan, penjagaan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan. Terdapat dua komponen dalam proses tarbiyah/liqo/halaqoh yaitu murabbiy/yah dan mutarabbiy/yah. Murabbiyah atau yang sering dikenal mentor merupakan orang yang memberikan pendidikan pembinaan kepada mutarabbiyah. Sedangkan mutarabbiyah merupakan peserta binaan. Lebih lengkapnya tentang Tarbiyah yang pernah saya sampaikan di awal pertemuan bisa buka di link ini ya
httapis://m.facebook.com/permalink.php?id=555806067861645&story_fbid=597523003689951
ini fan page kita di FB Hamba Allah, mau ambil link blog belum dapet
nah ini sy copikan pertanyaan terdahulu di beberapa grup terkait kajian online dan liqo an

Mba ira, aku mau tanya  Sebaiknya kita ikut tarbiyah atau halaqoh yang seperti apa?  ilmu agama aku masih kurang sedangkan kalo lewat online gini chatnya suka ketinggalan.  Kira2 ummi bisa cariin aku tempat halaqoh ngk mba?
jawab :
nanda, untuk menuntut ilmu kita juga harus bereferensi pada Nabi yaitu dimana menuntut ilmu dengann tatap muka langsung, dan jadikan sarana online seperti ini hanya sebagai back up an saja (ilmu tambahan ) selain itu kita juga harus tetap berjamaah berdasarkan hadist sekeruh2 nya jamaah (halaqoh) masih jauh lebih baik daripd sendirian, karena hadist lain juga menyebuntukan ibarat serigala yang mengincar kita (domba yang sendirian). insya Allah ana siap mencarikan halaqah bagi nanda-nanda yang terputus halaqahnya maupun untuk memulai baru, silakan japri Ane


Q : Ustadzah, klo kita punya kepentingan dan keperluan, mana yang didahulukan? Apakah menolong orang dulu, lalu meninggalkan kepentingan kita, yang pada saat itu urgent. Bgaimana ustdzah? Trus, orang yang sudah ditolong, minta tolong terus, gmn ustdzah?
A : Kalau kepentingan kita yang urgent tidak terlalu membahayakan / merugikan kita ketika kita kalahkan dulu mencoba berbuat itsar(mendahulukan menolong orang lain) maka lanjut saja ukh, itu sudah benar. seurgent apapun kalau masih ada yang jauh lebih memerlukan pertolongan kita maka sebisa mungkin harus kita dahulukan menolongnya. nah tapi kalau ada orang yang seperti memanfaatkan kita maka kita harus bisa tegas / menolak tapi dengan cara yang baik

Semoga Bermanfaat

Mari kita tutup kajian ini dengan do'a kafaratul majlis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
Wassalamu'alaykum warahmatullah..
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment