Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

NIFAS DAN HUKUM-HUKUMNYA

Kajian Online Hamba الله SWT

Jum’at, 14 November 2014
Narasumber : Ustadz Abu Hasyif Wahyudin Al Bimawi
Rekapan Grup Nanda 124 (Indah)
Tema: Fiqh Wanita
Editor :Rini Ismayanti


NIFAS DAN HUKUM-HUKUMNYA

MAKNA NIFAS
Nifas ialah darah yang keluar dari rahim disebabkan kelahiran, baik bersamaan dengan kelahiran itu, sesudahnya atau sebelumnya (2 atau 3 hari) yang disertai dengan rasa sakit.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: "Darah yang dilihat seorang wanita ketika mulai merasa sakit adalah nifas." Beliau tidak memberikan batasan 2 atau 3 hari. Dan maksudnva yaitu rasa sakit yang kemudian disertai kelahiran. Jika tidak, maka itu bukan nifas.

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah masa nifas itu ada batas minimal dan maksimalnya. Menurut Syaikh Taqiyuddin dalam risalahnya tentang sebutan yang dijadikan kaitan hukum oleh Pembawa syari'at, halaman 37 Nifas tidak ada batas minimal maupun maksimalnya. Andaikata ada seorang wanita mendapati darah lebih dari 40,60 atau 70 hari dan berhenti, maka itu adalah nifas. Namun jika berlanjut terus maka itu darah kotor, dan bila demikian yang terjadi maka batasnya 40 hari, karena hal itu merupakan batas umum sebagaimana dinyatakan oleh banyak hadits."

Atas dasar ini, jika darah nifasnya melebihi 40 hari, padahal menurut kebiasaannya sudah berhenti setelah masa itu atau tampak tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat, hendaklah si wanita menunggu sampai berhenti. Jika tidak, maka ia mandi ketika sempurna 40 hari karena selama itulah masa nifas pada umumnya. Kecuali, kalau bertepatan dengan masa haidnya maka tetap menunggu sampai habis masa haidnya. Jika berhenti setelah masa (40 hari) itu, maka hendaklah hal tersebut dijadikan sebagai patokan kebiasaannya untuk dia pergunakan pada masa mendatang.

Namun jika darahnya terus menerus keluar berarti ia mustahadhah. Dalam hal ini,hendaklah ia kembali kepada hukum-hukum wanita mustahadhah yang telah dijelaskan pada pasal sebelumnya. Adapun jika si wanita telah suci dengan berhentinya darah berarti ia dalam keadaan suci, meskipun sebelum 40 hari. Untuk itu hendaklah ia mandi, shalat, berpuasa dan boleh digauli oleh suaminya.Terkecuali, jika berhentinya darah itu kurang dari satu hari maka hal itu tidak dihukumi suci. Demikian disebuntukan dalam kitab Al-Mughni.

Nifas tidak dapat ditetapkan, kecuali jika si wanita melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia. Seandainya ia mengalami keguguran dan janinnya belum jelas berbentuk manusia maka darah yang keluar itu bukanlah darah nifas, tetapi dihukumi sebagai darah penyakit. Karena itu yang berlaku baginya adalah hukum wanita mustahadhah.

Minimal masa kehamilan sehingga janin berbentuk manusia adalah 80 hari dihitung dari mulai hamil, dan pada umumnya 90 hari. Menurut Al-Majd Ibnu Taimiyah, sebagaimana dinukil dalam kitab Syarhul Iqna': "Manakala seorang wanita mendapati darah yang disertai rasa sakit sebelum masa (minimal) itu, maka tidak perlu dianggap (sebagai nifas). Namun jika sesudahnya, maka ia tidak shalat dan tidak puasa. Kemudian, apabila sesudah kelahiran temyata tidak sesuai dengan kenyataan maka ia segera kembali mengerjakan kewajiban; tetapi kalau tidak teryata demikian, tetap berlaku hukum menurut kenyataan sehingga tidak pedu kembali mengerjakan kewajiban"

HUKUM-HUKUM NIFAS
Hukum-hukum nifas pada prinsipnya sama dengan hukum-hukum haid, kecuali dalam beberapa hal berikut ini:

1. Iddah. dihitung dengan terjadinya talak, bukan dengan nifas. Sebab, jika talak jatuh sebelum isteri melahirkan iddahnya akan habis karena melahirkan bukan karena nifas. Sedangkan jika talak jatuh setelah melahirkan, maka ia menunggu sampai haid lagi, sebagaimana telah dijelaskan.

2. Masa ila'. Masa haid termasuk hitungan masa ila', sedangkan masa nifas tidak. Ila' yaitu jika seorang suami bersumpah tidak akan menggauli isterinya selama-lamanya, atau selama lebih dari empat bulan. Apabila dia bersumpah demikian dan si isteri menuntut suami menggaulinya, maka suami diberi masa empat bulan dari saat bersumpah. Setelah sempurna masa tersebut, suami
diharuskan menggauli isterinya, atau menceraikan atas permintaan isteri. Dalam masa ila' selama empat bulan bila si wanita mengalami nifas, tidak dihitung terhadap sang suami, dan ditambahkan atas empat bulan tadi selama masa nifas. Berbeda halnya dengan haid, masa haid tetap dihitung terhadap sang suami.

3. Baligh. Masa baligh terjadi dengan haid, bukan dengan nifas. Karena seorang wanita tidakmungkinbisa hami sebelum haid, maka masa baligh seorang wanita terjadi dengan datangnya haid yang mendahului kehamilan.

4. Darah haid jika berhenti lain kembali keluar tetapi masih dalam waktu biasanya, maka darah itu diyakini darah haid. Misalnya, seorang wanita yang biasanya haid delapan hari, tetapi setelah empat hari haidnya berhenti selama dua hari, kemudian datang lagi pada hari ketujuh dan kedelapan; maka tak diragukan lagi bahwa darah yang kembali datang itu adalah darah haid.

Adapun darah nifas, jika berhenti sebelum empat puluh hari kemudian keluar lagi pada hari keempat puluh, maka darah itu diragukan. Karena itu wajib bagi si wanita shalat dan puasa fardhu yang tertentu waktunya pada waktunya dan terlarang baginya apa yang terlarang bagi wanita haid, kecuali hal-hal yang wajib. Dan setelah suci, ia harus mengqadha' apa yang diperbuatnya selama keluarya darah yang diragukan, yaitu yang wajib diqadha' wanita haid. Inilah pendapat yang masyhur menunut para fuqaha ' dari Madzhab Hanbali.

Yang benar, jika darah itu kembali keluar pada masa yang dimungkinkan masih sebagai nifas maka termasuk nifas. Jika tidak, maka darah haid. Kecuali jika darah itu keluar terus menerus maka merupakan istihadhah. Pendapat ini mendekati keterangan yang disebuntukan dalam kitab Al-Mughni' bahwa Imam Malik mengatakan: "Apabila seorang wanita mendapati darah setelah dua atau tiga hari, yakni sejak berhentinya, maka itu termasuk nifas. Jika tidak, berarti darah haid." Pendapat ini sesuai dengan yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Menurut kenyataan, tidak ada sesuatu yang diragukan dalam masalah darah. Namun, keragu-raguan adalah hal yang relatif, masing-masing orang berbeda dalam hal ini sesuai dengan ilmu dan pemahamannya. Padahal Al-Qur'an dan Sunnah berisi penjelasan atas segala sesuatu.

Allah tidak pernah mewajibkan seseorang berpuasa ataupun thawaf dua kali, kecuali jika ada kesalahan dalam tindakan pertama yang tidak dapat diatasi kecuali dengan mengqadha'. Adapun jika seseorang dapat mengerjakan kewajiban sesuai dengan kemampuannya maka ia telah terbebas dari tanggungannya. Sebagaimana firman Allah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan.. " [Al-Baqarah: 286]

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Artinya : Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu ..."
[At-Taghabun : 16]

5. Dalam haid, jika si wanita suci sebelum masa kebiasaannya, maka suami boleh dan tidak terlarang menggaulinya. Adapun dalam nifas, jika ia suci sebelum empat puluh hari maka suami tidak boleh menggaulinya, menurut yang masyhur dalam madzhab Hanbali.

Yang benar, menurut pendapat kebanyakan ulama, suami tidak dilarang menggaulinya. Sebab tidak ada dalil syar'i yang menunjukkan bahwa hal itu dilarang, kecuali riwayat yang disebuntukan Imam Ahmad dari Utsman bin Abu Al-Ash bahwa isterinya datang kepadanya sebelum empat puluh hari, lalu ia berkata: "Jangan kau dekati aku !".

Ucapan Utsman tersebut tidak berarti suami terlarang menggauli isterinya karena hal itu mungkin saja merupakan sikap hati-hati Ustman, yakni hawatir kalau isterinya belum suci benar, atau takut dapat mengakibatkan pendarahan disebabkan senggama atau sebab lainnya. Wallahu a 'lam.

HAL-HAL DILUAR KEBIASAAN HAID

Ada beberapa hal yang terjadi di luar kebiasaan haid :

1. BERTAMBAH ATAU BERKUARNGNYA MASA HAID
Misalnya, seorang wanita biasanya haid selama enam hari, tetapi tiba-tiba haidnya berlangsung sampai tujuh hari. Atau sebaliknya, biasanya haid selama tujuh hari, tetapi tiba-tiba suci dalam masa enam hari.

2. MAJU ATAU MUNDUR WAKTU DATANGNYA HAID
Misalnya, seorang wanita biasanya haid pada akhir bulan lalu tiba-tiba pada awal bulan. Atau biasanya haid pada awal bulan lalu tiba-tiba haid pada akhir bulan.

Para ulama berbeda pendapat dalam menghukumi kedua hal di atas. Namun, pendapat yang benar bahwa seorang wanita jika mendapatkan darah (haid) maka dia berada dalam keadaan haid dan jika tidak mendapatkannya berarti dia dalam keadaan suci, meskipun masa haidnya melebihi atau kurang dari kebiasaannya. Dan telah disebuntukan pada saat terdahulu dalil yang memperkuat pendapat ini, yaitu bahwa Allah telah mengaitkan hukum-hukum haid dengan keberadaan haid.

Pendapat tersebut merupakan madzhab Imam Asy-Syafi'i dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pengarang kitab Al-Mughni pun ikut menguatkan pendapat ini dan membelanya, kaQ : "Andaikata adat kebiasaan menjadi dasar pertimbangan menurut yang disebuntukan dalam madzhab, niscaya di jelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada umatnya dan tidak akan ditunda-tunda lagi penjelasannya, karena tidak mungkin beliau menunda-nunda penjelasan pada saat dubutuhkan. Istri-istri beliau dan kaum wanita lainnyapun membutuhkan penjelasan itu pada setiap saat, maka beliau tidak akan mengabaikan hal itu. Namun, ternyata tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyebuntukan tentang adat kebiasaan ini atau menjelaskannya kecuali yang berkenaan dengan wanita yang istihadhah saja" [Al-Mughni, Juz 1, hal. 353].

3. DARAH BERWARNA KUNING ATAU KERUH
Yakni seorang wanita mendapatkan darahnya berwarna kuning seperti nanah atau keruh antara kekuning-kuningan dan kehitam-hitaman.

Jika hal ini terjadi pada saat haid atau bersambung dengan haid sebelum suci, maka itu adalah darah haid dan berlaku baginya hukum-hukum haid. Namun, jika terjadi sesudah masa suci, maka itu bukan darah haid. Berdasarkan riwayat yang disampaikan oleh Ummu Athiyah Radhiyallahu 'anha.

"Artinya : Kami tidak menganggap apa-apa darah yang berwarna kuning atau keruh sesudah masa suci".

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari tanpa kalimat "sesudah masa suci", tetapi beliau sebuntukan dalam "Bab Darah Warna Kuning Atau Keruh Di Luar Masa Haid". Dan dalam Fathul Baari dijelaskan :"Itu merupakan isyarat Al-Bukhari untuk memadukan antara hadits Aisyah yang menyatakan, "sebelum kamu melihat lendir putih" dan hadits Ummu Athiyah yang disebuntukan dalam bab ini, bahwa maksud hadits Aisyah adalah saat wanita mendapatkan darah berwarna kuning atau keruh pada masa haid. Adapun di luar masa haid, maka menurut apa yang disampaikan Ummu Athiyah".

Hadits Aisyah yang dimaksud yakni hadits yang disebuntukan oleh Al-Bukhari pada bab sebelumnya bahwa kaum wanita pernah mengirimkan kepadanya sehelai kain berisi kapas (yang digunakan wanita untuk mengetahui apakah masih ada sisa noda haid) yang masih terdapat padanya darah berwarna kuning. Maka Aisyah berkata : "Janganlah tergesa-gesa sebelum kamu melihat lendir putih", maksudnya cairan putih yang keluar dari rahim pada saat habis masa
haid.

4. DARAH HAID KELUAR SECARA TERPUTUS-PUTUS
Yakni sehari keluar darah dan sehari lagi tidak keluar. Dalam hal ini terdapat 2 kondisi :
a. Jika kondisi ini selalu terjadi pada seorang wanita setiap waktu, maka darah itu adalah darah istihadhah, dan berlaku baginya hukum istihadhah.
b. Jika kondisi ini tidak selalu terjadi pada seorang wanita tetapi kadangkala saja datang dan dia mempunyai saat suci yang tepat. Maka para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kondisi ketika tidak keluar darah. Apakah hal ini merupakan masa suci atau termasuk dalam hukum haid?

Madzhab Imam Asy-Syafi'i, menurut salah satu pendapatnya yang paling shahih, bahwa hal ini masih termasuk dalam hukum haid. Pendapat ini pun menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan pengarang kitab Al-Faiq (disebuntukan dalam kitab Al-Inshaaf), juga merupakan madzhab Imam Abu Hanifah. Sebab, dalam kondisi seperti ini tidak didapatkan lendir putih; kalaupun dijadikan sebagai keadaan suci berarti yang sebelumnya adalah haid dan yang sesudahnya pun haid, dan tidak ada seorangpun yang menyatakan demikian, karena jika demikian niscaya masa iddah dengan perhitungan quru' (haid atau suci) akan berakhir dalam masa lima hari saja. begitupula jika dijadikan sebagai keadaan suci, niscaya akan merepotkan dan menyulitkan karena harus mandi dan lain sebagainya setiap dua hari ; padahal tidaklah
syari'at itu menyulitkan. Walhamdulillah.

Adapun yang masyhur menururt madzhab pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, jika darah keluar berarti haid dan jika berhenti berarti suci ; kecuali apabila jumlah masanya melampui jumlah maksimal masa haid, maka darah yang melampui itu adalah istihadhah.

Dikatakan dalam kitab Al-Mughni :"Jika berhentinya darah kurang dari sehari maka seyogyanya tidak dianggap sebagai keadaan suci. Berdasarkan riwayat yang kami sebuntukan berkenaan dengan nifas, bahwa berhentinya darah yang kurang dari sehari tak perlu diperhatikan. Dan inilah yang shahih, Insya Allah. Sebab, dalam keadaan keluarnya darah yang terputus-putus (sekali keluar sekali tidak) bila diwajibkan mandi bagi wanita pada setiap saat berhenti keluarnya darah tentu hal itu menyulitkan, padahal Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

"Artinya : ... Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan..." [Al-Hajj : 78]

Atas dasar ini, berhentinya darah yang kurang dari sehari bukan merupakan keaadaan suci kecuali jika si wanita mendapatkan bukti yang menunjukkan bahwa ia suci. Misalnya, berhentinya darah tersebut pada akhir masa kebiasaannya atau ia melihat lendir putih".[Al-Mughni, Juz 1, hal. 355].

Dengan demikian, apa yang disampaikan pengarang kitab Al-Mughni merupakan pendapat moderat antara dua mendapat di atas. Dan Allah Maha Mengetahui yang benar.

5. TERJADI PENGERINGAN DARAH
Yakni, si wanita tidak mendapatkan selain merasa lembab atau basah (pada kemaluannya). Jika hal ini terjadi pada saat masa haid atau bersambung dengan haid sebelum masa suci, maka dihukumi sebagai haid. Tetapi jika terjadi setelah masa suci, maka tidak termasuk haid. Sebab, keadaan seperti ini paling tidak dihukumi sama dengan keadaan darah berwarna kuning atau keruh.

TANYA JAWAB

Q: Ustad... Tadi d atas d sebuntukan kalau haid mengqodo sholat ??
A: Naam... ana kasih ilmu mengenai mengqodho sholat. misalnya : Apabila ukhty semua berhenti haid pada ba'da isya' maka ukhty harus mengqodho sholatnya mulai sholat shubuh, dhuhur, ashor dan maghrib. Dilakukan setelah isya. Dan harus kerjakan dulu sholat isya karena itu waktu isya'. Faham kira2...? Pasti capek memang.

Q: Sebanyak hari yang ditinggalkan..? Atau di hari kita suci aja tadz.?
A: Di hari itu aja yang dilakukan qodho sholat. Bukan hari kemarin. Allah sudah menetapkan itu.

Q: Kadang tuh kita dah suci pagi, Lalu kita sholat sampai magrib. Nah isya ternyata kluar lagi, Gmn tuh tadz? Atau sehari sudah suci lalu keesokan pagi harinya kluar lgi dan sorenya langsung berhenti lagi..
A: iya.. biasanya kebanyakan wanita begitu.bahwa kita yakin kalo masa haid kita sudah berhenti karena biasa7 hari. Tapi tiba-tiba muncul pada hari ke sembilan. Ini kemungkinan darah penyakit karena sblmnya tidak seperti itu. Dan ini bisa sholat. Akan tetapi untuk kehati-hatian maka tidak usah sholat karena dikhawatirkan itu darah haidh.

Q: Trus kalau kasusnya gini tadz: sudah masuk waktu sholat dhuhur tapii ada kuliah yang selese jam 1 lebih, trus pas mau sholat tau-tau haid, apa terhitung hutang sholat jga tadz.?
A: Ukhty... iya.. itu sudah termasuk hutang sholat.

Q: Bahwa kita yakin kalo masa haid kita sudah berhenti karena biasa7 hari. Tapi tiba-tiba muncul pada hari ke sembilan. Ini kemungkinan darah penyakit karena sblmnya tidak seperti itu. Dan ini bila sholat. Akan tetapi untuk kehati2an maka tidak usah sholat karena dikhawatirkan itu darah haidh. Jadi nunggu waktu 15hr ya tadz Kalau ragu-ragu gitu.? Kalau dalam 1bln 2x masa haid gimana tadz.? Kadang gitu, kyk nya blm ada sebulan tapii udh haid lagi..
A: Haid tidak akan lewat 10 hari. Kalo itu darah penyakit maka bisa sholat dalam islam sudah menetapkan haidh itu 1 kali dan tidak ada 2 kali.

Q: Wah.. Kita berdosa ya ustad kalau sholat dalam keadaan haid?
A: Kalo sholat dalam keadaan haid maka sholatnya tidak syah.

Q: Jadi kalau lebih dr 10hr masih keluar, kita sholat aja ya tadz.?
A: Maka ulama sepakat bahwa itu darah penyakit bukan darah haidh. Karena haidh pada  umumnya hanya 7 hari. Sekali dalam sebulan. Allaahu a'lam

Q: Tidak syah sama berdosa itu beda apa sama tadz.?
A: Ulama mengatakan tidak berdosa. Hanya sholatnya yang tidak syah

Q: misalnya : Apabila ukhty semua berhenti haid pada ba'da isya' maka ukhty harus mengqodho sholatnya mulai sholat shubuh, dhuhur, ashor dan maghrib. Dilakukan setelah isya. Dan harus kerjakan dulu sholat isya karena itu waktu isya'. Jumlah rakaatnya tetap.?
A: Iya tetap.

Q: Aku pernah denger ada temen ngomong, "meninggalkan sholat dengan sengaja itu membuat sholat2 yang sblumnya jdi sia2/gk dianggap" bener gk ustadz.?
A: Tidak bener. Meninggalkan sholat dg sengaja maka dia berdosa besar bahkan bisa kufur
dari islam.

Q: Meninggalkan sholat dengan sengaja tuh gmn mba?
A: Ya sengaja gak sholat

Q: Tadz.. Gimana caranya ngingetin ngajak sholat.. Kalau ada orang yang ndak sholat. Orang nya udah dewasa juga.Dah diingetin berkali2. Gmn lagi caranya tadz..
A: Kasih tau hukum orang yang meninggalkan sholat, Kalo sudah maka biarkan yang penting sudah diingatkan.

Q: Ustad maaf mau tanya tapi malu saya fakir ilmu, katanya kalo masa sedang haid itu rambut ga blh jatuh pas disisir?? Ga boleh potong kuku.. Benarkah itu ustad?? Adakah dalilnya?? Misalnya melanggar apakah hukumnya?
A: Kalo rontok disimpan aja.

Q: Adakah dalil nya ustad? Afwan.. Karena pernah ada ustadzah yang bilang kalau larangan2 saat haid itu tidak boleh sholat, tawaf, puasa, dll. Tapi tidak disebutukan tentang rambut dan kuku.
A: Iya. Nanti tunggu ilmu kelanjutannya berkaitan dengan itu. Tidak ada dalil yang harus mensucikan rambut dan kuku. Haditsnya dhoif.

Q: Afwan ustad... Berarti kesimpulannya dikatakan selesai haid ktika ada  (maaf) lendir putih itu tadi ya . Berarti mengqodo sholat nya stelah itu?
A: Betul sekali ukhty.

Q: Ustadz, kalau lagi haid itu apa boleh membaca, menulis dan menyentuh Al Qur'an? Ada yang bilang boleh ada juga yang bilang engga boleh. Saya masih ragu-ragu kalau dalam hal itu. Adakan dalil tentang perkara demikian ustadz?
A: Ukhty, orang yang lg haid diharomkan untuk memegang mushaf alqur'an. Ada pun membaca dg cara menghafal atau mendengarkan ngaji di hp maka ini boleh. Kalo ada yang membolehkan maka suruh belajar lg.

Q: Oh begitu. Syukron ustadz. Satu lagi nih ustadz, aku pernah setelah aku haid nah aku kecoklatan sampai 2mingguan dan itu datangnya engga tentu. Itu gimana hukumnya ustadz?
A: Itu boleh sholat karena itu bukan haidh lg. Allaahu a'lam

Q: Kalau saya pegangnya yang ada terjemahannya, dan gak baca banyak, paling kalau mau hafalan aja.. benar kah yang saya lakukan tadz.?
A: Ukhty tidak boleh menyentuh mushaf al-qur'an karena itu terlarang keras.

Q: Kalau aplikasi di hape boleh tadz.? Oiya boleh di bawa ke kamar mandi gak tu hape nya kalau ada aplikasi al quran nya.?
A: boleh

Q: Kalau lagi haid boleh kemasjid atau mushola ga tadz? Untuk menuntut ilmu misalnya?
A: pertanyaan yang bagus. Wanita haidh boleh duduk dalam masjid atau mushollah untuk menuntut ilmu. Akan tetap agar terhindar dari fitnah maka cukup duduk di emperan aja.

Q: Ustd kalo tidak dalam keadaan punya wudu boleh ga pgang al-qur'an???
A: iya boleh asal jangan haid aja

Q: Ustad kalo seumpamanya naruh al-qur'an di tas, tasnya d taruh di bawah kursi sdangkan kursinya d dudukin itu boleh ga?
A: Tetap tidak boleh karena sama saja tidak menghargai qur'an.

Q: Tadz, apakah kalau kita membaca al qur'an harus menghadap ke kiblat?
A: tidak harus menghadap kiblat.

Q: Ustadz mau tanya lagi tapii dluar materi..Ustadz boleh ga, klo d rumah kita mau pasang foto kluarga?? Pernah ada salah satu ustad yang mnyatakn tidak boleh memasang pajangan apapun dirumah semisal foto hewan maupun manusia, patung dll.. tapii ada satu yang mnyatakan lagi klo memasang foto manusia itu boleh, kecuali patung hewan dll tidak boleh .. dari kedua ini mana yang benar ya ustad?? Mohon pnjlsannya ..
A: Semua yang bernyawa baik itu foto manusia atau hewan atau patung maka harom hukumnya karena : 1. Tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir), 2. Malaikat Rahmat tidak akan masuk kedalam rumah yang ada patung/gambar dan anjing dirumah tsb. Foto bisa diperbolehkan disimpan dalam album buku. Bukan untuk di pajang di dinding, meja dll karena itu akan menjadi sarang iblis dan Allah akan memaksa kita untuk menghidupkan makhluk bernya tsb terutama dikhususkan bagi yang menggambarnya. Allaahu a'lam

Q: Kalau gmbar/foto/patung nya gak utuh kayak aslinya gimana tadz.? Tukang foto gimana tadz.? Kan banyak ngambil gambar apa itu termasuk gak boleh.?
A: Kalo patung atau foto yang ada kepala maka itu di haromkan. Maka setiap gambar itu harus ditutup kepalanya. Tukang gambar wajib untuk menghidupkan apa yang dia gambar dan Allah akan memaksa dia untuk meniupkan nyawa makhluk hidup yang dia gambar. Sedangkan foto dan video masih khilaf ulama, Allaahu a'lam.

Q: Bagaimana dengan emoticon ustadz hehe saya pernah denger itu juga ga boleh kan yaa. Di WA kan ada emoticon kepala dll itu gimana ustadz ..
A: Iya. Emoticon jg ada ulama yang melarangnya. Lagi pula tidak ada manfaatnya, dan juga tidak membantu dalam berilmu.

Q: Seperti kalender berarti juga sama ya tadz klo ada gambar yang brnyawa, mendingn ga
usah di pajang.. atau di tutupin kepalanya juga bisa kan ya tadz?
A: iya. Ditutupi aja pake lakban kepala makluk atau fotonya atau tutup semuanya.

Q: Gambar bunga atau pohon juga g boleh ya?
A: gambar pohon dan bunga itu boleh.

Q: (Emoticon kepala) kalau ini kan gk ada kuping nya ttep gk boleh tadz.? Afwan cuma nyontohin.
A: Ga boleh mba ..hihi. Semua kan ada kepala. Begini ana kasih dalil secara akal saja : manusia tidak punya kaki atau tangan masih bisa hidup kan? Tapi gmn kalo hilang kepalanya, kira-kira hidup apa tidak? Tidak ada manfaatnya

Q: Ustad kalau gambar tangan aja gmana? Kalo boleh tau itu hadistnya bunyinya gimana ya tadz yang melarang gambar td.. Saya ga tau apa udh di paparkan di atas.. Bnyak ketinggalan. Hhhe
A: boleh. nanti akan ada pembahasan khusus jg dalilnya.

Q: Ustadz, kerja di bank konven riba kan.? Trus kalau d tempat kreditan motor gitu gimana tadz.? Misal adira, FIF, dll
A: Di bank mmg riba karena Nabi bersabda yaitu pemakan riba, pemberi riba, 2 orang saksinya dan juru tulisnya sama-sama berdosa. Dan dosa yang paling kecil adlh menzinahi ibu kandungnya. Adapun tempat kreditan motor boleh tapi kalo pegadaian itu juga terlarang

Q: Kalo kreditan motor bukannya akad dobel yah... Soalnya kalo ga bs bayar nanti motor diambil. Terus kalo kita nabung ke bank atau transfer lewat teller gimana tadz?
A: Masalah kredit dan bank itu beda pembahasannya. Kalau kita sudah menabung di bank maka jangan ambil bunganya untuk kebutuhan pribadi. Maka ambilah untuk kebutuhan orang lain atau umum buat pembangunan yang hina seperti jalanan atau mck.

Q: Iya tdi abis transfer k orang yang bank nya bank konven, itu kena riba gk tadz.? Haduh.
Akunya sih udah pake bank syariah.. tapii tadi teansfer ke bank konven. Hikz..
A: Adapun transferan maka itu diperboleh karena kita bisa memanfaatkannya karena kita dalam melakukan trasfer itu membayar upah mereka.

Q: Ust. Berarti kredit motor itu boleh? Meskipun dalam akadnya seperti ganda. Awalnya kredit tapi kalo ga mampu maka motor diambil. Gt ust?
A: Iya. Boleh

Q: Akadnya tidak bTil tadz?
A: Itu tergantung kesepakatan dan itu bukan hanya kesalaham diler tapi pengguna motor yang ingkar janji. Allaahu a'lam
Q : Saya mau tanyaa bagaimana cra kita menyikapi takdir yang mungkin ga sesuai dengan  apa yang kita inginkan ..rasa itu terus berlarut larut sehingga menimbulkan pertanyaan di dalam hati knpa seperti ini  ???
A : Masalah pertanyaannya itu masalah takdir itu Sami'na wa atho'na. Mau tidak mau tetap harus menerimanya.

Q : Ust... boleh bertanya diluar materi?! Ada teman nihh yang belum resmi menikah namun sudah menambahkan nama ta'arufannya dibelakang namanya itu bagaimana yaa ust?! Setau ana sih itu haram yaa hukumnya...
A : Masalah Nikah : iya. Tdk boleh mencantumkan itu.

Q : Baru baru ini di kejuntukan dengan kejadian di care free day jakarta kaum minioris yang melakukan kristenisasi dengan membagikan permen biskuit dll bhkan ada ibu ibu yang sudah tua renta hampir mau di baptis ..itu gimana yaa ustadz gimana cara kita membentengi dari hal hal seperti itu ..
A : kalo itu realita maka kewajiban kita untuk mengingkarinya tapi bukan cara demo. Tapi datangi pemerintah untuk mengingatkan mereka.

Q : Jadi ga boleh dengan demo yaa ustadz tetap lakukan dengan cara yang baik ...duh bingung bnyak pertanyaan yang pengen di tanyain hehe..FPI itu bagaimana ? Tak baik kah?
A : Sebenarnya bnyak kegiatan sosial dri FPI. Cuman tidak diliput media aja. Yang diliput negatifnya aja... Demonstrasi adalah Harom hukumnya karena membuka aib pemerintah atau orang yang akan di demo. Islam sdh mengajarkan yaitu bicara 4 mata untuk menasehatinya. Kalo diterima alhamdulillaah. Tapi kalo tdk maka kita diperintahkan untuk sabar. Adapun yang menghidupkan dan memulai demonstrasi adalah orang-orang khowarij yang menentang pemerintah pada zaman dahulu hingga sekarang. Apa yang dilakukan oleh FPI niat dan misinya bagus tapi caranya yang salah. Rosululloh melarang keras untuk itu. Apalagi mereka anarkisme.Islam itu agama rohmatan lil aalamiin. Silahkan bertanya terus. Jari ana tidak akan capek mengetik jawaban. Karena di akhirat kelak akan ditanya.

Q : Bnyak bgt tadz yang brfikiran negatif tntng islam garagara cara nya yang salah..
A : Iya betul sekali. Banyak yang takut masuk islam juga.

Q : Ustadz dakwah terhadap keluarga sendiri itu jauh lbh sulit dibandingkan dakwah kepada orang lain ayah saya saat ini msih sangat trsiksa hatinya dengan penampilan saya saat ini walau beliau ga pernah membicarakan hal itu ..solusinya gimana ustadz biar orangtua itu menerima perubahan kita ..??
A : Ukhty yang di rohmati Allah... sabar dan berdoa kpd Allah untuk keluarganya. Dakwah itu butuh proses dan dengan kelembutan dengan menunjukkan akhlak yang baik walau orang atau ayah membenci penampilang kita.

Q : Ada kekhawatiran yang dirasakan beliau dengan penampilan saya saat ini hiks tapi saya berusaha pelan pelan jika membahas hal itu sm ayah
A : Tdk ada ketaan kpd makhluk dlm bermaksiat kepada Allah sekalipun itu ayah atau ibu. Cari suasana yang baik, ngumpul bareng keluarga. Lalu disaat sepi dan dekati ayah dengan baik dan dengan senyum punuh harapan dan doa lalu utarakan hukum memakai syar'i. In Syaa' Allah akan luluh hatinya.

Oke.... afwan buat semua..untuk sementara ana tutup dulu kajian ini karena ada yang meminta ana untuk menutup dulu. Boleh lewat WA pribadi masing2 kalo mau lanjut

Baiklah kita tutup dengan

Doa Kafaratul Majelis

إليك وآتوب ستغفرك أ أنت إلا ا إله لأان شهد وبحمدك اللهم سبحانك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa  atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”