Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , » PARENTING - BAGAIMANA MENGHADAPI ANAK YANG TANTRUM

PARENTING - BAGAIMANA MENGHADAPI ANAK YANG TANTRUM

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, November 21, 2014

KAJIAN ONLINE HAMBA الله UMI 11 dan 12

Hari, tanggal : Kamis, 20 November 2014
Narasumber : Ustadzah Imas
Judul : Birrul walidain
Admin : Bunda Isty dan Bunda Yuni
Editor: Selli

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته,
Kesyukuran atas nikmat yang Allah curah limpahkan buat kita menjadi jalan ditambahkannya berbagai nikmat itu. Siapa orangnya yang ingin nikmatnya dikurangi? Tidak ada toh? Demikian juga kita, malahan kalau saya ingin seluas-luasnya, sebanyak-bnyaknya dan diliputi keberkahan. Bunda mau juga kan?


Yaa Rabb, yaa Rahmaan, irhamnaa....
Banyak-banyak doa yuk bun.... kita yang butuh Allah, Allah tidak butuh kita, Allah Ghaniyyun hamiid, sedangkan kita ? Wa nahnu fuqaraa'..... Kita lahir tidak pakai apa-apa, Allah lah yang memberikan pakaian,  makanan, minuman, udara, tempat tinggal dstnya.... tak terhitung jumlahnya sampai dengan sekarang. Maka sebuah keniscayaan,  kata para ulama WAJIB hukumnya mengibadahi Allah SWT sebagai bentuk syukur kita padaNy. 
Alhamdulillah suami sekarang sehat bunda. Beberapa bulan yang lalu suami saya terkena serangan jantung, dirawat di rumah sakit salah satu penanganannya dipasang selang oksigen, ternyata dalam 1 hari yang menghabiskn 3 liter oksigen harganya tidak murah, 9 ribuan itupun dipakai bukan 24 jam.
Saya menghitung,  kalau kepada Allah SWT kita harus bayar oksigen yang diberikanNya, Laahawla walaa quwwata illa billah, kita dapat gratis...tis... sebagai bentuk kasih sayangNya.

Di materi yang lalu tentang akhlak kepada Allah SWT semoga sudah bisa diamalkan secara maksimal. Dan insyaAllah hari ini bahasan kita adalah tentang akhlak kepada manusia, wa bil khusus akhlak kepada orang tua
Tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia lahir ke dunia ini adalah melalui ibu-bapak. Susah dan payah dialami oleh ibu dan bapak untuk memelihara anaknya, baik ketika masih dalam kandungan, maupun setelah lahir ke dunia. Pertama-tama ibu harus mengandung kita selama kurang lebih 9 bulan. Selama dalam kandungan, ibu menanggung kepayahan, keletihan dan kesakitan.
Sementara agar beban yang ditanggung oleh ibu-bapak jangan terlalu berat, maka tiap sebulan sekali atau setengah bulan sekali diperiksa ke dokter. Hal ini dilakukan demi keselamatan bayi yang ada dalam kandungan. Demikian pula ketika hendak melahirkan, perasaan gelisah, takut, sakit menjadi satu, dan nyawa ibulah sebagai taruhannya. Bersamaan itu pula bapak berdoa agar istrinya melahirkan dengan selamat, dan anak yang lahir ke dunia juga dalam keadaan selamat dan sehat.
Setelah bayi lahir ke dunia, lalu dipelihara dan dijaganya dengan penuh perhatian, disusui, disuapi makanan, dimandikan, diayun dan dibuai ketika menangis, agar cepat diam dan tidur. Kalau bayi sakit, ibu dan bapak gelisah pula, mereka mencarikan obat agar cepat pulih kembali kesehatannya.
Selanjutnya, ibu dan bapak mengajarkan kita duduk, berdiri, berjalan, bercakap-cakap, bermain-main dan menjaga agar kesehatan kita tetap baik dan pertumbuhan fisik dan rohaninya tetap normal.
Ibu-bapak kita benar-benar berjasa, dan jasanya tidak bias dibeli sama sekali dan tak dapat diukur oleh apapun juga. Merekalah yang mengusahakan agar kita dapat makan dan membelikan pakaian untuk kita. Selanjutnya kita dimasukkan ke lembaga pendidikan, mulai dari sekolah pendidikan dasar sampai menengah dan mungkin sampai ke perguruan tinggi, agar kita berakhlak baik, teguh mengamalkan ajaran-ajaran agama dan mempunyai masa depan yang gemilang.

Maasya Allah, kalau baca materi tentang orang tua jadi teringat sam bapaka alm. Allahumaghfirlahu, warhamhu wa'aafihi wa fu'anhu. Yang masih ada kedua orang tuanya ,alhamdulillah masih memiliki kesempatan birrul walidain sekarang, Yang sudah wafat salah satu atau keduanya,  masih bisa birrul walidain juga dengan mendoakannya dan menjadikan diri kita sholeh, mudah-mudahan kesholehan kita pahalanya bisa terus mengalir pada orang tua.

Baiklah, kita masuk materi, yang di atas sebagai muqaddimah :
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد، 
رب اغفرلي و لوالدي و ارحمها كما ربياني صغيرا
Allah SWT berfirman ;
:وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
"Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut di dekatmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS. An Nisa: 36)
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ     إِحْسَانًا“
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa.” (QS. Al An’am: 151)
Dan masih banyak lagi ayat yang menunjukkan atas berbakti kepada Ayah dan Ibu.
Selain itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda
الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه“
Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, dia mengatakan, hadits ini shahih)
Abu Bakroh berkata
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟ ثَلاَثًا، قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : ( الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ ) وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ( أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرُ ) مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْتُ لَيْتَهُ سَكَتَRasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”Beliau lalu bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan [pada tangannya]. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), “Duhai, seandainya beliau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim)begitu sangat pentingnya kita untuk berbakti kepada kedua orangtua. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung padamurka orang tua.” (Adabul Mufrod no. 2.)Sahabat insan, yang semoga di rahmati oleh Allah Azza wa Jalla.Ayat2 al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW di atas sebagai sandaran dalil, yang menjadi 'ijma (kesepakatan) di antara para ulama,  bahwa berbakti kepada kedua orang tua hukumnya wajib.

Cara berbuat baik kepada orang tua diantaranya:
a. Mendengarkan nasihat-nasihatnya dengan penuh perhatian, mengikuti anjurannya dan tidak melanggar larangannya, selama tdk bertentangan dengan ajaran islam
b. Tidak boleh membentak ibu-bapak, menyakiti hatinya, apalagi memukul. Ibu dan bapak harus diurus atau dirawat dengan baik;
c. Bersikap merendahkan diri dan mendoakan agar mereka selalu dalam ampunan dan kasih sayang Allah S.W.T.;
d. Sebelum berangkat dan pulang sekolah, bekerja atau kegiatan lain hendaklah membantu orang tua;
e. Menjaga nama baik kedua orang tua di masyarakat;
f. Memberi nafkah, pakaian, dan membayarkan hutangnya kalau mereka tidak mampu atau sudah tua;
g. Menanamkan hubungan kasih sayang terhadap orang yang telah ada hubungan kasih sayang oleh ibu-bapaknya;
Membiasakan diri berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perbuatan yang amat mulia. Bahkan dianjurkan setiap setelah shalat mendoakan kedua orang tua. Apabila kedua orang tua itu telah meninggal misalnya, maka kita sebagai anaknya berkewajiban berbakti kepada mereka seperti:
a. Menyembahyangkan jenazahnya;
b. Memintakan ampunan kepada Allah;
c. Menyempurnakan janjinya;
d. Memuliakan sahabatnya;
e. Menghubungi anak keluarganya yang bertalian dengan keduanya.
 Tentunya kita semua sudah meyakini hal ini, yang menjadi permasalahannya realisasi berbakti kepada kedua orang tua yang tidak mudah .

Demikian sharing tentang akhlak kepada orang tua, kita tutup dulu kajiannya semntara karena sudah berkumandang adzan zhuhur di depok. InsyaAllah ba'da zhuhur kita lanjutkan kembali.
Mari tutup dengan melafadzkan hamdalah, alhamdulillahi rabbil ' aalamiin

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته, BunTik nan sholihah, bagaimana shalat zhuhur yang barusan kita laksanakan? Semoga diiringi kenikmatan dan kekhusyu'an, aamiin Alhamdulillah, kita hanya mengharap pahala terbaik dari Allah SWT, atas ibadah kita,  walaupun sangat-sangat tidak sebanding dengan segala karuniaNya. Inilah bentuk raja' (pengharapan) dari hamba yang dhoif, mudah-mudahan doa kita ba'da shalat khususnya untuk kedua orang tua kita, dikabulkan Allah, aamiin yaa Mujibassaailiin
==================
TANYA JAWAB

1. TANYA
Apabila kita memiliki orang tua yang berbeda akidah, kita kan wajib tetap berbakti kepada keduanya tapi yang masih mengganjal kalau hari besar perayaan keagamaan mereka kita hadir diacara tersebut, bagaimana hukumnya ustadzah? Syukron.
JAWAB:
Betul bun kita wajib berbakti kepadanya, untuk urusan dunia saja, kalau berkaitan dengan agama : lakum diinukum waliyadiin... jadi usahakan untuk tidak datang menghadirinya, tapi komunikasi atau pemberitahuan kepada mereka tetap dilakukan misal sehari sebelumnya datang, izin bahwa kita tidak bisa menghadirinya dan sampaikan pula bahwa kita berbeda aqidahTANYA
Meskipun niat kita hanya menjenguk orang tua bukan diniatkan menghadiri acaranya, tetap tidak boleh ya ustadzah? Kadang suka khawatir kalau beliau jadi sakit gara-gara kita tidak datang dan saudara yang lain jadi menyalahkan karena sakitnya orang tua.
JAWAB:
Silahkan menjenguk nya, sehari sebelumnya misalnya,  jika bersamaan dengan hari rayanya nanti seolah-olah kita menganggap benar ajarannya,  di Indonesia khususnya,  fatwa ulama utk menghadiri perayaan Natal atau hari raya agama lain setau saya terlarang, walaupun ada yang berbeda pendapat dalam hal ini

2. TANYA
Assalamualaikum... Ustadzah Imas yang baik... Saya boleh minta pendapat tidak? Alhamdulillah saya masih dikaruniai kedua orang tua yang sehat wal afiat.. Kami tinggal terpisah jauh, saya di Tangerang orang tua di Malang.. Kami bersilaturahmi kadang 1 tahun 1 atau 2 kali.. Saya bingung nanti seandainya beliau sudah lebih lanjut lagi bagaimana yaa.. Saya anak ke3 dari 3 bersaudara, kakak saya pun jauh-jauh, ada yang di lampung ada yang di cikarang.. Apa sebaiknya saya mendekati orang tua saya atau bagaimana yaa nantinya..... Syukron sebelumnya...
JAWAB:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan kecanggihan alat komunikasi zaman sekarang sangat memungkinkan kita bisa silaturahim dengan orang tua, misal telpon rutin kepadanya, menanyakan kondisinya, orang-orang di sekitar beliau, juga kebutuhannya, walaupun kalau ditanya orang tua akan lebih senang jika kita hadir di dekatnya

3. TANYA
ustadzah.. bagaimana cara agar bonding dengan orang tua khususnya ibu (bapak sudah meninggal) kuat dan harmonis.. karena latar belakang pola asuh ibu yang tidak lekat dengan anaknya serta masa lalu yang kurang baik. Syukran ustadzah
JAWAB:
Pertama yang harus dilakukan memperbanyak komunikasi, baik buruknya sebuah  hubungan sangat bergantung pada pola komunikasi kita bun, dengan siapapun,  apalagi ini dengan orang tua (khususnya ibu)

4. TANYA
Assalamualaikum..... ustadzah imas mau nanya, bolehkah saya seorang istri memberikan uang kepada orang tua atau saudara-saudara saya tanpa sepengetahuan suami. Sementara yang saya beri itu uang yang telah diberi suami untuk keperluan sehari-hari, tapi langsung saya sisihkan buat orang  tua..... syukron ustadzah
JAWAB:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, boleh saja memberikan untuk orang tua atau saudara, toh ini bukan membantu keburukan,  tapi sebaiknya memang di komunikasikan kepada suami, ada tipe-tipe suami yang cukup dengan izin prinsip ketika dia menyerahkan nafkah bulanan pada istri,  dia akan menyerahkan sepenuhnya tentang penggunaannya, maka istri akan leluasa shadaqah dan infak, tapi ada juga tipe suami yang harus izin teknis, ketika ada sesuatu harus izin, maka wajib kita untuk minta izin padanya.

5. TANYA
Bagaimana menyikapi jika suami tidak disukai oleh ibu kita ustadzah... dan memang pada posisinya ibu kita yang bener.. sedangkan pada hukum kita harus taat pada suami..
JAWAB:
Maasya Allah, ujian bagi seorang istri,  tentunya sikap positif untuk keduanya harus dilakukan,  semoga saja tidak serumah, kalau serumah akan menyulitkan posisi istri,  tapi jika tidak serumah akan lebih mudah mengatasinya
Maasya Allah, istri harus banyak-banyak berdoa meminta pada Allah sebagai Muqallibal quluub (Yang Maha Membolak-balikkan hati) , semoga hati ibunda dan suami bisa didamaikan

6. TANYA
Ustadzah, samakah kewajiban kita kepada mertua? Hak-hak apa saja yang didapatkan orang tua, dari anak perempuannya yang sudah menikah, mengingat pemeo "harus mendahulukan suami "?
JAWAB:
Mertua dalam bahasa kita,  sesungguhnya sama kedudukannya dalam Islam sebagai orang tua kita, maka para ulama mengelompokkan menjadi mahram selamanya. Hak orang tua dari anaknya, baik laki atau perempuan,  baik yang sudah menikah atau yang belum, sama, seperti yang sudah ada dalam tulisan materi di atas, betul bahwa seorang istri harus taat pada suaminya dan mendahulukan suaminya, tapi jangan kemudian kita benturkan 2 kewajiban ini (kewajiban pada suami dan kepada orang tua).
Setelah menikah 2 kewajiban perempuan yang tetap berlaku sampai dia wafat adalah kewajiban sebagai hamba Allah, makanya setelah menikah ibadahnya jangan sampai melempem karena alasan mendahulukan suami, demikian juga kewajiban kedua yaitu sebagai anak, sampai akherat hubungan anak dengan orang tua terus terbawa. Kita sebagai istri harus pandai mengatur strategi supaya mampu menunaikn kewajiban dengan baik, kepada Allah,  kepada orang tua, kepada suami, kepada anak-anak, kepada orang lain yang sama-sama harus ditunaikan.


7. TANYA
Bagaimana menitipkan anak ke orang tua, jika saya mengajar, karena anak saya tidak mau sama orang lain dan saya juga tidak percaya kalau diasuh sama orang lain, kadang-kadang gantian anak saya dipegang oleh mertua juga,
JAWAB:
Menitipkan anak kepada orang tua boleh saja, asalkan mereka ridho dititipi, biasanya nenek dan kakeknya seneng-seneng saja ada cucu. Hanya kita sebagai anaknya harus mawas diri, khawatir malah akan merepotkan beliau, mengganggu beliau beribadah dan menuntut ilmu di usia senjanya, maka kita harus mengukur kemampuan beliau berdua ketika dititipi anak. Sebaiknya memang kita menyediakan segala fasilitas anak kita ketika berada di samping neneknya, susunya, makanan,  minuman, uang jajannya berikut pengasuhnya, nenek dan kakek hanya menemani bermain dan mengawasi saja, ini lebih baik. Jangan sampai para ibu bekerja seenaknya saja menitipkan anaknya kepada kakek nenek, bukan hanya sekedar menggendong,  nyuapin dan nyebokin bahkan ada orang tua (tetangga saya) yang nitipin anak smua-semuanya dari neneknya, makannya, susunya, semua keperluan si anak. Hati-hati khawatir Allah tidak ridho karena orang tua secara tidak langsung sudah diperbudak oleh anaknya, naudzubillah
8. TANYA
Bagaimana kedudukan tanggung jawab anak laki dan anak perempuan terhadap orang tuanya... bila si anak laki-laki tersebut sibuk dengan urusan mencari nafkah dan urusan memelihara orang tau dilimpahkan ke anak perempuan yang memang tidak berkewajiban mencari nafkah??
JAWAB:
Tanggung jawab anak terhadap orang tua sama, tinggal di komunikasi kan saja, antar saudara kandung, apa bergiliran menengok, atau disepakati memberikan nafkah kepada orang tua jika memang orang tua sudah tidak bisa mencari nafkah, satu dengan yang lain harus lapang dada jika ada yang berhalangan mungkin bisa diwakilkan sama istrinya atau anaknya untuk nengok orang tua. Yang harus dibangun adalah cara pandang kita bahwa birrul walidain itu perintah Allah jadi kita berusaha keras untuk mewujudkannya jangan terpengaruh orang lain, misal karena kakak laki-laki kita tidak atau jarang nengok orang tua, eeeh... kita jadi ikutan,  dengan anggapan dia saja anak laki-laki tidak menengok sama orang tua, tidak apa-apa dia begitu (lebih baik dia diingatkan) yang penting kita birrul walidain

9. TANYA
mau tanya fenomena sekarang banyak ibu rumah tangga yang menjadikan ibu sendiri sebagai pengganti pembantu. Bagaimana hukumnya bila dilihat dari hukum Alqur'an dan hadist
JAWAB:Bisa dilihat dalam hadits arbain nawawiyah, hadits kedua (hadits jibril), ketika Rasulullah SAW ditanya oleh malaikat jibril tentang ciri-ciri akan kiamat, beliau SAW bersabda (salah satunya) : jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya.... Menurut para ulama,  ini kalimat kiasan untuk kondisi sekarang dimana orang tua (seorang ibu) diperlakukan sprti budak (pembantu) oleh anaknya, dia harus membanting tulang mengerjakan pekerjaan yang bukan kewajibannya di rumah anaknya

10. TANYA
terkadang saat kita menyamakan kedudukan orang tua sama mertua, nih.. Ipar ipar yang banyak nyebelin nya, bagaimana ustadzah? '
JAWAB
Itu ujiannya bunda. Kita birrul walidain sama mertua perintah dari Allah SWT, gak usah terpengaruh sama ipar atau yang lain, walau kadang bikin hati geremet juga, banyak berdoa mohon diikhlaskan selama berbuat baik pada mertua

11. TANYA
ustadzah saat ini saya tinggal berdampingan dengan orang tua,  ibu saya kondisinya sudah tidak sehat,  anak-anaknya semua jauh diluar kota, selama ini saya tinggal berjauhan dengan suami, tapi sekarang suami saya menyuruh saya untuk ikut suami tinggal dengannya,  di Bogor,  nah apakah saya yang harus saya lakukan,  satu sisi saya berat meninggalkan orang tua yang kondisinya sudah tua,  dan sisi lain saya harus patuh pada suami...
JAWAB
ikuti ajakan suami smbil minta pendapatnya bagaimana birrul walidain kepada ibu yang sakit ? Mungkin bisa minta izin suami setiap pekan nengok? Boleh Nginap di rumah ibu semalam ? Atau teknis lainnya,  sehingga suami juga turut serta dalam birrul walidain terhadap mertuanya
Mari kita tutup kajian ini dengan do'a kafaratul majlis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
Wassalamu'alaykum warahmatullah..
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaykum warohmatulloh wb.

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment