Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » PSIKOLOGI POSITIF

PSIKOLOGI POSITIF

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, November 21, 2014

Kajian Online Hamba الله SWT

Jum’at, 21 November 2014
Narasumber : Ustadzah Wiwik
Rekapan Grup Nanda 123&124 (Diantika)
Tema: Syakhsiyatull islamiyyah
Editor :Rini Ismayanti

PSIKOLOGI POSITIF

Assalamu'alaikum
Gimana khabarnya nanda-nanda shalihah
Sudah sepekan kita tidak ketemu, kangen juga bersama nanda semua
Kira-kira sudah berapa yang hadir, mbak rochma presensinya minta tolong disiapkan
Bisa kita mulai kajian sore ini
Kok masih sepi ya...
Umi share dulu ya materinya

Pandangan optimis dalam mengembangkan kompetensi guru
Guru sebagai salah satu unsur penting yang memegang peranan dalam proses pendidikan selayaknya terus menerus berupaya meningkatkan kompetensinya. Pembahasan mengenai pengembangan guru ini semakin meningkat frekwensinya pasca diterbitkannya Permendiknas no .16/2007 mengenai standar Kwalifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Berbagai program mulai disusun dan disosialisasikan kepada semua pihak termasuk pihak yang peduli terhadap pengembangan kompetensi guru. Umumnya, pendekatan yang digunakan berpedoman kepada ilmu psikologi yang lazim dijadikan dasar dalam membentuk dan mengubah prilaku manusia. Selama ini, teori psikologi yang banyak digunakan dalam bentuk dan mengubah perilaku seseorang adalah teori belajar. Sedangkan pendekatan yang dilakukan umumnya adalah pendekatan psikologi klinis individual.

Dari sejarahnya, pendekatan psikologi klinis sangat banyak dipengaruhi oleh pendekatan medis, yang memandang manusia dari sisi kelemahannya. Salah satu contoh adalah Sigmund Freud yang merupakan seorang dokter ahli neurologi. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan dominasi pandangn kedokteran di dalam memandang manusia. Hingga th 2003 (Vailant, 2003; Carr, 2004) menyatakan bahwa ilmu psikologi klinis tradisional terlalu banyak memandang manusia dari sisi negatif. Artinya psikologi klinis banyak mempelajari mengenai gangguan psikologis dan terapi untuk menyembuhkan gangguan tersebut. Georange Eman Vailllant (2003), seorang ahli psikiatri Amerika Serikat melakukan reviu terhadap 57.800 artikel dengan subyek kecemasan dan 70.856 mengenai depresi, menemukan bahwa hanya 5.701 yang membahas mengenai kepuasan hidup, dan 851 mengenai kebahagiaan. Temuan ini memperlihatkan bahwa fokus terbesar yang diminati oeh peneliti psikologi adalah hal-hal yang berkaitan dengan sakit dan gangguan.

Perubahan mendasar dalam memandang manusia dimulai semenjak Seligman menulis buku "Learned Optimism". Awalnya, sebagai seorang psikolog klinis, Seligman berpikir bahwa ia sedang menulis buku mengenai pesimisme. Namun, di tahun 1988 ketika ia berjumpa dengan Richard Pine yang dimintanya untuk memberikan komentar terhadap karyanya ini, Pine mengatakan, "Kau menulis mengenai Optimisme, bukan Pesimisme". Komentar Pine inilah kemudian yang mendorong Seligman, Reivich, Jaycox and Gillham, 1996 menulis tentang "Optimistic Child" dan disusul pada th 2002 dengan "Authethentic Happiness". Psikologi positif membahas mengenai aspek positif manusia dalam mencapai kebahagiaan yaitu :
-kehidupan yang menyenangkan (pleasant life),
-kehidupan yang menyatu (engaged life), dan
-kehidupan yang bermakna (meaningful life)

Kehidupan yang menyenangkan dapat dicapai dengan cara mengenali sebanyak mungkin emosi-emosi positif (positif emotions) dan berlatih untuk mengembangkan dan memperkuat emosi positif yang kita miliki. Kehidupan menyatu diperoleh bila kita mengenali berbagai potensi kepribadian positif dan bijaksana (positif individual traits), kemudian menggunakannya dalam bekerja, bercinta, berteman, mendidik anak-anak, dan menjalani kehidupan yang menyenangkan. Kehidupan yang bermakna akan dapat dicapai apabila kedua aspek tersebut digunakan untuk terlibat dalam membangun institusi kehidupan yang positif (positif institusion). Dengan berfokus pada pengembangan sisi positif ini diharapkan terbangunlah karakter positif yang dapat menumbuh kembangkan potensi dan menangkal berbagai bentuk tindak kekerasan yang akhir-akhir ini sering terjadi di lingkungan sekolah. Karakter positif ini juga dibutuhkan oleh seorang guru dalam mengintegrasikan pembelajaran yang berfokus pada aspek kognitif dan pengembangan karakter yang berfokus pada pendidikan moral.
📓Meluasnya topik kajian psikologi ini berimplikasi terhadap praktek pengembangan karakter manusia. Oleh karena sekolah adalah salah satu sub-sistem dalam pendidikan karakter manusia (selain keluarga, institusi keagamaan, dan institusi penegakan hukum) maka pendekatan dalam pembangunan karakter manusia diarahkan pada pengembangan karakter positif warga sekolah melalui penataan para guru, staf kependidikan, dan murid sekolah. Dengan pendekatan demikian diharapkan sekolah dapat menjadi wahana pengembangan generasi yang berpendidikan dan berkarakter positif. Selain itu sekolah akan menjadi tempat kerja yang mendukung kepuasan kerja dan produktifitas para guru dan staf lainnya. Pada kondisi ini, diharapkan masyarakatapiun akan merasa senang karena pendidikan sekolah membangun generasi yang berpegang teguh pada tata kehidupan bermasyarakat yang beradab (civil society).

Pendekatan psikologi positif dalam membangun karakter ini dikembangkan secara sistematik dengan fokus pada tindakan proaktif dalam pengembangan kompetensi warga sekolah terutama kepemimpinan sekolah, guru, dan siswa. Dengan pendekatan psikologi positif, setiap orang dapat terlibat dalam pengembangan karakter tanpa harus menunggu terjadinya masalah.

Implikasinya, jika selama ini upaya peningkatan kompetensi manusia melalui pelatihan (training) seringkali dimulai dengan menggali atau asesmen kebutuhan akan pelatihan (training need assessment) yang tujuannya adalah untuk mengetahui kekurangan para peserta pelatihan. Dari hasil asesmen ini selanjutnya disusunlah materi pelatihan yang diperlukan. Pendekatan seperti ini berfokus kepada kekurangan atau pandangan yang sebelumnya lahirnya psikologi positif menjadi fokus dari psikologi klinis. Padahal, Seligman (2002) mengatakan bahwa "curing the negatives does not produce the positives" atau dengan kata lain menyembuhkan gangguan tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan. Akibat dari pendekatan yang berbasis psikologi negatif ini kegiatan pengembangan sumber daya manusia lebih banyak mengajarkan ketrampilan untuk tidak sedih, tidak pesimis dan tidak cemas.

Aspek utama dalam psikologi positif
1. Emosi yang positif (positive emotion)
  Emosi berperan besar dalam kehidupan manusia. Emosi positif memberikan dampak positif bagi individu dan orang-orang disekitarnya
2. Sifat diri yang positif ( positive personal traits) atau karakter diri
  Karakter diri positif merupakan salah satu kekuatan penyangga kesehatan fisik dan pencegah berkembangnya penyakit.
3. Institusi yang positif ( positive institution)
  Kehidupan yang positif hanya akan timbul di lingkungan yang bersifat positif. Meningkatkan kwalitas guru identik dengan upaya memupuk lingkungan belajar untuk menjadi lebih baik.

TANYA JAWAB
Q : Mau tanya ustadzah...Apa yang di lakukan oleh seorang guru jika menemukan seorang murid yang cenderung mempunyai kepribadian yang introvert (tertutup)
A : Usia berapa mbak?SD, SMP atau SMA
Seorang anak SD belum bisa dikatakan berkepribadian introvert karena masih masa pencarian jati diri. Cara tepat untuk menghadapi anak introvert.
1. Suka menyendiri
Bertemu atau bermain dengan orang lain bisa menjadi salah satu cara untuk menyegarkan pikiran. Namun, tidak demikian halnya dengan mereka yang introvert. Ketika mereka merasa stres atau sibuk, mereka akan membutuhkan waktu untuk sendirian. Anak introvert perlu waktu untuk memproses kegiatan, interaksi, percakapan, informasi, dan emosi mereka setiap hari.
Do: Menemaninya saat dia sedang membutuhkan waktu untuk sendirian. Kita bisa membiarkannya melakukan apapun, seperti menggambar, membaca atau segala hal yang disukainya, sementara kita hanya duduk tenang disampingnya dan tak berusaha untuk mengangggunya.
Don't: Jangan tanyakan bagaimana perasaannya ketika anak menginginkan waktu untuk sendirian. Biarkan dia bermain atau menghabiskan waktunya sejenak, sebelum kita akhirnya menanyakan tentang apa yang dilaluinya seharian di sekolah.
2. Anak introvert tidak suka berbasa-basi (terutama dengan orang asing)
Ini tidak berarti anak kita adalah seorang pemalu. Artinya, anak hanya ingin membahas hal-hal penting, dan membangun hubungan dengan seseorang yang mereka kenal saja. Anak introvert perlu mengembangkan hubungan dengan seseorang sebelum mereka akhirnya mau berbicara dengan nyaman dengan orang tersebut. Namun, banyak orang menyalahartikan sikap introvert dengan pemalu.
Do: Jadilah jembatan antara teman anak kita dan anak kita. Itu akan membuat anak kita merasa lebih nyaman sehingga mereka bisa membangun suatu hubungan dengan orang lain.
Don't: Jangan pernah mengatakan bahwa anak kita adalah seorang pemalu di depan orang lain. Itu justru akan membuatnya merasa tersuduntukan dan malah tidak mau bertemu dengan orang lain.
3. Anak introvert memproses perasaan mereka secara internal
Kita mungkin tidak menyadari apa yang sedang dirasakan oleh anak kita karena dia tidak pernah menunjukkan emosinya. Sekadar pembanding, anak ekstrovert menunjukkan apa yang ada di pikirannya langsung lewat emosi dan kata-kata. Sebaliknya, anak introvert mengambil rangsangan dan mempertahanakan itu, lalu memrosesnya untuk sementara waktu untuk memutuskan apa yang mereka pikirkan dan bagaimana menanggapinya.
Do: Pahami bahwa perasaan anak introvert mungkin tidaklah jelas. Untuk membantunya, kita bisa membangun suatu komunikasi dengan memberikan anak tugas untuk melatih ekspresinya seperti melalui jurnal harian, kegiatan seni, atau memberinya banyak waktu untuk bebas bermain dengan mainan dan karakter.
Don't: Jangan berpikir bahwa anak introvert yang cenderung tanpa emosi atau jarang menunjukkan emosi itu berarti selalu baik-baik saja. Mereka juga memiliki perasaan hanya saja mereka memiliki cara sendiri untuk memroses perasaan mereka.
4. Anak introvert lebih memilih bermain secara berpasangan ketimbang bermain berkelompok
Mereka akan lebih senang bermain berpasangan dengan satu orang ketimbang harus bermain dengan banyak orang. Hal ini wajar karena anak introvert membutuhkan waktu untuk sendiri dan tidak suka keramaian.
Do: Bantu anak untuk mengenal salah seorang teman yang baik dan cocok untuknya. Dengan demikian, dia tidak akan menutup diri dan mau terbuka pada orang lain.
Don't: Jangan ajak mereka ke tempat yang sangat ramai atau mengenalkan mereka dengan banyak orang. Semakin banyak orang yang mereka temui, semakin sulit bagi mereka untuk memroses interaksi dan menikmati waktu dengan semua orang.
Q : Tapii umi bagaimana klo untuk yang sudah dewasa, kayaknya agak susah untuk brubah ya mi? apalagi klo lagi ada masalah ketutupnya minta ampun
A : Memang klo yang sudah dewasa lebih lama prosesnya, harus lebih sabar

Q : Saya juga mau tnya ustadzah. Bagaimana menghadapi dengan baik dan benar pada murid yang punya sifat ingin menang sendiri. Mudah marah saat dinasehati. Dan suka mengatur teman-temannya. Murid saya ini kelas 5 SD.
A : Kadang anak mau menang sendiri pasti ada penyebabnya.....bisa dia anak tunggal sehingga apa keinginannya harus dipenuhi, salah satu caranya beri dia kepercayaan, karena dia suka mengatur temannya, maka jadikan dia ketua kelas yang bisa membantu guru menenangkan murid saat ramai di kelas, dan pemberian nasehatnya jangan secara langsung, bisa dengan cerita.

Q : Bunda.. apakah baik menceritakan apa yang terjadi sama kita agar murid faham bahwa kita sedang apa d hari itu juga ?
A : Boleh mbak dengan syarat cerita itu bisa membuat anak mendapatkan pelajaran. Jangan cerita tentang keburukan kita, misalnya cerita klo kita bangun kesiangan, nah ini tidak boleh
Mbak, besok perlu diluruskan apa yang sudah kita ceritakan. Beri alasan kenapa kita bangun kesiangan, dsb yang membuat anak tidak meniru apa yang sudah kita lakukan

Q : Bagaimana dari sudut pandang agama islam mengenai tema materi kita hari ini, apa ada dalil atau hadits mengenai tema kita ini, karena menjadi guru kan tidak harus di sekolah yaa?! Heheh syukran ustadzah.... afwan jika agak berbelit nggih..
A : Pendidikan Islam sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad saw. Dari kedua sumber tersebut, para intelektual muslim kemudian mengembangkannya dan mengklasifikannya kedalam dua bagian yaitu: Pertama, akidah untuk ajaran yang berkaitan dengan keimanan; kedua, adalah syariah untuk ajaran yang berkaitan dengan amal nyata (Muhammad Syaltut). Dan sebagai tambahan adalah fisafat sebagai alat bantuk dalam berpikir manusia untuk selalu mengembangkan pengetahuan yang sudah di miliki. Filalsafat tersebut digunakan untuk mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi dan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut tanpap mengakibatkan masalah yang lebih besar. Tentu saja dalam perkembangan yang dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari perintah dan larangan agama, karena dalam hal ini agama memrupakan sumber yang paling utama dan mmenduduki kedudukan yang tertinggi yang disusul kemudian adalah filsafat, kemudian ilmu pengetahuan.
Oleh karena pendidikan (formal, nonformal dan informal) termasuk amalan yang nyata dan harus dilakukan, maka pendidikan tercakup dalam bidang syariah. Bila diklasifikasikan lebih lanjut, termasuk dalam sub bidang muamalah. Pengklasifikaksian ini tidak terlepas dari adanya tanggung jawab yang wajib bahwa pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang nantinya akan menyangkut kebutuhan orang banyak (social masyarakat). Dengan demikian maka jelaslah bahwa sebaik-baik orang adalah dia yang mampu memberikan kontribusi pada masyarakat sekitanya. Dan perintah ajarkanlah ilmu walau satu ayat.
Dalam Al-Qur’an (Q.S. 31: 12-15) yang artinya: “Dan sungguh, telah Kami Berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami Perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tua-nya. lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku Beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa dalam pendidikan yang paling ditekanakan adalah pendidikan yang dilakukan oleh orang tua, karena pendidikan ini secara sadar atau tidak sadar merupakan pendidikan yang pertama kali didapatkan oleh seorang anak sebelum mendapat pengaruh dari luar. Dan ayat tersebut menrangkan kepada kita bahwa apabila orang tua menyuruh kita untuk melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama, maka kita wajib nenolaknya, akan tetapi dengan perkataan yang baik (wajaadil hum billaty hia akhsan).
Surat tersebut secara terang-terangan menjelaskan kepada kita tentang prinsip-prinsip dasar materi pendidikan Islam yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan yang nantinya akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan sebagai tanggung jawab ke-Khalifah-an.
Sebagai bantahan pendapat yang meragukan terhadap adanya aspek pendidikan dalam Al-Qur’an. Abdul Rahman Saleh Abdullah mengemukakan bahwa kata Tarbiyah yang berasal dari kata “Rabb”(mendidik dan memelihara) banyak terdapat dalam Al-Qur’an; demikian pula kata “Ilm” yang demikian banyak dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an tidak mengabaikan konsep-konsep yang menunjukkan kepada  pendidikan (Departemen P & K, 1990:291). Hal ini ditegaskan karena dengan pendidikanlah umat manusia mendapatkan ilmu pengetahuannya. Selain itu dengan ilmu pengetahuan yang didaptnya, diharapkan supaya umat islam menjadi lebih beriman dan bertaqwa kepada Allah bukan kakena ikut-ikutan dari agama orang tua, tetapi karena dirinya pribadi.
Sebagai pedoman yang tidak kalah pentingnya, Hadist juga banyak memberikan dasar-dasar bagi pendidikan  Islam. Karena Hadist sebagai pernyataan, pengalaman, takrir dan hal ihwal Nabi Muhammad saw., merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah Al-Qur’an.
Sebagai penunjang berkembangnya ilmu pengetahuan, di samping Al-qur’an dan Hadist sebagai sumber atau dasar pendidikan Islam, tentu saja masih memberikan penafsiran dan penjabaran lebih lanjut terhadap Al-Qur’an dan Hadist, berupa ijma’, qiyas, ijtihad, istihsan dan sebagainya yang sering pula dianggap sebagai dasar pendidikan Islam. Akan tetapi, kita konsekuen bahwa dasar adalah tempat berpijak yang paling mendasar, maka dasar pendidikan Islam hanyalah Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad saw. Sehingga pandangan para ulama yang berupa berupa ijma’, qiyas, ijtihad, istihsan dan sebagainya dijadikan sebagai sarana untuk memberikan pemahaman sebagai penjelas al-Qur’an dan Hadist tersebut.
Berikut beberapa ayat dan Hadistt yang membahas tentang pendidikan :
1.        QS: As Shafaat: 102
Yang artinya: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Isma‘il) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang makna “metodologi” pendidikan pada anak. Yang mana ayat ini mengisahkan dua hamba Allah (Bapak-Anak), Ibrahim dan putranya Ismail AS terlibat dalam suatu diskusi yang mengagumkan. Bukan substansi dari diskusi mereka yang menjadi perhatian kita. Melainkan approach/cara pendekatan yang dilakukan oleh Ibrahim dalam meyakinkan anaknya terhadap suatu permasalahan yang sangat agung itu.
Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa metode “dialogis” dalam mengajarkan anak sangat didukung oleh ajaran Islam. Kesimpulan ini pula menolak anggapan sebagian orang kalau Islam mengajarkan ummatnya otoriter (pemaksaan), khususnya dalam mendidik anak.
2.        Ar-Rahman ayat 1-4 (Tentang subyek pendidikan)
Yang artinya: “(Rabb) Yang Maha Pemurah. Yang telab mengajarkan al Qur’an.Dia menciptakan manusia.Mengajarnya pandai berbicara /AI-Bayan”.
Kaitannya ayat ar-Rahman ini dengan Subjek Pendidikan adalah sebagai berikut:
Kata ar-Rahman menunjukkan bahwa sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia kepada anak didiknya dan siapa saja yang menunjukan profesionalisasi pada Kompetensi Personal
Seorang guru hendaknya memiliki kompetensi paedagogis yang baik sebagaimana Allah mengajarkan al-Quran kepada Nabi-NYA.
Al-Quran menunjukkan sebagai materi yang diberikan kepada anak didik adalah kebenaran/ilmu dari Allah (Kompetensi Profesional)
Keberhasilan pendidik adalah ketika anak didik mampu menerima dan mengembangkan ilmu yang diberikan, sehingga anak didik menjadi generasi yang memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual, sebagaimana penjelasan AI-Bayan.
3.        Surah Luqman: 13
Artinya: ”Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Dari ayat tersebut dapat kita ambil pokok pikiran sebagai berikut:
Orang tua wajib memberi pendidikan kepada anak-anaknya. Sebagaiman tugasnya, mulai dari melahirkan sampai akil baligh.
Prioritas pertama adalah penanaman akidah dan akhlak. Pendidikan akidah dan akhlak harus diutamakan sebagai kerangka dasar/landasan dalam membentuk pribadi anak yang soleh (Kompetensi Profesional).
Dalam mendidik hendaknya menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang, sesuai makna seruan Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa” (Wahai anak-anakku), seruan tersebut menyiratkan muatan kasih sayang/sentuhan kelembutan dan kemesraan, tetapi dalam koridor ketegasan dan kedisplinan, bukan berarti mendidik dengan keras. (Kompetensi Personal).
4.        Surah al-Kahf ayat 66 (Tentang Pendidik)
Yang artinya: ”Musa berkata kepada Khidhr “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu” (QS. 18: 66)”.
Dari ayat ini dapat diambil beberapa pokok pemikiran sebagai berikut:Kaitan ayat ini dengan aspek pendidikan bahwa seorang pendidik hendaknya:
Menuntun anak didiknya. Dalam hal ini menerangkan bahwa peran seorang guru adalah sebagai fasilitator, tutor, tentor, pendamping dan yang lainnya. Peran tersebut dilakukan agar anak didiknya sesuai dengan yang diharapkan oleh bangsa neraga dan agamanya.
Memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu. Hal ini perlu, karena zaman akan selalu berubah seiring berjalananya waktu. Dan kalau kita tidak mengikutinya, maka akan menjadikan anak yang tertinggal.
Mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya.
5.        Surah asy-Syu’ara: 214
Yang artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”( QS. 26: 214).
Ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan umatnya agar tidak pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan dan pendidikan. Seorang guru harus memberikannya secara seimbang, tidak membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin (menganggap semuanya sama). Guru wajib menegur kepada anak didik siapapun yang melanggar atau tidak sesuai dengan kaidah yang telah diajarkannaaya.
6.        Surah ‘Abasa ayat 1-3
Yang artinya: “Dia (Muhammad ) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya dari dosa” QS. 80: 1 – 3)
Pesan yang dapat kita ambil adalah:
Setiap insan berhak memperoleh pendidikan, tanpa mengenal ras, suku bangsa, agama maupun kondisi pribadi/fisik dan perekonomiannya.
Sebagai seorang pendidik harus bijak dalam menghadapi anak didiknya dan tidak membeda-bedakan hanya karena fisik yang tidak sempurna. Misal tingkatkan pula pelayanan pendidikan pada peserta didik yang difabel.
7.        Surah al-Anakabut: 19-20
Yang artinya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya.Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 29: 19 – 20).
Dari ayat tersebut di atas (al-Anakabut: 19 – 20) memerintahkan kepada kita untuk:
Melakukan perjalanan, dengannya seseorang akan menemukan banyak pelajaran berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam, maupun dari peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya. Hal ini mengisyaratkakn kepada kita bahwa pengalaman merupakan kunci sebagai tolok ukur perkembangan dalam setiap perubahan yang dilakukan. Selain itu dari pengalaman yang kita lakukan maupun dari pengalaman orang lain lakukan selayaknya dijadikan sebagai ibrah untuk menuju yang lebih baik.
Melakukan pembelajaran, penelitian, dan percobaan (eksperimen) dengan menggunakan akalnya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, dan bahwa di balik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan Yang Maha Besar. Pemikiran ini adalah tujuan akhir dari semua yang dikerjakan oleh setiap manusia.
8.        Surat al-‘Alaq ayat 1-5)
Yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Mulia. Yang Mengajar (manusia) dengan pena. Dia Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 80: 1 – 5).
Ayat diatas dikaitan dengan pendidikan adalah sebagai berikut:
Iqra` bisa berarti membaca atau mengkaji. sebagai aktivitas intelektual dalam arti yang luas, guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika
Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kata ini merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa ini. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam.
Hubungan agama dan iptek? Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma yaitu:
Paradagima sekuler: paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat,agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din ‘an al-hayah). Eksistensi agama tidak dinafikan hanya dibatasi perannya.
Paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, dus,tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek.
Paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan.
9.        Surah At-Taubah ayat 122
Yang artinya: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang muKmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapaorang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. 09: 122).
Ayat ini memberi anjuran tegas (tahdid) kepada umat Islam agar ada sebagian dari umat Islam untuk memperdalam agama. Dikatakan juga bahwa yang dimaksud kata tafaqquh fi al-din adalah menjadi seorang yang mendalam ilmunya dan selalu memiliki tanggung jawab dalam pencarian ilmu Allah. Dengan demikian menurut tafsir ini dalam sistem pendidikan Islam tidak dikenal dikhotomi pendidikan.
10.    Surat An-Nahl ayat 125
Yang artinya: “Ajaklah kepada jalan Tuhan mu dengan cara yang bijaksana dan dengan mengajarkan yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka secara lebih baik”. (QS. 16: 125)
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari ayat ini bahwa metode yang di lakukan dalam proses pendidikan diantaranya: ceramah dan diskusi.
11.    Surat Al-‘Araf ayat 35
Yang artinya: “Hai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu Rasul-rasul sebangsamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, niscaya mereka tidak merasa ketakutan” (QS. 07: 35)
Metode cerita / ceramah ini digunakan oleh Rasulullah untuk menyampaikan perintah-perintah Allah.
12.    Surat Ar-Rahman ayat 47-48
Yang artinya: “Nikmat yang manalagi yang akan kamu dustakan? Kedua surga itu mempunyai serba macam pohon dan buah-buahan”. (QS. 55: 147 – 48).
Dalam surat Ar-Rahman ayat 47-48 tergambarkan bahwa Tanya jawab merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pendidikan.
13.    Surah al-Baqarah: 31
Yang artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebuntukanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”. (QS.02: 31)
Proses pendidikan terhadap manusia terjadi pertama kali ketika Allah SWT selesai menciptakan Adam as, lalu Allah SWT mengumpulkan tiga golongan mahluk yang diciptakan-Nya untuk diadakan Proses Belajar Mengajar (PBM). Tiga golongan mahluk ciptaan Allah dimaksud yaitu Jin, Malaikat, dan Manusia (Adam Alaihissalam) sebagai “mahasiswa” nya, sedangkan Allah SWT bertindak sebagai “Maha Guru” nya. Setelah selesai PBM maka Allah SWT mengadakan evaluasi kepada seluruh mahasiswa ( jin, malaikat, dan manusia) dengan cara bertanya dan menyuruh menjelaskan seluruh materi pelajaran yang diberikan, dan ternyata Adam lah (dari golongan manusia) yang berhasil menjadi juara dalam ujian tersebut. Wallahu a’lam bissowab


Q : Ustadzah sya mau bertnya: Apa perbedaan pendekatan psikologis klinis dengann pendektan medis?? Sukron..
A : Perbedaannya :
Klo pendekatan psikologis berpedoman pada ilmu psikologis yang menjadi dasar dalam membentuk dan mengubah perilaku manusia. Sedang pendekatan medis berpedoman pada aspek kesehatan.

Q : Assalamualaykum ustadzah... kadang kan ada dosen suka cerita masalah pribadi yang saya sendiri sebenernya ga suka mendengarnya. Karena terkadang membicarakan keburukan/kekurangan dosen lain. Saya memilih untuk tidak mendengar, tidak memperhatikan.. saya malah mainan sendiri. Kalo sperti itu saya dosa tidak ? Lalu sebaiknya apa yang sepantasnta saya lakukan ?
A : Saat dosen menceritakan yang tidak benar seperti ghibah dsb sebaiknya keluar saja.

Q : Kita kan nantinya akan menjadi orang tua, guru bagi anak-anak kita. Berarti kita hrus mengubah juga ya Umi dengan psikologi positif. Lingkungn dibuat positif. Nah, contoh konkretnya tu bgmn ya Umi? dan juga contoh konkret sifat/lingkungn yang hrus kita hindari
A : Kita analogikan dengan hubungan antara tanaman dan media tempat tanaman tersebut hidup. Benih yang unggul dapat memberikan hasil yang luar biasa apabila ditanam dimedia yang subur, ditempatkan di lingkungan yang mendapat cukup sinar matahari, kelembaban yang memadai, dan memperoleh pupuk serta air yang sesuai dengan kebutuhan. Demikian pula dengan kehidupan manusia. Kehidupan yang positif (bermakna puas dan bahagia serta produktif) hanya akan muncul secara maksimal bila kondisi lingkungan tempat manusia itu berada memiliki sifat-sifat positif

Q : Berarti dibuat semua positif y ummi. Tapi gini ummi. Mau menanyakan 1 barang yang sulit dihindari d keluarga. Yaitu TV. Bagaimana sebaiknya kita. Jazakillah atas jawabannya
A : Ya semua harus dibuat positif. Jika anak kita nonton tv sebaiknya harus dibersamai. Sekarang kan sudah ada tv yang menggunakan flasdish....bisa dicoba

Q : Umii... Bagaimana menghadapi karakter orang yang suka ngeyel? Apalagi kalau beliau lebih tua
A : Umi coba jawab nggih
Banyak orang tua mengeluhkan hal yang sama, merasa khawatir bahkan terkadang kesal ketika menghadapi anak yang suka melawan, memberontak dan berkemauan keras. Anak seperti ini biasanya terlihat sangat keras kepala, susah diatur, kukuh pada kemauannya, selalu merasa benar dan cenderung mengabaikan perkataan orang lain. Sebelum Anda mencoba mengatasi atau menghilangkan sikap keras anak, cobalah cari tahu dulu sebabnya. Yang pasti bukan karena keturunan.
Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, antara lain adalah pola asuh orang tua, perilaku orang tua dan ketidakkompakan antara ayah dan ibu. Orang tua yang terlalu membebaskan anak tanpa kontrol membuat anak merasa benar sendiri dan tidak mau mendengarkan orang tuanya. Selama masa perkembangan, sosok yang dekat dengan anak adalah orang tuanya, terutama ibu. Ketika orang tua (ibu) berperilaku demikian (berkemauan keras, suka membantah), maka anak akan dengan cepat mengimitasi perilaku tersebut. Dan salah satu hal yang juga penting dalam pendidikan anak adalah kekompakan dalam menerapkan pola asuh. Ketika ada penerapan aturan yang berbeda antara ayah dan ibu misalnya, maka anak akan mengalami kebingungan. Dan biasanya anak akan cenderung memilih aturan-aturan yang lebih menyenangkan untuknya.
Menjalin kedekatan dengan anak adalah cara terbaik menangani anak yang keras kepala. Komunikasi dua arah antara orang tua harus terjalin dengan baik. Misalnya, ketika Anda memerintahkan sesuatu, jangan hanya sekadar memerintah, yakinkan bahwa anak paham maksud dari perintah tersebut. Sebaliknya, ajak anak berbicara dan tanyakan alasannya, mengapa dia membantah atau bersikeras dengan pendapatnya. Bila alasannya tidak tepat, beri larangan tegas namun tetap disertai kesabaran. Cara ini akan memberikan pemahaman tentang batasan pada anak, tanpa membuatnya merasa ditolak atau tidak dicintai.
Sebagai orang tua, Anda harus pandai meredam emosi. Bila tidak, Anda sendirilah yang nantinya kewalahan. Berbicaralah dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Misal, ketika anak Anda menginginkan pergi ke suatu tempat dan Anda melarangnya. Kemukakan dengan bijak alasan Anda melarangnya. Jelaskan pada anak dengan bahasa yang ia mengerti, mengapa suatu hal diperintahkan dan hal lain dilarang. Yang harus diingat, jangan bersikap kasar atau terlampau keras pada anak. Bersikap lembut dan penuh kasih sayang akan sangat membantu. Karena dengan begitu, anak akan merasa bahwa teguran atau larangan yang Anda sampaikan, bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya. Jangan lupa berikan pujian ketika anak berperilaku baik, walau hanya dengan pelukan atau belaian. Anak yang “keras” bisa jadi karena kurang mendapatkan/mera-sakan penghargaan dari orang tuanya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa posisi tubuh bisa mempengaruhi proses berpikir seseorang. Orang yang berdiri kaku, atau duduk dalam posisi yang menyesakkan, akan membuat otaknya tidak bisa bekerja optimal dan kondisi emosional menjadi tidak stabil. Ketika menghadapi anak yang sedang emosional dan ngotot mempertahanakan pendapatnya, cobalah meredakannya dengan mengganti posisi tubuhnya. Jika sedang duduk, ajaklah ia bergerak ke ruangan yang lain. Bukanakah Islam juga telah mengajarkan tentang hal ini? Sikap keras, biasanya dibarengi dengan emosi yang meletup

Q : Bener banget, ponakan ku juga sukanya maennya berduaan aja, kalau rame-rame dia gak mau..kebiasaan itu bisa diubah gak sih umi.?
A : Kebiasaan bisa diubah asal kita sabar dalam menghadapinya

Q : Ummi... Bagaimana dengan anak yang motvsi dirinya kurang. Di sekolah kami selaluu menekankan bahwa dia bisa, tapii  dia bilangnya tidak bsa... Tidak bsa...? Memotvasi lewat cerita jugaa sudah.. Bagaimana lagi ya mi?
A : MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI ANAK
1. Berikan Perhatian
Luangkan waktu anda ketika anak anda ingin berbicara pada anda, berikan perhatian anda sepenuhnya pada apa yang sedang anak anda katakan, mungkin bagi anda sepele, tapi hal itu memberikan pesan bagi anak anda, bahwa dirinya adalah individu yang penting dan berharga. Cobalah hentikan kegiatan anda sebentar untuk memdengarkan sepenuhnya apa yang sedang ia katakan, jika mungkin anda sedang berfesbuk ria, berhentilah sejenak, atau jika anda sedang asyik menonton sinetron, matikan sejenak, atau jika anda sedang ngecek beberapa email yang masuk, hentikanlan sebentar, tentu anda tidak ingin anak anda merasa bahwa dia tidak penting kan. Atau jika anda sedang sibuk menyiapkan makan malam, anda dapat memancingnya dengan mengatakan “coba cerita sama ibu, tadi di sekolah gambar apa aja?, kalo udah selesai ceritanya ibu mau masak”. Pastikan jangan lepaskan kontak mata pada anak anda.
2. Dukung anak anda untuk menghadapi resiko yang ringan
Orang tua kita seringkali mendapati anak kita frustasi karena belum berhasil memasangkan gambar puzzle, sehingga seringkali ditengah-tengah bermain tiba-tiba mereka menjerit dan bahkan menangis sendiri. Apa yang perlu anda lakukan adalah, dukunglah anak anda untuk mencoba sesuatu yang baru, selama hal tersebut tidak membahayakan dirinya, minimalisir campur tangan anda untuk menjadi problem solving dalam tantangan baru yang dihadapinya. Biarkan anak anda melakukan ujicoba selama hal tersebut tidak membahayakannya. Jangan anda buru-buru mengatakan “sini, biar mama saja yang buatin” karena hal ini akan membuat anak anda tidak belajar untuk mendiri dan percaya diri.
3. Biarkan kesalahan terjadi
Kesalahan memberikan pelajaran berharga, dan anak anda tentu tidak luput dari kesalahan, mungkin contoh sepele yang sering terjadi, misalnya anak anda meletakkan piring terlalu dekat dengan ujung meja, tentu saja berikan gambaran padanya apa yang pernah terjadi sebelumnya dengan kondisi yang sama. Sehingga kesalahan tidak akan terulang kembali, dan memang sebagai orang tua, hal tersebut perlu diulang berkali-kali, karena tentu saja berapa kalipun kita ucapkan, kerapkali anak seringkali lalai.
4. Meningkatkan kepercayaan diri sendiri
Anak belajar dari hal-hal yang dilihatnya, bahkan termasuk sifat-sifat tertentu seperti kemarahan dan rasa takut. Jika Anda memiliki kepercayaan diri yang rendah, anak juga dapat tumbuh menjadi seseorang yang kurang percaya diri. Oleh karena itu, mulailah membangun kepercayaan diri anak dari diri Anda sendiri. Buatlah daftar kekurangan dan kelebihan yang Anda miliki dan cobalah untuk tidak terlalu memikirkan kekurangan tersebut dengan memaksimalkan kelebihan yang dapat menjadi kekuatan Anda.
5. Menjadi cermin yang positif bagi anak
Seorang anak tidak hanya mendapatkan citra diri dari apa yang dipikirkan tentang dirinya sendiri saja, tetapi juga bagaimana ia memandang dirinya melalui sudut pandang orang lain. Hal ini terutama berlaku bagi anak-anak prasekolah yang belajar tentang diri sendiri sebagian besar dari reaksi orangtuanya. Sehingga Anda perlu menjadi cerminan yang positif bagi anak Anda. Anak mungkin dapat mengartikan bahwa Anda tidak menyukainya jika ekspresi muka Anda gelisah sepanjang waktu, oleh karena itu segera atasi stres agar tidak disalah artikan oleh anak.
6. Berhati-hati dalam menyampaikan kata-kata Anak juga perlu mendapatkan teguran atas kesalahannya, tetapi hal tersebut jangan disampaikan dengan kata-kata yang berlebihan. Berpikirlah sebelum Anda berbicara dan pilihlah kata-kata dengan hati-hati agar tidak menyakiti perasaannya hingga membuatnya minder. Anda cukup menunjukkan kesalahannya dan memintanya untuk tidak mengulangi lagi. Semarah apapun Anda, jangan pernah mengatakan hal-hal kasar seperti Anda tidak mencintainya atau menyesal telah melahirkannya.
7. Motivasi
Motivasi terus dalam setiap usaha anak. Motivasi terus dengan menggunakan kata-kata dan tindakan yang positif yang membangun

Q : Umi mau tanya,bgmana menangani anak yang super aktif?
A : Mengatasi anak hiperaktif bagi sebagian besar para orang tua yang memiliki anak dengan salah satu bagian dari ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang kuat. Karena kesabaran, pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari orang tua dan keluarga adalah merupakan bagian dari tips menghadapi anak hiperaktif ini agar pertumbuhan dan perkembangannya bisa berjalan dengan baik layaknya anak seumurannya.
Secara umum tanda anak hiperaktif adalah dapat dinilai dan dilihat diantaranya dari tanda yang disebut dengan alergi shiner yaitu lingkaran hitam di bawah mata dan juga hidung tersumbat. Gejala lainnya misalnya infeksi telinga, gangguan tidur, gangguan pencernaan berupa diare atau sembelit, sakit kepala dan sakit pada bagian kaki di malam hari, alergi (seperti eksim, gatal-gatal, dan penyakit asma), Itulah adalah beberapa gejala hiperaktif yang bisa dikenali oleh para orang tua. Tentunya hal ini juga harus diperiksa dan di diagnosa oleh dokter yang berkompeten dalam bidangnya.
Memberikan perhatian dan perawatan kepada anak hiperaktif adalah merupakan tantangan yang tidak mudah bagi para orang tua dan juga guru-gurunya di sekolahnya. Pada beberapa kasus, anak menjadi hiperaktif bisa disebabkan karena bawaan semenjak dalam kandungan dan lahirnya, sebagian juga karena sang anak membutuhkan perhatian yang ekstra dari orang tua dan pendidiknya sehingga menampakkan tanda gejala hiperaktif ini. Meskipun cara menghadapi anak hiperaktif tidaklah mudah, bukan berarti orang tua, keluarga atau pun para guru-gurunya berpangku tangan dalam mengatasi anak dengan kelainan perilaku semacam ini.
Untuk itulah bagi orang tua diperlukan akan berbagai pengetahuan dalam rangka menjalanakan kiat menghadapi serta mengatasi anak dengan gangguan hiperaktif ini dengan cara yang bijaksana dan arif agar proses dalam tiap tahap pengobatan anak hiperaktif bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan keinginan dan harapan kita tentunya.
Beberapa kiat mengatasi menghadapi anak hiperaktif diantaranya yaitu :
1. Menyadari Akan Gangguan Hiperaktif Pada Buah Hatinya.
Ini adalah merupakan cara menghadapi dan melakukan perawatan pada anak dengan ADHD (Attention-Deficit and Hyperactivity Disorder) itu sendiri. Setelah kita mengetahui akan hal ini, maka diharapkan akan timbul perasaan sayang terhadap anaknya dan tidak membedakan kasih sayang dengan anak kakak atau pun adik dari penderita. Sehingga kasih sayang serta memberikan pendidikan anak tidak dibedakan satu sama lainnya.
2. Menghindari Akan Pemberian Label Anak Dengan Hiperaktif.
Maksudnya adalah jangan memberikan stigma negatif kepada anak yang menyandang gangguan kekurangan perhatian ini baik kepada keluarganya sendiri maupun masyarakat atau pun pada teman-teman sekolahnya. Karena bila anak telah diberikan "predikat negatif" misalnya anak nakal, anak bodoh atau pun malas atau sebutan-sebutan negatif lainnya. Karena justru hal ini akan menghambat proses penyembuhan pengobatan serta perawatan anak dengan hiperaktif itu sendiri.
3. Membudayakan Sikap Disiplin.
Memberikan pendidikan dan belajar sikap disiplin pada anak tentunya berbeda pelakuannya dengan anak normal lainnya. Mengajak anak untuk belajar disiplin secara bertahap adalah merupakan bagian dari terapi anak hiperaktif lainnya. Dan bila anak melakukan suatu hal yang tidak menerapkan sikap disiplin jangan mudah untuk memberikan hukuman. Hal ini membutuhkan waktu dan kesabaran yang ekstra dari orang tuanya juga.
4. Memperbanyak Berkomunikasi Dengan Anak.
Kita tahu bahwasannya anak-anak dengan ADHD ini akan mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi dan juga mudah terganggu dalam perhatiannya. Dengan kita seringkali melakukan komunikasi kepada anak kita akan membantu sang anak dalam belajar untuk bisa memusatkan perhatian pada satu topik pembicaraan dan komunikasi dengan anak yang kita lakukan. Jangan pernah bosan untuk melakukan pembicaraan dengan anak-anak semacam ini. Terus lakukan berulang-ulang secara periodik.
5. Mengetahui Akan Kebiasaan Sang Anak.
Manfaat akan hal ini adalah dengan kia mengetahui akan kebiasaan anak terutama dalam waktu bermain dan kesukaannya dalam melakukan permainan tertentu akan bisa membuat orang tua mempunyai tehnik kiat khusus dalam mengatasi anak hiperaktif ini.Kita tahu bahwa anak sulit beronsentrasi maka pada umumnya kosentrasi anak ketika bermain sesuatu yang disenanginya akan bisa bertambah maka ini juga bisa dijadikan waktu yang tepat dalam memberikan terapi hiperaktif ini.
6. Luangkan Waktu Khusus Untuk Aktifitas Anak.
Kita ketahui bersama bahwasannya anak dengan hiperaktif mempunyai energi yang berlebihan sehingga hal ini bisa kita salurkan dengan cara yang tepat. Ajak sang anak untuk melakukan aktifitas fisik olahraga yang bermanfaat. Bisa dilakukan di temapt terbuka atau pun tempat yang tidak membahayakan dirinya. Bisa dengan mengajaknya berjalan-jalan. Sebuah penelitian ada yang membuktikan bahwa dengan anak yang berjalan secara teratur akan membantu meningkatkan daya konsentrasi sang anak.

Baiklah kita tutup dengan
Doa Kafaratul Majelis :
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.                             
​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment