SIRAH NABAWIYAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, November 19, 2014

Kajian Online WA/TG Hamba اَللّه SWT Ummi  27 dan 28

Hari, tanggal : 18 November 2014
Narasumber : Ust. Hepi Andi Bastoni
Judul Kajian : sirah nabawiyah
Editor: Selli

Sebuah Pengantar
Belajar Sirah Nabawiyah ‘Tak Sekadar Menghafal Peristiwa’
Oleh: Hepi Andi Bastoni
(Penulis buku 101 Sahabat Nabi)

Sirah Nabawiyah merupakan serial perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang menjadi baro meter hakiki dalam membangun potensi umat. Dengan demikian, mempelajarinya bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa masa lalu, melainkan untuk menarik pelajaran dan menemukan rumusan kesuksesan generasi dulu untuk diulang di kehidupan kiwari kini.

Melalui pemahaman sirah nabawiyah yang tepat, setiap Muslim akan mendapatkan gambaran paripurna tentang hakikat Islam. Materi sirah juga diharapkan bisa membangunkan semangat untuk merealisasikan nilai-nilai yang didapat dalam kehidupannya saat ini. Apalagi sasaran utama dari kajian sirah adalah mengembalikan semangat juang untuk merebut kembali kejayaan yang pernah dimiliki umat Islam.

Secara umum urgensi mengkaji sirah nabawiyah dapat dirunut dengan poin-poin berikut:1

Pertama, fahmu syakhshiyah ar-rasul (untuk memahami pribadi Rasulullah saw sebagai utusan Allah.
Dengan mengkaji sirah, kita dapat memahami celah kehidupan Rasulullah saw sebagai individu dan sebagai utusan Allah. Sehingga, kita tidak keliru mengenal pribadinya sebagaimana kaum orientalis memandang pribadi Nabi Muhammad saw sebagai pribadi manusia biasa. “Hai nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (QS al-Ahzab: 45-47).

Kedua, ma’rifatush shurati lil mutsulil a’la fi kulli sya’nin min syu’unil hayah (mengetahui teladan terbaik dalam menjalani kehidupan ini).
Teladan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup ini sebagai patokan atau model ideal. Model hidup tersebut akan mudah kita dapati dalam kajian sirah nabawiyah yang menguraikan kepribadian Rasulullah saw yang penuh pesona dalam semua sisi. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).
Teladan di sini bukan semata dari aspek ibadah, tapi juga dari sisi lainnya. Kelemahan kita adalah sering memilah milih teladan dari beliau dari aspek yang enak-enak saja. Banyak yang berebut meneladani bolehnya menikah lebih dari satu istri, tapi mengebaikan sisi shalat malamnya, infaqnya dan shaum beliau. Atau, banyak juga yang meneladani hanya separuh dari kehidupan beliau, yakni selepas Nabi saw berusia 40 tahun ke atas. Sedangkan kehidupan beliau di masa muda diabaikan. Akibatnya, muncul pemahaman bahwa hidup itu harus zuhud, tidur beralaskan tikar, tak perlu kaya. Padahal, jika kita baca sejarah beliau di masa muda, Nabi Muhammad saw adalah orang yang sukses di bidang finansial.

Ketiga, fahmu  kitaabillah (untuk dapat memahami Kitab Allah)
Mengkaji sirah dapat membantu kita memahami kronologis ayat-ayat yang diturunkan Allah. Karena, banyak ayat baru dapat kita mengerti maksudnya setelah mengetahui peristiwa-peristiwa yang pernah dialami Rasulullah saw atau sikap Rasulullah atas sebuah kejadian. Melalui kajian sirah nabawiyah itu kita dapat menyelami maksud dan suasana saat diturunkan suatu ayat. Akan sangat sulit kita memahami ayat atau bahkan hadits tanpa pemahaman mempuni terhadap sirah.
Misalnya, mungkin kita bisa memahami dengan baik surah al-Anfal tanpa membaca Perang Badar? Bisakah kita memahami dengan detil surah Ali Imran ayat 134 dan beberapa ayat setelahnya jika tidak membaca sejarah perang Uhud? Bisakah kita memahami surah al-Fath tanpa membaca lebih dulu Peristiwa Shulhul Hudaibiyah? Begitulah ayat-ayat yang lain. Mayoritas punya asbabun nuzul yang melatari turunnya ayat tersebut.

Keempat, fahmu [truncated by WhatsApp]
3:30 pagi 22 Nov - HA U. nunik 28: Sirah nabawiyah juga dapat menambah khazanah tsaqafah Islamiyah tentang peradaban masa lalu kaum muslimin dalam berbagai aspek. Sebagai gambaran konkret dari sejumlah prinsip dasar Islam yang pernah dialami generasi masa lalu.“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran: 110).

Keenam, tazwidul iman wal intima’i lil islam (menambah keimanan dan komitmen pada ajaran Islam).
Sebagai salah satu ilmu Islam, diharapkan kajian sirah ini dapat menambah kualitas iman. Dengan mempelajari secara intens perjalanan hidup Rasulullah saw, diharapkan keyakinan dan komitmen akan nilai-nilai islam orang-orang yang mempelajarinya semakin kuat. Bahkan, mereka mau mengikuti jejak dakwah Rasulullah saw.
Yang paling penting dalam memahami sirah nabawiyah adalah upaya untuk merebut kembali model kepemimpinan umat yang hilang. Kepemimpinan yang dapat memberdayakan umat dan untuk kemajuan mereka. Nabi Musa membangkitkan kaumnya atas kelesuan berbuat bagi kemajuan bangsa dan negerinya. Sehingga beliau mengingatkan kaumnya atas anugerah nikmat yang diberikan Allah pada mereka tentang tiga model kepemimpinan umat yang pernah ada pada sejarah mereka.
Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (Al-Maaidah: 20).
Jadi, nilai utama yang hendak dibangun kembali dengan kajian sirah nabawiyah adalah semangat berbuat untuk kemajuan bangsa dan umat meraih harga dirinya di hadapan umat-umat yang lain. Lebih dari itu, juga untuk mengembalikan hak kepemimpinan kepada umat Islam, umat nabi pilihan.

Ketujuh, ma’rifatu ‘awaamilin nuhuudh wa asbaabis suquuth (mengetahui faktor-faktor kemenangan dan sebab-sebab kekalahan). Sejarah selalu mengulang dirinya. Peristiwa masa lalu, bisa jadi berulang kembali dengan sebab dan akibat yang sama. Misalnya, sebab kekalahan pada perang Uhud lantaran sikap lalai pasukan panah terhadap perintah Nabi saw. Mereka berebut harta rampasan perang. Begitu juga dengan kekalahan pasukan Islam pada awal Perang Hunain akibat merasa bangga dengan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak dari musuh. Dengan mempelajari sirah nabawiyah, kita berharap bisa memetik  hikmah tersebut. Bukan semata sebagai hiburan atau wawasan yang dihafal.
------------------------------------
TANYA JAWAB

1. TANYA
Ustadz, bagaimana cara yang paling efektif dalam mempelajari sirah dan mengajarkannya kepada anak-anak?Dan, usia berapa sebaiknya anak-anak sudah kita perkenalkan kepada sirah sahabat/sirah nabawiyah?
Jazakallaah khaiyr ustadz,,
JAWAB:
Ada beberapa tahapan mengenalkan sirah kepada anak.
1. Kenalkan sosok Nabi saw secara utuh... beri gambaran sosok beliau secara benar. Bisa dilakukan dengan diceritakan jelang tidur jika belum bisa baca,  atau diberikan buku sesuai usia mereka.
2. Coba ajak diskusi anak-anak tersebut,  keteladanan apa yang bisa diambil. Manfaatnya,  selain menjalin komunikasi juga akan memperkuat daya ingat anak-anak..
3. Selain Nabi saw,  kenalkan juga sosok para shahabat nabi yang jumlahnya ratusann. Masing-masing sahabat tersebut akan memberikan keteladanan dari berbagai aspek.

2. TANYA
Sebelum nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, cara ibadah nabi itu seperti apa? syukron.....
JAWAB:
Sebelum menjadi nabi,  beliau belum melaksanakan ibadah khusus. Beliau hanya menjaga akhlak, dan muamalah yang baik. Baru 3 tahun jelang mendapat wahyu,  beliau sering tahanuts,  menyendiri di gua Hira. Saat wahyu turun pun,  beliau belum beribadah selain yang sudah diwajibkan.
10 tahun pertama, belum ada syariat shalat 5 waktu. Beliau hanya shalat 2 atau 3 kali sehari semalam.
Shaum ramadhan,  zakat,  haji... shalat jumat... itu dilaksanakan di era madaniah,  setelah 13 tahun Muhammad saw jadi nabi.

3. TANYA
Asslamu'alaikum ustadz hepi, hal-hal teladan yang bagaimana yang bisa kita ambil contohnya, khususnya untuk kita ibu rumah  tangga, agar bisa diterapkan atau meneladani siroh nabawiyah ini di lingkungan terkecil keluarga misalnya. Agar bisa memahami Islam secara sempurna? itu saja ustadz, syukron ustadz
JAWAB:
Keteladanan dari hal yang paling kecil. Misalnya bagaimana mendidik anak... Dalam mendidik anak, Nabi saw dan para shahabat memberikan perhatian yang sangat besar. Tak hanya memberikan fasilitas materi tapi juga kasih sayang fisik. Ditemukan dalam banyak riwayat bagaimana beliau menggendong,  mencium dan menyayangi anak-anak... Demikian juga dalam hal ibadah. Anak-anak wajib dibiasakan ibadah sejak sedini mungkin.

4. TANYA
Ustadz.. ada tidak ya buku tauladan Rasulullah yang dikemas khusus seputar birul walidain..
JAWAB:
Saya belum ketemu buku khusus tentang tema tersebut.

5. TANYA
- Pernah dalam sebuah kesempatan kajian, ana mendengar mengenai pergeseran ma'na zuhud. Tidak lagi mengenai 'tidur beralas tikar', 'makan sekadar tidak lapar', dan sebagainya, melainkan menjadi tercukupinya kebutuhan sesuai dengan pendapatan yang diterima. Contoh: pebisnis, maka mempunyai mobil sesuai kebutuhannya pun bagian dari zuhud asalkan tidak berlebihan. Mohon pencerahannya, ustadz.
- Terkait metode kepemimpinan Rasulullah SAW, seperti yang antum utarakan berbeda di Makkah dan di Madinah, juga karakter kepemimpinan beliau lainnya, apakah hal ini 'bakat' beliau atau 'ilham' dari Allah?
JAWAB:- Zuhud itu meletakkan dunia di tangan. Bukan di hati. Bisa jadi kaya tapi sederhana dan tidak berlebih... tidak boros.
Kehidupan Nabi saw dan para shahabat semisal 4 khulafaur rasyidin adalah contoh nyata sikap zuhud. Bedakan zuhud dengan miskin.
- Kepemimpinan Nabi saw,  selain ilham juga bakat. Jika kita baca sirah sebelum diangkat jadi nabi,  Muhammad saw sudah dilatih berbagai sisi leadership.
Beliau pernah menggembala kambing. Ini training bagaimana memenej.. Beliau pernah ikut Perang Fajar,  ini training kemiliteran. Beliau pernah menyaksikan hilful fudhul,  ini training bernegosiasi dan problem solver... Beliau lama berbisnis,  ini training jiwa entrepreneurship dan financial..
Semua itu terjadi jauh sebelum beliau jadi nabi. So, saat jadi nabi,  beliau benar-benar sudah siap jadi leader....

6. TANYA
Tanya lagi ustadz, terkait perulangan sejarah, ada tidak kejadian yang sukses karena belajar dari sejarah? Atau kesalahan pun akan selalu berulang?
JAWAB:Ya... sejarah selalu berulang. Kekalahan pasukan Islam di medan Uhud karena tergiur harta rampasan perang,  kini sering berulang.

Demikian kajian hari ini, kita tutup dengan

Doa Kafaratul Majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
hamdalah dan doa kafaratul majlis.

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT