Home » , , , » Tafsir - Tadabur Surat Al Ashr

Tafsir - Tadabur Surat Al Ashr

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, November 11, 2014

Kajian Online WA Hamba اَللّه SWT Bunda 19 dan 20 Hari, tanggal : Senin  10/11/2014 Narasumber : Ustadz Rahman Judul kajian : Tafsir Matery        : Tadabur Surat Al Ashr Admin         : Umi Haryani & Rahmi Rekapan       : 19 dan 20 Ummi Hamba Alloh SWT
Editor : Indah Permata Sari
Assalamualaikum wrwb
TAFSIR SURAH AL 'ASHR
Ayyatuhal akhawat wal ummahat  rahimakunnallaah –semoga Allah membuka segala pintu kebaikan kepada kita– untuk edisi kali ini kami akan mengulas tafsir surat terpendek dari Al Qur’an yaitu surat Al Ashr. Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Kedudukan Surat Al ‘Ashr
Al Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) sebagai pedoman dan petunjuk ke jalan yang lurus bagi umat manusia. Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al Israa’: 9)
Sehingga semua ayat-ayat Al Qur’an memiliki kedudukan dan fungsi yang agung. Demikian pula pada surat Al ‘Ashr, terkandung di dalamnya makna-makna yang amat berharga bagi siapa saja yang mentadabburinya (memahaminya dengan seksama).
Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i menegaskan tentang kedudukan surat Al ‘Ashr, beliau berkata: لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسِعَتْهُمْ “Sekiranya manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini, niscaya surat ini akan mencukupkan baginya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada Surat Al ‘Ashr)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al Imam Asy Syafi’i itu adalah tepat karena Allah telah mengkhabarkan bahwa seluruh manusia dalam keadaan merugi (celaka) kecuali barang siapa yang mu’min (beriman) lagi shalih (beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat Majmu’ Fatawa, 28/152)
Keutamaan Surat Al ‘Ashr Al Imam Ath Thabrani menyebutkan dari Ubaidillah bin Hafsh, ia berkata: “Jika dua shahabat Rasulullah bertemu maka keduanya tidak akan berpisah kecuali setelah salah satu darinya membacakan kepada yang lainnya surat Al ‘Ashr hingga selesai, kemudian memberikan salam.” (Al Mu’jamu Al Ausath no: 5097, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 2648) Kandungan Surat Al ‘Ashr Pada ayat pertama: ((وَالْعَصْرِ
Kemudian di hari kiamat kelak Allah akan menanyakan tentang umur seseorang, untuk apa dia pergunakan? Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Mas’ud, beliau bersabda:
Allah bersumpah dengan al ‘ashr yang bermakna waktu, zaman atau masa. Pada zaman/masa itulah terjadinya amal perbuatan manusia yang baik atau pun yang buruk. Jika waktu atau zaman itu digunakan untuk amal kebajikan maka itulah jalan terbaik yang akan menghasilkan kebaikan pula. Sebaliknya jika digunakan untuk kejelekan maka tidak ada yang dihasilkan kecuali kerugian dan kecelakaan. Rasulullah bersabda: نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya; kesehatan, dan waktu senggang” (HR. At Tirmidzi no. 2304, dari shahabat Abdullah bin Abbas)
[10:29 malam 10/11/2014] ‪+62 856-4088-4499‬: Kemudian Allah menyebutkan ayat berikutnya:
لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ “Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui. (HR. At Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 947) Kemudian Allah menyebutkan ayat berikutnya: إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi.” إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi.”
Iman adalah keimanan terhadap seluruh apa yang Allah perintahkan untuk mengimaninya, dari beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah dari keyakinan-keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat.
Lafazh al insan pada ayat di atas secara kaidah tata bahasa Arab mencakup keumuman manusia tanpa terkecuali. Allah tidak memandang agama, jenis kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah mengkhabarkan bahwa semua manusia itu dalam keadaan celaka kecuali yang memilki empat sifat yang terdapat pada kelanjutan ayat tersebut. Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bermacam-macam, bisa kerugian yang bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan di akhirat, yang dia kehilangan kenikmatan dan diancam dengan balasan di dalam neraka jahim. Dan bisa juga kerugian tersebut menimpa seseorang akan tetapi tidak mutlak hanya sebagian saja. (Taisir Karimirrahman, karya Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di) Pertama: Keimanan Sifat yang pertama adalah beriman, diambil dari penggalan ayat: إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا “Kecuali orang-orang yang beriman” Penggalan ayat di atas memiliki kandungan makna yang amat berharga yaitu tentang kewajiban menuntut ilmu agama yang telah diwariskan oleh Nabi.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Mengapa demikian? Tentu, karena tidaklah mungkin seseorang mencapai keimanan yang benar dan sempurna tanpa adanya ilmu pengetahuan terlebih dahulu dari apa yang ia imani dari Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman (artinya): “Allah bersaksi (bersyahadat untuk diri-Nya sendiri) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia (Allah), para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersyahadat yang demikian itu), …” (Ali Imran: 19) Dalam ayat yang mulia ini Allah menggandengkan syahadat orang-orang yang berilmu dengan syahadat untuk diri-Nya sendiri dan para Malaikat-Nya. Padahal syahadat laa ilaaha illallaah merupakan keimanan yang tertinggi. Hal ini menunjukkan tingginya keutamaan ilmu dan ahli ilmu. Bahkan para ulama menerangkan bahwa salah satu syarat sahnya syahadat adalah berilmu, yaitu mengetahui apa ia persaksikan. Sebagaimana firman Allah: إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ “Kecuali barangsiapa yang bersyahadat dengan haq (tauhid), dalam keadaan mereka mengetahuinya (berilmu).” (Az Zukhruf: 86) Sehingga tersirat dari penggalan ayat: إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا kewajiban menimba ilmu agama. Terlebih lagi Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:
Oleh karena itu, dalam Al Qur’an Allah banyak menggabungkan antara iman dan amal shalih dalam satu konteks, seperti dalam ayat ini atau ayat-ayat yang lainnya. Diantaranya firman Allah (artinya): “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)
“Menuntut ilmu (agama) adalah fardhu (kewajiban) atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224) Kedua: Beramal shalih Sifat yang kedua adalah beramal shalih, diambil dari penggalan ayat (artinya): وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ “Dan beramal shalih.” Amalan shalih itu mencakup amalan zhahir yang dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) atau pun bersifat mustahab (anjuran). Keterkaitan antara iman dan amal shalih itu sangatlah erat dan tidak bisa dipisahkan. Karena amal shalih itu merupakan buah dan konsekuensi dari kebenaran iman seseorang. Atas dasar ini para ulama’ menyebutkan salah satu prinsip dasar dari Ahlus Sunnah wal jama’ah bahwa amal shalih itu bagian dari iman. Iman itu bisa bertambah dengan amalan shalih dan akan berkurang dengan amalan yang jelek (kemaksiatan). Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di: “Jika dua sifat (iman dan amal shalih) di atas terkumpul pada diri seseorang maka dia telah menyempurnakan dirinya sendiri.” (Taisir Karimirrahman) Ketiga: Saling menasehati dalam kebenaran
Demikian pula orang-orang munafik yang diantara mereka saling menyuruh kepada perbuatan mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf, Allah telah memberitakan keadaan mereka di dalam Al Quran, sebagaimana firman-Nya (artinya): “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh kepada perbuatan yang mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf.” (At Taubah: 67)
Merupakan salah satu dari sifat-sifat yang menghindarkan seseorang dari kerugian adalah saling menasehati diantara mereka dalam kebenaran, dan di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Nasehat merupakan perkara yang agung, dan merupakan jalan rasul di dalam memperingatkan umatnya, sebagaimana Nabi Nuh ketika memperingatkan kaumnya dari kesesatan: “Dan aku memberi nasehat kepada kalian.” (Al A’raaf: 62). Kemudian Nabi Hud yang berkata kepada kaumnya: “Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” (Al A’raaf: 68) Dengan nasehat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah di dalam haditsnya: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ “Agama ini adalah nasehat” (H.R Muslim no. 90 dari shahabat Tamim Ad Daari) Bila nasehat itu mulai kendor dan runtuh maka akan runtuhlah agama ini, karena kemungkaran akan semakin menyebar dan meluas. Sehingga Allah melaknat kaum kafir dari kalangan Bani Israil dikarenakan tidak adanya sifat ini sebagaimana firman-Nya (artinya): “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat.” (Al Maidah: 79) Keempat: Saling menasehati dalam kesabaran
Ustadz sy ada prtanyaan.mungkin tdk trkait langsung tp sy penasaran ttg keimanan...Ustadz sehari lalu ada seorang tamu sdg mngurus kepindahan domisili.Namanya Ahmad solihin.ia mngucap salam.kami kira muslim jd kami jawab salamnya.kami kira ikhwan ini org sholih.wajahnya bersih,berjenggot rapi,rambutnya basah seolah hbs wudhu.tp trnyata kolom agamanya kristen.kami kaget.knp ada non muslim bisa brpenampilan spt itu.namany islam dan penampilanny spt org sholeh tp trnyata?Apakah org yg tdk sholat bisa pny penampilan spt itu?atau dia punya amalan rahasia shg bisa mngecoh pandangan kami.Krn sy tringat bhw wajah2 teduh dan terang adl mrk yg trpelihara wudhu dan sholat jamaahnya.mohon penjelasan.syukron.
Saling menasehati dalam berbagai macam kesabaran, sabar di atas ketaatan terhadap Allah dan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpa serta sabar terhadap takdir dan ketetapan-Nya. Orang-orang yang bersabar di atas kebenaran dan saling menasehati satu dengan yang lainnya, maka sesungguhnya Allah telah menjanjikan bagi mereka pahala yang tidak terhitung, Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar:10) Jika telah terkumpul pada diri seseorang keempat sifat ini, maka dia telah mencapai puncak kesempurnaan. Karena dengan dua sifat pertama (iman dan amal shalih) ia telah menyempurnakan dirinya sendiri, dan dengan dua sifat terakhir (saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran) ia telah menyempurnakan orang lain. Oleh karena itu, selamatlah ia dari kerugian, bahkan ia telah beruntung dengan keberuntungan yang agung. Wallahu A’lam.
Rekapan Tanya-Jawab HA 19: Tanya
1.Bu Erlina:
Assalamualaikum uztad..
Ana erlina Mau bertanya. Jika kita menuntut ilmu tetapi kita blum mampu mengamalkan ilmu tersebut apakh kita termasuk dlm golongn org yg merugi.. Bagaimana caranya agr ilmu yg kita dapat bisa kita amalkan dgn maksiml dan istiqomah uztad..
Syukron uztad.. jazakallah khoir..
 
Jawab:
Bu Erlina: menuntut Ilmu itu adalah kewajiban kita dari sejak lahir sampai kita masuk liang lahat, setelah kita thalabul ilmi ada kewajiban kita untuk mengamalkan ilmu kita semaksimal mungkin, shg ilmu yg kita pelajari mnjadi pmbela kita di akhirat bukan mnjadi penuntut. Intinya: yg Allah tuntut dari kita mengamalkannya secara sungguh2 dan penuh tanggung jawan, ittaqillah mas tatho'tum,bertaqwalah kalian sesuai kemampuan kita masing2. Wallaahu a'lam

Jawab 
Alaikumussalam wrwb, wajah teduh dan bercahaya adalah salah satu tanda org2 mukmin yg taat kpd Allah. Kalaupun ada org non muslim yg memiliki aura sprti org mukmin,itu hanya sedikit saja. Bargkali dia terbiasa mnjaga kebersihan fisiknya walupun jarang wudu'..org yg terbiasa mnjaga kebrsihan akan tampak bersih wlupun non muslim..wallaahu a'lam.
Tanya 2. Ummu Hafsah ODOJ: Iya ustadz.Tapi kami smpt jengkel knp dia pke nama muslim.strategi non islam atau mmg dulunya islam.Ahmad solihin.kalo kolom agama jd dkosong pasti dkira muslim dan disalah gunakan.walahualam
Jawab
Ga menutup kemungkinan, bisa jadi cara mereka tuk mengelabui org islam, Inilah yg perlu kita waspadai, bahwa org2 di luar islam akan senantia berusaha dg berbagai cara tuk memadankan cahaya Allah, smpe ummat islam ini meninggalkan agamanya.(Buka albaqarah:120)
Tanya-Jawab HA 20
Assmlkm Ustd , bagaimana caranya bisa bersabar (menasihati diri sendiri) pd saat menghadapi kesulitan hidup, sehingga iman tetap kokoh (tdk melorot) dan tidak suudzon kpd Allah. Wass. Syukron ustd Jawaban Ust. Rahman: Para ummahat yg dirahmati Allah, smg kita termasuk org2 yg beruntung baik dunia akhirat, tuk mndptkan kebruntungan ada 4 syarat mutlak yg harus kita miliki:  1.beriman kpd Allah 2. Amal sholih 3.saling menasehati dalam kebenaran 4. Saling mensehati dalam kesabaran . Wallahu a'lam. Erlina ODOJ: Syukron uztad nambah 1 lgi uztad.. q.s al ashar Allah bersumpah dengan masa.. keadaan rasul waktu menrima wahyu dlm kondisi sperti apa uztad.. Surat ini pendek tpi maknanya sangat luas.. Allahuakbar. Erlina ODOJ: Syukron uztad jazakallah khoir.. Monggo mb umi pertnyaan ana tolg dijapri ke uztad.. Syukron mb umi.. Iyah silahkan yg mau bertanya...nanti saya insyaaAlloh japri sama pa ustad... Masih ada 4 pertyn lagi tp Ustadz nya ada kerjaan lain jd sisa pertyn di japri ke ust.
Jawaban:
Seorang muslim/ah yg hidup di sebuah lingkungan tertentu, punya tanggung jwab tuk melakukan dakwah dilingkungannya sesuai dg kemampuan yg dimiliki.dakwah tidak mesti berceramah, tetapi bisa jg mmberikan perhatian kpd tetanngga sprti mmberikan hadiah dll. Cara mengingatkan tetangga ibu yg belum konsisten pake jilbab:pertama: ibu langsung menasehatinya dg cara yg terbaik, kedua klu ibu merasa tidak enak dg nasehat lgsung,mungkin ibu bisa meminta org lain yg sangat dihormati dan dikagumi oleh yg bersangkutan tuk mmberikan nasehat pdnya, ketiga: ibu bisa mmberikan hadiah sebuah buku semisal kewajiban jilbab atau buku2 inspiratif dari  org2 yg bertaubat, dimana mereka seblumnya belum berjilbab, keempat: mendoakan beliau Agar Allah berikan hidayah pdnya,doa inilah senjata seorang mukmin. Wallahu a'lam

ustadz bgm cara kita menghadapi sahabat yg kita nasehati tp malah marah dan tersinggung, apakah kita biarkan saja atau terus kita nasehati? Kalau ttp tdk terima nasehat kita bgm? Jawaban ukhti Rahmi: saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran adalah karekteristik muslim yg sebenarnya, dg nasehatlah kita bisa meluruskn yg benggkok dan mmbenarkan yg salah. Tapi perlu diperhatikan adalah: ketika kita mesehati seseorg haruslah dg waktu yg tepat dan mencari kata2 atau kalimat yg terbaik. Kalau kita sudah berusaha sebaik mngkin cara mmberikan nasehat, berikutnya kita doakan agar Allah mmberikan petunjuk pd nya, masalah berhasil atau tidak kita serahkan pd Allah. Wallahu a'lam ustadz bagaimana cara menyikapi tetangga yg masih blm bisa konsisten dlm menutup aurat. Ybs memakai jilbab hanya pd saat pengajian undangan atau acara lainnya yg sifatnya resmi. Ybs sdh tau kewajiban menutup aurat karena sering dibahas pd saat pengajian rutinan di komplek kami. Ttpi ybs masih suka mengenakan celanan diatas lutut keluar rmh dan sering kali berucap di depan saya "waah kl ada ummi nani (guru ngaji kami) malu nih ". Apa yg hrs sy katakan jika ybs berucap hal yg sama di depan saya ataupun teman lainnya ? Sy sbtlnya gk bisa utk menasihati karena ybs lebih tua dr saya dan takut menyinggung. Apakah dosa utk saya jika membiarkan hal tsb? Terima kasih sebelumny ustadz
Kita tutup dengan do'a Kafaratul Majelis : سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك  Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika  “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”. ​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

Ketik Materi yang anda cari !!