Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

TARBIYAH

KAJIAN ONLINE (WA) HAMBA اَللّه UMMI 09.


Hari/Tanggal: Senin, 3 November 2014
Narasumber: Ustadz Tri Satya Hadi
Tema: Tarbiyah
Admin: Aprianti
Notulen: Fasikha M


Assalamualaikum wr. wb.

EFESIENSI WAKTU-KONSEP ISLAM

“Ada dua nikmat, dimana banyak manusia tertipu didalamnya: Kesehatan dan Kesempatan.”(HR.Bukhari)

Umar bin Khaththab - semoga Allah ridha kepadanya - berkata, "Sesungguhnya aku benci jika melihat salah seorang di antara kalian berpangku tangan, tanpa amal, baik amal dunia maupun akhirat."

Setidaknya ada tujuh aktivitas dalam buku Efesiensi Waktu yang ditulis oleh Jasiem M. Badr Al-Muthawi. Ketujuh aktivitas ini adalah kegiatan yang dapat mengisi ruang-ruang kosong yang muncul dalam diri setiap hamba:
Kekosongan akal (QS. Al-Anfal:22), Kekosongan Hati (QS. An-nur:50), Kekosongan Jiwa (QS. Asy-Syam:9-10).

Pertama : Pergerakan Terarah
Inilah cara awal untuk memanfaatkan (menguasai) waktu, dimana seseorang menggunakan waktunya untuk pergerakan (Harakah). Harakah adalah suatu gerakan tertentu dan memiliki keistimewaan tersendiri daripada yang lainnya. Lebih dari itu, harakah adalah gerak terarah atas dasar ikhlas di jalan Allah swt, dan berjalan sesuai manhaj-Nya. Karenanya, manusia akan memperoleh keuntungan sesuai yang ia harapan. Seorang hamba yang ingin mengefesienkan waktu seharusnya bisa memposisikan sebagai “AIR” yang ketika ia mengalir bergerak ia akan menjadi kekuatan yang bermanfaat, sebaliknya ketia ia diam tergenang akan menjadi sumber “penyakit”. Inilah lahan subur bagi siapa pun yang hendak menguasai waktunya, dimana ia selalu berjalan (haroki) dengan senantiasa berbekal kalimatullah ke mana pun ia pergi, baik di rumah, sekolah, tempat ia mengajar, di tempat kerjanya (kantor) atau di tempat-tempat lainnya. Apabila seseorang telah mencapai tingkatan ini, maka jiwanya tidak lagi kosong (hampa).

Kedua: Bergaul dengan Masyarakat.
Manusia secara instinktif adalah makhluk sosial, dimana ia tidak akan dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Karenanya, ia membutuhkan, saudara, teman, tetangga, serta masyarakat untuk berinteraksi dan bergaul, baik pergaulan bersifat batin ataupun lahiriah sesuai yang dibutuhkan. Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan, "Pergaulilah orang mukmin dengan hatimu dan pergaulilah orang yang rusak (fasik:) dengan perangaimu." (Imam al-Qurthubi, Bahjatul Majlis.
Thalhah al­ Qurasyi berkata, "Sesungguhnya aib terkecil yang menimpa seseorang ialah apabila ia hanya duduk saja di rumah." (Thabaqat, Ibnu Sa'ad)

Ketiga: Suka Membantu Orang Lain
"Manakala nilai hidup hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi kita bahwa kehidupan ini kecil dan singkat. Yang dimulai sejak kita memahami arti hidup dan berakhir hingga batas umur kita. Tetapi apabila kita hidup juga untuk orang lain, maka jadilah hidup ini bermakna panjang dan dalam.
"Sesungguhnya, jika sekiranya salah seorang di antara kalian berjalan bersama saudaranya untuk membantu menunaikan keperluannya lalu (sekadar) ia memberi petunjuk dengan dua jarinya, itu lebih utama daripada ia beri'tikaf di masjidku ini (Masjid Nabawi) dua bulan lamanya." (HR. ath­ Thabrani dan al-Hakim, Al-Hakim berkata bahwa sanadnya shahih).
"Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi orang mukmin, maka Allah pasti melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat." (HR. Muslim).

Keempat: Lima Perkara yang Disukai Para Sahabat
Ada lima perkara yang senantiasa diperhatikan para sahabat Nabi saw. Perhatian mereka terhadap lima perkara tersebut merupakan bukti bagaimana mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan menjaga setiap detik dari umur mereka agar tidak sia-sia. Lima perkara tersebut, sebagaimana dinukil oleh Imam Au­ za'i - (Imam al-Qurthubi, Bahjatul Majalis, Jilid III, hlm. 140) ialah:
(1) Senantiasa bersama jamaah;
"Barangsiapa menginginkan keleluasaan surga, maka senantiasalah bersama kelompok (jamaah), karena setan itu bersama (menyertai) orang yang sendirian, dan ia akan menjauhi mereka yang lebih dari seorang. " (HR. at-Tirmidzi
(2) Mengikuti Sunnah Nabi saw;
Abu Bakar r.a. berkata, "Aku tidak pernah meninggalkan sesuatu yang pernah diamalkan oleh Rasulullah saw. Sebab aku khawatir jika meninggalkan perintah beliau, maka aku akan menyeleweng (dari kebenaran)."
(3) Memakmurkan masjid;
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah, maka merekalan orang yg diharapkan termasuk golongan orang yg mendapat petunjuk (QS.At-taubah:18)
(4) Tilawatil Qur'an;
Sebaik-baik kesibukan adalah menyibukkan diri dengan al­ Qur'an, baik dengan membacanya, menghafal atau menafsirkannya. Khalifah Utsman bin Affan r.a. berkata, "Tiada perbuatan yang paling kusukai, baik di waktu siang atau malam, selain berpikir tentang Allah, yakni dengan mengkaji al-Qur'an." (Ibnu Hanbal, az-Zuhud)
(5) Jihad fisabilillah.
Jihad di jalan Allah adalah titik puncak agama Islam. Konon para sahabat dan salafus saleh berjihad dijalan Allah, dan untuk itu mereka tidak takut akan cacian siapa pun. Apabila sebagian dari kita tidak berkesempatan berjihad melalui pintu perjuangan (berperang) di jalan Allah, namun pintu-pintu jihad yang lain bagi kita tetap terbuka lebar. Seperti pintu dakwah, jihad dengan pemikiran dan harakah di jalan Allah swt.

Kelima: Membaca
Membaca adalah salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan waktu. Di sini Allah memerintahkan kepada hamba- Nya agar terlebih dahulu menuntut ilmu, kemudian beramal dengan ilmu yang ia dapatkan. Karenanya, ia akan melakukan pergerakan atau dakwah atas dasar pengetahuan yang benar (bashirah) dan di atas jalan yang jelas, sehingga tidak bimbang dan tersesat di dalam suramnya kebodohan. Karena itu dikatakan, "Ilmu tanpa amal, laksana pohon tak berbuah." (Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa,Jilid)
“Maka ketahuilah (berilmulah), bahwa tiada Tuhan yang hak disembah, melainkan Allah dan mohonlah. ampunan bagi dosamu” (Q.s. Muhammad: 19).
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di aniara hamba­hamba-Nya, hanyalah orang-orang berilmu.”(Q.s. Fathir: 28).

Keenam: Berdiskusi dan Bertamasya (Rihlah)
Bertamasya adalah salah satu sarana penghibur hati, yang biasa dilakukan pada hari libur di akhir pekan. Amat baik bagi seorang hamba ataupun aktivis jika bertamasya apakah bersama keluarga atau Saudara, tetangga, teman pengajian, untuk memanfaatkan waktu luangnya tersebut dengan kegiatan-kegiatan tertentu dan terarah. Agar tidak membosankan, acara tamasya ini hendaknya tidak hanya mengambil satu pola tertentu, tetapi harus ada penyegaran dan mencari bentuk lain yang sekiranya mengesankan.
Adapun tentang diskusi atau seminar, maka kita katakan pula sebagai salah satu forum atau lahan untuk memanfaatkan waktu secara efektif. Disamping itu berdiskusi dapat menjadikannya sebagai ahli berargumen. Sehingga bagi seorang aktivis, berdiskusi harus dijadikan rujukan dalam metode berpikir secara aktif, yang selanjutnya ia dapat membedakan antara yang baik dan buruk dari ideologi-ideologi luar yang merusak. Dan hal inilah yang pernah dilakukan oleh salafus saleh. - semoga Allah merahmatl mereka _  guna mengisi waktu-waktu mereka, sebagaimana di antara mereka mengatakan, "Bertukar pikiran satu jam lebih baik daripada mengulang sebulan." (Al-Kannani, Tadzkiratus Sami' walMutakllim)

Ketujuh: Berolah Raga
Berolah raga adalah salah satu cara mengisi waktu secara efektif. Di satu pihak olah raga dimaksudkan untuk mengembangkan potensi seorang muslim dan dilain pihak untuk menggerakkan tubuh agar membuatnya aktif dan dinamis. Tetapi dengan catatan, bahwa olah raga yang ditekuni tidak sampai meninggalkan kewajiban yang menyia-nyiakan hak yang seharusnya dipenuhi. Dan jangan menjadikan olah raga sebagai tujuan. Minimal, dengan berolah raga dapat: "Melancarkan peredaran darah, menambah keaktifan paru-paru dan menguatkan jantung."
Sesungguhnya Imam Bukhari - semoga Allah merahmatinya juga berolah raga. Beliau spesialis dalam olah raga panahan dan selalu menempati urutan teratas. Sehingga Imam Muhammad bin Abi Hatim berkomentar, "Selama aku bersahabat dengan Imam Bukhari, tidak pernah kulihat bidikannya meleset sedikit pun dari sasaran, kecuali dua kali. Imam Bukhari dalam olah raga panahan belum pernah terkalahkan." (As-Subki, Thabaqat asy-Syaifi'iyah) sesungguhnya tubuh mempunyai hak atas kamu."(HR. Muttafaq 'Alaih).
Wallahu ‘alam.


TANYA JAWAB


1. Tanya:
Bagaimana hukum genduren atau yang biasa disebut tahlilan?

Jawab:
Afwan bunda untuk jawaban ini ana harus hati-hati. Intinya menyangkut amalan yang tidak dicontohkan nabi yang bisa jatuh kepada bid'ah. Namun ada ada ulama yg membolehkan bahkan akan mdapatkan kebaikan sepanjang:
1. Dalam tradisi tersebut tidak ada perkara yang secara prinsip menyelisih dalil agama.
2. Berkumpulnya di rumah mayit semata-mata untuk menghibur dengan tidak membebankan keluarga. Seperti harus 7 hr 100 hr 1000 hr dan makanan yang disediakan harus dengan berhutang.
3. Dzikir dan berdoa yang dilakukan secara berjamaah pernah disabdakan nabi "tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berzikir kepada Allah melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat tercurah pada mereka...dst (HR. Bukhori)

2. Tanya:
Sekarang-sekarang ini rasanya waktu begitu cepat dan banyak waktu yg terbuang sia-sia. Pertanyaannya apakah semua harus saya jalani seperti air mengalir atau semua harus saya catat dan buat jadwalnya?

Jawab:
Dua-duanya ukhti saling melengkapi· Mengalirpun perlu rencana dan tujuan, terkadang rencana dan tujuan perlu dicatat.  Selanjutnya rencana atau tujuanpun perlu didorong. Detailnya ana sdikit gambrkn di jawaban yg ke 3.

3. Tanya:
Bagaimana caranya agar bisa istiqamah dengan planning waktu yang telah dibuat?
Dan berapa lama biasanya supaya kegiatan-kegiatan yang dilakukan bisa menjadi 'kebiasaan' atau bahkan mjd karakter diri kita? Karena biasanya beberapa hari suka tidak sesuai dengan planningnya, waktu habis begitu saja. Padahal di dalamnya sudah dibuat pembagian wkt untuk ibadah, program upgrade diri, melakukan kewajiban kepada suami & anak-anak, rihlah, dll.
Terkadang ada kejenuhan dengan segala rutinitas yang dijalani, jadi berantakan planning waktunya.

Jawab:
Ana sedikit sharing tips ya bunda-bunda yg dirahmati Allah.
"waktu ibarat pedang jika kamu tidak memotongnya, ia akan memotongmu. (imam assyafii rahimahullah).
Kita baru tahu waktu terasa berlalu cepat manakala kita byk kesibukan bahkan ketika kita bisa meminta kalau bisa sehari 36 jam.
Subhanallah ana tdk menafikan bahwa bunda-bunda disini wanita super semua.
Bayangkan mulai bangun pagi sholat,bangunin anak, nyiapin sarapan, nyiapin baju sekolah anak, belum lagi kalau masih ada bayi, lanjut nyuci, dst hingga melayani suami. Atau bagi istri yg kerja pulang cape, ngecek PR anak dst-dst. Barakallah semoga Allah mengganjar bunda dengan pahala yang berlimpah.Aamiin.
Ketika keimanan bunda tinggi dan waktu "bersahabat" maka semua mudah dilalui. Namun ketika keimanan turun, ditambah byk masalah keluarga atau kantor, membuat stres dan bingung mengatur waktu.
Sedikit tips smg membantu:
1. Pastikan suami seirama sama bunda sehingga berbagi tugas itu hal yg utama, komunikasikan dg baik.
2. Siapkan keperluan anak sejak awal sebelum tidur. Kalaupun tidak sempat buat catatan tugas yang harus dilakuan secara urut seefisien mungkin. Sehingga ketika dihadapkan waktu yang sempit ada skala prioritas mana yang didahulukan.
3. Usahakan bersama suami Sholat tahajud. Min 2 rakaat + 1 rakaat witir perbanyak doa. Suami lanjut sholat shubuh di masjid ajak anak laki2 yg sdh baligh. Latihlah anak bangun pagi ini kalau bisa tugasnya ayah.
3. Selalu awali dengan basmallah lakukan aktivitas sesuai rencana atau yg rutin dilakukan.
4. Maksimalkan ibadah sunnah dikala waktu yang sempit dengan yang berlipat ganda pahalanya. Misalnya: 2 rakaat sblm shubuh, Dhuha, dzikir pagi. 12 rakaat sholat rowatib.
5. Usahakan ada waktu 20-30 mnt selepas dhuhur utk istirahat/tidur sejenak.
6. Tilawah 2 lembar setiap habis sholat fardhu. Dan sempatkan dzikir sore  sambil memasak atau diperjalan jika bunda bekerja.
7. Usahakan aktifitas kita dalam beribadah dilihat anak. Ini bukan riya tapi memberi keteladanan.
8. Berdiskusi dengan keluarga saat makan malam atau habis sholat isya. Bisa dibarengi dg memantau PR anak.
9. Murojaah hapalan pribadi atau anak sebelum tidur diawal waktu untuk bangun esoknya disepertiga malam. Tentunya ini juga tetap dikomunikasikan dengan suami dengan penuh kasih sayang. Semoga sedikit tips ini bisa mmbantu.wallahu alam.

4. Tanya:
Pertanyaan selanjutnya pak ustadz, maksud hadist di atas mengenai pergaulilah orang yang rusak dengan perangaimu, bagaimana yang pak ustadz? Jazakallah.

Jawab:
Perangaimu = Akhlakulkarimah/akhlak yang baik dengan harapan yang rusak lambat laun menjadi dekat dan akhirnya akan terwarnai.

5. Tanya:
Waktu yg baik dlm islam itu seperti apa ustadz?

Jawab:
Afwan jika ana gak pas mengartikan soal ini.
Waktu yang baik dalam islam waktu dimana diisi dengan aktivitas apapun yang akan bermanfaat bagi hambanya dalam hubungan habluminallah atau habluminannas.
Mengisi waktu agar menjadi waktu yang baik setiap hamba bisa berbeda. Seorang sufi akan mengisi waktu dengan hanya beribadah dan berkhalwat dg Allah.
Seorang ulama salaf mengisi waktunya lewat membaca, menulis, dan berdakwah. Seorang bunda akan mengisi waktu dlm mendidik anak-anaknya dan mengabdi kesuaminya melalui; Mengajarkan keteladanan, membacakan kisah kisah teladan, berdiskusi, bertamasya bersama keluarga, mengikuti taklim dan menyampaikn semampunya ke teman dan kerabat terdekat...dst..dst..Sepanjang dpt meminimalisir kekosongan akal, ruh, dan hati krn kekosongan ketiga tempat itu akan memunculkan ruang utk melamun, berkhayal, panjang angan-angan, melakukan hal yg sia-sia hingga dapat betmaksiat kpd Allah. Naudzubillah.
Wallahu alam.

6. Tanya:
Menyambung pertanyaan ummi fera.
Di tempat saya juga tiap malam jumat ada yasinan ibu-ibu, tadinya saya tidak pernah hadir, sampai akhirnya saya di bilang tidak bergaul, suka menyendiri, sampai aliran saya juga ditanya. Akhirnya saya hadir, tapi kok ternyata ibu-ibunya baca yasinnya keburu-buru tidak sesuai tajwid, ketika ada ceramah, malah asyik ngobrol sendiri.
Akhirnya setiap hadir walapun tidak rutin, saya niatkan saja untuk silaturrahim. Gimana hukumnya ustadz? Bagaimana juga dengan kirim doa, seusai membaca yasin, apa itu boleh? Karena bagi yang ketempatan wajib, mencantumkan nama sesepuh untuk dibaca saat kirim doa?

Jawab:
Bunda-bunda yg diberkahi Allah.
Tradisi dalam islam sepanjang berlaku kaidah2 umum dan tidak melanggar syariat diperbolehkan. Kaidah umum yg tidak melanggar syariat bahkan dicontohkan rasulullah adalah memuliakan tetangga dan menyambung silaturahmi. Niatkan hal tsb bunda.
Nah ketika kita sdh masuk kepada yg prinsip kita harus menghindarinya seperti:
1. Dilarang doa bersama lewat orang yang sudah wafat sekalipun orang tsb seorang ulama/bertawasul.
2. Hindari bacaan quran yang tidak sesuai yang bisa bermakna berbeda.
3. Hindari bergunjing/ghibah
sehingga ketika kita dihadapkan yang prinsip tsb tugas kita untuk memberikan pemahaman. Kita warnai mereka dengan zikir atau bacaan yang sesuai syari. Jikapun tetap tidak bisa kita doakan saja mereka dengan sebaik-baik doa dan tetap mejaga silaturahmi dengan mereka. Ingat bunda silaturahmi tdk hanya melalui tahlilan atau termasuk salah satu adab dalam islama tebarkan "salam" dan senyum. Dlm hadits shahih juga disebutkan terkait anjuran memperbanyak kuah ketika memasak sayur untuk dibagi dg tetangga. Maka, salah satu cara bergaul dg tetangga dlm kerangka islam adalah mengantarkan makanan, walaupun hanya dengan memperbanyak kuah.
Berbagi makanan itu seperti berbagi hadiah dan nabi saw telah bersabda: tahaadu tahaabu, saling berbagi hadiahlah niscaya kalian saling mencintai.Akan mencairkan hubungan dengan tetangga jika secara prinsip tradisi itu melanggar syariah. Wallahualam.

Afwan utk bunda-bunda sekalian jika ada sharing saya yang kurang berkenan.
Jika adminnya berkenan utk mengumpulkan soal dan jawab dan menjapri kan ke ana.

Astaghfirullah..

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
Assalamualaikum wr.wb.