Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

ADAB PERGAULAN ISLAM



Kajian Online Hamba  اللَّهِ SWT
Hari,Tanggal : Jum’at, 26 Desember 2014

Narasumber : Ustadzah Pristia
Editor : Wanda Vexia H.
Materi : Adab Pergaulan Islami
Admin Nanda : Wanda Vexia , Nadiya Nawaf
Notulen : Meydillah Cahyawati


Assalamualaikum ...
Marilah kita mulai kajian ini dengan membaca basmalah yaa..

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمَِ
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kali ini Insya Allah aku ingin berkongsi akan 1 artikel yang aku rasakan menarik untuk kita renungkan dan ambil teladan Insya Allah. Yaitu tentang "Adab Pergaulan Laki-laki dan Wanita”

Sebenarnya tidak ada satu pun agama langit atau agama bumi, kecuali Islam, yang memuliakan wanita, memberikan haknya, dan menyayanginya. Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai anak perempuan, istri, ibu dan anggota masyarakat. Islam memuliakan wanita sebagai manusia yang diberi tugas (taklif) dan tanggung jawab yang utuh seperti halnya laki-laki, yang kelak akan mendapatkan pahala atau siksa sebagai balasannya. Tugas yang mula-mula diberikan Allah kepada manusia bukan khusus untuk laki- laki, tetapi juga untuk perempuan, yakni Adam dan istrinya [QS. Al-Baqarah: 35].

Aturan pergaulan sebenarnya pertemuan antara laki-laki dengan perempuan tidak haram, melainkan jaiz (boleh). Bahkan, hal itu kadang-kadang dituntut apabila bertujuan untuk kebaikan, seperti dalam urusan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kebajikan, perjuangan, atau lain-lain yang memerlukan banyak tenaga, baik dari laki-laki maupun perempuan. Namun, kebolehan itu tidak bererti bahwa batas-batas diantara keduanya menjadi lebur dan ikatan-ikatan syar`iyah yang baku dilupakan.

Kita tidak perlu menganggap diri kita sebagai malaikat yang suci yang dikhawatirkan melakukan pelanggaran, dan kita pun tidak perlu memindahkan budaya barat kepada kita. Yang harus kita lakukan ialah bekerja sama dalam kebaikan serta tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, dalam batas-batas hukum yang telah ditetapkan oleh Islam.


Batas-batas hukum tersebut antara lain:

1. Menahan pandangan dari kedua belah pihak. Artinya, tidak boleh melihat aurat, tidak boleh memandang dengan syahwat, tidak berlama-lama memandang tanpa ada keperluan. Allah  berfirman :
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat" [QS.An-Nur:30]
      
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya" [QS.An-Nur:31]

2. Pihak wanita harus mengenakan pakaian yang sopan yang dituntunkan syar'i, yaitu pakaian yang menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan. Jangan yang tipis dan jangan dengan potongan yang menampakkan bentuk tubuh. 

Allah berfirman: "Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya" [QS.An-Nur:31]

Diriwayatkan dari beberapa sahabat bahwa perhiasan yang biasa tampak ialah mukadan tangan. Allah berfirman mengenai sebab diperintahkan-Nya berlaku sopan :

"Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu” [QS. Al-Ahzab:59]

Dengan pakaian tersebut, dapat dibedakan antara wanita yang baik-baik dengan wanita nakal. Terhadap wanita yang baik-baik, tidak ada laki-laki yang suka mengganggunya, sebab pakaian dan kesopanannya mengharuskan setiap orang yang melihatnya untuk menghormatinya. 

3. Mematuhi adab-adab wanita muslimah dalam segala hal, terutama dalam pergaulannya dengan laki-laki:


a) Dalam perkataan, harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan rangsangan. Allah  berfirman :

"Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." [QS. Al-Ahzab : 32]

b) Dalam berjalan, jangan memancing pandangan orang. Allah berfirman :


"Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan" [QS. An-Nur:31]



Hendaklah mencontoh wanita yang disebutkan oleh Allah dengan firman-Nya: 

"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan" [QS. Al-Qashash:25]

c) Dalam gerak,  jangan berlenggak-lenggok, seperti yang disebut dalam hadits:
"(Yaitu) wanita-wanita yang menyimpang dari ketaatan dan menjadikan hati laki-laki cenderung kepada kerusakan (kemaksiatan)" [HR Ahmad dan Muslim]

Jangan sampai ber-tabarruj (menampakkan aurat) sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita jahiliah dulu atau pun jahiliah modern.

4. Menjauhkan diri dari bau-bauan yang harum dan warna-warna perhiasan yang seharusnya dipakai di rumah, bukan di jalan dan di dalam pertemuan-pertemuan dengan kaum laki-laki.

5. Jangan berduaan (laki-laki dengan perempuan) tanpa disertai mahram. Banyak hadits sahih yang melarang hal ini seraya mengatakan, "Karena yang ketiga adalah syaitan.” Jangan berduaan sekalipun dengan kerabat suami atau istri.

Sehubungan dengan ini, terdapat hadits yang berbunyi: "Jangan kamu masuk ke tempat wanita.” Mereka (sahabat) bertanya, "Bagaimana dengan ipar wanita?.” 

Maksudnya, berduaan dengan kerabat atau pun ipar suami atau istri dapat menyebabkan kebinasaan, karena boleh jadi mereka duduk berlama-lama hingga menimbulkan fitnah.

Pertemuan itu pada batas keperluan yang dikehendaki untuk bekerja sama, tidak berlebih-lebihan yang dapat mengeluarkan wanita dari naluri kewanitaannya, menimbulkan fitnah, atau melalaikannya dari kewajiban sucinya mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak.

Beliau menjawab, “Ipar wanita itu membahayakan.” [HR Bukhari] 



Menutup Aurat kita tahu bahwa semua bahagian tubuh yang tidak boleh dinampakkan, adalah aurat. Oleh karena itu dia harus menutupinya dan haram dibuka. Aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain atau perempuan yang tidak seagama, iaitu seluruh badannya, kecuali muka dan dua tapak tangan.

Demikian menurut pendapat yang lebih kuat. Kerana dibolehkannya membuka kedua anggota tersebut seperti kata Ar-Razi adalah karena ada suatu kepentingan untuk bekerja, mengambil dan memberi. Oleh karena itu, seorang wanita diperintah untuk menutupi anggota yang tidak harus dibuka dan diberi rukhsah untuk membuka anggota yang biasa terbuka dan mengharuskan dibuka, justru syariat Islam adalah suatu syariat yang toleran.

Ar-Razi selanjutnya berkata: "Oleh karena membuka muka dan kedua telapak tangan itu hampir suatu keharusan, maka tidak salah kalau para ulama juga bersepakat, bahwa kedua anggota tersebut bukanlah aurat" 

Khalwat adalah bersendirian dengan seorang perempuan lain (ajnabiyah). Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan istri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya. Ini bukan bererti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut :

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, kerana yang ketiganya ialah syaitan." [Riwayat Ahmad] 

"Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.” 

Karena melihat jenis lain dengan bersyahwat di antara sesuatu yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang, perempuan memandang laki-laki.

Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina.

Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: "Hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya" [QS. An-Nur:30-31]

Menundukkan pandangan yang dimaksud menundukkan pandangan itu bukan bererti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan tundukkanlah sebagian suaramu [QS. Luqman : 19]

Disini tidak bererti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara. Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi.

Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.

Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Sayyidina Ali: “Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” [Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidi]

Rasulullah menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata. Sabda beliau: “Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat" [Riwayat Bukhari] 

Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang.

Ahli-ahli tafsir dalam menafsirkan ayat yang mengatakan :

“Dan tinggallah kamu (hai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kamu dan jangan kamu menampak-nampakkan perhiasanmu seperti orang jahiliah dahulu" [QS. Ahzab : 33]

Penjelasannya sebagai berikut:
Mujahid berkata "Perempuan ke luar dan berjalan di hadapan laki-laki" Qatadah berkata: Perempuan yang cara berjalannya dibikin-bikin dan menunjuk- nunjukkan. Muqatil berkata: Yang dimaksud tabarruj, yaitu melepas kudung dari kepala dan tidak diikatnya, sehingga kalung, kriul dan lehernya tampak semua.

Cara-cara diatas adalah macam-macam daripada tabarruj di zaman jahiliah dahulu, yaitu: bercampur bebas dengan laki-laki, berjalan dengan melenggang, kudung dan sebagainya tetapi dengan suatu mode yang dapat tampak keelokan tubuh dan perhiasannya.

Jahiliah pada zaman kita sekarang ini ada beberapa bentuk dan macam tabarruj yang kalau diukur dengan tabarruj jahiliah, maka tabarruj jahiliah itu masih dianggap sebagai suatu macam pemeliharaan. 

TANYA - JAWAB

1. Yang aurat perempuan itu kan seluruh tubuh kecuali tangan dan muka. Kalau misalkan suara masuk kategori aurat tidak bun ?
Jawab: Termasuk aurat juga namun sifatnya mubah, seperti suara orang qori/ah tidak bisa di jadikan patokan aurat. Patokan aurat suara terletak pada gaya berbicara.

2. Bunda, bagaimana jika ada hal urgent yang mengharuskan untuk menelpon lawan jenis ? Apakah bisa ?
Jawab: Bisa namun sebentar.

3. Bagaimana jika wanita dan pria di jadikan partner kerja oleh bos dan harus dines keluar kota berdua saja? Jazaakillah
Jawab: Bisa asalkan masih menjaga adab. Dan masih ada orang ke tiga.

4. Biasanya di sekolah khusus putri gitu ada bagian keputrian yang ngurusin tata cara mulai dari ujung kepala sampe kaki. Nah, cara jalan juga harus lurus jadi agak bergaya model gitu. Itu gimana ya?
Jawab: Mohon dijaga cara berjalan agar tidak menjadikan lawan jenis tertarik. Kalau pelaksanaan nya hanya di sekolah keputrian tafadol 

5. Bunda, bagaimana perihal wanita yang memakai parfum keluar rumah atas perintah suaminya untuk menghadiri acara
Jawab: Kalau disuruh suami tafadol. Namun tetap saja tidak berlebihan 

6. Bunda, apakah niqob butterfly termasuk tabaruj?
Jawab: Wanita diperintahkan untuk menurup aurat dan tidak menampakkan keindahan. Maka ada baiknya, niqob nya yang biasa saja, tidak berhias-hiaskan.

7. Bunda bagaimana jika solat sambil tutup muka?
Jawab: Tidak boleh 

8. Kalau sholat saat merem biar khusyu’ gimana bun?
Jawab: Tidak boleh. Takutnya nanti kita hilang kesadaran atau tertidur.

9. Bunda, kita sedang sholat trus lupa bacaan ayat. Apa yang harus kita lakukan mengulang sholat atau meneruskannya..? 
Jawab: Bacaan suratnya bisa diulang. Dan shalat tetap di lanjut.

10. Bunda, bagaimana sholat di imami oleh temen / ikhwan yang bukan mahram ?
Jawab: Kalau hanya berdua saja tidak boleh, kalau ada ikhwan dan akhwat yang lain boleh. 

Doa penutup

Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:


 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon dan bertaubat kepada-Mu.” 



Wassalam ....