AL-QURAN DAN SAINS

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, December 25, 2014

Kajian Online Telegram Hamba اَللّٰه Ta'ala

Hari / Tanggal : Rabu, 24 Desember 2014
Narasumber : Ustadz Dian Alamanda
Tema : Kajian Umum
Notulen : Ana Trienta


Bismillahirrohmanirrohim
Assalaamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Pagi ini bahasannya ringan saja ya sahabat. Siapa diantara sahabat yang mengenal Prof. Abdus Salam? Atau ada yang pernah membaca buku-buku karangan prof Jeffrey Lang?

Abdus Salam adalah seorang muslim pertama yang meraih Hadiah Nobel dalam bidang sains. Dia adalah fisikawan muslim yang paling menonjol abad 20. Dia termasuk orang pertama yang mengubah pandangan parsialisme para fisikawan dalam melihat kelima gaya dasar yang berperan di alam ini. Yaitu, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, gaya kuat yang menahan proton dan neutron tetap berdekatan dalam inti, serta gaya lemah yang antara lain bertanggung jawab terhadap lambatnya reaksi peluruhan inti radioaktif. Sedangkan Jeffrey Lang adalah seorang professor matematika MIT yang tadinya atheis, lalu kalah berdialog dgn al-Qur'an kemudian masuk Islam

Tema bahasan kita kali ini adalah kaitan antara Qur'an dan Sains. Kita lihat hari ini barat begitu mendominasi dunia sains dan teknologi sedangkan dunia Islam hari ini cenderung menjadi pengekor dan konsumen saja, termasuk aplikasi telegram yang sedang kita gunakan sekarang ada yang tau kira-kira apakah sebabnya? Tidak lain dan tidak bukan dikarenakan umat islam hari ini jauh dari al-Qur'an. Coba kita mundur sejenak ke belakang karena latar belakang saya belajar fisika, saya mencoba menguraikan sejarah bagaimana hubungan Islam dengan fisika


Sejarah membuktikan, kontribusi Ilmuwan Muslim dalam bidang Fisika sangatlah besar. Kaya-karya ilmuwan Muslim dalam bidang Fisika, baik yang klasik maupun modern, bisa dikatakan sangat melimpah. Cobalah renungkan, apa yang ada di benak anda ketika mengenal “kamera”? Banyak pelajar Muslim yang mungkin tak kenal sama sekali, bahwa perkembangan teknologi kamera tak bisa dilepaskan dari jasa seorang ahli fisika eksperimentalis pada abad ke-11, yaitu  Ibn al-Haytham. Ia adalah seorang pakar optik, pencetus metode eksperimen. Bukunya tentang teori optik,  al-Manazir, khususnya dalam teori pembiasan, diadopsi oleh Snell dalam bentuk yang lebih matematis.

Maka hari ini kita lebih mengenal hukum snellius padahal teori itu didasari oleh buku karya al-Haytam. Tak tertutup kemungkinan, teori Newton juga dipengaruhi oleh al-Haytham, sebab pada Abad Pertengahan Eropa, teori optiknya sudah sangat dikenal. Karyanya banyak dikutip ilmuwan Eropa. Selama abad ke-16 sampai 17, Isaac Newton dan Galileo Galilei, menggabungkan teori al-Haytham dengan temuan mereka.  Juga teori konvergensi cahaya tentang cahaya putih terdiri dari beragam warna cahaya yang ditemukan oleh Newton,  juga telah diungkap oleh al-Haytham abad ke-11 dan muridnya Kamal ad-Din abad ke-14. Al-Haytham dikenal juga sebagai pembuat perangkat yang disebut sebagai Camera Obscura atau “pinhole camera”. Kata “kamera” sendiri, berasal dari kata “qamara”, yang bermakna “yang diterangi”.  Kamera al-Haytham memang berbentuk bilik gelam yang diterangi berkas cahaya dari lubang di salah satu sisinya.

Dalam alat optik, ilmuwan Inggris, Roger Bacon (1292) menyederhanakan bentuk hasil kerja al-Haytham, tentang kegunaan lensa kaca untuk membantu penglihatan, dan pada waktu bersamaan kacamata dibuat dan digunakan di Cina dan Eropa. Faktanya,  Ibn Firnas dari Spanyol sudah membuat kacamata dan menjualnya keseluruh Spanyol pada abad ke-9.Christoper Colombus ternyata menggunakan kompas yang dibuat oleh para ilmuwan Muslim Spanyol sebagai penunjuk arah saat menemukan benua Amerika.

Fisikawan lain,  Abdurrahman Al-Khazini, saintis kelahiran Bizantium atauYunani adalah seorang penemu jam air sebagai alat pengukur waktu. Para sejarawan sains telah menempatkan al-Khazini dalam posisi yang sangat terhormat. Ia merupakan saintis Muslim serba bisa yang menguasai astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika dan filsafat. Sederet buah pikir yang dicetuskannya tetap abadi sepanjang zaman. Al-Khazani juga seorang ilmuwan yang telah mencetuskan beragam teori penting dalam sains.  Ia hidup di masa Dinasti Seljuk Turki. Melalui karyanya, KitabMizan al-Hikmah,  yang ditulis pada tahun 1121-1122 M, ia menjelaskan perbedaan antara gaya, massa, dan berat, serta menunjukkan bahwa berat udara berkurang menurut ketinggian.

Ilmuwan lain, Taqiyyuddin (m. 966) ahli astronomi telah berhasil membuat jam mekanik di Istanbul Turki. Sementara Zainuddin Abdurrahman ibn Muhammad ibn al-Muhallabi al-Miqati, adalah ahli astronomi masjid (muwaqqit – penetap waktu) Mesir, dan penemu jam matahari. Nama lain yang sangat terkenal adalah Abu Rayhan al-Biruni dalam Tahdid Hikayah Al-Makaan. Ia adalah penemu persamaan sinus (geometri). Abdurrahman Al-Jazari, ahli mekanik (ahli mesin) yang hidup tahun 1.100 M, membuat mesin penggilingan, jam air, pompa hidrolik dan mesin-mesin otomatis yang menggunakan air sebagai penggeraknya.

Dalam bidang Fisika-Astronomi, Ibnu Shatir, ilmuwan Muslim yang mempelajari gerak melingkar planet Merkurius mengelilingi matahari.  Karya dan persamaan Matematikanya sangat mempengaruhi Nicolaus Copernicus yang pernah mempelajari karya-karyanya. Copernicus, Galileo, dan Giordano Bruno di Barat mendapat tantangan keras dari Gereja,gara-gara menganut teori heliosentris.  Galileo yang merupakan pengikut Copernicus dikucilkan secara resmi oleh Gereja dan dipaksa bertobat. Namun Galileo menolaknya sehingga ia dipenjarakan di rumahnya sampai meninggal. Giordano Bruno mengalami nasib naas, dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup.

Perkembangan  sejarah sains tidak meloncat begitu saja dari zaman Yunani ke Barat modern. Inilah yang harus diperkenalkan kepada anak-anak kita. agar generasi penerus kita nanti menjadi generasi gemilang di bawah naungan al-Qur'an. Karena Allah meningkatkan derajat suatu kaum dengan al-Qur'an dan merendahkan derajat kaum yang lain dengan al-Qur'an.


Siapa disini yang tidak mengenal ibnu khaldun? Kitabnya al-mukaddimah, adalah rujukan para sosiologis dari timur sampai ke barat. padahal kitab ini hanyalah pengantar dari kitab karangannya yang berjudul Al-'Ibar yang dirampung saat beliau berusia 43 tahun.

Sains adalah aktivitas pemecahan masalah yang dilakukan oleh manusia yang dimotivasi oleh rasa ingin tahu tentang dunia sekitar mereka dan keinginan untuk memahami alam tersebut; serta keinginan untuk memanipulasi alam dalam rangka memuaskan keinginan atau kebutuhannya.

Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya karena Allah telah mengaruniakan anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan kenikmatan sains teknologi.

Penerapan sains dalam dunia modern telah menghasilkan banyak teknologi yang membuat kehidupan manusia lebih baik, lebih nyaman dan aman. Oleh karena itu, sains merupakan sebuah karunia dari Allah SWT. Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis untuk mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali dalam Al-Quran sebab kitab suci ini banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Anbiya ayat 80, yang artinya : “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).

Bagian dasar dari kesaksian iman Islam , la ilaha illallah (“Tak ada Tuhan selain Allah”), adalah sebuah pernyataan pengetahuan tentang realitas. Orang islam memandang berbagai sains, ilmu alam, ilmu sosial, dan yang lainnya sebagai beragam bukti yang menunjuk pada kebenaran bagi pernyataan yang paling fundamental dalam Islam. Oleh karena itu kita berpegang kepada kebenaran Qur'an dan Sunnah, bukan kebenaran sains. karena yang awal adalah mutlak, sedangkan sains berkembang.

Orang islam mulai menaruh perhatian pada ilmu-ilmu alam secara serius pada abad ke-3 Hijriah (abad ke-9 Masehi). Tetapi pada saat itu mereka telah memiliki sikap ilmiah dan kerangka berpikir ilmiah, yang mereka warisi dari ilmu-ilmu agama. Semangat untuk mencari kebenaran dan objektivitas, pada bukti empiris yang memiliki dasar yang kuat, dan pikiran yang terampil dalam pengklasifikasian merupakan sebagian ciri yang amat luar biasa dari para ilmuwan. Muslim awal sebagaimana yang dapat dilihat dengan jelas dalam kajian-kajian mereka tentang Fiqih dan hadis Nabi.

Dalam Islam, logika tak pernah dianggap berlawanan dangan keyakinan agama. Di kalangan para filosof dan ilmuwan muslim, logika senantiasa dipandang sebagai suatu alat berfikir ilmiah yang tak dapat dikesampingkan. Mereka juga memandang logika sebagai bentuk hikmah (kebijakan), sebentuk pengetahuan yang amat diagungkan oleh Al-qur’an. Dalam menggunakan logika, mereka sangat memperhatikan kejelasan dan konsistensi sebagaimana halnya terhadap kebenaran dan kepastian. Mereka juga menyadari fakta bahwa logika adalah sebuah instrument bermata dua yang dapat menyajikan kebeneran maupun kekeliruan. Logika dikembangkan oleh para filosof dan ilmuwan muslim di dalam kerangka kesadaran religius. Sebuah fungsi nyata logika dalam hubungannya dengan kebenaran agama adalah untuk membantu menjelaskan rasionalitas dan menjelaskan seluruh konsistensi pada hal-hal yang secara lahiriah tampak tidak logis dan kontradiktif.

Penting untuk diperhatikan bahwa al-burhan , istilah yang digunakan dalam logika muslim untuk menunjukkan metode ilmiah, adalah berasal dari Al-Qur’an. Menurut Al-Ghazali, istilah Al-Qur’an al-mizan­, yang biasanya diterjemahkan sebagai timbangan, merujuk antara lain kepada logika. Logika adalah timbangan yang dengannya manusia menimbang ide-ide dan pendapat-pendapat untuk sampai pada pertimbangan atau penilaian yang benar. Luasnya penggunaan logika tidak membawa pada semacam rasionalisme dan logisisme seperti yang kita temukan di Barat modern secara persis, karena penggunaan rasio tidak pernah dipisahkan dengan keimanan pada wahyu ilahi. Para sarjana muslim diilhami oleh kesadaran religius yang kuat, mereka pada umumnya meneguhkan gagasan superioritas wahyu ilaih atas rasio. Demikian pula halnya, pentingnya pemikiran logis tidak mematikan semangat eksperimentasi di kalangan ilmuwan muslim.

Sains bangkit di dunia islam juga dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Pertama, pendirian sekolah di Irak, Syiria, dan Mesir. Pendirian secara besar-besaran sekolah menunjukkan pemerintahan Islam disaat itu sudah menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan.

Kedua, adanya dukungan dari Pemerintah. Seperti faktor yang pertama merupakan contoh 
dari dukungan Pemerintah, dan juga pemerintah selalu memfasilitasi masyarakat yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan saat itu sangat dijunjung tinggi.

Ketiga, penerjemahan buku milik filsuf-filsuf Yunani dan orang-orang Barat secara besar-besaran di Bait Al-Hikmah. Islam tak pernah menolak ilmu yang berasal dari mana pun, walaupun ilmu tersebut berasal dari para filsuf Yunani yang memiliki kepercayaan dan iman yang berbeda dengan umat islam, namun yang terpenting ilmu mereka itu benar dan berguna. Maka jangan heran saat ini Irak, Syiria dan Mesir dijadikan sasaran penghancuran...

Lalu bagaimana ceritanya masa keemasan sains islam itu berakhir?

Kemunduran sains di dunia islam dipengaruhi oleh lima faktor.
Pertama, Perpecahan internal serta tekanan dari luar (faktor eksternal). Pada zaman disaat Sains islam mengalami kemunduran, umat islam terpecah menjadi banyak golongan dan mahzab. Setiap golongan memiliki prinsip dan ideologi masing-masing dan menganggap bahwa golongan yang mereka anut merupakan golongan paling sempurna. Maka terjadilah perpecahan antara umat muslim pada saat itu hingga mereka tak lagi memikirkan tentang ilmu pengetahuan, mereka hanya saja memikirkan golongan yang mereka anut dan mencari kelemahan dari golongan lainnya, dan ilmu pengetahuan pun tak berkembang. Adapun tekanan dari luar yang juga berpengaruh terhadap mundurnya sains di dunia islam. Tekanan yang membuat jatuhnya peradaban Islam adalah Perang Salib, yang terjadi dari 1096 hingga 1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. Perang salib pada dasarnya merupakan imperialism barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan meteri dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya. Sedangkan serangan Mongol hanya perebutan wilayah kekuasaan. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan Abbasiyah berakhir.

Ketiga, Kesulitan ekonomi. Pemerintahan islam yang pada saat itu kewalahan dengan adanya perpecahan internal dan juga kaum agama lain yang mendesak umat islam dalam peperangan membuat Pemerintah kehabisan dana dan mengakibatkan kesulitan ekonomi yang terjadi pada umat islam. Muncul kemiskinan, kelaparan dimana mana. Dan juga banyak pejabat yang melakukan korupsi. Padahal dahulu para ilmuwan Islam mampu menghasilkan karya yang monumental karena kehidupan mereka ditopang oleh kerajaan/khalifah. Hari ini lebih miris lagi, para ilmuwan muslim di Indonesia cenderung dilupakan dan akhirnya mereka terpaksa kembali berkarya di negeri kafir.

Keempat, Pemerintahan yang tak jelas. Dari sisi pemerintahan juga sudah tidak mencerminkan agama islam itu sendiri. Banyak pejabat-pejabat yang melakukan korupsi, mengambil uang rakyat untuk dirinya sendiri. Dan juga perbuatan para pemimpin yang buruk, hingga mereka tidak dapat mengendalikan umat islam juga.

Kelima, Keterpencilan. Tidak adanya akses informasi bagi umat islam. Ditambah lagi hari ini umat Islam cenderung malas mengakses informasi (membaca). Maka kembalilah kita kepada Al-Qur'an. Semangat mengakrabi Al-Qur'an. Kita bertadabbur, kita bertafakkur, kita kenalkan anak-anak kita dengan Al-Qur'an, sehingga mereka menjadi generasi gemilang, curious, semangat mengeksplorasi Islam dan sains, agar gemilang di bawah naungan tauhid.
Wallahua'lam


DISKUSI
Bagaimana menurut ustadz tentang penjelasan Alquran yang membimbing akal?
Jawab
Kalau modal utamanya akal, kemungkinan besar kita bisa bernasib seperti Iblis, yang mengutamakan akal di atas Firman-Nya. Kita bisa lihat bahwa iblis dengan logikanya tidak bisa menerima bahwa nabi Adam lebih baik darinya. Sampai-sampai ia ingkari perintah Allah. Akal sungguh instrumen yang penting, sebagaimana al-Qur'an banyak membahas tentang proses berfikir. contoh bagaimana nabi Ibrahim berpikir hingga menemukan Tuhannya. Tapi akal adalah sesuatu yang nisbi, relatif kebenarannya. Maka kita mesti berpegang pertama kali kepada Qur'an yang qath'i.

Kita bisa ambil contoh misalnya Einstein. Kita taunya ia genius yang menemukan teori relativitas dsb. Padahal selama proses penemuan itu Einstein banyak melakukan kesalahan dan sering tertolong oleh keberuntungan. Atau ketika seseorang yang pakar tafsir, bisa saja terpeleset menentang ayat tentang kewajiban berhijab bagi muslimah, karena keterbatasan akalnya. Tapi ada seorang profesor matematika seperti Jeffrey Lang yang mendapat hidayah karena akalnya. Ia dahulunya seorang atheis yang karena akalnya menolak konsep kristen. Dengan akalnya pula ia merengkuh manisnya iman. Seperti juga nabi Ibrahim alaihissalam yang dengan akalnya menolak meminta kepada patung-patung, matahari, bulan dan bintang. Bahkan nabi Ibrahim meminta diberikan bukti agar semakin yakin keimanannya kepada Allah, sehingga ia diberi gelar khalilullah.

Dua-duanya penting, namun al-Qur'an dan sunnah harus didudukkan diatas akal. Contoh, apa yang kita lakukan jika ada seekor lalat terjun di dalam gelas minuman kita? awalnya akal sehat akan menolak karena jijik. Tapi sunnah berkata lain. Ternyata penelitian terbaru membuktikan kebenaran hadits ini. Terlihat betapa nisbinya akal kita.

Jika kita menelaah ayat-ayat dalam surat an-naba saja misalnya, kita liat betapa banyak kandungan sains didalamnya atau bagaimana seorang dokter di barat sana masuk islam ketika mempelajari surat al-alaq. Tentu untuk menelaahnya perlu bimbingan dan pengetahuan yang cukup kalau tidak bisa berbahaya. Sebagai contoh, misalnya ada seorang sarjana fisika di jogja yang berusaha menafsirkan ayat-ayat sains dalam quran padahal bahasa arab saja tidak bisa. Walhasil dikatakanlah bahwa akhirat tidak kekal. Itu terjadi lantaran ia menafsirkan Qur'an lewat terjemahannya saja dan mencoba menerapkan hukum-hukum fisika di dunia kepada akhirat. Semoga Allah melindungi kita dari yang demikian, dan selalu memberikan kita taufiq dan hidayahNya

Ana mohon ijin dulu, jika ada pertanyaan lagi bisa disampaikan, in sya Allah dijawab jika bisa. Mari sama-sama membaca doa Kafaratul  Majelis...

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT