Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , , » ANAKKU, AYAH IBU INGIN PUNYA MENANTU!!!

ANAKKU, AYAH IBU INGIN PUNYA MENANTU!!!

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, December 2, 2014

Kajian Online WA Hamba الله Ta'ala
(Link Nanda)

Hari / Tanggal : Senin, 01 Desember 2014
Narasumber : Ustadz Ahmad Ridwan
Materi : Munakahat
Notulen : Ana Trienta

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
akhwaati fillah... kef halukunna? hayyakunnallah. Apa sudah bisa kita mulai kajian ini? oke Bismillah. Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah

Anakku, Ayah Ibu ingin punya menantu...
Mungkin ucapan ini sebagian dari kita pernah mendengarnya, atau bahkan kita yang menjadi lawan bicara saat seseorang mengucapkan nya. Lantas bagaimana sikap kita? bingung, berfikir, balik bertanya, memendam nya lantas mencurhatkan kepada teman, tanya tanya teman, guru, tetangga tentang calon? Permintaan diatas jangan sampai membuat kepala pening, hanya saja kita harus tempatkan makna Nikah (mempersembahkan menantu ) untuk Ayah Ibu.

Sebagai makhluk sosial, mustahil manusia bisa hidup tanpa yang lainnya, karena tak kan terpenuhi hajat manusia jika tidak ada pihak lain yang memberikan kontribusinya, sumbangsihnya bahkan pengorbanannya, satu dari jutaan hajat manusia tersebut adalah pernikahan, akan tetapi masih sangat banyak orang yang salah kaprah dalam menilah pernikahan itu sendiri

Kita sering menganggap bahwa pernikahan itu adalah peristiwa hati, padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban. Ini bukan cuma tentang 2 manusia yang saling mencintai lalu mengucapkan akad. Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia.

Pernikahan adalah sayap kehidupan, rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif. ‘Sakinah’ bukan cuma ‘tenang’. Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang artinya ‘diam/tetap/stabil’. Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai. Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia jadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komprehensif. Alquran jelaskan: ‘Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya’. Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas.

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?"  (Q.S Al Anbiyaa` : 30)

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا 

"dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah [hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan, seperti menantu, ipar, mertua dan sebagainya.] dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa." (Al Furqon:54)

Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas. Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun lahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera. Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Cinta: dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban.

TUJUAN  MULIA PERNIKAHAN DALAM ISLAM

1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia yang Asasi
Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan ‘aqad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang amat kotor dan menjijikkan, seperti cara-cara orang sekarang ini; dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.


2. Untuk Membentengi Akhlaq yang Luhur dan untuk Menundukkan Pandangan.
Sasaran utama dari disyari’atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya adalah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya."

3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami
Dalam Al-Qur-an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya thalaq (perceraian), jika suami isteri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam ayat berikut:


الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Thalaq (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan isteri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh isteri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.” [Al-Baqarah : 229]

Yakni, keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari’at Allah ‘Azza wa Jalla. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah, lanjutan ayat di atas:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Kemudian jika dia (suami) menceraikannya (setelah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dan bekas isteri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan.” [Al-Baqarah : 230]

Jadi, tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami isteri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari’at Islam adalah wajib. Oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, yaitu harus kafa-ah dan shalihah.

a. Kafa-ah Menurut Konsep Islam
Pengaruh buruk materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit orang tua, pada zaman sekarang ini, yang selalu menitikberatkan pada kriteria banyaknya harta, keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja dalam memilih calon jodoh putera-puterinya. Masalah kufu' (sederajat, sepadan) hanya diukur berdasarkan materi dan harta saja. Sementara pertimbangan agama tidak mendapat perhatian yang serius. 

Agama Islam sangat memperhatikan kafa-ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam hal pernikahan. Dengan adanya kesamaan antara kedua suami isteri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami -in sya Allah- akan terwujud. Namun kafa-ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlak seseorang, bukan diukur dengan status sosial, keturunan dan lain-lainnya. Allah ‘Azza wa Jalla memandang derajat seseorang sama, baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan derajat dari keduanya melainkan derajat taqwanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [Al-Hujuraat:13]

Bagi mereka yang sekufu’, maka tidak ada halangan bagi keduanya untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berorientasi pada hal-hal yang sifatnya materialis dan mempertahankan adat istiadat untuk meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur-an dan Sunnah Nabi yang shahih, sesuai dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍِ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang taat agamanya (ke-Islamannya), niscaya kamu akan beruntung.”

Hadits ini menjelaskan bahwa pada umumnya seseorang menikahi wanita karena empat hal ini. Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih yang kuat agamanya, yakni memilih yang shalihah karena wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, agar selamat dunia dan akhirat.

Namun, apabila ada seorang laki-laki yang memilih wanita yang cantik, atau memiliki harta yang melimpah, atau karena sebab lainnya, tetapi kurang agamanya, maka bolehkah laki-laki tersebut menikahinya? Para ulama membolehkannya dan pernikahannya tetap sah. Allah menjelaskan dalam firman-Nya:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)...” [An-Nuur : 26]

b. Memilih Calon Isteri Yang Shalihah
Seorang laki-laki yang hendak menikah harus memilih wanita yang shalihah, demikian pula wanita harus memilih laki-laki yang shalih.  Menurut Al-Qur-an, wanita yang shalihah adalah:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“...Maka perempuan-perempuan yang shalihah adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)...” [An-Nisaa' : 34]

Lafazh قَانِتَاتٌ dijelaskan oleh Qatadah, artinya wanita yang taat kepada Allah dan taat kepada suaminya.[3]. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” [4]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِيْ نَفْسِهَا وَلاَ مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.

“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan suami apabila ia melihatnya, mentaati apabila suami menyuruhnya, dan tidak menyelisihi atas diri dan hartanya dengan apa yang tidak disukai suaminya.” [5]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ، وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ: اَلْجَارُ السُّوْءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ.

“Empat hal yang merupakan kebahagiaan; isteri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang merupakan kesengsaraan; tetangga yang jahat, isteri yang buruk, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang jelek.” [6]

Menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih, dan penjelasan para ulama bahwa di antara ciri-ciri wanita shalihah ialah :
  • Taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya, 
  • Taat kepada suami dan menjaga kehormatannya di saat suami ada atau tidak ada serta menjaga harta suaminya,
  • Menjaga shalat yang lima waktu,
  • Melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, 
  • Menutup Aurat nya
  • Berakhlak mulia,
  • Selalu menjaga lisannya,
  • Tidak berbincang-bincang dan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya karena yang ke-tiganya adalah syaitan,
  • Tidak menerima tamu yang tidak disukai oleh suaminya,
  • Taat kepada kedua orang tua dalam kebaikan,
  • Berbuat baik kepada tetangganya sesuai dengan syari’at.


Apabila kriteria ini dipenuhi -insya Allah- rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang subur (banyak keturunannya) dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus ummat.

4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah
Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadahan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain, bahkan berhubungan suami isteri pun termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

...وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ.

“... Seseorang di antara kalian bersetubuh dengan isterinya adalah sedekah!” (Mendengar sabda Rasulullah, para Shahabat keheranan) lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya terhadap isterinya akan mendapat pahala?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika ia (seorang suami) bersetubuh dengan selain isterinya, bukankah ia berdosa? Begitu pula jika ia bersetubuh dengan isterinya (di tempat yang halal), dia akan memperoleh pahala.”

5. Untuk Memperoleh Keturunan Yang Shalih
Tujuan pernikahan di antaranya adalah untuk memperoleh keturunan yang shalih, untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:


وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” [An-Nahl:72]

Yang terpenting lagi dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

“...Dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu (yaitu anak).” [Al-Baqarah : 187]

Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas dan Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhum, juga Imam-Imam lain dari kalangan Tabi’in menafsirkan ayat di atas dengan anak. Maksudnya, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk memperoleh anak dengan cara berhubungan suami isteri dari apa yang telah Allah tetapkan untuk kita. Setiap orang selalu berdo’a agar diberikan keturunan yang shalih. Maka, jika ia telah dikarunai anak, sudah seharusnya jika ia mendidiknya dengan benar.

Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Hal ini mengingat banyaknya lembaga pendidikan yang berlabel Islam, tetapi isi dan caranya sangat jauh bahkan menyimpang dari nilai-nilai Islami yang luhur. Sehingga banyak kita temukan anak-anak kaum muslimin yang tidak memiliki akhlak mulia yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, disebabkan karena pendidikan dan pembinaan yang salah. Oleh karena itu, suami maupun isteri bertanggung jawab untuk mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar, sesuai dengan agama Islam.

Tentang tujuan pernikahan, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam

" Naik Haji ke Tanah Suci, Labbaik Allahumma Labbaik Ucapan Kami"
" Ingin dapat Cinta Suci, jadikanlah Baik Tindakan Kami "
“ Hidup hampa tanpa kekasih, sampai jumpa dan terima kasih”

Silahkan jika ada hal yang kurang jelas yang ingin ditanyakan, atau ada perkara yang ingin kita diskusi kan

TANYA JAWAB

Pertanyaan 101
1. Kalo misalnya ada ikhwan yang baik agamanya ingin melakukan khitbah. Tapi ga mendapat restu dari orangtua pihak wanita atau mendapat restu tapi terpaksa. Apa masih boleh tetap dilakukan pernikahan? Karena yang kita semua tau ridha Allah berdasarkan ridha orgtua. Murka Allah juga berdasarkan murka orang tua. Syukran
Jawab
Apa alasan penolakan nya, kalo tidak syar`i maka tidak dibenarkan, seperti ulasan jawaban pada pertanyaan pertama, karena dalam nikah ada dikenal dengan istilah wali mu`dhol (wali yang membangkang) karena tidak mau menikahkan putri nya lantaran alasan yang tidak syar`i karena cuma alasan "LATAR BELAKANG", DALAM HAL INI MAKA WALI BUKAN HANYA BERDOSA KEPADA ALLAH TA`AALA, TP JUGA DZOLIM KEPADA ANAK NYA

2. Kalau kita ingin menyegerakan, tapi orang tua sepertinya berat inginnya anaknya kerja dulu yang mapan bagaimana ya. Sedangkan ikhwan yang berhajat meminang pun secara materi belum cukup masih banyak tanggungan keluarga
Jawab
Justru kalo kita sadari rezeki kita saat masih membujang hanya satu kerannya, nah jika menikah keran itu bertambah jadi 2

Carilah Kaya dengan Nikah
Nov 23, 2011Muhammad Abduh Tuasikal, MScMuslimah17
Sebagian pemuda begitu khawatir untuk menikah karena khawatir dalam hal rizki. Padahal saat ini ia telah berpenghasilan cukup, sudah bisa ditakar ia dapat menghidupi seorang istri. Namun begitulah, kekhawatiran demi kekhawatiran terus menghantuinya sehingga ia pun mengulur waktu untuk segera menikah. Padahal janji Allah itu pasti, Dia akan mencukupi kita jika kita miskin. Karena kita harus yakin bahwa Allah-lah pemberi rizki setelah kita melakukan usaha. Ayat yang bisa menjadi renungan adalah firman Allah Ta’ala,

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Di antara tafsiran Surat An Nur ayat 32 di atas adalah: jika kalian itu miskin maka Allah yang akan mencukupi rizki kalian. Boleh jadi Allah mencukupinya dengan memberi sifat qona’ah (selalu merasa cukup) dan boleh jadi pula Allah mengumpulkan dua rizki sekaligus (Lihat An Nukat wal ‘Uyun). Jika miskin saja, Allah akan cukupi rizkinya, bagaimana lagi jika yang bujang sudah berkecukupan dan kaya? Dari ayat di atas, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
التمسوا الغنى في النكاح

“Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah.”  
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim mengenai tafsir ayat di atas). Lihatlah pemahaman cemerlang dari seorang Ibnu Mas’ud karena yakin akan janji Allah.

Disebutkan pula dalam hadits bahwa Allah akan senantiasa menolong orang yang ingin menjaga kesucian dirinya lewat menikah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Di antaranya,
وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“… seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya.” 
(HR. An Nasai no. 3218, At Tirmidzi no. 1655. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ahmad bin Syu’aib Al Khurasani An Nasai membawakan hadits tersebut dalam Bab “Pertolongan Allah bagi orang yang nikah yang ingin menjaga kesucian dirinya”. Jika Allah telah menjanjikan demikian, itu berarti pasti. Maka mengapa mesti ragu?

Di antara tafsiran Surat An Nur ayat 32 di atas adalah: jika kalian itu miskin maka Allah yang akan mencukupi rizki kalian. Boleh jadi Allah mencukupinya dengan memberi sifat qona’ah (selalu merasa cukup) dan boleh jadi pula Allah mengumpulkan dua rizki sekaligus (Lihat An Nukat wal ‘Uyun). Jika miskin saja, Allah akan cukupi rizkinya, bagaimana lagi jika yang bujang sudah berkecukupan dan kaya? Dari ayat di atas, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
التمسوا الغنى في النكاح

“Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah.”  
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim mengenai tafsir ayat di atas). Lihatlah pemahaman cemerlang dari seorang Ibnu Mas’ud karena yakin akan janji Allah.

Disebutkan pula dalam hadits bahwa Allah akan senantiasa menolong orang yang ingin menjaga kesucian dirinya lewat menikah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Di antaranya,
وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“… seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya.” 
(HR. An Nasai no. 3218, At Tirmidzi no. 1655. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ahmad bin Syu’aib Al Khurasani An Nasai membawakan hadits tersebut dalam Bab “Pertolongan Allah bagi orang yang nikah yang ingin menjaga kesucian dirinya”. Jika Allah telah menjanjikan demikian, itu berarti pasti. Maka mengapa mesti ragu?


3. “Empat hal yang merupakan kebahagiaan; isteri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang merupakan kesengsaraan; tetangga yang jahat, isteri yang buruk, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang jelek.” Yg mia mau tanya misalkan kita dapat tetangga yang jahat, isteri yang buruk, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang jelek, berarti kita sengsara dong? trus upaya apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghindari kesengsaraan dan kalo uda kejadian kaya gitu apa yang sebaiknya harus kita lakukan?
Jawab
Banyak doa, karena doa bs berubah taqdir ukhti, mau doanya kah? DOA BISA MERUBAH TAQDIR, MAKA BANYAK-BANYAKLAH BERDOA..
Doa meminta perlindungan dari kejelekkan. Ucapkan aamiin semoga Allah mengabulkan.

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇﻧِّﻲ ﺃّﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺟَﺎﺭِ ﺍﻟﺴُّﻮﺀِ، ﻭَﻣِﻦْ ﺯَﻭْﺝٍ ﺗُﺸَﻴِّﺒُﻨِﻲ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﻤَﺸِﻴﺐِ، ﻭَﻣِﻦْ ﻭَﻟَﺪٍ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻠﻲَّ ﺭَﺑّﺎً، ﻭَﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝٍ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻠَﻲَّ ﻋَﺬَﺍﺑَﺎً، ﻭَﻣِﻦْ ﺧَﻠِﻴْﻞٍ ﺎﻛِﺮٍ ﻋَﻴْﻨُﻪُ ﺗَﺮَﺍﻧِﻲ، ﻭَﻗَﻠْﺒُﻪُ ﻳَﺮْﻋَﺎﻧِﻲ؛ ﺇِﻥْ ﺭَﺃَﻯ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﺩَﻓَﻨَﻬَﺎ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻯ ﺳَﻴِّﺌَﺔً أذاعها

" Ya Allah... Aku berlindung kepadaMU dari tetangga buruk, dari pasangan yang membuatku tua sebelum masa tua, dari anak yang menjadi tuan terhadap diri ku, dari harta yang menjadi adzab terhadap diri ku, dari teman dekat yang berencana buruk terhadap diri ku, dari matanya yang menyimpan kebencian, dan hatinya yang memendam dendam, bila mana ia melihat kebaikan yang ku perbuat maka ia menguburnya, dan jika keburukan yang ku perbuat ia menyebarkannya".
(HR. At thabrani dishahihkan oleh Syekh Al albani didalam silsilah hadits sohihah)

4. Gimana sih caranya tau kalo seseorang yang sedang deket dengan kita itu serius apa enggak? Bagaimana ya kalau ajakan nikah itu sering diutarakan pada saat yang kurang tepat misalnya seperti sedang bercanda tetapi pas ketemu langsung malah gak mengarah kepernikahan..Itu termasuk serius apa enggak sih?
Jawab
Dekat? emang sudah ijab sah? kalo belum ijab sah dilarang dekat-dekat, bukan Mahrom. Kita hanya mencari "Arjuna" si Sang Pemberani jangan cuma bisa PHP


Pertayaan 102
1. Misalnya orang tua sudah memilihkan kita seseorang, menurut orang tua dia baik, bisa baca quran dengan baik, namun menurut saya, meskipun bisa baca quran dengan baik, kadang pemahaman ilmu agamanya beda.. kita merasa agak ga sesuai syariat yang selama ini kita pelajari otomatis saya udah ga sreg, tapi orang tua agak "maksa" disuruh sama yang ini saya salah ngga ya? pernikahan itu harus satu visi misi kan ya?
Jawab
Ya benar, pernikahan harus dilandasi satu visi dan misi, agar kedepannya tidak terlampau banyak hambatan dan rintangan yang kita hadapi, oleh karena nya bicarakan dari hati-ke hati dengan orang tua bahwa pernikahan adalah memadukan dua hati anak adam, dan urusan hati urusan yang sangat sulit, bagaimana jadinya jika sebuah pernikahan diawali dengan sebuah paksaan? tentu hasilnya mungkin tidak sebaik yang nikah atas dasar cinta yang sesuai syar`i, sekaligus katakan dengan bijak bahwa kita lah kelak yang akan menjalani pernikahan ini dengan doa dari orang-orang yang kita sayangi


Pertayaan 103
1. Ustadz saya mau tanya, terkadang orang sering berkata kepada kita ''gimana mau dapat jodoh kalau ndak ada usaha''. Untuk seorang muslimah, usaha apa yang harus dilakukan ya ustadz? Syukran
Jawab
Benar bahwa ungkapan kalo sudah jodoh gak akan kemana mana, tapi perlu kita jelaskan bahwa : kalo "gak kemana mana" gimana mau dapat jodoh, maka ikhtiar menjadi salah satu bagian terpenting dalam menjemput jodoh, bisa dengan memaksimalkan lewat "jaringan" yang kita miliki, meminta tolong kepada teman, sahabat, guru, kerabat yang amanah dalam menghadirkan calon idaman, dan jangan lupa DOA ADALAH SENJATA SETIAP MUKMIN

2. Bagaimana sikap akhwat jika ada ikhwan yang berniat bertaaruf dengan si akhwat namun tanpa perantara .Misal, lewat medsos seperti facebook. Mereka belum saling kenal, namun tiba-tiba si ikhwan berniat bertaaruf. Kalo memang akhwat itu meng'iya'kan, baru mereka mencari perantara untuk membantu proses selanjutnya. Apa yang harus dilakukan si akhwat? Haruskah akhwat percaya dengan ikhwan yang tidak ia kenal sebelumnya dan tiba-tiba berniat ta'aruf dengannya?
Jawab
Tidak dipungkiri kehadiran medsos seperti pisau bermata dua, artinya terkadang banyak yang memanfaatkannya untuk nilai-nilai positif, seperti dakwah, pengajaran dll, tapi tidak sedikit yang juga menyalahgunakannya, dalam kasus yang ditanyakan tadi, agak riskan jika tanpa perantara sejak awal, yang mana boleh jadi ini menjadi celah syaithan untuk masuk lebih jauh dan lebih dalam lagi dalam memainkan perannya, sehingga mafhum dari hadits: "Janganlah seseorang berkhalwat dengan yang bukan mahromnya, kecuali ditemani dengan mahrom." Saddan lidzzarii`ah (dalam mengambil langkah kehati-hatian) maka saya berpendapat (bisa jadi keliru pendapat saya ini) sebaik nya tidak menanggapi nya lewat medsos. wallahu a`lam


Pertanyaan 104
1. Ustadz.. apa hukumnya jika ada beberapa ikhwan yang datang melamar tapi kita nolak dengan alasan ada seseorang yang ditunggu.
Jawab
Tidak dibenarkan membangun komitmen sebelum ia menjadi siapa-siapa untuk kita, kalau pun kita tunggu, belum tentu ia akan menikahi kita kelak, Islam menganjurkan permudah pernikahan, menyegerakan, dan tidak menolak lelaki yang sholih karena cuma alasan yang tidak syar`i

Abu Hurairah radhiyalloohu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”
[HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022]

Abu Hatim Al-Muzani rodhiyalloohu ‘anhu bahwasanya Rosulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ

“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan.”
[HR. At-Tirmidzi no. 1085, hadits ini derajatnya hasan dengan dukungan hadits Abu Hurairah radhiyalloohu ‘anhu sebelumnya]


Peranyaan 105
1. Usia muda sebenarnya menjadi tantangan sendiri untuk membangun rumah tangga pasti dalam rumah tangga itu agak rumit.. Nah kiat-kiat apa yang harus dimiliki bagi pasangan muda, seperti sama-sama usia 21 tahun sudah  menikah?
Jawab
Pertama harus ikhlas dalam menikah, kedua mencoba meneladani Rasulullah dalam membangun rumah tangga, ketiga harus lebih banyak mengedepankan saling percaya kepada pasangan, keempat saling melengkapi kekurangan pasangan, kelima mencoba memaklumi kesalahan dengan memaafkan kekhilafan


2. Mau nanya, jika disalah satu rumah tangga, ada istri, suami dan anak, nah istri dan suaminya itu beda agama, dan anaknya pun beda agama dengan orang tuanya, gimana tuh hukumnya?
Jawab
Firman Allah ta`aala :

 ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎءَﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕُ ﻣُﻬَﺎﺟِﺮَﺍﺕٍ ﻓَﺎﻣْﺘَﺤِﻨُﻮﻫُﻦَّ ۖ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺈِﻳﻤَﺎﻧِﻬِﻦَّ ۖ ﻓَﺈِﻥْ ﻋَﻠِﻤْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺎﺕٍ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺮْﺟِﻌُﻮﻫُﻦَّ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ۖ ﻻَ ﻫُﻦَّ ﺣِﻞٌّ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﻻَ ﻫُﻢْ ﻳَﺤِﻠُّﻮﻥَ ﻟَﻬُﻦَّ ۖ ﻭَﺁﺗُﻮﻫُﻢْ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ۚ ﻭَﻻَ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗَﻨْﻜِﺤُﻮﻫُﻦَّ ﺇِﺫَﺍ ﺁﺗَﻴْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﺃُﺟُﻮﺭَﻫُﻦَّ ۚ ﻭَﻻَ ﺗُﻤْﺴِﻜُﻮﺍ ﺑِﻌِﺼَﻢِ ﺍﻟْﻜَﻮَﺍﻓِﺮِ ﻭَﺍﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘْﺘُﻢْ ﻭَﻟْﻴَﺴْﺄَﻟُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ۚ ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﺣُﻜْﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۖ ﻳَﺤْﻜُﻢُ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ۚ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Al Mumtahanah : 10

Fenomena muslimat yang masih sendiri yang cukup banyak jumlah nya, ditambah lagi sabda Rasulullah dalam anjuran memilih pasangan karena agamanya agar lebih menentramkan kita, bahkan Allah ta`aala juga berfirman : 

ﻭَﻻَ ﺗَﻨْﻜِﺤُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛَﺎﺕِ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳُﺆْﻣِﻦَّ ۚ ﻭَﻷََﻣَﺔٌ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﻣُﺸْﺮِﻛَﺔٍ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻋْﺠَﺒَﺘْﻜُﻢْ ۗ ﻭَﻻَ ﺗُﻨْﻜِﺤُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ۚ ﻭَﻟَﻌَﺒْﺪٌ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﻣُﺸْﺮِﻙٍ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻋْﺠَﺒَﻜُﻢْ ۗ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ۖ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻐْﻔِﺮَﺓِ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِ ۖ ﻭَﻳُﺒَﻴِّﻦُ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺘَﺬَﻛَّﺮُﻭﻥَ

"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran." Al Baqarah : 221

Maka, memang ada perbedaan pendapat ulama dalam hal menikahi wanita Ahlul Kitab, hanya melihat keadaan dan menutup terjadi nya perkara madharat yang tidak diinginkan maka MUI mengHARAMkan menikah beda agama.MEMUTUSKAN. Menfatwakan :
  1. Perkawinan wanita muslimah dengan laki-laki non muslim adalah haram hukumnya 
  2. Seorang laki-laki muslim diharamkan mengawini wanita bukan muslim. Tentang perkawinan antara laki-laki muslim dengan wanita Ahlu Kitab terdapat perbedaan pendapat. Setelah mempertimbangkan bahwa mafsadahnya lebih besar daripada maslahatnya, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan perkawinan tersebut hukumnya haram
Pertanyaan 106
1. Ustadz bagaimana cara menyikapi orang tua yang menginginkan kita cepat menikah dengan cara orang tua menjodohkan kita dengan saudara jauh sedang kita tau bahwa orang tersebut ibadah mahdhahnya kurang baik. Haruskah kita menurut dengan kemauan orang tua demi membahagiakan mereka?
Jawab
Bagi wanita suami adalah surga atau neraka nya, nahkoda dirinya, dimana keselamatan penumpang ada pada bagaimana sang nahkoda menjalankan bahtera yang dikemudikannya dengan benar, jika pada sosok nahkoda terdapat sikap yang membahayakan penumpang dan diri nahkoda itu sendiri, maka perjalanan ini bukan hanya terganggu, bahkan dimungkin kan tidak sampai ke tempat tujuan, saran saya, bicarakan dengan orang tua dari hati-ke hati dengan tidak memakai pendekatan konfrontatif

2. Ustadz, jika orang tua menginginkan kita menikah karena faktor umur lebih dari cukup, namun karena hal lain kita masih fokus memantaskan diri.  Kita masih enjoy dengan sendiri, bagaimana menjelaskan ke orang tua?
Jawab
Ukhti sampai usia berapa kah anti mau dan bersedia menikah? padahal usia yang diperintahkan menikah oleh Rasulullah pada bahasan hadits diatas adalah usia muda, karena diusia itu masih memiliki banyak modal, usia muda, kesehatan masih prima, badan masih bugar, bahkan bagi perempuan usia yang sudah mulai banyak agak riskan dengan kehamilan nya kelak

Pertanyaan 107
1. Ini tentang hati, seorang akhwat yang sedang berproses dan akan segera di khitbah sedang didalam hatinya masih tersimpan harapan untuk kembali pada laki-laki sebelumnya yang juga pernah menjadi bagian dari rencana masa depannya, keinginan itu begitu besar sehingga dia sangat berharap prosesnya bersama sang ikhwan tak berlanjut. Namun sisi lain karena pertimbangan akan keshalihan sang ikhwan dan desakan orang tua, dia tetap melanjutkan proses walaupun semua rasa telah tawar. Jika seandainya proses itu berlanjut sampai pada pernikahan, bagaimana caranya akhwat tersebut membimbing hatinya kembali pada tujuan suci pernikahan? Mengingat cukup sulit baginya melupakan seseorang yang terlanjur telah mengisi hatinya itu.
Jawab
Bertaqwalah pada Allah ta`ala, kuat kan keyakinan dengan menyandarkan sepenuhnya pada Allah, jangan malah merusak hati dengan mengingat ikhwan yang telah lalu dalam hidup kita, karena boleh jadi ia sudah sangat bahagia dengan wanita pilihannya, malah hal ini menjadikan kita tersiksa karena memikirkannya, mulai saat ini... syukuri bahwa Allah ta`aala telah mengirim ikhwan kepada kita, dimana banyak akhwat  yang masih bingung siapa pangeran yang akan datang sebagai penyelamat dalam kesendiriannya, jadikan bakti kita kepada pangeran ini sebagai sarana taqarrub kepada Allah ta`aala, dan cita-cita kan dengan kuat bahwa bersamanya kita ingin menghadirkan peradaban Islam yang menakjubkan dengan mencetak agent of change

2. Sekufu = kesetaraan dalam hal harta, kekayaan suami = kekayaan istri. Jadi si calon yang akan menikahkan yang di lihat, bukan keluargnya? Bisa saja keluarganya si akhwat lebih kaya dibanding si ikhwan tapi si akhwat belum bekerja, kan sama aja ga diaggap kaya? Ataukah tidak boleh menikah orang yang kaya dengan yang miskin? afwan saya nangkanya begitu
Jawab
Sekufu menurut pendapat ulama yang paling kuat adalah dalam hal AQIDAH DAN AGAMA
Sehingga silahkan saja menikah atas dasar sekufu` karena agama, kalau pun sekarang belum sederajat dalam hal materi, semoga Allah ta`aala kelak melapangkan rezeki karena menjalankan syariat nya ini. Bukankah Ayah Ibu kita memiliki harta, bisa merabot selepas menikah? banyak dari orang yang bisa berangkat ke Tanah Suci justru setelah menikah, bukan?

Pertanyaan 108
1. Banyak di sekeliling saya yang udah nikah justru mereka meninggalkan sholat dengan alasan males mandi junub. Nah gimana caranya supaya kita terhindar dari yang demikian?
Jawab
Ukhti yang dimuliakan Allah ta`aala, ada sebuah ungkapan yang sangat baik : "Al Ilmu qablal qauli wal amal (Berilmu sebelum berucap dan berbuat) "ini mungkin hal yang harus kita budayakan, termasuk dalam BAB NIKAH ini, dimana seseorang harus tahu hal-hal yang berkaitan dengan nikah secara hukum fiqih, dan hal-hal yang menambah keberkahan pernikahan itu sendiri, dan diantara perkara yang bisa menambah keberkahan dalam pernikahan adalah bertaqarrub kepada Allah ta`aala dengan baik, dan perkara yang paling agung dalam hal taqarrub adalah dengan menjaga shalat, maka alasan diatas kurang tepat, apalagi jika dalam pernikahan keberkahan adalah nyawa, yang mana setiap pasangan mengidamkan agar rumah tangga nya langgeng sampai akhirat kelak. wallahu a`lam

2. Mau bertanya ustadz, jika kita mau menikah, apakah calon kita wajib mengetahui harta kekayaan kita, disamping agama dan keturunan?
Jawab
Tidak wajib, karena tidak ada tuntunan nya dalam Islam malah mungkin bisa kita katakan bahwa laki-laki ini dengan istilah KEPO

Pertanyaan 109
1. Gimana kalo ada yang mau menghitbah kita tapi hati kita belum sepenuhnya yakin kalo dia itu serius ke kita, Itu gimana Ust? Syukron Jiddan sebelumnya
Jawab
Istikhorohkan dan istisyarohkan (musyawarahkan) dengan pihak-pihak yang berkompeten

Pertanyaan 110
1. Ustadz arti dari keluarga sakinah, mawadah, warohmah itu apa? Di atas hanya djelaskan definisi sakinah saja?
Jawab


 ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺃَﻥْ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻟِﺘَﺴْﻜُﻨُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣَﻮَﺩَّﺓً ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔً ۚ ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻵَﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." Ar Ruum : 21

Makna ayat litaskunuu ilaiha... :
Litaskunuuna ilaiHaa (“Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”) sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dia-lah yang menciptakanmu dari diri yang satu dan daripadanya. Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.”) (al-A’raaf: 189). Yaitu Hawa yang diciptakan Allah dari tulang rusuk bagian kiri Adam. Seandainya Allah menciptakan anak Adam seluruhnya laki-laki dan menjadikan wanita dari jenis yang lainnya, seperti dari bangsa jin atau hewan, niscaya perasaan kasih sayang di antara mereka dan di antara berbagai pasangan tidak akan tercapai, bahkan akan terjadi ketidak senangan seandainya pasangan-pasangan itu berbeda jenis. Kemudian di antara rahmat-Nya kepada manusia adalah menjadikan pasangan-pasangan mereka dari jenis mereka sendiri serta menjadikan perasaan cinta dan kasih sayang di antara mereka. Dimana adakalanya seorang laki-laki mengikat wanita dikarenakan rasa cinta atau rasa kasih sayang dengan lahirnya seorang anak, seling membutuhkan nafkah dan kasih sayang di antara keduanya.

2. Assalamuaikum Ustadz, benarkah menikah adalah penggugur dosa? Jika ada orang shalih yang menyindir untuk mengkhibah itu bagaimana ustadz? Tetapi persiapan si wanita belum sepenuhnya mantap?
Jawab
Wallahu a`lam saya belum tahu dalil nya, hanya saja menikah itu ibadah dan setengah agama, maka kata Rasulullah bagi yang sudah menikah hendak nya menggenapkan setengah lain nya dengan ibadah yang lain, wallahu a`lam

Pertanyaan 113
1. Ustadz, seandainya ada orang yang suka dengan kita, tapi kita melihat dia bukan seperti yang kita harapkan, bagaimana cara kita menolaknya, tanpa menyinggung perasaanya, takutnya nanti dia berfikir kalau kita sombong atau angkuh
Jawab
Mungkin ukhti bisa menggunakan mediasi, bisa lewat wali kita yaitu Ayah, atau saudara laki-laki kita, atau mungkin orang yang dia dengar ucapannya, mungkin Ayahnya atau family nya, sehingga tetap tidak menyinggung perasaan nya

2. Ustadz mau bertanya. Mengapa islam menyarankan umat manusia agar menikah diusia muda?
Jawab
Kita sering menganggap bahwa pernikahan itu adalah peristiwa hati, padahal sesungguh nya pernikahan adalah peristiwa peradaban, ini bukan Cuma tentang 2 manusia yang saling mencintai lalu mengucapkan akad, ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia. Pernikahan adalah sayap kehidupan.  Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif. ‘Sakinah’ bukan cuma ‘tenang’. Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang artinya ‘diam/tetap/stabil’. Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai. Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia jadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komprehensif.
Alquran jelaskan: ‘Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya’. Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas.

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?  (Q.S Al Anbiyaa` : 30)

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا 

"dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah [hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan, seperti menantu, ipar, mertua dan sebagainya.] dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (Al Furqon : 54)

Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas. Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun lahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera. Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Cinta: dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai. Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban.

Pertanyaan 114
1. Bicara tentang talak kalo misalkan udah ditalak sama suami tapi kalo belum 40 hari si suami ngajak rujuk katanya tidak tanpa ijap qobul, bener ga?
Jawab
Ya benar tidak apa, langsung aja

 ﻭَﺍﻟْﻤُﻂَﻠَّﻘَﺎﺕُ ﻳَﺘَﺮَﺑَّﺼْﻦَ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻦَّ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔَ ﻗُﺮُﻭءٍ ۚ ﻭَﻻَ ﻳَﺤِﻞُّ ﻟَﻬُﻦَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜْﺘُﻤْﻦَ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻲ ﺃَﺭْﺣَﺎﻣِﻬِﻦَّ ﺇِﻥْ ﻛُﻦَّ ﻳُﺆْﻣِﻦَّ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵْﺧِﺮِ ۚ ﻭَﺑُﻌُﻮﻟَﺘُﻬُﻦَّ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﺮَﺩِّﻫِﻦَّ ﻓِﻲ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩُﻭﺍ ﺇِﺻْﻠَﺎﺣًﺎ ۚ ﻭَﻟَﻬُﻦَّ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ۚ ﻭَﻟِﻠﺮِّﺟَﺎﻝِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺩَﺭَﺟَﺔٌ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ

"Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Al Baqoroh : 228


2. Sehubungan dengan menciptakan generasi/ keturunan shalih/shalihah yang  tentunya rumah menjadi sekolah pertama anak. Sementara yang sekarang banyaknya keluarga yang suami dan istri sama-sama bekerja sehingga anak hanya diurus oleh pembantu. Yang jadi pertanyaan ana adalah hukum seorang istri bekerja bagaimana lalu jika suami melarang namun tetap bekerja dengan alasan membantu ekonomi keluarga itu gimana?
Jawab
Jika suami melarang, maka harus taat kepada perintah nya, dan tetap sabar dalam keadaan saat ini, seperti kisah rumah tangga dua manusia agung yaitu, Ali bin Abi Thalib dan Fathimah radhiyallahu anhuma


Pertayaan 115
1. Kita kan pastinya mengharapkan terbentuknya keluarga SAMARA dan ingin mendidik anak-anak kita sesuai syariat islam. Nah tapi biasanya yang menjadi kesulitan adalah ketika kita masih nyampur sama keluarga besar, dan keluarga kita adalah keluarga yang awam tentang syariat islam hanya tau yang wajib-wajib aja. Nahh gimana cara kita untuk tetap membangun keluarga Islami walaupun ditengah-tengah keluarga yang awam. #banyak melihat dari sekitar
Jawab
Memang realita pasutri yang banyak kita temukan adanya mereka masih bersama dengan mertua, terlebih mereka tinggal di PMI (pondok Mertua Indah), sehingga banyak orang yang mungkin ingin ambil bagian dalam pendidikan anak-anak kita, nah... hal ini yang kerap kali kurang dipahami oleh pasutri sejak awal, bahwa walau pun mereka tinggal di PMI, tetap penanggung jawab utama adalah suami, sehingga " instruksi" harus dari "panglima" tertinggi dan tidak ada dualisme komando dalam hal ini, sehingga kita bisa tetap dengan pola yang kita sepakati dengan pasangan, sambil terus berkomunikasi kepada orang tua dengan baik, katakan dengan santun kepada mereka bahwa : berikan kepada kami wahai Ayah dan Ibu yang baik hati kesempatan bisa mendidik anak-anak kami dengan mandiri, dan katakan juga kepada saudara saudari kita dengan santun dan penuh semangat kekeluargaan. Tentu saya doakan agar Allah ta`alla berikan kelapangan rizki agar bisa punya rumah sendiri, aamiin


Pertanyaan 116
1. Ustadz mau tanya jika menjemput jodoh dengan jalan kontak jodoh apakah di perbolehkan?
Jawab
Boleh, akan tetapi harus diperhatikan kesyar`ian dari biro jodoh ini. Diakui atau tidak, para ustadz dan ustadzah banyak yang menjadi biro jodoh, walau kadang mereka tidak menamakan diri nya dengan hal demikian


2. Mau tanya, apa jodoh itu dalam satu kehidupan satu?
Jawab
Kalau yang dimaksud itu untuk setiap orang, maka jawaban nya tidak, karena kita jumpai ada yang berjodoh 2,3, dan 4


Pertayaan 117
1. Mau tanya ustadz, kalo penghasilan istri lebih besar dari suami atau bahkan istri yang lebih menghidupi keluarga,  apa suami juga harus tetap ngasih nafkah ke istri dari apa yang didapatnya sendiri?
Jawab
Tidak apa-apa, hal tadi tidak menggugurkan kewajiban suami, karena penanggung jawab nafkah keluarga adalah suami


Pertanyaan 118
1. Syarat dalam khitbah bagi lelaki adil tidak menggunakan wali tidak apa-apa, apa benar? lalu bagaimana status bagi sang wanitanya jika sudah dikhitbah namun dalam pengkhitbahan lelaki tersebut tidak bersama wali?
Jawab
Benar, tidak mesti ada wali dari lelaki tadi. Bahwa laki-laki TIDAK PERLU DIDAMPINGI WALI  NYA SAAT KHITBAH, berbeda dengan WANITA YANG HARUS DITEMANI MAHROM, ATAU PALING TIDAK IYA TIDAK BERDUA-DUAAN dengan lelaki tadi, maka itu kondisi nya, saya bawa kan kisah Hafshah untuk memperjelas bahasan, dan status AKHWAT TADI TERKHITBAH, artinya TERLARANG UNTUNG MENERIMA PINANGAN IKHWAN LAIN NYA SAMPAI ADA PEMBATALAN DARI IKHWAN YANG PERTAMA TADI WALLAHU A`LAM
التماس الخاطب النكاح من المخطوبة أو من وليها

“[Khitbah adalah] permintaan menikah dari pihak laki-laki yang mengkhitbah kepada perempuan yang akan dikhitbah atau kepada wali perempuan itu.” (Mughni Al-Muhtaj, 3/135).

Secara umum, kegiatan pelamaran ini dilakukan oleh pihak lelaki kepada pihak wanita, walaupun boleh bagi wali wanita untuk menawarkan walinya kepada seorang lelaki yang dianggap pantas dan baik agamanya. Hal ini sebagaimana dalam kejadian yang terjadi antara tiga manusia terbaik umat ini setelah nabinya, ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma bercerita:
“Tatkala Hafshah bintu ‘Umar ditinggal mati oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah As-Sahmy -beliau termasuk sahabat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang wafat di Medinah-, maka ‘Umar ibnul Khoththob berkata, “Saya mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan lalu saya menawarkan Hafshah kepadanya, maka dia menjawab, “Saya pertimbangkan dulu”, maka sayapun menunggu hingga beberapa malam lalu dia mendatangiku dan berkata, “Telah saya putuskan, saya tidak mau dulu menikah pada saat-saat ini”. Kemudian saya menemui Abu Bakr dan berkata, “Jika engkau mau saya akan menikahkan engkau dengan Hafshah bintu ‘Umar”, maka Abu Bakr diam dan tidak membalas tawaranku, dan sikapnya itu lebih berpengaruh padaku daripada penolakan ‘Utsman. Maka sayapun menunggu selama beberapa malam dan akhirnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melamarnya (hafshah) maka sayapun menikahkannya dengan beliau”.

Jadi, seseorang boleh menawarkan putrinya atau saudara perempuannya untuk dinikahi seorang laki-laki yang shalih dan akhwat tadi status nya terkhitbah dan berlaku hukum berikut bagi diri nya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ فَلاَ يَحِلُّ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَبْتَاعَ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلاَيَخْطُبَ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَذَرَ

“Seorang mukmin itu saudara bagi mukmin yang lainnya tidak halal bagi seorang muslim membeli atas apa yang dibeli saudaranya dan tidak juga mengkhitbah (meminang) pinangan saudaranya hingga dia meninggalkannya.” (HR. Muslim)

2. Mau tanya boleh. Bagaimana menyikapi orang tua yang memilih calon menantu karena latar belakang pendidikan dan pekerjaan?
Jawab
Sebenar nya tidak salah ukhti, hanya mungkin kita harus  luruskan, tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah faktor utama yang jadi pertimbangan yaitu AGAMA, sikapi dengan tetap bijak, bicara dengan santun, tidak perlu berapi-api dengan pendekatan konfrontatif karena dalam kaidah nya : seseorang cenderung "memusuhi" apa yang belum ia ketahui adalah bagi kita ini menjadi kesempatan terbaik untuk dakwah kepada keluarga, unuk memberi pemahaman kepada mereka bahwa AGAMA harus lebih didahulukan. wallahu a`lam

Pertanyaan 119
1. Setelah menikah apakah memang kewajiban istri untuk menyiapkan semua kebutuhan suami nya ustad? Memasak, mencuci, membersihkan rumah menjaga dan mendidik anak. Bagaimana kalau si istrinya juga bekerja. Apakah dengan meminta bantuan asisten rumah tangga akan mengurangi pahalanya? 
Jawab
Pada dasarnya wanita bekerja, beraktifitas tidak mengapa, hanya mungkin perlu diperhatikan kewajiban dia terlebih dahulu kepada suami nya, mungkin kita bisa belajar dari kisah Fatimah ukhti. Dalam kehidupannya yang penuh dengan keterbatasan, tapi disatu sisi beliau anak seorang Nabi shalawatullahi wasalaamuhu alaihi. Fatimah Radhiyallahu anha dan pembantu rumah tangga. Semua urusan rumah tangga diurus sendiri oleh Fatimah Radhiyallahu anha . Ia mengurus anak-anak, menggiling biji-biji gandum lalu mengayaknya untuk membuat adonan roti. Sedangkan sejak kecil Fatimah Radhiyallahu anha sakit-sakitan. Badannya pun kurus karenanya. Ia merasa kelelahan hingga tangannya pecah-pecah akibat terkena alat penumbuk gandum.

Suatu ketika, Fatimah Radhiyallahu anha mendatangi kediaman sang ayah. Kebetulan, sang ayah mendapatkan seorang budak perempuan. Fatimah berpesan pada Aisyah Radhiyallahu anhuma tentang keinginannya mendapatkan pembantu di rumahnya. Aisyah Radhiyallahu anha pun menyampaikannya. Namun bagaimana jawaban Rasulullah?  Beliau mendatangi putrinya, dan berkata dengan perasaan haru. “Maukah kalian kuberi tahu sesuatu yang lebih baik dari yang kamu minta? Bila hendak naik pembaringan, maka bertakbirlah 33 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. Semuanya itu lebih baik daripada seorang pembantu.”

Sejak saat itu, Ali dan Fatimah Radhiyallahu anhuma mengamalkan dzikir tersebut hingga akhir hayat. Tak pernah lagi Fatimah Radhiyallahu anha meminta pembantu. Tak lagi ia mengeluh atas keletihan yang menderanya. Padahal sebagai putri Rasulullah, bisa saja Fatimah Radhiyallahu anha ngotot minta pelayan. Toh, siapa yang berani menolak jika Rasulullah memerintahkan seorang budak untuk membantu Fatimah? Malu pada Sayyidah Fatimah Radhiyallahu anha. Sebagai seorang muslimah, para shahabiyah adalah uswatun hasanah. Kisah Fatimah Radhiyallahu anha adalah tauladan mulia tentang perjuangan dan kebersahajaan. Penolakan Rasulullah atas permintaannya adalah bukti kasih sayang seorang ayah yang menginginkan anaknya menempati derajat mulia di sisi-Nya. Sementara Fatimah sendiri adalah anak sekaligus muslimah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Asalkan Allah dan Rasul-Nya ridha, bergeraklah ia meski bersusah payah sekali pun.

Ukhti, dibanding sayyidah Fatimah Radhiyallahu anha, alangkah nyaman hidup kita sekarang. Tak perlu repot-repot menggiling biji gandum, swalayan bertebaran menyajikan aneka roti yang kita inginkan. Siapalah di antara kita yang masih tidur beralaskan tikar yang koyak? Kasur kapas pun kini terlalu sederhana. Tak perlu repot-repot mencuci gunungan baju kotor, mesin cuci dijual dengan harga yang terjangkau. Pilihan lain? Laundry berdiri di mana-mana, lengkap dengan jasa setrika. Yang tak sempat masak? Catering di mana-mana. Tinggal calling, pesanan pun datang, warung-warung makan pun bersebaran, tinggal pilih mana yang sesuai selera. Tapi, mengapa kita masih sering mengeluh?

“Ah, bosan banget hidup gini-gini terus ngurus rumah. Kapan keluarnya? Bisa jamuran gue lama-lama.”
“Andai saja gaji suamiku lebih besar, hidupku tak akan semalang ini. Mupeng liat temen-teman pada rutin nge-mall L”
“Pusyiiiinggg! Pembantu mudik, jadi rempong deh. Susah amir jadi wanita!”
Yang di kantor pun mengeluh.
“Hadeh … dasar Kabid tukang nyuruh. Satu belum kelar, tugas dah ditambahin lagi! Tugas mulu tugas mulu, kapan naik gaji?!”
“Duh, gak enak banget kerja di sana. Temenku pada resek, tukang gosip, nyebelin bla bla bla …!”
Yang putus cinta, tak kalah nestapa. Hampir tiap menit status Facebook ter-update dengan kata-kata menyayat seolah dunia runtuh tanpa kinasih. Ia kabarkan pada penghuni jagat maya jika hatinya tengah dirambah gundah gulana lir kepedihan Romeo kehilangan Julianya.

Ukhti, terkadang hidup kita rasakan sedemikian berat. Ujian datang silih berganti nirusai. Air mata menjadi teman setia. Hidup kita, berkalang derita. Benarkah? Mari kita bertanya pada nurani, lebih beratkah daripada derita sayyidah Fatimah Radhiyallahu anha? Lebih beratkah daripada perjuangan para shahabiyah? Jika mereka sanggup menjalani hidup yang sedemikian berat, maka merekalah tauladan kita. Kekuatan, keteguhan, kebersahajaan, dan segala kebaikan mereka adalah guru abadi sepanjang zaman. Selama nafas masih di badan, hidup tak akan lepas dari masalah. Masalah berat ataukah tidak, tergantung bagaimana kita memandangnya. Marilah berkaca pada sayyidah Fatimah  Radhiyallahu anha . Ketika beban hidup dipandang sebagai jalan menuju surga atau jalan bagi Allah untuk menaikkan derajat seorang hamba, maka ia tak lagi terasa berat. Kelelahan dan kemiskinan tak  berat dirasa manakala tergantikan dengan dzikir yang kelak menjadikan mereka orang-orang yang kaya di surga. Bagi sayyidah Fatimah Radhiyallahu anha yang berjiwa besar, derita yang berat dipandangnya ringan dibanding pahala yang diraupnya. Di mata orang-orang besar masalah besar terlihat kecil. Dan di mata orang-orang kecil, masalah kecil menjadi besar. Kita, pilih yang mana?

2. Ustad, setelah menjalani biduk rumah tangga bagaimanakah posisi seorang menantu dalam bersikap kepada ibu mertua? Pernah dengar seorang anak lelaki milik ibunya, jadi lebih mendahulukan seorang ibu daripada istrinya, nah posisi istri bagaimana ketika suatu saat terjadi ketidakcocokan dengan ibu mertuanya? Pengalaman adik saya yang udah nikah, ketika curhat sama saya, saya ga bisa jawab
Jawab
Ya benar, sedekat-dekatnya keberadaan seorang anak perempuan dengan orang tuanya, maka setelah berkeluarga, maka berpindah pulalah prioritas bakti dan taatnya kepada suami nya, namun sejauh mana pun seorang anak laki-laki dari orang tuanya, maka ia tetap "anak emak nya". Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)


Pertanyaan 120
1. Ustadz, ana lagi proses dengan salah seorang ikhwan dan ini telah menuju pertemuan keluarga dan menentukan hari, tapi saya masih gelisah, ragu, cemas dan takut. Bagaimana kiat-kiat untuk menenangkan diri?
Jawab
Apa alasan ketidak tenangan nya? padahal kata Allah ta`aala :

ۖ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﺰَﻣْﺖَ ﻓَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﻛِّﻠِﻴﻦَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Ali Imran : 159


2. Kan ada ayat al qur'an yang mengatakan "lelaki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya perempuan yang baik untuk lelaki yang baik juga" Naah...tapi sekarang masih ada yang baik malah dapat yang gak baik. mohon penjelesannya kepada pak ustad
Jawab
Firman Allah ta`aala :
 ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻭْﻻَﺩِﻛُﻢْ ﻋَﺪُﻭًّﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﺣْﺬَﺭُﻭﻫُﻢْ ۚ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻌْﻔُﻮﺍ ﻭَﺗَﺼْﻔَﺤُﻮﺍ ﻭَﺗَﻐْﻔِﺮُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ

"Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." At Taghabuun : 14

Maka ini menjadi ujian bagi suami yang baik tadi, sebagai ujian keimanan nya, jika ia bersabar dan sukses dalam ujian ini, maka Allah mengangkat derajat nya, akan tetapi ada sejumlah orang yang memang dijadikan Allah ta`aala sebagai contoh keburukan untuk orang-orang setelah nya agar bisa mengambil ibroh dalam kehidupan

ﺿَﺮَﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺜَﻼً ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺍﻣْﺮَﺃَﺕَ ﻧُﻮﺡٍ ﻭَﺍﻣْﺮَﺃَﺕَ ﻟُﻮﻁٍ ۖ ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ ﺗَﺤْﺖَ ﻋَﺒْﺪَﻳْﻦِ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻧَﺎ ﺻَﺎﻟِﺤَﻴْﻦِ ﻓَﺨَﺎﻧَﺘَﺎﻫُﻤَﺎ ﻓَﻠَﻢْ ﻳُﻐْﻨِﻴَﺎ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻗِﻴﻞَ ﺍﺩْﺧُﻠَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺪَّﺍﺧِﻠِﻴﻦَ

"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)". At Tahriim : 10

Pertanyaan 121
1. Aku mau tanya disitukan menganjurkan untuk memilih istri yang subur untuk dapat menghsilkan genarasi penerus ummat, nah tapi bagaimana dengan wanita yang mandul berarti itu bukan termasuk dalam kategori wanita-wanita pilihan dan wanita syariat islam dong heheheh
Jawab
Iya, itu tuntunan ideal dari Rasulullah shallallahu alihi wasallam, karena beliau akan berbangga dengan banyak nya umat, dan itu akan didapat dari wanita-wanita yang subur, disamping itu diharapkan generasi itu akan menjadi penerus estafeta peradaban Islam yang agung ini wallahu a`lam

2. Ustadz mau tanya. Kalau anak sudah ingin menikah & merasa mampu, tapi orangtua terlalu kekeh kaya dengan bibit, bebet, bobot bagaimana Ustad?  Sedangkan mereka menyepelekan agama. Apalagi restu orangtuakan termasuk kedalam membantu memperlancar bertemu jodoh ustadz. Syukron 
Jawab
Justru bibit bebet bobot yang terbaik itu ada dalam pernikahan yang berdasarkan agamanya, karena beberapa perkara seputar materi dan kecantikan disamping yang satu bisa dicari maka yang lain bisa "direkayasa" atau dipercantik, tetapi agama adalah modal awal dan bahkan modal segala nya, Abu Hurairah radhiyalloohu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”
[HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022]

Abu Hatim Al-Muzani rodhiyalloohu ‘anhu bahwasanya Rosulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ

“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan.”
[HR. At-Tirmidzi no. 1085, hadits ini derajatnya hasan dengan dukungan hadits Abu Hurairah radhiyalloohu ‘anhu sebelumnya]

Pertanyaan 123
1. Batas taaruf itu berapa hari /bulan yaa ustadz? terus boleh apa tidak kita memberikan photo kita kepada calon suami?
Jawab
Sejatinya tidak ada batasan yang mengikat yang didapat dalam riwayat yang saya ketahui, apakah itu 1,2, atau 3 bulan atau bahkan menahun, hanya saja yang perlu kita ingat bahwa si Fulan atau Fulanah ini belum jadi siapa-siapa kita, baru BALON ( BAKAL CALON), sehingga kita tidak diHalal kan "menggantung" nya tanpa kepastian jawaban, apa yang disebut PHP hari ini semoga dihindari. Islam adalah agama dengan penuh kejelasan, maka sesuatu yang bersifat remang, ketidak jelasan harus dihindari (warung remang-remang aja ditertibkan SATPOL PP), Maka Islam memberikan panduan ISTIKHOROH dan ISTISYAROH (MUSYAWARAH)

Adapun foto, memang ini menjadi temuan baru, karena dizaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam belum ada, namun jika kita lihat mana yang lebih mashlahat antara memberikan foto atau Nadzor (MELIHAT WUJUD BUKAN LEWAN FOTO) maka Rasa nya melihat langsung lebih diutamakan, tentunya syarat dan ketentuan berlaku :) sebab terkadang jika si BALON ini tidak jadi menikah dengan kita, khawatir ia tidak amanah, maka foto menjadi koleksi nya, maka hal ini akan merusak fikiran nya dan menjadi penyakit hati bagi nya, seperti pepatah Arab :

 أَتَانِيْ هَوَاهَا قَبْلَ أَنْ أَعْرِفَ الْهَوَى فَصَادَفَ قَلْبًا خَالِيًا فَتَمَكَّنَا

“Cinta wanita itu mendatangiku sebelum aku mengenal cinta, ternyata cinta itu masuk ke dalam hati sang hamba sehingga mengakar di sana.”

2Bagaimana kita menghadapi orang yang patah hatinya berlebihan. Dan yang kecewa,  ga bisa makan, ga bisa ngapa-ngapain, ga bisa ngelupain si dia sampe 1 tahun lebih, dll kadang kita kasih tau cara yang baik mereka malah bilang coba anti da di posisi kita, kalo menurut ana itu apapun yang kita rasakan kecewaan, sakit hati dll obatnya cuma satu ingat Allah hati akan menjadi tenang. Afwan kalo susunan kata ga bagus.
Jawab
Ya, sangat benar: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." Ar Ra`du : 28


Pertanyaan 124
1. Aku mau tanya nih, ibuku sebenernya udah pernah tuh ngomong gitu, nah cara bilang ke ibu paling baik kalo aku pengen sendiri dulu, pengen ngejar cita-cita dulu gimana ya? biar ibu juga gak jadi kecewa atau gimana gitu, karena ibuku jadi sering kenalin anak temennya ke aku dan sampe sekarang masih terus nanya-nanya tentang laki-laki yang lagi deket sama aku, padahal aku lagi ga mau deket sama laki-laki, nah gimana tuh cara bilanginnya? karena udah berkali-kalo aku kasih tau gitu tapi ibu tetep nanyain kaya gitu
Jawab
Gampang, mudah itu. Turuti kemauannya menikah, jadikan ini sebagai washilah menggapai cita-cita yang kita idam-idam kan, bukan kah kuliah dengan status sudah menikah lebih enak? ada yang dengerin murojaah, ada yang ngoreksi jika salah, ada yang bantuin foto copy, bantu cariin makalah, nganterin ke kampus, nguatin cita-cita  dengan didoain


2. Kalo kita udah merasa siap untuk menikah, tapi calon yang sedang berta'aruf tiba-tiba memutuskan ta'arufan karena telah memilih wanita lain. Nah sejak itu sampe sekarang trauma tersindir jadinya malah jika ada yang ingin berta'arufan hati udah nolak duluan, takut aja tapi kasian juga sama orang tua. Gimana solusi terbaiknya?
Jawab
Solusinya adalah mengimani taqdir baik dan buruk dengan utuh, bahwa kejadian pertama itu adalah bagian dari taqdir yang mungkin "kurang baik" buat kita, sembari terus berhusnudzzon kepada Allah ta`aala bahwa ia menaqdirkan yang lebih baik buat kita. "al khoiru khirootullah (yang terbaik adalah yang Allah pilihkan buat kita)

ۖ ﻭَﻋَﺴَﻰٰ ﺃَﻥْ ﺗَﻜْﺮَﻫُﻮﺍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ۖ ﻭَﻋَﺴَﻰٰ ﺃَﻥْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﺍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﺮٌّ ﻟَﻜُﻢْ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻻَ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Al Baqarah : 216

Pertanyaan 125
1. Assalammualaikum. Mau tanya kalo orang tua melarang menikah dengan pilihan kita dengan alasan pekerjaan/masalah keuangan yang kurang mapan. Apa kita boleh menolak permintaan orang tua kita? dan tetap menikah dengan pilihan kita? Terimaksih
Jawab
Wa`alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Seseorang boleh ditolak pinangannya atau lamarannya dengan alasan syar`i, seperti Aqidah yang tidak sama, keyakinan yang kacau dsb, maka dalam hal penolakan karena alasan harta kurang tepat, tapi memang tugas kita tetap membicarakannya baik-baik dengan orang tua, agar tidak menyinggung hati nya. Dewasa ini kita sering dengar orang tua memberikan syarat untuk calon suami atau istri dengan melihat latar belakangnya, ini tidak mengapa, karena kita butuh akan hal itu untuk membangun peradaban bersamanya kelak. Tidak banyak kendala yang kita dapati, namun jika LATAR BELAKANG yang dimaksud adalah, LATAR NYA berapa METER, dan BELAKANG NYA berapa HEKTAR? ini menjadi keliru. Para ulama berpandangan : "Yang dimaksud dengan sekufu adalah kesetaraan. Artinya ada kesetaraan dan kesamaan antara calon suami dengan calon istri dalam hal-hal tertentu. Misalnya sekufu dalam hal harta artinya kekayaan calon suami itu kurang lebih setara dengan kekayaan istri. Kesetaraan yang disepakati ulama bahkan menyebabkan pernikahan tidak sah jika kesetaraan ini tidak diperhatikan adalah kesetaraan dalam agama. Setara dalam agama artinya agama calon suami dan istri itu sama. Seorang muslimah hanya setara dengan seorang muslim. Para ulama sepakat bahwa seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir.
Sedangkan kesetaraan dalam masalah yang lainnya diperselisihkan oleh para ulama, apakah perlu diperhatikan ataukah tidak. Pernikahan yang tidak dilandasi oleh kesetaraan (selain sekufu dalam agama dan menjaga kehormatan) itu tidaklah haram. Setelah Allah menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi, Allah berfirman,

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ

“Dan dihalalkan bagi kamu perempuan selain itu (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina …” (QS An Nisa:24).

Dampak negatif pernikahan yang tidak dilandasi kesetaraan adalah timbulnya dampak bagi pihak perempuan dan walinya. Kalau seandainya pihak perempuan dan walinya ridha dengan aib yang ditanggungnya maka akad nikah sah. Demikianlah pendapat ulama yang beranggapan bahwa sekufu dalam selain masalah agama adalah masalah yang urgen. Dalil ulama yang berpendapat adanya sekufu dalam masalah harta adalah sebagai berikut:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ ».فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ « انْكِحِى أُسَامَةَ ». فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ بِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Qais tentang dua orang yang telah melamarnya, “Abu Jahm adalah orang yang suka memukul istrinya. Sedangkan Muawiyah adalah orang yang tidak berharta. Menikahlah dengan Usamah”. Sebenarnya aku tidak suka dengan Usamah namun sekali lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menikahlah dengan Usamah”. Ahirnya aku menikah dengannya. Dengan sebab tersebut Allah memberikan kebaikan yang banyak sehingga aku merasa beruntung (HR Muslim no 3770 dari Fathimah binti Qois).


عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا هَذَا الْمَالُ 

Dari Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kemulian orang yang hidup di dunia adalah dengan harta” (HR Ahmad no 23109, sanadnya kuat menurut Syeikh Syuaib Al Arnauth).

Di antara dalil yang digunakan oleh para ulama yang berpendapat bahwa sekufu dalam harta itu tidak teranggap adalah hadits dalam Shahih Bukhari. Dalam riwayat tersebut disebukan bahwa Zainab, isteri Abdullah bin Mas’ud meminta izin kepada Rasulullah untuk memberikan sedekah kepada suaminya. Kejadian ini menunjukan bahwa Zainab itu jauh lebih kaya dibandingkan Ibnu Mas`ud Radhiyyallahu anhu . wallahu a`lam bisshowaab

2. Assalamu'alaikum ustadz, bagaimana sikap dan jawaban kita ketika keluarga saudara, temen bertanya kapan menikah? kenpa belum menikah? terlalu pilih-pilih kali? kriteria terlalu tinggi dan sebagaimananya karena setiap manusia baik laki-laki dan perempuan pasti ingin menikah. mohon di jawab ustadz
Jawab
Segera in sya Allah, mohon doa nya, calon nya sudah ada sembari ukhti juga berikhtiar lewat munajat doa-doa ikhlas diwaktu-waktu mustajabah, dan meminta bantuan kepada pihak-pihak yang kita anggap berkompeten dalam hajat kita ini, yang boleh jadi pihak tersebut adalah yang bertanya kepada kita tadi


Pertanyaan 126
1.  Menikah itu seharusnya kita ketahui seperti apa? Dan untuk memilih calon khususnya kita sebagai akhwat itu bagaimana? Syukron 
Jawab
  • Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmidzi)
  • Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya. (Ath-Thalaq: 7)
  • Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
  • Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
  • Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
  • Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
  • Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
  • Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
  • Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
Namun suami tetap harus memprioritaskan orang-orang yang menjadi tanggungan nya langsung terlebih dahulu, Rasulullah bersabda : Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika haji wada’,

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Kewajiban kalian bagi istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf” (HR. Muslim no. 1218).

Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti ‘Utbah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Dia tidak memberi untukku dan anak-anakku nafkah yang mencukupi kecuali jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

“Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364).



2. Saya juga mau bertanya. Ini kisah temanku beliau minta solusi. Pertanyaan dia sudah menikah saya kurang tau permaslahannya suaminya minta bercerai sedangkan dia tidak mau karena mengingat anak-anaknya, apa solusinya? Apa dia harus mengiyakan proses perceraiian tersebut? mohon penjelasnya. Apa kah berdosa apa bila dia mengiyakan percaraian tersebut? Terus Ustadz ana mau tanya, apa saja kewajiban istri kepada suaminya?
Jawab
Sebenarnya tidak ada harus di-iya kan istri, sebab Talaq itu ditangan suami, yang mana candanya jadi seriusnya juga demikian, maka yang ada kata di-iya kan adalah jika itu pengajuan cerai dari Istri kepada Suami nya, namun perlu diingat oleh para suami, jika kita menceraikan istri tanpa ada alasan yang syar`i, kita akan ditanyakan kelak di Akhirat, dan perlu diingat juga bahwa talaq adalah perkara HALAL namun PALING DIBENCI ALLAH TA`AALA

Adab Isteri Kepada Suami
  • Hendaknya istri menyadari dan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
  • Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
  • Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
  • Menyerahkan dirinya,
  • Mentaati suami,
  • Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
  • Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
  • Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali). Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih). Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
  • Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
  • Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi). Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
  • Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
  • Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
  • Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
> Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
> Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
> Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)

Pertanyaan 127
1. Apa kewajiban ayah dan ibu pada anaknya yang ingin menikah? Terus, apa maksud dari kata khiar dalam suatu perkawinan ? Syukron
Jawab
Menyegerakan pernikahan dan mempermudahnya, karena itu kewajiban orang tua, yaitu menikahkan anaknya dengan pasangan yang sholih atau sholihah. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, "Tidak ada khiyar (pilihan) dalam pernikahan menurut kami, kecuali karena empat perkara : bila mulut kemaluannya bertulang sehingga tidak dapat disetubuhi kapan pun. Ini penghalang untuk bersenggama yang karenanya kebanyakan orang tidak ada yang menikahinya. Jika wanita itu ratqa' (kemaluannya rapat), tapi ia dapat menyenggamainya pada suatu keadaan, maka tidak ada khiyar baginya. Atau ia mengobati dirinya sehingga bisa disenggamai, maka tidak ada khiyar bagi suami dan jika ia tidak mengobati dirinya, maka ada khiyar baginya, jika tidak dapat menyenggamainya pada suatu keadaan. 

Demikian pula sekiranya wanita itu mempunyai qarn (daging yang tumbuh di kemaluan yang menyerupai tanduk) tetapi ia dapat menyetubuhi-nya, maka saya tidak menjadikan khiyar untuknya. Tetapi seandainya qarn menghalangi senggama, maka hal itu seperti ratqa'. Atau ia terserang penyakit lepra, belang atau gila. Tidak ada khiyar untuk penyakit lepra hingga penyakit ini jelas, dan ada khiyar untuknya dalam penyakit belang karena penyakit ini nyata, baik penyakit belang itu sedikit ataupun banyak. Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan: "Siapa pun laki-laki yang menikahi wanita lalu mendapati padanya penyakit belang, gila atau lepra, maka wanita tersebut berhak mendapatkan maharnya karena ia telah menyetubuhinya. Dan mahar itu ditanggung oleh orang yang telah menipunya untuk menikahi wanita itu.”

Diriwayatkan dari Husyaim, dari ‘Ali, ia mengatakan: "Siapa pun laki-laki yang menikahi wanita, lalu ia mendapatinya gila, lepra atau belang, maka ia adalah isterinya; jika mau, ia boleh menceraikannya dan jika suka, ia boleh menahannya (sebagai isteri)." Asy-Syafi’I rahimahullah berkata, "Gila itu ada dua macam (sementara dan permanen), dan dia (suami) mempunyai khiyar pada dua keadaan itu sekaligus."

Al-Baihaqi rahimahullah meriwayatkan dalam bab: “Aib-Aib yang Ter-dapat dalam Pernikahan,” dari Jabir bin Zaid: “Ada empat perkara yang tidak dibolehkan dalam jual beli dan pernikahan: wanita gila, wanita berpenyakit lepra, wanita berpenyakit belang dan wanita yang kemaluannya mengeluarkan busa.”

Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, "Jika diketahui sebelum bersetubuh, maka baginya khiyar. Jika ia memilih untuk menceraikannya, maka wanita ini tidak mendapatkan mahar maupun harta. Jika ia memilih menahannya setelah mengetahuinya, atau menikahinya padahal ia mengetahuinya maka tidak ada khiyar untuknya

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Pasal kedua mengenai aib-aib yang membolehkan fasakh (pembatalan pernikahan): Aib-aib tersebut -sebagaimana disebutkan al-Kharqi- ada sembilan: tiga terdapat pada pria dan wanita yaitu: gila, lepra dan belang. Dua aib khusus pada laki-laki yaitu: jub (terkebiri) dan ‘anah (impotensi). Tiga aib khusus pada wanita yaitu: ‘itq, qarn dan al-‘afl.

Diriwayatkan dari Abu Hafsh, bahwa al-‘afl itu seperti buih dalam vagina (kemaluan wanita) yang menghalangi kenikmatan bersenggama. Dan ini adalah aib yang nyata. Pembatalan nikah dikhususkan dengan aib-aib ini, karena mengahalangi kenikmatan yang dituju dari pernikahan. Sebab, lepra dan belang dapat membangkitkan rasa jijik dalam diri, sehingga menghalangi untuk mendekatinya dan dikhawatirkan dapat menulari diri sendiri dan keturunan. Abu Bakar dan Abu Hafsh berkata: ‘Jika salah satu dari keduanya tidak dapat menahan air seni atau kotorannya, maka yang lainnya berhak khiyar.

2. Bagaimana jawaban yang bijak untuk kedua orang tua yang mengingatkan anaknya segera menikah dilihat dari umur sudah 26 tapi si anak masih ingin bertekad menuntut ilmu agama?
Jawab
Menjawab nya dengan kata : SIAAAAAAAAP AYAH..... NANDA SIAP MENIKAH, karena menikah lebih menjaga diri, agama, muru`ah, dan lebih menambah SEMANGAT dalam tholabul ilmi syar`

Pertanyaan Extra
1. Assalamualaikum, aku mau tanya bagaimana caranya bisa menjelaskan kepada orang tua saat ditanya kapan kamu siap menikah? Dan bawa calonmu ke bapak padahal saat itu calon pun tidak ada.
Jawab
Wa`alaikumussalam, jawab dengan baik : "pak, sudah ada kok calonnya, kapan bapak siap nya? nanti nanda minta ia datang
#sambil minta tolong ke ustadzah agar dicarikan ikhwan solih :)

2. Kalo sudah bertungangan dan memberi "hantaran", lalu si wanita membatalkan pertungangan itu kalau dalam adat kan si wanita harus mengembalikan hantaran itu 2x lipat, nah bagaimana kalo dalam agama kita ust ? Cuz until now si wanita tak pernah mengungkit tentang hantaran itu dengan si pria.
Jawab
gpp, itu kan cuma urf

Tanggapan
Maksudnya gimana ust? Jadi hantaran si lelaki tadi gimana? Apa si lelaki itu mengikhlaskan? 
Jawab
gpp, kan cuma urf aje, kite-kite orang betawi bilang nye hantaran tadi buat ngetok pintu, kalo ampe diminta lagi name nye "Borok Sikutan" kalo disunda mah eta namina pamali

Alhamdulillah selesai juga. Alhamdulillah alladzi bini`matihi tatimmus sholihat.

PENUTUP
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa'atubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment