Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

IKATAN AQIDAH DAN UKHUWAH LEBIH KUAT DARI IKATAN DARAH

Kajian Online Telegram Hamba الله Ta'ala

Hari / Tanggal : Sabtu, 20 Desember 2014
Narasumber : Ustadzah Ira Wahyudiyanti
Notulen : Ana Trienta

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Bagaimana kabarnya hari ini para penghuni sekalian? Semoga Allah berikan kesehatan, kebahagiaan dan ketenangan dalam hatinya yaa...

Kajian ini mari kita sama-sama perbaharui niat kita, menguatkan niat dan melandasi langkah kita dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala. Mari kita sama-sama hadirkan hati dan pikiran untuk mencari ilmu, semoga dapat menguatkan keimanan dan membuahkan amal shaleh.

Ikatan Aqidah dan Ukhuwah Lebih Kuat Dari Ikatan Darah 
Puisi Oleh Adi Victoria, Aktivis Pejuang Khilafah

Bersaudara tak mesti sedarah…
Bersaudara tak harus serumah…
Bersaudara bukan soal daerah…
Karena persaudaraan yang benar adalah atas dasar ukhuwah islamiyyah…
Kita dipersaudarakan oleh Allah yang kita sembah…
Kita bersaudara karena Rasulullah yang menyampaikan hidayah…
Adakah persaudaraan yang lebih indah dari persaudaraan karena Allah?

”sebuas-buasnya harimau tak akan makan anak sendiri.” mungkin kita sudah tidak asing dengan pepatah di atas. Sang raja hutan yang terkenal buas yakni harimau tidak akan memakan anaknya sendiri, bahkan dia akan rela mati-matian untuk melindungi anaknya sendiri. Hal ini seolah menunjukan betapa kuatnya ikatan biologis dari harimau dan anaknya tersebut.

Pun demikian hal nya dengan manusia. Kedua orang tua tentu akan melindungi dan mendidik buah hati mereka agar menjadi manusia yang berguna bagi manusia sekitarnya. Hal ini karena adanya ikatan yang mengikat diantara mereka, yakni ikatan darah, atau ikatan biologis. Namun, ikatan tersebut bukanlah ikatan yang kuat. Bukanlah ikatan yang sempurna. Bagaimana kita bisa melihat fakta di masyarakat banyaknya anak yang tidak lagi menurut kepada keyakinan orang tuanya ketika dia berpindah keyakinan.

Dalam sirah nabawiyah pun kita bisa melihat bagaimana sahabat yang lebih memilih Islam sebagai aqidah yang mengikat diri mereka, daripada keluarga, meskipun keluarga mereka sendiri bersumpah akan memutuskan silaturahim tali keluarga!

Lihatlah bagaimana sosok mus’ab bin umar sang muqarri’ madinah, yang lebih memilih Islam daripada keluarga nya. Ia rela hijrah ke Madinah, menjadi duta Rasulullah saw untuk menyampaikan risalah Islam di kota tersebut. Mush’ab bin Umair bukan sembarang lelaki. Ketika di masa jahiliyyah, ia dikenal sebagai pemuda dambaan kaum wanita. Ia adalah seorang pemuda ganteng yang dikenal sangat perlente. Bila ia menghadiri sebuah perkumpulan ia segera menjadi magnet pemikat semua orang terutama kaum wanita. Gemerlap pakaiannya  dan keluwesannya bergaul sungguh mempesona. Namun sesudah memeluk Islam, ia berubah sama sekali.

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal–tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka – pakaiannya sebelum masuk Islam – tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi. Adapun Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia seraya bersabda :  “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”


Atau kita bisa melihat bagaimana kuatnya ikatan yang mengikat antar masing-masing sahabat Nabi Muhammad saw. Lihatlah bagaimana meleburnya sahabat Abu Bakar yang Arab dengan Salman yang berasal dari Persia dengan Bilal yang orang Ethiopia dengan Shuhaib yang berasal dari bangsa Romawi. Mereka menjalin al-ukhuwwah wal mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) yang menembus batas-batas suku, bangsa, warna kulit, asal tanah-air dan bahasa. Itulah ukhuwah Islamiyyah yang terpancar dari ikatan aqidah.

Jagalah Ukhuwah Wahai Para Ikhwah
Namun memang, ada hal yang bisa merusak dan memperlamah ikatan aqidah itu sendiri yakni hilangnya rasa ukhuwah di antara para ikhwah. Hal ini bisa karena faktor urusan personal ataupun hal tehnis. Namun sejatinya, ketika seseorang memahami makna dari sebuah ikatan aqidah itu sendiri maka sejatinya ia faham bahwa ukhuwah merupakan satu diantara pilar-pilar yang memperkokoh ikatan aqidah itu sendiri. Terkadang kita menyaksikan para ikhwah yang saling caci ataupun cerca ketika berdiskusi, yang tadi nya ingin mencari kebenaran maka beralih untuk mencari pembenaran akan pendapat masing-masing.


Dalam diskusi tentang dakwah, berdiskusi dengan harokah dakwah lain. Apakah kita telah berdiskusi secara ahsan? Apakah kita telah berdiskusi dalam rangka mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran? Apakah diskusi yang kita lakukan tidak dalam membuka aib lawan diskusi kita karena telah kalah hujjah? Sebagaimana kata seorang ikhwah : “ketidak milikan hujjah seseorang dalam berdiskusi, maka orang tersebut akan akan menyerang dari sisi selain hujjah lawan diskusinya” Atau tatkala kita membuka aib saudara kita sesama muslim hanya karena faktor ketidaksukaan kita kepadanya. Na’udzubillahi mindzalik.
Ingatlah sabda Nabi kita Muhammad saw: “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya untuk ditanggungkan kepadanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a].
Hadist diatas menggambarkan kepada kita, bahwa tatkala kita tidak meminta maaf kepada orang yang kita rasa pernah kita sakiti,baik secara fisik maupun non fisik (kata-kata),maka wajiblah kita untuk meminta maaf. Jika tidak, maka kelak semua amal shalih kita akan diambil untuk menghilangkan dosa dari menganiaya tersebut sesuai kadarnya, dan jika kita tidak punya sama sekali amal shalih atau kebaikan, maka kita akan mendapatkan tambahan kejahatan dari orang yang kita aniaya tersebut, sehingga semakin membertakan timbangan dosa kita di yaumul mizan kelak, yakni hari dimana dilakukan pertimbangan amal baik dan buruk.


Semua orang tentu mempunyai aib. Dan tentu pula ia tidak mau orang lain tahu akan aib yang dimiliki. Bisa dibayangkan jika orang tersebut aibnya dibuka oleh orang lain, diceritakan dibelakang dia, atau semisal ditayangkan di televise sebagaimana hiburan infotainment di TV. Padahal Allah SWT menyuruh kita untuk menutupi aib saudara kita sendiri.
“Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya. Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Allah akan menyelimuti mereka, dan Allah memuji mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya. Barang siapa amalnya lambat, maka tidak akan disempurnakan oleh kemuliaan nasabnya.” (HR Muslim)
Maka, berfikirlah sebelum berkata, berfikirlah sebelum berbuat. Bayangkan bahwa dia adalah kita. Posisikan kita sebagai dia. Posisikan kita yang aibnya di buka ataupun perasaannya di sakiti tatkala kita melontarkan perkataan atau kalimat yang itu membuat hati menjadi tersakiti.


Bagi para hamilud dakwah, berdakwahlah dengan cara yang makruf. Bukan hanya berusaha menjaga perasaan hati para mad’u kita, namun juga menjaga perasaan saudara kita walaupun berbeda harokah dakwah. Berfikirlah sebelum berkata, dan berfikirlah sebelum berbuat.

Dalam sebuah riwayat yangdiketengahkan oleh Imam at-Tirmidzi dijelaskan bahwa kunci untuk meraih keluhuran jiwa adalah menjaga lisan. Mu’adz ra berkata, Saya bertanya kepada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah beritahukan kepada saya amal perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam sorga dan menjauhkan dari neraka?” Beliau bersabda: “Kamu benar-benar menanyakansesuatu yang sangat besar. Sesungguhnya hal itu sangat mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah SWT, yaitu: Hendaklah kamu menyembah kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatuapapun, mendirikansholat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah bila kamu mampu menempuh perjalanannya.”
Selanjutnya, beliau bersabda, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, shadaqah dapat menghilangkan dosa seperti halnya air memadamkan api, dan sholat seseorang pada tengah malam.” Beliau lantas membaca ayat yang artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, serta mereka menafkahkan sebagian rizki yang telah Kamiberikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu bermacam-macam nikmat yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Lalu, beliau bertanya kembali, “Maukah engkau aku tunjukkan pokok dan tiang dari segala sesuatu dan puncak keluhuran?” Saya berkata, “Baiklah ya Rasulullah.” Rasulullah Saw berkata, “Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncak keluhurannya adalah berjuang di jalan Allah.”Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan tentang kunci dari kesemuanya itu?” Saya menjawab, “Tentu ya Rasulullah.” Beliau lantas memegang lidahnya seraya berkata, “Peliharalah ini.” Saya berkata, “Ya Rasulullah, apakah kami akan dituntut atas apa yang kami katakan?” Beliau bersabda “Celaka kamu, bukankah wajah manusia tersungkur ke dalam neraka, tidak lain karena akibat lidah mereka?” [HR. at-Tirmidzi].
Mengambil Ibrah Dari Sahabat Rasulullah saw
Dahulu, dua sahabat Rasulullah saw. pernah bertengkar keras.  Abu Dzar al-Ghifari ra. pun sampai kelepasan menyebut Bilal ra. sebagai anak si hitam.  Ketika Rasulullah saw. menegurnya dengan keras, barulah Abu Dzar ra. menyesal bukan kepalang, hingga ia taruh pipinya di atas tanah dan minta Bilal ra. menginjak wajahnya asalkan ia bisa memaafkannya.  Pada akhirnya Bilal ra. tak pernah menginjak wajah saudaranya, dan cerita itu berakhir dengan bahagia.  Hal-hal yang kita anggap konyol, tidak perlu, tidak etis, tidak profesional dan tidak pantas dilakukan oleh para aktifis dakwah pun pernah terjadi pada generasi sahabat Rasulullah saw.  Ingatkah bagaimana Nabi Musa as. dikuasai oleh amarah kepada kaumnya hingga ia menarik rambut Nabi Harun as.?  Demikianlah amarah sesaat bisa membuat segala bangunan ukhuwwah yang sudah dibangun lama menjadi rusak.  Efeknya bahkan bisa menjadi permanen bila tidak segera ditanggulangi.


Sudahkah Anda mendengar kisah pertengkaran dua orang sahabat paling mulia, yaitu Abu Bakar ra. dan ‘Umar ra.?  Suatu hari Abu Bakar ra. datang kepada Rasulullah saw. dan langsung duduk merapat dengannya.  Ia bercerita bahwa antara dirinya dan ‘Umar ra. baru saja terjadi pertengkaran.  Ia terlanjur marah dan kemudian menyesal. Permintaan maafnya ditolak oleh ‘Umar ra., maka Abu Bakar ra. pun mengadu pada Rasulullah saw.  Beliau menenangkan Abu Bakar ra. dengan mengatakan bahwa Allah telah mengampuninya.  Setelah Abu Bakar ra. pergi, datanglah ‘Umar ra. menemui Rasulullah saw. yang saat itu sedang menyimpan amarah sehingga nampak jelas pada wajahnya.  Beginilah ucapan Rasulullah saw. saat itu: “Sesungguhnya Allah mengutus aku kepada kalian, dan kalian mengatakan ‘Kamu pendusta’, sedangkan Abu Bakar mengatakan ‘Dia orang yang jujur’, dan dia mengorbankan diri dan hartanya!”  Sadarlah ‘Umar ra. akan kesalahannya karena telah memperpanjang perselisihan dengan sahabat yang paling dicintai Rasulullah saw.  Setelah itu, Abu Bakar ra. tak pernah disakiti lagi.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah diantara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat Rahmat.”(T.Q.S Al hujurat 49:10)

Wallahu A’lam bis showab.
tafadhdhali ya ukhtina...

DISKUSI DAN TANYA JAWAB
1. Gimana caranya menahan amarah dengan seseorang yang keras kepala? bahkan terkadang sering saya mengeluarkan kata-kata kasar tapi dia tetap ngotot gak mau nurut.
Jawab : 
ini tips bagi emosi yang akan naik dalam kondisi apapun
> Pertama kalau marah cepet-cepet baca ta'awuz
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)


> Kedua, DIAM dan jaga lisan
Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).


> Ketiga, mengubah posisi tubuh menjadi lebih rendah
Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul atau melakukan tindakan lebih dari itu yang bisa menyebabkan dia sangat menyesali perbuatannya akibat marahnya itu. Luka fisik bisa hilang namun Kata-kata yang buruk akan membekas di hati orang selamanya

Ingatlah 3 Hal yang tidak bisa ditarik kembali.
> 1. Ruh yang telah berpisah dari jasad.
> 2. Kata-kata kasar/buruk yang sudah terucap
.> 3. waktu/Kesempatan yang di sia-siakan


2. Gimana cara nyikapin sodara yang sering banget bikin kesel ummii, padahal saya sudah coba untuk diam bila dia buat ulah tapi nanti begitu lagi
Jawab :
Memang bikin kesalnya bagaimana? Kalau saudaranya masih kecil ya kita harus memahami sifat dunia anak-anak mereka, tapi kalau sebaya atau sudah baligh alangkah baiknya kita nasehati, kalau kita ndak suka dengan sikapnya yang bikin kita kesel, jelasinnya jangan pake emosi ya ukhti, harus pake perasaan. In sya Allah kalau misal masih seperti itu juga.. ingatkan lagi. Hehe. Kalau udah di ingetin masih juga, sabar selalu dan senyumin aja ya. Sabar itu akan berakhir dengan indah. Jangan lupa berdoa agar diluaskan dan di kuatkan sabar

3. Ustadzah dahulu  seringkali saya bersahabat sangat dekat. Kami banyak melakukan kegiatan dan bepergian bersama. Dekat sekali. Sampai beberapa sahabat saya sulit untuk memahami diri saya yang supel dan mudah bergaul dengan banyak orang. Jadi seringkali saya merasa diatur dan dimonopoli. Sulit bagi saya untuk berteman dengan orang lain juga. Disatu sisi saya tipe orang yang bebas dan mandiri. Ada atau tidak ada teman saya akan tetap jadi diri sendiri. Diawal saya coba mengimbangi tapi kadang kala saya merasa lelah dan akhirnya saya bersikap berbalik dari sebelumnya karena tidak nyaman dengan sikap sahabat-sahabat saya yang hampir semuanya begitu tiap kali saya bersahabat. Apa yang salah ya ustadzah dari persahabatan saya ini?
Jawab :
MasyaAllah. Sebenarnya tidak ada yang salah, bersahabat pada siapa saja di perbolehkan selama akrabnya sesama muhrim. Akan tetapi yang jadi kendala adalah cobalah kita memahami diri kita sndiri.. Dekat dengan sahabat boleh saja. Tapi jangan sampai saat kita merasa tidak nyaman sama sahabat kita, lalu kita langsung berubah sikap, dan agak menjauh, bukan seperti itu yang dinamakan menjaga ukhuwah. Kita harus jaga perasaan sahabat kita kita harus mengerti dan belajar mengerti karakter tiap orang berbeda-beda, kita ga bisa memaksakan orang lain membuat kita nyaman sesuai dengan yang kita harapkan, justru kita sendiri yang harus memulai agar siapapun yang bersahabat kita merasa nyaman. Alangkah baiknya lagi, kalau kita ngerasa ga nyaman ama sikap sahabat kita, alangkah baiknya di nasehati baik-baik di jelaskan baik-baik jangan malah kita ngingetinnya dengan sikap kita yang berubah


4. Tadi arin diatas sekilas baca. Kalau kita nyakitin seseorang, nanti amal shalih yang kita akan diambil untik menghilangkan dosa dari menganiaya tersebut, dan jika kita tidak punya sama sekali amal shalih atau kebaikan maka akan mendapatkan tambahan kejahatan dari orang yang kita aniaya. Tapi, arin juga pernah dengar bahwasanya transfer (istilahnya transfer ) dosa atau amal shalih itu gak bisa. Hanya doa. Itupun dari seorang anak yang shalih/ah.  Mohon dijelaskan ustdzah. Awam sekali ni.
Jawab :
Hadistnya sudah jelas ukhti Arin sholihah. Ini tambahan hadis terkait pertanyaan tentang kebaikan yang hilang dari orang yang melakukan keburukan kepada kita ya. Sabda Nabi Saw : 
“Enam perkara yang bisa melebur amal kebaikan : sibuk mencari keburukan / aib orang lain, keras hati, terlalu cinta dunia, sedikit rasa malu, panjang lamunan / khayalan dan kedhaliman yang tidak pernah berhenti ” (Hadis Riwayat- Ad-Dailami dari Adi bin Hatim )
5. Bunda  jika kita di puji,,di hati kita ada rasa bangga dan senang. Apakah  itu tanda kesombongan?
Jawab 
Bisa menjadi titik noda kesombongan dalam hati, mba, karena kan segala yang kita mampu atau miliki itu hanyalah semata-mata karena belas kasih Allah terhadap kita. jadi sangat tidak patut kita mengakui apa yang bukan menjadi milik kita walau hanya sebaris pujian

6. Kebetulan saya lagi program hamil penantian 2th.mungkin ikhtiar saya baru seujung kuku tapi kali ini saya akan lebih fokus ke allah. Maaf saya memang sangat kurang pengetahuan tentang agama, sekitar 2 mingguan ini saya rutin shalat dhuha 2rakaat. Rakaat pertama sya menggunankan surat an nas karna surat dhuha bagiku trlalu panjang.heeee sudah mulai hafal sih. Nah yang aku tanyakan tentang surat hajat dan taubat.setelah baca al fatihah ,lalu saya baca surat apa yaah? Bagaimana kalo kita shalat taubat langsung shalat hajat dalam 1x waktu,apakah itu di perbolehkan? Waktu kapan yang tepat untuk melaksanakan shalat tersebut. Terimakasih.
Jawab
Kalau solat taubat di lakukan secepatnya, kita kan ga tau sampai d mana umur kita, bacaannya tidak ada ayat tertentu, yang terpenting memperbanyak istighfar dan induk istighfar setelah di lakukan keesokannya juga memperbanyak sedekah

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ


"Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah : 271)

Untuk sholat hajat waktu yang afdhol adalah di sepertiga malam (waktu yang mustajab untuk berdoa) baiknya bertaubat dulu baru kemudian meminta hajat

Baik mungkin sampai di sini dulu ya sharingnya
Ana tutup dengan hadist tentang sahabat yaaa

SAHABAT YG BAIK


 ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻔﺎﺭﻭﻕ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : "ﻣﺎ ﺃﻋﻄﻲ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻧﻌﻤﺔ.. ﺧﻴﺮﺍﹰ ﻣﻦ ﺃﺥ ﺻﺎﻟﺢ، ﻓﺈﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻭﺩﺍﹰ ﻣﻦ ﺃﺧﻴﻪ ﻓﻠﻴﺘﻤﺴﻚ ﺑﻪ."

Umar Ibn Khathab r.a., berkata, "Tidak ada nikmat yang diberikan kepada seorang hamba setelah Islam yang lebih baik dari sahabat yang soleh, maka apabila salah seorang dari kalian telah mendapatkan cinta dari sahabat solehnya, hendaklah ia menggenggamnya dengan kuat

 ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ: " ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻟﻚ ﺻﺪﻳﻖ - ﻳﻌﻴﻨﻚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ - ﻓﺸﺪ ﻳﺪﻳﻚﺑﻪ؛ ﻓﺈﻥ ﺍﺗﺨﺎﺫ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺻﻌﺐ ﻭﻣﻔﺎﺭﻗﺘﻪ ﺳﻬﻠﺔ .."

Imam Syafi'i berkata, "Apabila engkau memiliki sahabat yang mengingatkanmu pada ketaatan, maka genggamkanlah kedua tanganmu erat-erat kepadanya! karena mendapatkan sahabat itu sulit, sedang meninggalkannya mudah

 ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ :ﺇﺧﻮﺍﻧﻨﺎ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻨﺎ ﻭﺃﻭﻻﺩﻧﺎ، ﻷﻥ ﺃﻫﻠﻨﺎ ﻳﺬﻛﺮﻭﻧﻨﺎ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺇﺧﻮﺍﻧﻨﺎ ﻳﺬﻛﺮﻭﻧﻨﺎ ﺑﺎﻵﺧﺮﺓ، ﻭﻣﻦ ﺻﻔﺎﺗﻬﻢ: ﺍﻹﻳﺜﺎﺭ

Hasan Al-Basri berkata, "Kami lebih mencintai sahabat-sahabat kami dari istri dan anak-anak kami, karena keluarga kami mengingatkan kami akan dunia, sedang sahabat kami mengingatkan akan akhirat, dan diantara sifat mereka adalah itsar

 ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻘﻤﺎﻥ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﻻﺑﻨﻪ :ﻳﺎﺑﻨﻲ؛ ﻟﻴﻜﻦ ﺃﻭﻝ ﺷﻲﺀ ﺗﻜﺴﺒﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺃﺧﺎ "ﺻﺎﺩﻗﺎ"ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻣﺜﻠﻪ ﻛﻤﺜﻞ " :ﺷﺠﺮﺓ" ، ﺇﻥ ﺟﻠﺴﺖ ﻓﻲ ﻇﻠﻬﺎ ﺃﻇﻠﺘﻚﻭﺇﻥ ﺃﺧﺬﺕ ﻣﻨﻬﺎ ﺃﻃﻌﻤﺘﻚ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻨﻔﻌﻚ ﻟﻢ ﺗﻀﺮﻙ 

Luqman yang bijak menasehati anaknya. Dia berkata, "Wahai putraku.. hendaklah perkara pertama yang engkau cari setelah iman kepada Allah, adalah sahabat yang jujur. Sesungguhnya sahabat yang jujur itu seperti pohon yang rindang. Jika engkau duduk di bawah naungannya, dia akan menaungimu, jika engkau mengambil sesuatu darinya, dia akan mengenyangkanmu dan jika dia tidak bermanfaat bagimu, dia tidak mencelakakanmu

ﻣﺮﺽ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺫﺍﺕ ﻳﻮﻡ ﻭﻻﺯﻡ ﺍﻟﻔﺮﺍﺵ، ﻓﺰﺍﺭﻩ ﺻﺪﻳﻘﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪ ﺃﺻﺎﺑﻪﺍﻟﺤﺰﻥ ... ﻓﻤﺮﺽ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻳﻀﺎ

Satu hari, saat imam Ahmad -rahimahulla- menderita suatu penyakit yang menyebabkannya tidak dapat bangkit dari kasurnya, sahabat baiknya, imam Asy-Syafi'i -rahimahullah- datang menjenguknya. Ketika imam Syafi'i melihat kondisi penyakit yang dialami sahabatnya, beliau sangat bersedih... hingga akhirnya beliau pun jatuh sakit.


ﻓﻠﻤﺎ ﻋﻠﻢ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﺬﻟﻚ .ﺗﻤﺎﺳﻚ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺫﻫﺐ ﻟﺮﺅﻳﺔ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ - ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺁﻩ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻗﺎﻝ ﻣﺮﺽ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻓﺰﺭﺗﻪ ﻓﻤﺮﺿﺖ ﻣﻦ ﺍﺳﻔﻲ ﻋﻠﻴﻪﺷﹹﻔﻲ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻓﺰﺍﺭﻧﻲ       ﻓﺸﹹﻔﻴﺖ ﻣﻦ ﻧﻈﺮﻱ إليه

Saat imam Ahmad mengetahui berita itu, beliau menguatkan dirinya dan sgr pergi menjenguk imam Syafi'i ke rumahnya. Ketik imam Syafi'i melihatnya datang, beliau berkata, "Saat sahabat baikku sakit, aku datang menjenguknya, hingga aku pun sakit karena kesedihanku akan keadaannya. Kini.. sahabat baikku telah sembuh dan datang menjengukku. Sungguh.. saat ini aku pun telah merasa sembuh karena melihat keadaannya


ﺍﻟﻠﻬﻢ.. ﺍﺭﺯﻗﻨﺎ ﺍﻟﺼﺤﺒﺔ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ..!

Ya Allah.. karuniakanlah pada kami sahabat-sahabat yang baik!

ﺍﻟﻤﺤﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ.. ﻧﻌﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ.. ﻭﺍﻟﺘﻮﺍﺻﻞ ﻣﻊ ﺍﻷﺣﺒﺔ ﺃﻧﺲ ﻭﻣيسرة.. ﻫﻢ ﻟﻠﻌﻴﻦ ﻗﺮﺓ..

Saling mencintai karena Allah adalah karunia-Nya, dan saling menyambung hubungan dengan orang-orang yang dicintai adalah wujud kasih sayang yang memberi kemudahan. Mereka adalah pelipur lara.. penyejuk pandangan

ﻓﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺩﺍﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺫﻛﺮ ﻫﻢ.. ﻭﺇﻥﻏﺎﺑﻮﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻗﻠﻨﺎ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﺣﻔﻈﻬﻢ ﻭﺍﺭﻋﺎﻫﻢ

Semoga keselamatanlah bagi mereka yang selalu terkenang di hati. Sekalipun mereka jauh dari pandangan, kami akan selalu berkata, "Wahai Tuhanku..! Jagalah dan peliharalah mereka/ aamiin😊

Di akhiri dengan hamdallah dan yuk beristighfar sebanyak-banyaknya, jangan hanya dibatasi 3 x, al afwu minkum,  alhaqqu mirrobik falatakunanna minnal mumtarin. Segala yang benar dari Allah semata, dan yang khilaf dari ana pribadi. mohon maaf atas segala kekurangan


Kita tutup kajiannya ya..
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh